Chapter Fourteen
Malam Terakhir Sebelum Semuanya
POV: Arief
Jam tujuh pagi hari Sabtu, aku mengetuk pintu ruang kerja Nene.
Ruang kerja itu ada di lantai satu rumah besar, di ujung lorong yang dindingnya penuh foto keluarga. Aku melewati foto Nene muda di depan rumah makan enam meja, foto Uwa Haris dan Om Rudi kecil dengan seragam SD yang kebesaran, dan foto Anggita umur dua belas dengan behel. Selama tujuh tahun aku selalu melewati foto-foto itu dengan cepat. Pagi ini aku berjalan pelan, seperti orang yang sedang mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu.
“Mangga.”
Nene sudah duduk di kursi rotan di dekat jendela, dengan secangkir teh tubruk di meja kecil di sampingnya dan kacamata baca yang lensanya tergores di ujung hidung. Om Rudi sudah kembali ke kamar tamu di lantai dua. Aku memastikannya tadi, dengan melihat mobilnya di parkiran dan lampu kamarnya yang sudah padam.
“Arief. Isuk-isuk teuing. Aya naon?”
Aku menutup pintu, lalu duduk di kursi kayu di seberangnya. Bukan kursi plastik, karena di ruangan ini tidak ada kursi plastik.
Map biru tua di pangkuanku terasa lebih berat dari tiga puluh dua lembar kertas.
“Ne,” kataku. “Saya mau lapor sesuatu. Soal aset. Saya nemu waktu go-live kemarin.”
Nene melepas kacamatanya dan memandangku. Matanya tua, sedikit berkabut di pinggir, tapi tajam.
“Nya. Lapor.”
Aku sudah melatih ini semalaman, lebih sering dari aku melatih Gita untuk rapat direksi.
Aku tidak memulai dengan angka. Kalau dimulai dengan angka, Nene akan mendengar angka. Aku juga tidak memulai dengan nama Om Rudi. Kalau dimulai dengan nama itu, Nene akan berhenti mendengar apa pun selain nama itu.
Aku memulai dengan Garut.
“Ne, waktu saya ke Garut bulan lalu, Pak Encep bilang sertifikat asli cabang Garut dibawa ke kantor Jakarta tahun lalu. Katanya buat diperbarui. Saya catat. Waktu modul aset nyala hari Jumat kemarin, sistem nemu sertifikat Garut lagi dijaminkan ke bank. Bukan cuma Garut, Ne. Dua belas cabang.”
Nene tidak berkata apa-apa.
Aku membuka map dan menyerahkan halaman pertama, ringkasan satu halaman yang sudah kutulis ulang sembilan kali supaya kalimatnya selembut mungkin tanpa jadi tidak jujur.
Nene memasang kacamatanya lagi dan membaca.
Aku memperhatikan wajahnya selama ia membaca. Aku sudah menyiapkan diri untuk banyak kemungkinan: kaget, marah, menangis, tidak percaya, atau tongkat yang dihentakkan ke lantai dan suara yang meninggi sampai Mak Odah berlari dari dapur. Aku sudah menyiapkan segelas air putih di meja kecil, dan obat tekanan darah Nene sudah kuambil dari laci di dapur sebelum mengetuk pintu, tersimpan di saku kemejaku.
Nene membaca halaman itu satu kali, dari atas ke bawah.
Lalu ia meletakkannya di pangkuan dan memandangi jendela.
“Teruskeun,” katanya.
Aku meneruskan. Aku menjelaskan mutasi rekening, cicilan empat ratus tiga belas juta, PT Wardhana Graha Lestari, dan apartemen di Bekasi yang mangkrak. Aku menjelaskan tiga surat peringatan, dan tanggal satu Januari. Aku menyebut nama Om Rudi sekali, hanya sekali, dengan suara paling pelan yang kubisa, setelah semua fakta lain sudah ada di atas meja, supaya nama itu tidak harus memikul semuanya sendirian.
Lalu aku menyerahkan foto surat kuasa, dengan tanda tangan Nene di atas meterai.
“Saya yakin Nene nggak baca lima kata ini,” kataku, menunjuk termasuk namun tidak terbatas pada. “Surat kuasa umum. Om Rudi pasti bawa di antara dokumen lain. Ini bukan salah Nene.”
Nene memandangi foto surat kuasa itu.
Ia tidak bertanya berapa jumlah utangnya. Ia tidak bertanya kapan surat-surat itu datang, siapa yang tanda tangan di notaris, atau ke mana uang dua puluh empat setengah miliar itu pergi.
Ia hanya memandangi tanda tangannya sendiri lama sekali. Tangannya yang keriput diam di atas kertas, dan tidak gemetar.
Aku mencatatnya. Aku selalu mencatat. Tangan Nene tidak gemetar.
Aku menyimpulkan bahwa Nene terlalu kaget sampai tidak bisa bereaksi. Itu kesimpulan paling masuk akal, dan aku mempercayainya. Aku tidak memberi diriku kesempatan untuk mempercayai kesimpulan lain.
“Ne,” kataku, setelah keheningan yang terlalu panjang. “Saya udah nyiapin tiga pilihan. Halaman tiga.”
Nene tidak membalik halaman. Aku tetap menjelaskan, karena kalau aku berhenti bicara, keheningan di ruangan itu akan menelan kami berdua.
“Pilihan pertama, restrukturisasi. Saya datang ke Bank Prima, bawa data keuangan BND yang sehat. Sistem baru bikin laporan kita rapi, bank suka itu. Kita minta perpanjangan tenor dan keringanan denda. Supaya bank mau, kita bayar tunggakan tujuh bulan dulu, sekitar tiga miliar, dari kas operasional ditambah jual dua aset yang merugi: cabang Cibubur sama Depok. Dua cabang itu rugi dua tahun berturut-turut, Ne. Lokasinya salah. Karyawannya kita pindah ke cabang terdekat, nggak ada yang di-PHK.”
Nene diam.
“Pilihan kedua, sale and leaseback. Tiga bangunan cabang kita jual ke perusahaan properti, terus kita sewa balik jangka panjang. Kita tetap jualan di tempat yang sama, karyawan tetap kerja, tamu nggak tahu bedanya. Uangnya cukup buat lunasin sebagian besar utang. Kita kehilangan kepemilikan tiga gedung, tapi nggak kehilangan dua belas.”
Nene masih diam.
“Pilihan ketiga, jalur hukum. Surat kuasa itu terlalu luas, dan menjaminkan aset perusahaan buat utang perusahaan pribadi direksi bisa dianggap melampaui kewenangan. Kita bisa gugat pembatalan hak tanggungannya. Tapi itu lama, mahal, dan...” Aku berhenti. “Dan Om Rudi bakal jadi tergugat. Di pengadilan. Namanya di koran.”
Nene akhirnya bergerak.
Ia menutup map biru itu, pelan, dengan kedua tangan, seperti menutup Al-Qur’an selesai mengaji. Lalu ia meletakkannya di meja kecil di sampingnya, di sebelah cangkir teh tubruk yang sudah dingin.
“Nuhun, Jang,” katanya.
Suaranya tenang, terlalu tenang.
“Ieu mah biar Nene nu ngurus.”
“Ne, saya bisa bantu. Saya bisa ke bank hari Senin, saya bisa—”
“Arief.” Nene mengangkat satu tangan, dan aku berhenti. “Biar Nene nu ngurus. Ieu urusan kulawarga.”
Ini urusan keluarga.
Kalimat itu sampai ke dadaku sebelum sampai ke kepalaku. Aku tahu Nene tidak bermaksud apa-apa. Aku tahu itu hanya kalimat yang wajar diucapkan seorang ibu yang baru tahu anaknya bermasalah. Tapi tetap saja, kalimat itu menemukan tempat yang sudah lama ada di dalam diriku, tempat yang setiap Sabtu kedua di makan siang keluarga membuatku memilih berdiri dengan teko teh daripada duduk.
“Muhun, Ne,” kataku.
“Jeung hiji deui.” Nene memandangiku dari balik kacamata. “Ulah bebeja ka saha-saha. Ka Haris, ka Ratna, ka Lusi. Ka saha wae.”
Aku mengangguk.
“Ka Gita oge henteu.”
Aku berhenti mengangguk.
Nene memandangiku lebih lama. Matanya yang tua dan tajam itu bergerak sedikit, dari wajahku ke tanganku yang tanpa sadar sudah mengepal di atas lutut, lalu kembali ke wajahku.
Aku tidak tahu apa yang Nene lihat. Aku tidak tahu apakah Nene sudah tahu tentang kami. Bi Ratna sudah tahu, grup ArGi Garis Keras sudah tahu, dan Pak Darto sudah tahu. Nene, yang mengintip dari tirai lantai dua waktu Gita berlari dengan dua termos ke mobilku di pagi Garut, mungkin sudah tahu sejak pagi itu.
“Gita teh anakna Rudi,” kata Nene pelan. “Lamun manehna nyaho ti batur, manehna bakal leungiteun bapana dua kali. Sakali ku kalakuan bapana. Sakali deui ku cara manehna nyaho.”
Gita itu anaknya Rudi. Kalau dia tahu dari orang lain, dia akan kehilangan ayahnya dua kali. Sekali karena kelakuan ayahnya. Sekali lagi karena cara dia mengetahuinya.
Aku tidak bisa membantah itu. Itu benar, persis sama dengan yang kupikirkan sepanjang minggu.
“Muhun, Ne,” kataku lagi. Kali ini suaraku tidak senormal tadi.
Nene mengangguk sekali, mengambil cangkir teh tubruk yang sudah dingin, dan meminumnya pelan.
Aku berdiri. Tapi di ambang pintu aku berhenti dan berbalik, karena ada satu hal lagi. Hal yang sudah kujanjikan pada Gita sejak malam bulan penuh di saung, yang seharusnya kusampaikan seminggu lalu, sebelum angka-angka itu muncul.
“Ne. Aya hiji deui.”
Nene menurunkan cangkirnya.
“Saya... saya mau minta izin Nene. Soal...” Aku menarik napas. Aku sudah latihan kalimat ini juga, di buku catatan cokelat, dua minggu lalu, sebelum semuanya. “Soal Gita, Ne. Saya sama Gita—”
“Engke heula, Jang.”
Kalimatku berhenti di tengah, seperti mobil yang direm mendadak.
Nene tidak memandangku. Ia memandang jendela, ke arah kebun, ke saung paling ujung tempat aku pertama kali memeluk cucunya.
“Lain ayeuna,” katanya pelan. “Engke heula.”
Nanti dulu. Bukan sekarang.
Aku berdiri di ambang pintu ruang kerja Nene selama lima detik. Lalu aku mengangguk, meskipun Nene tidak melihatku, keluar, dan menutup pintu dengan sangat pelan.
Di lorong, aku melewati foto-foto keluarga itu lagi. Nene muda. Uwa Haris dan Om Rudi kecil. Gita dengan behel.
Kali ini aku berjalan cepat.
Siang itu, katering pernikahan dua ribu porsi Bi Ratna di Antapani hampir kacau.
Bi Ratna meneleponku jam sebelas, dengan suara yang sudah bergetar di ambang tangis. “Arief! Rief! Beas! Beas kurang! Tukang beasna salah ngirim, ngirim beas pulen padahal Bibi mesen beas pera buat nasi kuning! Beas pulen dijieun nasi kuning jadi bubur! Akad jam hiji! Dua rebu urang!”
Aku sedang duduk di Meja Tujuh, memandangi jendela, memikirkan kalimat ieu urusan kulawarga untuk ke dua ratus kalinya. Suara Bi Ratna seperti tali yang ditarik dari luar.
“Bi, berapa kilo beras pera yang kurang?”
“Tilu ratus kilo!”
Aku membuka dasbor stok di ponsel. Hari Sabtu, empat puluh tujuh cabang, beras pera. Bumi Ni Dewi memasak nasi liwet dengan beras pera, dan setiap cabang menyimpan stok cadangan minimal tiga hari, aturan yang kubuat dua tahun lalu setelah banjir di Dayeuhkolot memutus pengiriman.
“Bi, Antapani, Buahbatu, sama Ujungberung punya stok cadangan total empat ratus dua puluh kilo. Saya minta masing-masing kirim seratus kilo. Kurir motor tiga, berangkat sekarang, sampai jam dua belas. Beras pulen yang salah kirim jangan dibuang. Kasih ke dapur pusat, kita pakai buat bubur ayam sarapan karyawan minggu depan.”
“Rief...” Suara Bi Ratna pecah. “Rief, Bibi nyaah ka maneh.”
“Masak nasi kuningnya, Bi. Akad jam satu.”
Aku menutup telepon, mengirim tiga perintah lewat sistem, lalu memandangi jendela lagi.
Dua belas menit, kebiasaan lama. Tapi kali ini tidak ada Mang Ujang yang memanggilku dukun yang pakai Excel. Hanya ada aku di Meja Tujuh, dan perasaan aneh bahwa aku bisa menyelamatkan dua ribu porsi nasi kuning dalam dua belas menit tapi tidak bisa menyelamatkan satu kalimat sampai ke ujungnya.
Gita menemukanku di atap jam delapan malam.
Rumah lama Nene yang sekarang jadi kantor punya atap datar di bagian belakang, bekas tempat menjemur pakaian waktu rumah itu masih dihuni keluarga. Masih ada dua tiang jemuran besi berkarat dan satu kursi plastik yang entah siapa yang membawanya ke sana. Dari atap itu kau bisa melihat lampu-lampu Dago bertingkat-tingkat sampai ke lembah, dan di kejauhan ada garis cahaya jalan tol yang membelah malam.
Aku sering ke sini waktu tidak bisa berpikir di bawah.
Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang tempat ini, tapi aku tidak terkejut waktu mendengar langkah kaki di tangga besi. Langkah yang sedikit terlalu cepat, seperti takut ketinggalan sesuatu.
“Kamu tahu nggak,” kata Gita sambil naik ke atap, “Pak Darto nunjukin jalan ke sini. Dia bilang, ‘Teh Agnes, A Arief mah lamun keur galau sok naek ka hateup.’ Pak Darto tahu kamu galau.”
“Pak Darto tahu semuanya.”
“Pak Darto harusnya jadi intel.” Ia berdiri di sebelahku di pinggir atap, memandangi lampu kota. Ia memakai sweter rajut biru muda dengan lengan yang terlalu panjang, sampai menutupi setengah telapak tangannya. “Gimana tadi pagi sama Nene?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Arief?”
“Udah aku laporin.”
“Terus?”
“Nene bilang biar Nene yang urus.”
“Terus soal kita? Kamu udah ngomong?”
Aku memandangi lampu-lampu di lembah. Ada satu lampu yang berkedip-kedip di kejauhan, mungkin lampu jalan yang rusak, mungkin lampu rumah seseorang yang sedang mati-nyala.
“Belum,” kataku. “Nene bilang nanti dulu.”
Gita diam. Aku bisa merasakan ia menoleh dan memandangi sisi wajahku.
“Nene bilang nanti dulu,” ulangnya pelan. “Soal kita?”
“Aku belum selesai ngomong. Nene motong. Mungkin Nene capek, habis aku lapor yang soal kerjaan.” Aku menelan ludah. “Mungkin Nene cuma butuh waktu.”
“Terus soal kerjaannya? Kamu janji mau cerita ke aku setelah Nene tahu. Janji keempat.”
Aku menutup mata.
Aku sudah tahu pertanyaan ini akan datang. Aku sudah menyiapkan jawabannya sejak pagi, sejak Nene berkata ka Gita oge henteu. Tapi semua jawaban yang kusiapkan terasa seperti debu di mulutku sekarang.
“Gita,” kataku. “Aku nggak bisa cerita sekarang.”
Ia tidak berkata apa-apa.
“Bukan karena aku nggak mau. Aku mau. Aku mau banget. Tapi Nene minta aku jangan cerita ke siapa pun dulu. Ini urusan yang...” Aku mencari kata. “Urusan yang kalau kamu dengar dari aku, bukan dari orang yang seharusnya cerita, bakal nyakitin kamu dua kali.”
“Dua kali,” ulangnya.
“Aku minta kamu percaya sama aku. Sebentar lagi. Sampai orang yang seharusnya cerita, cerita ke kamu. Abis itu, apa pun yang kamu mau tahu, aku jawab. Semuanya.”
Gita diam lama sekali.
Angin malam Dago bertiup, dingin, dan membawa bau tanah basah dari kebun. Lampu yang berkedip di lembah itu akhirnya padam.
Lalu Gita bicara, pelan, dengan suara yang sedikit retak di tengah.
“Kamu tahu nggak, Rief, apa yang paling aku takutin dari kamu?”
Aku menoleh.
“Bukan kamu bohong. Kamu nggak pernah bohong soal yang penting. Aku tahu itu.” Ia memandangi lampu-lampu kota, tidak memandangku. “Yang aku takutin, kamu terlalu baik. Kamu terlalu sering mikirin semua orang, Nene, Pak Encep, Bi Enok, Teh Yuyun, Iwan, sampai kamu lupa ada satu orang yang juga butuh kamu pikirin.”
“Siapa?”
“Kamu.” Ia akhirnya menoleh, dan matanya basah di bawah cahaya lampu kota. “Kamu sendiri, Arief. Kamu nggak pernah mikirin kamu sendiri.”
Aku tidak bisa menjawab.
Gita memandangiku lama. Lalu ia menarik napas panjang, menghembuskannya, dan senyumnya muncul. Senyum yang kecil, sedikit sedih, tapi tetap senyum.
“Oke,” katanya. “Aku percaya.”
“Gita—”
“Aku percaya sama kamu. Bukan karena kamu ngasih aku alasan. Karena aku udah lihat kamu sebulan. Aku udah lihat kamu sama Pak Encep. Aku udah lihat kamu di warung Ceu Imas. Aku udah lihat kamu nangis karena roti tawar.” Ia mengusap matanya dengan ujung lengan sweter yang kepanjangan. “Kalau kamu bilang ada alasan, berarti ada alasan.”
Aku tidak tahu bahwa kata-kata bisa terasa seperti seseorang memegang tanganmu di tepi jurang.
“Oh iya.” Gita tertawa kecil, basah, dan mengubah suaranya jadi lebih ringan, seolah sengaja membalik halaman. “Besok siang Papa ngumpulin keluarga besar. Makan siang. Bi Ratna, Uwa Haris, sepupu-sepupu dari Cimahi, semuanya. Katanya Papa mau ngumumin sesuatu yang penting soal ekspansi Jakarta.” Ia tertawa kecil. “Kemarin malem aku denger Papa telepon di kebun sama Bu Liliana siapa gitu. Papa bilang aku anak baik, nurut sama Papanya. Papa tuh ya, ke rekan bisnis aja masih pamerin aku kayak anak TK.” Ia menyenggol lenganku. “Kamu harus dateng. Duduk sebelah aku lagi. Abis Papa selesai ngumumin, mungkin, kalau suasananya bagus, kita ngomong ke semua orang sekalian. Gimana?”
Papa mau ngumumin sesuatu yang penting soal ekspansi Jakarta.
Untuk pertama kalinya sejak Jumat malam, sesuatu di dadaku yang dingin dan berat bergerak sedikit, dan rasanya seperti harapan.
Mungkin Om Rudi akan mengaku. Mungkin Nene sudah bicara dengannya tadi siang, setelah aku keluar dari ruang kerja. Mungkin Nene, yang berkata ieu urusan kulawarga, memutuskan bahwa urusan keluarga harus diselesaikan dengan cara keluarga: di meja makan, di depan semua orang, dengan jujur. Mungkin besok Om Rudi akan berdiri dan berkata Rudi salah, Bu, lalu Uwa Haris akan membetulkan kacamatanya, Bi Ratna akan menangis, Tante Lusi akan menggenggam tangan suaminya, dan semua orang di meja itu akan memikirkan jalan keluarnya bersama-sama. Bukan aku sendirian di lantai kos.
Mungkin besok aku tidak perlu memikul ini sendirian lagi.
“Aku dateng,” kataku.
“Duduk sebelah aku?”
“Duduk sebelah kamu.”
Gita tersenyum. Kali ini senyumnya penuh, naik sampai ke mata.
Kami duduk di kursi plastik itu bergantian. Mula-mula ia yang duduk dan aku berdiri, lalu ia memaksaku duduk dan ia berdiri, lalu akhirnya kami berdua duduk di lantai atap yang masih hangat oleh sisa matahari siang, bersandar ke tiang jemuran berkarat, memandangi lampu kota.
Gita menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku melingkarkan lenganku di bahunya. Kami tidak bicara lama sekali, dan itu tidak apa-apa. Dengan Gita, diam tidak pernah terasa kosong.
“Rief.”
“Hm?”
“Kamu udah tahu mau bilang apa? Kalau aku pesan kamu di Meja Tujuh? Kamu kan nggak boleh bilang ‘belum tersedia’ lagi.”
“Belum.”
“Kamu udah dua minggu mikirin.”
“Kalimatnya harus bener.”
“Kamu dan kalimat yang harus bener.” Ia tertawa kecil di bahuku. “Kamu tahu nggak, aku nggak butuh kalimat yang bener. Aku butuh kamu.”
Aku menoleh.
Wajahnya sudah menghadapku. Sangat dekat. Lampu kota di belakangnya membuat garis wajahnya keemasan, dan matanya, yang besar dan gelap dan selalu terlalu jujur untuk kebaikannya sendiri, memandangku tanpa ragu sedikit pun.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.
Mungkin aku. Mungkin ia. Mungkin kami berdua bergerak di detik yang sama, seperti dua orang yang sudah terlalu lama berdiri di dua sisi pagar besi dan akhirnya memutuskan bahwa pagar itu tidak ada.
Bibirnya lembut, dan sedikit dingin oleh angin malam. Rasanya sedikit manis, dan sedikit asin, mungkin dari air mata yang tadi ia usap dengan lengan sweter.
Itu ciuman pertamaku.
Umurku dua puluh delapan. Selama dua puluh delapan tahun aku tidak pernah mencium siapa pun. Aku selalu berpikir tidak punya waktu, padahal sebenarnya aku tidak pernah merasa punya hak. Aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu harus meletakkan tanganku di mana, harus memiringkan kepala ke kiri atau ke kanan, harus bernapas atau tidak.
Gita tahu. Ia menuntunku dengan sabar, dengan tangannya di pipiku dan ibu jarinya di bekas luka di ujung alis kiriku. Ia tidak terburu-buru. Ia menciumku seperti orang membaca surat yang sudah lama ditunggu, pelan, kalimat demi kalimat, supaya tidak ada yang terlewat.
Waktu kami akhirnya terpisah, hanya beberapa senti, dahinya bersandar di dahiku dan napas kami bercampur di udara dingin.
“Itu,” bisiknya, “pertama kali kamu, ya?”
Aku tidak bisa berbohong padanya, setidaknya soal ini.
“Iya.”
Ia tertawa, tawa yang pelan, basah, dan bahagia. “Aku tahu. Kamu kaku banget di tiga detik pertama. Kayak lagi presentasi di depan direksi.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.” Ia mengecup ujung hidungku. “Detik keempat sampai terakhir, kamu belajar cepet banget. Sangat cepat. Kayak go-live.”
Aku tertawa. Gita tertawa. Kami tertawa di atap rumah lama Nene, di antara tiang jemuran berkarat, dengan lampu kota Dago di bawah kami seperti seseorang menumpahkan permata ke lembah.
Lalu ia menciumku lagi. Kali ini aku tidak kaku sama sekali.
Malam itu aku mengantarnya sampai ke pintu tangga atap. Bukan ke pagar samping, karena malam ini tidak ada yang perlu disembunyikan dari Pak Darto. Pak Darto sedang duduk di pos dengan radio menyala keras, dan ia sengaja memutar lagu dangdut paling keras yang bisa ia temukan, supaya tidak ada yang bisa mendengar apa pun dari atap.
“Besok,” kata Gita di ambang pintu tangga.
“Besok.”
“Duduk sebelah aku.”
“Duduk sebelah kamu.”
“Abis Papa ngumumin, kita ngomong.”
“Kita ngomong.”
Ia tersenyum, lalu berbalik dan menuruni tangga besi dengan langkah yang sedikit terlalu cepat, seperti biasa. Di tengah tangga ia berhenti, mendongak, dan melambai.
Aku melambai balik.
Lalu aku berdiri sendirian di atap, memandangi lampu kota, menyentuh bibirku dengan ujung jari seperti orang bodoh, dan, untuk pertama kalinya dalam seminggu, membiarkan diriku berharap.
Besok, Om Rudi akan mengaku. Besok, keluarga ini akan memikul semuanya bersama-sama. Besok, setelah semua selesai, aku akan berdiri di depan Nene dan meminta izin, dan kali ini Nene tidak akan berkata engke heula.
Besok, semuanya akan baik-baik saja.
Aku pulang ke kos di Sekeloa dan tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam delapan malam.
Aku tidak tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir aku tidur nyenyak untuk waktu yang sangat lama.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya reading
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu