Chapter Twenty Eight
Dua Keluarga, Satu Utang
POV: Kanaya
Hal pertama yang kulakukan hari Jumat pagi, setelah kereta adikku hilang di balik tikungan Halim, adalah menelepon Pak Sutomo.
Ia mengangkat di dering pertama. Ia selalu mengangkat di dering pertama, selama delapan bulan terakhir, seperti orang yang tidur dengan ponsel di sebelah bantal karena takut ketinggalan kabar.
“Bu Kanaya.”
“Pak.”
“Saya sudah selesai dengan nomor sembilan puluh tiga sampai seratus lima, Bu. Ada dua dari Cimahi lagi, saya sedang—”
“Pak Sutomo. Berhenti.”
Hening di seberang.
“Berhenti, Bu?”
“Saya sudah menemukannya.”
Aku mendengar Pak Sutomo menarik napas. Napas yang panjang, sangat panjang, seperti napas orang yang sudah delapan bulan menahannya. Lalu aku mendengar sesuatu yang tidak pernah kudengar dari mantan polisi berumur enam puluh yang bicaranya pelan dan tidak pernah memberikan harapan yang tidak perlu.
Ia menangis.
Pelan sekali, ditahan, seperti suara batuk orang tua yang ditutupi sapu tangan.
“Alhamdulillah, Bu,” katanya akhirnya, serak. “Alhamdulillah. Di mana, Bu?”
“Bandung. Bumi Ni Dewi. Universitas Indonesia, nomor dua ratus delapan puluh tiga di daftar Bapak.”
Pak Sutomo tertawa di sela tangisnya. “Huruf U, Bu. Saya sudah bilang, harusnya kita mulai dari belakang.”
“Bapak tidak pernah bilang begitu.”
“Saya memikirkannya, Bu. Tiap malam.” Ia menghela napas. “Bu, boleh saya minta satu hal?”
“Apa?”
“Kalau nanti Ibu ketemu dia lagi, sampaikan salam dari saya. Bilang, ada bapak-bapak tua di Bekasi yang sudah delapan bulan nyari dia. Bilang saya senang dia sehat.”
“Saya sampaikan, Pak.”
“Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah tidak berhenti.”
Ia menutup telepon sebelum aku sempat menjawab.
Aku berdiri di lobi stasiun Halim, di antara orang-orang yang menarik koper dan menelepon sopir, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, tidak ada detektif yang bekerja untukku. Tidak ada daftar tiga ratus dua belas nama untuk dibaca sepuluh per malam, dan tidak ada email yang membuatku menahan napas sebelum membukanya.
Rasanya seperti meletakkan tas yang sangat berat yang sudah terlalu lama kubawa sampai aku lupa tas itu ada.
Lalu aku mengambil tas yang lain.
“Bryan.”
“Ya, Bu?”
Bryan berdiri di depan mejaku di lantai 28 dengan tablet di tangan, wajah lelah, dan setelan jas yang untuk pertama kalinya dalam dua tahun tidak sepenuhnya rapi. Dasinya miring dua derajat ke kiri. Kemarin ia mengambil alih rapat final kemitraan dua puluh lima miliar selama dua puluh delapan menit, lalu menjaga tabung pemadam api di penthouse sampai jam sebelas malam. Aku tidak akan menegurnya soal dasi.
“Saya mau Lampiran E. Uji tuntas Bumi Ni Dewi. Map hitam.”
“Yang profil manajemen, Bu? Yang Ibu bilang ‘saya baca angka, bukan CV’?”
“Bryan.”
“Saya ambil, Bu. Saya ambil.”
Ia kembali lima menit kemudian dengan map hitam setebal empat jari. Ervan yang menyimpannya sejak malam itu di lantai 25. Waktu Bryan memintanya, Ervan menyerahkannya sambil menempelkan kantong es di pipi kirinya, dan berkata, “Bilang ke Kak Naya, halaman sembilan udah gue tandain pakai stiker. Biar nggak susah nyarinya.”
Ada stiker kecil berbentuk telur dadar, kuning dengan pinggir cokelat, menempel di tepi halaman sembilan. Aku tidak tahu dari mana Ervan mendapatkan stiker berbentuk telur dadar. Aku tidak mau tahu.
Aku membuka halaman delapan dulu.
Anggita Sekar Wardhani. 26 tahun. Direktur Branding (sejak Oktober 2026). S1 Komunikasi, Universitas Indonesia. S2 Brand Management, University of Melbourne (Cum Laude). Pengalaman: Associate, Strategic Brand Consultancy, Melbourne (2 tahun). Cucu Ibu Dewi Kurniasih (pendiri).
Pas fotonya menunjukkan seorang perempuan muda dengan rambut hitam panjang yang bergelombang di ujung, mata besar yang ekspresif, dan senyum yang terlalu lebar untuk pas foto resmi, seperti ia tidak bisa menahan senyumnya bahkan di depan kamera studio.
Cantik. Sangat cantik. Ervan tidak berbohong soal itu.
Tapi yang membuatku memandangi foto itu lama bukan kecantikannya. Yang membuatku lama memandanginya adalah matanya. Mata itu memandang kamera seperti orang yang menunggu sesuatu yang baik terjadi. Mata yang optimis, keras kepala, dan tidak gampang menyerah.
Mata itu mengingatkanku pada mata seseorang yang lain.
Dia bikinin aku kue dari roti tawar waktu ulang tahun, padahal dia nggak tahu soal Kakak. Dia nyanyi fals.
Aku membalik ke halaman sembilan.
Arief. 28 tahun. Head of Operations Transformation (sejak 2023). S1 Manajemen, Universitas Indonesia (Cum Laude, Beasiswa Pendiri PT Bumi Ni Dewi). S2 Magister Manajemen, Universitas Indonesia (Beasiswa Pendiri PT Bumi Ni Dewi). Riwayat di perusahaan: Pencuci piring (2013), Pelayan (2014–2016), Kepala Pelayan Cabang Cimahi (2016–2018), Staf Operasional Pusat (2018–2021), Manajer Sistem & Operasional (2021–2023).
Pencuci piring, 2013.
Ia mencantumkannya. Di profil manajemen untuk uji tuntas investor dua puluh lima miliar, di antara gelar cum laude dan jabatan Head of Operations Transformation, adikku menulis bahwa ia memulai karier sebagai pencuci piring.
Kebanyakan orang menghapus baris seperti itu dari CV mereka. Adikku menulisnya di urutan pertama.
Pas fotonya menunjukkan laki-laki dengan kemeja biru dongker, rambut yang disisir rapi, dan wajah yang serius dan tenang, kecuali satu hal: bekas luka tipis di ujung alis kiri. Tidak ada yang mengeditnya. Tidak ada yang menutupinya dengan retouching. Garis tipis itu ada di sana, di pas foto resmi, jelas sekali.
Kalau malam itu aku membaca halaman ini, aku akan menemukannya lima belas hari lebih awal.
Aku menutup map hitam itu. Lalu aku melakukan apa yang selalu kulakukan kalau tidak bisa memenangkan pertarungan secara langsung.
Aku membaca angka.
Aku punya teman di Bank Prima Nusantara. Lebih tepatnya, aku punya utang budi dari Bank Prima Nusantara. Dua tahun lalu, waktu bank itu sedang mencari ruang kantor baru untuk divisi korporasinya, aku memberikan mereka harga sewa tiga lantai di Sirius Tower Surabaya yang lebih rendah sebelas persen dari harga pasar, karena direktur utamanya, Pak Gandhi, pernah menjadi dosen tamu di kelas Corporate Finance-ku di Boston dan memberiku nilai A yang tidak sepenuhnya kuperoleh.
Pak Gandhi mengangkat telepon di dering ketiga.
“Kanaya! Ada angin apa CEO Sastrawidjaya nelepon saya jam sembilan pagi? Mau naikin harga sewa Surabaya?”
“Saya mau tanya soal satu debitur, Pak. Off the record.”
Jeda. Suaranya berubah, dari ramah menjadi hati-hati. “Kanaya, kamu tahu saya nggak bisa—”
“PT Wardhana Graha Lestari. Jaminan pihak ketiga, dua belas aset PT Bumi Ni Dewi. Surat peringatan ketiga tanggal dua November.” Aku memberikan angkanya satu per satu, persis seperti yang kubaca di Lampiran B. “Sastrawidjaya Group sedang dalam proses uji tuntas untuk penyertaan modal di Bumi Ni Dewi, Pak. Saya perlu tahu apa yang saya beli.”
Jeda yang lebih panjang.
“Oke,” kata Pak Gandhi akhirnya. “Off the record. Sebagai dosen yang pernah ngasih kamu nilai A yang nggak sepenuhnya kamu dapat.”
“Terima kasih, Pak.”
“Kreditnya macet tujuh bulan. Tim SAM kami sudah siapkan eksekusi untuk satu Januari. Tapi...” Ia berhenti. “Tapi sejak awal November, debiturnya, Pak Rudi Wardhana, terus kirim sinyal ke tim kami bahwa ada investor besar yang akan melunasi. Dia nyebut nama grup kamu, Kanaya. Dia bilang Sastrawidjaya Group akan masuk sebelum akhir tahun. Tim saya menunda proses lelang dua minggu karena itu.”
Aku memejamkan mata.
Om Rudi memakai nama Sastrawidjaya untuk menahan bank sebelum dokumen apa pun ditandatangani. Sebelum aku tahu.
“Satu lagi, Kanaya,” kata Pak Gandhi. Suaranya merendah. “Secara pribadi. Bank nggak suka lelang. Apalagi kalau jaminannya restoran yang masih jalan, yang karyawannya ratusan. Kalau debitur atau pemilik jaminannya datang dengan itikad baik, bayar tunggakan bunga dan denda, kurang lebih dua koma delapan, dan bawa rencana arus kas yang masuk akal, tim SAM kami pasti mau duduk. Restrukturisasi. Nggak perlu investor dua puluh lima miliar.”
Aku membuka mata.
“Dua koma delapan,” ulangku.
“Kurang lebih. Tapi nggak ada yang datang, Kanaya. Tiga surat peringatan, nggak ada satu pun yang datang ke bank buat negosiasi. Pak Rudi cuma kirim pesan lewat telepon. Selalu sama. ‘Investor akan masuk.’”
“Terima kasih, Pak.”
“Kanaya.” Pak Gandhi diam sebentar. “Kamu kedengaran beda. Kamu baik-baik aja?”
Aku memandangi map hitam di mejaku, dengan stiker telur dadar di tepi halaman sembilan.
“Saya baik-baik saja, Pak,” kataku. “Saya lebih baik dari delapan tahun terakhir.”
Jam dua siang hari Senin, Om Rudi datang ke lantai 28.
Aku yang memanggilnya. Bukan lewat Pak Hendrawan, bukan lewat Mama. Aku sendiri yang meneleponnya hari Sabtu, dengan suara CEO yang paling sopan, dan berkata bahwa ada beberapa hal dari uji tuntas yang perlu kami bicarakan berdua, sebelum rapat final dijadwalkan ulang.
Ia datang dengan kemeja batik lengan panjang yang disetrika rapi, rambut yang disisir dengan minyak, dan senyum yang lebar. Senyum yang sudah ia pakai sejak di lift, karena aku melihat bentuknya dari kamera pengawas yang ditampilkan di layar kecil di meja Bryan.
“Bu Kanaya!” Ia mengulurkan tangan dengan dua tangan. “Senang sekali bisa ketemu langsung. Kemarin di rapat itu, waduh, saya khawatir sekali. Ibu nggak apa-apa? Ibu sakit?”
“Saya baik, Pak Rudi. Silakan duduk.”
Ia duduk di kursi di seberang mejaku. Bryan menutup pintu dari luar.
Aku tidak langsung bicara. Aku memandangi Om Rudi, laki-laki berumur lima puluh satu dengan batik yang disetrika, uban di pelipis yang disembunyikan dengan semir rambut, dan lingkaran gelap di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan dengan apa pun.
Ayah Anggita Sekar Wardhani, perempuan dengan mata yang optimis dan keras kepala di halaman delapan.
Laki-laki yang, menurut adikku, mengajarinya memakai dasi di toilet Balairung UI, dan menulis di surat rekomendasi S2-nya bahwa ia salah satu orang paling jujur yang pernah ia kenal.
“Pak Rudi,” kataku. “PT Wardhana Graha Lestari.”
Senyumnya tidak hilang. Senyumnya membeku. Ada bedanya. Senyum yang hilang adalah orang yang menyerah. Senyum yang membeku adalah orang yang belum tahu harus menyerah atau melawan.
“Itu... itu perusahaan pribadi saya, Bu. Properti kecil-kecilan.”
“Wardhana Residence. Bekasi Timur. Dua menara, dua puluh dua lantai.” Aku membuka laptop dan memutar layarnya ke arahnya. Citra satelit: fondasi beton setengah jadi, tiang pancang tanpa lantai, dan ilalang. “Mangkrak sejak Maret. Empat ratus balasan di forum pembeli. Seorang ibu yang menjual mobilnya untuk uang muka unit studio.”
Om Rudi memandangi layar itu.
“Kredit dua puluh empat setengah miliar dari Bank Prima, dengan jaminan dua belas aset PT Bumi Ni Dewi, yang didaftarkan berdasarkan surat kuasa umum dari Ibu Dewi Kurniasih. Dua belas bulan cicilan dibayar dari rekening operasional ekspansi Jakarta milik Bumi Ni Dewi, dengan keterangan ‘biaya pengembangan ekspansi’. Tujuh bulan tidak dibayar. Surat peringatan ketiga tanggal dua November. Eksekusi satu Januari.” Aku menutup laptop. “Dan sejak awal November, Bapak memberi tahu tim Special Asset Management Bank Prima bahwa Sastrawidjaya Group akan melunasi. Sebelum ada satu dokumen pun yang saya tanda tangani.”
Om Rudi tidak bergerak. Senyumnya masih membeku di wajahnya, tapi matanya, matanya mulai basah.
“Bu,” katanya. Suaranya pecah. “Bu Kanaya...”
“Saya tidak memanggil Bapak ke sini untuk menghukum,” kataku. “Saya bukan bank. Saya bukan polisi. Saya investor yang perlu tahu apa yang ia beli.”
“Ibu masih mau... masih mau investasi?”
“Itu tergantung jawaban Bapak.”
Om Rudi menunduk. Ia memandangi tangannya sendiri di atas lutut, tangan yang gemetar.
Lalu, pelan-pelan, senyum yang membeku itu runtuh. Bukan sekaligus. Dari pinggir dulu, lalu ke tengah, seperti kue yang dipotong. Dan di bawah senyum itu ada wajah laki-laki yang sudah berbulan-bulan tidak tidur, yang menjual mobil istrinya, yang menangis di ruang kerja ibunya di depan anak perempuannya dan berkata Papa salah besar.
“Saya cuma mau Ibu saya bangga, Bu,” katanya. “Sekali aja.”
Ia menceritakan semuanya.
Anak kedua. Kakaknya, Haris, kalem, selalu benar, selalu menghitung. Adiknya, Ratna, ceria, punya katering sendiri yang sukses, disayang semua orang. Dan dia di tengah. Anak yang selalu punya ide besar yang tidak pernah jadi. Restoran di Bandung Utara tahun sembilan puluhan yang ditolak Ibu, lalu dibangun Haris sepuluh tahun kemudian dan sukses. Usaha ekspor teh tahun dua ribuan yang bangkrut dalam dua tahun. Cabang Jakarta yang ia pegang sejak 2022 dan belum pernah untung.
“Ibu nggak pernah marah, Bu. Itu yang bikin saya... itu yang bikin susah.” Ia mengusap mata dengan punggung tangan. “Ibu cuma bilang, ‘Engke heula, Rudi. Itung heula.’ Dari saya umur dua puluh. Tiga puluh tahun. ‘Engke heula, itung heula.’”
“Lalu Bapak tidak menghitung.”
“Saya menghitung, Bu! Saya menghitung!” Suaranya naik, lalu turun lagi. “Tanah di Bekasi itu bagus, Bu. Pinggir tol. Pintu tolnya baru dibuka. Saya hitung, dua menara apartemen, kalau laku tujuh puluh persen dalam tiga tahun, untungnya cukup buat... cukup buat Ibu lihat. Cukup buat Ibu bilang ‘Rudi bisa’. Sekali aja.”
“Lalu kontraktor Bapak bangkrut di bulan Maret.”
Om Rudi memandangiku dengan mata yang terkejut, seperti orang yang tidak menyangka rahasianya sudah ditemukan orang lain.
“Saya baca berita,” kataku. “PT Graha Konstruksi Pratama. Pailit, Maret 2026. Tiga proyek mangkrak. Salah satunya milik Bapak.”
Ia mengangguk pelan.
“Dan Bapak tidak bilang pada siapa pun.”
“Saya nggak bisa, Bu. Saya nggak bisa bilang ke Ibu. Ibu bakal...” Ia menelan. “Ibu bakal bilang ‘Engke heula, Rudi, itung heula’ lagi. Dan kali ini Ibu bakal benar. Lagi. Dan saya bakal salah. Lagi.”
Aku memandangi laki-laki di depanku.
Aku tahu rasanya. Aku tidak mau tahu, tapi aku tahu. Rasanya duduk di meja makan keluarga yang bukan keluargamu sendiri, di rumah Menteng, di antara Mama yang sopan, Papa yang jarang di rumah, dan Ervan yang memujamu seperti superhero. Rasanya harus selalu jadi yang terbaik, karena kalau tidak, mungkin mereka akan menyesal telah memilihmu dari antara empat puluh satu anak di panti.
Aku tahu rasanya ingin dibanggakan oleh seseorang yang tidak pernah memintamu membuktikan apa pun.
“Pak Rudi,” kataku. “Perjodohan itu.”
Om Rudi diam.
“Ibu Liliana bilang ingin membalas budi pada Ibu Dewi. Saya tahu ceritanya. Rantang setiap sore, selama satu tahun, waktu Mama masih sepuluh tahun.” Aku memandanginya lurus-lurus. “Tapi membalas budi bisa dengan banyak cara. Mama bisa melunasi utang Bapak sebagai hadiah. Mama bisa membeli saham. Mama bisa memberi pinjaman tanpa bunga. Siapa yang pertama kali bilang soal pernikahan?”
Om Rudi menunduk lebih dalam.
“Saya, Bu,” bisiknya.
“Kenapa?”
“Karena...” Ia memejamkan mata. “Karena kalau Sastrawidjaya masuk sebagai investor biasa, Ibu akan mengurus semuanya sendiri. Ibu akan memanggil Haris, memanggil Arief, membuka semua buku. Semua orang akan tahu. Kalau Sastrawidjaya masuk sebagai keluarga, sebagai besan, ini jadi urusan keluarga. Urusan keluarga diselesaikan diam-diam. Di meja makan. Nggak ada yang perlu buka buku.”
Ia membuka mata, dan matanya penuh air.
“Dan Gita, Bu. Gita aman. Gita nikah sama keluarga yang punya tiga menara. Kalau saya jatuh, kalau saya kehilangan semuanya, Gita tetap aman.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Saya udah nggak punya apa-apa buat anak saya, Bu. Mobil istri saya udah saya jual. Rumah di Jakarta udah saya gadaikan juga, yang itu belum ada yang tahu. Saya cuma punya satu hal yang bisa saya kasih ke Gita. Suami yang nggak akan bangkrut kayak bapaknya.”
Aku tidak bisa bicara.
Di depanku duduk laki-laki yang menjual anaknya. Itu yang akan dikatakan siapa pun yang mendengar cerita ini dari luar: Ia menjual anaknya untuk menutupi utangnya. Tidak salah, tapi juga tidak lengkap.
Karena di depanku juga duduk seorang ayah yang tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, dan yang dalam kepanikannya memberikan satu-satunya hal yang ia pikir masih ia miliki: masa depan anaknya, dibungkus dengan kertas emas tiga menara. Tanpa bertanya apakah anaknya menginginkan bungkusan itu.
Kebaikan yang salah tempat.
Aku sudah melihatnya di Mama, empat belas tahun lalu, di mobil hitam. Aku melihatnya di Ervan, selama lima belas hari dengan stiker telur dadar. Aku melihatnya di adikku, yang tidak berdiri di meja makan itu.
Dan sekarang aku melihatnya di laki-laki ini.
“Pak Rudi,” kataku pelan. “Ibu Dewi tahu soal utang ini?”
Om Rudi tersentak. Sedikit sekali, hampir tidak kelihatan, seperti orang yang tersengat listrik kecil.
“Ibu...” Ia ragu. “Ibu tahu... secukupnya.”
“Secukupnya itu sejak kapan?”
Om Rudi memandangi lantai.
“Ibu setuju sama perjodohannya, Bu,” katanya akhirnya. Bukan jawaban, jawaban untuk pertanyaan lain. “Ibu sendiri yang bilang setuju. Di depan semua orang.”
Aku menyimpan ketidakcocokan itu di kepala, seperti angka yang terlalu rapi.
“Satu lagi,” kataku. “Arief. Head of Operations Transformation Bapak. Ia tahu soal ini?”
Om Rudi mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan ini, wajahnya benar-benar terkejut.
“Arief? Nggak, Bu. Nggak mungkin. Arief cuma presentasi sistem kemarin. Saya sudah titip ke dia, jangan bahas yang lain.” Ia menggeleng. “Arief anak baik, Bu. Paling jujur yang saya kenal. Kalau dia tahu, dia pasti sudah bilang ke Ibu saya. Dia nggak bisa nyimpen hal kayak gini.”
Aku tidak menjawab.
Aku memandangi Om Rudi, yang tidak tahu bahwa adikku duduk di sebelah anak perempuannya di meja makan keluarga, mendengarnya mengumumkan perjodohan, dan tahu angkanya sampai sebelas juta. Bahwa adikku diam, supaya ayah perempuan yang ia cintai tidak dipermalukan di depan dua puluh tiga orang. Bahwa adikku memotong lima puluh kilo bawang merah malam itu, lalu menyusun empat belas halaman rencana penyelamatan jam empat pagi, dan tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa ia tahu.
Om Rudi juga tidak tahu siapa aku bagi Arief.
Dan aku tidak akan memberitahunya. Belum. Itu bukan hakku. Itu hak adikku.
“Terima kasih, Pak Rudi,” kataku, dan berdiri. “Saya akan menghubungi Bapak lagi sebelum rapat final.”
Om Rudi berdiri dengan bingung. “Bu, jadi... investasinya...”
“Saya akan menghubungi Bapak lagi.”
Ia mengangguk, lalu berjalan ke pintu. Di ambang pintu ia berhenti, berbalik, dan memandangiku dengan mata yang merah.
“Bu Kanaya,” katanya. “Tolong. Jangan bilang ke Gita. Biar saya yang bilang. Kalau... kalau nanti saya sanggup.”
Aku memandanginya lama.
Gita itu anaknya Rudi. Kalau dia tahu dari orang lain, dia akan kehilangan ayahnya dua kali.
Aku tidak tahu kalimat itu milik siapa. Aku hanya tahu kalimat itu benar.
“Saya tidak akan bilang ke Gita, Pak,” kataku. “Itu bukan hak saya.”
Mama menelepon jam lima sore.
Aku memandangi nama di layar ponselku. Mama. Getarannya berlangsung lama, sampai mati sendiri.
Mama menelepon lagi. Dan lagi.
Di dering keempat, aku mengangkat.
“Naya.” Suara Mama lembut dan sopan seperti biasa, tapi di bawahnya ada sesuatu yang tidak biasa. Getaran kecil, seperti cangkir porselen di atas meja waktu ada truk lewat. “Naya, Sayang. Mama dari kemarin nyoba telepon kamu.”
“Kanaya sibuk, Ma.”
“Mama tahu. Mama tahu kamu sibuk.” Jeda. “Naya, kemarin di rapat. Waktu kamu keluar. Anak muda itu, yang presentasi...”
Aku tidak menjawab.
“Mama lihat alisnya, Naya.”
Aku memejamkan mata.
“Mama...” Suara Mama pecah, untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun aku mengenalnya. “Mama ingat anak itu. Mama ingat, Naya. Di halaman panti. Yang lari ngejar mobil. Mama lihat dari jendela belakang. Sendalnya putus. Mama...”
“Ma.”
“Mama perlu bicara sama kamu, Naya. Mama perlu jelasin—”
“Nanti, Ma.”
“Naya—”
“Nanti.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. Aku menelan, dan memelankannya. “Kanaya belum siap, Ma. Kanaya belum bisa. Nanti Kanaya yang telepon Mama. Janji.”
Hening panjang di seberang.
“Iya, Sayang,” kata Mama akhirnya. Sangat pelan. “Mama tunggu.”
Telepon terputus.
Aku duduk di kursi kantorku, memandangi ponsel di tanganku, lama sekali.
Mama ingat. Mama melihat anak laki-laki itu dari jendela belakang mobil hitam, dengan sandal jepit yang talinya putus. Mama melihatnya, dan Mama tetap membuat syarat itu.
Aku tidak bisa memikirkan itu sekarang. Satu hal pada satu waktu. Itu yang kuajarkan pada Bryan di hari pertamanya bekerja. Satu hal pada satu waktu, Bryan. Kalau kamu memikirkan semuanya sekaligus, kamu tidak akan menyelesaikan apa pun.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Jam sembilan malam, aku berdiri di depan papan tulis putih di ruang rapat kecil di sebelah ruanganku.
Aku jarang memakai papan tulis. Aku lebih suka laptop dan angka. Tapi malam ini aku butuh melihat semuanya sekaligus, di satu tempat, dengan tulisan tanganku sendiri, seperti dulu Bu Rahmah mengajariku berhitung di papan tulis kecil di ruang belajar panti.
Aku menulis dengan spidol hitam.
A. Lanjutkan investasi + perjodohan (struktur yang sudah disetujui). BND selamat. 12 cabang selamat. 412 karyawan selamat. Om Rudi selamat. Mama puas. Arief: kehilangan Gita. Gita: menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Ervan: menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Arief akan bilang: “Nggak apa-apa, Kak.” Arief akan memotong bawang lagi.
B. Batalkan semuanya. Perjodohan batal. Gita bebas. 12 cabang dilelang 1 Januari. 412 karyawan kehilangan kerja. Ibu Dewi kehilangan separuh usahanya. Om Rudi hancur di depan keluarganya. Arief akan menyalahkan dirinya. Selamanya. Karena Kakak membatalkan untuk dia.
C. Lanjutkan investasi TANPA perjodohan. Ideal. Tapi: Om Rudi akan menolak (urusan keluarga vs. buka buku). Ibu Dewi sudah bilang setuju di depan semua orang (kenapa?). Mama akan menolak (balas budi = keluarga). Perlu: Om Rudi mengaku ke keluarganya. Ibu Dewi berubah pikiran. Mama mengerti. Waktu: 17 hari.
D. Kakak bayar sendiri. Uang pribadi. 23,6 M. Kakak punya. Tidak ada perjodohan. Tidak ada investasi grup. Tidak ada Mama. Arief akan menolak.
Aku berhenti di D, memandangi tiga kata terakhir. Arief akan menolak.
Aku tidak tahu bagaimana aku tahu. Aku baru empat puluh delapan jam bertemu adikku setelah empat belas tahun. Aku tidak tahu makanan favoritnya sekarang, lagu yang ia dengar di mobil, atau kenapa telinganya merah setiap kali nama Gita disebut.
Tapi aku tahu ia akan menolak.
Karena empat belas tahun lalu, di gudang belakang, di bawah suara hujan, ia menyuruhku pergi supaya ia tidak menjadi alasan aku kehilangan sesuatu. Kemarin pagi, di dapur penthouse, ia menyuruhku tidak membatalkan apa pun supaya ia tidak menjadi alasan Nene kehilangan sesuatu.
Ia akan menolak uangku, karena ia tidak mau menjadi alasan aku kehilangan dua puluh tiga koma enam miliar.
Aku memandangi papan tulis itu lama sekali. Empat pilihan. Satu menghancurkan adikku. Satu menghancurkan keluarga yang memberinya makan. Satu butuh tiga keajaiban dalam tujuh belas hari. Satu akan ditolak oleh orang yang paling ingin kutolong.
Di bawah keempat pilihan itu, aku menulis satu baris lagi, dengan huruf yang lebih kecil.
Satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan ini tanpa menghancurkan siapa pun adalah orang yang tidak mau ditolong.
Aku menutup spidol.
Lalu aku mengambil ponsel dan menelepon Bryan, yang sudah pulang dua jam lalu.
“Bu?” Suaranya mengantuk.
“Bryan. Pesan tiket kereta cepat ke Bandung. Rabu pagi. Dua tiket.”
“Dua? Buat siapa, Bu?”
“Saya dan Ervan.”
“Ibu mau ke Bandung? Rabu? Bu, Rabu ada rapat dewan jam—”
“Batalkan.”
Hening di seberang.
“Bu,” kata Bryan pelan. “Ibu nggak pernah batalin rapat dewan.”
“Hari ini saya batalkan.”
“Ke Bandung buat apa, Bu?”
Aku memandangi papan tulis. Pilihan C. Ibu Dewi berubah pikiran.
“Saya mau ketemu perempuan yang memberi adik saya makan,” kataku. “Waktu saya tidak bisa.”
Bryan diam lama.
“Tiga tiket, Bu,” katanya akhirnya.
“Tiga?”
“Saya ikut.” Aku mendengar ia duduk tegak di tempat tidurnya. “Ini protokol, Bu. Ibu ke dapur restoran. Saya harus bawa tabung pemadam api.”
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang reading
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu