Chapter One
Yang Tidak Dijawab
POV: Ravel
Ada dua ratus tiga puluh satu orang di angkatanku.
Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya dua kali, sekali di gerbang dan sekali lagi saat kami dibariskan mengelilingi sumur. Bukan karena aku peduli. Cuma karena kalau tanganku tidak melakukan sesuatu, ia akan mulai gemetar, dan aku tidak mau ada yang lihat tanganku gemetar hari ini.
Well of Descent lebih kecil dari yang orang bayangkan.
Semua orang mengira sumur tempat dewa pertama kali turun ke dunia pasti sesuatu yang megah — mulut raksasa di tengah bumi, atau pusaran cahaya, atau apa pun yang pantas ditulis di buku sejarah. Aslinya cuma lingkaran batu selebar sepuluh langkah, tanpa pagar, tanpa ukiran, di halaman tengah Akademi Sol Invictus. Airnya tidak ada. Kalau kau melempar batu ke dalamnya, kau tidak akan mendengar apa-apa.
Aku tahu karena aku sudah melakukannya, tiga hari lalu, jam dua pagi, saat tidak ada yang melihat.
Batu itu tidak pernah sampai ke dasar.
Upacaranya berlangsung sejak matahari naik. Satu per satu, urut abjad, dan namaku ada di urutan yang cukup jauh sehingga aku punya waktu empat jam untuk menonton dua ratus orang mendapatkan hidup mereka.
Prosesnya sederhana sampai membosankan. Kau berjalan ke bibir sumur. Kau berlutut. Kau menaruh kedua telapak tangan di batu. Lalu kau menunggu.
Kalau ada yang menjawab, semua orang tahu.
Anak pertama pagi itu — perempuan bertubuh besar dari distrik pertanian — mendapat [ God of Harvest — Divine Tier V ]. Batu di bawah tangannya menghijau, dan rumput tumbuh keluar dari sela-sela nat sepanjang tiga meter. Dia menangis. Ibunya di barisan penonton juga menangis. Petugas pencatat menulis sesuatu di gulungan, dan seseorang menempelkan pita hijau di lengan kirinya, dan hidupnya berubah selamanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Yang kedua tidak dijawab.
Yang ketiga mendapat [ God of Morning Mist — Divine Tier VIII ], yang membuat kabut tipis muncul setinggi lutut dan menghilang lagi sebelum siapa pun sempat kagum. Tier VIII. Salah satu yang paling rendah. Anak itu tetap tersenyum sampai pipinya kelihatan sakit, dan aku tidak menyalahkannya. Tier VIII tetap berarti ada yang menjawab.
Yang keempat tidak dijawab. Yang kelima tidak dijawab. Yang keenam mendapat [ God of Rust — Divine Tier IX ] dan seluruh gesper sabuknya hancur jadi bubuk oranye di tempat, dan tiga baris di belakangku tertawa, dan anak itu tertawa juga sambil telinganya merah.
Begitu terus. Empat jam.
Sekitar satu dari tiga ratus manusia punya kontrak. Di angkatan biasa, dari dua ratus tiga puluh satu orang, mungkin ada tujuh atau delapan. Tapi ini Sol Invictus. Semua orang di sini sudah disaring, sudah dites, sudah dibayar mahal untuk berdiri di halaman ini. Dari dua ratus tiga puluh satu, seratus sembilan puluh empat dijawab.
Aku menghitung itu juga.
Freya Solaris ada di urutan ketiga puluh dua.
Aku belum pernah bicara dengannya. Aku belum pernah bicara dengan siapa pun di sini, sebenarnya, karena aku baru tiba delapan hari lalu dan sebagian besar dari delapan hari itu kuhabiskan untuk mencari tahu di mana orang mencuci baju.
Tapi semua orang tahu Freya Solaris. Rumahnya sudah tiga generasi berturut-turut memegang kontrak yang sama, dan kalau kau bertanya pada orang di jalan siapa yang akan memegangnya generasi ini, mereka akan menyebut namanya sebelum kau selesai bertanya.
Dia berjalan ke sumur seperti orang yang sedang menuju meja kerja.
Bukan gugup. Bukan juga sombong. Cuma — datar. Punggungnya lurus dengan cara yang tidak wajar untuk anak tujuh belas tahun, seperti seseorang yang tidak pernah diajari bahwa membungkuk itu boleh. Rambutnya pirang pucat, diikat rapat, tidak satu helai pun keluar dari tempatnya.
Dia berlutut. Dia menaruh tangannya di batu.
Dan langit terbelah.
Aku tidak bermaksud puitis. Aku bermaksud harfiah: awan di atas akademi terbuka dari satu ujung ke ujung lain seperti kain yang disobek, dan yang turun dari celah itu bukan cahaya matahari. Cahaya matahari punya arah. Ini tidak. Ini datang dari segala sisi sekaligus, termasuk dari bawah, dan selama tiga detik penuh tidak ada satu pun bayangan di halaman itu. Tidak di bawah orang, tidak di bawah pohon, tidak di bawah gedung.
Bayanganku sendiri hilang dari kakiku. Aku menunduk dan melihat batu kosong tempat seharusnya ada aku.
[ SOLARIS — Divine Tier II, Sovereign ]
[ Contract Established ]
Notifikasi itu muncul di udara setinggi tiga lantai, cukup besar untuk dibaca dari luar tembok akademi. Aku mendengar orang di belakangku berhenti bernapas.
Freya berdiri. Dia menepuk debu dari lututnya — dua kali, kiri lalu kanan, gerakan yang terlalu biasa untuk momen sebesar itu — lalu berjalan kembali ke barisan.
Halaman itu meledak. Bukan tepuk tangan; teriakan. Ada yang menangis. Petugas pencatat menjatuhkan penanya. Seseorang di barisan penonton berteriak ”SOLARIS!” dengan suara yang pecah di tengah, dan lima puluh orang lain langsung ikut.
Dan Freya Solaris berdiri di tengah semua itu, menatap lurus ke depan, dan tidak seorang pun — tidak seorang pun dari dua ratus tiga puluh satu orang di halaman itu — memanggil namanya.
Mereka memanggil nama dewanya.
Aku memperhatikan itu. Entah kenapa. Mungkin karena aku tidak punya kerjaan lain selain memperhatikan.
Moona Selene ada di urutan kelima puluh delapan.
Namanya tidak berarti apa-apa untuk siapa pun. Aku tahu karena tidak ada yang bereaksi saat dipanggil — beberapa orang bahkan masih membicarakan Freya, empat puluh menit setelahnya, dan mereka tidak berhenti membicarakannya saat gadis itu berjalan ke sumur.
Dia lebih pendek dari Freya. Rambut abu keperakan, diikat asal, dua helai lepas di sisi kiri. Cara jalannya aneh — bukan pelan, tapi tanpa suara sama sekali, seperti orang yang terbiasa masuk ruangan tanpa diminta keluar. Aku sempat kehilangan dia di antara barisan dan harus mencari lagi.
Dia berlutut. Tangan di batu.
Dan seluruh bayangan di halaman itu berbalik.
Semuanya. Serempak. Bayangan dua ratus tiga puluh satu orang, bayangan tiang, bayangan atap, bayangan burung yang kebetulan lewat — semuanya berputar seratus delapan puluh derajat dalam satu tarikan napas, seolah matahari pindah ke sisi lain dunia tanpa repot-repot bergerak.
Bayanganku sendiri, yang tiga jam lalu hilang, sekarang menunjuk ke arah yang salah.
[ SELENE — Divine Tier II, Sovereign ]
[ Contract Established ]
Kali ini halaman itu tidak meledak.
Kali ini halaman itu diam.
Dua Sovereign. Di satu angkatan. Di satu hari. Aku tidak tahu banyak soal sejarah akademi ini, tapi aku bisa membaca wajah orang, dan wajah petugas pencatat itu memberitahuku bahwa apa yang baru saja terjadi tidak ada di buku panduannya.
Moona berdiri. Dia melirik sekilas ke arah barisan — ke satu titik spesifik, ke Freya — dan sudut mulutnya naik sedikit sekali. Freya membalasnya dengan gerakan yang bahkan tidak bisa kusebut anggukan. Cuma dagu yang turun setengah senti.
Mereka saling kenal, jelas. Sudah lama.
Lalu Moona kembali ke barisan, dan seseorang di dekatku berbisik, ”Bulan, ya. Ya sudah, wajar sih. Kalau ada matahari pasti ada bulan.”
Dia bilang itu seperti sedang menjelaskan cuaca.
Aku melihat Moona lagi. Dia terlalu jauh untuk mendengar. Tapi entah kenapa aku yakin dia sudah mendengar kalimat seperti itu sebelumnya, cukup sering sampai tidak perlu mendengarnya lagi untuk tahu isinya.
Namaku dipanggil di urutan seratus sembilan puluh sembilan.
“Ravel. Tanpa nama keluarga. Jalur beasiswa teknis.”
Petugas itu membacanya persis seperti itu — tanpa nama keluarga — karena memang begitu tertulis di gulungannya, dan dia mengucapkannya tanpa maksud apa-apa. Aku tetap mendengar dua orang tertawa.
Aku berjalan ke sumur.
Dua belas langkah. Aku menghitungnya.
Batu di bibir sumur lebih dingin dari yang kuduga untuk siang hari di bulan kelima. Aku berlutut. Lututku menyentuh sesuatu yang basah — bukan air, cuma sisa embun yang belum kering di sisi utara — dan aku memikirkan hal itu, tentang embun, selama beberapa detik yang panjang, karena memikirkan embun lebih mudah daripada memikirkan hal lain.
Aku menaruh kedua telapak tanganku di batu.
Lalu aku menunggu.
Beginilah rasanya.
Tidak ada apa-apa. Bukan kegelapan, bukan hening, bukan penolakan. Kalau ada penolakan, setidaknya ada yang menolak. Ini bukan itu. Ini seperti mengetuk pintu rumah yang memang tidak pernah dibangun.
Aku menunggu sepuluh detik. Standarnya lima.
Aku menunggu dua puluh. Petugas pencatat berdeham.
Aku menunggu tiga puluh, dan aku tahu — aku sudah tahu sejak delapan hari lalu, sejak bertahun-tahun lalu sebenarnya, karena aku sudah pernah mencoba di sumur-sumur kecil di distrik pelabuhan dan tidak ada yang terjadi di sana juga — tapi tetap saja ada bagian bodoh di kepalaku yang berkata sekali lagi, sepuluh detik lagi, siapa tahu yang di bawah sana lambat bangun.
Empat puluh detik.
“Cukup,” kata petugas itu. Suaranya tidak kasar. Itu yang paling buruk. Kalau dia kasar, aku bisa marah. “Berikutnya.”
Aku mengangkat tanganku dari batu.
Ada dua bekas telapak tangan di sana, berkabut, dari panas kulitku. Aku melihatnya menyusut dari pinggir ke tengah sampai hilang, dan itu memakan waktu sekitar empat detik, dan selama empat detik itu tidak ada satu orang pun di halaman yang mengeluarkan suara.
Bukan karena kasihan. Karena tidak ada yang perlu dikatakan tentang orang yang tidak dijawab. Itu bukan peristiwa. Itu cuma jeda sebelum peristiwa berikutnya.
Aku berdiri. Aku menepuk debu dari lututku — dua kali, kiri lalu kanan; aku baru sadar belakangan bahwa aku meniru gerakan Freya tanpa sengaja — lalu aku berjalan kembali ke barisan.
Dua belas langkah. Aku tidak menghitungnya kali ini. Aku lupa.
Sisa upacara berlangsung satu jam lagi.
Aku berdiri di barisan dan menonton tiga puluh dua orang terakhir mendapatkan hidup mereka. Aku tidak menangis, kalau itu yang kau pikirkan. Aku juga tidak merasa hancur. Perasaan yang sebenarnya jauh lebih membosankan dari itu: aku merasa seperti orang yang datang ke pesta pernikahan orang yang tidak dia kenal, dan sekarang harus berdiri di sana sampai acaranya selesai karena pulang di tengah akan terlihat kasar.
Yang mengganggu bukan tidak dijawabnya.
Yang mengganggu adalah aku sudah menyiapkan kalimat.
Bukan pidato. Cuma satu kalimat, untuk diucapkan dalam hati kalau ternyata ada yang menjawab, apa pun tiernya, bahkan Tier IX, bahkan God of Rust. Aku menyusunnya tiga malam lalu di ranjang asrama sambil menatap langit-langit.
Kalimatnya: ”Terima kasih sudah repot-repot.”
Konyol. Aku tahu. Tapi aku sudah menyiapkannya, dan sekarang kalimat itu tidak ada tempatnya, dan aku tidak tahu harus ditaruh di mana.
Upacara ditutup dengan Rector Halvard mengatakan hal-hal yang harus dikatakan kepala akademi. Bahwa kontrak bukan segalanya. Bahwa kerja keras menentukan lebih banyak daripada anugerah. Bahwa setiap orang di halaman ini punya tempat.
Dia mengatakannya dengan sangat baik. Suaranya bagus, jedanya tepat, dan aku hampir percaya sampai aku melihat pita-pita warna di lengan kiri semua orang di sekitarku dan menyadari bahwa akademi ini punya sistem pewarnaan untuk membedakan siapa yang dijawab dan siapa yang tidak, dan kalau kerja keras benar-benar menentukan lebih banyak, mereka tidak akan repot-repot membuat pitanya.
Lenganku kosong.
Ada tiga puluh tujuh orang lain dengan lengan kosong di halaman itu. Aku menghitung mereka juga, karena itulah yang kulakukan, dan karena entah kenapa terasa penting bahwa seseorang menghitung.
Tiga puluh tujuh.
Besok pagi, saat pembagian kelas ditempel di papan pengumuman, tiga puluh tujuh nama itu akan dibagi ke mana pun akademi biasa membuang orang.
Aku tidak tahu ke mana. Aku belum tahu apa-apa waktu itu.
Aku berjalan pulang ke asrama sendirian, dan matahari sudah miring, dan bayanganku memanjang di depanku sepuluh langkah lebih dulu dari kakiku.
Aku memperhatikannya cukup lama.
Tiga jam lalu, bayangan itu hilang karena seseorang menjawab panggilan seorang gadis pirang. Dua jam lalu, bayangan itu berbalik karena seseorang menjawab panggilan seorang gadis berambut abu. Dunia ini penuh dengan hal-hal besar yang bergerak karena ada yang memanggil dan ada yang menjawab.
Bayanganku sendiri cuma mengikuti matahari, seperti bayangan siapa pun, karena tidak ada yang istimewa tentangnya.
Aku menendang kerikil kecil di jalan setapak. Kerikilnya melompat tiga kali dan berhenti.
“Ya sudah,” kataku, ke tidak ada siapa-siapa.
Angin bertiup dari arah sumur.
Dan jauh di bawah tanah — jauh lebih jauh dari yang bisa dijangkau batu yang kulempar tiga malam lalu, di dasar sesuatu yang tidak punya dasar — sesuatu yang sudah berhenti mendengarkan selama delapan belas ribu tahun
membuka satu matanya.
- 1 Yang Tidak Dijawab reading
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku