Chapter Thirty Nine
Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
POV: Kanaya
Aku sudah memimpin seratus empat puluh tiga rapat dewan direksi, menandatangani kontrak sewa senilai delapan ratus miliar, dan sekali bernegosiasi dengan konsorsium investor Jepang selama sebelas jam tanpa istirahat. Aku hanya minum air dan memakan satu bungkus biskuit yang dibelikan Bryan dari minimarket lobi.
Aku tidak pernah segugup ini.
Hari Minggu, tanggal tujuh belas Januari, jam sembilan pagi, aku berdiri di depan cermin kamar tamu rumah Nene di Dago, memakai kebaya.
Kebaya brokat warna biru tua, dengan kain batik sidomukti dan selendang tipis di bahu. Mama yang memilihnya. Mama, yang sekarang kupanggil lagi dengan suara biasa, bukan suara CEO. Mama mengantarku ke butik di Kemang hari Rabu dan berdiri di belakangku di depan cermin ruang ganti selama satu jam, bertanya setiap lima menit, “Naya, kamu suka yang ini? Kalau nggak suka, bilang. Kamu boleh bilang nggak.”
Aku memilih yang biru tua, karena itu warna kemeja yang selalu dipakai adikku waktu ia ingin terlihat rapi. Biru dongker. Teh Euis bilang itu warna yang matak kasep.
Rambutku disanggul oleh perias dari Bandung yang direkomendasikan Bi Ratna. Riasanku tipis. Mama tidak mengizinkanku memakai lebih dari bedak, lipstik, dan sedikit maskara, karena “nanti luntur, Naya, kamu pasti nangis”.
“Kanaya nggak akan nangis, Ma.”
“Iya, iya.”
Aku memandangi diriku di cermin. Perempuan berumur tiga puluh dengan kebaya biru tua, sanggul, dan mata yang sedikit bengkak karena tidak tidur.
Bukan CEO.
Kakak.
Hari ini aku mewakili keluarga laki-laki dalam lamaran adikku.
Lamaran itu diadakan di ruang tamu rumah besar Nene, ruang tamu yang selama dua puluh tahun dipakai sebagai ruang rapat direksi Bumi Ni Dewi.
Meja rapat dipindahkan ke gudang. Kursi-kursi kantor diganti dengan kursi kayu dan sofa tua dari ruang keluarga. Dinding yang penuh foto keluarga dibiarkan seperti biasa: Nene muda, Uwa Haris dan Om Rudi kecil, Gita dengan behel. Dan di ujung lorong, foto baru dengan pigura yang mengilap, Arief. Kulawarga.
Ruang tamu itu dibagi dua, tanpa ada yang mengaturnya. Sisi kanan untuk keluarga perempuan, sisi kiri untuk keluarga laki-laki. Di tengahnya ada meja panjang yang ditutupi taplak putih, tempat seserahan diletakkan.
Di sisi kanan sudah duduk keluarga Gita. Om Rudi dengan kemeja batik parang yang baru, karena noda kecil di saku dada batik lamanya akhirnya dibuang oleh Tante Lusi. Tante Lusi dengan kebaya krem. Uwa Haris dengan beskap hitam dan blangkon, karena katanya “Akang nu bakal nyarita, Akang kudu make blangkon”. Wa Euceu, Bi Ratna dengan kebaya merah muda menyala, dan tiga sepupu dari Cimahi.
Gita tidak ada di ruang tamu. Menurut adat, ia menunggu di kamarnya di lantai dua sampai dipanggil. Tapi aku tahu ia sedang berdiri di balik pintu kamarnya, menempelkan telinga ke kayu, karena Bi Ratna mengirim pesan ke grup ArGi REBORN: Teh Gita nguping. Ti tadi. Ceuli na nempel kana panto.
Di sisi kiri, sisi kami, kursi-kursinya lebih banyak dari yang kukira.
Mama dan Papa. Ervan dengan beskap cokelat yang terlalu besar di bahu, karena ia menyewanya di Jakarta tanpa mencobanya dulu. Bryan, dengan jas hitam dan dasi yang lurus sempurna. Ia memaksa ikut karena “Bu, Ibu di dapur orang lagi. Protokol.” Tabung pemadam apinya ia tinggalkan di mobil, karena Nene melarangnya masuk ruang tamu dengan benda itu.
Bu Nining dari Cimahi, dengan kerudung cokelat dan langkah yang pincang. Aku menjemputnya sendiri kemarin sore, dengan mobil sewaan, ke Yayasan Cahaya Harapan. Waktu ia melihatku turun dari mobil di halaman panti, di depan tiang gerbang yang retak, ia menjatuhkan sapu yang dipegangnya dan menangis, lalu memelukku. “Kanaya. Ya Allah, Kanaya. Si budak nu sok mere endog nu gede.”
Pak Sutomo, detektif keempat belas, mantan polisi berumur enam puluh, dengan kemeja batik yang kebesaran dan wajah yang terus-menerus berkaca-kaca. Aku mengundangnya lewat telepon hari Senin. Ia diam lama sekali di seberang, lalu bertanya dengan suara pelan, “Bu Kanaya yakin? Saya cuma detektif, Bu. Saya bahkan nggak nemuin adik Ibu.” Aku bilang, “Bapak delapan bulan nyari dia, Pak. Itu keluarga.”
Dan Mang Ujang. Ia duduk di sisi kiri dengan beskap hitam yang ia pinjam dari tetangga, kumis yang disisir rapi, dan wajah yang sangat serius. Waktu Uwa Haris bertanya kenapa Mang Ujang duduk di sisi laki-laki, padahal ia karyawan Bumi Ni Dewi, Mang Ujang menjawab, “Abdi nu nyieunkeun endog dadar keur manehna unggal isuk salila tilu belas taun. Abdi uwa na.”
Tidak ada yang membantah.
Di tengah sisi kiri, di kursi kayu paling depan, duduk adikku.
Ia memakai beskap putih dengan kain batik Garutan cokelat dan blangkon putih. Mama yang memilihkan beskapnya. Mama sudah tiga kali ke Bandung dalam dua minggu terakhir, dan setiap kali, Mama menghabiskan satu jam di ruang ganti butik bersama adikku, bertanya setiap lima menit, “Nak, kamu suka yang ini? Kalau nggak suka, bilang.”
Adikku selalu bilang suka. Mama selalu memandanginya dengan mata basah.
Ia duduk tegak, dengan dua tangan di atas lutut, dan wajahnya tenang. Wajah Head of Operations Transformation di lantai 27, wajah Managing Director di depan komite kredit Bank Prima.
Tapi telinganya merah, sampai ke leher.
Aku duduk di kursi di sebelahnya.
Lalu Nene masuk.
Ruang tamu diam. Semua orang di kedua sisi berdiri, termasuk Papa, yang belum pernah berdiri untuk siapa pun kecuali Presiden waktu menerima penghargaan pengusaha tahun 2015.
Nene memakai kebaya sutra warna hijau tua, kain batik Garutan, dan selop beludru. Rambutnya disanggul dengan tusuk konde perak. Ia berjalan dengan tongkat kayu, lebih pelan dari biasanya, karena katanya selopnya baru dan “teu biasa”.
Ia berhenti di tengah ruang tamu, di antara dua sisi, di depan meja seserahan.
Lalu ia memandangi kursi kepala di sisi kanan, kursi kosong yang sudah disiapkan untuknya, di depan keluarga Gita, di sebelah Uwa Haris, kursi nenek mempelai perempuan.
Lalu ia memandangi sisi kiri. Mama, Papa, Ervan, Bryan, Bu Nining, Pak Sutomo, Mang Ujang, aku, dan adikku.
Nene memandangi adikku lama.
Lalu Nene berjalan ke sisi kiri.
Ruang tamu menahan napas. Uwa Haris membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bi Ratna menjatuhkan kipasnya.
Nene berhenti di depan kursi kosong di sisi kiri, kursi paling ujung, di sebelah Mang Ujang. Kursi itu sebenarnya disiapkan untuk Bryan. Bryan langsung berdiri dan mundur ke dinding dengan wajah orang yang baru diusir dari kursinya oleh ratu.
Nene duduk.
“Ibu,” kata Uwa Haris dari sisi kanan, pelan. “Ibu teh... Ibu teh neneknya Gita. Kursi Ibu di dieu.”
Nene memandangi anak pertamanya dengan mata tua yang berkabut di pinggir.
“Nene teh nenekna Gita,” katanya. “Jeung Nene teh nenekna Arief.”
Ruang tamu diam.
“Tilu belas taun Nene masihan manehna dahar,” kata Nene. “Tilu belas taun manehna nyium leungeun Nene unggal isuk. Nene diuk di korsi tamu pas manehna wisuda, hiji-hijina kulawarga nu datang.” Nene mengetuk lantai dengan tongkatnya, sekali. “Ayeuna manehna ngalamar. Manehna boga lanceuk. Manehna boga Ibu Liliana jeung Pak Gunawan. Manehna boga Ujang.” Nene memandangi Mang Ujang di sebelahnya. Mang Ujang menegakkan punggung begitu keras sampai beskapnya berderit. “Tapi manehna oge boga Nene.”
Nene memandangi Uwa Haris lagi.
“Haris,” katanya. “Maneh nu nyarita keur kulawarga Gita. Rudi bapana. Lusi indungna. Ratna bibina. Gita boga loba nu ngawakilan.” Ia diam sebentar. “Arief ngan ukur boga hiji lanceuk nu teu bisa masak. Nene diuk di dieu.”
Di sebelahku, adikku menunduk dalam-dalam.
Aku melihat bahunya bergetar sekali.
Di sisi kanan, Uwa Haris memandangi ibunya lama. Lalu ia membetulkan blangkonnya, berdeham, dan mengangguk.
“Nya, Bu,” katanya. “Mangga.”
Di sebelahku, Ervan berbisik terlalu keras, “Kak. Kak. Kakak dibilang nggak bisa masak. Di depan semua orang. Sama Nene.”
“Kakak denger, Van.”
“Itu bener sih.”
“Kakak tahu.”
Menurut adat Sunda, lamaran dimulai dengan pembicaraan antara dua juru bicara, satu dari setiap pihak. Mereka bicara dengan bahasa yang halus, penuh kiasan dan peribahasa, berputar-putar dulu sebelum sampai ke maksud.
Uwa Haris jadi juru bicara keluarga Gita. Ia sudah latihan seminggu, kata Bi Ratna.
Juru bicara keluarga kami adalah Ervan.
Aku tidak memilihnya. Mama tidak memilihnya. Ervan memilih dirinya sendiri, hari Selasa, di grup ArGi REBORN. GUE YANG JADI JURU BICARA. GUE UDAH LATIHAN. GUE UDAH NONTON 14 VIDEO LAMARAN SUNDA DI YOUTUBE.
Arief membalas dengan satu kalimat: Makasih, Van.
Aku membalas dengan tiga kalimat yang tidak akan kuulangi di sini.
Tapi Arief sudah bilang makasih, dan Arief tidak pernah menarik kembali terima kasihnya.
Ervan berdiri dari kursinya, merapikan beskap cokelat yang terlalu besar di bahu, berdeham tiga kali, dan memandangi Uwa Haris di seberang ruang tamu dengan wajah yang sangat serius. Wajah orang yang memilih mati daripada salah bicara.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu,” katanya. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Waalaikumsalam,” jawab seluruh ruangan.
“Sampurasun.”
“Rampes.”
Ervan menghembuskan napas lega, seperti orang yang baru selamat melewati ranjau pertama.
“Kami dari keluarga pihak laki-laki,” katanya, “datang ke rumah yang mulia ini dengan niat yang mulia. Kami datang bagaikan...” Ia berhenti. Aku melihat matanya bergerak ke atas, mencari peribahasa yang sudah ia hafalkan. “Bagaikan... ada gula ada semut.”
Hening.
Bi Ratna menutup mulut dengan kipas.
“Maksud saya,” kata Ervan cepat, “maksud saya, di rumah ini ada gula. Gula-nya Teh Gita. Terus kami semut-nya. Kami dateng. Karena gula.” Ia berhenti lagi. “Eh. Bukan. Bukan kami semut. Arief semut. Arief yang dateng ke gula.”
Di sebelahku, adikku menutup wajah dengan satu tangan.
“Pokoknya,” lanjut Ervan, suaranya mulai naik dengan kepanikan, “kami dateng dengan niat yang baik, bagaikan... sambil menyelam minum air.”
Mang Ujang mengeluarkan suara seperti sapi yang tercekik.
“Bukan, bukan, itu salah.” Ervan mengusap dahinya dengan lengan beskap. “Maksud saya, kami dateng karena dua orang ini... dua orang ini cocok. Kayak... kayak pinang dibelah dua.”
Uwa Haris, di seberang, membetulkan kacamatanya dengan sangat hati-hati, dan sudut bibirnya bergetar.
“Nggak,” kata Ervan tiba-tiba, dengan suara yang lebih keras. “Nggak. Bukan pinang. Saya salah lagi. Bukan pinang.”
Ia berhenti. Ia memandangi Arief di kursi depan. Lalu memandangiku. Lalu, pelan-pelan, wajah paniknya berubah. Wajah itu tenang, dengan lesung pipi.
“Bagaikan telur dibelah dua,” katanya.
Ruang tamu diam.
“Nggak di tengah,” lanjut Ervan. Suaranya pelan sekarang, tidak lagi panik. “Satu bagian lebih gede, satu bagian lebih kecil. Pakai sendok, diputer di akhir, kayak orang ngunci pintu. Yang gede dikasih ke yang lain. Yang kecil, yang gosong, dimakan sendiri.”
Ia memandangi Uwa Haris.
“Itu keluarga kami, Pak,” katanya. “Kakak saya ngebelah telur kayak gitu dari umur sembilan, buat adiknya di panti. Adiknya ngebelah telur kayak gitu sekarang, buat karyawan paling muda di dapur Bumi Ni Dewi. Dan Teh Gita...” Ervan menelan. “Teh Gita ngebelah telur kayak gitu di Garut, buat anak kecil yang nggak dia kenal, sebelum dia tahu soal aturan itu. Arief yang lihat. Arief cerita ke saya waktu saya magang di dapur dan mecahin empat piring.”
Uwa Haris tidak lagi menahan senyum. Ia memandangi Ervan dengan mata yang basah.
“Kami dateng,” kata Ervan, “buat nyatuin dua orang yang udah ngebelah telur dengan cara yang sama, sebelum mereka ketemu. Itu bukan peribahasa, Pak. Itu...” Ia menggaruk tengkuk. “Itu data.”
Ia duduk.
Ruang tamu diam lama sekali.
Lalu Bu Nining, di kursi di belakang Ervan, mulai bertepuk tangan. Pelan, dengan tangan yang keriput. Pak Sutomo ikut, lalu Mang Ujang, lalu Bi Ratna dari seberang dengan kipas di tangan, lalu seluruh ruangan.
Ervan memandangi semua orang yang bertepuk tangan, dengan wajah bingung, lalu menoleh padaku.
“Kak,” bisiknya. “Itu bagus? Gue nggak salah lagi?”
Aku memandangi adik angkatku. Anak laki-laki umur tiga belas yang menawarkan es krim di lantai pantry, yang selama lima belas hari memikul sesuatu yang terlalu besar, yang membuat Pakta Saung, dan yang baru saja menyelamatkan pidato lamaran adikku dengan sebutir telur dadar.
“Itu bagus, Van,” kataku.
Ervan tersenyum dengan lesung pipinya, lalu mengusap matanya dengan lengan beskap yang terlalu besar.
Uwa Haris membalas dengan pidato yang jauh lebih rapi, dalam bahasa Sunda halus yang membuat Nene mengangguk-angguk dan Bu Nining mengusap mata. Ia berbicara tentang Gita, cucu yang dulu memakai behel, yang kuliah di Melbourne, yang duduk di Meja Nomor Tujuh setiap pagi dan membuat kunjungan walk-in naik delapan belas persen.
Lalu ia berhenti, dan memandangi sisi kiri.
“Ti pihak lalaki,” kata Uwa Haris, “saha nu bakal nyarita langsung? Saha nu bakal nyuhunkeun?”
Dari pihak laki-laki, siapa yang akan bicara langsung? Siapa yang akan meminta?
Semua orang di ruang tamu memandangiku.
Aku tahu kenapa. Aku wakil keluarga laki-laki, kakak kandungnya, satu-satunya darah yang tersisa. Menurut adat, orang yang mewakili keluarga laki-laki yang meminta perempuan itu secara resmi kepada ayahnya.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Aku menulisnya di laptop di penthouse jam dua pagi, mengeditnya sembilan kali, dan menghafalkannya di kereta tadi pagi. Kalimat yang rapi, halus, sopan, dan sempurna. Kalimat CEO.
Aku mulai berdiri.
Lalu sesuatu menyentuh tanganku.
Tangan adikku, di atas tanganku di sandaran kursi. Tidak menggenggam, hanya diletakkan, seperti bertanya.
Aku menoleh.
Adikku memandangiku. Matanya tenang, dan telinganya merah sampai ke leher.
“Kak,” katanya pelan, hanya untukku. “Duduk.”
Aku memandanginya.
“Biar aku,” katanya.
Empat belas tahun lalu, di koridor SMP, aku berjalan melewati tiga barisan meja dan menampar Dodi, karena Dodi menirukan adikku jatuh. Aku tidak bertanya pada adikku apakah ia mau aku melakukannya.
Empat belas tahun, aku berdiri di depan. Aku membelah telur, menampar, mengaku. Aku mengirim uang dari telepon umum. Aku menyewa sebelas detektif. Aku berdiri di ujung meja makan keluarga Nene dan berkata sekarang Kakak di depan.
Aku tidak pernah duduk. Aku tidak pernah tahu caranya duduk dan membiarkan orang lain berdiri.
Aku memandangi tangan adikku di atas tanganku.
Lalu aku duduk.
Adikku berdiri.
Ia berdiri dari kursi kayu di sisi kiri ruang tamu, dengan beskap putih, kain batik Garutan, blangkon putih, dan telinga yang merah sampai ke leher. Ia berjalan ke tengah ruangan, ke depan meja seserahan. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
Ia berhenti di depan Om Rudi.
Om Rudi memandanginya dari kursi di sisi kanan. Wajahnya pucat, dan matanya sudah basah.
Adikku tidak berbicara dengan bahasa Sunda halus. Ia tidak memakai peribahasa atau kalimat yang rapi.
Ia berlutut.
Di lantai ruang tamu rumah Nene, di depan Om Rudi, dengan satu lutut. Sehingga matanya sejajar dengan mata ayah perempuan yang ia cintai.
“Om,” katanya.
Om Rudi tidak bisa bicara.
“Om yang ngajarin saya pakai dasi,” kata adikku. “Di toilet Balairung UI. Waktu wisuda S1. Saya ngiket dasinya pakai simpul mati. Om butuh lima belas menit buat ngelepasnya. Om ketawa terus, sampai satpam masuk dan nanya ada apa.”
Om Rudi tertawa, sambil menangis.
“Om yang nulis surat rekomendasi S2 saya. ‘Arief adalah salah satu orang paling jujur yang pernah saya kenal.’” Adikku menelan. “Om nulis itu sambil iri sama saya. Om bilang sendiri, di Meja Tujuh. Dua-duanya bener. Om iri, dan Om sayang.”
“Rief...”
“Saya juga, Om,” kata adikku pelan. “Saya iri sama Om. Dari dulu. Om punya ibu yang meluk Om kayak Om umur tujuh, walaupun Om umur lima puluh satu. Om punya kakak yang bilang ‘bodo, naha teu nanya ka Akang’. Om punya anak perempuan yang berdiri di meja makan dan bilang ‘Papa nggak jual Gita’.” Suaranya bergetar. “Saya iri sama Om. Dan saya sayang Om.”
Om Rudi menutup mulut dengan tangannya.
“Om,” kata adikku. “Saya nggak punya tiga menara. Saya Managing Director baru tiga minggu. Saya masih pakai motor bekas. Tapi saya udah pindah kos. Kos yang baru nggak bocor.” Di belakangku, Ervan tertawa tercekik. “Tabungan saya tinggal dua puluh tiga juta, karena dua puluh empat juta saya pakai buat beli cincin peridot di toko emas di Pasar Baru.”
Om Rudi menangis sambil tertawa.
“Tapi saya punya satu hal yang Om nggak punya waktu Om ngelamar Tante Lusi,” kata adikku.
Om Rudi memandanginya.
“Saya tahu caranya bangkrut,” kata adikku. “Dan saya tahu caranya bangun lagi. Saya lihat Om bangun lagi. Di ruang makan Nene, di depan dua keluarga. Di Bank Prima, waktu Om duduk di kursi pengamat dengan uban yang nggak disemir. Di telepon, waktu Om nelepon dua ratus empat belas pembeli apartemen satu-satu.” Ia diam sebentar. “Kalau suatu hari Gita sama saya jatuh, saya tahu caranya bangun. Saya belajar dari Om.”
Om Rudi tidak bisa menjawab. Ia menangis dengan dua tangan di wajah, bahunya bergetar, dan Tante Lusi di sebelahnya menggenggam lengannya.
“Om,” kata adikku. “Saya minta Gita.”
Satu kalimat. Tanpa peribahasa, tanpa bahasa Sunda halus, tanpa kalimat rapi yang dihafal di kereta.
Saya minta Gita.
Dua puluh delapan tahun, adikku tidak pernah meminta apa pun untuk dirinya sendiri.
Hari ini ia berlutut di depan ayah perempuan yang ia cintai, di depan dua keluarga, di ruang tamu yang dulu jadi ruang rapat direksi tempat ia selalu duduk di kursi paling belakang, dan meminta.
Om Rudi menurunkan tangannya dari wajah.
Ia memandangi adikku lama sekali. Lalu, pelan, ia membungkuk ke depan dari kursinya dan menangkup wajah adikku dengan dua tangan, seperti seorang ayah menangkup wajah anak laki-lakinya.
“Kamu nggak usah minta, Rief,” katanya serak. “Dia udah milih kamu dari stasiun.”
Lalu Om Rudi memandangi tangga kayu menuju lantai dua.
“GITA!” serunya, keras sekali, suara Om Rudi yang dulu selalu duluan di setiap ruangan. “TURUN! UDAH DIMINTA!”
Dari lantai dua terdengar bunyi pintu dibuka keras. Lalu langkah kaki yang terlalu cepat menuruni tangga kayu, seperti takut ketinggalan sesuatu, dan bunyi seseorang tersandung di anak tangga ketiga dari bawah, dan bunyi Bi Ratna berteriak “Teh, ulah lumpat, make kebaya!”
Gita muncul di ujung tangga dengan kebaya hijau sage, sanggul setengah dengan jepit mutiara, dan wajah yang basah dari dahi sampai dagu.
Ia berdiri di ujung tangga, memandangi adikku yang berlutut di depan ayahnya.
Lalu ia tertawa. Tawa yang keras, lepas, dan sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang anggun dan kebayanya yang rapi.
“Kamu berlutut lagi,” katanya.
“Data,” kata adikku.
Seserahan dibuka setelah itu.
Menurut adat, seserahan dari pihak laki-laki berisi perlengkapan untuk calon mempelai perempuan: kain, perhiasan, alat salat, alat rias, makanan. Bi Ratna sudah memberi tahu kami daftar standarnya minggu lalu.
Seserahan kami tidak standar.
Nampan pertama, dari Mama: seperangkat alat salat, kain batik tulis Garutan, dan satu set perhiasan emas. Standar dan sopan. Bi Ratna mengangguk puas.
Nampan kedua, dari Mang Ujang: sebuah kastrol besar dari aluminium, mengilap, baru, dengan pita merah muda yang diikat terlalu kencang di pegangannya. Di dalamnya, centong nasi kayu yang ukurannya disesuaikan dengan standar porsi Bumi Ni Dewi, seratus delapan puluh gram, dengan ukiran kecil di gagangnya: Pikeun Teh Gita. Ulah kaleuleuwihan uyah.
Gita tertawa sampai harus berpegangan pada lengan Bi Ratna.
Nampan ketiga, dari Papa: delapan pasang sandal jepit bertuliskan I ♥ MAKASSAR, berbagai warna, disusun rapi seperti kipas.
“Pa,” bisik Ervan dari belakang. “Aku udah bilang.”
“Ini buat dua orang, Van,” bisik Papa balik, sangat serius. “Empat pasang satu orang. Biar kalau putus, ada gantinya.”
Nampan keempat, dari Ervan: satu toples besar bawang goreng, dengan label cetak di tutupnya: Bawang Goreng Edisi Patah Hati — Produksi Terbatas — Bumi Ni Dewi Dago. Di bawahnya ada label kedua, tulisan tangan Ervan: EDISI TERAKHIR. SUDAH TIDAK PATAH HATI.
Mang Ujang menangis lagi.
Nampan kelima, dari adikku: satu kartu plastik berwarna hijau daun pisang dengan logo baru Bumi Ni Dewi yang didesain Gita, dan tulisan timbul di permukaannya.
KARTU LANGGANAN LIWET Pemegang: Anggita Sekar Wardhani Masa Berlaku: Seumur Hidup Meja: No. 7
Gita memandangi kartu itu lama sekali, lalu memeluknya ke dada.
Lalu nampan keenam.
Nampan keenam dari aku.
Aku sudah memikirkannya selama dua minggu. Apa yang bisa diberikan seorang kakak yang empat belas tahun tidak ada, untuk calon istri adiknya? Perhiasan, Mama sudah memberikan. Uang tidak mungkin, adikku pasti menolak. Saham, properti, tiket bulan madu ke Jepang, semua itu terlalu besar, terlalu CEO, terlalu Kakak di depan.
Jadi aku memberikan satu-satunya hal yang bisa kubuat sendiri.
Di atas nampan keenam, di atas piring seng biasa, piring seng dapur karyawan Bumi Ni Dewi yang kupinjam dari Mang Ujang tadi pagi, ada tiga lembar roti tawar.
Ditumpuk agak miring, dengan mentega di antara lapisannya dan gula pasir yang ditabur sedikit terlalu banyak. Di tengahnya, menancap agak bengkok, ada satu lilin kecil putih.
Lilin mati lampu. Dari kotak yang kubeli di minimarket bandara Soekarno-Hatta empat tahun lalu. Kotak itu tinggal dua batang. Satu kupakai hari ini.
Aku membuatnya sendiri di dapur pusat Bumi Ni Dewi jam enam pagi, di bawah pengawasan Mang Ujang dan Bryan, yang berdiri satu meter di belakangku dengan tabung pemadam api, meskipun kue roti tawar tidak perlu dipanggang.
Gita memandangi kue roti tawar itu.
Ruang tamu diam.
Ervan, di belakangku, menutup mulut dengan dua tangan.
Adikku, yang sudah kembali duduk di kursi di sebelahku, membeku.
Gita mengangkat kepala dan memandangiku.
“Kak,” bisiknya.
“Ini bukan buat ulang tahun,” kataku. Suaraku bergetar. Mama benar, maskaraku akan luntur. “Ini buat bilang makasih.”
Gita tidak bisa bicara.
“Delapan belas Oktober kemarin,” kataku, “Kakak di kamar hotel di Surabaya. Kakak bikin kue ini sendirian. Kakak nyalain lilin jam sembilan malam. Kakak bilang, ‘Rief, ada yang inget nggak? Ada yang bikinin kamu kue nggak?’” Aku menelan. “Di saat yang sama, di saung di kebun ini, kamu nyalain lilin buat dia. Kamu nggak tahu soal Kakak. Kamu nggak tahu soal roti tawar. Kamu cuma tahu dia nggak pernah ngerayain ulang tahun.”
Gita menangis.
“Empat belas tahun Kakak bikin kue ini sendirian,” kataku. “Bagian yang lebih gede Kakak sisihin di piring, buat orang yang nggak akan dateng. Tahun ini, untuk pertama kalinya, ada yang dateng ke dia. Bukan Kakak. Kamu.”
Aku mengambil korek api dari saku kebaya dan menyalakan lilin mati lampu itu.
Nyala kecilnya bergoyang di ruang tamu rumah Nene, di antara dua keluarga.
“Tiup, Gita,” kataku. “Minta yang banyak. Kakak udah minta buat kalian berdua juga.”
Gita memandangi lilin itu. Lalu memandangiku. Lalu memandangi adikku, yang sekarang menangis tanpa suara di kursi di sebelahku, dengan tangan di atas lutut dan blangkon putih yang sedikit miring.
Gita meniup lilin itu.
Ruang tamu menjadi sedikit lebih gelap, sedikit sekali, hanya kehilangan satu nyala kecil.
Lalu Gita mematahkan roti tawar itu jadi dua, tidak di tengah, dan menyodorkan bagian yang lebih besar ke adikku.
Adikku memandangi bagian roti itu.
Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia mematahkan bagian yang besar itu jadi dua lagi, tidak di tengah, dan menyodorkan bagian yang lebih besar dari bagian yang lebih besar itu padaku.
Aku memandangi sepotong roti tawar dengan mentega dan gula yang terlalu banyak di tanganku.
Tiga potong roti, satu untuk masing-masing, tidak ada yang sama besar.
“Yang lebih tua makan yang gede,” kata adikku. Suaranya pecah.
“Aturan siapa?” bisikku.
Ia memandangiku, lalu Gita, lalu Nene di kursi paling ujung di sisi kiri, lalu Mama, Papa, Ervan, Bu Nining, Pak Sutomo, Mang Ujang, dan Bryan yang berdiri di dekat dinding dengan wajah basah.
“Aturan keluarga,” katanya.
Tanggal pernikahan ditetapkan sore itu, setelah makan siang yang panjang dan dua kastrol liwet yang habis.
Sabtu, sepuluh April. Setelah Lebaran. Setelah pelunasan tanah Bekasi tanggal dua puluh tiga Maret. Setelah hak tanggungan atas dua belas cabang Bumi Ni Dewi dicoret di BPN dan aplikasi resmi pertanahan menunjukkan Status: Tidak Terdapat Hak Tanggungan untuk Garut, Tasik, Ciamis, Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Cikarang, Bogor Baranangsiang, Depok, dan Cibubur.
Adikku yang mengusulkan tanggal itu. “Aku mau semua utang lunas dulu. Biar nggak ada yang nikah sambil utang.”
Nene setuju. Om Rudi setuju. Gita setuju sambil bilang “tapi kalau tanggal dua puluh empat Maret tanahnya belum lunas, kita nikah di KUA aja, aku nggak mau nunggu lagi”.
Tempatnya di kebun Bumi Ni Dewi Dago. Di antara saung-saung, pohon pisang, dan saung paling ujung.
Jam empat sore, setelah semua tamu pulang dan ruang tamu kembali sepi, aku menemukan adikku di dapur belakang rumah Nene. Ia sedang mencuci piring.
Beskap putihnya sudah dilepas. Ia memakai kaus putih polos, kain batik Garutan yang digulung sampai lutut, dan blangkon putih yang masih menempel di kepala, miring, karena ia lupa melepasnya. Tangannya di bak cuci, penuh busa sabun, dengan tumpukan piring kotor dari makan siang dua keluarga di sebelahnya.
Mak Odah dan Mak Iyah tidak ada. Mereka pasti sudah menemukan alasan untuk keluar. Menjemur lap, mengangkat jemuran, mencari sesuatu di gudang.
Aku berdiri di ambang pintu dapur, memandanginya.
Ia tidak menoleh. “Kak.”
“Kamu tahu Kakak di sini?”
“Langkah Kakak. Nggak terlalu cepet, nggak terlalu lambat. Punggungnya pasti tegak.”
Aku tersenyum.
Lalu aku melepas selendang tipis dari bahuku, menggulung lengan kebaya brokat biru tua sampai siku, dan berjalan ke bak cuci. Aku berdiri di sebelahnya.
Ia menoleh dan memandangiku.
“Kak, nanti kebayanya basah.”
“Kakak yang bilas,” kataku. “Kamu yang sabun.”
Ia memandangiku lama. Lalu ia tersenyum, dan menyerahkan piring pertama yang sudah disabun.
Aku membilasnya. Air mengalir, piring berdenting.
Kami mencuci piring berdua di dapur belakang rumah Nene, seperti dulu kami membersihkan toilet sekolah selama dua minggu karena aku menampar Dodi. Ia membantuku setiap hari. Kami bernyanyi sambil menyikat, dengan suara yang sama-sama fals.
Di piring kesebelas, ia mulai bernyanyi. Pelan, lagu dangdut lama, sumbang di nada tinggi.
Di piring kedua belas, aku ikut bernyanyi, lebih sumbang lagi.
Di piring ketiga belas, dari jendela kecil di atas bak cuci, aku melihat Gita di kebun. Ia berdiri di dekat saung paling ujung dengan kebaya hijau sage yang sudah sedikit kusut, memandangi jendela dapur. Ia tersenyum, lalu mengangkat ponselnya dan memotret kami.
Aku tidak menegurnya.
Foto itu akan kusimpan di dompet, di sebelah foto polaroid lusuh dan foto buram di tangga darurat.
Foto ketiga, tempat kami berdua ada di dalamnya, sedang melakukan hal yang paling biasa di dunia.
Seperti keluarga.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu reading
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu