Chapter Thirteen
Papa Pulang
POV: Anggita
Papa selalu datang dengan suara.
Waktu aku kecil, di rumah Jakarta, aku bisa tahu Papa pulang dari ujung kompleks. Bunyi klakson dua kali pendek, satu panjang. Itu kode Papa. Lalu suara pintu mobil yang dibanting terlalu keras, lalu suaranya sendiri dari halaman, keras dan riang: “Mana anak Papa yang paling cantik? Papa bawa martabak!” Padahal anaknya cuma satu, dan martabaknya selalu martabak telur, padahal aku sukanya martabak manis.
Jumat sore, jam lima lewat sepuluh, aku mendengar klakson dua kali pendek dan satu panjang dari parkiran Bumi Ni Dewi Dago.
Aku sedang di Meja Tujuh, mengedit menu baru. Aku berdiri begitu cepat sampai kursi kayu jati itu bergeser lagi, dan kali ini tulang keringku selamat karena Dede sudah menggesernya sejak insiden pertama.
“Papa datang,” kataku pada siapa pun yang mendengar.
Asep yang mendengar. Asep langsung berlari ke dapur. Lima detik kemudian aku mendengar teriakannya: “PAK RUDI DATANG! PAK RUDI DATANG! NU MAWA ROTI!”
Seluruh dapur keluar ke parkiran.
Papa turun dari mobil SUV hitamnya dengan kemeja batik lengan pendek dan kacamata hitam yang ia naikkan ke atas kepala. Di belakangnya, Mama turun dengan lebih tenang, memakai kerudung krem dan membawa tas tangan kecil. Bagasinya terbuka, penuh kardus.
“Halooo, keluarga Dago!” seru Papa, membentangkan kedua lengannya seperti penyanyi dangdut di atas panggung. “Papa bawa roti! Roti Tan Ek Tjoan! Yang asli! Mang Ujang, keju-cokelat buat Mamang, yang gede!”
Mang Ujang, yang empat puluh menit lalu memarahi Iwan karena salah memotong lengkuas, berubah jadi anak kecil di hari Lebaran. “Pak Rudi! Masih inget!”
“Masa lupa! Asep, kamu yang kurus, Om bawain yang isi kacang hijau. Teh Euis, yang pandan. Dede, yang srikaya. Iwan...” Papa memandangi Iwan, berpikir sebentar, lalu tersenyum. “Iwan yang baru, ya? Keponakan Mang Ujang? Om nggak tahu kamu suka apa, jadi Om bawain semua rasa satu-satu. Pilih sendiri.”
Iwan memandangi kardus roti itu seperti memandangi harta karun.
Aku berdiri di ambang pintu samping dan memperhatikan ayahku membagikan roti satu per satu, menyebut nama setiap karyawan, menepuk bahu mereka, dan menanyakan anak Teh Euis yang baru masuk SMA dan lutut Mang Ujang yang bulan lalu keseleo. Papa ingat semuanya. Papa memang selalu ingat semua hal kecil tentang orang lain.
Papa dicintai di sini. Aku lupa betapa ia dicintai di sini.
Lalu ia melihatku. Matanya bersinar, dan ia berjalan cepat melintasi parkiran, lalu memelukku sampai kakiku hampir terangkat dari tanah.
“Anak Papa.” Ia mencium puncak kepalaku. “Kurusan. Kamu nggak sarapan lagi, ya?”
“Aku sarapan tiap hari sekarang, Pa.”
“Masa?”
“Ada yang bikin laporan,” kataku tanpa berpikir.
“Laporan apa?”
Aku membeku. Di belakang Papa, di pintu dapur, aku melihat Arief yang baru keluar dengan apron masih terpasang. Telinganya langsung merah.
“Laporan... laporan tim branding, Pa. Ada kolom sarapannya. Standar perusahaan.”
“Wah, bagus itu.” Papa mengangguk-angguk serius. “Siapa yang bikin?”
“Arief.”
Papa berbalik dan melihat Arief di ambang pintu dapur. Wajahnya berubah jadi senyum lebar.
“ARIEF!”
Ia meninggalkanku begitu saja, berjalan cepat ke Arief, dan memeluknya dengan dua lengan, menepuk-nepuk punggungnya keras sekali seperti menepuk punggung anak sendiri yang baru pulang dari perantauan.
“Anak Om yang paling pinter! Go-live empat puluh tujuh cabang! Ibu cerita di telepon, katanya kamu kayak jenderal perang! Pangandaran mati listrik tapi data nggak ada yang hilang!” Papa melepaskan pelukannya tapi tetap memegang kedua bahu Arief. “Kamu tahu nggak, Om ceritain kamu ke semua temen Om di Jakarta. Om bilang, ‘Itu anak Om. Bukan anak kandung, tapi anak Om.’”
Arief tersenyum.
Aku sudah sebulan memperhatikan senyum Arief. Aku sudah mengumpulkan data tentang senyum itu seperti ia mengumpulkan data tentang sarapanku. Aku tahu senyumnya yang tulus, yang naik pelan-pelan dari ujung bibir ke mata. Aku tahu senyumnya yang menahan malu, yang selalu disertai telinga merah. Aku tahu senyumnya yang profesional di rapat, sopan dan rapi, yang tidak sampai ke mata tapi juga tidak berusaha pura-pura sampai.
Senyum yang ia berikan pada Papa sore itu bukan satu pun dari ketiganya.
Itu senyum yang belum pernah kulihat. Senyum yang dipasang di wajah seperti orang memasang plester di luka. Rapi, dan menutupi sesuatu.
“Terima kasih, Om,” katanya. “Om sehat?”
“Sehat! Sehat walafiat!” Papa tertawa keras, menepuk pipi Arief dua kali, lalu berbalik untuk memeluk Pak Darto, yang baru datang dari pos dan kebingungan ditarik ke dalam pelukan.
Arief memandangi punggung Papa dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Lalu ia menoleh padaku. Ekspresi itu langsung hilang, berganti senyum yang kukenal, yang tulus. Tapi aku sempat melihat ekspresi yang tadi.
Aku mencatatnya di kepala. Data.
Nene pulang dari Tasik jam tujuh malam dengan mobil yang disetir Uwa Haris.
Makan malam keluarga diadakan di ruang makan rumah besar, dengan meja kayu panjang dan dua puluh kursi. Kali ini tidak ada kartu nama berspidol emas, karena Bi Ratna sedang ada pesanan katering pernikahan dua ribu porsi di Antapani dan tidak bisa datang. Tapi tanpa diatur siapa pun, kursi di sebelah kursiku kosong, dan Arief, yang masuk terakhir setelah memastikan liwet di dapur tidak gosong, berdiri ragu di ambang pintu.
“Rief, sini!” Papa menepuk kursi kosong di sebelahku. “Duduk sebelah Gita. Om mau ngobrol sama kalian berdua.”
Jantungku berhenti.
Arief duduk. Lengan kami hampir bersentuhan. Di bawah meja, aku menyenggol kakinya pelan, oke?, dan ia menyenggol balik sekali, oke. Kami sudah berlatih kode kaki ini sejak hari keempat. Itu satu-satunya sistem rahasia kami yang belum pernah gagal, tidak seperti stok cabai.
Makan malamnya hangat. Papa bercerita soal macet di tol Cipularang yang katanya “lebih parah dari macet hati,” dan semua tertawa meskipun leluconnya tidak lucu, karena Papa selalu tertawa duluan dan tawanya menular. Nene bercerita soal pernikahan di Tasik, soal pengantin perempuan yang katanya “geulis tapi kurang dahar”. Uwa Haris bercerita soal dapur satelit Cileunyi yang mulai dibangun minggu depan. Mama, di seberangku, makan dengan tenang dan tersenyum pada semua cerita.
Tapi Mama terus melihat Papa.
Bukan cara istri melihat suami yang sedang bercerita. Cara orang memperhatikan seseorang yang berjalan di pinggir kolam renang. Waspada, siap bergerak.
Aku memperhatikan Papa juga. Dan dari dekat, di bawah lampu gantung ruang makan Nene, aku mulai melihat apa yang Mama lihat.
Papa lebih kurus. Batiknya sedikit longgar di bahu. Ada lingkaran gelap di bawah matanya yang tidak ada waktu Lebaran kemarin. Tawanya masih keras, tapi selesainya terlalu cepat, seperti lampu yang dimatikan. Dan setiap kali ponselnya bergetar di saku, dan selama makan malam itu bergetar enam kali, aku menghitungnya, rahangnya mengeras sebentar sebelum ia tersenyum lagi.
“Rief,” kata Papa di tengah makan, sambil menyendok pepes. “Om mau tanya pendapat kamu. Kalau Bumi Ni Dewi buka cabang di mal Jakarta, mal yang gede, PIK, Senayan, gimana menurut kamu?”
Semua kepala menoleh ke Arief, seperti biasa.
Arief menaruh sendoknya. “Bisa, Om. Pasar Sunda di Jakarta ada. Tapi sewa mal premium biasanya delapan sampai dua belas persen dari omzet, ditambah service charge. Margin dine-in kita sekitar delapan belas persen. Kalau sewanya di atas sepuluh persen, kita kerja buat pemilik mal.” Ia berhenti sebentar. “Saya sarankan mulai dari dapur satelit dulu di Jakarta, kayak Cileunyi. Biar data delivery yang nentuin lokasinya.”
“Hemat, hemat, hemat.” Papa tertawa, menunjuk Arief dengan sendok. “Kamu kayak Ibu. Ibu juga dulu gitu, Rief. Rudi mau buka cabang di Bandung Utara tahun sembilan puluhan, Ibu bilang, ‘Engke heula, Rudi, itung heula.’ Akhirnya dibuka sepuluh tahun kemudian sama Haris.”
“Haris nu ngitung,” kata Nene datar.
Semua tertawa. Papa juga tertawa, tertawa paling keras.
Tapi aku melihat sesuatu. Waktu Arief menjawab tadi, ia memberikan angka, saran, dan data, semuanya dengan suara yang tenang. Tapi sepanjang jawabannya, ia tidak sekali pun melihat Papa. Ia melihat piringnya, gelas teh, dan lampu gantung.
Arief selalu melihat orang yang bertanya. Ia melihat Pak Encep, Bi Enok, Iwan, Uwa Haris, Nene. Ia bahkan melihat petugas parkir yang menanyakan arah ke toilet. Itu salah satu hal pertama yang kusukai darinya: kalau kau bicara dengannya, kau merasa jadi satu-satunya orang di ruangan.
Malam ini, ia tidak melihat Papa.
Aku menyenggol kakinya di bawah meja. Kenapa?
Ia tidak menyenggol balik.
“Gita,” kata Papa waktu pencuci mulut dihidangkan. Colenak buatan Nene, yang selalu jadi favorit Papa sejak kecil. “Kamu udah sebulan di Bandung. Gimana? Betah?”
“Betah banget, Pa.”
“Udah ada yang deketin?”
Aku tersedak colenak.
Mama mengulurkan segelas air. Nene melirik. Uwa Haris tiba-tiba sangat sibuk membersihkan kacamatanya. Di sebelahku, Arief diam seperti patung.
“Papa,” kataku setelah bisa bernapas, “pertanyaan macam apa itu?”
“Pertanyaan Papa yang anaknya udah dua puluh enam.” Papa tertawa, lalu mengedipkan sebelah mata. “Soalnya kalau belum ada, Papa udah punya kandidat lho. Anak temen Papa. Ganteng, keluarga baik-baik, keluarga pengusaha gede. Papa jamin kamu suka.”
“Papa, ih. Kayak zaman Siti Nurbaya aja.”
“Bercanda, bercanda.” Papa mengangkat kedua tangan. “Tapi Papa serius soal gantengnya.”
Semua tertawa lagi. Aku juga tertawa, karena Papa memang selalu begitu, menggoda dengan lelucon yang tidak lucu dan menjodohkan aku dengan anak setiap temannya sejak aku SMA. Itu sudah jadi lelucon keluarga.
Tapi di bawah meja, kaki Arief yang tadi tidak menjawab senggolanku sekarang menempel di kakiku. Tidak menyenggol, hanya menempel, diam, seperti orang yang berpegangan pada sesuatu.
Dan sendok di tangannya berhenti di udara, di tengah perjalanan dari piring colenak ke mulut, dan tidak bergerak selama lima detik.
Aku menghitungnya. Lima detik.
Lalu ia menaruh sendok itu kembali ke piring tanpa memakan colenaknya.
Setelah makan, Papa keluar ke kebun untuk menelepon.
Aku melihatnya dari jendela dapur, tempat aku membantu Mak Odah mencuci piring karena Arief, untuk pertama kalinya sejak aku datang ke Bandung, pamit pulang lebih awal dengan alasan sakit kepala. Papa berdiri di dekat pohon jambu, membelakangi rumah, dengan satu tangan di pinggang dan satu tangan memegang ponsel di telinga.
Jendela dapur terbuka sedikit karena udara malam Dago tidak terlalu dingin. Dan suara Papa, yang memang tidak pernah bisa pelan, terbawa angin.
“...iya, Bu Liliana. Iya. Hari Minggu, Bu, saya umumkan ke keluarga. Hari Minggu pasti.” Jeda. “Iya, Ibu saya sudah... sudah saya bicarakan. Beliau sudah tahu garis besarnya.” Jeda lagi, lebih panjang. “Gita? Gita anak baik, Bu. Dia nurut. Dia selalu nurut sama Papanya.”
Aku berhenti membilas piring.
Mak Odah di sebelahku juga berhenti. Ia melirikku, lalu buru-buru menunduk ke bak cuci lagi.
“Iya, Bu. Terima kasih, Bu. Salam buat Pak Gunawan. Salam buat... iya, buat Ervan juga.”
Telepon ditutup.
Papa berdiri di bawah pohon jambu, diam, lama sekali. Lalu ia menunduk dan menutup wajahnya dengan dua tangan.
Hanya sebentar, tiga detik. Lalu ia menegakkan badan, merapikan batiknya, dan berjalan kembali ke rumah dengan langkah biasa, sambil bersiul.
Aku tidak mengerti apa yang baru kudengar.
Bu Liliana. Aku tidak kenal Bu Liliana. Mungkin rekan bisnis Papa di Jakarta, mungkin istri seorang investor. Hari Minggu saya umumkan ke keluarga. Mungkin soal ekspansi Jakarta, urusan penting yang Papa bilang mau dibicarakan dengan Nene. Gita anak baik. Dia nurut. Mungkin Papa membanggakan aku ke rekan bisnisnya, seperti ia membanggakan aku ke semua orang sejak aku bisa berjalan.
Ervan. Aku tidak kenal Ervan.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. Papa memang selalu punya seratus urusan dengan seratus orang yang tidak kukenal.
Tapi tanganku yang memegang piring sedikit gemetar, dan aku tidak tahu kenapa.
Jam sepuluh malam, Mama mengetuk pintu kamarku.
Ia masuk dengan piyama katun dan kerudung instan, membawa dua gelas susu jahe hangat. Ia duduk di pinggir tempat tidurku seperti waktu aku kecil, waktu ia selalu datang ke kamarku sebelum tidur untuk menanyakan hariku.
“Gita.”
“Ma?”
“Papa cerita sesuatu ke kamu?”
Aku memandangi Mama. “Cerita apa?”
Mama menggenggam gelas susunya dengan dua tangan, dan memandangi uap yang naik dari permukaannya.
“Papa nggak tidur, Git,” katanya pelan. “Udah berbulan-bulan. Mama bangun jam dua, Papa di ruang kerja. Mama bangun jam empat, Papa masih di ruang kerja. Mama tanya, Papa bilang kerjaan. Bulan Agustus...” Mama berhenti sebentar. “Bulan Agustus Papa jual mobil Mama. Yang Mama pakai buat arisan. Papa bilang mau ganti yang baru. Sampai sekarang belum ada yang baru.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Mama nggak mau nuduh Papa,” lanjut Mama, lebih pelan lagi. “Papa orang baik, Git. Papa orang paling baik yang Mama kenal. Tapi orang baik juga bisa...” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Bisa apa, Ma?”
Mama menggeleng, lalu tersenyum. Senyumnya lembut dan lelah.
“Nggak. Mama cuma kebanyakan mikir. Udah tua.” Ia mengulurkan tangan dan merapikan rambutku ke belakang telinga, seperti waktu aku kecil. “Kamu bahagia di sini, Git?”
“Bahagia, Ma.”
“Bahagia beneran? Bukan bahagia yang kamu pasang buat Papa sama Mama?”
Aku memandang Mama. Lalu memandang jaket parasut hitam yang masih tersampir di kursi meja rias, yang Mama sudah lihat sejak masuk dan tidak tanyakan.
“Bahagia beneran, Ma,” bisikku. “Bahagia banget.”
Mama mengikuti arah pandanganku ke jaket itu. Lalu kembali padaku. Ada sesuatu di matanya, seperti pemahaman yang datang perlahan, lalu kecemasan yang datang lebih cepat.
“Siapa?” tanyanya lembut.
Aku menggigit bibir. Kami sudah sepakat dengan Arief: minggu depan, setelah ia bicara ke Nene, baru aku bicara ke Papa dan Mama. Satu kali deg-degan, bukan dua kali.
“Minggu depan,” kataku. “Gita cerita minggu depan, Ma. Janji.”
Mama memandangiku lama. Lalu ia mengangguk dan mencium keningku.
Di ambang pintu, sebelum keluar, Mama berhenti dan berbalik.
“Git.”
“Ma?”
“Apa pun yang Papa bilang nanti...” Mama ragu. “Kamu boleh bilang nggak. Kamu tahu itu, kan? Kamu boleh bilang nggak ke Papa.”
Pintu tertutup sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya.
Jam sebelas, ponselku bergetar.
Arief: Udah tidur?
Saya: Belum. Kamu sakit kepalanya gimana?
Arief: Udah mendingan.
Saya: Bohong.
Arief: Iya bohong.
Aku tersenyum ke layar, meskipun dadaku terasa aneh.
Saya: Tadi kamu nggak makan colenak. Colenak Nene. Kamu selalu habisin colenak Nene, aku lihat waktu makan siang keluarga bulan lalu. Kamu nambah dua kali.
Arief: Kamu ngitung colenak aku?
Saya: Aku ngitung semua soal kamu. Kamu yang ngajarin.
Tanda mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lama sekali.
Arief: Besok pagi aku ketemu Nene.
Aku duduk tegak.
Saya: BESOK?? Soal kita??
Arief: Soal kerjaan dulu. Yang data lama. Udah jelas sekarang. Nene harus tahu duluan.
Arief: Abis itu soal kita.
Saya: Abis itu kamu cerita ke aku juga? Soal data lamanya?
Jeda yang panjang.
Arief: Abis Nene tahu, aku cerita ke kamu. Semuanya. Aku janji.
Arief: Janji keempat.
Saya: Kamu ngitung janji juga?
Arief: Aku ngitung semua soal kamu.
Aku memeluk ponsel di dada dan memandangi langit-langit kamar.
Di bawah, di ruang kerja Nene yang dipinjam Papa selama di Bandung, lampu masih menyala. Aku bisa melihat cahayanya dari celah pintu waktu tadi keluar ke kamar mandi. Lampu itu masih menyala waktu aku akhirnya tertidur jam satu.
Waktu itu aku tidak tahu bahwa di bawah lampu itu, ayahku sedang duduk di depan selembar kertas yang sudah ia tulis dan coret sebelas kali. Kertas berisi kalimat-kalimat yang akan ia ucapkan hari Minggu di meja makan keluarga.
Aku juga tidak tahu bahwa di kamar kos kecil di Sekeloa, seorang laki-laki sedang duduk di lantai dengan berkas tiga puluh dua halaman di pangkuannya, membaca halaman ketiga untuk yang kedua puluh kali. Halaman berisi tiga pilihan penyelamatan, yang ia susun supaya ayahku tidak harus kehilangan semuanya.
Kami bertiga tidak tidur malam itu.
Dan hanya aku yang tidak tahu kenapa.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang reading
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu