Chapter Sixteen

Aku Tetap di Belakangmu

POV: Arief

Gita menemukanku jam sembilan malam, di tempat yang tidak pernah kuduga akan ia datangi.

Meja Nomor Tujuh.

Restoran sudah tutup sejak jam delapan. Kursi-kursi sudah dibalik ke atas meja, lantai sudah dipel, dan lampu ruang makan sudah dimatikan semua kecuali lampu gantung di atas Meja Tujuh. Aku tidak ingat menyalakannya. Mungkin Pak Darto. Pak Darto selalu tahu.

Aku duduk di kursi yang biasa ia duduki, bukan di kursiku. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena dari kursi itu kau bisa melihat jendela ke Jalan Dago dan kebun Nene, dan dari kursi itu, setiap pagi selama sebulan, ia melihatku masuk ke ruang makan dan berkata, kamu berdiri di situ udah dua belas detik.

Aku sudah duduk di sana dua jam.

Pintu samping terbuka. Langkahnya tidak terlalu cepat malam ini, tapi juga tidak lambat. Langkah orang yang sudah memutuskan sesuatu dan berjalan ke sana tanpa berhenti.

Ia berdiri di seberang meja. Ia masih memakai baju yang sama dengan siang tadi, blus hijau sage dan rok krem yang dipilih dengan hati-hati untuk makan siang keluarga, untuk hari yang seharusnya jadi hari kami bicara. Matanya bengkak. Tapi wajahnya kering. Ia sudah selesai menangis, entah sejak kapan, dan sekarang yang tersisa hanya sesuatu yang lebih keras dari tangis.

Di tangannya ada jaket parasut hitam yang terlipat rapi.

Ia meletakkannya di atas Meja Tujuh, di antara kami. Tidak dilempar, diletakkan.

“Biar nggak ada alasan lagi,” katanya.

Aku memandangi jaket itu. Jaket yang kupinjamkan di warung Ceu Imas, saat hujan gunung menghantam atap seng, waktu ia menggenggam tanganku untuk pertama kali. Nggak usah dibalikin besok. Biar ada alasan buat nanya kabar.

“Gita—”

“Aku nggak dateng buat dengerin kamu bilang ‘Gita’ kayak gitu.” Ia tidak duduk. Ia berdiri dengan dua tangan di sandaran kursi di seberangku, kursiku. “Aku dateng buat nanya satu hal. Cuma satu. Terus aku pergi.”

Aku menunggu.

“Kenapa kamu diem?”


Aku sudah tahu pertanyaan itu akan datang. Aku sudah menyiapkan jawabannya sejak jam satu siang, sejak berdiri di depan bak cuci kosong dengan tangan di air sabun yang sudah dingin. Aku menyiapkannya dua puluh tiga kali, satu untuk setiap piring yang kucuci.

Tapi semua jawaban itu punya satu masalah yang sama: semuanya membutuhkan kebenaran, dan aku sudah berjanji pada Nene untuk tidak mengatakannya.

“Gita, aku nggak bisa jelasin sekarang.”

“Lagi?” Ia tertawa. Tawa yang pendek, pahit, dan sama sekali tidak mirip tawanya. “Kemarin malem di atap kamu bilang hal yang sama. ‘Aku nggak bisa cerita sekarang. Aku minta kamu percaya.’ Dan aku percaya, Rief. Aku percaya. Aku bilang ke kamu, ‘kalau kamu bilang ada alasan, berarti ada alasan.’ Terus kamu cium aku. Terus besoknya aku duduk di sebelah kamu, di kursi yang aku tahan pakai tangan biar nggak ada yang ngambil, dan Papa ngejual aku ke orang yang aku nggak kenal, dan kamu...”

Suaranya pecah. Ia berhenti, menelan, dan menyusunnya kembali.

“Dan kamu narik kaki kamu.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Aku ngerasain, Rief. Di bawah meja. Aku nyari kaki kamu, dan kaki kamu udah nggak ada. Kamu narik ke bawah kursi.” Matanya basah lagi, tapi ia menahannya dengan rahang yang mengeras. “Kode kaki kita. Satu-satunya sistem rahasia kita yang nggak pernah gagal. Dan kamu yang matiin.”

“Aku nggak sadar.”

“Itu lebih parah.”

Ia benar. Itu memang lebih parah.


“Gita,” kataku pelan. “Duduk dulu.”

“Nggak.”

“Sebentar aja.”

Ia memandangiku lama, lalu duduk. Bukan karena aku memintanya. Ia duduk karena lututnya tidak kuat lagi berdiri. Aku melihat tangannya gemetar di atas meja waktu ia menarik kursi.

Sekarang kami duduk berhadapan di Meja Tujuh, seperti setiap pagi selama sebulan, tapi di kursi yang tertukar.

“Papa kamu,” kataku, memilih setiap kata seperti memilih batu untuk menyeberangi sungai, “lagi dalam masalah.”

Gita diam.

“Masalah yang besar. Bukan cuma ‘kendala pembiayaan’ kayak yang beliau bilang tadi siang. Lebih besar dari itu.”

“Kamu tahu?”

“Aku tahu.”

“Dari kapan?”

“Dari go-live.”

Aku melihat ia menghitung di kepala, persis seperti yang selalu kulakukan. Sembilan hari. Data lama yang belum dibersihin. Kotak merah dengan banyak nol yang muncul di layar laptopku waktu ia memelukku dari belakang di ruang perang.

“Yang data lama,” bisiknya. “Yang kamu bilang biasa. Yang kamu bilang sistem baru sering nemu yang kayak gitu di hari pertama.”

“Iya.”

“Itu soal Papa.”

“Iya.”

Ia menutup mata.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena Nene minta aku jangan bilang ke siapa-siapa. Termasuk kamu.” Aku menelan ludah. “Dan karena kamu anaknya, Gita. Kalau kamu dengar soal ini dari aku, dari karyawan, dari orang luar, bukan dari Papa kamu sendiri, kamu bakal kehilangan Papa kamu dua kali. Sekali karena masalahnya, sekali lagi karena cara kamu tahu.”

“Itu kata-kata Nene.”

Aku diam. Ia benar lagi. Itu kata-kata Nene, kata demi kata.

“Terus apa hubungannya sama perjodohan?” Suaranya naik sedikit. “Papa ada masalah, oke. Papa butuh investor, oke. Kenapa aku harus nikah sama anaknya investor?”

Aku tidak menjawab.

Tapi Gita tidak bodoh. Ia lulus cum laude dari Melbourne. Ia yang menemukan cara mengubah transparansi menjadi branding dalam lima detik di dapur, dengan rambut setengah tergulung dan piyama satin. Ia yang menjawab pertanyaan Nene di rapat direksi dengan perasaan, waktu semua spreadsheet tidak berguna.

Aku melihat ia mengerti. Pelan-pelan, dari diam-ku, dari wajahku, dan dari semua yang tidak kukatakan.

“Aku harganya,” bisiknya.

Aku memejamkan mata.

“Aku harganya, kan? Masalah Papa itu ada angkanya. Angkanya gede. Terus keluarga Sastrawidjaya mau bayar, tapi mereka nggak mau bayar cuma buat kopi. Mereka mau ikatan. Mereka mau menantu. Dan Papa...” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Gita, tanya Papa kamu.”

“Aku nanya kamu!”

“Aku nggak bisa jawab. Aku udah janji sama Nene.” Suaraku tidak lagi normal sekarang. Aku membiarkannya. “Tanya Papa kamu, Gita. Beliau yang harus cerita. Beliau yang berhak cerita. Bukan aku.”


Ia memandangiku lama sekali.

Lampu gantung di atas Meja Tujuh berdengung pelan. Di luar jendela, Jalan Dago sepi, kecuali satu ojol yang lewat pelan dan menoleh ke jendela, seperti tiga ojol di pagi pertama yang kuceritakan padanya sebagai bukti bahwa ia cantik.

“Oke,” kata Gita akhirnya. Suaranya tenang sekarang. Terlalu tenang. “Oke. Kamu nggak bisa cerita soal Papa. Aku ngerti. Aku benci, tapi aku ngerti.”

Ia mencondongkan badan ke depan.

“Tapi soal kita, Rief. Soal kita nggak ada hubungannya sama janji kamu ke Nene. Soal kita cuma soal kamu sama aku.” Ia menunjuk dadanya, lalu dadaku. “Tadi siang, waktu Papa ngumumin, waktu Nene bilang setuju, waktu aku noleh ke kamu, kamu bisa bilang apa aja. Kamu nggak harus cerita soal Papa. Kamu cuma harus bilang satu kalimat. ‘Gita udah sama saya.’ Atau ‘Saya sayang sama Gita.’ Atau bahkan cuma berdiri. Cuma berdiri, Rief. Kayak waktu aku jawab pertanyaan Nene di rapat direksi, kamu berdiri di belakang tanpa sadar. Aku lihat. Aku lihat kamu berdiri.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Tadi siang kamu nggak berdiri.”

“Gita, kalau aku ngomong tadi, semua orang bakal nanya kenapa. Kenapa aku nggak setuju sama perjodohan yang nyelametin keluarga kamu. Dan aku nggak bisa jawab tanpa buka semuanya di depan dua puluh tiga orang. Di depan Mama kamu. Di depan kamu.” Aku mencondongkan badan juga. Wajah kami sekarang hanya terpisah lebar Meja Tujuh, meja kayu jati yang sudah kami duduki berhadapan puluhan kali. “Dan kalaupun aku buka semuanya, terus apa? Aku bisa nawarin apa? Keluarga kamu butuh dua puluh tiga miliar dalam enam minggu, Gita. Aku punya empat puluh tujuh juta dan motor bekas. Aku anak panti yang disekolahin Nene. Aku tukang cuci piring yang beruntung. Aku nggak bisa berdiri di depan keluarga kamu dan bilang ‘jangan terima uang mereka, terima aku aja’, karena aku nggak punya apa-apa untuk ditukar.”

“Aku nggak minta kamu nukar apa-apa!”

“Keluarga kamu butuh.”

“Aku bukan keluarga aku!” Ia memukul meja dengan telapak tangan. Gelas air di pinggir meja bergoyang. “Aku Gita! Aku yang kamu cium di atap! Aku yang kamu anterin martabak jam dua belas malem! Aku yang kamu bikinin laporan sarapan! Aku bukan dua puluh tiga miliar, Rief, aku orang!”

Aku tidak bisa menjawab itu, karena ia benar, dan karena aku sudah tahu sejak awal bahwa ia benar.

Tapi ada satu hal yang tidak ia ketahui, karena aku tidak pernah memberitahunya. Satu hal yang membuatku tidak bisa berdiri di meja makan tadi siang, dan tidak bisa berdiri sekarang.

Empat belas tahun lalu, di gudang belakang panti, di bawah suara hujan, aku berkata pada kakakku, Kak, pergi. Kakak bisa jadi orang. Kalau Kakak di sini, Kakak cuma bisa jadi kakaknya aku.

Aku tidak pernah meminta Kak Kanaya tinggal. Aku tidak pernah meminta siapa pun tinggal. Setiap kali ada pilihan antara apa yang kuinginkan dan apa yang lebih baik untuk orang yang kucintai, aku selalu, selalu, memilih yang kedua. Bukan karena aku orang baik, tapi karena aku tidak tahu cara lain.

Malam ini aku juga tidak tahu cara lain.

“Gita,” kataku.

Ia menunggu, dengan mata yang masih memintaku. Masih, bahkan sekarang, setelah siang tadi. Mata yang masih menyisakan satu celah kecil untukku.

Aku tahu apa yang harus kukatakan untuk menutup celah itu. Aku tahu, karena aku pernah mengatakannya sekali, kepada orang lain, di halaman panti.

Aku tahu, dan aku mengatakannya.

“Kamu harus jalanin apa yang terbaik buat keluarga kamu. Buat Papa kamu. Buat Nene. Buat dua belas...” Aku berhenti sebelum menyebut angka itu. “Buat semua orang yang bergantung sama keputusan ini.”

Gita tidak bergerak.

“Aku nggak akan ke mana-mana,” kataku. “Aku tetap di sini. Aku tetap kerja buat Nene. Aku tetap jagain Bumi Ni Dewi. Apa pun yang kamu putusin, siapa pun yang kamu...” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Aku menyusunnya ulang. “Apa pun yang terjadi, aku tetap di belakangmu.”


Aku melihat kalimat itu sampai padanya.

Aku melihatnya, seperti melihat titik di peta berubah dari hijau ke merah.

Tiga minggu lalu, di ruang rapat direksi, aku membungkuk di dekat telinganya dan berbisik aku di belakangmu, dan kalimat itu menghentikan gemetar di tangannya. Kalimat itu membuatnya berani berlutut di samping kursi Nene dan menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab spreadsheet. Ia menyimpan kalimat itu. Aku tahu, karena malam itu di saung ia berkata padaku, Kamu tahu nggak, waktu kamu bilang itu, aku ngerasa kayak ada tembok di belakang aku. Aku bisa jatuh ke belakang dan nggak akan kena lantai.

Sekarang ia mendengar kalimat yang sama, hanya ditambah satu kata, tetap.

Dan ia mengerti, persis seperti aku mengerti waktu mengucapkannya, bahwa kalimat yang dulu artinya aku akan menangkapmu sekarang artinya aku akan berdiri di sini dan melihatmu pergi.

Wajahnya tidak berubah. Itu yang paling menakutkan. Tidak ada yang retak, tidak ada yang runtuh. Wajahnya hanya menjadi sangat tenang, seperti permukaan danau yang baru saja ditelan batu.

“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, sangat pelan, “selama sebulan ini aku ngumpulin data soal kamu. Kayak kamu ngumpulin data soal aku. Aku tahu kamu bangun jam empat. Aku tahu kamu nggak pernah duduk di kursi yang paling empuk. Aku tahu kamu ngasih telur yang lebih gede ke orang yang paling muda. Aku tahu kamu nyetir lebih pelan kalau aku ketiduran. Aku tahu kamu baca kontrak tiga puluh delapan halaman sampai catatan kaki. Aku tahu kamu nangis karena roti tawar.”

Ia berdiri.

“Aku tahu kamu memperjuangkan Pak Encep di depan Om-Om direksi yang mau mecat dia. Aku tahu kamu memperjuangkan Teh Yuyun yang nutup selisih kas pakai gajinya sendiri. Aku tahu kamu memperjuangkan Iwan yang buta warna. Kamu memperjuangkan Pak Darsa yang kerambanya mati. Kamu memperjuangkan anak-anak SD di bawah pohon nangka di Garut. Kamu memperjuangkan tukang ojek, kasir, pencuci piring, satpam. Kamu memperjuangkan semua orang, Rief. Semua orang.”

Suaranya tidak pecah. Itu yang membuat setiap katanya seperti paku.

“Tapi kamu nggak pernah sekali pun memperjuangkan aku.”

Ia mengambil jaket parasut hitam dari atas meja, lalu meletakkannya di pangkuanku. Bukan dilempar, diletakkan.

“Data,” katanya.

Lalu ia berjalan ke pintu samping.

Di ambang pintu, ia berhenti, persis seperti siang tadi di ambang ruang makan. Punggungnya tegak. Ia tidak menoleh.

“Kamu bilang kamu tetap di belakang aku,” katanya ke arah pintu. “Kamu tahu masalahnya apa, Rief? Kalau kamu cuma berdiri di belakang aku, aku nggak bisa lihat kamu. Aku nggak tahu kamu ada atau nggak. Aku harus percaya aja.” Ia diam sebentar. “Aku capek percaya sama orang yang nggak bisa aku lihat.”

Pintu samping tertutup.

Tidak dibanting, ditutup pelan.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di Meja Tujuh setelah itu.

Aku hanya tahu bahwa pada suatu saat, lampu gantung di atas meja itu berdengung lebih keras, lalu berkedip, lalu mati. Mungkin bohlamnya sudah tua. Mungkin Pak Darto mematikannya dari panel listrik di pos karena tidak tahan melihat.

Dalam gelap, aku memegang jaket parasut hitam itu.

Masih ada wangi sampo dan tidur di kerahnya. Masih ada sesuatu yang keras di saku kanannya. Aku merogohnya dan menemukan satu bungkus permen jahe, permen jahe dari laci dasbor mobilku, yang ia ambil di hari pertama tanpa izin lalu bertanya boleh? setelah sudah diambil.

Ia menyimpannya selama sebulan.

Aku memasukkan permen itu kembali ke saku jaket.


Jam sebelas malam, aku tidak pulang ke kos.

Aku masuk ke dapur pusat lewat pintu belakang, menyalakan lampu di atas meja potong, memakai apron, dan mengambil karung bawang merah dari gudang bahan kering. Lima puluh kilo.

Lalu aku mulai memotong.

Aku tidak berpikir, dan itu tujuannya. Kupas, potong ujung, belah dua, iris tipis, pindah ke baskom. Kupas, potong ujung, belah dua, iris tipis, pindah ke baskom. Pisau di talenan kayu berbunyi seperti jam. Kupas, potong, belah, iris.

Bawang merah membuat mata berair. Semua orang tahu itu.

Itu alasanku memilih bawang merah.

Jam satu, baskom pertama penuh. Aku mengambil baskom kedua.

Jam tiga, baskom keempat. Jari telunjuk kiriku teriris sedikit, karena pisau meleset waktu aku tidak melihat talenan. Aku membungkusnya dengan plester dari kotak P3K di dinding dan terus memotong.

Jam empat lewat lima, pintu belakang dapur terbuka.

Mang Ujang masuk dengan jaket tebal dan kupluk, siap memulai hari seperti biasa. Ia menyalakan lampu utama, lalu berhenti di ambang pintu.

Ia melihat delapan baskom stainless penuh bawang merah iris, berjajar di sepanjang meja potong seperti barisan tentara. Ia melihat karung bawang kosong di lantai. Ia melihat plester di jari telunjukku. Ia melihat mataku.

“Rief.”

“Mang.”

“Ieu...” Mang Ujang memandangi barisan baskom itu. “Ieu bawang keur sabulan, Rief.”

“Dua puluh tiga hari, Mang. Rata-rata pemakaian bawang merah dapur pusat dua koma dua kilo per hari.”

Mang Ujang tidak menertawakan koreksiku seperti biasa. Ia tidak berkata ulah sombong atau eta sombong nu make data.

Ia melepas kupluknya, menaruhnya di rak, lalu berjalan ke tempatku berdiri, mengambil pisau dari tanganku dengan sangat pelan, dan meletakkannya di talenan.

Lalu ia memelukku.

Mang Ujang, dengan badannya yang besar, kumisnya yang tebal, dan bau terasi bakar yang tidak pernah hilang dari bajunya bahkan sesudah dicuci tiga kali, memelukku di tengah dapur pusat Bumi Ni Dewi, jam empat lewat lima pagi, di antara delapan baskom bawang merah.

“Geus,” katanya di atas kepalaku. Suaranya serak. “Geus, Jang. Geus.”

Sudah, Nak. Sudah.

Aku tidak menangis. Aku tidak bisa menangis lagi. Semuanya sudah keluar lewat bawang merah, antara jam sebelas dan jam empat.

Tapi aku membiarkan Mang Ujang memelukku lama sekali. Aku membiarkan diriku dipeluk, seperti di saung waktu Gita memelukku untuk pertama kali, waktu aku belajar bahwa kadang kau tidak perlu langsung memikirkan cara membalas.

“Mang,” kataku akhirnya, ke bahunya.

“Naon?”

“Bawangnya dipake buat apa?”

Mang Ujang melepaskan pelukannya, memandangi delapan baskom itu, lalu memandangiku. Kumisnya bergerak-gerak.

“Bawang goreng,” katanya. “Abdi goreng sadayana. Dijual. ‘Bawang Goreng Edisi Patah Hati, Produksi Terbatas.’” Ia menepuk bahuku. “Pasti laku. Si Asep pasti nu mimiti meuli.”

Aku tertawa.

Tawanya keluar dengan aneh, setengah tercekik, setengah basah, seperti batuk orang yang baru keluar dari air. Tapi itu tawa.

Mang Ujang tersenyum di bawah kumisnya, menyalakan kompor, dan mulai memanaskan minyak di wajan paling besar.

“Diuk,” katanya, menunjuk bangku kayu di pojok dapur. “Diuk. Engke abdi nyieunkeun sangu jeung endog. Endogna nu gede keur maneh.”

“Mang, yang lebih tua makan yang gosong.”

“Abdi nu leuwih kolot.” Mang Ujang tidak menoleh dari wajan. “Ku kituna abdi nu nangtukeun aturan isuk-isuk ieu. Endog nu gede keur maneh. Ulah ngabantah.”

Aku duduk di bangku kayu itu.

Lima belas menit kemudian, Mang Ujang menyodorkan sepiring nasi putih, sambal terasi, tempe, dan telur dadar yang belum dibelah. Utuh.

Aku memandangi telur dadar itu lama sekali.

Lalu aku memakannya. Semua, tanpa membelahnya, untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun.

Rasanya asin. Mungkin Mang Ujang terlalu banyak memberi garam. Mungkin bukan karena garam.