Chapter Twenty One
Kalau Kau yang Minta
POV: Ravel
Pemakaman Corran Vell dan Iset Marrow diadakan empat hari kemudian di kapel.
Aku duduk di baris kedelapan.
Aku tidak mengenal keduanya. Itu bagian yang paling tidak nyaman — aku sudah menghitung sebelas orang di lantai dua dan aku sudah menghitung dua yang tidak sempat kuhitung, dan sepanjang empat menit dua puluh detik itu mereka adalah angka.
Nama mereka baru kudengar dari Moona, di koridor, setelahnya.
Kardinal Vant yang memimpin.
Dia tidak berkhotbah. Dia membacakan nama, dua kali masing-masing, dan lalu berdiri diam selama sekitar satu menit, dan lalu berkata:
“Ini yang kedua puluh empat dan kedua puluh lima.”
Kapel itu tidak mengerti.
“Dua puluh tiga bocoran Abyss di Sol Invictus tahun ini,” katanya. “Ini yang kedua puluh empat. Dan dua nama yang baru kalian dengar adalah korban jiwa pertama dan kedua.”
Dia menutup bukunya.
“Aku ingin kalian mendengar angka itu dari mimbar,” katanya, “karena aku sudah menahan angka-angka itu selama tujuh bulan dan aku baru saja berhenti.”
Dia turun dari mimbar dan berjalan keluar kapel, dan tidak ada yang menghentikannya.
Rector Halvard tetap duduk di baris depan, sendirian, sampai kapel kosong.
Aku menemui Freya malam itu di Arena Ketiga.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Aku sudah mengujinya tiga puluh kali di kepalaku sepanjang hari, dan aku sudah memutuskan bahwa aku akan mengatakannya dalam urutan yang benar dan tidak menjelaskan apa pun.
Dia sudah di sana. Papan tulis sudah diperbarui — fase tiga dicoret, fase empat ditulis ulang.
“Freya.”
“Kau terlambat.”
“Aku mau memberitahumu angkanya.”
Dia menaruh tombak latihannya.
“Tujuh puluh enam koma satu persen,” kataku.
“Apa artinya?”
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tanpa menjelaskan semuanya.”
“Lalu jelaskan semuanya.”
Jadi aku menjelaskan semuanya.
Suara. Mimpi. Empat puluh detik di sumur yang bukan diam melainkan jarak. Segel yang bahannya adalah setiap orang yang berlutut dan tidak mendengar. Lapisan yang tidak pernah mengeras.
Dua puluh sembilan penggunaan dalam empat menit dua puluh detik.
Tujuh puluh enam koma satu.
Butuh empat puluh menit.
Freya Solaris tidak menyela satu kali pun.
Saat aku selesai, dia duduk di lantai Arena Ketiga dan tidak bicara selama sekitar dua menit.
“Berapa awalnya,” katanya akhirnya.
“Seratus.”
“Kapan?”
“Empat bulan lalu.”
“Dan sekarang tujuh puluh enam.”
“Iya.”
“Berapa yang tersisa sebelum—“
“Dia tidak akan memberitahuku,” kataku. “Aku sudah bertanya. Dia bilang aku akan menganggapnya anggaran.”
Freya menutup matanya.
“Dia benar,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kau akan menganggapnya anggaran.”
“Aku tahu, Freya.”
“Kau sudah menganggapnya anggaran,” katanya, dan membuka matanya. “Kau baru saja menyebutkan angkanya padaku, dan hal pertama yang kau katakan setelah itu adalah ‘dua puluh sembilan penggunaan menghabiskan enam persen,’ yang mana adalah tarif.”
Aku tidak menjawab.
Dia berdiri.
“Kau tahu apa yang kuharapkan?” katanya. “Waktu aku berdiri di aula itu?”
“Freya—“
“Aku mengharapkan kau marah,” katanya. “Aku sudah menyiapkan diri untuk kau marah. Aku mempermalukanmu di depan tiga ratus dua puluh empat orang dan aku tahu itu waktu aku melakukannya.”
“Aku tidak marah.”
“Aku tahu,” katanya. “Itu masalahnya.”
Arena Ketiga sangat sepi.
“Kau menerima semuanya,” kata Freya Solaris. “Semuanya. Perban, buku, program latihan, pidato di aula, dua puluh sembilan penggunaan yang membunuhmu perlahan. Kau tidak menolak satu pun. Kau tidak pernah menolak apa pun dalam hidupmu, kan?”
Aku membuka mulut.
“Jangan jawab,” katanya. “Aku baru sadar aku tidak mau tahu jawabannya.”
Dia mengambil tombaknya dari rak.
“Fase empat,” katanya. “Set satu.”
“Freya—“
“Set satu, Ravel.”
Aku menemui Moona dua malam kemudian.
Bukan atap. Bukan Selasa.
Dia mengirim pesan lewat Pip, yang menyampaikannya dengan wajah orang yang membawa dokumen negara.
“Dia bilang,” kata Pip, “‘ruang arsip lantai dua perpustakaan, jam sebelas, dan bawa mantel karena jendelanya rusak.’”
“Itu saja?”
“Itu saja.” Pip berhenti. “Ravel.”
“Hm.”
“Aku menghapus taruhanku di kategori tujuh.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Pip Harrowmere, enam belas tahun, [ God of Nails — Tier IX ], menatapku dengan ekspresi yang jauh lebih tua dari umurnya.
“Karena aku mau salah,” katanya.
Ruang arsip lantai dua sama seperti empat bulan lalu.
Rak yang tidak pernah dipinjam siapa pun. Jendela tinggi dengan engsel yang menyerah. Cahaya bulan masuk dari kiri.
Moona duduk di ambang jendela, seperti pertama kali.
“Kau datang,” katanya.
“Kau memanggil.”
“Aku tahu.” Dia mengayunkan satu kakinya. “Itu poin yang menarik, sebenarnya. Kau selalu datang kalau dipanggil.”
Aku berdiri di lorong arsip.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk di lantai, dengan punggung ke rak, di tempat yang persis sama dengan malam pertama.
Dia melempar sesuatu padaku. Aku menangkapnya dengan tangan kiri.
Kaleng susu jelai.
Penyok di sisi bawah.
“Kau membawanya,” kataku.
“Aku membawanya empat bulan,” katanya. “Aku sudah bilang itu di halaman belakang gudang. Aku tidak akan mengulanginya.”
Aku memegang kaleng itu.
“Aku akan mengatakan hal ketiga,” katanya.
Aku mengangkat kepalaku.
“Yang di halaman belakang gudang,” katanya. “Aku bilang ada tiga hal. Aku cuma mengatakan dua. Aku sudah memikirkannya selama dua puluh satu hari dan aku sudah menyusun hal ketiga itu dalam sekitar enam puluh versi.”
“Moona—“
“Tapi aku tidak akan mengatakannya,” katanya, “sampai kau bertanya.”
Ruang arsip itu sangat sunyi.
Aku mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku ingin mencatat itu, karena penting: aku mengerti persis apa yang sedang terjadi, dan aku mengerti kenapa, dan aku sudah membaca cacatnya sendiri dari mulutnya sendiri di atap empat bulan lalu.
Dia mengatur keadaan supaya orang lain yang mengucapkannya, lalu bisa berkata “kalau kau yang minta.”
Kalau aku bertanya, dia menang. Dia bisa menjawab tanpa pernah memilih untuk menjawab.
Kalau aku tidak bertanya, dia tetap menang, karena dia tidak pernah mengatakan apa pun.
Ini bukan permintaan. Ini pintu keluar yang dibangun dengan sangat rapi.
“Tanyakan,” katanya.
Aku menatap kaleng di tanganku.
“Tidak,” kataku.
Moona Selene berhenti mengayunkan kakinya.
“Apa?”
“Tidak,” kataku lagi.
“Kau—“
“Kalau aku bertanya,” kataku, “kau bisa bilang ‘kalau kau yang minta.’ Dan lalu apa pun yang kau katakan berikutnya jadi sesuatu yang kau berikan karena diminta, bukan sesuatu yang kau putuskan.”
Cahaya bulan bergeser di lorong.
“Dan kalau nanti sakit,” kataku, “kau punya kalimat yang sudah siap. Kau sudah punya kalimatnya sekarang. Aku bisa mendengarnya dari sini.”
Moona tidak bergerak.
“Kau bilang di atap,” kataku, “bahwa kau membiarkan Freya menang empat puluh tujuh kali karena kau tidak mau jadi orang yang mengambil sesuatu darinya. Kau bilang itu bukan kebaikan.”
“Aku tahu apa yang kubilang.”
“Kau bilang itu manajemen reputasi.”
“Ravel—“
“Kau berbohong soal itu,” kataku. “Dan aku membiarkanmu. Aku duduk di atap dan aku membiarkanmu berbohong karena aku pikir itu sopan.”
Aku berdiri.
“Aku tidak akan bertanya,” kataku. “Bukan karena aku tidak mau tahu. Aku sangat mau tahu. Aku sudah berjalan melewati Kelas A empat belas kali dalam tiga hari dan aku menyimpan kaleng ini enam minggu dan aku mengecek daftar hadir untuk mencari namamu.”
Ruang arsip itu sangat, sangat sunyi.
“Aku tidak akan bertanya,” kataku, “karena ini satu-satunya hal yang bisa kuberikan padamu yang tidak bisa kau kembalikan.”
Moona Selene duduk di ambang jendela ruang arsip lantai dua selama tiga puluh dua detik.
Aku menghitungnya.
Lalu dia turun dari ambang jendela.
Dan dia berjalan ke tengah lorong arsip, dan berdiri di sana, dan berkata:
“Aku menyukaimu.”
Tidak ada apa-apa setelahnya selama beberapa saat.
Tidak ada musik. Tidak ada apa pun yang bergeser. Cuma seorang gadis berdiri di lorong arsip dengan tangan di sisi tubuhnya dan cahaya bulan dari kiri.
“Aku menyukaimu,” katanya lagi, lebih pelan, “dan aku sudah menyukaimu sejak malam pertama di ruangan ini, waktu kau bertanya buku apa yang kubaca alih-alih menyebut nama Freya.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Aku tidak akan mengatakan kata yang lebih besar,” katanya. “Bukan karena aku tidak punya. Karena kalau aku memakainya sekarang, itu akan terdengar seperti aku sedang bertanding.”
Dia menarik napas.
“Dan aku tidak sedang bertanding,” katanya. “Aku sudah tidak bertanding sejak umur dua belas dan aku baru sadar berapa lelahnya itu.”
“Moona—“
“Belum selesai.”
Aku menutup mulutku.
“Freya berdiri di depan tiga ratus dua puluh empat orang,” katanya, “dan aku duduk di baris ketiga sisi kanan dan aku menonton wajahmu sepanjang sembilan menit itu.”
Suaranya bergetar untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
“Dan aku bangga padanya,” kata Moona Selene. “Itu bagian yang paling buruk. Aku duduk di sana dan aku hancur dan aku bangga, karena dia melakukan hal yang aku tidak pernah bisa lakukan seumur hidupku, dan karena dia melakukannya untuk orang yang sama.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Jadi aku tidak akan meminta apa pun darimu,” katanya. “Aku tidak akan bertanya siapa yang kau pilih dan aku tidak akan memaksamu memilih dan aku tidak akan pernah, sekali pun, menyuruhmu berhenti bicara dengannya.”
“Kenapa,” kataku, dan suaraku juga tidak berfungsi dengan baik.
“Karena aku sudah tahu apa yang terjadi kalau aku menang,” katanya.
Ruang arsip itu sangat sunyi.
“Empat puluh tujuh kali aku menahan diri,” katanya, “dan setiap kali alasannya sama: kalau aku menang, dia kalah. Dan aku sudah hidup delapan belas tahun dengan aritmatika itu dan aku baru sadar dua minggu lalu bahwa aritmatika itu salah.”
“Salah?”
“Salah,” kata Moona Selene. “Karena kalau ini bukan pertandingan, maka aku tidak sedang menahan diri.”
Dia menatapku lurus.
“Aku cuma sedang bersembunyi,” katanya.
Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri di sana.
Aku tidak menghitungnya. Itu satu-satunya hal dalam seluruh cerita ini yang aku tidak hitung, dan aku tidak menyesalinya.
Akhirnya dia bergerak. Satu langkah. Lalu satu lagi.
Dan Moona Selene berhenti di jarak satu langkah dariku, dan mengangkat tangannya, dan menaruhnya di sisi wajahku — di tulang pipi yang retak enam minggu lalu dan yang masih sedikit lebih hangat dari sisi lainnya.
“Kau berdarah di ruang tabib,” katanya.
“Iya.”
“Dua puluh sembilan kali.”
“Iya.”
“Jangan,” katanya.
Cuma itu. Satu kata.
Bukan jangan lakukan lagi. Bukan jangan mati. Cuma jangan, seperti orang yang sudah menghapus semua kata lain dan tinggal satu.
Aku mengangkat tanganku dan menaruhnya di tangannya, di wajahku, dan tidak mengatakan apa-apa karena tidak ada yang bisa kukatakan yang tidak berupa angka.
Moona Selene menutup matanya.
Dan di sisi lain rak arsip, di lorong sebelah, seseorang berdiri sangat diam.
Aku tidak melihatnya.
Aku tidak melihatnya karena aku sedang menutup mata, dan karena lorong sebelah gelap, dan karena orang itu sudah berdiri di sana selama sekitar sebelas menit tanpa mengeluarkan satu suara pun.
Aku baru tahu tiga hari kemudian.
Dari Nessa, yang mencatat semuanya, dan yang mencatat bahwa Freya Solaris meminjam empat jilid dari arsip lantai dua perpustakaan pada malam itu, dan mengembalikannya keesokan paginya tanpa satu pun halaman terbuka.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta reading
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku