Chapter Eight
Peringkat Satu dan Dua
POV: Ravel
Duel Tahunan bukan duel wajib.
Duel wajib itu untuk semua orang, undian acak, di Arena Kedua, dan tidak ada yang menganggapnya penting kecuali orang yang kalah. Duel Tahunan adalah peringkat satu melawan peringkat dua, di Arena Utama, sekali setahun, dan seluruh akademi berhenti beroperasi selama dua jam untuk menontonnya.
Tiket tidak ada. Tempat duduk siapa cepat.
Nessa membangunkan kami jam empat pagi.
“Ini gila,” kata Ilse Rowe, di gerbang Arena Utama, dalam gelap, dengan selimut di bahu.
“Ini efisien,” kata Nessa. “Kapasitas Arena Utama dua ribu delapan ratus. Populasi akademi termasuk staf: empat ribu seratus. Kalau kita datang jam tujuh kita berdiri di lorong.”
“Kita datang jam empat.”
“Dan kita duduk di baris ketiga.” Nessa menunjuk. “Kau boleh tidur di kursinya. Aku sudah bawa bantal.”
Dia benar-benar sudah bawa bantal. Enam. Dia sudah menghitung kami.
Arena Utama penuh pada pukul tujuh lewat lima belas.
Aku belum pernah melihat empat ribu orang di satu tempat. Suaranya bukan suara — lebih seperti tekanan, sesuatu yang menempel di kulit. Ada penjual makanan yang tidak seharusnya ada. Ada dua orang di baris atas yang membawa spanduk bertuliskan SOLARIS dalam huruf yang jelas dibuat semalam.
Tidak ada spanduk untuk Selene.
Aku memperhatikan itu, dan aku berharap aku tidak memperhatikannya, karena begitu kau memperhatikan sesuatu kau tidak bisa berhenti.
“Nessa.”
“Hm.”
“Rekor mereka berdua.”
Dia sudah membuka bukunya sebelum aku selesai bertanya.
“Duel Tahunan berlangsung sejak seratus dua puluh tahun lalu. Peringkat satu menang sembilan puluh satu kali dari seratus dua puluh.” Dia membalik halaman. “Tapi itu tidak relevan. Yang relevan: Freya Solaris dan Moona Selene sudah bertanding satu sama lain sembilan puluh empat kali dalam catatan resmi pra-akademi. Kompetisi regional, ujian rumah, seleksi. Sejak umur sebelas.”
“Sembilan puluh empat kali?”
“Sembilan puluh empat.”
“Skornya?”
Nessa menutup bukunya.
“Empat puluh tujuh,” katanya. “Empat puluh tujuh.”
Aku menoleh.
“Kau bilang seri?”
“Aku bilang empat puluh tujuh, empat puluh tujuh.” Dia menatap arena. “Dalam sembilan puluh empat pertandingan selama enam tahun, tidak satu pun dari mereka pernah unggul lebih dari dua kemenangan berturut-turut.”
“Itu—“
“Secara statistik hampir mustahil, iya.” Nessa membuka bukunya lagi, membalik ke halaman yang sudah dia siapkan sebelumnya, karena tentu saja dia sudah menyiapkannya. “Aku sudah menghitung probabilitasnya. Kalau dua orang punya kemampuan yang benar-benar setara, distribusi seperti ini terjadi sekitar satu banding tiga ribu.”
“Jadi mereka tidak setara.”
“Jadi salah satu dari mereka,” kata Nessa, “sedang menyesuaikan diri dengan yang lain.”
Terompet berbunyi.
Mereka masuk dari dua sisi berlawanan.
Freya dari timur, dengan matahari di belakangnya, yang aku yakin bukan kebetulan karena jadwalnya diatur manusia dan manusia menyukai hal seperti itu.
Moona dari barat, dan tidak ada yang di belakangnya, dan setengah arena masih menonton Freya saat dia sudah sampai di tengah.
Wasit membaca aturan. Dua ronde atau sampai satu pihak tidak bisa melanjutkan. [ Stage 2 ] diizinkan. [ Stage 3 ] dilarang, dan ada tiga instruktur berdiri di pinggir arena khusus untuk memastikan itu, yang mana memberitahuku sesuatu tentang seberapa serius orang menganggap Full Sync.
Keduanya mengangguk.
Lalu Freya berkata sesuatu — pendek, tidak terdengar dari baris ketiga — dan Moona menjawab dengan sesuatu yang lebih pendek, dan Freya tertawa.
Empat ribu orang, dan aku curiga aku salah satu dari sedikit yang melihatnya, karena itu berlangsung kurang dari satu detik dan karena sebagian besar orang tidak menonton wajah.
“Nessa.”
“Aku lihat.”
“Mereka—“
“Iya,” katanya. “Ini menarik.”
[ DUEL — BEGIN ]
Yang pertama kupikirkan adalah: oh.
Bukan kagum. Bukan takut. Cuma penyesuaian mendadak dari sesuatu yang kukira aku pahami ke sesuatu yang ternyata jauh lebih besar.
Aku sudah melihat Freya berlatih. Aku sudah melihat kontrol yang tidak menghasilkan bunyi, dan aku mengira itu adalah puncaknya.
Itu bukan puncaknya. Itu rem.
[ Stage 2 — God Weapon: MERIDIAN ]
Tombak itu terbentuk di tangannya bukan dengan kilatan atau ledakan. Ia hanya ada, seperti sesuatu yang sudah selalu di sana dan baru sekarang boleh dilihat. Dan begitu ia ada, suhu di Arena Utama naik.
Aku tidak berlebihan. Empat ribu orang, dan aku bisa mendengar gelombang suara mereka bergeser saat kulit mereka merasakannya bersamaan.
Freya melangkah maju satu kali dan sepertiga arena menjadi putih.
Bukan cahaya yang menyilaukan. Cahaya yang padat — sesuatu yang punya berat, yang mendorong debu keluar dari jalurnya, yang membuat batu arena berubah warna di tempat ia lewat.
Dan Moona tidak ada di sana lagi.
[ Stage 2 — God Weapon: VESPERBIND ]
Busur tanpa tali.
Aku memperhatikannya selama tiga detik penuh sebelum aku sadar apa yang salah dengannya. Bentuknya lengkung, seperti busur, tapi di antara dua ujungnya tidak ada apa-apa. Bukan tali transparan. Bukan tali cahaya. Kosong.
Moona mengangkatnya dan menarik udara.
Dan sesuatu menembus bahu kanan Freya.
Aku tidak melihat panahnya. Aku menonton dengan mata terbuka, dari baris ketiga, dan aku tidak melihat apa pun bergerak di antara mereka.
“Nessa. Apa yang—“
“Aku tidak tahu.”
“Kau selalu tahu.”
“Aku tidak tahu,” katanya lagi, dan suaranya berubah, dan aku menoleh dan melihat dia mencatat dengan tangan yang bergerak lebih cepat dari yang pernah kulihat.
Freya berputar dengan tombaknya. Cahaya padat itu menyapu setengah lingkaran, dan tempat Moona berdiri sepersekian detik lalu berubah jadi kaca.
Kaca. Batu arena, meleleh dan mengeras, dalam waktu kurang dari satu detik.
Moona sudah di belakangnya.
Duel itu berlangsung empat menit lima belas detik, dan aku akan mencoba menjelaskannya, tapi aku tahu sejak awal bahwa aku akan gagal.
Bukan karena terlalu cepat. Aku bisa mengikuti cepat.
Karena ini adalah dua orang yang sudah tahu segalanya tentang satu sama lain, dan menonton mereka bertarung seperti menonton percakapan dalam bahasa yang kau tidak bisa, tapi yang jelas sekali sedang dipahami sempurna oleh kedua pihak.
Freya menyerang ke kiri. Moona sudah ke kanan sebelum tombaknya bergerak.
Moona menembak dari sudut mati. Freya sudah menaikkan bahunya.
Tidak ada satu pun serangan yang mengejutkan. Tidak ada satu pun yang gagal. Setiap gerakan dijawab dengan gerakan yang tepat, dan hasilnya adalah kebuntuan yang semakin lama semakin brutal, karena satu-satunya cara maju adalah dengan memberi lebih banyak.
Menit ketiga, Arena Utama sudah tidak lagi terlihat seperti arena.
Sisi timur jadi kaca. Sisi barat jadi lubang-lubang sempurna sebesar kepalan, ratusan, di lantai, di dinding, di kursi kosong barisan bawah yang untungnya sudah dikosongkan.
“Aku mengerti,” kata Nessa tiba-tiba.
“Apa?”
“Panahnya.” Dia menunjuk dengan penanya. “Dia tidak menembak panah. Dia menembak jarak.”
“Apa?”
“Lihat lubangnya. Semua lubang di dinding — tidak ada satu pun proyektil di dalamnya. Tidak ada sisa. Batunya tidak pecah, batunya hilang.” Nessa berbicara sangat cepat sekarang. “Dia membidik dua titik dan menghapus ruang di antaranya. Apa pun yang ada di ruang itu ikut terhapus.”
Aku menatap arena.
“Itu artinya dia tidak bisa meleset.”
“Itu artinya dia tidak bisa meleset,” kata Nessa. “Yang mana membuat pertanyaannya jadi: kenapa dia belum menang?”
Aku menemukan jawabannya di menit ketiga lewat lima puluh detik.
Moona membidik.
Untuk pertama kalinya sepanjang duel, dia berhenti bergerak — benar-benar berhenti, kedua kaki menapak, busur terangkat penuh — dan dia membidik dada Freya.
Freya tidak menghindar.
Ini bagian yang membuatku berdiri dari kursi.
Freya Solaris melihat busur itu terangkat ke dadanya, dan dia melangkah maju.
Dan Moona menembak ke bahu.
Bukan dada. Bahu. Bahu yang sama yang sudah dia tembus di detik kesembilan.
Freya menghantamnya dengan tombak dari jarak dua meter dan Moona terlempar ke dinding barat dan Arena Utama meledak dalam suara.
“Dia meleset,” teriak seseorang di belakangku.
“Dia tidak meleset,” kataku, ke tidak ada siapa-siapa.
Nessa menoleh padaku.
“Kau lihat juga,” katanya.
“Empat puluh tujuh, empat puluh tujuh.”
“Empat puluh tujuh, empat puluh tujuh,” ulangnya pelan.
[ DUEL — END ] [ Winner: Freya Solaris ] [ Duration: 4:15 ]
Empat ribu orang berdiri dan berteriak nama dewa.
Aku duduk dan menonton dua orang di tengah arena yang hancur.
Freya berjalan ke dinding barat. Bukan berlari, tapi cepat. Tombaknya sudah hilang sebelum dia sampai setengah jalan.
Moona duduk bersandar di dinding, satu tangan di rusuk, dan dia mengatakan sesuatu, dan Freya menjawab, dan Moona menjawab lagi.
Lalu Freya mengulurkan tangan.
Dan Moona tidak mengambilnya — dia menepisnya, pelan, dan bangun sendiri, dan Freya membiarkannya, dan berdiri di sana sampai dia berdiri.
Lalu mereka berjalan keluar berdampingan, dan sepanjang jalan menuju gerbang, aku bisa melihat mulut mereka bergerak.
Mereka mengobrol.
Dua orang yang baru saja mengubah lantai batu jadi kaca, berjalan keluar dari arena sambil mengobrol seperti dua orang keluar dari kelas.
Aku melihat mereka lagi tiga jam kemudian.
Aku sedang di jalur belakang kantin — jalur yang dipakai orang untuk menghindari antrean utama, yang kutemukan di minggu kedua — dan aku berbelok dan hampir menabrak dua orang yang duduk di anak tangga.
Freya Solaris dan Moona Selene, di tangga belakang kantin, dengan dua mangkuk sup di pangkuan masing-masing.
Perban di bahu Freya. Perban di rusuk Moona.
Mereka berhenti bicara saat aku muncul.
“...Maaf,” kataku, dan mulai mundur.
“Ravel,” kata Freya.
Aku berhenti.
“Kau menonton?” tanyanya.
“Baris ketiga.”
“Baris ketiga,” ulang Moona. “Jam berapa kalian datang?”
“Empat.”
Moona menoleh ke Freya. “Empat.”
“Aku dengar.”
“Ada yang datang jam empat.”
“Aku dengar, Moona.”
Dan Moona mengangkat sendoknya ke arahku seolah menunjuk barang bukti. “Ini yang kubilang. Ada empat ribu orang di sana dan kau berpikir mereka datang buat lihat kalian berdua.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Kau tidak perlu bilang. Kau berjalan masuk dengan matahari di belakangmu.”
“Itu bukan aku! Itu jadwalnya!”
“Kau bisa minta ubah jadwalnya.”
“Kenapa aku harus minta ubah—“
“Karena dramatis,” kata Moona, dan menyendok supnya.
Freya membuka mulut. Menutupnya. Menoleh padaku dengan ekspresi yang jelas meminta bantuan.
Aku tidak memberikannya, karena aku sedang berusaha keras tidak tertawa dan gagal sedikit.
“Kau juga?” kata Freya.
“Aku tidak bilang apa-apa.”
“Kau membuat suara.”
“Itu bukan suara. Itu napas.”
Moona menoleh padaku dan sudut mulutnya naik seperlima.
Aku berdiri di tangga itu terlalu lama, dan akhirnya Freya menggeser dirinya sedikit ke kiri, yang mana adalah undangan yang paling tidak jelas yang pernah kuterima, dan aku duduk di anak tangga bawah karena duduk di antara mereka terasa seperti kesalahan taktis.
“Duelnya,” kataku.
“Hm.”
“Empat menit lima belas detik.”
“Iya,” kata Freya.
“Kalian bertanding sembilan puluh empat kali sebelum ini.”
Sendok Moona berhenti di udara.
“Nessa,” kata Freya.
“Nessa,” aku mengangguk.
“Perempuan itu berbahaya,” kata Moona.
“Skornya empat puluh tujuh sama,” kataku.
Tangga belakang kantin itu jadi sangat sepi.
Freya menaruh mangkuknya. Moona tidak.
“Dan kau mau tanya sesuatu,” kata Moona. Datar. Tidak menoleh.
“Iya.”
“Jangan.”
“Moona,” kata Freya.
“Nggak. Aku tahu pertanyaannya.” Moona menyendok supnya, memasukkannya ke mulut, menelan, dan seluruh proses itu memakan waktu yang terasa sangat lama. “Pertanyaannya adalah kenapa aku menembak bahu.”
Aku tidak menjawab.
“Semua orang di arena itu pikir aku meleset,” katanya. “Empat ribu orang. Termasuk wasit. Termasuk instruktur.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Dua orang tidak. Kau dan Nessa Quill.”
“Tiga,” kata Freya, pelan.
Moona diam.
“Aku juga tahu,” kata Freya.
“Aku tahu kau tahu.”
“Kau selalu melakukannya.”
“Aku tahu aku selalu melakukannya.”
“Sembilan puluh empat kali, Moona.”
“Empat puluh tujuh,” kata Moona. “Empat puluh tujuh kali aku menang. Kau tidak pernah menghitung yang itu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku melihatnya, Freya Solaris kehilangan kata-katanya bukan karena gugup, tapi karena kalah.
Aku pergi sepuluh menit kemudian, karena percakapan itu sudah bukan percakapan yang boleh kudengar dan aku sudah mendengar terlalu banyak.
Tapi sebelum aku pergi, Moona berkata satu hal lagi, dan dia mengatakannya sambil menatap mangkuknya, dan aku tidak yakin dia mengatakannya padaku.
“Kau tahu kenapa aku tidak pernah membidik dada?” katanya.
Aku menunggu.
“Karena kalau aku menang di dada,” katanya, “aku menang. Dan kalau aku menang, aku peringkat satu. Dan kalau aku peringkat satu—“
Dia berhenti.
Dia menyendok supnya, dan mengunyah sesuatu yang tidak perlu dikunyah, dan menelan.
“Nggak,” katanya. “Sudah. Lupakan.”
Freya menatapnya dari samping dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.
Aku berjalan pulang lewat halaman.
Aku melewati Well of Descent — lingkaran batu selebar sepuluh langkah, tanpa pagar, tanpa ukiran — dan aku berhenti sebentar tanpa alasan yang jelas.
Angin naik dari dalamnya.
Bukan sesuatu. Cuma angin, jenis yang naik dari lubang dalam mana pun. Aku sudah merasakannya selusin kali.
Kali ini aku berdiri di sana lebih lama dari biasanya.
Dan sesuatu yang tidak bisa kudengar, yang sudah delapan belas ribu tahun tidak bisa didengar siapa pun,
sedang menghitung langkah kakiku.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua reading
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku