Chapter Thirty Four
Kelas F, Lengkap
POV: Ravel
Corwin datang pada hari keempat puluh dua.
Aku harus menjelaskan siapa Corwin, karena aku sendiri lupa selama sebelas bulan.
Corwin adalah nama ketujuh di daftar Kelas F. Meja di sudut, dengan nama tertempel di sisinya, yang pemiliknya tidak pernah datang. Nessa menduga keluarganya menariknya semalam setelah melihat papan pengumuman.
Nessa benar.
Nessa juga tidak menduga bahwa dia akan muncul di ambang pintu gudang sebelas bulan kemudian dengan tas di bahu dan ekspresi seseorang yang sudah berlatih kalimat pembukanya di kereta.
“Halo,” katanya. “Aku Corwin.”
Gudang itu diam selama sekitar empat detik.
Lalu Pip Harrowmere berdiri dan berkata:
“KAU.”
“Aku minta maaf,” kata Corwin.
“KAU PUNYA MEJA.”
“Aku tahu.”
“MEJA ITU DI SANA SEBELAS BULAN.”
“Aku tahu—“
“AKU MENARUH BARANG DI MEJA ITU,” kata Pip, “KARENA AKU PIKIR KAU TIDAK NYATA.”
Corwin melihat ke meja sudut.
Ada tumpukan setinggi lutut di atasnya. Sebagian besar milik Pip. Ada satu sepatu yang tidak diklaim siapa pun sejak bulan ketiga.
“Aku bisa pakai meja lain,” kata Corwin.
“TIDAK BISA. NAMAMU DI SITU.”
“Pip,” kata Nessa.
“Nessa, dia punya nama di meja—“
“Pip, dia baru datang.”
Pip Harrowmere duduk kembali dan melipat tangan dan menatap Corwin dengan intensitas yang sepenuhnya tidak proporsional.
“Kau punya kontrak?” tanyanya.
“[ God of Buttons — Tier IX ],” kata Corwin.
Ruangan itu diam lagi.
“Apa yang bisa kau lakukan,” kata Nessa, sangat pelan, dengan pena sudah di tangan.
“Aku bisa mengancingkan sesuatu,” kata Corwin. “Dari jarak jauh.”
“Sesuatu apa?”
“Kancing.”
“Kancing apa saja?”
“Kancing apa saja,” kata Corwin, “selama aku bisa melihatnya.”
Nessa Quill menulis selama sekitar dua puluh detik tanpa berhenti.
“Berapa jauh?” tanya Pip, dan nadanya sudah berubah dari permusuhan jadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“Sekitar sepuluh meter.”
“Berapa kancing sekaligus?”
“Aku belum pernah mencoba lebih dari satu.”
Pip berdiri lagi.
“Tomas,” katanya. “Berapa kancing di mantelmu.”
Tomas melihat ke bawah.
“Enam,” katanya.
“Corwin.”
“Aku baru datang—“
“CORWIN.”
Kancing Tomas terkancing semua dalam waktu empat detik.
Enam kancing, sekaligus, dari jarak empat meter.
Tomas menatap mantelnya sendiri.
“Oh,” katanya.
Pip Harrowmere mengeluarkan suara yang tidak pernah kudengar dari manusia.
“Nessa,” katanya. “Nessa. Nessa.”
“Aku sudah mencatat.”
“Nessa, kalau ada orang pakai baju berkancing—“
“Aku sudah mencatat, Pip.”
“—dan kancingnya terkancing semua tiba-tiba—“
“Aku sudah mencatat.”
Corwin melihat sekeliling gudang dengan ekspresi orang yang mulai curiga bahwa dia membuat kesalahan yang sangat besar sebelas bulan lalu dan kesalahan yang berbeda hari ini.
Vharen masuk jam delapan lewat.
Dia melihat tujuh orang, berhenti, dan menghitung.
“Tujuh,” katanya.
“Iya, Pak,” kata Nessa.
“Sudah sebelas bulan tidak tujuh.”
“Iya, Pak.”
Vharen Duskmantle menatap Corwin cukup lama.
“Kau anak Harrowgate,” katanya.
“Corwin, Pak.”
“Aku tahu namamu. Berkasmu masih di lacinya sejak sebelas bulan lalu karena aku tidak pernah mengarsipkannya.” Dia menaruh cangkirnya. “Kenapa sekarang?”
Corwin berdiri.
“Aku membaca laporan Insiden Sayap Utara,” katanya.
Gudang itu jadi sepi dengan cara yang berbeda.
“Keluargaku menarikku karena Kelas F,” katanya. “Mereka bilang itu memalukan. Aku setuju waktu itu. Aku enam belas dan aku setuju.”
Dia menatap mejanya sendiri, dengan tumpukan setinggi lutut di atasnya.
“Lalu aku membaca laporannya,” katanya. “Tujuh titik bocoran. Dua ribu delapan ratus orang. Dan aku membaca daftar orang yang tidak evakuasi.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Kelas F ada di sana,” katanya. “Enam nama. Kelas A tidak. Kelas B tidak. Kelas C ada tiga.”
Vharen mengambil cangkirnya dan tidak minum.
“Jadi aku datang,” kata Corwin.
“Duduk,” kata Vharen.
Corwin duduk di kursi terdekat.
“Bukan itu. Mejamu di sudut.”
“Ada barang di atasnya—“
“Harrowmere,” kata Vharen. “Pindahkan barangmu.”
“Pak—“
“Sepatu itu juga.”
“ITU BUKAN SEPATUKU.”
“Itu sepatumu,” kata Nessa.
“BUKAN.”
“Bulan ketiga,” katanya, membuka buku lain. “Hari kesembilan. Kau kehilangan sepatu kiri di sesi lapangan dan menemukannya dua hari kemudian dan menaruhnya di meja Corwin dan berkata, aku kutip, ‘nanti aku urus.’”
Pip Harrowmere menatapnya.
“Kau mencatat sepatu.”
“Aku mencatat semuanya,” kata Nessa Quill.
Kelas berlangsung dua jam dan tidak ada yang belajar apa pun.
Sekitar jam sepuluh, Nessa mengeluarkan buku yang tidak pernah kulihat.
Sampulnya lebih tipis dari buku catatan hariannya. Sudutnya sudah lecek.
“Aku akan membacakan sesuatu,” katanya.
“Nessa,” kataku.
“Kau tidak tahu apa yang akan kubacakan.”
“Aku bisa menebak.”
“Kau bisa menebak,” katanya, “dan kau benar, dan aku tetap akan membacakannya.”
Dia membukanya.
“Catatan Kelas F, periode hari kedelapan sampai hari ketiga puluh satu bulan kesembilan,” katanya.
Gudang itu diam.
“Hari kesembilan,” bacanya. “Pip Harrowmere tidak bicara selama enam jam. Rekor sebelumnya: empat puluh menit.”
Pip menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Hari kesebelas. Tomas mengangkat empat gerobak tanpa diminta dan tidak menjelaskan kenapa. Aku tidak bertanya.”
“Nessa—“
“Hari kedua belas. Pemakaman. Pip Harrowmere menaruh pakunya di tanah di depan nisan dan berkata itu satu-satunya yang dia punya. Paku itu hilang empat menit kemudian karena paku itu selalu kembali.”
Pip tidak menurunkan tangannya.
“Hari ketiga belas,” bacanya. “Pip Harrowmere menaruh pakunya lagi.”
Gudang itu sangat sunyi.
“Hari keempat belas. Sama.”
“Nessa,” kata Pip, dari balik tangannya.
“Hari kelima belas. Sama. Hari keenam belas. Sama.”
“Nessa, cukup.”
“Hari ketiga puluh,” kata Nessa Quill, “Pip Harrowmere menaruh pakunya untuk yang kedelapan belas kali. Dia tidak melewatkan satu hari pun sejak pemakaman. Aku tidak memberitahunya bahwa aku menghitung.”
Dia menutup bukunya.
“Hari ketiga puluh satu,” katanya. “Tidak ada catatan, karena aku sedang berlari melintasi halaman dengan tongkat yang tidak kubutuhkan.”
Pip Harrowmere menurunkan tangannya.
Wajahnya basah.
“Aku tidak menangis,” katanya.
“Kau menangis,” kata Ilsa Rowe.
“AKU TIDAK MENANGIS.”
“Kau menangis sekarang.”
“Ini keringat.”
“Dari mata?”
“Mataku berkeringat,” kata Pip. “Itu kondisi medis. Nessa, catat itu.”
“Aku tidak akan mencatat itu.”
“Kau mencatat sepatu.”
“Sepatu itu nyata,” kata Nessa Quill.
Dan Pip Harrowmere, enam belas tahun, [ God of Nails — Tier IX ], menangis di gudang Kelas F sambil bersikeras bahwa dia tidak, selama sekitar empat menit, sementara Corwin duduk di mejanya sendiri untuk pertama kalinya dalam sebelas bulan dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.
Vharen menahanku setelah semua orang pergi.
Aku sudah menduga.
Dia duduk di kursinya dengan cangkirnya, dan kali ini dia minum, dan dia minum cukup banyak sehingga aku bisa mendengar bahwa botolnya sudah dibuka sebelum kelas.
“Kau tahu apa yang aku pikirkan,” katanya.
“Nggak, Pak.”
“Aku sudah sebelas tahun jadi instruktur Kelas F,” katanya. “Sebelas angkatan. Rata-rata empat orang per angkatan.”
Dia memutar cangkirnya.
“Aku hafal semua nama,” katanya. “Empat puluh tujuh orang. Aku hafal semuanya dan aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun karena kedengarannya menyedihkan.”
“Pak—“
“Empat puluh tujuh,” katanya. “Dan kau tahu berapa banyak dari mereka yang lulus?”
Aku tidak menjawab.
“Sembilan,” kata Vharen Duskmantle. “Sembilan dari empat puluh tujuh, dalam sebelas tahun.”
Dia menaruh cangkirnya.
“Dan setiap tahun aku berdiri di depan empat orang di gudang bocor dan aku bilang kurikulum kalian sama, ujian kalian sama, standar kelulusan kalian sama,” katanya. “Dan itu benar. Dan aku tahu persis apa artinya.”
Gudang itu sepi.
“Aku mau bilang sesuatu,” katanya. “Sekali. Lalu aku akan minum dan kau akan pergi dan kita tidak akan membahasnya lagi.”
Aku menunggu.
Vharen Duskmantle menatap tujuh meja kosong.
“Selama sebelas tahun,” katanya, “aku pikir tugasku adalah menemani orang sampai mereka gagal dengan cara yang tidak terlalu menyakitkan.”
Dia mengangkat cangkirnya.
“Aku salah,” katanya, “dan aku baru tahu itu tiga puluh satu hari lalu waktu enam orang menolak evakuasi dan tidak satu pun dari mereka bertanya padaku apakah boleh.”
Dia minum.
“Itu saja,” katanya. “Pergi sana.”
Aku berdiri.
“Pak.”
“Aku bilang tidak akan dibahas lagi.”
“Aku tidak akan membahasnya,” kataku. “Aku cuma mau bertanya sesuatu yang lain.”
Dia mengibaskan tangan.
“Enam perak,” kataku.
Vharen Duskmantle menoleh sangat perlahan.
“Kategori tujuh,” kataku. “‘Tidak akan.’ Enam perak.”
“Aku menuntut pengembalian.”
“Nessa cerita.”
“Aku ditolak,” katanya, “oleh anak Kelas D berumur enam belas tahun yang mengelola papan taruhan ilegal, dengan alasan bahwa taruhan berdasarkan perilaku manusia tidak bisa dibatalkan karena manusianya berubah pikiran.”
Dia minum lagi.
“Anak itu benar,” katanya, “dan itu membuatku lebih kesal daripada uangnya.”
Aku berjalan ke pintu.
“Ravel.”
Aku berhenti.
Vharen Duskmantle duduk di kursinya di gudang Kelas F yang sekarang berisi tujuh meja, dengan botol yang sudah lebih dari setengah, dan berkata:
“Berapa banyak yang kau tidak katakan pada mereka?”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Satu,” kataku.
“Besar?”
“Iya.”
“Kau akan mengatakannya?”
“Nggak.”
Vharen mengangguk pelan.
“Aku juga tidak,” katanya. “Sebelas tahun. Aku tidak pernah memberitahu Aoife berapa banyak misi yang kuambil karena angkanya.”
Dia menaruh cangkirnya.
“Dan sekarang aku duduk di gudang bocor bicara pada anak tujuh belas tahun tentang neraca,” katanya, “jadi ambil kesimpulanmu sendiri.”
Dua hari kemudian, langit turun.
Aku tidak akan menuliskan itu di sini. Itu bab berikutnya.
Yang mau kutuliskan di sini adalah bahwa pada malam terakhir sebelum semuanya, ada tujuh orang di gudang Ruang Penyimpanan Utara sampai jam sebelas, karena Pip bersikeras merayakan kedatangan Corwin, dan karena Nessa menghitung bahwa gudang itu tidak pernah terisi penuh sekali pun dalam sebelas bulan.
Kami tidak melakukan apa-apa istimewa.
Ilsa dan Ilse mendemonstrasikan [ God of Echoes ] dalam ruangan tertutup, yang mana adalah ide yang sangat buruk.
Tomas mengucapkan sembilan kata, rekor baru.
Corwin mengancingkan seluruh kancing di ruangan itu sekaligus, tiga puluh satu kancing, yang mana ternyata bisa dia lakukan sejak awal dan yang mana dia sembunyikan sepanjang hari karena dia gugup.
Pip berteriak selama sekitar dua menit.
Nessa mencatat semuanya.
Dan pada jam sebelas lewat, waktu semua orang pulang, aku berdiri sendirian di gudang dan melihat tujuh meja.
Dan aku menghitungnya.
Tujuh.
Bukan enam.
Aku ingat merasa senang soal itu.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap reading
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku