Chapter Two
Yang Dijemput Salah Orang
POV: Arief
Jam enam pagi, grup WhatsApp “BND Pusat Sadayana” sudah ramai, padahal tidak ada satu pun pesan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Teh Euis: A Arief, nanti pake kemeja nu biru dongker nya. Nu kamari dipake pas rapat bank. Nu matak kasep.
Asep: Setuju Teh. Jangan yang abu. Yang abu mah kayak mau ngelamar kerja di bank.
Dede: Rambutnya jangan disisir terlalu rapi A, nanti kayak sales. Agak berantakan dikit biar natural.
Mang Ujang: Nu penting sarapan heula. Lalaki teu sarapan mah gampang katipu awewe.
Teh Euis: Mang 🙄
Asep: A, aku udah bikin papan penyambutan. Ada glitter-nya. Nanti dibawa ya.
Aku mengetik satu kalimat, menghapusnya, lalu mengetik ulang.
Saya: Grup ini untuk koordinasi operasional.
Teh Euis: Ini operasional A. Operasional hati.
Aku menaruh ponsel telungkup di meja, lalu pergi ke lemari dan mengambil kemeja biru dongker.
Bukan karena Teh Euis. Kemeja abu-abuku memang sedang dicuci.
Papan penyambutan buatan Asep ukurannya setengah meter dan berwarna merah muda. Tulisannya SELAMAT DATANG TEH ANGGITA SEKAR WARDHANI DI BUMI NI DEWI ❤️, dengan glitter perak di setiap hurufnya dan gambar daun pisang di pojok, sepertinya untuk memberi kesan Sunda.
Aku menyimpannya di bagasi dan menulis sendiri di selembar kertas HVS: ANGGITA S. W.
Hurufnya hitam dan tidak ada hatinya.
Stasiun Kereta Cepat Tegalluar jam sepuluh lewat tiga puluh lima ramai seperti biasa pada hari Minggu. Rombongan keluarga turun dengan koper, anak muda Jakarta datang dengan totebag untuk berburu kafe, dan para bapak menelepon sopir sambil melambai-lambai ke arah yang salah.
Aku berdiri di dekat pintu keluar, memegang kertas HVS itu, dan baru sadar satu hal yang seharusnya kusadari sejak kemarin.
Aku tidak tahu wajah Anggita Sekar Wardhani.
Aku pernah melihatnya sekali di acara keluarga, sepuluh tahun lalu, waktu aku masih jadi pelayan dan ia masih SMA. Itu pun dari jauh, karena tugasku mengisi ulang teko teh, bukan menatap cucu Nene. Selain itu, aku hanya tahu satu foto di dinding ruang tamu Nene: anak perempuan berumur dua belas dengan behel.
Aku memang pernah bisa memetakan stok empat puluh tujuh cabang dalam dua belas menit, tapi untuk urusan ini aku sama sekali tidak menyiapkan apa pun.
“Excuse me.”
Aku menoleh.
Perempuan di depanku memakai kacamata hitam besar, kemeja linen putih yang lengannya digulung sampai siku, celana kulot krem, dan topi bucket. Rambutnya hitam panjang, bergelombang di ujung, dan jatuh lewat bahu. Ia menarik koper kecil berwarna mint dan tersenyum seperti orang yang tersesat dengan cara yang sangat percaya diri.
“Sorry, I’m looking for... Bumi Ni Dewi?” Bahasa Inggrisnya beraksen aneh, seperti aksen drama Korea yang dibuat-buat. “Restaurant? Very famous? Sundanese food?”
“Oh.” Aku menurunkan kertas HVS. “Yes. It’s in Dago. About forty minutes by car. You can take a taxi from that side, or the shuttle—”
“Taxi, scary.” Ia menempelkan tangan ke dada. “I am tourist. From Korea. Alone.”
“I see.”
“You know the place?”
“I work there.”
“Daebak!” Ia menepuk tangan. “Then you can take me?”
“I’m sorry, I’m waiting for someone. But I can call you a car from our restaurant, it’s safe—”
“Waiting for who?” Ia memiringkan kepala ke arah kertas HVS di tanganku. “Girlfriend?”
“No. My boss’s granddaughter.”
“Oh. Is she pretty?”
Pertanyaan itu begitu tiba-tiba sampai aku menjawab dengan jujur, karena aku memang orang yang menjawab dengan jujur kalau terkejut.
“I don’t know. The last photo I saw, she was twelve. With braces.”
Perempuan itu membeku.
Lalu, dalam bahasa Indonesia logat Jakarta yang sangat jelas dan sama sekali tidak Korea, ia berteriak:
“BEHEL?!”
Beberapa orang di dekat pintu keluar menoleh.
Ia membuka kacamata hitamnya.
Aku tidak siap.
Aku sudah bertemu banyak orang dalam hidupku: investor dari Jakarta, kepala dinas, istri-istri pejabat yang memesan katering, mahasiswi UI yang sering menitipkan tugas kelompok padaku. Aku tahu wajah cantik. Aku hanya tidak tahu bahwa ada wajah yang bisa membuat orang di sekitar pintu keluar stasiun menoleh dua kali, lalu tiga kali, lalu pura-pura tidak menoleh.
Matanya besar dan gelap, dengan bulu mata yang panjang. Kulitnya cerah dan bersih, dan ada semburat merah di pipinya, entah karena panas atau karena marah. Hidungnya kecil, bibirnya sedang terbuka karena kaget. Wajah yang menurut Teh Euis seperti bintang iklan sampo itu ternyata tidak seperti bintang iklan sampo, karena bintang iklan sampo tidak pernah terlihat semarah dan selucu ini dalam waktu yang sama.
“Behel,” ulangnya. “Itu foto di ruang tamu Nene, kan? Yang lebaran 2012? Aku udah minta Nene copot foto itu dari zaman SMA! Ya ampun. Jadi selama ini semua karyawan Nene ngenalin aku sebagai anak behel?”
“Saya nggak tahu soal semua karyawan.”
“Kamu?”
“Saya iya.”
Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu ia tertawa, keras dan lepas, sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang anggun. Tawa yang membuatku ikut tersenyum sebelum aku sempat memutuskan untuk tidak tersenyum.
“Oke,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Anggita. Tanpa behel. Udah lepas sejak 2014, makasih.”
“Arief.”
“Aku tahu. Nene bilang yang jemput namanya Arief.” Ia menggenggam tanganku dua detik lebih lama dari jabat tangan biasa, sambil memperhatikan wajahku. “Nene juga bilang kamu galak.”
“Nene bilang begitu?”
“Katanya, ‘Ati-ati, Arief mah galak, sok ngomel lamun telat.’ Jadi tadi aku sengaja pura-pura jadi turis. Mau ngetes.”
“Ngetes apa?”
“Kamu galak beneran atau nggak.” Ia mengenakan kacamatanya lagi, lalu menyerahkan pegangan koper mint itu padaku dengan santai, seolah sudah biasa. “Ternyata nggak. Kamu malah mau manggilin turis asing mobil yang aman. Itu bukan galak. Itu manis.”
Aku mendorong kopernya ke parkiran dan tidak menjawab, karena aku tidak punya jawaban yang tidak akan membuat telingaku tambah panas.
Di mobil, Anggita duduk di depan tanpa bertanya.
Ia memundurkan kursi, menyesuaikan sandaran, memutar kisi AC ke arah wajahnya, membuka laci dasbor, menemukan permen jahe yang selalu kusimpan di sana, mengambil satu, lalu bertanya:
“Boleh?”
“Udah diambil.”
“Makanya aku nanya. Biar sopan.”
Aku menyalakan mesin.
Lima menit pertama ia memandangi jendela, memotret sawah di sisi tol, dan mengomentari langit Bandung yang menurutnya “lebih niat” daripada langit Jakarta. Pada menit keenam, ia menoleh padaku dan bertopang dagu.
“Jadi,” katanya. “Galaknya di mana?”
“Apa?”
“Kata Nene kamu galak. Aku penasaran. Galaknya muncul jam berapa?”
“Di jam kerja.”
“Sekarang jam kerja?”
“Sekarang jam menjemput.”
“Jam menjemput itu termasuk jam kerja, nggak?”
“Itu jam yang Nene suruh.”
“Berarti kamu nggak mau jemput aku?”
Aku melirik sekilas. Ia sedang tersenyum, tapi matanya serius. Ini pertanyaan jebakan. Aku tahu pertanyaan jebakan karena setiap bulan direksi keluarga mengajukan setidaknya tiga.
“Kalau saya nggak mau,” kataku, “saya bisa suruh orang lain. Ada sopir cadangan.”
“Terus?”
“Saya nggak suruh orang lain.”
Ia diam sebentar, lalu memalingkan wajah ke jendela. Aku bisa melihat pantulannya di kaca: ia sedang menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum.
“Licik,” gumamnya. “Kamu licik, Arief.”
“Saya cuma jawab jujur.”
“Itu yang licik.”
Ponselku berdering di dudukan dasbor. Nama yang muncul: Yuyun – Kasir Tasik.
“Maaf, saya angkat dulu.”
“Silakan, Pak Head of Operations.”
Aku menekan tombol speaker. “Halo, Teh Yuyun?”
“A Arief, hampura ngaganggu hari Minggu.” Suara Teh Yuyun bergetar. “Kas Sabtu malem kurang lagi, A. Satu juta dua ratus. Ini udah minggu ketiga, A. Tiap Sabtu kurang. Saya udah ngitung ulang lima kali. Saya nggak ngambil, A, sumpah demi Allah.”
“Teh, saya percaya. Tenang dulu, ya. Saya mau tanya beberapa hal.”
“Muhun, A.”
“Kas di Tasik tutup jam berapa?”
“Jam sepuluh malam, A.”
“Pembayaran QRIS masuk ke rekening jam berapa?”
“Teu terang, A. Pokona mah otomatis.”
Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum ia menjawab, karena aku pernah membaca kontrak kerja sama dengan bank penyedia QRIS kami sampai ke catatan kaki. Batas penyelesaian transaksi harian di bank itu jam sembilan malam. Transaksi setelah jam sembilan baru dicatat sebagai transaksi hari berikutnya.
“Teh, coba buka aplikasi kasir. Lihat transaksi Sabtu antara jam sembilan sampai jam sepuluh malam. Yang bayarnya pakai QRIS. Totalnya berapa?”
Terdengar bunyi ketukan layar. Lama. Anggita, di sebelahku, sudah berhenti memandangi sawah dan menatap ponsel di dasbor.
“Sa... satu juta dua ratus lima belas, A.”
“Itu uangnya, Teh. Nggak hilang. Uangnya masuk ke rekening hari Senin, karena bank menghitung QRIS setelah jam sembilan malam sebagai transaksi besok. Sabtu malam di Tasik ramai karena ada pasar malam di alun-alun, kan? Makanya tiap Sabtu selisihnya besar.”
Hening sebentar di seberang.
“Jadi... saya teu leungiteun nanaon, A?”
“Nggak, Teh. Mulai minggu ini, laporan tutup kas pisahin QRIS sebelum dan sesudah jam sembilan. Nanti saya kirim format barunya malam ini.” Aku berhenti sebentar, karena ada satu pertanyaan yang lebih penting dari semua yang tadi. “Teh, dua minggu kemarin selisihnya ditutup pakai apa?”
Teh Yuyun tidak langsung menjawab. Itu sudah cukup jadi jawaban.
“Pakai gaji Teteh sendiri, ya?”
“...Abdi sieun dipecat, A.”
Aku menarik napas pelan. “Teh, besok saya minta bagian keuangan transfer balik dua juta empat ratus ke rekening Teteh. Itu uang Teteh. Dan Teh, lain kali kalau ada yang aneh, langsung telepon saya. Jam berapa pun. Jangan ditanggung sendiri.”
“Hatur nuhun, A. Hatur nuhun pisan.” Suaranya pecah. “Nuhun.”
Telepon terputus.
Mobil hening beberapa detik. Hanya suara ban di jalan tol dan dengung AC.
“Kamu barusan,” kata Anggita pelan, “nyelametin gaji orang pakai tiga pertanyaan.”
“Empat.”
Ia menoleh cepat. “Hah?”
“Empat pertanyaan. Yang terakhir paling penting.”
Anggita menatapku lama sekali. Aku tetap memandang jalan, karena memandang jalan lebih aman.
“Kamu hafal jam settlement QRIS bank?”
“Saya baca kontraknya.”
“Semua?”
“Kalau mau tanda tangan, ya harus baca semua.”
“Ada berapa halaman?”
“Tiga puluh delapan. Ditambah dua lampiran.”
Ia bersandar ke kursinya dan tertawa kecil, seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang lucu sekaligus menyebalkan.
“Pantes Nene bilang kamu galak,” katanya. “Kamu bukan galak. Kamu nyeremin.”
Di gerbang tol Pasteur, perutnya berbunyi.
Bunyinya keras, jelas, dan tidak bisa disangkal. Anggita langsung menutup perutnya dengan dua tangan dan menatap lurus ke depan seperti tidak terjadi apa-apa.
“Tadi pagi sarapan apa?”
“...Kopi.”
“Kopi bukan sarapan.”
“Kopi itu sarapan buat orang Jakarta.”
“Sekarang Teh Anggita orang Bandung.”
Di persimpangan aku tidak belok ke Dago. Aku belok ke kiri, ke arah Setiabudi.
“Lho, ini ke mana?”
“Surabi.”
“Aku nggak suka yang manis-manis pagi-pagi.”
“Tadi di peron Teh Anggita bilang ke petugas, ‘Pagi-pagi jangan ngasih aku yang manis, nanti aku ngantuk.’ Waktu nanya gerbang keluar.”
Ia memutar seluruh tubuhnya menghadapku. “Kamu nguping?”
“Teh Anggita ngomongnya keras.”
“Itu nguping.”
“Itu mendengar dalam radius yang tidak bisa dihindari.”
Surabi di pinggir Jalan Setiabudi itu kecil, tungkunya dari tanah liat, dan antreannya mengular sampai trotoar. Aku memesan dua surabi oncom, satu surabi telur, dan teh tawar hangat tanpa gula. Kami makan di kap mobil seperti anak SMA.
Anggita menggigit surabi oncom pertamanya dan memejamkan mata.
“Ya Tuhan.”
“Enak?”
“Diam dulu. Aku lagi menikmati.” Ia mengunyah perlahan. “Ini kenapa aku ninggalin Melbourne. Ini. Persis ini.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya memperhatikannya makan, dan menyadari bahwa angin pagi Setiabudi meniup ujung rambutnya ke pipi, dan bahwa aku ingin menyelipkan rambut itu ke belakang telinganya. Aku buru-buru meminum teh tawarku yang masih terlalu panas.
“Kamu,” kata Anggita setelah surabi kedua, “perhatian ke semua orang, ya?”
“Ke yang belum makan.”
“Berarti aku spesial karena belum makan?”
“Berarti Teh Anggita lapar.”
Ia menatapku dengan mata menyipit, lalu tertawa lagi, tawa keras yang membuat tukang surabi ikut tersenyum.
“Kamu tuh,” katanya sambil menunjukku dengan surabi setengah gigit, “bahaya. Aku catat ya. Kamu bahaya.”
Kami tiba di Dago jam dua belas kurang sepuluh.
Restoran sedang ramai. Promo Sabtu Liwet ternyata berlanjut ke hari Minggu karena tim sosmed terlalu bersemangat, dan tidak ada yang sempat memberitahuku. Antrean meja sampai ke halaman depan. Aku mencatatnya di kepala: tegur tim sosmed, tapi pelan-pelan, karena hasilnya bagus.
Di pintu samping, seluruh karyawan berbaris.
Aku tidak menyuruh mereka berbaris. Aku yakin Nene juga tidak. Yang jelas, Teh Euis berdiri paling depan dengan senyum yang terlalu lebar, Mang Ujang di belakangnya dengan celemek bersih yang jelas baru diambil dari laci, Asep dan Dede di samping, dan Iwan di ujung barisan, bingung tapi ikut berdiri.
Dan Asep, entah bagaimana, sudah memegang papan merah muda berglitter itu.
Aku menatap Asep. Asep menatap balik dengan wajah tanpa dosa.
“A, tadi aku ambil dari bagasi. Kuncinya kan digantung di dapur.”
Anggita turun dari mobil, membaca papan itu, dan matanya membesar.
“Ya ampun,” bisiknya. “Ada glitter-nya.”
“Itu bukan dari saya.”
“Ada hatinya.”
“Itu juga bukan dari saya.”
“Ada gambar daun pisangnya.”
“Teh Anggita, sumpah.”
Ia tertawa, melambai ke barisan karyawan dan menyalami mereka satu per satu, menanyakan nama, mengulangi nama itu supaya tidak lupa. Teh Euis memeluknya seperti saudara yang hilang. Mang Ujang mendadak gugup dan bicara dalam bahasa Indonesia yang sangat baku. Asep meminta foto bareng papan glitter itu. Dan Anggita mau.
Lalu pintu kantor terbuka, dan Nene Dewi muncul dengan tongkatnya.
“Gita.”
“Neneee!”
Anggita berlari, dan Nene, yang tadi pagi memukul kaki Mang Ujang dengan tongkat karena terlambat dua menit, merentangkan kedua lengan dan memeluk cucunya lama sekali, sambil bergoyang pelan ke kiri dan ke kanan seperti menimang bayi.
Aku berdiri di belakang dengan koper mint itu dan merasakan sesuatu yang tidak asing. Sedikit hangat, sedikit perih.
Aku tahu rasa ini. Ini rasa yang muncul setiap kali aku melihat orang dipeluk oleh keluarganya sendiri.
Tanpa sadar aku menyentuh alis kiriku.
Anggita masih memeluk Nene. Lalu, dengan suara yang ia kira berbisik tapi bisa terdengar sampai parkiran, ia berkata:
“Ne, yang jemput aku ganteng banget. Kenapa nggak ada yang bilang?”
Asep tersedak. Teh Euis menutup mulutnya dengan dua tangan. Mang Ujang memandang langit.
Nene Dewi melirik ke arahku dari balik bahu cucunya. Mata tuanya berkilat licik.
“Kusabab,” katanya, “lamun Nene bebeja, maneh balik ti baheula.”
Aku memutar koper mint itu dan masuk lewat pintu dapur, karena hanya dapur yang cukup panas untuk menyamarkan wajahku.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang reading
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu