Chapter Nine
Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
POV: Ravel
Aku bermimpi tentang sumur tiga malam berturut-turut sebelum aku menyadari bahwa itu mimpi yang sama.
Ini penting, karena aku bukan orang yang mengingat mimpi. Aku tidur enam jam kalau beruntung dan bangun tanpa membawa apa pun, dan selama tujuh belas tahun itu tidak pernah jadi masalah.
Malam pertama, aku bangun dengan perasaan bahwa aku lupa sesuatu.
Malam kedua, aku bangun dan menghitung langit-langit — retakan di plester, dua belas — sampai aku bisa tidur lagi.
Malam ketiga, aku bangun dan menyadari bahwa retakan di langit-langit ada tiga belas, dan bahwa aku sudah menghitungnya kemarin, dan bahwa kemarin hasilnya dua belas.
Aku menyalakan lampu dan memeriksanya.
Tiga belas.
Salah satu retakan baru, di sudut barat laut, dan tidak ada alasan retakan baru muncul di plester lama dalam satu malam kecuali gedungnya bergerak.
Aku mencatatnya. Lalu aku tidak tidur lagi sampai pagi.
“Kau kelihatan buruk,” kata Nessa.
“Terima kasih.”
“Aku tidak sedang menghina. Aku sedang melaporkan.” Dia sudah mengeluarkan bukunya. “Lingkaran hitam. Postur turun empat derajat dari biasanya. Kau salah menghitung tangga tadi.”
“Aku tidak salah menghitung tangga.”
“Kau bilang empat puluh satu. Empat puluh dua.”
Aku berhenti di ambang pintu gudang.
Nessa menunggu dengan penanya siap, seperti dokter yang sudah tahu diagnosisnya dan sedang menunggu pasiennya sampai sendiri.
“Aku bermimpi,” kataku.
“Tentang?”
“Sumur.”
Penanya berhenti.
“Well of Descent?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Tiga malam.”
Nessa menutup bukunya, yang mana bukan sesuatu yang dia lakukan, yang mana membuat perutku dingin.
“Ravel,” katanya. “Kau membaca laporan insiden.”
“Iya.”
“Berapa banyak dari laporan itu dimulai dengan seseorang bermimpi hal yang sama tiga malam berturut-turut?”
Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia bertanya. Aku sudah tahu sejak malam kedua dan aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya, yang mana adalah hal paling bodoh yang pernah kulakukan, dan yang mana adalah persis hal yang Vharen peringatkan di Lapangan Barat.
“Sembilan belas dari dua puluh delapan,” kataku.
Aku tidak melapor.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena nanti akan ada orang yang bilang aku tidak tahu, dan aku tahu.
Prosedurnya jelas. Ada di buku panduan murid, halaman sebelas: setiap murid yang mengalami mimpi berulang, halusinasi pendengaran, atau anomali persepsi lain wajib melapor ke Kantor Insiden dalam 24 jam. Ada formulir. Ada nomor ruangan.
Aku tidak pergi ke sana.
Alasannya bukan heroik. Alasannya adalah: aku non-kontrak, aku Kelas F, dan aku sudah jadi bahan pembicaraan selama tiga minggu karena satu duel. Kalau aku berjalan ke Kantor Insiden dan bilang aku bermimpi tentang sumur, ada dua kemungkinan.
Yang pertama, mereka menganggapku mencari perhatian.
Yang kedua, mereka tidak menganggapku mencari perhatian.
Aku tidak tahu mana yang lebih buruk, dan aku memilih tidak mencari tahu.
Nessa tahu aku tidak melapor. Dia tidak melaporkanku juga.
“Aku mencatatnya,” katanya, saat aku bertanya kenapa. “Kalau ini jadi masalah, catatanku akan menunjukkan tanggal pastinya. Itu lebih berguna daripada formulir.”
“Itu pembenaran.”
“Iya,” katanya. “Kau juga sedang melakukannya. Kita berdua tahu.”
Malam keempat, aku tidak tidur di kamar.
Aku tidur di perpustakaan, di lantai dua, di lorong arsip, dengan mantel dilipat jadi bantal — bukan karena aku berpikir tempat mengubah sesuatu, tapi karena aku sudah tiga jam mencoba dan gagal dan kakiku membawaku ke sana sendiri.
Mimpinya datang lebih cepat.
Aku berdiri di halaman upacara.
Bukan versi yang kuingat. Halaman itu kosong — tidak ada dua ratus tiga puluh satu orang, tidak ada petugas pencatat, tidak ada barisan penonton. Cuma batu, dan langit yang tidak punya warna tertentu, dan Well of Descent di tengah.
Aku berlutut di bibir sumur.
Aku tidak memutuskan untuk berlutut. Aku sudah berlutut sejak awal, dan sepertinya sudah lama, dan kedua telapak tanganku ada di batu.
Aku mencoba mengangkatnya.
Tidak bisa.
Bukan direkatkan. Bukan ditahan. Cuma — tidak ada perintah dari kepalaku yang sampai ke tanganku. Seperti mencoba menggerakkan jari kaki orang lain.
Aku menunggu.
Aku menunggu sepuluh detik. Standarnya lima.
Aku menunggu dua puluh. Tiga puluh. Empat puluh — dan di titik itu, di kehidupan nyata, petugas berkata cukup, dan aku mengangkat tanganku dan berjalan pergi.
Tidak ada yang berkata cukup.
Lima puluh detik. Satu menit.
Dan aku sadar, dengan jenis kesadaran yang cuma ada di mimpi, bahwa ini sudah berlangsung jauh lebih lama dari satu menit. Bahwa aku sudah di sini semalaman. Bahwa aku sudah di sini tiga malam. Bahwa mungkin aku sudah di sini sejak hari upacara dan seluruh tiga minggu terakhir adalah hal yang kubayangkan sambil berlutut.
Lututku sakit.
Itu detail yang salah. Mimpi tidak punya lutut yang sakit.
Dan lalu, dari bawah — dari jauh lebih bawah dari yang bisa dijangkau batu yang kulempar di malam ketiga —
sesuatu berbicara.
”Berapa lama kau berencana berlutut?”
Aku bangun dengan kepala membentur rak.
Bukan bangun perlahan. Bangun seperti orang yang ditarik keluar dari air. Aku duduk di lantai lorong arsip perpustakaan lantai dua, jam entah berapa, dengan napas yang keluar seperti aku baru lari, dan aku tidak bisa berhenti gemetar.
Bukan takut. Ini yang aneh.
Kalau kau bertanya padaku apa yang kurasakan di detik-detik pertama itu, jawaban jujurnya adalah: marah.
Marah yang sangat spesifik dan sangat kekanak-kanakan, jenis yang tidak pantas untuk situasi seperti ini, dan yang bentuknya kira-kira begini:
Empat puluh detik. Aku menunggu empat puluh detik di sumur itu dan kau diam saja. Sekarang?
Aku mengatakannya keras-keras. Ke lorong kosong. Dengan suara yang serak.
“Sekarang?”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja tidak ada jawaban. Aku duduk di perpustakaan jam tiga pagi berbicara ke rak buku.
Aku menekan pangkal telapak tangan ke mataku sampai ada warna, dan menghitung sampai enam puluh, dan berdiri.
Dan saat aku berdiri, aku melihat perpustakaan itu untuk pertama kalinya.
Ada benang di udara.
Itu kata yang paling dekat dan masih salah. Bukan benang; benang punya ketebalan. Ini lebih seperti — arah. Seperti kalau udara punya arus dan seseorang menaburkan debu ke dalamnya sehingga kau bisa melihat ke mana ia pergi.
Sebagian besar ruangan kosong. Tapi di beberapa tempat, arus itu padat.
Aku berjalan ke jendela. Di luar, akademi tidur.
Dan akademi itu bercahaya.
Bukan lampu. Aku bisa membedakan lampu. Ini datang dari orang — dari asrama, dari pos jaga, dari sosok kecil di menara timur yang jelas seorang penjaga malam. Setiap orang punya semacam arus di sekitar mereka, sebagian besar tipis dan pucat, beberapa lebih tebal.
Dan tiga tempat sangat terang.
Yang pertama: Arena Ketiga. Emas. Padat. Berdenyut dalam ritme yang teratur, dan aku menghitungnya tanpa berpikir dan mendapat angka yang cocok dengan repetisi tombak.
Yang kedua: atap asrama utara. Perak, jauh lebih tipis, tapi jauh lebih dalam — seperti sesuatu yang lebarnya kecil tapi tidak ada dasarnya.
Yang ketiga bukan orang.
Yang ketiga adalah Well of Descent, dan yang keluar dari sana bukan cahaya.
Aku tidak punya kata untuk itu. Warna yang paling mendekati adalah warna yang kau lihat kalau kau menekan mata terlalu keras — bukan hitam, bukan gelap, tapi sesuatu yang mata tolak untuk sebut warna.
Ia naik dari sumur dalam kolom setebal sumur itu sendiri, lurus ke atas, dan menghilang di langit.
Aku sudah lewat sumur itu ratusan kali.
Aku berdiri di sebelahnya kemarin sore.
Aku menjatuhkan bukuku.
Aku menghabiskan sisa malam itu menguji.
Bukan karena berani. Karena kalau aku berhenti dan duduk dengan perasaanku, aku akan mulai memikirkan hal-hal yang belum siap kupikirkan, dan menguji jauh lebih mudah daripada memikirkan.
Uji satu: apakah ini nyata atau kurang tidur.
Aku menutup mata selama tiga puluh detik dan membukanya. Polanya sama. Aku melakukannya enam kali. Halusinasi kurang tidur tidak stabil; ini stabil sampai ke detail.
Uji dua: apakah aku bisa mematikannya.
Ternyata bisa. Butuh sesuatu yang mirip dengan cara kau berhenti mendengar suara jam dinding — tidak menutup, cuma berhenti memberinya tempat. Butuh empat menit pertama kali. Sekitar dua detik setelah tiga puluh kali percobaan.
Uji tiga: apakah ini memberiku sesuatu.
Ini yang penting, dan jawabannya adalah tidak.
Aku mencoba menyentuh arus itu. Tidak ada. Aku mencoba menariknya, mendorongnya, memanggilnya, membentuknya. Tidak ada apa-apa. Tanganku melewatinya seperti melewati udara, karena itu memang udara.
Aku tidak mendapat kekuatan.
Aku mendapat penglihatan.
Dan aku duduk di lantai perpustakaan sampai fajar, dengan punggung ke rak, memikirkan apa yang bisa dilakukan seseorang yang tidak punya kekuatan tapi bisa melihat persis di mana kekuatan orang lain berada dan ke mana ia bergerak.
Aku sampai pada jawaban sekitar jam lima.
Jawabannya: banyak.
Jauh lebih banyak dari yang seharusnya.
Aku menguji di kelas Kamis.
Sesi latihan Kelas F, di halaman belakang gudang, Vharen mengawasi dari bangku dengan cangkirnya.
“Ilsa,” kataku. “Boleh minta tolong?”
“Hm?”
“Serang aku.”
Ilsa Rowe menoleh ke saudarinya. Ilse Rowe mengangkat bahu.
“Kau yakin?” tanya Ilsa. “Bahumu—“
“Bahuku sudah sembuh. Dan [ God of Echoes ] tidak menyakiti apa-apa. Kau cuma bikin suara.”
“Aku bikin suara yang bikin orang pusing.”
“Iya. Bikin aku pusing.”
Ilsa mengangkat tangannya.
Dan aku melihatnya — arus di sekitar dadanya berkumpul, bergerak ke bahu, ke lengan, ke telapak. Lambat. Sangat lambat, sebenarnya, sekitar setengah detik dari mulai sampai lepas, yang mana untuk [ Tier VII ] mungkin sudah cepat.
Aku melangkah ke kiri sebelum tangannya turun.
Gelombangnya lewat di sebelah kananku. Aku merasakan tepinya — telingaku berdenging sedikit — tapi pusatnya meleset satu setengah meter.
Ilsa berkedip.
“Lagi,” kataku.
Dia melakukannya lagi. Aku melangkah lagi. Lewat.
“Lagi.”
“Ravel—“
“Lagi.”
Sembilan kali. Sembilan meleset.
Di percobaan kesepuluh, Ilse ikut, dan mereka menyerang bersamaan dari dua sisi, dan aku menunduk karena kedua arus itu bertemu di atas kepalaku dan aku bisa melihat persis di titik mana.
Halaman belakang gudang jadi sangat sepi.
“Bagaimana,” kata Ilsa.
Aku membuka mulut.
Dan aku berbohong.
“Kalian menahan napas,” kataku. “Sebelum melepas. Setengah tarikan. Semua orang begitu.”
Itu benar. Itu bukan bohong secara teknis.
Itu juga bukan alasan aku bisa menghindarinya sembilan kali dari sepuluh dengan margin satu setengah meter.
Ilsa menerimanya. Ilse menerimanya. Tomas mungkin tidak mendengarkan.
Nessa tidak menerimanya.
Aku tahu karena dia tidak bertanya apa-apa. Dia cuma membuka bukunya dan menulis, dan menutupnya, dan menatapku selama tiga detik penuh dari seberang halaman.
Nessa Quill bertanya ketika dia belum tahu. Kalau dia diam, artinya dia sudah punya hipotesis dan sedang menunggu data.
Vharen memanggilku setelah semua orang pergi.
Aku sudah menduganya. Aku sudah menyiapkan tiga versi jawaban di kepalaku, diurutkan berdasarkan seberapa banyak yang harus kuberikan.
Dia tidak bertanya apa pun.
Dia duduk di bangku itu, dengan cangkir kosong, dan menatap halaman belakang yang sudah kosong, dan berkata:
“Sepuluh kali.”
“Iya.”
“Margin rata-rata satu meter empat puluh.”
Aku menoleh cepat. “Bapak menghitung?”
“Aku instruktur,” katanya. “Aku buruk dalam banyak hal. Menghitung margin bukan salah satunya.”
Dia memutar cangkirnya.
“Kau tahu berapa margin normal untuk penghindaran berbasis pembacaan gerak?” tanyanya. “Untuk yang benar-benar mahir, maksudku. Kontraktor senior. Instruktur.”
“Nggak.”
“Dua puluh sampai tiga puluh sentimeter.” Dia menatapku. “Karena pembacaan gerak itu reaktif. Kau melihat tubuh bergerak, kau memproses, kau pindah. Selalu ada keterlambatan. Yang bisa kau lakukan adalah memperkecil keterlambatannya. Kau tidak bisa menghapusnya.”
Halaman itu sepi.
“Satu meter empat puluh,” kata Vharen, “bukan reaktif.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tidak akan bertanya,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau kau berbohong, aku akan tahu, dan lalu kita berdua akan berada dalam posisi yang lebih buruk daripada sekarang.” Dia berdiri, dan sendinya berbunyi, dan dia mengaduh pelan seperti orang yang sudah biasa. “Dan karena aku sudah tahu jawabannya, kira-kira, dan aku belum siap mendengarnya keras-keras.”
“Bapak tahu?”
Vharen berjalan tiga langkah ke arah gudang, lalu berhenti.
“Sebelas tahun lalu, waktu [ God of Lanterns ] mati,” katanya, “aku kehilangan semuanya sekaligus. Skill, koneksi, semuanya. Satu malam.” Dia mengetuk lengan mantelnya, di bekas jahitan persegi panjang itu. “Kecuali satu hal.”
Dia menoleh setengah.
“Selama sekitar dua bulan setelahnya,” katanya, “aku masih bisa melihat mana.”
Halaman belakang gudang itu terasa sangat kecil tiba-tiba.
“Tidak bisa menyentuhnya,” katanya. “Tidak bisa memakainya. Cuma melihat. Ada di mana, mau ke mana, seberapa banyak.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Dua bulan, lalu hilang. Tabib bilang itu sisa. Seperti anggota badan yang sudah diamputasi tapi masih terasa gatal.”
“Dan Bapak pikir—“
“Aku tidak berpikir apa-apa,” kata Vharen. “Aku cuma sedang memberimu satu informasi, dan informasi itu adalah ini:”
Dia menatapku lurus.
“Melihat mana,” katanya, “cuma terjadi pada orang yang punya koneksi. Sebelum, sesudah, atau selama. Tidak ada kasus ketiga.”
Dia masuk ke gudang.
Aku berdiri di halaman belakang sampai matahari turun, dan aku mematikan penglihatanku, dan menyalakannya lagi, dan mematikannya, sepuluh kali, seperti orang yang menekan luka untuk memastikan masih sakit.
Kolom di atas Well of Descent terlihat dari sini.
Ia tidak bergerak. Ia tidak melakukan apa pun. Ia cuma naik lurus ke langit, sabar, seperti sesuatu yang tidak punya alasan untuk terburu-buru.
Dan aku memikirkan empat puluh detik di bibir sumur itu, tiga minggu lalu, dengan kedua telapak tangan di batu dan seluruh angkatan menonton.
Berapa lama kau berencana berlutut?
“Aku tidak berlutut,” kataku, ke halaman kosong.
Angin naik dari arah sumur.
Dan aku tidak tahu — aku tidak akan tahu sampai jauh, jauh nanti — bahwa itu bukan pertanyaan retoris.
Bahwa itu adalah pertanyaan yang sudah diajukan seseorang selama delapan belas ribu tahun, ke bawah, ke dirinya sendiri, di dasar sesuatu yang tidak punya dasar.
Dan bahwa aku adalah orang pertama yang menjawabnya.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut reading
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku