Chapter Twenty Six
Satu Telur, Dua Bagian
POV: Arief
Rapat itu tidak pernah benar-benar dilanjutkan.
Kak Kanaya kembali ke ruang rapat lantai 27 jam sepuluh lewat empat puluh, dua puluh delapan menit setelah ia berkata sepuluh menit. Ia sudah mencuci muka di toilet eksekutif. Maskaranya sudah dihapus seluruhnya, dan matanya merah dan bengkak dengan cara yang tidak bisa disembunyikan oleh air dingin mana pun. Tapi punggungnya tegak, langkahnya biasa, dan ia duduk di kursi kepala meja dengan empat gerakan yang tidak membuang satu gerakan pun.
Aku masuk tiga puluh detik setelahnya. Kemejaku kusut di bahu, mataku juga merah. Aku kembali ke kursiku di depan papan nama akrilik.
Dua belas orang memandangi kami bergantian, seperti menonton pertandingan tenis dengan bola yang tidak kelihatan.
Bryan berdiri di depan layar dengan clicker presentasiku di tangan. Ia jelas sudah mencoba melanjutkan slide nomor lima belas, karena layar besar menampilkan diagram arus kas cabang Subang, dan wajahnya basah keringat seperti orang yang baru dikejar anjing.
“Terima kasih, Bryan,” kata Kak Kanaya.
Bryan menyerahkan clicker itu kembali padaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan granat yang pinnya sudah dicabut, lalu duduk di kursinya dan menunduk.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu.” Suara Kak Kanaya rendah dan sedikit serak, tapi tidak bergetar. “Saya mohon maaf atas gangguan tadi. Ada urusan pribadi yang mendesak.” Ia diam sebentar. “Presentasi Pak Arief sudah menjawab sebagian besar pertanyaan uji tuntas kami, dengan sangat baik. Sisanya akan kami lanjutkan secara tertulis. Rapat final kita tunda ke minggu depan. Pak Hendrawan, tolong atur jadwal ulangnya.”
“Baik, Bu.”
“Terima kasih atas kehadirannya.”
Orang-orang mulai berdiri, membereskan map, dan berbisik. Dua konsultan Singapura saling pandang dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. Pak Wibowo, direktur keuangan yang tidak pernah tersenyum, berhenti sebentar di dekat kursiku, memandangi bekas luka di ujung alis kiriku, lalu memandangi CEO-nya, lalu mengangguk padaku dengan cara yang tidak bisa kumengerti, dan keluar.
Om Rudi menghampiriku. Wajahnya pucat.
“Rief,” bisiknya. “Ada apa? Kenapa ditunda? Kamu ngomong apa ke Bu Kanaya? Tadi kamu nggak bahas yang... yang lain, kan?”
“Nggak, Om. Saya cuma presentasi yang diminta.”
“Terus kenapa—”
“Nanti saya jelasin, Om.” Aku memandang Uwa Haris yang berdiri di belakang Om Rudi dengan kacamata di tangan dan wajah kalem yang tidak bisa menyembunyikan kebingungan. “Wa, saya nginep di Jakarta malam ini. Besok saya pulang. Tolong bilang ke Nene, saya baik-baik aja.”
Uwa Haris memandangiku lama. Lalu memandangi kursi kepala meja, tempat Kak Kanaya sedang memberikan instruksi pelan pada Bryan. Lalu memandangiku lagi.
“Nya,” katanya. Hanya itu. Uwa Haris tidak pernah bertanya kalau ia tahu jawabannya belum siap.
Ibu Liliana adalah orang terakhir yang berdiri.
Ia berjalan pelan ke kursi kepala meja, menyentuh bahu Kak Kanaya dengan lembut, dan bertanya sesuatu yang tidak bisa kudengar. Kak Kanaya menggeleng. Ibu Liliana bertanya lagi. Kak Kanaya menggeleng lagi, lalu berkata sesuatu dengan suara rendah, dan Ibu Liliana menarik tangannya dari bahu anaknya.
Lalu Ibu Liliana menoleh dan memandangiku.
Ia tidak tersenyum sopan seperti tadi pagi. Ia memandangi wajahku, lalu mataku, lalu alis kiriku. Matanya berhenti di sana, di garis tipis itu, sama seperti mata Kak Kanaya tadi.
Aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya. Sesuatu yang sangat pelan, seperti air yang mulai membeku dari pinggir kolam. Bibirnya terbuka sedikit. Tangannya, yang memegang tas kecil, mengencang.
Lalu ia memalingkan wajah, berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah yang sedikit terlalu cepat, dan tidak menoleh lagi.
Ervan, di dekat jendela kaca, memandangi pintu yang tertutup di belakang ibunya, dan wajahnya sedih sekali.
Penthouse Kak Kanaya di lantai teratas Annex Tower, dua blok dari Exo Tower.
Aku tidak tahu harus membayangkan apa. Waktu ia berkata Kakak masakin kamu telur, malam ini, di tempat Kakak, aku membayangkan apartemen, mungkin besar, mungkin mewah. Aku sudah pernah masuk apartemen orang kaya di Bandung, waktu mengantar katering untuk acara keluarga pejabat.
Aku tidak siap untuk ini.
Dua ratus meter persegi. Jendela dari lantai sampai langit-langit di tiga sisi, menghadap ke Jakarta yang sedang berganti dari sore ke malam: lampu-lampu gedung menyala satu per satu, jalan tol berubah jadi sungai merah dan putih. Lantai kayu yang mengilap. Sofa abu-abu panjang yang terlihat terlalu mahal untuk diduduki. Tidak ada foto di dinding, tidak ada lukisan. Rak buku di satu sisi berisi buku-buku bisnis berbahasa Inggris yang disusun menurut warna sampul.
Ruangan itu indah, dan ruangan itu kosong. Kosong dengan cara yang hanya dimiliki ruangan yang ditinggali orang yang tidak pernah benar-benar pulang.
Dan dapurnya.
Dapurnya adalah dapur terindah yang pernah kulihat. Marmer putih bergurat abu-abu, meja pulau di tengah yang lebih panjang dari meja potong di dapur pusat Dago, kulkas dua pintu dari baja, dan kompor induksi enam tungku yang permukaannya hitam mengilap seperti cermin.
Kompor induksi itu tidak punya satu goresan pun.
Aku menyentuh permukaannya dengan ujung jari. Licin dan dingin. Masih ada stiker pelindung plastik transparan di pojok kanan bawah, dengan tulisan kecil remove before use.
Aku menoleh ke Kak Kanaya, yang berdiri di ambang dapur dengan setelan hitam yang sudah kusut dan sepatu yang sudah dilepas.
“Kak.”
“Hm?”
“Kompor ini belum pernah dipakai.”
Ia diam. Lalu ia mengangkat dagu, persis seperti waktu ia berumur sembilan dan mengklaim bahwa ia tidak suka bagian tengah telur yang lembek.
“Kakak masak di pantry kantor.”
“Kenapa?”
“Biar kalau gagal, Bryan yang bersihin.”
Di belakangnya, di ruang tengah, Bryan, yang ikut ke penthouse karena katanya harus jaga-jaga, Bu, ini protokol, mengangkat tabung pemadam api kecil berwarna merah yang ia bawa dari mobil, seperti mengangkat bukti di pengadilan.
“Bu Kanaya udah tiga kali bikin alarm asap bunyi bulan ini, Mas,” kata Bryan padaku dengan suara orang yang sudah terlalu lama menyimpan rahasia. “Tiga kali. Satu telur. Tiga kali.”
Kak Kanaya menoleh dan memelototi Bryan.
Bryan menurunkan tabung pemadam itu dengan sangat pelan.
Di sofa abu-abu, Ervan berbaring telentang dengan kemeja batik yang sudah kusut dan mata bengkak, memandangi langit-langit, dan tertawa pelan tanpa suara. Bahunya bergetar.
Kulkas dua pintu itu berisi air mineral, yogurt, dan satu botol saus sambal yang segelnya belum dibuka.
Tidak ada telur.
“Bryan,” kata Kak Kanaya.
“Saya beli, Bu. Saya beli. Minimarket di lobi.” Bryan sudah setengah jalan ke pintu.
“Saya ikut,” kataku.
“Nggak usah, Mas—”
“Saya mau lihat telurnya.”
Bryan memandangiku seperti memandangi orang gila. Lalu ia memandangi Kak Kanaya. Kak Kanaya memandangiku, dan aku melihat sudut bibirnya bergerak sedikit, sangat sedikit.
“Dia selalu milih telur sendiri,” katanya pada Bryan. “Dari kecil. Waktu donatur kirim telur ke panti, dia yang ngecek satu-satu, mana yang retak.”
Di minimarket di lobi Annex Tower, aku memilih sepuluh butir telur ayam kampung, satu ikat daun bawang, satu bungkus garam, satu botol minyak goreng kecil, dan satu teflon. Teflon murah, empat puluh lima ribu rupiah, dengan gagang plastik hitam.
“Mas, di atas udah ada panci,” kata Bryan. “Panci mahal. Bu Kanaya beli satu set waktu pindah, dari Jerman. Tiga puluh juta.”
“Dari bahan apa?”
“Hah?”
“Pancinya. Bahannya apa?”
Bryan memandangiku kosong. “Ehm. Mengilap? Perak-perak gitu?”
“Aluminium atau stainless?”
“Saya nggak tahu, Mas. Saya asisten, bukan tukang panci.”
Aku membayar teflon itu, lalu, waktu kembali ke penthouse, berjalan langsung ke lemari dapur, mengambil panci Jerman seharga tiga puluh juta itu, dan menempelkan magnet kulkas, magnet berbentuk Patung Liberty, satu-satunya benda pribadi di dapur itu, ke dasar panci.
Magnetnya jatuh.
Aku mencobanya di panci kedua, wajan ketiga, dan panci susu keempat. Semuanya jatuh.
“Aluminium,” kataku. “Semua.”
Kak Kanaya, yang berdiri di ambang dapur dengan tangan terlipat, mengerutkan dahi. “Terus?”
“Kompor induksi cuma bisa manasin panci yang bisa ditempel magnet, Kak. Besi atau baja tertentu. Aluminium nggak bisa.” Aku menempelkan magnet Patung Liberty ke dasar teflon empat puluh lima ribu yang baru kubeli. Magnetnya menempel. “Panci tiga puluh juta Kakak nggak akan pernah bisa masak di kompor ini. Nggak akan pernah panas.”
Hening.
Dari sofa abu-abu, Ervan berhenti tertawa tanpa suara dan mulai tertawa dengan suara.
Bryan memandangi panci-panci Jerman di meja marmer dengan wajah orang yang baru sadar bahwa hidupnya selama dua tahun berdasarkan kebohongan.
“Jadi...” kata Bryan pelan. “Jadi tiga kali alarm asap itu... di pantry kantor... bukan karena Bu Kanaya nggak bisa masak?”
“Bukan,” kataku. “Di pantry kantor kompornya gas. Kalau di sana gosong, itu memang karena Kak Kanaya nggak bisa masak.”
Ervan tertawa sampai jatuh dari sofa.
Kak Kanaya memandangiku dengan mata menyipit, persis seperti dulu di gudang belakang waktu aku mengatakan sesuatu yang benar tapi tidak sopan. Lalu, pelan-pelan, dan aku melihatnya dengan sangat jelas, sudut bibirnya naik, naik, dan naik, sampai ia menutup mulut dengan tangan dan memalingkan wajah ke jendela. Bahunya bergetar.
Kakakku tertawa.
Aku belum pernah melihatnya tertawa sejak umur empat belas.
Aku mengupas stiker pelindung plastik dari pojok kompor induksi. Remove before use.
Aku menyalakan tungku pertama. Layar digitalnya berkedip, bunyi bip kecil, dan angka 1 muncul.
Bryan memegangi tabung pemadam api dengan dua tangan, berdiri satu meter dari kompor dalam posisi siaga.
“Mas, saya di sini. Kalau ada apa-apa—”
“Nggak akan ada apa-apa, Mas Bryan.”
“Saya cuma jaga-jaga. Ini protokol.”
Aku memecahkan dua butir telur ke mangkuk kaca, mangkuk salad mahal tanpa goresan yang juga belum pernah dipakai. Sedikit garam dan daun bawang yang diiris tipis dengan pisau dapur Jepang yang masih bersegel di kotaknya. Kak Kanaya mengeluarkannya dari laci dengan wajah sedikit malu. Aku mengocoknya dengan garpu.
Kak Kanaya berdiri di sebelahku di depan kompor, sangat dekat, memperhatikan tanganku seperti dulu memperhatikan Bu Nining di dapur panti setiap hari Kamis.
“Kamu bisa masak,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Tiga belas tahun di dapur restoran, Kak.”
“Kamu dulu nggak bisa.”
“Dulu aku umur empat belas.”
“Kamu dulu ngegosongin nasi di dandang panti waktu Bu Rahmah nyuruh kamu jaga api. Satu dandang. Empat puluh satu anak makan nasi gosong.”
“Itu umur sebelas.”
“Kakak yang disalahin.”
“Kakak yang ngaku.”
Kak Kanaya diam. Lalu ia menyenggol bahuku dengan bahunya, pelan, seperti senggolan kaki di bawah meja.
“Kakak selalu ngaku buat kamu,” katanya.
Aku menuang telur ke teflon. Minyaknya sudah cukup panas, terdengar desisan yang tepat, dan pinggiran telur mulai mengering dan menggelembung. Aku memiringkan teflon supaya telur yang masih cair mengalir ke pinggir. Lalu aku menunggu.
Di belakang kami, Bryan menurunkan tabung pemadam api lima senti.
Aku melipat telur itu jadi dua, membaliknya, menunggu tiga puluh detik, lalu memindahkannya ke piring putih yang mungkin juga dari Jerman dan juga belum pernah dipakai.
Telur dadar, dengan pinggir yang sedikit gosong. Aku sengaja.
Aku membawa piring itu ke meja pulau marmer, dan Kak Kanaya duduk di kursi tinggi di seberangku. Ervan bangkit dari lantai dan berdiri di belakang kakaknya. Bryan berdiri di belakang Ervan, masih memegangi tabung pemadam api.
Aku mengambil sendok.
Aku membelah telur itu, tidak di tengah, dengan ujung sendok, miring sedikit ke kiri, dan memutar sendoknya di akhir, seperti orang menutup kunci.
Dua bagian. Satu besar, dengan bagian tengah yang lembut dan kuning. Satu kecil, dengan pinggir yang gosong.
Aku mendorong bagian yang besar ke arah Kak Kanaya.
Ia memandangi bagian telur itu. Lalu memandangiku.
“Rief,” katanya. Suaranya kecil. “Yang lebih tua makan yang gosong.”
“Itu aturan Kakak.”
“Iya.”
“Sekarang aturannya diganti.”
“Siapa yang ganti?”
“Aku.” Aku menyendok bagian kecil yang gosong ke piringku sendiri. “Dua puluh empat tahun Kakak makan yang gosong. Kakak bilang nggak suka bagian tengah. Itu bohong. Aku tahu dari umur sebelas, waktu Kakak sakit tifus dan Bu Nining bikinin bubur telur, dan Kakak cuma makan bagian tengahnya yang lembek, dan Kakak bilang ‘enak banget’ sambil merem.”
Kak Kanaya tidak bergerak.
“Sekarang yang lebih tua makan yang gede,” kataku. “Aturan adik Kakak.”
Ia memakan telur itu pelan-pelan, sesuap demi sesuap, dengan mata yang tidak lepas dari piring. Setiap suap, ia mengunyah lama sekali, seperti orang yang takut rasa itu akan hilang kalau ditelan terlalu cepat.
Di suap ketiga, ia mulai menangis lagi. Tanpa suara, hanya air mata yang jatuh ke piring putih dan ke telur dadar yang lembut di tengah.
Ia tidak berhenti makan. Ia makan sambil menangis, sampai bagian yang besar itu habis.
Di belakangnya, Ervan menunduk dan mengusap matanya dengan lengan kemeja batik. Di belakang Ervan, Bryan, yang selama dua tahun memegang protokol keamanan dapur untuk CEO-nya, meletakkan tabung pemadam api di lantai dengan sangat pelan, lalu berbalik menghadap jendela, dan bahunya bergetar.
Malam itu empat belas tahun tumpah.
Kami duduk di lantai ruang tengah penthouse. Bukan di sofa abu-abu yang terlalu mahal, tapi di lantai kayu, bersandar ke kaki sofa, seperti duduk di lantai gudang belakang panti. Ervan tertidur di sofa jam sebelas, dengan kepala di bantal dan kaki menjuntai, dan mendengkur pelan dengan suara seperti anak kucing. Ironis, dan aku tidak akan pernah memberitahunya. Bryan pamit jam sebelas lewat seperempat, setelah memastikan kompor induksi sudah mati tiga kali dan meletakkan tabung pemadam api di samping kompor, buat jaga-jaga, Bu, ini protokol.
Tinggal kami berdua, dan Jakarta di balik jendela yang tidak pernah tidur.
Aku menceritakan semuanya. Cimahi, umur lima belas, baju kebesaran, surat keterangan panti. Nene di meja pojok, maneh tos dahar?, dan tali rafia. Cuci piring, pelayan, lalu UI. S1, S2. Tiga tahun membangun sistem untuk empat puluh tujuh cabang. Mang Ujang dan nasihat-nasihatnya yang tidak masuk akal. Teh Euis dan gorengannya. Asep dan stiker menu ini belum tersedia, yang kukeluarkan dari dompet dan kutunjukkan padanya, dan yang membuatnya tertawa sampai menangis lagi.
Ia menceritakan semuanya. Boston, salju pertama, malam-malam tanpa tidur. Mama Liliana, yang baik dan sopan dan tidak pernah meninggikan suara, dan syarat yang ia bacakan di mobil hitam. New York. Sebelas detektif. Sukabumi. Nisan di Cimahi di bawah hujan. Ranjang rumah sakit dan infus.
Ia tidak menceritakan satu hal. Aku tahu, karena ada satu bagian di ceritanya, antara umur tujuh belas dan dua puluh, yang ia lewati terlalu cepat. Seperti lagu yang dipercepat di bagian yang tidak ingin didengar. Setiap kali ceritanya mendekati tahun-tahun itu, ia berkata Kakak nyoba... Kakak nyoba nyari jalan, Rief, tapi Kakak gagal, lalu matanya berpaling ke jendela, dan ia melompat ke tahun berikutnya.
Aku tidak mendesak. Aku juga tidak menceritakan satu hal: seorang donatur yang tidak pernah kutemui, yang membiayai SMA-ku lewat Bu Rahmah, dan yang kirimannya berhenti persis di bulan aku meninggalkan panti. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menceritakannya. Mungkin karena malam ini terasa terlalu penuh untuk satu misteri lagi. Mungkin karena bagian itu terasa seperti milik orang lain, orang asing yang baik hati, dan malam ini aku hanya ingin bicara tentang kami.
Jam satu pagi, Kak Kanaya bangkit dan berjalan ke kamarnya. Ia kembali dengan dompet kulit hitam yang sudah usang di sudut-sudutnya, lalu duduk lagi di sebelahku dan membukanya.
Di balik kartu identitas, ada sesuatu yang dilipat dalam plastik bening.
Ia mengeluarkannya, membuka plastiknya, dan meletakkannya di telapak tanganku.
Foto polaroid. Lusuh sekali. Ujungnya melengkung, warnanya pudar ke kuning, dan ada lipatan halus di tengah.
Dua anak di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Anak perempuan berumur enam belas, rambut dikepang satu, tersenyum dengan cara yang tidak sampai ke mata. Anak laki-laki berumur empat belas, kurus, kulit sawo matang terbakar matahari, dengan plester cokelat di alis kiri, memandangi kakaknya, bukan kamera.
Aku tidak bisa bicara.
Aku punya foto ini dulu. Salinan yang sama, dari donatur yang sama, yang dicetak dua lembar. Satu untuknya, satu untukku. Aku menyimpannya di bawah kasur di asrama panti, lalu di dalam buku tulis di kos pertamaku di Cimahi, lalu di dalam map ijazah di kos kedua di Depok.
Waktu aku pindah dari kos ketiga ke kos keempat di Sekeloa enam tahun lalu, map ijazah itu ketinggalan di truk pengangkut barang yang kusewa. Sopirnya tidak bisa dihubungi lagi. Aku mengurus ulang ijazah S1 di kampus selama tiga bulan. Foto itu tidak bisa diurus ulang di mana pun.
Aku menangis lagi. Aku tidak tahu air mata manusia bisa sebanyak ini dalam satu hari.
“Ambil,” kata Kak Kanaya.
“Ini punya Kakak.”
“Kakak punya yang lain sekarang.” Ia mengangkat ponselnya, menunjukkan layarnya. Foto yang diambil Ervan diam-diam di tangga darurat tadi siang: dua orang dewasa berlutut di anak tangga beton, dahi bersentuhan, menangis. Fotonya sedikit buram karena tangan Ervan gemetar. “Kakak udah print tadi di kantor. Kakak simpen di dompet. Di tempat yang sama.”
Aku memandangi foto buram itu. Lalu memandangi polaroid lusuh di tanganku.
Aku menyimpan polaroid itu di dompetku, di balik KTP, di sebelah dua foto photo booth dari Braga, surat dari Gita, dan stiker laminasi dari Asep.
Dompetku sudah penuh sekarang. Penuh oleh hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan data.
Jam empat pagi, langit di atas Jakarta mulai berubah dari hitam ke biru tua.
Aku tidak tidur. Kak Kanaya juga tidak. Kami masih duduk di lantai, bersandar ke sofa tempat Ervan mendengkur, dengan dua cangkir teh tawar yang sudah dingin dari teko yang juga baru pertama kali dipakai.
Kami sudah berhenti bicara satu jam yang lalu. Kami tidak perlu bicara. Kami hanya duduk, bahu bersentuhan, memandangi lampu kota yang mulai padam satu per satu menjelang subuh.
Lalu Kak Kanaya bertanya sesuatu, pelan, setengah mengantuk.
“Rief.”
“Hm?”
“Telur dadar di kereta tadi pagi. Kamu bilang ada yang bikinin.” Ia menyandarkan kepala di bahuku. “Siapa?”
Aku tidak langsung menjawab.
Kak Kanaya mengangkat kepala dari bahuku dan memandangiku. Matanya yang bengkak menyipit sedikit, dengan cara yang sama seperti waktu aku berumur sepuluh dan pulang dengan celana robek dan bilang jatuh dari pohon jambu, padahal aku berkelahi.
“Rief.”
“Ada seseorang, Kak.”
Ia menunggu.
Aku memandangi lampu kota. Aku tidak tahu cara menceritakan Gita. Aku sudah menceritakan tiga belas tahun dalam lima jam, tapi aku tidak tahu cara menceritakan satu bulan terakhir.
“Namanya Gita,” kataku akhirnya. “Cucu Nene. Dia pindah ke Bandung awal Oktober, habis S2 di Melbourne. Aku yang jemput di stasiun. Dia pura-pura jadi turis Korea.” Aku tersenyum tanpa sadar. “Dia duduk di Meja Nomor Tujuh tiap pagi. Dia bilang ‘aku pesan kamu’ di depan pelayan. Dia bikinin aku kue dari roti tawar waktu ulang tahun, padahal dia nggak tahu soal Kakak. Dia nyanyi fals.”
Aku merasakan Kak Kanaya membeku di sebelahku.
“Roti tawar,” bisiknya.
“Tiga lembar. Mentega, gula. Satu lilin mati lampu.” Aku menelan. “Aku nangis, Kak. Pertama kali dalam empat belas tahun.”
Kak Kanaya tidak bicara. Aku melihat ia memalingkan wajah ke jendela, dan matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini dengan cara yang lain. Bukan sedih. Seperti lega, atau seperti rasa terima kasih pada seseorang yang belum pernah ia temui.
“Dia sayang kamu,” katanya.
“Dulu.”
“Dulu?”
Aku tidak menjawab.
Kak Kanaya diam lama. Aku tahu ia sedang menghitung. Aku tahu, karena aku juga selalu menghitung, dan kami belajar menghitung dari orang yang sama: Bu Rahmah, dengan kapur dan papan tulis kecil di ruang belajar panti.
“Cucu Nene,” kata Kak Kanaya pelan. “Cucu Bu Dewi.”
“Iya.”
“Lulusan Melbourne.”
“Iya.”
“Nama lengkapnya.”
Aku menarik napas.
“Anggita Sekar Wardhani.”
Kak Kanaya tidak bergerak.
Tidak cuma diam. Ia berhenti bergerak sepenuhnya, seperti orang yang mendengar ledakan di kejauhan dan menunggu gelombangnya sampai.
Aku melihat gelombang itu sampai.
Aku melihatnya di wajahnya, pelan-pelan, seperti tadi siang di ruang rapat waktu ia melihat bekas luka di alisku. Warna hilang dari pipinya. Bibirnya terbuka. Tangannya yang memegang cangkir teh dingin mengencang sampai buku-buku jarinya memutih.
Lampiran E, halaman delapan. Aku tidak tahu kalimat itu ada di kepalanya. Aku baru tahu besok paginya, waktu Ervan menceritakan semuanya. Tapi aku melihat sesuatu runtuh di matanya, dan aku tahu apa itu.
Ia menoleh. Bukan ke arahku. Ke sofa di belakang kami, tempat Ervan tidur telentang dengan kaki menjuntai dan mulut sedikit terbuka, mendengkur seperti anak kucing.
Ia memandangi Ervan lama sekali.
Lalu ia memandangiku.
“Rief,” katanya, dan suaranya sangat pelan, sangat hati-hati, seperti orang menginjak papan yang mungkin patah. “Anggita Sekar Wardhani itu calon istri Ervan.”
“Iya, Kak.”
“Perjodohan itu, yang Mama atur, yang Kakak tanda tangan memonya...” Ia menelan. “Itu cewek kamu.”
“Iya, Kak.”
“Dan kamu tahu.”
“Aku tahu dari hari pertama diumumin. Di meja makan keluarga Nene. Om Rudi yang ngumumin.” Aku memandangi cangkir teh di tanganku. “Aku duduk di sebelah Gita waktu itu.”
Kak Kanaya menutup mata.
“Terus kamu ngapain?”
Aku tidak menjawab.
“Rief.” Ia membuka mata. “Kamu ngapain, waktu itu? Di meja makan itu?”
Aku memandangi kakakku. Kakak yang dulu berjalan melewati tiga barisan meja dan menampar Dodi di depan satu kelas karena Dodi menirukan aku jatuh. Kakak yang selalu di depan, yang selalu mengaku, yang selalu makan bagian yang gosong.
“Aku diem, Kak,” kataku.
Langit di balik jendela sudah biru muda sekarang. Lampu-lampu Jakarta padam satu per satu. Di sofa di belakang kami, Ervan bergerak dalam tidurnya, menggumamkan sesuatu tentang kucing, dan kembali mendengkur.
Kak Kanaya memandangiku dengan wajah yang belum pernah kulihat sejak gudang belakang panti. Wajah orang yang baru sadar adiknya bisa terluka karena dirinya.
Dan membenci kenyataan itu.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian reading
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu