Chapter Twenty Five
Tangga Darurat
POV: Kanaya
Aku membaca angka.
Itu yang kulakukan selama dua puluh dua menit. Laki-laki di depan layar bicara, dan aku membaca. Bukan wajahnya, bukan namanya di papan akrilik. Aku membaca slide-nya, yang dikirim Pak Hendrawan tadi malam, dengan catatan kaki yang tidak akan dibaca orang lain di ruangan itu.
Angka-angka itu jujur. Sedikit berantakan, karena hidup memang sedikit berantakan.
Label berbentuk segitiga, lingkaran, dan kotak di rak sambal, karena ada karyawan yang buta warna. Centong nasi yang ukurannya disesuaikan supaya juru masak berumur enam puluh tidak perlu menghitung gram. Uang seorang kasir di Tasik yang dikembalikan, karena ia menutup selisih kas dengan gajinya sendiri selama dua minggu, padahal selisihnya hanya urusan jam settlement QRIS. Enam juta sebulan untuk nasi bungkus di bawah pohon nangka di Garut, untuk anak-anak SD dan tukang ojek, yang tidak dipotong dari laporan dan tidak disembunyikan, tapi diberi nama pos dan diawasi lewat foto harian.
Aku membaca semuanya, dan aku berhenti di nasi bungkus itu lebih lama dari yang seharusnya. Tiga detik, empat.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena dua puluh lima bungkus sehari mengingatkanku pada empat puluh satu anak di antrean dapur hari Kamis, dan telur yang tidak pernah cukup.
Seseorang di Bumi Ni Dewi tahu apa yang ia kerjakan. Seseorang di sana membangun sesuatu yang rapi dari sesuatu yang berantakan, dan membiarkan angkanya tetap sedikit berantakan, karena ia jujur. Aku sudah memikirkan kalimat itu dua minggu lalu, waktu membaca Lampiran D.
Sekarang orang itu berdiri di depan layar, dan suaranya sangat tenang.
Aku tidak mengangkat kepala, karena aku tidak perlu. Aku sudah tahu wajah orang-orang yang membuat angka rapi. Biasanya laki-laki berumur empat puluhan dengan kemeja yang terlalu kencang di perut dan kacamata yang terlalu mahal. Atau anak muda lulusan luar negeri yang terlalu sering memakai kata synergy.
Suara ini bukan suara keduanya. Suara ini rendah, hati-hati, dengan sedikit logat Sunda di ujung kalimat yang tidak berusaha disembunyikan.
Aku tidak mengenalinya. Mengapa aku harus mengenalinya?
“Pertanyaan nomor empat belas,” kata suara itu. “Mode offline cabang Pangandaran saat go-live.”
Aku membaca diagram di layar. Tablet kasir, antrean lokal, panah putus-putus. Seratus dua belas transaksi. Nol yang hilang, nol yang ganda.
Satu power bank merah dengan stiker segitiga.
Di catatan kaki Lampiran D, dua minggu lalu, aku membaca kalimat itu: go-live berjalan tanpa kehilangan data, termasuk cabang dengan gangguan listrik. Aku menandainya dengan stabilo kuning. Aku ingin tahu siapa yang memikirkan power bank merah untuk cabang di pesisir, satu bulan sebelum dibutuhkan.
“Siapa yang merancang arsitekturnya?” tanyaku.
“Saya, Bu.”
Aku mengangkat kepala.
Hal pertama yang kulihat adalah seorang laki-laki berumur akhir dua puluhan, berkulit sawo matang, dengan kemeja biru dongker yang lengannya digulung sampai siku. Tinggi, dengan bahu tegak dan rahang tegas. Ia memegang clicker presentasi dengan tangan yang terlalu erat, buku-buku jarinya putih.
Ia ganteng. Aku mencatatnya sebagai data, seperti mencatat apa pun. CEO tidak boleh terkesan oleh wajah.
Lalu aku melihat matanya.
Mata itu tidak memandangi layar, tidak memandangi Pak Hendrawan, Ervan, Mama, atau siapa pun di ruangan itu. Mata itu memandangiku, dan aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa mata itu sudah memandangiku sejak lama. Bukan sejak aku mengangkat kepala, tapi sejak aku masuk ke ruangan, sejak Bryan menyebut namaku.
Mata itu memandangiku seperti memandangi sesuatu yang besok pasti lebih baik.
Aku tahu mata itu.
Aku tidak percaya. Aku tidak boleh percaya. Aku sudah berdiri di depan nisan di Cimahi dua jam di bawah hujan. Aku sudah dipeluk laki-laki di warung kopi di Sukabumi yang memanggilku Kak lalu meminta lima puluh juta. Aku sudah membaca sembilan puluh dua nama Arief, sepuluh setiap malam, dan semuanya bukan.
Mataku bergerak sendiri. Dari matanya, turun ke hidung, lalu naik lagi, ke alisnya.
Ke ujung alis kiri.
Di sana, memotong ujung alis seperti garis yang lupa dihapus, sedikit lebih terang dari kulitnya yang sawo matang, ada bekas luka tipis.
Di tempat yang persis sama.
Bukan sedikit di atas atau sedikit di bawah, bukan di alis kanan. Di ujung alis kiri, di tempat yang empat belas tahun lalu ditutupi plester cokelat di foto polaroid yang sekarang ada di dompetku, di balik kartu identitas. Di tempat yang lebih dulu dari itu kubersihkan dengan obat merah curian dari UKS, di gudang belakang panti, sementara tanganku gemetar dan suaraku galak.
Kamu bodoh.
Dia ngatain Kakak.
Biarin. Kakak udah biasa.
Aku belum.
Aku mencoba bicara. Aku mencoba berkata terima kasih, Pak Arief, silakan dilanjutkan ke pertanyaan nomor lima belas. Aku sudah mengucapkan kalimat seperti itu ribuan kali, dengan suara yang tidak bergetar, di depan dewan direksi, investor, dan bank.
Kalimat itu tidak keluar.
Sesuatu jatuh dari tanganku. Aku mendengarnya mengenai meja, lalu menggelinding. Aku tidak melihat apa itu. Aku tidak bisa melihat apa pun selain garis tipis di ujung alis kiri itu.
Ruangan diam. Aku tahu ruangan itu diam karena aku bisa mendengar dengung pendingin udara di langit-langit, yang biasanya tidak pernah kudengar.
Lalu aku mendengar bunyi kecil, sesuatu yang jatuh ke karpet.
Laki-laki di depan layar tidak bergerak. Ia memandangiku. Dan perlahan, sangat perlahan, aku melihat matanya, mata yang memandangi segala sesuatu seolah besok pasti lebih baik, mulai berkaca-kaca.
Aku berdiri.
Kursiku terdorong ke belakang. Bryan, di belakangku, setengah berdiri juga.
“Maaf,” kataku. Suaraku keluar, tapi bukan suaraku. Suara orang lain, tipis dan bergetar. “Sepuluh menit.”
Aku berjalan ke pintu.
Aku tidak lari. CEO tidak lari di ruang rapat. Aku berjalan, dengan punggung tegak dan langkah biasa, melewati Pak Wibowo, dua konsultan Singapura, Pak Hendrawan, dan Mama, yang memandangiku dengan wajah bingung dan sopan.
Aku melewati laki-laki di depan layar. Kami terpisah satu meter, mungkin kurang. Aku tidak memandanginya. Kalau aku memandanginya, aku akan jatuh.
Aku membuka pintu ruang rapat, keluar, dan menutupnya di belakangku.
Koridor lantai 27 sepi. Karpet abu-abu, dinding putih, dan lampu-lampu kecil di langit-langit.
Bryan membuka pintu di belakangku setengah detik kemudian. “Bu! Bu Kanaya! Ibu kenapa? Ibu sakit? Saya panggil—”
“Jangan.” Aku tidak menoleh. “Ambil alih rapatnya, Bryan. Sepuluh menit.”
“Bu, saya asisten—”
“Ambil alih.”
Bryan berhenti. Aku mendengar ia menelan ludah. Lalu, dengan nada yang belum pernah kudengar darinya dalam dua tahun, sangat pelan dan sangat lembut:
“Iya, Bu.”
Pintu ruang rapat tertutup lagi.
Aku berjalan ke ujung koridor, ke pintu besi abu-abu dengan tulisan hijau di atasnya: TANGGA DARURAT. Aku mendorongnya, dan pintu berat itu terbuka dengan bunyi derit yang menggema ke bawah, ke dua puluh enam lantai di bawahku.
Tangga darurat. Satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak punya kamera, tidak punya kaca, dan tidak punya orang.
Pintunya menutup sendiri di belakangku dengan bunyi klik yang berat.
Aku berjalan turun tiga anak tangga, lalu lututku berhenti bekerja.
Aku duduk di anak tangga beton yang dingin, dengan setelan hitam yang sekarang terlipat aneh di lutut, dan sepatu hak rendah yang terasa terlalu sempit. Aku memeluk lututku dengan dua tangan, seperti dulu, di antara kardus mi instan.
Lalu aku menangis.
Bukan menangis yang rapi, seperti waktu Pak Sutomo menelepon dan berkata bukan dia, Bu, saat aku berdiri di tangga darurat lantai 28 selama lima menit sampai napasku normal lalu kembali ke rapat. Bukan menangis yang sunyi, seperti di depan nisan di Cimahi di bawah hujan. Bukan juga tertawa di ranjang rumah sakit dengan infus di tangan, yang bukan menangis tapi lebih buruk.
Ini menangis yang tidak punya bentuk. Menangis yang keluar dari tempat yang sudah empat belas tahun kukunci dan kujaga, dan yang sekarang pintunya didobrak dari dalam.
Aku menangis dengan suara. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis dengan suara. Mungkin di gudang belakang panti. Mungkin malam sebelum mobil hitam itu datang, waktu hujan turun dan seorang anak laki-laki berumur empat belas berkata Kak, pergi.
Lampiran E, halaman sembilan.
Aku bilang pada Bryan aku membaca angka, bukan CV.
Halaman delapan, Kak. Ervan berbohong dengan cara yang buruk sekali, dan aku tahu ia berbohong, dan aku tidak kembali ke lantai 25.
Kalau ada orang yang udah sakit dua kali, jangan bikin sakit yang ketiga karena kamu terburu-buru. Pastikan dulu. Aku sendiri yang memberinya izin.
Universitas Indonesia. Huruf U. Nomor dua ratus delapan puluh sampai tiga ratus dua belas. Dengan sepuluh nama semalam, aku akan sampai ke sana pertengahan Januari.
Ia sudah dua minggu ada di map hitam di lantai 25, di halaman sembilan, dengan pas foto, dengan bekas luka di ujung alis kiri, empat lantai di bawah ruanganku.
Ia sudah tiga belas tahun ada di Bandung. Satu jam naik kereta cepat dari tempat aku duduk di lantai penthouse dengan roti tawar dan lilin mati lampu.
Aku tidak membacanya. Aku tidak membalik satu halaman pun. Aku terlalu takut untuk berharap, dan karena takut, aku hampir kehilangannya untuk ketiga kalinya, padahal ia ada di sini sepanjang waktu.
Aku menangis sampai bahuku sakit.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana. Mungkin lima menit, mungkin sepuluh.
Lalu pintu besi di atasku berderit.
Aku tidak menoleh. Bryan, pikirku. Atau Ervan. Atau satpam yang melihat CEO-nya masuk tangga darurat dan khawatir. Aku membenamkan wajahku lebih dalam ke lututku dan berharap siapa pun itu akan pergi.
Pintunya menutup dengan bunyi klik yang berat.
Langkah kaki menuruni anak tangga beton. Satu, dua. Pelan dan hati-hati. Bukan langkah Bryan yang selalu terburu-buru, bukan juga langkah Ervan yang selalu terlalu keras.
Langkah itu berhenti dua anak tangga di atasku.
Di belakangku.
Hening. Hanya dengung lampu neon di langit-langit tangga darurat, dan napasku sendiri yang tersendat.
Lalu sebuah suara. Suara laki-laki, rendah, dengan sedikit logat Sunda di ujungnya, yang bergetar sekarang. Bergetar dengan cara yang tidak ia sembunyikan, seperti waktu tadi di depan layar.
“Kakak masih nangis di tempat yang nggak ada orangnya.”
Aku membeku.
“Dulu di gudang belakang,” kata suara itu. “Di antara kardus mi instan. Aku satu-satunya yang tahu.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Aku nyari Kakak tiap kali Kakak hilang. Kakak selalu di sana.” Suaranya pecah di tengah. Aku mendengarnya menarik napas, gemetar, lalu menyusun dirinya kembali. “Aku nggak tahu di gedung ini gudangnya di mana. Jadi aku cari tempat yang paling mirip.”
Aku berbalik.
Ia duduk di anak tangga dua tingkat di atasku, dengan siku di lutut dan tangan terkatup di depan mulut. Kemeja biru dongkernya sedikit kusut di bahu. Matanya merah dan basah, dan air mata mengalir di pipinya tanpa ia usap, seperti ia sudah lupa caranya mengusap.
Bekas luka di ujung alis kiri itu sekarang hanya satu meter dari wajahku.
Aku mengulurkan tangan.
Aku tidak berpikir. Tanganku bergerak lebih dulu daripada otakku, seperti tubuh kurus anak laki-laki berumur dua belas yang melompat ke arah Dodi sebelum sempat berpikir. Ujung jariku menyentuh garis tipis di ujung alisnya, menyusurinya pelan, dari ujung ke ujung, dengan ibu jari.
Kulitnya hangat. Garis itu sedikit lebih halus dari kulit di sekitarnya.
Persis di tempat aku mengoleskan obat merah empat belas tahun lalu. Persis sepanjang itu.
“Rief,” bisikku.
Satu kata, satu nama. Nama yang sudah empat belas tahun tidak kuucapkan dengan suara, hanya dalam hati, setiap delapan belas Oktober, di atas tiga lembar roti tawar.
Ia memejamkan mata waktu ibu jariku menyentuh lukanya.
“Kak,” katanya.
Lalu kami berdua runtuh.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Mungkin aku, karena aku selalu yang bergerak duluan. Aku selalu di depan, yang menampar Dodi, yang membelah telur. Mungkin ia. Tapi tiba-tiba aku sudah berlutut di anak tangga beton dan ia sudah turun dua tingkat, dan lengannya melingkar di punggungku, dan lenganku melingkar di lehernya. Aku memeluknya kencang sekali sampai tulang rusukku sakit, persis seperti di halaman panti di samping mobil hitam.
Ia lebih besar sekarang. Bahunya lebar, dadanya keras. Ia tidak lagi anak kurus yang tulangnya terasa di bawah kaus kebesaran.
Tapi cara ia memelukku sama. Ia memelukku seperti orang yang memegang sesuatu di tepi jurang. Seperti orang yang takut, kalau ia melepaskan pegangannya sedetik saja, aku akan naik ke mobil hitam lagi.
Kami menangis. Dua orang dewasa, satu CEO dengan setelan hitam dan satu Head of Operations Transformation dengan kemeja biru dongker, berlutut dan berpelukan di tangga darurat lantai 27 Exo Tower, menangis dengan suara, seperti dua anak di gudang belakang panti di antara kardus mi instan.
“Kamu bodoh,” kataku ke bahunya. Suaraku pecah. “Kamu bodoh. Kamu ke mana aja?”
“Bandung,” katanya. Suaranya juga pecah. “Aku di Bandung, Kak. Tiga belas tahun. Satu jam dari sini.”
“Kakak nyari kamu.”
“Aku juga nyari Kakak.”
“Kakak nyari kamu delapan tahun. Sebelas detektif. Tiga ratus dua belas nama.” Aku tertawa, basah dan hancur. “Kamu ada di nomor dua ratus delapan puluh. Universitas Indonesia. Huruf U. Kakak bacanya urut abjad. Sepuluh nama semalam.”
“Kakak bacanya urut abjad?”
“Kakak takut. Kalau bacanya cepet, Kakak takut.”
Ia memelukku lebih erat.
“Aku nggak tahu nama keluarga Kakak,” katanya ke rambutku. “Bu Rahmah nggak pernah mau bilang. Aku mohon umur lima belas. Umur tujuh belas. Umur delapan belas, waktu aku keluar dari panti. Bu Rahmah bilang, ‘Itu syarat mereka, Rief. Biar kakakmu bisa mulai dari awal. Kalau kamu sayang dia, biarin dia mulai dari awal.’”
Aku memejamkan mata.
Kanaya, Mama mau kamu mulai dari awal. Benar-benar dari awal. Itu satu-satunya syarat Mama.
“Jadi aku biarin,” bisiknya. “Aku biarin Kakak mulai dari awal. Aku pikir itu yang Kakak mau.”
“Kakak nggak pernah mau mulai dari awal.” Aku menarik diri sedikit, cukup untuk melihat wajahnya, tapi tanganku masih mencengkeram kerah kemejanya seperti takut ia akan hilang. “Kakak nggak pernah mau mulai dari mana pun yang nggak ada kamunya.”
Ia memandangiku. Air mata mengalir di pipinya, dan ia tetap tidak mengusapnya.
Lalu, pelan, dengan suara yang tidak lagi pecah tapi dalam dan tenang seperti dasar sumur, ia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku berhenti.
“Aku masih di belakangmu, Kak.”
Empat belas tahun lalu, di halaman panti, di samping mobil hitam, aku memeluknya kencang sekali dan berbisik di telinganya: Aku di belakangmu. Selalu. Ingat itu.
Aku mengucapkannya karena itu satu-satunya hal yang bisa kujanjikan. Aku tidak bisa berjanji akan kembali, karena syarat Mama. Aku tidak bisa berjanji akan menelepon atau menulis. Aku hanya bisa berjanji akan ada, di suatu tempat, di belakangnya, tanpa terlihat.
Aku tidak pernah tahu apakah ia mendengarnya. Mobil itu melaju terlalu cepat, dan ia berlari terlalu jauh.
Ia mendengarnya. Ia menyimpannya empat belas tahun.
Dan sekarang ia mengembalikannya padaku. Tidak berubah satu kata pun, kecuali satu, masih.
Aku tidak bisa bicara. Aku menempelkan dahiku ke dahinya, persis di tempat bekas luka itu menyentuh pelipisku, dan menangis lagi. Kali ini tanpa suara, karena suaraku sudah habis.
Ia membiarkanku.
Pintu besi di atas kami berderit lagi.
“Bu! Bu Kanaya! Ibu Liliana nanya Ibu di—”
Bryan berdiri di ambang pintu tangga darurat dengan tablet di tangan dan wajah panik. Lalu ia melihat kami. CEO-nya berlutut di anak tangga beton dengan setelan hitam yang kusut, dahi menempel di dahi seorang laki-laki dari restoran Sunda di Bandung, keduanya menangis.
Bryan membeku.
Lalu, sangat pelan, ia mundur satu langkah.
“Saya...” Ia menelan ludah. “Saya nggak lihat apa-apa, Bu. Saya sama sekali nggak lihat apa-apa. Saya mendadak rabun. Mata minus saya kambuh.”
Pintunya mulai menutup.
Lalu terdorong terbuka lagi, kali ini lebih keras.
Ervan berdiri di ambang pintu, di belakang Bryan, dengan kemeja batik yang sudah disetrika dan wajah yang basah oleh air mata sampai ke kerah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandangi kami dari atas, dari tiga anak tangga di atas, dengan dua tangan menutup mulut dan bahu yang bergetar.
Aku memandangi adik angkatku.
Aku memandangi adik kandungku, yang masih memegangi bahuku.
Lalu aku memandangi Ervan lagi.
“Kamu tahu,” kataku.
Bukan pertanyaan.
Ervan menurunkan tangannya dari mulut. Ia mengangguk pelan.
“Lima belas hari, Kak,” katanya, suaranya serak. “Sejak halaman sembilan. Gue ke Cimahi. Gue ketemu Bu Nining. Gue lihat tiangnya. Yang retak, Kak. Masih ada retakannya.”
“Halaman sembilan,” ulangku.
“Halaman sembilan.”
Aku memandanginya lama. Lalu aku merasakan sesuatu bangkit di dadaku, sesuatu yang panas, besar, dan sangat galak. Sesuatu yang empat belas tahun lalu membuatku berjalan melewati tiga barisan meja dan menampar Dodi di depan satu kelas.
Tapi tangan di bahuku meremasnya pelan, sekali, seperti senggolan.
“Kak,” bisik Arief. “Nanti dulu. Dia nggak jahat. Dia cuma takut Kakak sakit lagi.”
Aku menoleh. Arief memandangi Ervan, bukan aku. Matanya, mata yang memandangi segala sesuatu seolah besok pasti lebih baik, memandangi Ervan dengan sesuatu yang kukenal. Pemahaman, dan sedikit rasa bersalah.
“Dia magang di dapur aku,” kata Arief. “Mecahin tiga piring. Nanya ulang tahun aku. Terus nangis di mobil.”
“Empat,” kata Ervan dari atas. “Empat piring. Yang terakhir nggak pecah tapi jatuh.”
Aku memandangi kedua adikku. Satu di depanku, berlutut di anak tangga beton dengan bekas luka di alis kiri. Satu di atas, berdiri di ambang pintu tangga darurat dengan kemeja batik basah air mata.
Sesuatu yang panas dan galak di dadaku perlahan-lahan surut.
Bukan hilang. Aku masih akan menampar Ervan nanti. Aku tahu itu, Ervan tahu itu, bahkan Bryan, yang masih berdiri di belakang Ervan dengan mata yang katanya sedang minus, tahu itu.
Tapi tidak sekarang.
“Rapatnya,” kataku, akhirnya, karena aku CEO, dan CEO selalu ingat ada rapat, bahkan di tangga darurat dengan maskara yang sudah luntur sampai ke dagu.
Arief tertawa. Tawa yang basah, setengah tercekik, seperti batuk orang yang baru keluar dari air.
“Biar Bryan yang ambil alih,” katanya.
Di ambang pintu, Bryan mengeluarkan suara seperti anak ayam yang terinjak.
“Saya? Lagi? Bu, saya asisten—”
“Ambil alih, Bryan,” kataku dan Arief, bersamaan.
Kami saling memandang. Lalu kami tertawa. Tertawa sambil menangis, dengan dahi masih hampir bersentuhan, sementara Bryan menghilang dari ambang pintu dengan langkah yang sangat terburu-buru, dan Ervan duduk di anak tangga paling atas, menutup wajah dengan dua tangan, dan menangis lebih keras.
Lama setelah itu, setelah tangisku reda, setelah Ervan berhenti terisak dan cuma menatap kami dari atas dengan mata bengkak dan senyum lesung pipi yang tidak berhenti, aku duduk di anak tangga di sebelah adikku. Bahu kami bersentuhan. Lututnya sedikit lebih tinggi dari lututku sekarang.
Aku memandangi tangannya. Jari telunjuk kirinya diplester.
“Ini kenapa?”
“Kena pisau.”
“Motong apa?”
Ia diam sebentar. “Bawang.”
Aku memandanginya lama. Ada sesuatu di cara ia mengatakan bawang yang membuatku ingin bertanya lebih jauh. Tapi tidak hari ini. Hari ini aku hanya ingin duduk di sebelahnya.
“Kamu udah makan?” tanyaku.
Ia menoleh. Matanya berkaca-kaca lagi, tiba-tiba, seperti pertanyaan itu jauh lebih berat daripada kedengarannya.
“Tadi di kereta,” katanya. “Nasi sama telur dadar. Ada yang bikinin.”
“Siapa?”
Ia tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, senyum pelan yang naik dari ujung bibir sampai ke mata, dan di senyum itu aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah adikku. Sesuatu yang tidak ada di foto polaroid. Sesuatu yang lahir dalam empat belas tahun aku tidak ada.
Aku akan bertanya nanti. Ada banyak hal yang akan kutanyakan nanti.
“Kakak masakin kamu telur,” kataku. “Malam ini. Di tempat Kakak.”
Ia memandangiku.
“Kakak nggak bisa masak,” katanya.
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Kok kamu tahu?”
Ia tersenyum lebih lebar. Senyum anak laki-laki berumur tujuh tahun di bangku panjang dekat jendela dapur panti, yang protes karena telurnya lebih besar.
“Karena Kakak dulu juga nggak bisa,” katanya. “Telur Kakak selalu gosong di pinggir. Kakak bilang Kakak nggak suka bagian tengah yang lembek.”
Aku memandanginya.
“Itu bohong,” katanya pelan. “Kakak paling suka bagian tengah. Aku tahu dari dulu.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, bahu yang sekarang cukup lebar untuk disandari, dan memejamkan mata.
Di atas kami, di anak tangga paling atas, Ervan mengeluarkan ponselnya, membuka kamera, dan diam-diam memotret kami. Aku tahu, karena aku mendengar bunyi rananya.
Aku tidak memarahinya.
Aku akan menampar Ervan nanti, karena lima belas hari, dan karena halaman delapan.
Tapi foto itu akan kusimpan di dompet, di sebelah foto polaroid yang lusuh.
Foto pertama dalam empat belas tahun, tempat kami berdua ada di dalamnya.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat reading
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu