Chapter Nineteen
Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
POV: Anggita
Dua minggu setelah makan siang keluarga itu, aku sudah belajar beberapa hal tentang patah hati.
Pertama, patah hati tidak membuatmu berhenti makan, seperti di novel-novel. Patah hati membuatmu makan terlalu banyak gehu pedas jam tiga sore, lalu sadar bahwa tidak ada lagi yang meletakkan gehu itu di piring kecil di mejamu. Kau harus mengambilnya sendiri dari dapur, dan setiap kali kau masuk ke dapur, Mang Ujang memandangimu dengan wajah seorang ayah yang tahu sesuatu tapi tidak boleh bicara.
Kedua, patah hati tidak membuatmu berhenti kerja. Patah hati membuatmu bekerja dua kali lebih keras. Mockup kemasan delivery versi tiga, empat, dan lima selesai dalam dua minggu, padahal rencananya satu bulan. Setiap versi kukirim ke grup kerja dengan Pak Arief, mohon review, dan setiap versi dibalas dalam satu jam dengan Sudah saya review, Teh, dengan catatan yang tajam, tepat, dan selalu benar.
Ketiga, dan ini yang paling menyebalkan: patah hati tidak membuatmu berhenti mengumpulkan data.
Aku tahu Arief masih bangun jam empat. Lampu dapur restoran masih menyala jam empat lewat dua puluh setiap pagi, dan aku masih tidak bisa tidur sampai melihatnya dari jendela kamar. Aku tahu ia makan telur dadar utuh di sarapan karyawan sekarang, tidak dibelah. Asep yang cerita, sambil menangis, waktu aku bertanya kenapa ada sembilan piring dengan setengah telur di bak cuci hari Kamis kemarin. Aku tahu jari telunjuk kirinya diplester. Aku tahu ia tidur di kantor tiga malam minggu lalu, karena mobilnya diparkir di tempat yang sama dari sore sampai pagi.
Aku tahu ia memotong lima puluh kilo bawang merah dalam satu malam, malam setelah aku meletakkan jaket parasut hitam itu di Meja Tujuh.
Aku tidak menangis waktu Mang Ujang menceritakannya. Aku pergi ke toilet karyawan, mengunci pintunya, dan duduk di atas kloset yang ditutup selama dua puluh menit.
Lalu aku keluar, membasuh muka, dan menyelesaikan mockup versi lima.
Aku sudah bicara dengan Papa.
Hari Senin, setelah malam di Meja Tujuh, aku mengetuk pintu ruang kerja Nene yang dipinjam Papa, dan masuk tanpa menunggu jawaban.
“Papa ada masalah apa?”
Papa sedang duduk di depan laptop, dengan wajah yang lebih tua dari yang kuingat waktu Lebaran. Ia memandangiku lama, lalu menutup laptopnya pelan.
“Siapa yang bilang Papa ada masalah?”
“Mama bilang Papa nggak tidur berbulan-bulan. Papa jual mobil Mama. Papa bilang ‘kendala pembiayaan’ sambil ketawa soal rambut rontok, tapi nggak ada orang yang ketawa kayak gitu kalau masalahnya kecil.” Aku tidak menyebut nama Arief. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak mau Papa tahu bahwa ada orang lain yang tahu. “Gita bukan anak kecil lagi, Pa. Gita mau tahu.”
Papa memandangiku. Lalu, pelan-pelan, wajahnya berantakan. Rahangnya bergetar, matanya merah, dan bibirnya ditekan rapat-rapat seperti menahan sesuatu yang terlalu besar untuk keluar.
Papa menangis.
Aku belum pernah melihat Papa menangis. Tidak waktu Kakek meninggal, tidak waktu aku berangkat ke Melbourne. Papa adalah orang yang tertawa duluan di setiap ruangan, yang membawa roti untuk semua orang, yang menyebut nama setiap karyawan.
“Git,” katanya, suaranya hancur. “Papa salah. Papa... Papa salah besar. Papa nggak bisa cerita semuanya sekarang, Papa malu. Papa malu sama kamu, sama Mama, sama Nene. Tapi Papa cuma bisa minta satu hal.” Ia menggenggam tanganku dengan dua tangan yang gemetar. “Tolong Papa, Git. Sekali ini aja. Papa nggak pernah minta apa-apa.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa berkata tidak pada ayahku yang menangis.
Aku juga tidak berkata ya.
Aku keluar dari ruang kerja Nene dan berdiri lama di lorong, di depan foto anak perempuan berumur dua belas dengan behel, dan untuk pertama kalinya mengerti sesuatu yang membuatku ingin muntah.
Tanya Papa kamu, kata Arief malam itu. Beliau yang harus cerita. Beliau yang berhak cerita. Bukan aku.
Papa tidak bisa cerita. Papa bahkan tidak sanggup menyebut angkanya.
Arief tahu angkanya. Arief tahu semuanya. Dan Arief tidak mengatakan apa pun di meja makan, padahal dengan satu kalimat ia bisa menghancurkan Papa di depan dua puluh tiga orang.
Aku masih marah. Aku masih marah sekali, dengan cara yang membuat dadaku terasa seperti diisi batu kali. Ia tidak berdiri. Ia menarik kakinya. Ia bilang aku tetap di belakangmu seperti orang yang mengucapkan selamat tinggal.
Tapi malam itu, di lorong, di depan foto behel, aku mulai bertanya-tanya untuk siapa sebenarnya ia diam.
Sabtu, jam sebelas siang, calon suamiku datang ke Bumi Ni Dewi Dago.
Aku sudah menyiapkan diri. Aku memakai blus putih sederhana, celana kain abu-abu, dan wajah paling sopan dan paling dingin yang pernah kupakai, wajah untuk klien Jepang yang bicara tiga kata per jam. Mama Liliana Sastrawidjaya meneleponku kemarin dengan suara yang sangat lembut dan sangat sopan, mengabarkan bahwa Ervan akan datang untuk “berkenalan, tanpa tekanan, hanya makan siang”. Mama Liliana sendiri tidak bisa datang karena “sedikit tidak enak badan”.
Aku memilih Meja Tujuh. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku ingin seseorang di dapur melihatnya.
Jam sebelas lewat lima, sebuah mobil sedan hitam berhenti di parkiran. Pintu belakang terbuka.
Laki-laki yang turun dari mobil itu memakai kaus abu-abu bertuliskan I SURVIVED BANGKRUT 3X, celana pendek kargo krem, kacamata hitam yang dinaikkan ke atas kepala, dan sandal jepit.
Sandal jepit biru, dengan tali yang sedikit miring.
Ia berdiri di parkiran, memandangi bangunan Bumi Ni Dewi dengan mulut sedikit terbuka, lalu memandangi kakinya sendiri, lalu memandangi bangunan lagi, lalu berteriak ke arah mobil yang sudah mulai mundur:
“PAK! PAK SOPIR! SEPATU SAYA! SEPATU SAYA DI BAGASI!”
Mobil itu sudah keluar dari parkiran dan berbelok ke Jalan Dago.
Laki-laki itu berdiri di parkiran dengan sandal jepit biru, memandangi jalan, dan aku melihat bahunya turun dengan pasrah, seperti orang yang sudah terlalu sering mengalami hal seperti ini untuk terkejut.
Pak Darto berjalan mendekatinya dari pos. “Aya nu tiasa dibantos, A?”
“Pak, saya mau ketemu Anggita. Anggita Sekar Wardhani.”
Pak Darto memandangi kaus I SURVIVED BANGKRUT 3X, celana pendek kargo, dan sandal jepit biru. Lalu ia memandangi laki-laki itu dari atas sampai bawah sekali lagi.
“Teh Anggita?” tanya Pak Darto, sangat pelan, sangat hati-hati, dengan nada orang yang ingin memastikan tidak ada kesalahan besar sedang terjadi. “Nu leres, A?”
“Iya, Pak. Saya calon suaminya.”
Pak Darto tidak berkata apa-apa. Ia mengangguk, berbalik, dan berjalan kembali ke posnya. Di tengah jalan, aku melihatnya menoleh ke arah pintu dapur, tempat aku tahu ada seseorang yang sedang berdiri di balik kaca kecil.
Ervan Sastrawidjaya masuk ke ruang makan Bumi Ni Dewi Dago dengan sandal jepit yang berbunyi plak plak plak di lantai tegel.
Ia ganteng. Aku mencatatnya sebagai data. Wajahnya bersih, alisnya rapi, dan senyumnya lebar dengan satu lesung pipi. Ia jenis ganteng yang biasa kulihat di Jakarta, ganteng yang punya dermatolog langganan. Tingginya kira-kira sama dengan Arief, mungkin sedikit lebih pendek.
Ia melihatku di Meja Tujuh, tersenyum lebar, dan melambai.
Lalu ia melihat sesuatu di lantai, di dekat kaki meja delapan, dan senyumnya membeku.
Si Belang, kucing dapur yang sudah tinggal di Bumi Ni Dewi Dago lebih lama dari separuh karyawan, kucing gemuk berwarna oranye-putih yang kebal terhadap teriakan Mang Ujang, sedang duduk di sana menjilati kakinya.
Si Belang berhenti menjilat dan memandangi Ervan.
Ervan memandangi Si Belang.
“Oh, nggak,” bisik Ervan. “Oh, nggak, nggak, nggak.”
Si Belang berdiri, mengeong sekali dengan suara serak, lalu berjalan pelan ke arah Ervan, dengan ekor tegak, ramah, seperti menyambut tamu.
Ervan melompat ke atas kursi.
Bukan duduk, tapi melompat, dengan dua kaki bersandal jepit, berdiri di atas kursi kayu di sebelah meja delapan, seperti orang yang baru melihat tikus di film kartun.
“TOLONG! ADA KUCING! TOLONG!”
Seluruh ruang makan menoleh. Empat meja yang terisi tamu, Teh Euis di kasir, Dede yang sedang mengantar es jeruk, semuanya.
Si Belang, bingung, duduk di bawah kursi itu, memandangi Ervan dari bawah, dan mengeong lagi, kali ini lebih keras, seperti bertanya kamu kenapa?
“JANGAN NGEONG KE SAYA! SAYA NGGAK NGERTI BAHASA KAMU!”
Asep keluar dari dapur dengan nampan, melihat situasinya, lalu menaruh nampan itu dengan sangat pelan di meja terdekat. Lalu ia berjongkok, mengangkat Si Belang dengan dua tangan, dan membawanya ke dapur. Wajahnya sangat serius, wajah seorang petugas yang sedang mengevakuasi barang berbahaya.
Di ambang pintu dapur, Asep menoleh ke Ervan, yang masih berdiri di atas kursi.
“Aman, A,” kata Asep. “Kucingna geus diamankeun.”
“Makasih,” kata Ervan, terengah-engah. “Makasih banyak. Kamu pahlawan.”
Asep memandangi Ervan satu detik lebih lama. Lalu ia masuk ke dapur, dan aku mendengar suaranya melalui pintu yang tidak tertutup rapat: “Mang. Mang. Calon salakina Teh Anggita... sieun ucing.”
Lalu suara Mang Ujang: “NAON?!”
Ervan turun dari kursi dengan hati-hati, merapikan kausnya, mendongak dan melihat seluruh ruang makan memandanginya, lalu tersenyum lebar ke semua orang dengan lesung pipinya.
“Halo,” katanya. “Maaf. Saya fobia kucing. Sejak umur lima tahun. Panjang ceritanya. Ada hubungannya sama kucing tetangga dan es krim cokelat.”
Lalu ia berjalan ke Meja Tujuh, plak plak plak, menarik kursi di seberangku, duduk, dan mengulurkan tangan.
“Ervan,” katanya. “Sori. Biasanya gue nggak se-memalukan ini di lima menit pertama. Biasanya butuh setengah jam.”
Aku memandangi tangan itu.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku tertawa. Tawa yang keras dan lepas, yang tidak cocok dengan wajah sopan dan dingin yang sudah kupakai sejak pagi. Aku tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan, dan sampai Teh Euis di kasir ikut tertawa tanpa tahu kenapa.
Ervan memandangiku tertawa dengan wajah lega.
“Oke,” katanya. “Itu awal yang bagus. Lebih bagus dari yang gue rencanain.”
“Kamu ngerencanain apa?”
“Gue ngerencanain dateng pakai sepatu.”
Dede datang dengan buku menu.
Ervan membukanya, membaca halaman pertama, dan wajahnya perlahan berubah jadi wajah seorang turis yang tersesat di negara asing.
“Oke,” katanya pelan. “Gue... gue nggak ngerti apa-apa di sini.”
“Itu bahasa Sunda.”
“Gue tahu itu bahasa Sunda. Gue pernah ke Bandung. Gue pernah makan di sini, kayaknya, waktu SD. Tapi gue nggak pernah baca menunya. Mama yang pesen.” Ia menunjuk satu baris. “Ini apa? ‘Pencok’?”
“Sambal kacang mentah sama sayuran.”
“Kenapa namanya pencok? Kayak nama orang dipukul.”
“Karena ditumbuk.”
“Jadi emang dipukul.” Ia menunjuk baris lain. “‘Karedok’?”
“Mirip pencok. Sayuran mentah, bumbu kacang.”
“Kenapa ada dua? Bedanya apa?”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Aku sendiri tidak tahu persis bedanya. Selama sebulan ini, setiap kali aku bertanya soal menu, ada seseorang yang menjawab dengan sabar, dengan data, sampai ke takaran kencurnya.
Dede, yang berdiri di samping meja dengan buku pesanan, berdeham.
“Karedok mah sayurna langkung seueur, A. Aya kacang panjang, toge, kol, timun, terong. Pencok mah utamana kacang panjang. Bumbuna oge béda saeutik, karedok make kencur leuwih loba.”
Ervan memandangi Dede dengan kagum. “Kamu ahli.”
“Henteu, A. A Arief nu ngajarkeun sadayana.”
Nama itu jatuh di atas Meja Tujuh seperti gelas pecah.
Aku melihat Dede menyadarinya. Wajahnya memerah, dan ia memandangi buku pesanannya dengan sangat serius.
Tapi yang tidak kuduga adalah reaksi Ervan.
Ervan berhenti membolak-balik menu. Tangannya diam di atas halaman. Ia mengangkat kepala, memandangi Dede, lalu memandangi pintu dapur, lalu kembali memandangi Dede.
“Arief,” katanya. “Yang... yang di TikTok? Yang sumsum tulang ayam?”
Dede mengangguk pelan.
“Dia di sini? Sekarang?”
“Di dapur, A. Kenapa?”
Ervan tidak menjawab. Ia memandangi pintu dapur, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak cocok dengan kaus I SURVIVED BANGKRUT 3X dan sandal jepit biru. Sesuatu yang serius, dalam, dan sedikit takut.
Lalu ia tersenyum lagi, cepat sekali, dan menutup menunya.
“Gue pesen apa aja yang direkomendasiin si Arief,” katanya pada Dede. “Apa aja. Yang paling dia suka.”
Dede memandangiku, minta izin. Aku mengangguk, karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.
“Nasi liwet, ayam goreng serundeng, sayur asem, sambal terasi,” kata Dede pelan. “Sareng... sareng telur dadar. A Arief mah sok ngadahar endog dadar unggal isuk.”
“Telur dadar,” ulang Ervan. Suaranya aneh. “Dia suka telur dadar.”
“Muhun, A. Unggal isuk. Sok dibeulah dua, nu gede dibikeun ka nu pang ngorana.”
Ervan tidak berkata apa-apa. Ia mengangguk sekali, lalu memandangi jendela, ke arah kebun Nene, dan selama lima detik wajahnya seperti orang yang sedang menahan napas di bawah air.
Aku mencatatnya. Data. Aku tidak tahu artinya.
Makanan datang dua puluh menit kemudian.
Bukan Dede yang mengantarnya. Bukan Asep, bukan Teh Euis.
Pintu dapur terbuka, dan Arief keluar membawa nampan kayu besar berisi nasi liwet dalam kastrol kecil, ayam goreng serundeng, sayur asem, sambal terasi, dan dua piring telur dadar.
Ia memakai apron dan kemeja biru dongker, yang kata Teh Euis matak kasep. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Ada plester di jari telunjuk kirinya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya tenang, profesional, dan sopan.
Ia berjalan ke Meja Tujuh dengan langkah biasa. Aku tidak bisa bernapas.
Belakangan Asep mengakui padaku bahwa ia tidak sanggup mengantar makanan itu. Dede juga tidak, Teh Euis menolak, dan Iwan menangis. Mang Ujang akhirnya berteriak saha wae, saha wae, eta liwet geus tiis! dan Arief, yang sedang mengecek stok di pojok dapur, meletakkan tabletnya, mengambil nampan itu, dan berkata, Biar saya.
Ia meletakkan makanan di meja satu per satu dengan rapi. Kastrol liwet di tengah. Ayam di kiri, sayur asem di kanan, sambal di dekat piringku, karena aku selalu menambah sambal tiga kali seperti Nene. Ia tahu itu, ia mengumpulkan datanya.
Lalu dua piring telur dadar, satu untukku dan satu untuk Ervan.
“Silakan, Teh. Silakan, A.” Suaranya rendah, sopan, dan sama sekali tidak goyah. “Kalau ada yang kurang, panggil saja.”
Ia mengangkat kepala sedikit untuk memastikan semuanya lengkap, dan matanya bertemu mataku.
Satu detik. Dua.
Aku melihat sesuatu di mata itu yang membuatku ingin berdiri dan melemparkan diriku ke dadanya, dan sekaligus ingin melemparkan sambal terasi ke wajahnya. Aku tidak melakukan keduanya. Aku memandangi kastrol liwet.
Lalu Arief menoleh ke Ervan, dengan senyum sopan seorang pelayan yang mengantar makanan untuk tamu VIP.
Ervan sedang memandanginya.
Ervan memandangi Arief bukan dengan cara calon suami memandangi pelayan restoran calon istrinya. Ia memandangi Arief seperti orang memandangi lukisan di museum yang sudah lama ia lihat di buku, dan sekarang tiba-tiba ada di depannya, ternyata lebih besar dan lebih nyata dari yang ia bayangkan. Matanya bergerak di wajah Arief, dari dahi ke mata, ke hidung, dan berhenti di alis kiri.
Di bekas luka tipis yang memotong ujung alis kiri itu.
Gelas es teh di tangan Ervan miring, lalu tumpah. Es teh manis membanjiri meja kayu jati, mengalir ke pinggir, dan menetes ke celana pendek kargo kremnya.
“Oh!” Ervan melompat. “Oh, sori! Sori, sori, sori!”
Arief bergerak lebih cepat dari siapa pun. Dalam tiga detik, ia sudah mengambil lap dari saku apronnya dan menyerap es teh di meja sebelum mengenai liwet. Ia menyodorkan setumpuk tisu ke Ervan, lalu memanggil Dede dengan isyarat tangan untuk membawa es teh baru.
“Nggak apa-apa, A,” kata Arief tenang. “Nanti saya ganti.”
Ervan tidak menjawab. Ia berdiri dengan tisu di tangan, celana basah, dan es teh menetes ke sandal jepit birunya. Ia masih memandangi Arief, dari jarak yang sekarang hanya setengah meter.
“Alis kamu,” kata Ervan.
Arief berhenti mengelap.
“Alis kiri kamu,” ulang Ervan, suaranya hampir berbisik. “Itu... kenapa?”
Ruang makan diam. Bahkan tamu di meja delapan yang tadi memandangi kucing berhenti mengunyah.
Arief memandang Ervan dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Aku sudah sebulan membaca wajah itu. Aku tahu wajahnya yang menahan malu, yang bekerja, yang tulus. Wajah yang ini belum pernah kulihat: hati-hati, sedikit bingung, sedikit waspada, seperti orang yang mendengar suara asing di rumahnya sendiri tengah malam.
“Luka lama, A,” katanya. “Waktu SMP.”
Ervan mengangguk. Pelan, sangat pelan.
“Waktu SMP,” ulangnya.
“Muhun, A. Mangga, dituang. Liwetnya keburu dingin.”
Arief mengangguk sopan pada Ervan, mengangguk sopan padaku tanpa memandang mataku lagi, lalu berbalik dan berjalan kembali ke dapur dengan nampan kosong.
Ervan masih berdiri, memandangi punggung Arief sampai pintu dapur tertutup.
Lalu ia duduk kembali, sangat pelan, seperti orang tua yang lututnya sakit.
“Kamu kenapa?” tanyaku. Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumaksud. “Kenapa kamu ngeliatin dia kayak gitu?”
Ervan memandangiku. Lalu, setelah jeda yang terlalu panjang, senyum lesung pipinya muncul lagi, terlalu cepat.
“Ganteng ya,” katanya. “Dia. Ganteng banget. Gue shock.”
“Ervan.”
“Serius! Lo nggak lihat? Kulitnya, rahangnya, mukanya kayak aktor sinetron prime time.” Ia mengambil sendok dan mulai menyendok liwet ke piringnya dengan semangat yang berlebihan. “Gue minder. Calon istri gue tiap hari dikelilingin cowok kayak gitu. Gimana gue bisa bersaing? Gue fobia kucing, gue bangkrut tiga kali, gue pakai sandal jepit ke kencan pertama.”
Aku memandanginya. Aku tahu ia bohong. Aku tidak tahu kenapa.
Tapi Ervan, dengan semua kebohongannya yang buruk, melakukan sesuatu yang membuatku berhenti curiga untuk sementara. Ia mengambil piring telur dadarnya, membelahnya dengan sendok, tidak di tengah, dan memindahkan bagian yang lebih besar ke piringku.
“Nih,” katanya. “Kata pelayan tadi, yang gede buat yang paling muda. Lo lebih muda dari gue, kan? Dua puluh enam?”
Aku memandangi telur dadar itu.
“Kamu tahu aturan itu dari mana?”
“Dari pelayan tadi. Barusan.” Ervan menyendok bagian kecil yang gosong ke mulutnya, lalu memandangi pintu dapur. Suaranya pelan. “Dan dari seseorang yang gue kenal. Kakak gue. Dia juga selalu makan bagian yang gosong.”
Setelah makan, Ervan mengajakku ke saung.
Ia berjalan ke kebun belakang dengan sandal jepit yang masih basah es teh, sangat hati-hati dan sesekali menoleh ke semak-semak, karena kata Asep aya ucing deui di kebon, A, tilu. Ia memilih saung paling ujung. Aku tidak tahu ia memilihnya karena kebetulan atau karena ia satu-satunya saung yang kosong, tapi aku menelan ludah waktu naik ke sana.
Saung yang sama dengan malam roti tawar, dan malam bulan penuh.
Ervan duduk bersila di tikar, memandangi kebun, lalu bicara tanpa menoleh.
“Gue juga nggak mau nikah sama lo.”
Aku memandanginya.
“Sumpah,” katanya, akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya serius sepenuhnya, tanpa lesung pipi, tanpa senyum. “Bukan karena lo nggak cantik. Lo cantik banget, beneran, gue nggak bohong soal itu. Tapi gue nggak kenal lo. Lo nggak kenal gue. Dan...” Ia diam sebentar. “Dan gue lihat cara lo ngeliatin dia tadi.”
Aku tidak menjawab.
“Waktu dia naruh sambal di deket piring lo. Bukan di deket piring gue. Di deket piring lo.” Ervan tersenyum kecil. “Dia tahu lo suka sambal. Dan lo tahu dia tahu. Dan lo ngeliatin kastrol liwet kayak kastrol liwet itu ngutang sama lo.”
Aku menunduk.
Ervan tidak mendesak. Ia diam saja, memandangi kebun, dan membiarkanku tidak menjawab.
“Kenapa kamu setuju?” tanyaku akhirnya. “Kalau kamu nggak mau. Kenapa kamu setuju sama Mama kamu?”
Ervan diam lama.
“Karena ada sesuatu yang harus gue pastiin,” katanya. “Dan cara paling gampang buat mastiin itu adalah dateng ke sini. Ke Bandung. Ke restoran ini. Sebagai calon suami lo.” Ia memandangiku. “Gue tahu itu jahat. Gue minta maaf. Gue minta maaf banget, Gita. Gue nggak bermaksud jadi orang jahat di cerita orang lain.”
“Mastiin apa?”
“Rahasia negara.”
“Ervan.”
“Beneran rahasia negara. Kalau gue salah, ada orang yang bakal sakit banget. Orang yang udah sakit dua kali karena hal yang sama.” Ervan menunduk. “Kakak gue bilang, pastiin dulu, baru ngomong.”
Aku tidak mengerti. Tapi ada sesuatu di cara ia mengatakannya, dengan suara pelan, mata yang memandangi tikar, dan tangan yang meremas-remas tali sandal jepit birunya, yang membuatku percaya.
“Oke,” kataku. “Terus sekarang gimana?”
Ervan mengangkat kepala, dan lesung pipinya kembali.
“Pakta,” katanya. “Kita bikin pakta. Lo nggak mau nikah sama gue, gue nggak mau nikah sama lo. Tapi kita belum bisa bilang nggak sekarang, karena...” Ia ragu. “Karena ada hal-hal yang lagi jalan. Hal-hal yang lebih gede dari kita berdua. Lo pasti tahu.”
Aku memikirkan Papa yang menangis di ruang kerja Nene, dengan dua tangan gemetar menggenggam tanganku. Tolong Papa, Git.
“Aku tahu,” bisikku.
“Jadi kita tunda. Selama mungkin. Kita pura-pura kenalan. Kita pura-pura ngobrol. Kita makan siang tiap Sabtu biar Mama gue seneng dan bokap lo tenang. Tapi kita nggak tunangan, nggak tentuin tanggal, nggak ngapa-ngapain. Kita ulur waktu.” Ervan mengulurkan tangan, jari kelingking terangkat. “Sampai gue selesai mastiin. Sampai hal-hal yang gede itu ada jalan keluarnya. Deal?”
Aku memandangi jari kelingking itu.
Lalu aku mengaitkan jari kelingkingku.
“Deal.”
Ervan tersenyum lebar. “Bagus. Pakta Saung. Gue suka namanya.”
“Kamu yang ngasih nama.”
“Iya, makanya gue suka.” Ia melepaskan jari kelingkingku, lalu memandangi kebun lagi. Kali ini wajahnya berubah sedikit, seperti orang yang mau bertanya sesuatu dengan sangat santai padahal pertanyaannya sangat penting.
“Gita.”
“Hm?”
“Si Arief itu.” Ia tidak memandangku. “Dia orang mana sih? Asli Bandung?”
“Bukan.” Aku memandangi kebun juga. Dari saung ini aku bisa melihat jendela kantor belakang, tempat lampu sering menyala sampai jam tiga pagi. “Dia dari panti asuhan. Di Cimahi.”
Ervan diam.
Tidak cuma diam. Ia berhenti bergerak sepenuhnya, seperti orang yang mendengar ledakan di kejauhan dan menunggu gelombangnya sampai.
“Cimahi,” ulangnya. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab. Ia menunduk, memandangi sandal jepit birunya yang masih basah es teh, dan aku melihat tangannya meremas tali sandal itu begitu kuat sampai talinya hampir lepas.
“Ervan?”
“Nggak.” Ia mengangkat kepala. Matanya merah. Senyumnya muncul, tapi kali ini ia tidak berusaha membuatnya terlihat meyakinkan. “Nggak apa-apa. Gue cuma... gue pernah denger soal panti asuhan di Cimahi. Dulu. Dari seseorang.”
Ia berdiri, menepuk-nepuk celana pendeknya yang basah, lalu turun dari saung dengan hati-hati, sambil melirik semak-semak.
“Gue balik ke Jakarta dulu,” katanya. “Sopir gue harusnya udah balik bawa sepatu. Sabtu depan gue dateng lagi. Pakta Saung.”
“Pakta Saung,” ulangku.
Ia berjalan menyeberangi kebun, plak plak plak, menuju parkiran. Di tengah kebun, ia berhenti dan menoleh. Bukan ke arahku, tapi ke arah jendela dapur, tempat aku tahu Arief sedang bekerja.
Ervan memandangi jendela itu lama sekali.
Lalu ia berbalik dan pergi.
Aku duduk sendirian di saung paling ujung, di tikar yang sama tempat seseorang pernah menangis karena tiga lembar roti tawar, tempat seseorang pernah memelukku dan berkata menu khusus, cuma buat satu meja.
Aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Tapi aku mengumpulkan datanya, seperti yang diajarkan seseorang padaku. Calon suamiku membeku waktu melihat bekas luka di alis Arief. Ia tahu aturan telur dadar dari kakaknya. Ia mendengar kata Cimahi dan matanya merah.
Dan ia memandangi jendela dapur dengan wajah yang sama dengan wajahku setiap pagi jam empat lewat dua puluh, waktu lampu dapur menyala dan aku tidak bisa tidur sampai melihatnya.
Wajah orang yang merindukan seseorang yang belum bisa ia dekati.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit reading
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu