Chapter Six

Kau Kelihatan Capek Hari Ini

POV: Ravel


Ada satu koridor di Sol Invictus yang harus dilewati semua orang.

Koridor Tengah — penghubung antara sayap kelas dan sayap latihan, dua puluh delapan meter, lantai batu, jendela tinggi di sisi timur. Setiap pergantian sesi, empat ratus orang melewatinya dalam waktu enam menit.

Aku menghindari koridor itu selama dua minggu pertama karena empat ratus orang di ruang selebar lima meter adalah hal yang membuat bahuku takut.

Setelah duel, aku menghindarinya karena alasan lain.

Tapi hari itu jadwalku berubah — Vharen menukar sesi teori dengan sesi lapangan, karena alasan yang dia sebut sebagai “aku salah baca jadwalnya sendiri” — dan aku terjebak di Koridor Tengah pada pukul sepuluh lewat sepuluh, di tengah arus, dengan tas di bahu yang salah.

Dan di arah berlawanan, berjalan sendirian di jalur yang otomatis terbuka untuknya karena orang-orang minggir tanpa disadari, ada Freya Solaris.


Aku sudah melihatnya empat kali sejak malam di Arena Ketiga.

Semuanya dari jauh. Di kantin, di halaman, di papan peringkat. Dia tidak pernah menoleh dan aku tidak pernah mendekat, dan aku menganggap itu kesepakatan yang wajar antara dua orang yang pernah bicara sekali di jam sebelas malam dan tidak berniat mengulanginya.

Hari itu jaraknya lima meter, lalu tiga, lalu satu.

Dan aku melihat wajahnya.

Ada dua hal yang kulihat dan aku melihatnya sekaligus, dalam waktu kira-kira sepertiga detik, dan aku tidak sempat memutuskan apa pun tentangnya.

Yang pertama: kulit di bawah matanya. Bukan lingkaran hitam — Freya Solaris tidak diizinkan punya lingkaran hitam, dan seseorang, entah dia sendiri atau pelayan rumahnya, jelas sudah menutupinya dengan sesuatu. Tapi kulit yang ditutupi tetap kulit yang ditutupi, dan warnanya sedikit lebih rata dari sekitarnya, terlalu rata.

Yang kedua: cara dia melangkah. Jarak antar langkahnya dua sentimeter lebih pendek dari malam di Arena Ketiga. Aku tahu karena aku menghitung langkahnya waktu itu, karena tentu saja aku menghitung.

Dua sentimeter. Itu tubuh yang sedang menghemat.

Dia sudah hampir melewatiku.

Dan aku membuka mulut.


“Kau kelihatan capek hari ini.”

Empat kata.

Aku bahkan tidak berhenti berjalan. Aku mengatakannya sambil lewat, dengan volume normal, tanpa menoleh penuh — persis seperti orang mengatakan permisi atau hati-hati lantainya basah.

Aku sudah tiga langkah melewatinya ketika aku menyadari apa yang baru saja kulakukan.

Aku berhenti.

Aku berbalik.

Freya Solaris berdiri di tengah Koridor Tengah, tidak bergerak.

Empat ratus orang mengalir di sekitarnya. Beberapa menabrak bahunya dan langsung meminta maaf dengan panik dan dia tidak menjawab satu pun. Tasnya masih di tangannya. Wajahnya menghadap ke arah dia berjalan tadi, tapi kepalanya sedikit menoleh, seperti sesuatu yang berhenti di tengah gerakan dan lupa cara menyelesaikannya.

Dia menatapku.

Bukan marah. Itu yang membuatku panik. Kalau dia marah, aku tahu harus apa.

Ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang baru saja diajak bicara dalam bahasa yang dia tidak tahu dia mengerti.

“Apa,” katanya.

Tidak ada tanda tanya di ujungnya.

“...Nggak apa-apa,” kataku.

“Kau bilang sesuatu.”

“Iya.”

“Ulangi.”

Koridor itu masih penuh. Dua puluh orang terdekat sudah memperlambat langkah karena manusia bisa mencium ketegangan lebih cepat dari yang mereka akui.

“Kau kelihatan capek hari ini,” kataku.

Freya tidak bergerak.

“Kenapa kau bilang begitu.”

“Karena kau kelihatan capek.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban,” kataku. “Itu jawaban yang sama persis. Kau menanyakan kenapa dan kenapanya adalah karena itu terjadi.”

Rahangnya menegang.

Dan lalu — dan ini bagian yang tidak kuduga sama sekali — dia bertanya lagi, dan suaranya sedikit berbeda:

“Siapa lagi yang bilang?”

Aku berkedip. “Apa?”

“Hari ini.” Dia menyesuaikan pegangan tasnya. “Sejak pagi. Siapa lagi yang bilang aku kelihatan capek.”

Aku memikirkannya. Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku bisa menebak dari cara dia bertanya, dan tebakanku terasa buruk di mulutku.

“...Nggak ada?”

Freya Solaris mengangguk satu kali. Pendek. Seperti data yang diterima dan dicatat.

Lalu dia berbalik dan pergi.


Dua hari.

Dua hari penuh, dan aku tidak melihatnya sekali pun, yang secara statistik hampir mustahil di akademi seluas ini dengan jadwal yang tumpang tindih sebanyak ini, dan yang artinya dia mengaturnya.

Di hari ketiga, dia mengaturnya dengan cara yang berlawanan.


Aku pulang dari sesi lapangan jam empat sore, badan penuh lumpur, bahu berdenyut, dan menemukan Pip berdiri kaku di depan pintu gudang dengan wajah orang yang baru melihat sesuatu yang tidak bisa dia proses.

“Ravel.”

“Apa.”

“Ada—“ Dia menunjuk ke dalam. Lalu menurunkan tangannya. Lalu menunjuk lagi. “Kau harus lihat sendiri. Kalau aku jelaskan kau akan mengira aku bercanda dan aku nggak sanggup dituduh bercanda soal ini.”

Aku masuk.

Kelas F penuh.

Bukan penuh orang — penuh barang.

Ada peti kayu di meja depan, terbuka, berisi perban akademi kualitas satu, jenis yang biasanya dijatah dua gulung per murid per semester. Ada empat puluh gulung.

Ada dua lampu minyak baru di rak dinding, sudah dipasang, sudah diisi.

Ada meja baru — kayu terang, kokoh, jelas mahal — menggantikan meja comotan kantin di sudut, yang sekarang bersandar di dinding luar seperti sesuatu yang dipecat.

Ada tumpukan buku setinggi lutut di mejaku sendiri. Aku membaca punggungnya. Kompilasi Transkrip Duel — Jilid Terpilih. Salinan. Cetakan pribadi. Dua puluh dua jilid.

Dan di atas semuanya, satu amplop, dengan namaku di atasnya dalam tulisan tangan yang sangat rapi dan sangat ditekan.

Nessa sudah duduk di mejanya, mencatat.

“Sampai jam empat lewat sepuluh,” katanya, “aku menghitung dua puluh enam item terpisah. Nilai totalnya, dengan estimasi konservatif, sekitar empat bulan gaji instruktur.”

“Nessa.”

“Aku juga mencatat bahwa pengantarnya empat orang pelayan berseragam Rumah Solaris, yang tiba pukul dua lewat lima puluh, yang tidak diberi instruksi apa pun selain menaruh dan pergi, karena aku bertanya dan mereka bilang begitu.” Dia membalik halaman. “Salah satu dari mereka bertanya padaku apakah ruangan ini benar ruang kelas.”

“Apa jawabanmu?”

“Aku bilang tidak.”

Aku membuka amplopnya.

Satu lembar. Tulisan tangan yang sama.

Ini bukan karena aku peduli.

Kelas F terdaftar sebagai unit akademik aktif dan perlengkapannya di bawah standar minimum yang tercantum di regulasi akademi pasal 14 ayat 2. Aku sudah melaporkannya ke Rector dan tidak ada tindakan dalam sebelas hari. Jadi aku menanganinya sendiri. Ini efisiensi.

Bukumu dua puluh dua jilid karena itu jumlah jilid yang ada.

Jangan salah paham.

— F.S.

Aku membaca ulang tiga kali.

“Ada apa?” tanya Pip, mengintip dari balik lenganku.

Aku memberikan surat itu padanya. Dia membacanya. Dia memberikannya pada Nessa. Nessa membacanya, dan menaruhnya di meja, dan menatapku dengan ekspresi yang paling mendekati emosi yang pernah kulihat di wajahnya.

“Aku ingin memastikan sesuatu,” katanya. “Kau bicara padanya berapa kali seumur hidupmu?”

“Dua.”

“Total berapa kata?”

Aku menghitung. Aku benar-benar menghitung, di sana, di gudang, dengan lumpur di lutut.

“Sekitar seratus dua puluh,” kataku. “Sebagian besar di Arena Ketiga.”

“Dan yang di koridor?”

“Empat.”

Nessa membuka buku catatannya. Menulis sesuatu. Menutupnya.

“Aku tidak akan berpura-pura mengerti apa yang terjadi,” katanya. “Tapi aku akan mencatatnya.”


Aku menemukannya malam itu di Arena Ketiga, karena tentu saja dia ada di sana.

Jam sebelas lewat. Repetisi entah keberapa. Tanpa suara.

Aku tidak duduk di bangku kali ini. Aku berdiri di pintu.

“Ini terlalu banyak,” kataku.

Tombaknya tidak berhenti. “Regulasi pasal 14—“

“Freya.”

Tombaknya berhenti.

Aku baru sadar itu pertama kalinya aku menyebut namanya.

Dia menoleh. Cahaya di bilahnya masih menyala, dan arena itu terang, dan aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas, dan kulit di bawah matanya hari ini tidak ditutupi apa pun.

“Empat puluh gulung perban,” kataku.

“Kau akan cedera lagi.”

“Mungkin. Tapi empat puluh.”

“Aku tidak tahu berapa yang dibutuhkan orang yang cedera.” Dagunya naik setengah senti. “Jadi aku ambil semuanya.”

Itu — entah kenapa — adalah kalimat paling jujur yang pernah dia katakan padaku, dan dia mengatakannya seperti sedang membela diri.

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Sudah kutulis di surat.”

“Suratnya bohong.”

Rahangnya menegang lagi. Aku mulai mengenali gerakan itu.

“Kau memberi aku sesuatu,” katanya.

“Aku memberi kau empat kata.”

“Iya,” katanya. “Dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.”

Kami saling menatap di arena kosong itu.

“Kenapa nggak bisa?”

Dan Freya Solaris — peringkat satu, pita emas, tiga generasi Rumah Solaris — membuka mulutnya dan tidak ada yang keluar.

Dia mencoba lagi.

“Karena kalau aku biarkan,” katanya akhirnya, sangat pelan, “artinya aku berutang.”

“Empat kata.”

“Iya.”

“Freya, itu—“ Aku berhenti. Memilih kata yang lebih hati-hati. “Orang mengatakan hal seperti itu setiap hari. Itu bukan sesuatu yang dibayar.”

“Bagi siapa?”

“Bagi semua orang.”

“Tidak,” katanya. “Tidak bagi semua orang.”

Dia menurunkan tombaknya. Ujungnya menyentuh lantai tanpa bunyi.

“Umurku sebelas waktu aku pertama kali menyelesaikan empat ratus tiga belas repetisi dalam satu malam,” katanya. “Ayahku ada di sana. Kau tahu apa yang dia katakan?”

Aku menggeleng.

“‘Bagus. Besok empat ratus dua puluh.’”

Dia mengatakannya tanpa nada sama sekali. Bukan pahit, bukan sedih. Dilaporkan.

“Itu bukan kekejaman,” katanya. “Aku ingin kau paham itu. Dia benar. Aku memang bisa empat ratus dua puluh, dan aku melakukannya, dan itu membawaku ke sini.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Rumah kami tidak memberi apa pun tanpa alasan dan tidak menerima apa pun tanpa membayar. Itu bukan filosofi. Itu cuma cara kerjanya.”

“Dan aku memberimu empat kata.”

“Kau memberiku empat kata,” katanya, “dan tidak minta apa-apa, dan sekarang aku tidak tahu di mana menaruhnya.”

Arena itu sangat sepi.

“Jadi aku menaruhnya di empat puluh gulung perban,” katanya. “Karena setidaknya perban punya angka.”


Aku berjalan pulang jam dua belas lewat.

Aku memikirkan banyak hal sepanjang jalan, dan sebagian besar tidak berguna, tapi satu yang tetap tinggal:

Dia bertanya siapa lagi yang bilang.

Bukan kenapa kau bilang. Itu pertanyaan kedua. Pertanyaan pertamanya, yang keluar setelah dua hari menghindar dan setelah empat puluh gulung perban dan setelah dua puluh dua jilid buku, adalah siapa lagi.

Dan jawabannya nol.

Ada empat ratus orang di Koridor Tengah pagi itu. Ratusan lagi di kantin, di kelas, di halaman. Seluruh akademi menonton Freya Solaris setiap hari — memuji berkahnya, menyebut nama dewanya, minggir dari jalannya tanpa sadar.

Dan tidak satu pun dari mereka melihat kulit di bawah matanya.

Aku sampai di gudang, dan lampu minyak barunya masih menyala karena Pip lupa mematikannya, dan di mejaku ada dua puluh dua jilid transkrip yang harganya lebih dari semua yang pernah kumiliki.

Aku duduk. Aku membuka jilid pertama.

Dan aku menyadari, dengan rasa tidak nyaman yang tidak bisa kuhilangkan sampai berhari-hari kemudian, bahwa dia sudah membayar utangnya.

Sekarang aku yang berutang.

Dan aku curiga — meskipun aku belum yakin, dan meskipun aku tidak akan yakin sampai jauh, jauh nanti — bahwa dia tahu itu sejak awal, dan bahwa itulah satu-satunya cara dia tahu bagaimana membuat seseorang tetap tinggal.