Chapter Thirteen

Retakan Pertama

POV: Ravel


Sesuatu naik dari Well of Descent pada pukul sepuluh lewat empat puluh, di hari Rabu, di tengah sesi lapangan gabungan.

Aku ingin mencatat bahwa tidak ada peringatan.

Bukan karena tidak ada yang tahu. Rapat darurat Kantor Insiden sudah berlangsung dua hari sebelumnya. Enam keluarga besar sudah menjemput anak mereka. Angka Nessa sudah berubah dari nol ke satu.

Tidak ada peringatan karena tidak ada yang memberi tahu kami.


Sesi lapangan gabungan hari itu diadakan di halaman tengah.

Itu sendiri sudah aneh. Sesi lapangan biasanya di Lapangan Barat. Halaman tengah adalah ruang seremonial — tempat upacara kontrak, tempat pengumuman, tempat Well of Descent.

Instruktur Hedda Marr menjelaskannya sebagai “penyesuaian jadwal karena perbaikan drainase Lapangan Barat.”

Nessa mencatat itu dan menggarisbawahinya dua kali.

“Drainase Lapangan Barat diperbaiki empat bulan lalu,” katanya, pelan. “Anggarannya masuk laporan triwulan. Aku membacanya.”

“Jadi kenapa kita di sini?”

“Kalau aku jahat, aku akan bilang kita di sini supaya ada dua ratus orang di dekat sumur waktu sesuatu terjadi.” Dia menutup bukunya. “Kalau aku adil, aku akan bilang mereka menaruh kita di sini supaya ada dua ratus orang yang bisa merespons kalau sesuatu terjadi.”

“Ada bedanya?”

“Nggak banyak,” kata Nessa. “Tapi aku lebih suka yang kedua, karena yang kedua berarti seseorang berpikir.”


Aku menyalakan penglihatanku setiap sepuluh menit pagi itu.

Aturan satu — jangan pakai di depan lebih dari tiga orang — sudah kulanggar dua hari lalu dan aku sudah berhenti berpura-pura peduli.

Kolomnya masih bengkok. Miring ke barat laut. Seratnya terlalu banyak untuk dihitung.

Pada pukul sepuluh lewat tiga puluh delapan, kolom itu lurus kembali.

Aku berhenti di tengah gerakan.

“Ravel?” kata Pip.

Aku tidak menjawab. Aku sedang menatap sesuatu yang tidak ada bagi siapa pun kecuali aku, dan yang sedang melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat.

Kolom itu lurus. Lalu ia menipis — bukan berkurang, tapi berkumpul, seperti asap yang ditarik kembali ke dalam cerobong.

Dan halaman tengah jadi sangat sunyi bagi mataku, karena untuk pertama kalinya sejak malam keempat, tidak ada apa pun yang keluar dari sumur itu.

Kosong.

“Pip,” kataku.

“Iya?”

“Berapa jauh kau dari sumur?”

“Hah? Nggak tahu. Dua puluh meter?”

“Lari.”

“Apa?”

“LARI.”


Yang naik dari Well of Descent tidak punya bentuk selama sekitar dua detik pertama.

Aku sudah mencoba menjelaskannya berkali-kali sejak itu dan aku selalu gagal, karena bahasa manusia dibangun untuk benda dan itu bukan benda.

Yang paling dekat: ia adalah lubang yang berdiri.

Kolom yang tadi ditarik masuk keluar sekaligus, dan yang keluar dari batu bukan asap dan bukan cahaya. Ia setinggi tiga orang, selebar sumur, dan permukaannya adalah warna yang mata tolak untuk sebut warna.

Dua detik. Lalu ia memutuskan bentuk.

Empat kaki. Terlalu banyak sendi. Kepala yang bukan kepala — cuma ujung, tempat sesuatu berakhir, dengan sesuatu yang mungkin mulut kalau kau bermurah hati.

Halaman tengah meledak dalam suara.


Instruktur Hedda Marr bereaksi dalam satu koma dua detik, yang jujur saja mengesankan.

“FORMASI PAGAR! TIER V KE ATAS KE DEPAN! SISANYA MUNDUR KE GERBANG TIMUR!”

Dan dua ratus murid melakukan persis apa yang dilatih untuk mereka lakukan, yang mana adalah masalahnya.

Kelas C bergerak maju. Dua puluh kontraktor Tier IV sampai VI membentuk garis. Perisai naik. Dinding tanah muncul. Rantai. Kabut. Semua manifestasi yang kulihat di simulasi penahanan enam minggu lalu, sekarang dengan target yang tidak mekanis.

Aku melihatnya lewat penglihatanku, dan aku ingin berteriak.

Karena manifestasi mereka masuk ke dalamnya.

Bukan memantul. Bukan gagal. Dinding tanah bergerak ke arah makhluk itu dan menyentuhnya, dan aliran mana yang menyusun dinding itu — yang bisa kulihat, yang mengalir dari dada seorang anak Kelas C ke tangannya ke tanah — berbelok di titik sentuh, dan mengalir ke dalam makhluk itu, dan tidak keluar lagi.

Makhluk itu jadi lebih besar.

“HENTIKAN!” aku berteriak.

Tidak ada yang mendengar. Dua ratus orang berteriak.

Aku berlari ke depan.


Ini bagian yang orang tanyakan setelahnya, dan jawabannya membosankan lagi:

Aku berlari ke depan karena aku satu-satunya orang di halaman itu yang bisa melihat apa yang terjadi, dan karena aku sudah menghitung, seperti biasa, dan angkanya keluar seperti biasa.

Dua ratus orang. Satu aku.

Aritmatikanya mudah.

Aku menabrak bahu seorang anak Kelas C dan mendorongnya ke samping.

“BERHENTI MENYERANG!”

“Apa—“

“IA MAKAN MANA! SETIAP SERANGAN BIKIN DIA LEBIH BESAR!”

Anak itu menatapku. Pita merah. Tier IV. Wajah yang sepenuhnya tidak memahami kenapa anak Kelas F sedang meneriakinya.

“Siapa kau—“

Makhluk itu bergerak.

Bukan cepat. Itu yang membuatnya buruk. Ia bergerak dengan kecepatan yang wajar, hampir malas, dan garis pagar Kelas C runtuh di depannya seperti sesuatu yang tidak pernah ada.

Tiga orang terlempar. Salah satunya menghantam tiang dan tidak bergerak lagi.

Dan makhluk itu terus berjalan, dan yang ada di depannya sekarang adalah barisan mundur — Kelas D, Kelas E, dan tujuh orang dari gudang.

Pip berdiri di sana.


Aku ingin mengatakan bahwa Pip lari.

Dia lari. Itu penting untuk kucatat: Pip Harrowmere lari ke arah gerbang timur seperti yang diperintahkan, bersama Ilsa dan Ilse dan Tomas, dan dia tidak melakukan sesuatu yang bodoh.

Yang bodoh adalah Nessa jatuh.

Terinjak. Di tengah dua ratus orang yang panik. Bukunya tersebar. Dan dia mencoba bangun dan tidak bisa karena pergelangan kakinya salah bentuk.

Pip berbalik.

Delapan sentimeter. Berkilau. Dia berlari kembali ke arah sesuatu setinggi tiga orang dengan sebuah paku di tangannya, dan aku bisa melihat dari dua puluh meter bahwa dia tahu persis seberapa tidak berguna itu.

Dia tetap berlari.


Aku sampai lebih dulu.

Dua langkah. Aku sampai dua langkah lebih dulu, dan aku menendang Pip di dada — sungguh menendangnya, ke samping, cukup keras sampai dia terguling — dan aku berdiri di antara Nessa dan makhluk itu.

Aku tidak punya rencana.

Aku ingin sangat jujur soal ini karena nanti orang akan menceritakannya seolah aku punya rencana.

Aku tidak punya apa-apa. Aku punya penglihatan yang tidak bisa menyentuh apa pun, teknik yang tidak berlaku pada sesuatu tanpa sendi manusia, dan tubuh tujuh belas tahun dengan bahu yang menurut catatan medis sudah sembuh.

Makhluk itu mengangkat sesuatu yang mungkin lengan.

Dan di dalamnya — di dalam bentuk yang bukan bentuk itu — aku melihat mana yang dia makan berkumpul di ujung lengan itu. Dinding tanah anak Kelas C. Rantai. Kabut. Semuanya, dicerna dan disusun ulang, dan sekarang akan dikembalikan ke arahku sebagai satu hal.

Aku melihat persis di mana ia berkumpul.

Dan aku melakukan hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan seumur hidupku:

Aku mengulurkan tangan dan menyentuhnya.


Tidak ada ledakan.

Itu yang aneh. Tidak ada suara sama sekali.

Telapak tanganku menyentuh titik tempat mana itu berkumpul, dan mana itu —

berhenti.

Bukan padam. Bukan hancur. Berhenti pernah ada.

Aku tidak punya kata yang lebih baik. Sepersekian detik sebelumnya ada empat manifestasi Tier IV sampai VI yang dicerna dan dipadatkan di ujung lengan itu, dan sepersekian detik berikutnya tidak ada, dan yang lebih buruk — jauh lebih buruk — adalah bahwa aku tidak merasakan transisinya.

Sesuatu yang berhenti punya akhir. Kau merasakan akhirnya.

Ini tidak punya akhir. Ini cuma tidak pernah dimulai.

Makhluk itu berhenti bergerak.

Dan lalu, tanpa suara, tanpa hancur, tanpa satu pun tanda dramatis yang pantas untuk sesuatu setinggi tiga orang —

ia jatuh ke belakang ke dalam sumur.


Halaman tengah diam selama sekitar empat detik.

Aku berdiri di sana dengan tangan kanan masih terangkat.

Telapak tanganku tidak terluka. Tidak panas, tidak dingin, tidak apa-apa. Aku memutarnya dan menatapnya seperti orang bodoh.

Nessa berbicara pertama, dari lantai, dengan pergelangan kaki yang salah bentuk.

“Nol,” katanya.

“Apa?”

“Di bawah sana.” Suaranya bergetar dan wajahnya tidak. “Aku menghitung lagi. Sekarang nol.”

Lalu dua ratus orang mulai berteriak sekaligus.


Aku ditahan sebelum sempat membantu Nessa berdiri.

Bukan ditangkap. “Ditahan” adalah kata yang mereka pakai, dan mereka memakainya dengan sangat sopan, dan ada empat orang dari Pengamanan Akademi dan mereka semua Tier V ke atas.

Aku tidak melawan.

Pip melawan. Pip berteriak sesuatu tentang dia baru saja menyelamatkan dan seseorang menahannya di bahu dan dia terus berteriak sampai suaranya habis.

Mereka membawaku ke ruangan di lantai tiga gedung utama yang tidak punya nama di pintunya.

Aku duduk di sana selama tiga jam.

Aku menghitung ubin lantai. Delapan puluh empat. Aku menghitungnya empat kali dan mendapat delapan puluh empat setiap kali, yang mana melegakan dengan cara yang tidak masuk akal.


Rector Halvard masuk pada jam kedua.

Dia sendirian. Dia menutup pintu di belakangnya, dan berdiri di sana beberapa saat, dan menatapku.

Aku belum pernah melihatnya dari dekat. Tua — lebih tua dari yang terlihat di panggung. Rambut putih. Pita biru tua di lengan kiri: Tier III. Dan tangan yang, aku perhatikan, sedikit gemetar sebelum dia menyembunyikannya di belakang punggung.

“Kau menyentuhnya,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Dengan tangan telanjang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkan cara menjelaskannya. Aku tidak menemukannya.

“Karena aku bisa melihat di mana harus menyentuh,” kataku.

Rector Halvard menutup matanya.

Dia berdiri di sana dengan mata tertutup selama waktu yang cukup lama sampai aku mulai bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja.

“Berapa lama,” katanya.

“Pak?”

“Berapa lama kau bisa melihat mana.”

Ruangan itu terasa sangat kecil.

“Tujuh minggu,” kataku.

“Dan mimpinya?”

Aku merasakan sesuatu turun di perutku.

“Delapan,” kataku.

Rector Halvard membuka matanya.

Dan ekspresi di wajah orang tua itu bukan marah, dan bukan takut, dan itulah yang paling buruk.

Ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang sudah menunggu sesuatu selama bertahun-tahun dan baru saja mendengar bahwa ia sudah tiba.

“Delapan minggu,” katanya, sangat pelan. “Aku pikir aku punya waktu sampai kau lulus.”

“Pak—“

Pintu terbuka.


Kardinal Aureus Vant lebih muda dari yang kuduga.

Empat puluhan. Jubah putih dengan tepi emas, potongan sederhana, tanpa perhiasan sama sekali kecuali satu cincin. Pita di lengan kirinya biru tua — Tier III, sama dengan Rector.

Dia tidak melihatku sama sekali saat masuk. Dia melihat Halvard.

“Kau bicara padanya sendirian,” katanya.

“Dia muridku.”

“Dia kejadian.” Vant menutup pintu. “Halvard, dua ratus tiga puluh saksi melihat murid non-kontrak menghapus manifestasi tingkat Aspect dengan tangan kosong.”

“Dia menyelamatkan—“

“Aku tahu apa yang dia lakukan.” Dan Vant menoleh padaku untuk pertama kalinya. “Aku sudah membaca sembilan laporan saksi dalam dua jam terakhir dan sembilan-sembilannya cocok. Kau menyelamatkan setidaknya empat nyawa hari ini, dan aku ingin kau mendengar aku mengatakan itu, karena apa yang akan kukatakan berikutnya bukan tentang keberanianmu.”

Dia menarik kursi dan duduk di seberangku.

“Kau tahu berapa banyak bocoran Abyss yang tercatat di Sol Invictus tahun ini?” tanyanya.

“Laporan resmi bilang tiga.”

Vant berhenti.

“Laporan resmi,” ulangnya.

“Aku membaca laporan insiden,” kataku. “Semuanya. Dua belas tahun ke belakang.”

Dan Kardinal Aureus Vant menoleh ke Rector Halvard dengan ekspresi yang bisa membekukan air.

“Kau mengizinkan murid mengakses arsip insiden.”

“Arsip insiden terbuka untuk semua murid.”

“Arsip insiden membosankan untuk semua murid,” kata Vant. “Itu bukan hal yang sama.”

Dia menoleh kembali padaku.

“Angka sebenarnya sembilan belas,” katanya.

Aku merasakan wajahku berubah.

“Sembilan belas sejak awal tahun ajaran,” kata Vant. “Enam belas di antaranya tidak dilaporkan. Dan sebelum kau bertanya siapa yang menahan angkanya—“

Dia mengangkat tangannya.

“—akulah yang menahan angkanya,” katanya. “Aku, secara pribadi, dengan tanda tanganku, selama enam bulan.”

Ruangan itu sepi.

“Kenapa,” kataku.

“Karena kalau angka sebenarnya keluar,” kata Vant, “Dewan Gereja akan menutup Sol Invictus dalam dua minggu, mengevakuasi empat ribu orang, dan menyegel Well of Descent dengan seluruh isi akademi ini sebagai batu penutupnya.”

Dia melipat tangannya.

“Dan aku sudah menghabiskan enam bulan,” katanya, “mencoba menemukan alasan untuk tidak setuju dengan mereka.”


Mereka membiarkanku pergi pada jam keempat.

Tidak ada hukuman. Tidak ada catatan. Vant mengatakan sesuatu tentang “peninjauan berkelanjutan” dan Halvard tidak mengatakan apa-apa sama sekali, dan aku berjalan keluar dari ruangan tanpa nama itu ke koridor lantai tiga.

Pip menungguku di tangga.

Empat jam. Duduk di anak tangga ketujuh, dengan suara yang sudah habis, dan pakunya di tangan.

“Nessa?” tanyaku.

“Pergelangan kaki retak. Sudah dibalut. Dia marah karena bukunya ada yang hilang tiga.” Pip berdiri. “Ravel.”

“Hm.”

“Kau menendangku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkannya, dan aku tahu jawaban yang benar, dan aku memberikan jawaban yang lain.

“Karena kau di jalur,” kataku.

Pip menatapku cukup lama untuk anak yang biasanya tidak menatap siapa pun lama-lama.

“Bohong,” katanya.

Lalu dia berjalan turun tangga dan tidak menyinggungnya lagi.


Aku pulang lewat halaman tengah.

Sudah dibersihkan. Sudah dipagari. Ada empat penjaga di sekeliling Well of Descent dan lentera di keempat sisinya.

Aku berdiri di luar pagar dan menyalakan penglihatanku.

Tidak ada kolom.

Tidak ada serat.

Tidak ada apa pun sama sekali di atas sumur itu — untuk pertama kalinya sejak malam keempat, Well of Descent benar-benar kosong, seperti lubang biasa di tanah.

Dan itu jauh, jauh lebih menakutkan daripada kolom.

Karena aku sudah membaca cukup banyak untuk tahu bahwa sesuatu yang berhenti bocor bukan sesuatu yang sembuh.

Sesuatu yang berhenti bocor adalah sesuatu yang berhenti membuang, karena ia mulai menyimpan.

”Kau menyentuhku,” kata sesuatu itu.

Aku berdiri sangat diam.

Empat penjaga di sekeliling sumur tidak bergerak. Tidak ada yang mendengar apa pun.

”Delapan minggu aku bicara dan kau tidak menjawab sekali pun,” katanya. ”Lalu hari ini kau mengulurkan tangan tanpa berpikir, dan menyentuh sesuatu yang bahkan tidak kau pahami, untuk menyelamatkan seorang gadis yang mencatat angka di buku.”

Halaman itu sangat sunyi.

”Aku sudah menunggu delapan belas ribu tahun untuk salah satu dari dua hal,” katanya.

Aku seharusnya pergi.

”Yang pertama: seseorang yang cukup kuat untuk membuka.”

Aku tidak pergi.

”Yang kedua: seseorang yang cukup ceroboh untuk lupa bahwa dia tidak boleh.”

Angin naik dari sumur, dan lentera keempat penjaga bergoyang bersamaan, dan tidak satu pun dari mereka mengangkat kepala.

”Aku sudah berhenti berharap yang pertama sekitar tiga ribu tahun lalu,” kata suara itu.

Dan untuk pertama kalinya, aku menjawab.

“Siapa kau,” kataku.

Jeda.

Panjang.

”Kalau kau bertanya lagi nanti,” katanya, ”tanyakan dengan cara yang berbeda.”

“Cara apa?”

”Jangan tanya siapa aku,” katanya.

”Tanya siapa yang menaruhku di sini.”


AKHIR ARC I