Chapter Forty One

Epilog — Kami di Belakangmu

POV: Kanaya

Jam lima lewat tiga puluh pagi, hari Senin, tanggal delapan belas Oktober, aku berdiri di dapur penthouse-ku di lantai 28 Exo Tower dan menggoreng telur.

Kompornya sudah tidak baru lagi. Ada bekas minyak di sekitar tungku kiri yang tidak mau hilang meskipun Bryan sudah membelikan tiga merek cairan pembersih. Ada goresan di wajan antilengket, karena aku pernah memakai garpu, sekali, dan adikku menegurku lewat video call selama sebelas menit. Ada rak bumbu di dinding, berisi garam, merica, kaldu jamur, dan satu toples bawang goreng dengan label tulisan tangan Ervan: EDISI SPESIAL KAKAK. JANGAN DIBAGI SAMA BRYAN.

Satu telur. Sedikit garam. Daun bawang yang diiris tipis. Aku belajar mengirisnya dari video yang dikirim Mang Ujang ke grup ArGi REBORN, yang berdurasi empat menit dan tiga menit di antaranya berisi Mang Ujang menjelaskan bahwa daun bawang teh siga awewe, kudu diperlakukeun lembut.

Minyaknya berbunyi. Aku memiringkan wajan supaya telurnya melebar tipis, menunggu pinggirnya berubah kuning keemasan, lalu membaliknya sekali.

Tidak gosong.

Di belakangku, di ambang pintu dapur, Bryan berdiri dengan setelan jas, tablet di tangan kanan, dan tabung pemadam api kecil di tangan kiri.

“Bryan.”

“Bu.”

“Ini sudah telur keseratus empat puluh.”

“Seratus empat puluh tiga, Bu. Saya mencatatnya.”

“Dan berapa yang gosong?”

Ia memeriksa tabletnya. “Dalam tiga bulan terakhir, nol, Bu.”

“Jadi?”

Bryan memandangi tabung pemadam api di tangan kirinya. Ia memandanginya lama, dengan wajah laki-laki yang sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan yang sudah berjalan setahun.

“Saya rasa,” katanya pelan, “tabung ini sudah tidak diperlukan, Bu.”

“Bagus.”

Ia meletakkan tabung itu di meja dapur. Ia memandanginya lagi. Lalu ia mengambilnya kembali.

“Tapi, Bu, hari ini ada kue ulang tahun. Ada lilin. Ada Pak Ervan.”

Aku tidak bisa membantah logikanya. Tidak ada yang pernah bisa.

Aku mengangkat telur dadar itu ke piring kaleng bermotif bunga, piring kedua yang dibeli Gita di pasar loak Cihapit, karena katanya “Kakak juga harus punya, biar adil”. Aku memotongnya dengan sendok, tidak di tengah, agak miring ke kiri, dan memutar sendoknya di akhir seperti mengunci pintu.

Bagian yang besar, kumasukkan ke kotak bekal.

Bagian yang kecil, kumakan sendiri, berdiri di depan kompor.

Bukan karena aku yang lebih tua. Bukan karena aturan. Hanya karena aku tahu ke mana bagian yang besar itu akan pergi, dan aku suka memikirkannya.


Panti Asuhan Kasih Bunda sudah lama tidak ada. Bangunannya digabung dengan yayasan lain tahun 2017, dan sekarang namanya Yayasan Cahaya Harapan, di jalan kecil di belakang pasar Cimahi, dengan pagar besi hijau yang catnya baru.

Catnya baru karena Mang Ujang dan Asep yang mengecatnya, minggu lalu, sambil berdebat soal warna.

Aku tiba jam sembilan pagi. Adikku sudah di sana sejak jam tujuh. Aku tahu karena Gita mengirim foto ke grup: adikku berdiri di halaman yayasan dengan kemeja biru dongker, memegang papan klip, menghitung kursi plastik dengan jari telunjuk. Suami aku lagi audit kursi. Udah tiga kali. Jumlahnya masih 120. Tolong.

Di bawahnya, Ervan membalas: biarin aja Git, itu cara dia sayang sama kursi.

Halaman yayasan sudah penuh orang ketika aku turun dari mobil. Anak-anak dengan seragam hijau sage. Pengurus yayasan dengan batik. Bu Nining di kursi paling depan, dengan tongkat kayu di pangkuan dan Kenzi duduk di sebelahnya, mengayun-ayunkan kaki yang belum sampai ke tanah. Pak Sutomo dengan kamera saku. Nene, dengan tongkatnya sendiri, duduk di sebelah Mama, dan mereka berdua sedang berbisik-bisik dengan wajah dua perempuan tua yang sedang merencanakan sesuatu.

Papa berdiri di dekat meja prasmanan, memakai sandal I ♥ MAKASSAR dengan batik, dan sedang membujuk Mang Ujang untuk memberitahukan resep sambal. Mang Ujang menggeleng dengan khidmat.

Dan di depan, di dinding kantor yayasan yang baru dicat, ada sebuah papan nama dari kuningan yang masih ditutupi kain putih.

Aku tahu apa yang tertulis di bawah kain itu. Aku yang memeriksa draf desainnya tiga kali. Gita yang mendesainnya, dua belas kali.

PROGRAM BEASISWA DONATUR K.S. Didukung oleh PT Bumi Ni Dewi dan Sastrawidjaya Group

Aku tidak mau nama itu.

Aku sudah bilang pada adikku, waktu ia pertama kali mengusulkan program ini di Meja Tujuh, bulan Mei. “Nggak usah pakai nama Kakak, Rief. Pakai nama Bu Rahmah. Atau nama Nene. Atau nama panti.”

Adikku memandangiku dengan mata yang tenang, mata yang ia pakai di ruang rapat Bank Prima waktu Pak Hadi bertanya soal tata kelola.

“Bukan nama Kakak,” katanya. “Inisial. Inisial yang selama empat tahun ditulis Bu Rahmah di amplop. Yang aku kira orang asing. Yang aku doain tiap malam tanpa tahu siapa.” Ia diam sebentar. “Ada anak di Cahaya Harapan yang sekarang lagi nggak bisa tidur, Kak. Mikirin uang buku, uang seragam. Aku mau dia nerima amplop yang sama. Aku mau dia doain K.S. tiap malam. Dan aku mau, suatu hari, dia tahu K.S. itu siapa.”

Aku tidak bisa membantahnya. Ia sudah pintar dari kecil, tapi sejak menikah ia menjadi menyebalkan dengan cara yang baru: ia selalu benar, dan Gita selalu mendukungnya.

Jadi nama itu tetap. Program itu berjalan. Tiga puluh satu anak di Yayasan Cahaya Harapan, dibiayai sekolahnya sampai lulus SMA, dan yang mau kuliah dibiayai sampai S1. Bumi Ni Dewi menyediakan pekerjaan paruh waktu dan magang untuk yang mau. Sastrawidjaya menyediakan dana pendidikan dan mentor.

Dan ada satu pasal, pasal keempat, yang ditulis adikku sendiri dan tidak boleh diubah oleh siapa pun.

Kakak dan adik kandung yang tinggal di Yayasan Cahaya Harapan tidak boleh dipisahkan oleh program adopsi, kecuali keduanya diadopsi oleh keluarga yang sama, atau keduanya setuju secara tertulis setelah berumur tujuh belas tahun. Jika salah satu diadopsi, yayasan wajib memberikan alamat dan nomor telepon masing-masing kepada keduanya.

Waktu aku membaca pasal itu pertama kali, di draf yang dikirim adikku jam dua pagi, aku harus menutup laptop dan berjalan ke balkon dan berdiri di sana lama sekali.

Bu Rahmah tidak jahat. Mama tidak jahat. Semua orang yang memisahkan kami melakukannya karena mereka pikir itu yang terbaik. Karena mereka baik.

Pasal empat itu bukan hukuman untuk mereka. Pasal itu supaya kebaikan berikutnya tidak salah tempat lagi.


Jam sepuluh, pembawa acara, Neng Lilis, yang meminta tugas ini sendiri dan latihan selama dua minggu, memanggil namaku untuk memberi sambutan.

Aku berdiri dari kursi di barisan depan. Aku berjalan ke podium kecil di depan papan nama yang tertutup kain. Aku sudah memberi sambutan di peresmian Sirius Tower di depan tiga menteri dan dua duta besar. Aku sudah memberi pidato di pernikahan adikku di depan tiga ratus orang.

Aku pikir hari ini akan mudah.

Aku berdiri di podium, memandang ke depan, dan melihat seratus dua puluh kursi plastik yang sudah diaudit tiga kali. Aku melihat tiga puluh satu anak dengan seragam hijau sage. Aku melihat seorang anak perempuan, mungkin umur sembilan atau sepuluh, di barisan ketiga, dengan rambut dikepang dua dan sepatu yang jelas kekecilan, memegang tangan anak laki-laki yang lebih kecil di sebelahnya. Anak laki-laki itu mungkin tujuh tahun. Ia bersandar ke bahu kakaknya, dan kakaknya membiarkannya.

Aku melihat mereka, dan aku tidak bisa bicara.

Kertas sambutanku ada di tanganku. Dua halaman, diketik rapi, diperiksa Bryan dua kali. Isinya tentang komitmen, tentang pendidikan, tentang kerja sama dua perusahaan.

Tidak ada satu kalimat pun di kertas itu yang mengatakan bahwa aku pernah tinggal di sini.

Tidak ada satu kalimat pun yang mengatakan bahwa K.S. adalah aku. Bahwa aku anak panti. Bahwa CEO Sastrawidjaya Group, pemilik Annex, Exo, dan Sirius, dulu tidur di kamar dengan dua belas anak lain di bangunan yang sekarang berdiri di belakang podium ini, dan menangis di gudang belakang di antara kardus mi instan.

Empat belas tahun aku tidak pernah mengatakannya di depan umum. Mama yang memintaku. Lalu aku sendiri yang memintaku, setiap pagi, di depan cermin, karena lebih mudah menjadi CEO daripada menjadi anak panti yang meninggalkan adiknya.

Hari ini wartawan ada di barisan belakang. Tiga media bisnis, dua portal berita, dan Nadia dengan kameranya. Apa pun yang kukatakan sekarang akan ada di internet sebelum makan siang.

Tanganku gemetar. Kertas sambutan itu berbunyi pelan, seperti daun kering.

Lima detik. Sepuluh detik.

Aku melihat Mama di barisan depan, dan Mama memandangiku dengan mata yang basah dan mengangguk, pelan sekali. Kamu boleh bilang.

Tapi aku tetap tidak bisa bicara.

Lalu aku merasakannya.

Langkah kaki di belakangku. Dua orang. Satu langkah tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan punggung yang pasti tegak, karena aku yang mengajarinya berdiri tegak waktu ia umur lima tahun dan bungkuk karena malu. Satu lagi lebih ringan, sedikit terburu-buru, dengan bunyi sepatu hak yang tidak cocok dipakai di halaman berpasir.

Mereka berhenti tepat di belakangku. Tidak di sebelah, tidak di depan. Di belakang.

Sebuah tangan menyentuh punggungku, di antara tulang belikat. Tangan yang hangat, dengan bekas luka kecil di buku jari, dari pecahan piring di dapur Bumi Ni Dewi waktu ia umur lima belas. Tangan yang lain, lebih kecil, dengan cincin bermata hijau, menyentuh bahuku.

“Kak,” kata adikku, pelan sekali, hanya untukku.

Lalu ia dan Gita mengatakannya bersamaan, dalam satu napas, seperti sudah mereka sepakati jauh sebelum hari ini:

“Kami di belakangmu, Kak.”

Empat belas tahun lalu, di halaman panti ini, di depan mobil hitam yang akan membawaku pergi, aku memeluk anak laki-laki berumur empat belas tahun dengan bekas luka di alis kiri, kencang sekali, dan membisikkan kalimat yang sama ke telinganya. Aku di belakangmu. Selalu. Lalu aku masuk ke mobil, dan ia berlari mengejar mobil itu sampai ke ujung gang, sampai sandal jepitnya putus, dan aku tidak menoleh, karena kalau aku menoleh aku tidak akan pernah bisa pergi.

Aku pikir, selama empat belas tahun, aku sudah melanggar janji itu.

Aku salah.

Janji itu tidak pernah putus. Ia hanya berpindah tangan. Ia dipegang Bu Rahmah, yang menjaga amplop-amplop itu. Dipegang Nene, yang memberinya makan. Dipegang Mang Ujang, yang memberinya dapur. Dipegang Gita, yang memesannya di Meja Tujuh. Dan sekarang ia kembali padaku, dari arah yang tidak pernah kuduga.

Dari belakang.

Aku meletakkan kertas sambutan itu di podium. Aku tidak membutuhkannya.

“Selamat pagi,” kataku, ke mikrofon. Suaraku serak, tapi tidak gemetar. “Nama saya Kanaya.”

Aku diam sebentar.

“Dulu saya tinggal di sini.”

Halaman itu hening. Anak perempuan dengan rambut dikepang dua di barisan ketiga mengangkat kepalanya.

“Saya datang waktu umur enam tahun, dengan adik saya, yang waktu itu umur empat. Kami tidur di kamar paling ujung, yang jendelanya bocor kalau hujan. Setiap hari Kamis, kami dapat satu telur dadar untuk berdua. Saya yang membelahnya.” Aku menarik napas. “Bu Nining yang masak. Beliau ada di sini.”

Bu Nining mengangkat tongkatnya sedikit. Kenzi, di sebelahnya, ikut mengangkat tangan, karena ia tidak mau ketinggalan.

“Waktu saya umur enam belas, saya diadopsi oleh keluarga yang sangat baik. Mama saya ada di sini juga.” Aku memandang Mama. Mama menutup mulut dengan tangan. “Dan adik saya tinggal. Kami terpisah empat belas tahun. Tidak ada yang jahat dalam cerita ini. Semua orang cuma ingin yang terbaik. Tapi kami tetap terpisah.”

Aku memandang anak perempuan itu, yang masih memegang tangan adiknya.

“Selama empat tahun, saya mengirim uang ke panti ini untuk sekolah adik saya. Diam-diam. Saya minta Bu Rahmah, kepala panti waktu itu, menulis di amplopnya dari K.S. Itu inisial saya. Kanaya Sastrawidjaya.”

Di barisan belakang, aku mendengar bunyi kamera.

Aku tidak peduli.

“Jadi kalau nanti kalian menerima amplop dari program ini,” kataku pada tiga puluh satu anak di depanku, “kalian tahu siapa yang mengirimnya. Bukan orang asing. Bukan orang kaya yang kasihan sama kalian.” Aku tersenyum. “Kakak kalian. Yang dulu tidur di kamar paling ujung.”

Anak perempuan dengan rambut dikepang dua itu tersenyum. Giginya ompong satu di depan.

Aku menarik tali kain putih yang menutupi papan nama. Kainnya jatuh. Kuningannya berkilau di bawah matahari Cimahi.

Semua orang bertepuk tangan. Kenzi bertepuk tangan paling keras, sambil berteriak “TANTE CEO! TANTE CEO!” karena ia belum pernah memanggilku dengan cara lain.

Dan di belakangku, dua tangan itu masih ada di punggungku dan di bahuku. Mereka tidak pergi. Mereka tidak akan pergi.


Ervan datang terlambat, seperti biasa.

Ia turun dari mobil jam sebelas, ketika acara sudah selesai dan anak-anak sedang makan nasi liwet di halaman, dengan kemeja batik baru dan wajah orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu itu turun dari pintu penumpang. Seorang perempuan berumur sekitar dua puluh delapan, berambut pendek, berkacamata, dengan kaus bertuliskan KLINIK HEWAN SAHABAT BUAH BATU dan wajah yang sangat tenang.

“Kak,” kata Ervan, dengan suara yang terlalu santai. “Kenalin. Ini Dokter Rara.”

“Dokter?”

“Dokter hewan,” kata Rara, menjabat tanganku. Jabatannya kuat. “Saya punya empat kucing.”

Aku memandangi Ervan.

Ervan memandangi langit.

“Kamu,” kataku pelan, “fobia kucing.”

“Sedang dalam proses terapi pemaparan, Kak,” kata Rara, dengan wajah yang sama sekali tidak bercanda. “Minggu lalu dia sudah bisa duduk satu ruangan dengan Si Oyen selama empat menit.”

“Tiga menit lima puluh,” koreksi Ervan. “Terus gue keluar. Tapi gue nggak teriak.”

“Dia teriak.”

“Teriak kecil.”

Dari meja prasmanan, Mang Ujang, yang sudah mendengar semuanya, berteriak ke seluruh halaman, “TAH KAN! AWEWE TEH SIGA SAMBEL! NU PEDES PISAN, NU PALING DIPIKARESEP!”

Untuk ketiga kalinya, ternyata Mang Ujang benar.


Malam itu, kami merayakan ulang tahun adikku yang kedua puluh sembilan di saung paling ujung di kebun Bumi Ni Dewi Dago.

Saung yang sama. Tiang kayu yang sama. Tempat Gita dulu memberinya tiga lembar roti tawar dan satu lilin mati lampu, tahun lalu, sementara aku di kamar hotel di Surabaya membuat kue yang sama, sendirian, untuk adik yang belum tahu aku masih mengingat tanggal itu.

Yang datang tidak banyak. Nene, Mama, Papa. Om Rudi dan Tante Lusi. Ervan dan Rara, yang duduk di ujung saung paling jauh dari kucing dapur. Mang Ujang, Teh Euis, Asep. Bryan, dengan tabung pemadam api.

Dan di tengah tikar, ada dua kue.

Kue pertama adalah kue sungguhan. Kue cokelat dua tingkat dengan krim mentega, dihias dengan tulisan Selamat Ulang Tahun, Suami dari krim hijau yang sedikit miring di huruf terakhir. Gita yang membuatnya. Percobaan ketujuh, katanya. Enam percobaan sebelumnya, menurut laporan Bi Ratna di grup, berakhir dengan bantat, gosong, bantat lagi, terbalik waktu dikeluarkan dari loyang, dimakan Ervan sebelum dihias, dan “teu jelas naon, Teh Gita ge teu nyaho”.

Kue kedua adalah tiga lembar roti tawar.

Ditumpuk agak miring, dengan mentega di antara lapisannya dan gula pasir yang ditabur sedikit terlalu banyak. Aku yang membuatnya, di dapur Bumi Ni Dewi, tadi sore, dengan Mang Ujang mengawasi dari jauh dan tidak berkata apa-apa, yang untuk Mang Ujang adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Di tengahnya, menancap agak bengkok, ada satu lilin kecil putih.

Lilin mati lampu. Yang terakhir dari kotak yang kubeli di minimarket bandara Soekarno-Hatta lima tahun lalu. Kotaknya sekarang kosong. Aku akan menyimpan kotak kosong itu di laci, di sebelah polaroid yang sudah kukembalikan kepadaku dalam bentuk salinan, karena aslinya ada di dompet adikku dan tidak akan pernah keluar dari sana.

Adikku memandangi dua kue itu.

“Kak,” katanya. “Kenapa dua?”

“Yang satu kue ulang tahun,” kataku. “Yang satu tradisi.”

“Kita udah punya kue sungguhan.”

“Tradisi nggak ada hubungannya sama kue sungguhan.”

Ia memandangiku. Lalu ia tersenyum, senyum yang sama dengan senyum anak umur empat tahun yang datang ke panti dengan baju kebesaran dan memegangi ujung bajuku selama tiga hari pertama.

Aku menyalakan lilin di atas roti tawar itu dengan korek api dari saku. Gita menyalakan lilin-lilin di atas kue cokelat, dua puluh sembilan batang, yang menurut Bryan melanggar protokol jumlah api terbuka dalam satu ruangan semi-tertutup.

Kami bernyanyi. Fals semua, kecuali Mama, yang dulu ikut paduan suara gereja waktu kuliah di Bandung. Ervan bernyanyi paling keras dan paling sumbang. Rara merekam dengan wajah orang yang sedang mengumpulkan bukti untuk dipakai di kemudian hari.

Lalu adikku memejamkan mata.

Ia membuat permohonan. Ia diam lama sekali. Lebih lama dari tahun lalu, waktu ia ulang tahun yang kedua puluh delapan di saung ini dengan Gita dan roti tawar, sementara aku di kamar hotel di Surabaya dengan roti tawar yang sama dan lilin yang sama, sendirian, bicara dengan lilin.

Ia membuka mata, dan meniup lilin di atas roti tawar terlebih dahulu.

Baru kemudian dua puluh sembilan lilin di kue cokelat, dengan bantuan Gita, yang meniup dari sisi lain dan entah bagaimana justru menyalakan kembali dua lilin karena ia tertawa di tengah tiupan.

Bryan berdiri, mengangkat tabung pemadam api.

“Duduk, Mas Bryan,” kata semua orang bersamaan.

Ia duduk.


Kami makan kue cokelat yang ternyata enak, dan roti tawar yang ternyata kemanisan. Ervan memakan tiga potong kue dan membuat Rara mencatat sesuatu di ponselnya. Nene tertidur di bahu Mama, dan Mama membiarkannya, dan Papa memotret mereka berdua dan mengirimnya ke grup dengan keterangan DUA NENEK GENG, yang membuat Nene, ketika bangun, menolak bicara dengan Papa selama sepuluh menit.

Jam sembilan malam, Gita menarik lenganku dan membawaku ke luar saung, ke bawah pohon pisang.

Wajahnya aneh. Matanya terlalu bercahaya, bahkan untuk Gita. Ia menggigit bibir bawahnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, karena Gita tidak pernah ragu tentang apa pun.

“Kak,” bisiknya. “Aku mau ngasih tahu sesuatu. Kakak yang pertama. Sebelum Mama, sebelum Nene. Bahkan Arief belum tahu.”

“Gita.”

“Aku udah telat tiga minggu.” Ia mengeluarkan sesuatu dari saku kebayanya. Sebuah alat kecil berwarna putih, dengan dua garis merah. “Aku tes tadi pagi. Tiga kali. Pakai tiga merek. Biar datanya valid.”

Aku memandangi dua garis merah itu.

Lalu aku memandangi Gita, perempuan yang dulu memesan adikku di Meja Tujuh dan ditolak, yang memeluknya di bawah hujan Lembang, yang berlutut di depannya dan berkata pasangin, yang sekarang berdiri di bawah pohon pisang dengan wajah yang belum pernah kulihat, campuran takut dan bahagia dan bingung.

Aku memeluknya.

Aku tidak bilang apa-apa selama beberapa detik, karena aku sedang menangis untuk kesekian kalinya tahun ini, dan riasanku, seperti biasa, tidak bertahan.

“Kak,” bisik Gita di bahuku. “Kakak tahu artinya apa?”

“Apa?”

“Tahun depan, telurnya harus dibelah empat.”

Aku tertawa. Tawa yang keras, yang tidak cocok dengan kebaya dan sanggul dan nama keluarga di papan kuningan. Tawa anak panti.

“Kalau gitu,” kataku, menghapus mata dengan punggung tangan, “Kakak beli satu kardus lagi.”


Gita memberi tahu adikku jam sepuluh malam, di saung, di depan semua orang, karena katanya “Aku nggak bisa nahan lagi, Kak, mukanya ngeliatin aku terus kayak lagi ngaudit”.

Aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi setelah itu dengan lengkap. Cukup dengan ini: Teh Euis menjatuhkan piring kue. Mang Ujang berteriak sesuatu tentang sambal yang tidak ada hubungannya dengan apa pun. Nene terbangun, mendengar beritanya, dan langsung menelepon Uwa Haris jam sepuluh malam untuk memberi tahu bahwa ia “rek boga buyut ti budak nu dipiceun sapatuna”. Bryan berdiri dan duduk dan berdiri lagi, karena tidak ada protokol untuk ini. Ervan memeluk Rara, lalu memeluk Om Rudi, lalu memeluk Papa, lalu, karena tidak ada orang lain yang tersisa, memeluk tiang saung.

Dan Asep pingsan.

Untuk kedua kalinya.

Ia jatuh dengan pelan ke atas tumpukan bantal di pojok saung, dan sebelum matanya tertutup, ia sempat bergumam, “Abdi tos sarapan tilu kali... tapi teu dinner...”

Adikku tidak berteriak. Ia tidak pernah berteriak. Ia hanya berdiri di tengah saung dengan wajah kosong, memandangi Gita, memandangi alat kecil berwarna putih di tangannya, lalu memandangi Gita lagi.

Dua belas detik.

Aku menghitungnya.

Lalu ia berlutut, di atas tikar, di depan istrinya, dan menempelkan keningnya ke perut Gita yang masih rata, dan bahunya mulai bergetar.

Gita memeluk kepalanya. Ia mengusap rambutnya. Ia memandangku dari atas kepala adikku, dengan mata yang basah, dan tersenyum.

Aku duduk di tikar, di sebelah roti tawar yang tinggal setengah dan lilin mati lampu yang sudah padam. Aku memandangi mereka berdua.

Dua puluh empat tahun lalu, aku membelah satu telur untuk dua anak, karena hanya itu yang kami punya.

Hari ini, ada satu kardus telur di dapur penthouse-ku, satu kardus lagi di dapur rumah Nene, dan dua kardus di dapur pusat Bumi Ni Dewi yang tidak boleh disentuh siapa pun kecuali keluarga, menurut aturan yang ditulis Mang Ujang dengan spidol di pintu kulkas.

Hari ini ada seorang ibu yang dulu takut aku tidak bisa bahagia, dan sekarang tertidur di bahu perempuan yang memberi adikku makan. Ada seorang ayah yang memakai sandal jepit ke mana-mana. Ada seorang adik lain, yang tidak sedarah tapi sama bodohnya, yang sedang memeluk tiang saung. Ada seorang adik ipar yang membuat kue tujuh kali sampai berhasil.

Dan ada adikku. Yang dulu berlari mengejar mobil hitam sampai sandal jepitnya putus. Yang sekarang berlutut di tikar saung, menangis ke perut istrinya, dengan bekas luka di alis kiri yang masih ada, dan akan selalu ada.

Ia mengangkat wajahnya, akhirnya. Matanya merah. Ia menoleh dan menemukanku, seperti ia selalu menemukanku, di gudang belakang panti, di antara kardus mi instan, di tangga darurat lantai 27, di mana pun.

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia tidak perlu.

Dulu satu telur untuk berdua.

Sekarang kami tidak perlu membaginya lagi.

Tapi kami akan tetap membaginya. Selalu. Pakai sendok, tidak di tengah, agak miring ke kiri, dengan putaran kecil di akhir, seperti mengunci pintu.

Karena itu bukan soal telurnya.

Tidak pernah soal telurnya.


TAMAT