Chapter Thirty Six
Ruang Direksi
POV: Arief
Ruang makan rumah besar Nene belum pernah menampung dua keluarga sekaligus.
Hari Selasa, jam sepuluh pagi, meja kayu panjang dengan dua puluh kursi itu terisi penuh, dan Mak Odah harus mengambil enam kursi plastik dari gudang untuk disusun di sepanjang dinding.
Di satu sisi meja duduk keluarga Bumi Ni Dewi. Nene di kepala meja, dengan kebaya katun warna tanah dan tongkat di pangkuan. Uwa Haris dan Wa Euceu. Bi Ratna, yang datang dengan mata sembap dan dua kantong kerupuk aci yang tidak akan dimakan siapa pun. Tante Lusi, dengan kerudung krem dan tangan yang terus menggenggam ujung kerudungnya. Gita di sebelah ibunya. Dan Om Rudi.
Om Rudi tidak duduk di kursinya yang biasa, di sebelah kanan Nene, kursi anak kedua. Ia duduk di kursi paling ujung, dekat pintu dapur, kursi yang selama tujuh tahun selalu kosong karena aku berdiri di dekatnya dengan teko teh.
Di sisi lain meja duduk keluarga Sastrawidjaya. Kak Kanaya dengan setelan abu-abu gelap, rambut sebahu yang diselipkan di belakang telinga, dan wajah CEO yang tidak membuang satu gerakan pun. Mama Liliana di sebelahnya, dengan blus krem dan kerudung warna pasir. Papa Gunawan, yang kali ini memakai kemeja batik dan tidak membawa kantong plastik. Ervan, dengan kemeja yang disetrika dan sepatu, dan ia terus melirik ke bawah meja karena Si Belang tidur di dekat kaki Bi Ratna. Pak Hendrawan dengan map tebal. Dan Bryan, yang duduk di kursi plastik di dekat dinding dengan tablet di pangkuan dan, kuduga, tabung pemadam api di bawah kursinya.
Di tengah meja, di atas tumpukan colenak dan teko teh, berdiri sebuah tablet di atas penyangga. Layarnya menyala, menampilkan wajah seorang perempuan berumur empat puluhan dengan kacamata tipis dan blazer biru tua: Ibu Ratnasari, Kepala Divisi Special Asset Management PT Bank Prima Nusantara Tbk.
Aku yang mengundangnya. Kemarin sore, dengan surat kuasa khusus dari Nene di tangan, aku menelepon kantor pusat Bank Prima dan meminta waktu satu jam di rapat ini. Pemilik jaminan ingin mempresentasikan rencana restrukturisasi secara langsung, Bu. Dengan seluruh keluarga hadir.
Ibu Ratnasari setuju. Kami tidak pernah ditawari rapat keluarga sebelumnya, Pak Arief. Saya penasaran.
Aku duduk di kursi nomor sembilan.
Tapi kursi nomor sembilan hari ini tidak di sebelah kursi nomor sepuluh. Hari ini kursi nomor sembilan kutarik ke ujung meja, di sebelah kursi Om Rudi.
Di sebelah, bukan di belakang.
“Sadayana,” kata Nene.
Satu kata. Ruang makan diam.
Nene tidak berdiri dan tidak mengetuk gelas. Ia hanya memandangi seluruh meja dari kepala meja, satu per satu. Keluarganya sendiri, lalu keluarga Sastrawidjaya, lalu layar tablet. Matanya tua, berkabut di pinggir, dan tajam.
“Nene geus kolot,” katanya. “Nene geus lima puluh taun dagang. Nene geus nyieun loba kasalahan. Tapi kasalahan nu pangbadagna, Nene nyieun taun ieu.”
Bi Ratna menahan napas. Uwa Haris melepas kacamatanya.
“Kasalahan éta lain milik Nene sorangan,” lanjut Nene. “Kasalahan éta milik kulawarga ieu. Jeung kulawarga ieu kudu ngabéréskeun babarengan. Di hareupeun sarerea. Lain di meja makan nu sepi, lain cicing-cicing.” Ia memandangi ujung meja. “Rudi.”
Om Rudi menoleh.
“Ngadeg,” kata Nene.
Om Rudi tidak langsung berdiri.
Ia duduk di kursi paling ujung, dekat pintu dapur, dengan dua tangan di atas meja, tangan yang gemetar. Ia memandangi tangannya sendiri. Aku melihat jakunnya bergerak, sekali, dua kali.
Lalu ia memandangiku.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menggeser kakiku sedikit di bawah meja, sampai bahu kami hampir bersentuhan. Aku tidak menyenggolnya. Aku hanya memastikan ia tahu aku ada di sana, di sebelahnya.
Om Rudi menarik napas panjang dan berdiri.
Kursinya bergeser ke belakang dan berderit di lantai. Seluruh meja memandanginya. Dua puluh tiga pasang mata, ditambah satu dari layar tablet.
“Rudi...” Suaranya pecah di kata pertama. Ia berhenti, menelan, dan mencoba lagi. “Rudi mau ngaku.”
Lalu ia mengakuinya.
Ia tidak membaca dari kertas. Ia tidak memakai kata kendala pembiayaan atau lelucon soal rambut rontok. Ia berdiri di ujung meja makan ibunya dan menceritakan semuanya, dengan suara yang bergetar di setiap kalimat tapi tidak berhenti.
Tanah di Bekasi. Dua menara apartemen. Surat kuasa. Dua puluh empat setengah miliar dari Bank Prima, dengan jaminan dua belas cabang Bumi Ni Dewi. Cicilan yang dibayar dari rekening ekspansi Jakarta dengan keterangan palsu. Kontraktor yang pailit bulan Maret. Tujuh bulan tunggakan. Tiga surat peringatan. Rumah di Pondok Indah yang digadai. Mobil Lusi yang dijual. Seorang ibu bernama Sumarni yang menjual mobilnya untuk uang muka unit studio.
Lalu perjodohan.
“Rudi yang usul ke Bu Liliana,” katanya, memandang Mama Liliana di seberang meja. “Bukan Bu Liliana. Rudi. Supaya semuanya jadi urusan keluarga. Supaya nggak ada yang tahu Rudi gagal lagi.”
Mama Liliana memandanginya dengan mata yang basah, dan tidak berkata apa-apa.
Om Rudi menoleh ke Gita.
“Dan Rudi pakai anak Rudi buat nutupin semuanya.” Suaranya hancur. “Rudi bungkus anak Rudi pakai kertas emas, terus Rudi bilang itu hadiah buat dia.”
Gita menunduk. Tante Lusi menggenggam tangannya.
“Gita bilang ke Rudi minggu lalu, ‘Papa nggak jual Gita. Papa jual harga diri Papa, dan Gita yang Papa jadiin bungkusnya.’” Om Rudi mengusap matanya dengan lengan batik. “Anak Rudi bener. Anak Rudi selalu bener. Rudi minta maaf, Git. Di depan semua orang. Rudi minta maaf.”
Gita mengangkat kepala, dan memandangi ayahnya. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, sekali, pelan sekali.
Om Rudi menoleh ke kepala meja.
“Rudi minta maaf, Bu.”
Nene memandangi anaknya lama.
“Lain ka Nene wungkul,” katanya pelan. “Ka sarerea.”
Om Rudi mengangguk. Ia memandangi seluruh meja. Uwa Haris yang kalem dan selalu benar. Bi Ratna dengan kerupuknya. Wa Euceu. Tante Lusi, istrinya selama dua puluh delapan tahun, yang tidak tahu apa-apa.
“Rudi minta maaf,” katanya. “Ka sadayana.”
Hening.
Lalu Uwa Haris berdiri.
Ia berjalan dari kursinya di sebelah kanan Nene, kursi anak pertama, menyusuri meja makan, melewati Bi Ratna, Wa Euceu, Tante Lusi, dan Gita, sampai ke ujung meja tempat adiknya berdiri.
Ia tidak berkata apa-apa. Uwa Haris tidak pernah berkata apa-apa kalau sedang sangat marah.
Ia memeluk Om Rudi.
Om Rudi membeku. Lalu, pelan-pelan, bahunya turun, dan ia menangis di bahu kakaknya, seperti anak umur tujuh di foto seragam SD yang kebesaran.
“Bodo,” kata Uwa Haris pelan di atas kepala adiknya. “Naha teu nanya ka Akang?”
Bodoh. Kenapa tidak bertanya pada Kakak?
Aku menunduk dan memandangi tanganku di atas meja.
Di seberang meja, Kak Kanaya memandangiku. Aku tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu. Aku bisa merasakannya, seperti di ruang rapat lantai 27 waktu ia belum mengangkat kepala, dan aku tahu ia sedang membaca.
Kamu bodoh. Kenapa kamu pikul sendirian?
Om Rudi duduk kembali. Uwa Haris kembali ke kursinya. Bi Ratna membuka satu kantong kerupuk aci dan mulai memakannya sambil menangis, karena katanya, “Bibi kudu ngalakukeun hiji hal, Bibi teu bisa ngan ukur diuk.”
Lalu Nene memandangiku.
“Jang,” katanya. “Ayeuna giliran maneh.”
Aku berdiri.
Aku tidak membawa laptop atau clicker. Aku hanya membawa satu map biru tua, berisi Rencana Bumi versi tiga, yang kucetak semalam dalam dua puluh lima rangkap, satu untuk setiap orang di ruangan itu, dan satu yang sudah kukirim lewat email ke Ibu Ratnasari pagi tadi.
Bryan, tanpa diminta, berdiri dari kursi plastiknya dan membagikan salinan itu ke seluruh meja.
“Bu Ratnasari,” kataku ke layar tablet. “Terima kasih sudah bersedia hadir.”
“Silakan, Pak Arief.”
Lalu aku menjelaskan.
Aku tidak menjelaskannya seperti di lantai 27, dengan suara Head of Operations Transformation yang terlatih dan slide yang rapi. Aku menjelaskannya seperti menjelaskan pada Mang Ujang kenapa sambal dadak dan sambal terasi harus diberi bentuk, bukan hanya warna. Pelan, jelas, satu langkah pada satu waktu.
Tiga ratus dua belas pelanggan katering korporat. Dua ratus empat puluh satu sudah setuju membayar di muka tiga bulan. Tujuh puluh tujuh koma dua persen, hampir persis sama dengan sampel empat puluh perusahaan yang kutelepon diam-diam. Seratus delapan puluh sembilan sudah transfer. Tiga koma empat miliar sudah di rekening Bumi Ni Dewi.
Kartu Langganan Liwet. Tiga ratus dua belas keluarga dan kelompok arisan sudah membeli dalam sepuluh hari, termasuk Arisan Ibu-ibu Pengajian Al-Ikhlas, seperti yang Nene tulis dengan pensil di pinggir halaman. Empat ratus enam puluh juta.
Tanah Bekasi. Penandatanganan PPJB dengan PT Graha Tol Mandiri besok pagi di kantor notaris di Bekasi. Uang muka dua koma delapan lima miliar, ditransfer di hari yang sama. Pelunasan dua puluh lima koma enam lima miliar dalam sembilan puluh hari.
“Dengan uang muka tanah dan dana prabayar,” kataku, “Bumi Ni Dewi bisa melunasi seluruh tunggakan bunga dan denda, dua koma delapan miliar, paling lambat tanggal dua puluh empat Desember, sebelum Natal. Sisa dana prabayar menjadi cadangan operasional dan dana pengembalian bertahap untuk pembeli unit Wardhana Residence. Sembilan puluh hari kemudian, setelah pelunasan tanah, seluruh pokok di Bank Prima lunas. Hak tanggungan atas dua belas cabang dicoret.”
Aku memandangi layar tablet.
“Yang kami minta dari Bank Prima, Bu, adalah restrukturisasi: perpanjangan tenor sembilan puluh hari untuk sisa pokok, penghapusan sebagian denda, dan pembatalan rencana eksekusi lelang tanggal satu Januari.”
Ibu Ratnasari diam lama di layar. Aku melihat ia membalik halaman-halaman salinan Rencana Bumi yang sudah ia cetak di mejanya.
“Pak Arief,” katanya akhirnya. “Ini rencana yang bagus. Sangat bagus. Saya sudah dua puluh tahun di SAM, dan saya jarang melihat debitur atau pemilik jaminan yang datang dengan rencana selengkap ini, dalam waktu sesingkat ini.”
Aku menunggu, karena aku tahu ada tapi. Selalu ada tapi.
“Tapi,” kata Ibu Ratnasari, “komite kredit kami bertemu kemarin sore untuk membahas kasus ini. Saya sudah menyampaikan garis besar rencana Bapak.” Ia menghela napas. “Komite punya satu syarat tambahan.”
Ruang makan diam.
“Debitur aslinya, PT Wardhana Graha Lestari, sudah wanprestasi tujuh bulan. Riwayatnya buruk. Pemilik jaminan, PT Bumi Ni Dewi, punya kinerja operasional yang baik, tapi tata kelolanya...” Ibu Ratnasari memilih kata dengan hati-hati. “Tata kelolanya memungkinkan dua belas aset dijaminkan tanpa persetujuan direksi lengkap. Komite khawatir, Pak. Kalau pelunasan tanah gagal di hari kesembilan puluh, kalau pembelinya mundur, kalau ada sengketa, bank akan kembali ke posisi yang sama, tiga bulan lebih tua dan tiga bulan lebih rugi.”
“Apa syaratnya, Bu?”
“Penjamin.” Ibu Ratnasari memandang kamera lurus-lurus. “Komite meminta jaminan korporasi tambahan dari pihak ketiga dengan peringkat kredit yang kuat, yang bersedia menjamin pelunasan sisa pokok kalau penjualan tanah gagal. Atau, kalau tidak ada penjamin, uang muka restrukturisasi dinaikkan menjadi tiga puluh persen dari sisa pokok.”
Aku menghitung di kepala sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
Tiga puluh persen dari dua puluh dua miliar. Enam koma enam miliar.
Kami punya dua koma delapan lima dari tanah dan tiga koma delapan enam dari prabayar. Enam koma tujuh satu. Cukup, secara angka. Tapi kalau semuanya dipakai untuk uang muka, tidak ada sisa untuk Bu Sumarni dan pembeli lainnya. Tidak ada cadangan operasional di bulan Januari, bulan paling sepi untuk restoran keluarga. Tidak ada ruang kalau satu saja pelanggan korporat membatalkan.
Rencana Bumi akan berdiri di atas tali, tanpa jaring di bawahnya.
“Kapan batasnya, Bu?” tanyaku.
“Komite butuh jawaban dalam empat puluh delapan jam. Kalau tidak ada penjamin dan tidak ada tiga puluh persen, proses lelang dilanjutkan, dengan jadwal baru tanggal empat Januari.”
Ruang makan meledak. Bukan dengan suara keras, tapi dengan bisikan, gerakan, dan napas yang tertahan.
Bi Ratna menjatuhkan kerupuk. Tante Lusi menutup mulut. Om Rudi, di sebelahku, menundukkan kepala begitu dalam sampai dahinya hampir menyentuh meja.
“Urang teu boga, Rief,” bisiknya. “Urang teu boga penjamin. Saha nu daek ngajamin? Rudi? Rudi geus bangkrut. Ibu? Ibu nu boga jaminan. Haris?”
“Akang bisa ngajual tilu cabang,” kata Uwa Haris dari seberang meja. Suaranya tenang, tapi tangannya yang memegang kacamata gemetar. “Cibubur, Depok, Cikarang. Nu rugi. Tilu cabang, sigana genep milyar.”
“Tilu bulan, Wa,” kataku. “Paling cepat tiga bulan. Komite minta empat puluh delapan jam.”
Uwa Haris diam.
Aku memandangi map biru di tanganku. Empat puluh delapan jam. Aku sudah menghitung kemungkinan ini, tentu saja. Halaman tiga belas Rencana Bumi versi tiga, Skenario Risiko: Persyaratan Tambahan dari Kreditur. Aku menulis tiga opsi mitigasi di sana. Semuanya butuh lebih dari empat puluh delapan jam.
Aku bisa memakai seluruh enam koma tujuh miliar untuk uang muka. Aku bisa berjalan di atas tali tanpa jaring. Aku bisa bekerja dua puluh jam sehari di bulan Januari, menelepon setiap pelanggan katering setiap minggu untuk memastikan tidak ada yang mundur, menunda pengembalian uang Bu Sumarni sampai bulan April. Aku bisa memikulnya.
Aku selalu bisa memikulnya.
Aku membuka mulut untuk mengatakan itu. Bu Ratnasari, kami akan memenuhi syarat tiga puluh persen.
Lalu aku mendengar bunyi kursi bergeser di seberang meja.
Kak Kanaya berdiri.
Ia berdiri dengan empat gerakan yang tidak membuang satu gerakan pun. Kursinya bergeser ke belakang, punggungnya tegak, dan tangannya meletakkan cangkir teh yang belum diminum di atas meja.
Seluruh ruang makan memandanginya.
Ia tidak memandangi layar tablet atau Nene. Ia memandangiku, dari seberang meja kayu panjang, di antara colenak dan teko teh.
Aku tahu apa yang akan ia lakukan. Aku melihatnya di matanya. Mata yang empat belas tahun lalu memandangi Dodi dari tiga barisan meja sebelum ia berjalan dan menampar Dodi di depan satu kelas.
“Kak,” kataku pelan. “Jangan.”
Kak Kanaya memandangiku.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Ia tidak langsung bicara ke layar tablet, dan tidak mengumumkan apa pun. Ia memutari meja, melewati Mama Liliana, Papa Gunawan, Ervan, dan Pak Hendrawan. Ia memutari kepala meja, melewati Nene, Uwa Haris, Bi Ratna, Wa Euceu, Tante Lusi, dan Gita.
Sampai ke ujung meja, tempat aku berdiri di sebelah Om Rudi.
Ia berhenti di depanku, satu langkah jauhnya. Tidak di belakangku, tidak di sampingku.
Di depanku.
“Rief,” katanya. Suaranya rendah, hanya untukku, meskipun semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya. “Kakak mau nanya.”
Aku memandanginya.
“Empat belas tahun lalu, kamu lompat ke Dodi tanpa nanya Kakak mau ditolong atau nggak,” katanya. “Empat tahun, Kakak bayar sekolah kamu tanpa nanya kamu mau terima atau nggak. Kita berdua nggak pernah nanya.” Ia menelan. “Hari ini Kakak nanya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kakak nggak mau bayar,” katanya. “Kakak tahu kamu nggak mau. Kakak ngerti kenapa. Kakak nggak mau Ibu Dewi utang sama Kakak. Kakak nggak mau kamu jadi alasan siapa pun utang sama siapa pun.”
Ia menarik napas.
“Kakak mau berdiri,” katanya. “Bukan bayar. Berdiri. Di depan bank. Pakai nama Kakak. Kalau rencana kamu gagal di hari kesembilan puluh, Kakak yang tanggung. Tapi rencana kamu nggak akan gagal, Rief. Kakak baca empat belas halaman itu dalam enam menit. Kakak baca angkanya. Angkanya jujur. Sedikit berantakan, karena hidup memang sedikit berantakan. Tapi jujur.”
Ia memandangiku. Matanya basah, tapi suaranya tidak bergetar.
“Kakak nggak nyelametin kamu,” katanya. “Kakak cuma berdiri di depan, biar kamu nggak usah jalan di atas tali tanpa jaring. Biar kamu bisa jalan di depan dengan rencana kamu sendiri, dan Kakak yang jadi jaringnya.”
Ia diam sebentar.
“Boleh?”
Satu kata. Boleh?
Dua puluh empat tahun, kakakku tidak pernah bertanya. Ia membelah telur dan memberikan bagian yang besar tanpa bertanya. Ia menampar Dodi tanpa bertanya. Ia mengaku soal nasi gosong satu dandang tanpa bertanya. Ia mengirim tujuh ratus lima puluh ribu setiap bulan dari telepon umum di Jakarta tanpa bertanya.
Hari ini, di ujung meja makan keluarga Nene, di depan dua keluarga dan seorang kepala divisi bank di layar tablet, kakakku bertanya.
Aku memandanginya. Lalu memandangi Nene di kepala meja, yang memandangiku dengan mata tua yang berkabut di pinggir, dan mengangguk sedikit, sangat sedikit.
Lalu memandangi Gita, yang memandangiku dari kursi nomor sepuluh dengan mata basah dan bibir yang ditekan rapat. Ia tidak mengangguk. Ia hanya memandangiku, dan aku tahu apa yang ada di kepalanya. Kadang yang paling sayang itu yang mau nerima.
Lalu aku memandangi map biru di tanganku. Rencana Bumi. Empat belas halaman. Rencanaku sendiri, yang kususun jam empat pagi di kantor belakang, jam dua pagi di lantai kos, di kereta, di lantai penthouse setelah kakakku tertidur.
Rencanaku tidak berubah. Kakakku tidak mengambilnya dariku, tidak membayarnya, tidak menggantinya. Ia hanya ingin berdiri di depannya, seperti jaring di bawah tali.
“Boleh, Kak,” kataku.
Suaraku pecah. Aku membiarkannya.
Kak Kanaya memejamkan mata sebentar, satu detik. Lalu ia membukanya, berbalik, dan menghadap layar tablet di tengah meja.
Ia tidak berjalan ke sana. Ia tetap berdiri di tempatnya, di ujung meja, satu langkah di depanku, punggungnya menghadap padaku.
Punggung yang sama dengan yang empat belas tahun lalu berjalan ke mobil hitam di halaman panti.
Kali ini punggung itu tidak pergi. Punggung itu berdiri di antara aku dan sesuatu yang akan jatuh padaku.
Lalu, tanpa menoleh, dengan suara yang rendah dan sangat jelas, kakakku berkata:
“Sekarang Kakak di depan.”
Ruang makan sunyi.
Aku tidak bisa bernapas. Di sebelahku, Om Rudi mengangkat kepala dari meja dan memandangi punggung Kak Kanaya dengan mata yang membelalak.
Empat belas tahun lalu: Aku di belakangmu. Selalu. Ingat itu.
Lima minggu lalu, di tangga darurat: Aku masih di belakangmu, Kak.
Hari ini: Sekarang Kakak di depan.
Kalimat itu berputar. Dari belakang ke depan, dari menunggu ke berdiri, dari bersembunyi di tempat yang tidak bisa dilihat ke berdiri di tempat yang tidak bisa diabaikan.
Kak Kanaya menghadap layar tablet.
“Ibu Ratnasari,” katanya. Suaranya kembali jadi suara CEO. “Saya Kanaya Sastrawidjaya, CEO Sastrawidjaya Group. Saya yakin direktur utama Ibu, Pak Gandhi, sudah memberi tahu Ibu bahwa saya akan menghubungi beliau.”
Di layar, Ibu Ratnasari mengangkat alis. “Pak Gandhi menyebut nama Ibu tadi pagi, Bu. Beliau bilang kalau Ibu Kanaya bicara di rapat ini, saya harus mendengarkan baik-baik.”
Aku memandangi punggung kakakku. Pak Gandhi menyebut nama Ibu tadi pagi. Ia sudah menelepon direktur utama Bank Prima sebelum rapat ini. Ia sudah tahu syarat tambahan itu akan datang. Ia sudah membaca angka dari jarak tiga meter, bahkan sebelum angka itu muncul.
“Sastrawidjaya Group bersedia memberikan jaminan korporasi,” kata Kak Kanaya, “untuk sisa pokok restrukturisasi PT Bumi Ni Dewi di Bank Prima, untuk jangka waktu sembilan puluh hari, dengan satu syarat.”
“Syaratnya, Bu?”
“Jaminan ini adalah jaminan, bukan pembayaran. Sastrawidjaya Group tidak menyuntikkan dana, tidak mengambil saham, dan tidak mendapat kursi di direksi atau komisaris PT Bumi Ni Dewi. Tidak ada syarat non-bisnis dalam bentuk apa pun.” Ia diam sebentar. “Rencana restrukturisasi dijalankan sepenuhnya oleh manajemen PT Bumi Ni Dewi, sesuai dokumen yang sudah dipresentasikan Pak Arief. Kalau rencana itu berhasil, dan saya yakin akan berhasil, jaminan kami gugur dengan sendirinya di hari kesembilan puluh, tanpa satu rupiah pun berpindah tangan.”
Ibu Ratnasari diam di layar.
“Dan kalau rencana itu gagal?” tanyanya.
Kak Kanaya tidak menjawab langsung. Ia menoleh, untuk pertama kalinya sejak berbalik, dan memandangiku dari atas bahunya.
Lalu ia kembali menghadap layar.
“Rencana itu disusun oleh orang yang membangun sistem terpusat empat puluh tujuh cabang tanpa kehilangan satu transaksi pun waktu listrik padam di Pangandaran,” katanya. “Orang yang menelepon empat puluh perusahaan diam-diam sebelum memasukkan angka tujuh puluh tujuh persen ke dalam proposalnya, karena ia tidak mau angkanya terlalu rapi. Orang yang membaca empat ratus balasan di forum pembeli apartemen supaya tahu siapa yang harus dikembalikan uangnya pertama kali.”
Ia diam sebentar.
“Rencana itu tidak akan gagal, Bu Ratnasari,” katanya. “Tapi kalau gagal, saya ada di depannya.”
Ibu Ratnasari meminta waktu lima menit untuk menelepon komite.
Lima menit itu adalah lima menit terpanjang yang pernah terjadi di ruang makan rumah Nene.
Tidak ada yang bicara. Bi Ratna berhenti makan kerupuk. Si Belang, di bawah meja, terbangun, menggeliat, lalu tidur lagi di atas sepatu Ervan. Ervan tidak bergerak sama sekali, dengan wajah orang yang memilih mati daripada membangunkan kucing di atas sepatunya.
Kak Kanaya tetap berdiri, satu langkah di depanku, dengan punggung menghadap padaku.
Aku memandangi punggung itu.
Lalu, tanpa memikirkannya, aku melangkah maju. Satu langkah, sampai aku berdiri di sebelahnya. Bukan di belakang, bukan di depan, di sebelah. Bahu kami bersentuhan.
Kak Kanaya tidak menoleh. Tapi aku merasakan bahunya, yang tadi tegak dan kaku seperti tembok, sedikit melunak.
Di layar tablet, Ibu Ratnasari kembali.
“Ibu Kanaya. Pak Arief. Ibu Dewi.” Ia tersenyum. Senyum yang kecil dan sangat profesional, tapi sampai ke matanya. “Komite menerima jaminan korporasi Sastrawidjaya Group dengan syarat yang Ibu Kanaya sebutkan. Restrukturisasi disetujui, dengan syarat tunggakan bunga dan denda dilunasi paling lambat tanggal dua puluh delapan Desember. Rencana eksekusi lelang dibatalkan.”
Seseorang mengeluarkan suara seperti orang yang baru keluar dari air.
Aku tidak tahu siapa. Mungkin Om Rudi. Mungkin aku.
“Satu hal lagi,” kata Ibu Ratnasari. “Komite meminta presentasi lengkap rencana restrukturisasi di kantor pusat kami, di Jakarta, sebelum penandatanganan perjanjian. Hari Senin, dua puluh delapan Desember, jam sepuluh pagi.” Ia memandangi kamera. “Komite ingin mendengarnya langsung dari Pak Arief.”
“Saya datang, Bu,” kataku.
“Kami tunggu, Pak.”
Layar tablet padam.
Ruang makan rumah Nene tidak meledak. Ruang makan itu tidak bersorak, tidak bertepuk tangan, dan tidak ada yang berteriak.
Ruang makan itu menangis.
Bi Ratna menangis dengan suara keras, memeluk kantong kerupuknya. Tante Lusi memeluk Gita, dan Gita memeluk ibunya balik. Om Rudi menutup wajah dengan dua tangan di kursi paling ujung, dan bahunya bergetar. Uwa Haris membersihkan kacamatanya untuk ketiga kalinya, lebih lama dari yang perlu. Wa Euceu mengusap mata dengan ujung kerudung. Mama Liliana menangis dengan tangan di dada. Papa Gunawan menepuk-nepuk punggung istrinya, dan matanya juga basah. Pak Hendrawan memandangi map tebal di pangkuannya, yang ternyata tidak dibutuhkan siapa pun, dan tersenyum.
Ervan, di bawah meja, dengan sangat pelan menarik kakinya dari bawah Si Belang. Si Belang terbangun, memandanginya dengan mata kuning yang tersinggung, lalu pindah ke kaki Bryan. Bryan membeku.
Dan Nene, di kepala meja, memandangi kami berdua: aku dan kakakku, berdiri bersebelahan di ujung meja makannya, dengan bahu yang bersentuhan.
Ia tidak menangis. Ia tersenyum. Senyum yang jarang, yang rasanya seperti dapat nilai seratus.
“Tah,” kata Nene. “Ieu.”
Nah. Ini.
Aku menoleh ke kakakku.
Kak Kanaya memandangiku. Wajah CEO-nya sudah tidak ada. Yang ada wajah anak perempuan berumur enam belas yang memeluk adiknya di halaman panti, di samping mobil hitam. Wajahnya basah, dan bibirnya bergetar.
“Kamu bilang boleh,” bisiknya.
“Aku bilang boleh.”
“Pertama kali.”
“Pertama kali.”
Ia tertawa, basah dan pecah. Lalu ia memukul dadaku pelan dengan telapak tangan, seperti di atap enam hari lalu, tapi kali ini pukulannya lembut sekali.
“Kamu bodoh,” katanya.
“Kakak juga.”
“Kakak tahu.”
Lalu ia memelukku. Di ujung meja makan keluarga Nene, di depan dua keluarga, dengan Si Belang di atas sepatu Bryan dan Bi Ratna yang menangis memeluk kantong kerupuk.
Dari atas bahu kakakku, aku melihat Gita.
Ia sudah melepaskan pelukan ibunya. Ia berdiri di sebelah kursi nomor sepuluh, memandangi kami dengan mata basah, dan tersenyum. Senyum yang naik dari ujung bibir sampai ke mata. Lalu ia mengangkat tangannya dan membentuk sesuatu dengan jari-jarinya, sesuatu yang hanya bisa dilihat olehku dari atas bahu Kak Kanaya.
Angka tujuh.
Meja Nomor Tujuh.
Aku tidak tahu apa artinya. Lalu aku tahu.
Maneh nu pinter, kata Nene di ruang kerjanya dua hari lalu. Di tempat nu bener. Ku cara nu bener. Pikir sorangan.
Aku sudah tahu di mana.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi reading
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu