Chapter Forty
Tiga Porsi
POV: Arief
Jam lima lewat tiga puluh pagi, hari Sabtu, tanggal sepuluh April, aku berdiri di dapur pusat Bumi Ni Dewi Dago dan menggoreng telur.
Aku tidak bisa tidur. Aku sudah mencoba. Aku berbaring di kamar kos lamaku, yang kusewa lagi selama tiga malam karena Nene bilang panganten lalaki teu meunang saimah jeung panganten awewe samemeh akad, dan aku memandangi langit-langit, dan langit-langit itu memandangiku balik. Jam tiga aku menyerah. Jam empat aku sudah memakai jaket parasut hitam dan berjalan kaki ke Dago. Jam lima aku sudah di dapur, menyalakan kompor nomor tiga, yang apinya paling stabil.
Satu telur. Sedikit garam. Daun bawang yang diiris tipis.
Minyaknya baru mulai berbunyi ketika pintu dapur terbuka keras sekali sampai membentur dinding.
“EH! EH! EH!”
Mang Ujang, dengan celemek putih, sandal jepit, dan sarung yang masih dililitkan di leher seperti syal, berdiri di ambang pintu dengan wajah orang yang menemukan maling.
“Pagi, Mang.”
“Pagi naon! Ieu dinten naon?!”
“Sabtu, Mang.”
“SABTU!” Mang Ujang berjalan cepat ke arahku, merebut sutil dari tanganku, dan menyerahkannya ke Asep, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dengan mata setengah tertutup. “Panganten teu meunang asup dapur! Pamali! Engké sambelna pait, sanguna atah, salakina kabur!”
“Saya salakinya, Mang.”
“TAH KAN! Kabur ka dapur!” Ia mendorong punggungku ke arah pintu dengan dua tangan. “Kaluar! Kaluar! Asep, terusin telurnya!”
Asep memandangi wajan dengan bingung. “Ieu telur kanggo saha, Mang?”
“Kanggo Aa! Masak, terus bawa ka kantor! Aa teu meunang asup deui ka dieu nepi ka sah!”
Aku didorong keluar dapur seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan. Di lorong, aku berdiri dan tertawa sendirian. Tiga belas tahun aku masuk ke dapur ini setiap pagi. Tiga belas tahun tidak ada yang pernah mengusirku.
Lima menit kemudian, Asep mengetuk pintu ruang kantor kecilku dan menyerahkan piring berisi telur dadar. Pinggirnya sedikit gosong.
“Punten, A. Kagosongan saeutik. Abdi gugup.”
“Kenapa kamu yang gugup, Sep?”
“Abdi sok pingsan, A.” Wajahnya serius sekali. “Kapungkur di Meja Tujuh abdi pingsan. Ayeuna abdi tos sarapan tilu kali, supados teu pingsan deui.”
Aku tertawa lagi, dan memakan telur itu. Bagian yang gosong juga.
Di meja kantorku ada satu lembar kertas yang kubingkai seminggu lalu dengan pigura murah dari toko alat tulis di Simpang.
Daftar dua belas cabang. Cihampelas, Buah Batu, Setiabudi, Pasteur, Antapani, Lembang, Cimahi, Sukajadi, Kopo, Dago Atas, Jatinangor, dan Dago, rumah Nene.
Semua nama itu dicoret dengan spidol hijau. Satu per satu. Garis lurus, rapi, sedikit miring ke kiri.
Tanggal dua puluh tiga Maret, jam dua siang, notaris di Jalan Riau meneleponku. Pembayaran terakhir PT Graha Tol Mandiri untuk tanah di Bekasi sudah masuk. Dua puluh delapan koma lima miliar rupiah. Bank Prima sudah menerima pelunasan. Surat roya untuk dua belas sertifikat sudah ditandatangani, dan besok akan didaftarkan ke kantor pertanahan.
Hak tanggungan dicoret.
Aku menerima telepon itu di Meja Tujuh. Gita duduk di depanku, sedang mengoreksi desain menu Ramadan. Waktu aku menutup telepon, ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya melihat wajahku, lalu berdiri, berjalan memutari meja, dan memelukku dari belakang, di depan semua tamu makan siang, dengan dagu di bahuku.
“Lunas?” bisiknya.
“Lunas.”
“Berarti kita nggak perlu nikah di KUA.”
“Nggak perlu.”
“Sayang banget. Aku udah nyiapin baju buat KUA.”
Malam itu aku mencetak daftar dua belas cabang, mengambil spidol hijau dari laci Gita, dan mencoret nama-nama itu satu per satu di Meja Tujuh, sementara Om Rudi duduk di sebelahku dan menghitung bersamaku dengan suara pelan. Di nama kedua belas, Dago, Om Rudi mengambil spidol itu dari tanganku.
“Biar Om,” katanya. “Yang ini Om yang harus nyoret.”
Ia mencoretnya. Tangannya gemetar. Garisnya tidak lurus.
Aku membingkai kertas itu dengan garis yang tidak lurus itu.
Jam tujuh pagi, kamar ganti di lantai dua rumah Nene penuh laki-laki.
Akad akan dilaksanakan jam sembilan di ruang tengah rumah Nene. Resepsi jam sebelas, di kebun Bumi Ni Dewi Dago, di antara saung-saung. Nene yang memutuskan semua itu, dengan satu kalimat di grup BND Pusat Sadayana: Akad di imah. Resepsi di kebon. Nu teu satuju, masak sorangan.
Tidak ada yang tidak setuju.
Untuk akad, aku memakai jas abu-abu gelap, kemeja putih, dan dasi. Nene yang meminta. “Akad mah make jas. Ambéh siga jalma nu boga kantor.” Untuk resepsi nanti, aku akan berganti dengan beskap putih dan bendo, seperti di lamaran.
Masalahnya ada di dasi.
Aku sudah mencoba mengikatnya empat kali. Empat kali hasilnya sama, simpul yang terlalu besar di satu sisi, dan ujung yang terlalu pendek di sisi lain. Aku membuka laptop, mencari video tutorial, dan mencoba kelima kalinya sambil melihat layar.
Hasilnya lebih buruk.
“Gila,” kata Ervan dari sofa. Ia memakai beskap hitam, jarik, dan sandal jepit I ♥ MAKASSAR, karena sepatunya, katanya, masih di mobil, nanti gue ambil, ini lagi pemanasan kaki. “Lo bisa nyusun restrukturisasi utang dua puluh tiga miliar dalam empat hari, tapi lo nggak bisa ngiket dasi?”
“Itu beda.”
“Beda apanya?”
“Utang ada datanya. Dasi nggak ada.”
“Ada! Barusan lo nonton YouTube!”
“Videonya terlalu cepat.”
Ervan menutup wajah dengan dua tangan. “Ya Allah. Ini laki-laki yang nikahin sepupu gue.”
Pintu kamar ganti terbuka.
Om Rudi masuk dengan kemeja batik parang yang baru dan peci hitam. Ia memandangi Ervan di sofa, memandangi laptop dengan video tutorial yang masih berputar, lalu memandangi leherku.
Ia diam selama beberapa detik. Lalu ia tertawa. Tawa yang pelan dan panjang, yang sudah lama tidak kudengar dari mulutnya.
“Masih kayak tali sepatu,” katanya.
Ia berjalan ke arahku, berdiri di depanku, dan melepas simpul dasiku dengan dua tangan. Jarinya cekatan. Ia membalik dasi itu, menyilangkan ujung yang lebar di atas ujung yang sempit, memutarnya sekali, memasukkannya ke lingkaran di leher, lalu menariknya turun ke simpul di depan.
Persis seperti di toilet Balairung UI, bertahun-tahun lalu, waktu aku memakai toga pinjaman dan sepatu pantofel yang solnya sudah lepas sebelah, dan ia tertawa karena aku mengikat dasi seperti tali sepatu.
“Kamu tahu,” katanya pelan, tidak memandang wajahku, hanya memandang simpul di bawah daguku, “waktu itu Om iri sama kamu.”
“Om udah bilang.”
“Om tahu. Om bilang lagi.” Ia merapikan simpul itu, menariknya sedikit ke atas, menekan lipatannya dengan jempol. “Om iri. Tapi Om tetap ngiketin dasi kamu. Dan Om nulis surat rekomendasi itu. Dan semua yang Om tulis di surat itu bener.”
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku sedang tidak bisa dipakai.
Ia menurunkan kerah kemejaku, merapikannya di atas dasi, lalu menepuk dadaku dua kali.
“Ini terakhir kalinya Om ngiketin dasi kamu,” katanya. “Mulai besok, minta ke Gita.”
“Gita nggak bisa ngiket dasi, Om.”
“Om tahu.” Ia tersenyum. “Makanya kalian harus belajar bareng. Itu namanya nikah.”
Ia keluar dari kamar ganti. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar, membelakangiku, dan aku melihat bahunya naik turun sekali. Lalu ia pergi.
Ervan, dari sofa, sedang menangis ke lengan beskapnya.
“Van.”
“Diem. Gue lagi pemanasan.”
Jam delapan, aku turun ke ruang tengah dan melihat siapa saja yang datang.
Ruang tengah rumah Nene sudah dikosongkan. Karpet merah tua digelar di lantai, dan di tengahnya ada meja kecil yang ditutup kain putih, tempat penghulu akan duduk. Di sekelilingnya, orang-orang sudah duduk bersila.
Dan di teras, di halaman, di sepanjang jalan masuk sampai ke gerbang, ada lebih banyak orang lagi.
Bus pariwisata berwarna kuning parkir di depan gerbang. Di kaca depannya ada kertas yang ditempel dengan selotip: ROMBONGAN YAYASAN CAHAYA HARAPAN — CIMAHI. Kak Kanaya yang menyewanya. Tiga puluh satu anak turun dari bus itu dengan baju koko dan gamis yang seragam, warna hijau sage, warna yang dipilih Gita. Mereka berbaris di halaman dengan rapi, dipimpin oleh perempuan tua yang berjalan sedikit pincang dengan tongkat kayu.
Bu Nining.
Ia melihatku di teras. Ia berhenti berjalan. Lalu ia mengangkat tangan dan melambai, lambaian kecil dari jauh, seperti lambaian yang dulu ia berikan setiap pagi dari jendela dapur panti waktu aku berangkat sekolah dengan sepatu yang sudah kekecilan.
Aku turun dari teras dan berjalan ke arahnya. Aku mencium tangannya. Tangannya masih bau bawang putih. Tangannya selalu bau bawang putih.
“Kasep,” katanya, memegangi pipiku dengan dua tangan. “Kasep pisan. Ibu teu percanten. Anu kapungkur nangis di gudang gara-gara telur kurang hiji.”
“Bu.”
“Ibu inget, Rief. Ibu inget sadayana.” Matanya basah. “Bu Rahmah pasti bungah pisan ayeuna.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya memeluknya, hati-hati, karena badannya sekarang kecil sekali.
Di belakang Bu Nining, seorang anak laki-laki berumur kira-kira enam tahun memandangiku dengan mata bulat.
“Ini Om yang di TikTok?” tanyanya.
“Iya, Kenzi,” jawab Bu Nining. “Ieu Om Arief. Anu kapungkur cicing di panti. Siga Kenzi.”
Anak itu memandangiku dari atas sampai bawah. Jas, dasi yang diikat Om Rudi, sepatu yang disemir Pak Darto semalam.
“Om dulu tinggal di panti?”
“Iya.”
“Terus sekarang nikah sama yang cantik itu? Yang di video?”
“Iya.”
Ia berpikir sebentar. Lalu ia mengangguk dengan serius, seperti orang dewasa yang sedang menyetujui kontrak.
“Oke,” katanya. “Berarti aku juga bisa.”
Aku berjongkok di depannya, sampai mata kami sejajar.
“Bisa,” kataku. “Kamu bisa.”
Yang datang bukan hanya rombongan panti.
Pak Sutomo datang dengan kemeja batik yang terlalu besar dan kamera saku, dan langsung memotret semua orang seperti sedang mengumpulkan barang bukti. Dimas datang dari Jakarta dengan kereta cepat paling pagi, memakai jas yang sama dengan yang ia pakai di wisuda S2 kami, dan menepuk punggungku keras sekali. “Gila, Rief. Dari kantin FEB sampai sini.” Ceu Imas dari Cikole datang dengan rombongan tetangganya dan dua termos bandrek, karena katanya “Ceu Imas nu mimiti nyarios. Ceu Imas kedah aya.” Ma Icih dari pasar datang dengan karung kecil berisi cabai rawit, yang ia serahkan ke Mang Ujang dengan khidmat seperti seserahan. “Kanggo sambel panganten. Gratis. Sakali ieu wungkul.”
Bi Enok dari Garut, dengan si Neng yang sekarang sudah bisa berlari dan langsung mengejar kucing dapur. Pak Encep dan Neng Lilis. Teh Yuyun dari Tasik. Kang Usep dan Dini dari Lembang. Kang Dadang dari Pangandaran, yang kali ini tidak menyetir lima jam semalam, karena ia datang sejak kemarin sore dan tidur di saung.
Empat puluh tujuh cabang mengirim perwakilan. Grup BND Pusat Sadayana mengirim tiga ratus dua belas pesan sejak jam lima pagi, sebagian besar berupa foto sambal.
Lalu ada keluarga Sastrawidjaya. Papa Gunawan dengan beskap cokelat dan, di bawah jarik, sandal jepit I ♥ MAKASSAR yang sama dengan milik Ervan. Mama Liliana dengan kebaya ungu muda, yang langsung dibawa Nene ke kursi di sebelahnya dan tidak dilepas lagi. Dan Bryan, dengan jas hitam, dasi yang untuk pertama kalinya lurus sempurna, dan tabung pemadam api kecil di tangan kiri.
“Mas Bryan,” kataku. “Ini akad nikah.”
“Saya tahu, Pak Arief.” Ia menegakkan punggung. “Ada kompor di kebun. Ada tiga puluh satu anak kecil. Ada Pak Ervan.” Ia menepuk tabung itu. “Ini protokol.”
Aku tidak bisa membantah logikanya.
Lalu Kak Kanaya keluar dari kamar tamu.
Kebaya hijau sage, warna yang sama dengan seragam anak-anak panti. Rambutnya disanggul rendah. Riasannya tipis. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kardus yang diikat dengan pita merah. Kotak itu ia letakkan di meja dekat pintu kebun, dan ia memandanginya sebentar, seperti memastikan kotak itu tidak akan kabur.
“Itu apa, Kak?”
“Nanti.”
“Kak.”
“Nanti, Rief. Kamu fokus sama ijab kabul. Jangan sampai salah sebut nama.”
“Aku nggak akan salah sebut nama.”
“Kakak udah latihan sama Bryan semalam, jaga-jaga kalau kamu salah sebut nama. Kakak bisa bisikin dari belakang.”
“Kak. Aku nggak akan salah.”
Ia memandangiku, dari atas ke bawah. Ia merapikan dasiku, padahal dasiku sudah rapi, karena Om Rudi yang mengikatnya. Lalu ia menepuk pipiku dua kali.
“Kakak tahu,” katanya. “Kamu nggak pernah salah.”
Matanya merah. Mama Liliana benar. Ia pasti menangis. Riasannya yang tipis itu tidak akan bertahan sampai jam sepuluh.
Jam sembilan tepat, aku duduk di depan meja kecil berkain putih, berhadapan dengan Om Rudi.
Di sebelah kananku duduk Ervan, sebagai saksi dari pihakku, dengan sandal jepit yang sudah diganti sepatu, kali ini sungguhan. Di sebelah kiri Om Rudi duduk Uwa Haris, sebagai saksi dari pihak Gita, dengan blangkon yang sama dengan di lamaran. Di antara kami, penghulu dari KUA Coblong, seorang bapak tua berkacamata tebal yang sudah menikahkan, katanya, empat ribu pasangan, dan tidak pernah sekali pun melihat calon pengantin pria yang memegang kertas berisi teks ijab kabul dengan dua tangan seperti sedang memegang laporan keuangan.
“Tidak usah dibaca, Mas,” katanya lembut. “Dihafal saja.”
“Sudah saya hafal, Pak.”
“Kenapa kertasnya dipegang?”
“Data, Pak.”
Penghulu itu memandangiku, lalu memandangi Ervan, yang mengangguk dengan wajah dia memang begitu, Pak, maklumi saja.
Gita belum keluar. Menurut adat, ia menunggu di kamar sampai ijab kabul selesai. Tapi grup ArGi REBORN memberitahuku, lewat pesan dari Bi Ratna yang dikirim tiga detik sebelum aku duduk, bahwa ia sedang duduk di anak tangga paling atas, di balik dinding, dengan Mama Liliana dan Tante Lusi di kanan-kirinya, mendengarkan.
Penghulu membacakan khotbah nikah. Ruangan hening. Di belakangku, aku bisa mendengar napas Kak Kanaya. Aku tahu itu napasnya. Aku tahu dari jarak tiga meter, dengan seratus orang di ruangan.
Lalu Om Rudi mengulurkan tangan kanannya.
Aku menjabatnya.
Tangannya dingin. Tanganku juga. Kami berdua gemetar, dan kami berdua tahu itu, dan tidak ada yang menyebutnya.
Om Rudi menarik napas.
“Saudara Arief bin Abdullah.” Nama ayah yang tidak pernah kukenal, yang ditulis Bu Rahmah di surat keterangan panti karena aku datang tanpa akta. “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Anggita Sekar Wardhani binti Rudi Wardhana, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat delapan belas gram, dibayar tunai.”
Aku tidak melihat kertas di tanganku.
“Saya terima nikah dan kawinnya Anggita Sekar Wardhani binti Rudi Wardhana dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Satu napas. Tidak ada jeda.
Penghulu menoleh ke kanan. “Saksi?”
“Sah,” kata Uwa Haris.
Penghulu menoleh ke kiri. “Saksi?”
Ervan membuka mulut. Ia sudah latihan, aku tahu. Ia sudah latihan satu kata ini selama seminggu, di depan cermin, di mobil, di toilet Exo Tower, menurut laporan Bryan.
Yang keluar dari mulutnya adalah, “SAH, PAK! SAH BANGET! SAH SEMPURNA!”
Satu detik hening.
Lalu ruangan itu meledak.
Teh Euis berteriak alhamdulillah begitu keras sampai penghulu melepas kacamatanya. Mang Ujang, dari ambang pintu dapur, mengangkat sutil ke udara seperti piala. Asep, di sebelahnya, berpegangan pada kusen pintu dengan dua tangan dan berkata dengan suara gemetar, “Abdi teu pingsan. Abdi teu pingsan. Abdi tos sarapan tilu kali.” Anak-anak panti bertepuk tangan tanpa diberi aba-aba, dan Kenzi berdiri di barisan depan sambil berteriak “OM TIKTOK SAH!”
Dan di belakangku, aku mendengar satu isakan kecil yang ditahan.
Aku tidak menoleh. Aku tidak perlu menoleh. Aku tahu riasan tipis itu sudah luntur.
Gita turun dari tangga.
Aku sudah melihat Gita dengan kemeja linen dan kacamata hitam di peron Stasiun Tegalluar. Aku sudah melihatnya basah kuyup di Lembang, mengantuk di mobil pulang dari Garut, menangis di atap, marah di tangga darurat, berlutut di depan Meja Tujuh. Aku sudah melihatnya dengan behel di foto lorong rumah Nene, dan dengan celemek penuh tepung waktu ia mencoba membuat kue sungguhan untuk Kak Kanaya dan gagal tiga kali.
Aku pikir aku sudah tahu seberapa cantik perempuan itu.
Aku salah.
Ia memakai kebaya putih gading dengan brokat halus yang memeluk bahunya, dan kain batik prada yang berkilau setiap kali ia melangkah. Rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang disanggul tinggi, dihiasi untaian melati yang jatuh sampai ke pinggang dan berbau manis sampai ke tempatku duduk. Di dahinya ada siger kecil berwarna emas. Kulitnya bercahaya di bawah lampu gantung ruang tengah, dan matanya, mata besar yang selalu terlalu ekspresif untuk menyembunyikan apa pun, sudah basah, sudah merah di pinggirnya, dan menatap lurus ke arahku dari anak tangga ketiga.
Ia perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Itu bukan pendapat. Itu data.
Ia turun anak tangga terakhir, berjalan melewati karpet merah tua dengan langkah pelan yang diatur Tante Lusi, dan duduk di sebelahku.
“Hai,” bisiknya.
“Hai.”
“Kamu nggak salah sebut nama.”
“Nggak.”
“Kak Kanaya udah siap-siap bisikin dari belakang.”
“Aku tahu.”
Ia menahan tawa. Bahunya bergetar. Lalu ia mencium punggung tanganku, seperti yang harus dilakukan istri setelah akad, dan bibirnya hangat di kulitku, dan aku merasakan sesuatu yang sangat besar dan sangat tenang turun ke dadaku.
Penghulu mengangguk padaku, memberi isyarat.
Aku mengangkat tangan kananku, menyentuh ubun-ubunnya, dan membacakan doa yang sudah kuhafal sejak sebulan lalu. Lalu aku membungkuk, dan mencium keningnya.
Di tempat yang sama. Di bawah garis rambut, sedikit ke kiri.
Lima bulan lalu, di sofa tua di pojok ruanganku, aku mencium kening yang sama sementara ia tertidur, karena aku tidak berani mencium yang lain. Waktu itu ia masih tunangan orang lain, dan aku masih karyawan yang beruntung.
Hari ini aku menciumnya karena ia istriku.
Ia memejamkan mata. Waktu aku menarik diri, ia membuka matanya dan berbisik, cukup pelan supaya hanya aku yang mendengar:
“Kening dulu. Nanti malam sisanya.”
Telingaku merah. Aku tahu, karena Ervan, di sebelah kananku, langsung berbisik, “Kuping lo, Rief. Kuping lo kebakar,” dan Bryan, di pojok ruangan, refleks mengangkat tabung pemadam api.
Resepsi di kebun dimulai jam sebelas, dan dalam waktu satu jam berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ada di proposal mana pun.
Nene melarang katering dari luar. “Urang boga lima puluh cabang. Masa kudu meuli dahareun batur.” Jadi semua makanan datang dari dapur Bumi Ni Dewi. Nasi liwet dalam kastrol-kastrol besar yang dijejer di sepanjang meja. Ayam goreng, gurame bakar, tahu dan tempe, sayur asem, lalapan, karedok, dan sambal dalam tujuh varian, termasuk sambal cabai Ma Icih yang dibuat Mang Ujang pagi tadi dengan takaran yang ia tolak untuk diberitahukan pada siapa pun, termasuk aku.
Tamu duduk di saung-saung, di tikar di bawah pohon pisang, di kursi plastik yang dipinjam dari tiga cabang. Anak-anak panti berlarian di antara saung, dikejar si Neng, yang dikejar Bi Enok, yang dikejar kucing dapur. Nadia, yang dulu datang membawa kamera untuk akun @nadiamakan, datang tanpa kamera kali ini dan duduk di saung bersama Teh Euis, makan dengan tangan, dan berkata pada siapa saja yang mau mendengar bahwa ia “ikut andil di sini, sedikit, tapi ikut”.
Aku dan Gita duduk di pelaminan sederhana yang dibuat dari saung paling ujung. Saung yang sama, dengan tiang kayu yang sama, tempat Gita dulu memberiku tiga lembar roti tawar dan satu lilin mati lampu, di malam ulang tahunku, ketika aku belum tahu bahwa di sebuah kamar hotel di Surabaya, kakakku menyalakan lilin yang sama.
Gita sudah berganti kebaya hijau sage, dan aku dengan beskap putih dan bendo. Bendo-ku miring sedikit ke kiri, dan Gita membetulkannya setiap sepuluh menit, dan setiap sepuluh menit, bendo itu miring lagi.
“Kenapa miring terus?” tanyanya.
“Kepalaku kayaknya miring.”
“Kepala kamu nggak miring. Kamu yang gerak terus. Kamu ngeliatin aku terus, jadi miring.”
“Itu data yang bias.”
“Itu data yang akurat, Sayang.”
Ia mengatakannya dengan santai sekali, Sayang, seperti sudah mengatakannya seribu kali, padahal ini pertama kalinya ia mengatakannya di depan orang. Aku tahu itu pertama kali, karena Teh Euis, di saung sebelah, menjatuhkan sendok.
Jam satu siang, Kak Kanaya berdiri di depan saung pelaminan dengan mikrofon di tangan.
Ervan sudah memberi sambutan sebelumnya, yang terdiri dari empat peribahasa yang salah dan satu cerita tentang kucing yang sebaiknya tidak pernah diceritakan di pernikahan. Uwa Haris sudah memberi sambutan dalam bahasa Sunda halus yang membuat Nene mengangguk-angguk. Om Rudi sudah memberi sambutan yang hanya terdiri dari tiga kalimat, karena di kalimat keempat ia menangis dan Tante Lusi mengambil mikrofonnya.
Sekarang giliran kakakku.
Ia berdiri dengan kebaya hijau sage. Riasannya sudah diperbaiki dua kali. Ia memegang mikrofon dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang bisa jatuh.
“Saya Kanaya,” katanya. “Saya kakaknya Arief.”
Ia berhenti. Ia tidak memperkenalkan diri dengan nama keluarga. Ia tidak menyebut Sastrawidjaya, atau Annex, atau Exo, atau Sirius. Ia hanya menyebut namanya, dan siapa dirinya bagiku.
“Saya sudah memberi pidato di banyak tempat,” lanjutnya. “Di depan investor, di depan dewan direksi, di depan menteri. Saya nggak pernah gugup. Hari ini tangan saya gemetar, jadi saya minta maaf kalau mikrofonnya bunyi.”
Beberapa orang tertawa pelan.
“Dua puluh empat tahun lalu, di Panti Asuhan Kasih Bunda di Cimahi, setiap hari Kamis, kami dapat satu telur dadar.” Ia memandang ke arah Bu Nining, yang duduk di saung terdekat dengan tongkat di pangkuannya. “Bu Nining yang masak. Satu telur untuk dua anak. Saya dan adik saya.”
Bu Nining mengangguk. Matanya sudah basah lagi.
“Dulu satu telur buat berdua,” kata kakakku. “Saya yang membelahnya. Selalu saya. Pakai sendok, nggak di tengah, agak miring ke kiri. Bagian yang besar buat adik saya, bagian yang gosong buat saya. Saya bilang itu aturan. Yang lebih tua makan yang gosong.” Ia tersenyum. “Itu bohong. Saya bikin aturan itu sendiri. Nggak ada aturan kayak gitu.”
Gita meraih tanganku di bawah meja pelaminan. Aku menggenggamnya.
“Adik saya tahu itu bohong. Dia tahu dari umur sebelas. Tapi dia nggak pernah protes, karena dia tahu kalau dia protes, saya bakal sedih.” Suara kakakku mulai bergetar. “Kami berdua bohong satu sama lain selama bertahun-tahun, karena kami sayang satu sama lain. Dan kebohongan itu, kebaikan itu, bikin kami terpisah empat belas tahun.”
Kebun hening. Bahkan anak-anak panti diam. Bahkan si Neng.
“Empat belas tahun saya nggak bisa nyari dia. Empat belas tahun dia nggak bisa nyari saya. Dan selama empat belas tahun itu, adik saya tumbuh jadi laki-laki yang membangun sistem untuk empat puluh tujuh cabang, yang menyelamatkan dua belas aset, yang mengurus utang dua puluh tiga miliar dalam empat hari, yang dipercaya oleh Nene Dewi dan seluruh dapur ini.” Ia memandang ke arah Mang Ujang. Mang Ujang mengangkat sutil. “Dia tumbuh tanpa saya.”
Ia menarik napas.
“Saya pikir saya sudah kehilangan bagian itu. Bagian saya membesarkan dia. Saya pikir saya terlambat.” Ia memandangku. “Tapi hari ini saya lihat dia duduk di sana, dengan perempuan yang dia pilih, dan dengan semua orang ini di sekelilingnya, dan saya sadar sesuatu.”
Ia menurunkan mikrofon sedikit, lalu mengangkatnya lagi.
“Saya nggak terlambat. Saya cuma nggak sendirian lagi. Ada Nene yang memberinya makan. Ada Mang Ujang yang memberinya dapur. Ada Bu Rahmah, yang sudah tidak ada, yang menjaganya dengan cara yang paling jujur yang ia tahu. Ada Bu Nining. Ada Om Rudi, yang mengikatkan dasinya. Ada Gita.” Ia tersenyum ke arah Gita. “Ada Gita, yang makan dari piring yang sama dengan dia di Meja Nomor Tujuh selama tiga bulan sebelum dia berani bilang apa-apa.”
Gita tertawa sambil menangis.
“Jadi hari ini saya nggak mau ngasih dia nasihat,” kata kakakku. “Dia nggak butuh nasihat saya. Dia lebih pintar dari saya. Hari ini saya cuma mau menepati satu janji.”
Ia meletakkan mikrofon di meja, lalu berjalan ke meja dekat pintu kebun, dan mengambil kotak kardus yang diikat pita merah.
Ia membawanya ke depan saung pelaminan, dan meletakkannya di pangkuanku.
“Buka,” katanya.
Aku membuka pitanya. Tanganku tidak mau bekerja dengan benar. Gita membantuku menarik ujung pita yang terakhir.
Aku membuka tutup kardus itu.
Telur.
Tiga puluh butir telur ayam, tersusun rapi di dalam dua nampan karton berwarna abu-abu. Satu kardus. Di atasnya, terselip selembar kertas surat bergaris, jenis yang dijual di koperasi sekolah, yang dilipat tiga. Tulisan tangannya bulat, tegak, sedikit menekan terlalu keras di beberapa tempat.
Aku tidak perlu membukanya. Aku sudah membacanya di gudang arsip Bumi Ni Dewi, empat bulan lalu, dengan surat Bu Rahmah di pangkuanku. Aku sudah membacanya sampai kertasnya lecek di lipatan.
Nanti Kakak beliin telur satu kardus, biar kita nggak usah bagi dua lagi.
Aku mengangkat wajah. Kakakku berdiri di depanku dengan kebaya hijau sage dan riasan yang sudah luntur untuk ketiga kalinya, dan ia tersenyum seperti anak umur enam belas tahun yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah yang sangat sulit.
“Telat empat belas tahun,” katanya. “Maaf ya, Rief.”
Aku menutup kardus itu. Aku meletakkannya dengan sangat hati-hati di samping kursi pelaminan, seperti meletakkan sesuatu yang akan pecah, karena memang akan pecah.
Lalu aku berdiri, turun dari saung, dan memeluk kakakku.
Di depan tiga ratus orang. Di depan anak-anak panti, di depan Nene, di depan keluarga Sastrawidjaya, di depan empat puluh tujuh cabang yang menonton lewat siaran langsung di grup BND Pusat Sadayana. Aku memeluknya dan aku menangis di bahunya, seperti dulu ia menangis di gudang belakang panti di antara kardus mi instan, dan aku satu-satunya yang tahu tempat itu.
Sekarang semua orang tahu.
Tidak apa-apa.
“Nggak telat, Kak,” bisikku. “Nggak telat.”
Aku tidak bisa membiarkan telur itu di dalam kardus.
Jadi aku melakukan sesuatu yang membuat Mang Ujang berteriak “PAMALI!” untuk kedua kalinya hari itu. Aku membawa kardus telur ke saung masak di pinggir kebun, tempat tim dapur memasang kompor portabel untuk menggoreng kerupuk, dan aku mengambil wajan kecil.
“AA! PANGANTEN TEU MEUNANG—”
“Mang,” kataku. “Udah sah.”
Mang Ujang membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
“Nya enggeus,” katanya akhirnya, dan menyerahkan sutil padaku dengan wajah orang yang kalah perang. “Tapi ulah kaleuleuwihan uyah.”
Aku memecahkan satu telur dari kardus. Satu saja. Sedikit garam, daun bawang yang diiris tipis oleh Asep. Minyak di wajan berbunyi. Aku memiringkan wajan supaya telurnya melebar tipis, membaliknya sekali, dan mengangkatnya sebelum pinggirnya gosong.
Tidak ada yang gosong. Tidak perlu ada yang gosong lagi.
Aku menaruh telur dadar itu di piring kaleng bermotif bunga, piring yang sama dengan piring di panti. Piring itu dibeli Gita di pasar loak Cihapit seminggu lalu, setelah mencari selama tiga hari, karena ia ingin semuanya persis.
Lalu aku mengambil sendok.
Kakakku sudah berdiri di depan saung masak. Gita di sebelahnya. Di belakang mereka, setengah tamu resepsi berkerumun, ingin tahu kenapa pengantin pria memasak telur di pernikahannya sendiri.
Aku membelah telur itu.
Bukan dua. Tiga.
Pakai sendok. Tidak di tengah. Agak miring ke kiri. Di akhir setiap potongan, sendoknya kuputar sedikit, seperti mengunci pintu.
Bagian pertama, yang paling besar, kuberikan ke kakakku.
“Aturan keluarga,” kataku. “Yang lebih tua dapet yang besar.”
Ia mengambil piring kecil itu dengan dua tangan. Ia tidak protes. Ia sudah belajar, sejak malam di penthouse, bahwa tidak semua yang diberikan harus ditolak.
Bagian kedua, ukurannya sedang, kuberikan ke Gita.
“Aturan keluarga,” kataku. “Istri dapet yang tengah.”
“Itu aturan baru,” katanya.
“Barusan dibuat.”
“Siapa yang buat?”
“Managing Director.”
Ia tertawa, dan mengambil piringnya, dan mencium pipiku di depan semua orang. Teh Euis menjatuhkan sendok lagi.
Bagian ketiga, yang paling kecil, untukku.
Aku mengangkatnya dengan sendok, dan sebelum aku sempat memakannya, sebuah suara dari kerumunan berteriak:
“WOI!”
Ervan menerobos ke depan dengan beskap hitam dan sandal jepit, karena ia sudah melepas sepatunya lagi.
“Gue mana?!”
Aku memandanginya.
“Gue saksi nikah lo! Gue juru bicara lamaran lo! Gue bawang goreng edisi terakhir! Gue ditampar Kak Kanaya demi lo! Gue mana?!”
“Van, ini tradisi.”
“Tradisi apaan! Ini telur! Gue juga suka telur!” Ia menunjuk kardus. “Itu masih ada dua puluh sembilan!”
“Itu buat Kakak.”
“KAKAK GUE JUGA!”
Ervan berhenti. Ia kelihatannya baru sadar apa yang ia teriakkan. Ia memandangi kakakku, dan kakakku memandanginya.
Kakakku, kakak kami berdua, menghela napas. Lalu ia mengambil sendok dari tanganku, membelah bagian telurnya yang paling besar sekali lagi, tidak di tengah, agak miring ke kiri, dan memberikan potongan itu ke Ervan.
“Aturan keluarga,” katanya. “Yang lebih tua bagi ke yang lebih muda.”
“Tadi katanya yang lebih tua dapet yang besar.”
“Aturannya ada pasal tambahan.”
“Siapa yang buat?”
“CEO.”
Ervan memandangi potongan telur kecil di sendoknya. Lalu memandangi kakaknya. Lalu memandangiku. Matanya memerah.
“Kecil banget,” katanya, suaranya serak.
“Mau nggak?”
“Mau.” Ia memasukkannya ke mulut. Mengunyah. Menangis. “Enak banget, anjir. Kenapa enak banget.”
“Ulah kaleuleuwihan uyah,” kata Mang Ujang dari belakang, puas.
Kami berempat makan telur dadar dari satu telur, di saung masak di pinggir kebun, di depan tiga ratus orang. Kakakku, dengan bagian yang paling besar dikurangi satu sendok. Gita, dengan bagian tengah. Ervan, dengan satu sendok yang ia kunyah sangat lama. Dan aku, dengan bagian yang paling kecil, yang rasanya lebih kenyang dari seluruh makan malam yang pernah kumakan seumur hidup.
Dari saung terdekat, Bu Nining memotret kami dengan ponsel pinjaman Kenzi. Fotonya buram. Tangannya gemetar.
Nanti foto itu akan dicetak, dibingkai, dan digantung di lorong rumah Nene, di sebelah fotoku yang berpigura mengilap, yang di bawahnya Nene tulis sendiri: Kulawarga.
Fotonya buram, tapi semua orang di foto itu tersenyum.
Malam itu, jam sepuluh lewat, setelah tamu terakhir pulang, setelah anak-anak panti naik ke bus kuning sambil melambai dari jendela, setelah Ervan tertidur di saung dengan kepala di atas karung beras dan Bryan menyelimutinya dengan jas, setelah Kak Kanaya memelukku untuk keempat belas kalinya hari itu dan berkata “Udah, sana. Istri kamu nunggu,” aku naik ke kamar di lantai dua rumah Nene.
Bukan kamar Gita. Kamar baru. Nene mengosongkan ruang kerjanya yang lama, mengecatnya ulang dengan warna putih tulang, dan memasang tirai hijau sage. “Saheulaanan,” katanya. “Nepi ka maraneh meuli imah sorangan. Atawa salawasna. Terserah.”
Gita sudah di sana. Ia duduk di pinggir tempat tidur, dengan rambut yang sudah dilepas dari sanggul, jatuh panjang dan bergelombang sampai ke pinggang, masih berbau melati. Riasannya sudah dihapus. Ia memakai kaus putih polos yang kebesaran.
Kausku.
“Itu kausku,” kataku.
“Sekarang punya bersama.” Ia memandangiku dari ujung kepala sampai kaki. “Bendo kamu masih miring.”
Aku melepas bendo itu dan meletakkannya di meja. Ia tertawa.
Lalu ia berdiri, dan berjalan ke arahku, dan berhenti tepat di depanku, cukup dekat sampai aku bisa menghitung bulu matanya kalau aku mau. Aku tidak mau menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak mau menghitung apa pun.
“Kamu berdiri di situ udah dua belas detik,” bisiknya.
“Apa?”
“Dua belas detik. Ngeliatin aku, nggak ngomong apa-apa. Kayak dulu di ruang makan, pura-pura ngecek lantai.”
“Kamu ngitung?”
“Aku belajar dari kamu.” Ia meletakkan dua tangannya di dadaku, di atas beskap putih yang belum sempat kulepas. “Kamu udah makan?”
“Udah. Telur. Sepertiga.”
“Kenyang?”
“Kenyang banget.”
“Bagus.” Ia tersenyum, senyum yang pelan dan lebar, yang membuat jantungku melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan data mana pun. “Soalnya tadi pagi aku bilang, kening dulu, nanti malam sisanya.”
Aku memandanginya. Perempuan yang turun dari kereta cepat dengan koper mint dan topi bucket, yang memesan aku di Meja Tujuh dan kutolak dengan menu itu belum tersedia, yang berlari ke mobilku dengan dua termos di pagi Garut, yang memegang tanganku di bawah hujan Lembang, yang berlutut di depanku dan berkata pasangin.
Istriku.
Aku menunduk dan menciumnya.
Bukan di kening.
Ciuman ketiga kami tidak seperti yang pertama, di atap, yang cepat dan takut dan penuh hal yang tidak boleh. Tidak seperti yang kedua, di Meja Tujuh, yang ditonton seluruh dapur dan berakhir dengan Asep pingsan. Ciuman ini pelan, dan panjang, dan tidak ada yang menonton, dan tidak ada yang perlu disembunyikan, dan tidak ada yang perlu dihitung.
Tangannya naik ke leherku. Jarinya menemukan bekas luka di alis kiriku, dan mengusapnya pelan, seperti yang selalu ia lakukan.
Aku meraih saklar di dinding di belakangnya, tanpa melepaskan bibirnya.
Lampu kamar padam.
Kali ini bukan mati lampu.
Kali ini kami yang mematikannya.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi reading
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu