Chapter One

Satu Telur untuk Berdua

POV: Arief

Di panti, telur datang setiap hari Kamis.

Di atas kertas, aturannya satu anak satu butir. Kenyataannya, Kamis adalah hari yang paling sering membuat Bu Rahmah memijat pelipis. Telur dari donatur kadang datang tiga puluh, kadang dua puluh dua, sementara kami empat puluh satu anak.

Kalau kurang, yang besar mengalah. Itu juga aturan.

Waktu itu Kak Kanaya berumur sembilan, aku tujuh. Ia berdiri di antrean dapur dengan rambut dikepang dua yang miring ke kiri, karena ia mengepang sendiri tanpa cermin. Telur dadar terakhir di wajan jatuh ke piring sengnya, tipis dan gosong di pinggir.

“Kamu dapat?”

Aku menggeleng. Di depanku tadi masih ada tiga anak yang lebih besar.

Ia membawa piringnya ke bangku panjang dekat jendela, menepuk tempat kosong di sebelahnya, lalu membelah telur itu dengan sendok. Belahannya tidak di tengah. Satu bagian jelas lebih besar, dan yang besar itu ia sodorkan padaku.

“Kak, ini nggak sama.”

“Memang nggak sama.”

“Kakak yang besar. Kakak lebih tua.”

“Justru karena Kakak lebih tua.” Ia menyendok bagian kecil yang gosong. “Yang lebih tua makan yang gosong. Itu aturan.”

“Aturan siapa?”

“Aturan Kakak.”

Umurku tujuh, dan aku belum tahu bahwa aturan seperti itu tidak ada di buku mana pun. Yang kutahu cuma bahwa setiap Kamis telurku lebih besar, dan Kak Kanaya selalu bilang ia tidak suka bagian tengah yang lembek.

Bertahun-tahun kemudian aku baru tahu itu bohong. Ia justru paling suka bagian tengah.


Waktu umurku dua belas dan Kak Kanaya empat belas, kami satu SMP di Cimahi. Seragam kami bekas pakai, dan di dada kiri tertulis nama orang lain yang sudah ditutup spidol.

Ada anak kelas tiga bernama Dodi. Di sekolah kami ia terkenal karena dua hal: sepatunya selalu baru dan mulutnya selalu kotor. Suatu siang ia menarik tas Kak Kanaya sampai talinya putus, lalu mengendus-endus udara sambil tertawa.

“Anak panti. Pantes baunya kayak dapur umum.”

Kak Kanaya diam saja dan memunguti bukunya yang berserakan di lantai koridor. Dari cara bahunya mengeras, aku tahu ia sedang menahan tangis. Ia tidak pernah menangis di depan orang. Ia menangis di gudang belakang panti, di antara kardus mi instan, dan aku satu-satunya yang tahu tempat itu.

Aku tidak berpikir panjang. Tubuhku yang kurus melompat lebih dulu daripada otakku.

Pukulan pertamaku kena dagu Dodi. Setelah itu tidak ada pukulan kedua, karena dua temannya ikut maju. Ingatanku tentang menit-menit berikutnya potong-potong. Ada lantai keramik yang dingin di pipi, ada sepatu baru itu, ada ujung gesper sabuk yang menyambar alis kiriku, lalu darah yang hangat dan rasa asin di mulut.

Malam itu Kak Kanaya membersihkan lukaku di gudang belakang, dengan obat merah yang ia ambil diam-diam dari UKS. Tangannya gemetar, tapi suaranya galak.

“Kamu bodoh.”

“Dia ngatain Kakak.”

“Biarin. Kakak udah biasa.”

“Aku belum.”

Ia berhenti mengusap alisku, lalu menatapku lama sekali. Waktu itu aku belum mengerti tatapan itu. Sekarang aku mengerti: itu tatapan orang yang baru sadar adiknya bisa terluka karena dirinya, dan ia membenci kenyataan itu.

“Lain kali jangan berani sendirian,” katanya.

Seminggu kemudian, Dodi mengejekku di depan kelasnya. Ia menirukan aku jatuh. Kak Kanaya, yang bahkan tidak pernah mengangkat suara ke guru, berjalan melewati tiga barisan meja dan menampar Dodi sekali. Bunyinya keras sekali sampai satu kelas terdiam.

Ia dihukum membersihkan toilet sekolah selama dua minggu. Aku membantunya setiap hari. Sejak itu Dodi tidak pernah lagi menoleh ke arah kami.

Bekas luka di alis kiriku masih ada sampai sekarang. Tipis, sedikit lebih terang dari kulitku yang sawo matang, memotong ujung alis seperti garis yang lupa dihapus. Setiap pagi aku melihatnya di cermin, dan setiap pagi aku teringat siapa yang membersihkannya.


Umurku empat belas waktu mobil hitam itu datang.

Keluarga yang turun dari mobil itu rapi sekali. Sang ibu memakai blus krem dan tersenyum dengan sopan, dan sang ayah tidak banyak bicara. Mereka sudah tiga kali berkunjung, membawa buku, membawa kue, dan setiap kali mereka mengobrol paling lama dengan Kak Kanaya. Kakakku pintar, juara umum, dan cantik dengan cara yang membuat orang dewasa memperlakukannya lebih serius daripada anak lain.

Mereka hanya mau mengadopsi satu anak. Anak perempuan, umur enam belas, yang bisa langsung disekolahkan dan disiapkan.

Malam sebelumnya Kak Kanaya bilang ia akan menolak.

“Aku nggak pergi kalau kamu nggak ikut.”

Aku duduk di sebelahnya di gudang belakang. Di luar hujan. Aku sudah memikirkan kalimatku seharian, karena aku tahu Kak Kanaya keras kepala dan aku hanya punya satu kesempatan.

“Kak, pergi.”

“Nggak.”

“Kakak bisa sekolah tinggi. Kakak bisa jadi orang. Kalau Kakak di sini, Kakak cuma bisa jadi kakaknya aku.”

“Itu cukup.”

“Buat aku nggak cukup.”

Itu bohong pertamaku yang besar. Aku ingin ia tinggal, dengan cara yang membuat dadaku sakit. Tapi aku empat belas tahun dan sudah cukup lama hidup di panti untuk tahu bahwa kesempatan seperti itu tidak datang dua kali, dan aku tidak mau menjadi alasan kakakku kehilangannya.

Paginya ia pergi.

Di halaman, sebelum masuk mobil, ia memelukku kencang sekali sampai tulang rusukku terasa. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“Aku di belakangmu. Selalu. Ingat itu.”

Mobil hitam itu melaju keluar gerbang. Aku berlari mengejarnya sampai ujung gang, sampai kakiku yang memakai sandal jepit putus talinya, sampai mobil itu belok ke jalan besar dan hilang.

Itu terakhir kali aku melihat kakakku.

Empat belas tahun lalu.


Sekarang aku masih bangun jam empat pagi. Kebiasaan panti tidak pernah benar-benar hilang. Bedanya, dulu aku bangun untuk antre kamar mandi, sekarang aku bangun untuk antre ide.

Jam setengah enam, aku sudah berdiri di dapur pusat Bumi Ni Dewi di Dago.

Pada jam seperti ini, dapur adalah tempat paling jujur di sebuah restoran. Belum ada tamu, belum ada senyum pelayan, belum ada lagu kecapi suling dari speaker. Yang ada hanya uap nasi liwet, bau terasi yang dibakar, suara pisau di talenan kayu, dan Mang Ujang yang sedang marah-marah.

“Saha nu nyimpen sambel dadak di rak sambel terasi?! Saha?!”

Mang Ujang adalah kepala dapur pusat. Ia sudah bekerja untuk Nene Dewi sejak restoran ini masih satu rumah makan dengan enam meja. Badannya besar, kumisnya tebal, dan ia selalu bicara seolah sedang berpidato di depan lautan manusia, padahal pendengarnya biasanya cuma dua tukang potong sayur dan seekor kucing yang sudah kebal.

“Kenapa, Mang?”

“Ieu, Rief.” Ia menunjuk rak sambal dengan centong. “Tiap pagi aya nu kabalik. Sambel dadak di rak terasi, terasi di rak dadak. Tiap poe! Kemarin hampir aja sambel terasi kita kirim mentah ke meja tamu. Isin abdi, Rief. Isin.”

Tiga tahun lalu aku membuat sistem label warna untuk dapur ini. Merah untuk sambal dadak yang harus habis hari itu, hijau untuk sambal terasi matang yang tahan tiga hari, kuning untuk bumbu dasar. Semua wadah diberi stiker tanggal produksi, dan yang paling lama dipakai duluan. Sistemnya sederhana, dan sistem sederhana jarang gagal. Kalau gagal juga, biasanya masalahnya bukan di sistem.

“Siapa yang nyusun rak tadi malam?”

“Si Iwan.” Mang Ujang menunjuk seorang pemuda kurus di pojok yang sedang mengupas bawang sambil menunduk dalam-dalam, seperti berharap lantai menelannya. “Keponakan abdi. Baru dua minggu. Sudah abdi ajarin, Rief. Merah ke kiri, hijau ke kanan. Gampang. Anak SD juga bisa.”

Aku tidak langsung menghampiri Iwan. Aku mengambil satu wadah berlabel merah dan satu berlabel hijau dari rak, menaruh keduanya di meja stainless, lalu memanggilnya dengan suara biasa.

“Wan, sini sebentar.”

Ia datang dengan wajah orang yang yakin akan dipecat.

“Yang mana sambal dadak?”

Ia memandangi kedua wadah itu lama sekali, lalu menunjuk yang berlabel hijau.

Mang Ujang menarik napas, siap meledak. Aku mengangkat tangan sedikit, dan untungnya ia menahan diri.

“Wan, kamu bisa bedain warna dua stiker ini?”

Iwan menelan ludah. Telinganya merah. “Sa... saya kurang yakin, A. Dari dulu saya suka ketuker merah sama hijau. Di sekolah juga diketawain. Saya nggak berani bilang, takut nggak diterima kerja.”

Dapur mendadak sunyi. Kucing di dekat tong sampah berhenti menjilati kakinya.

“Buta warna,” kataku. “Merah-hijau. Itu umum, Mang. Kira-kira satu dari dua belas laki-laki.”

Mang Ujang menatap keponakannya. Kumisnya bergerak-gerak seperti sedang berpikir keras. “Jadi... salah si Iwan teh lain karena bodo?”

“Bukan. Salahnya di stiker saya.” Aku membuka laci meja, mengambil spidol hitam, dan mulai menggambar di setiap stiker: segitiga di label merah, lingkaran di label hijau, kotak di label kuning. “Mulai hari ini semua label ada bentuknya, bukan cuma warnanya. Segitiga artinya habis hari ini. Lingkaran tahan tiga hari. Kotak bumbu dasar. Bisa, Wan?”

Iwan mengangguk cepat. Matanya berkaca-kaca, dan ia buru-buru mengupas bawang lagi supaya punya alasan.

“Nanti siang saya cetak stiker baru untuk empat puluh tujuh cabang,” kataku ke Mang Ujang. “Mungkin bukan cuma Iwan yang selama ini diam.”

Mang Ujang memandangiku lama. Lalu ia menepuk pundakku begitu keras sampai aku hampir menabrak rak.

“Kadang abdi sieun ka maneh, Rief.”

“Takut kenapa, Mang?”

“Maneh teh siga dukun. Tapi dukun nu make Excel.”


Jam enam lewat sepuluh, ponselku bergetar. Nomornya Pak Darsa, pemasok ikan mas dari Waduk Cirata.

“Pak Arief, hampura pisan. Tadi malam aya umbalan. Ikan di keramba mati masal, Pak. Tilu poe moal bisa ngirim.”

Umbalan adalah air dari dasar waduk yang naik ke permukaan dan membawa racun. Kalau sudah terjadi, ikan mati berton-ton dalam semalam, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain mengikhlaskan.

Aku melirik jam. Hari Sabtu. Hari Sabtu adalah hari arisan, hari reuni, hari keluarga besar dari Jakarta yang datang ke Bandung dan sengaja mampir ke Dago untuk makan pepes ikan mas Nene Dewi. Menu ikan mas menyumbang hampir sepertiga penjualan makan siang akhir pekan di cabang pusat, dan stok kami hanya cukup sampai jam sebelas.

“Pak Darsa, yang Bapak sendiri gimana? Keramba Bapak?”

Ia terdiam sebentar. “Habis, Pak. Semua.”

“Ya Allah. Saya ikut sedih, Pak. Nanti saya telepon lagi soal itu. Sekarang Bapak istirahat dulu.”

Aku menutup telepon dan membuka tablet. Tiga tahun lalu, kalau ini terjadi, Mang Ujang akan menelepon dua puluh cabang satu per satu, menanyakan stok dengan suara keras, dan jam dua belas siang restoran tetap kehabisan ikan, tamu tetap kecewa.

Sekarang ada dasbor stok.

Cimahi punya dua puluh dua kilo ikan mas, dan Sabtu penjualan mereka didominasi ayam. Padalarang delapan belas kilo, ramai rombongan wisata, jadi aku tidak berani ambil banyak dari sana. Soreang dua puluh enam kilo, tapi besok ada pesanan katering pernikahan yang butuh ikan, jadi Soreang tidak boleh disentuh.

Aku mengetik sambil bicara pada Mang Ujang, yang sudah berdiri di belakangku dengan wajah pucat.

“Mang, ambil lima belas kilo dari Cimahi dan delapan dari Padalarang. Kurir motor berangkat jam setengah tujuh, sampai sini jam delapan. Itu cukup buat kita sampai sekitar jam satu.”

“Sesudah jam hiji?”

“Sesudah jam satu, kita dorong nasi liwet ayam bakar. Saya minta tim sosmed bikin promo jam sembilan: ‘Sabtu Liwet’, diskon lima belas persen untuk paket liwet keluarga. Margin ayam kita lebih tinggi daripada ikan, jadi diskon segitu nggak bikin kita rugi. Malah mungkin untung.”

“Terus ikan mas buat minggu depan?”

Aku sudah menelepon nomor berikutnya. Pak Haji Oman dari Subang memelihara ikan nila dan ikan mas di kolam air deras, jadi tidak terpengaruh umbalan. Selama ini kami tidak memakainya karena harganya empat ribu lebih mahal per kilo.

“Pak Haji, assalamualaikum. Saya Arief dari Bumi Ni Dewi. Pak Haji, saya butuh tiga ratus kilo ikan mas per minggu selama tiga minggu, untuk dua belas cabang. Kalau volumenya segitu dan pembayarannya tunai di muka per minggu, Pak Haji bisa kasih harga berapa?”

Pak Haji Oman menyebut angka. Aku menyebut angka lain. Ia tertawa dan menyebut angka di antaranya. Dua menit kemudian kami sepakat dengan harga yang hanya seribu lima ratus lebih mahal dari Pak Darsa.

Aku menutup telepon. Kopiku belum habis setengah.

Mang Ujang memandangiku dengan ekspresi yang sama seperti waktu ia pertama kali melihat mesin pencuci piring otomatis.

“Lima belas menit,” gumamnya. “Lima belas menit, Rief.”

“Dua belas, Mang.”

“Ulah sombong.”

“Saya cuma ngoreksi data.”

“Eta sombong nu make data.”

Di pojok, Iwan tertawa pelan, lalu buru-buru menunduk lagi ke bawangnya.

Aku menyimpan satu catatan untuk diriku sendiri: Pak Darsa. Tiga minggu lagi, setelah kerambanya pulih, kami kembali membeli darinya. Ia sudah dua belas tahun memasok Bumi Ni Dewi. Orang yang setia di musim panen tidak boleh ditinggalkan di musim gagal.


Jam tujuh, sarapan.

Sarapanku selalu sama: nasi putih, sambal terasi, sepotong tempe, dan telur dadar. Mang Ujang sudah hafal dan selalu menyiapkannya tanpa kuminta.

Kebiasaanku juga selalu sama, dan seluruh dapur sudah hafal juga.

Aku membelah telur dadar itu dengan sendok, tidak di tengah. Bagian yang lebih besar kuberikan ke siapa pun yang paling muda di meja makan karyawan pagi itu. Hari ini Iwan.

“A, ini buat saya?”

“Iya.”

“Kenapa, A? Aa nggak suka telur?”

Dede, pelayan muda yang sudah setahun bekerja di sini, menjawab sebelum aku sempat membuka mulut. “Udah, terima aja. A Arief mah tiap hari gitu. Dulu aku juga. Sekarang mah yang paling muda kamu.”

“Aturannya apa, A?”

Aku menyendok bagian yang kecil, termasuk pinggirnya yang gosong.

“Yang lebih tua makan yang gosong.”

“Aturan siapa?”

Aku diam sebentar. Tanpa sadar, ujung jariku menyentuh bekas luka di alis kiri.

“Aturan kakak saya.”

Dede dan Iwan saling pandang. Di meja ini, semua orang tahu aku anak panti. Semua orang juga tahu aku punya kakak. Tidak ada yang tahu di mana dia, termasuk aku.


Teh Euis datang jam tujuh lewat lima belas. Ia kasir senior, admin grup WhatsApp “BND Pusat Sadayana”, dan sumber dari delapan puluh persen gosip di restoran ini. Dua puluh persen sisanya bersumber dari Asep.

“A Arief! Udah denger belum?”

“Belum, Teh.”

“Cucu Nene mau pulang!”

“Cucu Nene banyak, Teh.”

“Ih, yang ini mah beda!” Ia menurunkan suaranya, yang tetap saja terdengar sampai parkiran. “Yang dari Jakarta. Yang sekolah di Australia. Yang anaknya Pak Rudi. Yang kata orang-orang mah geulis pisan, kayak bintang iklan sampo.”

“Teh, laporan kas semalam udah diunggah?”

“Udah atuh, A. Aa mah diajak gosip malah nanya laporan.”

“Laporan itu gosip versi angka, Teh.”

Teh Euis menatapku dengan iba, seperti dokter menatap pasien yang tidak punya harapan. “A Arief teh umurnya dua puluh delapan, kasep, pinter, lulusan UI, tapi kenapa yang dipikirin kas wae?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak punya jawaban yang bisa diucapkan di depan Teh Euis tanpa menjadi bahan gosip baru selama sebulan.


Nene Dewi datang jam sembilan tepat.

Umurnya tujuh puluh enam, tapi jalannya masih lebih cepat dari separuh karyawan. Ia memakai kebaya katun warna tanah, kain batik Garutan, dan selop. Tongkat kayunya lebih sering dipakai untuk menunjuk orang daripada untuk berjalan.

Karyawan otomatis berdiri lebih tegak. Mang Ujang mendadak sangat sibuk mengaduk sambal yang sebenarnya sudah selesai.

“Arief.”

“Ne.”

“Ka kantor.”

Kantor pusat Bumi Ni Dewi adalah rumah lama Nene di belakang restoran. Ruang tamunya sudah jadi ruang rapat, tapi dindingnya masih penuh foto keluarga dalam pigura kayu: Nene muda di depan rumah makan pertamanya, anak-anaknya waktu kecil, cucu-cucunya berjajar dengan baju lebaran yang seragam.

Di salah satu foto ada anak perempuan berumur sekitar dua belas tahun yang tersenyum lebar dan memamerkan behel. Itu foto lama, dan aku selalu melewatinya tanpa terlalu memperhatikan.

Nene duduk di kursinya dan menunjuk tablet di tanganku dengan tongkat. “Hasil sabtu ieu kumaha?”

Aku memaparkan semuanya: umbalan di Cirata, pemindahan stok, promo Sabtu Liwet, kontrak tiga minggu dengan Pak Haji Oman. Lalu aku menunjukkan laporan bulanan. Tiga puluh satu dari empat puluh tujuh cabang sudah masuk sistem terpusat. Food cost rata-rata turun dari tiga puluh sembilan persen ke tiga puluh empat. Waktu tutup buku bulanan yang dulu dua minggu, sekarang tiga hari.

“Sisanya enam belas cabang,” kataku. “Paling susah yang di Priangan Timur: Garut, Tasik, Ciamis. Sinyalnya jelek dan manajernya sudah sepuh. Saya mau datang langsung ke sana, mulai minggu depan.”

Nene mendengarkan sambil memejamkan mata, seperti orang mendengarkan lagu yang ia suka. Waktu aku selesai, ia membuka mata.

“Pak Darsa?”

Aku tidak menyebut Pak Darsa sama sekali dalam laporan tadi. “Tiga minggu lagi kita beli dari dia lagi, Ne. Saya juga mau minta izin. Kerambanya habis, Ne. Kalau boleh, kita bayar di muka untuk pesanan dua bulan ke depan, supaya dia punya modal buat ngisi benih lagi.”

Nene tersenyum. Ia jarang tersenyum, jadi kalau ia tersenyum, rasanya seperti dapat nilai seratus.

“Tah, ieu. Ieu sababna Nene nyakolakeun maneh.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Setiap kali Nene mengatakan hal seperti itu, ada sesuatu di dadaku yang tidak tahu cara menerimanya. Tiga belas tahun lalu aku anak kurus yang datang ke dapur Bumi Ni Dewi Cimahi untuk melamar jadi tukang cuci piring dengan baju yang kebesaran dan surat keterangan dari panti. Sekarang aku duduk di ruang tamu Nene dan bicara soal laporan empat puluh tujuh cabang.

Tidak ada satu hari pun aku lupa siapa yang membuat itu terjadi.

“Arief.”

“Ne?”

“Cucu Nene pulang isukan. Ti Jakarta.”

“Teh Anggita?”

“Saha deui? Nu sakola di Australia tea.” Nene mengetuk-ngetuk tongkatnya ke lantai. “Manehna rek cicing di Bandung ayeuna. Rek ngurus branding, cenah. Nene teu ngarti branding teh naon, tapi sok weh.”

“Alhamdulillah, Ne. Nene pasti senang.”

“Senang. Tapi Nene embung manehna naik taksi ti stasiun. Bahaya.”

“Nanti saya suruh Pak Ade jemput, Ne.”

“Pak Ade anakna wisuda isukan. Maneh pan nu mere manehna cuti.”

Itu benar. Aku sendiri yang menandatangani cuti Pak Ade minggu lalu.

“Kalau gitu Pak Rudi—”

“Rudi sibuk.”

“Saya juga ada jadwal visit cabang Lembang, Ne.”

“Lembang bisa minggu hareup. Lembang moal kamana-mana. Gunung Tangkuban Parahu ge masih di dinya.”

“Ne—”

“Maneh nu jemput.” Nene menunjukku dengan tongkat, tepat di dada. “Kereta cepat, Tegalluar, jam sapuluh opat puluh. Ulah telat. Jeung ulah make kaos oblong.”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Selama tiga belas tahun bekerja untuk Nene Dewi, aku sudah belajar satu hal: ada perdebatan yang bisa dimenangkan dengan data, dan ada perdebatan dengan Nene.

“Baik, Ne.”

Waktu aku sudah di ambang pintu, suara Nene terdengar lagi, kali ini lebih pelan dan lebih licin.

“Arief.”

“Ne?”

“Si Gita mah geulis, nya. Ati-ati.”

Aku berbalik, tapi Nene sudah pura-pura sibuk membaca koran, terbalik.