Chapter Sixteen

Duel Resmi

POV: Ravel


Mosinya bukan dari Vant.

Itu yang pertama kali kutanyakan, dan jawabannya tidak. Kardinal Vant sudah mengajukan mosinya, sudah kalah, dan sudah berhenti — dia bukan orang yang mengulang hal yang sama dengan cara berbeda.

Mosi kedua datang dari enam keluarga besar, dan bentuknya jauh lebih pintar.

PERMOHONAN EVALUASI KEMAMPUAN — MURID NON-KONTRAK

Nessa membacakannya keras-keras di gudang.

“‘Mengingat kejadian di halaman tengah pada tanggal empat belas, dan mengingat bahwa murid bersangkutan memiliki kemampuan yang tidak terklasifikasi, Dewan Keluarga mengajukan permohonan agar diadakan evaluasi resmi dalam format duel terkendali, dengan lawan yang ditunjuk, disaksikan oleh perwakilan Dewan.’”

Dia menurunkan kertasnya.

“Ini jebakan,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kau tidak tahu jenis jebakannya.” Dia membalik ke halaman kedua. “Lawan yang ditunjuk: Freya Solaris.”

Gudang itu diam.

Pip mengangkat kepalanya dari buku catatannya. “Itu—“

“Itu sangat pintar,” kata Nessa. “Ravel, kau paham kenapa?”

Aku paham.

Kalau aku menang, aku terbukti berbahaya. Non-kontrak mengalahkan Tier II Sovereign di depan Dewan — itu bukan bukti bahwa aku layak; itu bukti bahwa aku adalah anomali yang harus dikendalikan, dan Vant akan mendapat mosinya kembali dengan amunisi yang jauh lebih baik.

Kalau aku kalah, aku terbukti tidak berbahaya, yang artinya kejadian di halaman tengah adalah kebetulan, yang artinya bocoran Abyss tidak berkorelasi denganku, yang artinya —

“Yang artinya penyebabnya adalah sumurnya,” kataku.

“Yang artinya akademi ditutup,” kata Nessa.

“Iya.”

“Enam keluarga tidak mau akademi ditutup.”

“Iya.”

“Jadi mereka butuh kau menang.” Dia menutup kertasnya. “Tapi kalau kau menang terlalu telak, kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan.”

Pip menatap kami bergantian.

“Jadi dia harus menang,” katanya pelan, “tapi hampir kalah.”

Nessa menoleh padanya.

“Pip Harrowmere,” katanya, “itu adalah hal paling tajam yang pernah kau katakan.”

“Aku juga kaget.”


Freya menemuiku malam itu di Arena Ketiga.

Papan tulis masih di sana. Fase dua masih di atasnya, setengah dicoret, sudah tiga minggu tidak diperbarui.

Dia sudah berdiri di tengah arena saat aku masuk.

“Kau tahu?” tanyaku.

“Aku tahu sejak enam hari lalu.”

“Enam—“

“Ayahku salah satu penyusunnya.” Dia mengatakannya tanpa nada, seperti membaca daftar. “Aku diberi tahu sebelum dokumennya diajukan. Aku diminta menyetujui.”

“Kau setuju?”

“Aku menolak,” katanya. “Dua kali. Lalu mereka mengajukannya tanpa persetujuanku, karena persetujuanku bukan syarat.”

Arena itu sepi.

“Kau tahu apa yang mereka mau,” kataku.

“Iya.”

“Mereka mau aku menang.”

“Mereka mau kau menang tipis,” kata Freya. “Cukup untuk membuktikan kau berguna. Tidak cukup untuk membuktikan kau tidak bisa dikendalikan.”

Dia berjalan ke rak dan mengambil kendi air, lalu tidak meminumnya.

“Dan mereka mau aku mengaturnya,” katanya.

Aku merasakan sesuatu dingin.

“Mereka menyuruhmu mengalah.”

“Mereka tidak memakai kata itu.” Dia menaruh kendinya. “Kata yang dipakai adalah ‘kalibrasi.’ Aku diminta mengkalibrasi intensitas agar hasil evaluasi mencerminkan kemampuan yang dapat diklasifikasikan.”

“Freya—“

“Aku tidak akan melakukannya.”

Dia menoleh, dan cahaya lentera arena jatuh di wajahnya, dan aku bisa melihat sesuatu di sana yang belum pernah kulihat.

Bukan marah. Marah aku sudah lihat.

Ini lebih dingin.

“Aku sudah bertanding sembilan puluh empat kali melawan Moona Selene,” katanya. “Empat puluh tujuh sama. Dan aku tahu — aku sudah tahu bertahun-tahun — bahwa dia menahan diri. Aku tahu di pertandingan keenam. Aku berumur dua belas.”

“Freya.”

“Aku tidak pernah mengatakannya,” katanya. “Enam tahun. Sembilan puluh empat pertandingan. Aku membiarkannya, karena kalau aku mengatakannya dia akan berhenti melakukannya, dan kalau dia berhenti aku akan tahu di mana aku sebenarnya berdiri.”

Dia mengangkat tangannya.

[ Stage 2 — God Weapon: MERIDIAN ]

Suhu di Arena Ketiga naik enam derajat.

“Aku tidak akan melakukannya lagi,” katanya. “Tidak dengan siapa pun. Tidak denganmu.”


Duel resmi diadakan lima hari kemudian di Arena Utama.

Bukan duel wajib. Bukan duel sukarela. Evaluasi, yang berarti tidak ada penonton umum — tapi Arena Utama tetap dipakai, karena Dewan Keluarga tidak akan duduk di Arena Kedua.

Yang hadir: enam kepala keluarga besar. Kardinal Aureus Vant. Rector Halvard. Sembilan instruktur senior.

Dan, karena akademi tidak bisa melarang murid melihat dari koridor luar, sekitar empat ratus orang yang menempel di jendela balkon atas seperti sesuatu yang tidak sopan.

Aku melihat Pip di antara mereka. Nessa di sebelahnya, dengan tongkat.

Dan tiga jendela ke kanan, sendirian, rambut abu keperakan.


Wasitnya instruktur Hedda Marr.

“Format evaluasi,” katanya. “Tanpa batas waktu. Berakhir ketika satu pihak tidak dapat melanjutkan, atau ketika evaluator menghentikan. [ Stage 2 ] diizinkan. [ Stage 3 ] dilarang.”

Dia menoleh ke Freya.

“Solaris. Kau memahami parameter yang diberikan Dewan?”

“Aku memahaminya,” kata Freya.

“Kau menerimanya?”

Freya Solaris menatap balkon tempat ayahnya duduk.

“Tidak,” katanya.

Arena Utama jadi sangat sunyi.

Hedda Marr berkedip satu kali, secara profesional, dan melanjutkan.

“Dicatat,” katanya. “Ravel. Kau memahami parameternya?”

“Iya.”

“Kau menerimanya?”

Aku melihat Freya.

“Tidak,” kataku.


[ EVALUATION — BEGIN ]

Aku punya rencana.

Aku sudah menyusunnya selama lima hari, dan aku sudah mengujinya di kepala tiga ratus kali, dan intinya sederhana:

[ UNMAKING ] sekali per napas. [ Meridian ] adalah manifestasi ilahi. Kalau aku bisa menghapusnya, dia harus memanggilnya kembali. Memanggil God Weapon butuh waktu — di transkrip, rata-rata satu koma satu detik untuk Tier II.

Satu koma satu detik, berulang, sampai stamina.

Persis seperti Halric Vane.

Itu rencananya.

Aku mendapat kesempatan pertama di detik ketiga.

Freya melangkah maju dan sepertiga arena jadi putih, dan aku sudah tidak di sana — aku sudah bergerak sejak arus di dadanya berkumpul, satu koma empat detik lebih awal, keunggulan yang tidak seharusnya kupunya.

Aku masuk ke dalam jangkauan tombak.

Aku mengulurkan tangan.

Aku menyentuh [ Meridian ].

[ UNMAKING — Executed ]
[ Target: God Weapon, Divine Tier II ]
[ Result: Erased ]
[ Seal Integrity: 91.8% ]

Tombak itu hilang dari tangannya.

Empat ratus orang di balkon mengeluarkan satu suara bersamaan.

Dan Freya Solaris — tanpa tombak, tanpa manifestasi, dengan tangan kosong dan jarak setengah meter —

memukulku di wajah.


Aku ingin menjelaskan sesuatu tentang perencanaan.

Kau bisa menyusun tiga ratus simulasi di kepalamu, dan kau bisa memperhitungkan cooldown dan stamina dan pola serangan, dan kau bisa membaca sembilan ratus transkrip.

Yang tidak bisa kau perhitungkan adalah bahwa seseorang yang kehilangan God Weapon-nya masih punya tangan.

Dan bahwa seseorang yang berlatih empat ratus delapan puluh repetisi per malam sejak umur sebelas punya tangan yang sangat, sangat cepat.

Aku terlempar tiga meter.

[ Meridian ] sudah kembali sebelum aku menyentuh tanah.


Duel itu berlangsung enam menit dua puluh detik.

Aku menghapus [ Meridian ] sebelas kali.

Sebelas.

Dan sebelas kali, Freya Solaris melanjutkan tanpa jeda satu koma satu detik — karena satu koma satu detik itu adalah rata-rata transkrip, dan transkrip mencatat orang yang berhenti untuk memanggil ulang, dan Freya tidak berhenti.

Dia memukul. Dia menendang. Dia melempar. Di percobaan kelima dia mengambil tombak latihan kayu dari rak pinggir arena dan memakainya selama sembilan detik sampai [ Meridian ] kembali, dan tombak kayu di tangan orang yang menghabiskan enam tahun dengan tombak sama sekali tidak lucu.

Rusukku patah di menit ketiga. Aku tahu bunyinya sekarang.

[ Seal Integrity: 88.2% ]
[ Seal Integrity: 86.9% ]
[ Seal Integrity: 85.1% ]

Angkanya turun lebih cepat setiap kali.

Aku berhenti melihatnya di penggunaan kedelapan.


Menit kelima, aku sudah tidak bisa berdiri tegak.

Menit kelima lewat empat puluh, aku jatuh dan tidak bangun dalam sembilan detik seperti melawan Vane, tapi dalam delapan belas.

Aku bangun.

“Berhenti,” kata Freya.

Suaranya berbeda.

“Belum,” kataku.

Aku menghapus [ Meridian ] untuk kesebelas kalinya.

Dan Freya Solaris menghantamku ke lantai Arena Utama dengan bahunya, tanpa manifestasi apa pun, seperti orang biasa menabrak orang biasa, dan menahanku di sana dengan lutut di dada.

“BERHENTI,” teriaknya.

Empat ratus orang di balkon mendengar itu.

[ EVALUATION — END ] [ Winner: Freya Solaris ] [ Duration: 6:20 ]


Yang terjadi selanjutnya tidak ada di catatan resmi.

Freya tidak berdiri.

Dia tetap di sana, dengan lutut di dadaku, dan wajahnya sepuluh sentimeter dari wajahku, dan aku bisa melihat bahwa dia gemetar dan bahwa itu bukan dari tenaga.

“Kau punya sebelas kesempatan,” katanya.

Aku tidak bisa bernapas dengan baik. “Apa.”

“Sebelas kali kau menghapusnya,” katanya. “Sebelas kali aku tidak bersenjata selama sepersekian detik. Dan kau tidak menyerang satu kali pun.”

Aku menatap langit-langit Arena Utama.

“Aku tidak bisa mengalahkanmu dengan menyerang.”

“Aku tahu.”

“Jadi—“

“Kau tidak berencana menang,” kata Freya Solaris.

Dan aku tidak menjawab, karena dia benar, dan karena aku baru menyadarinya di detik itu juga.

Rencanaku bukan menang. Rencanaku adalah bertahan cukup lama sampai hasilnya terlihat seperti kalah tipis — cukup untuk membuktikan aku tidak berbahaya, cukup untuk menjaga akademi tidak ditutup, cukup untuk membuat mosi Vant mati.

Aku sudah menghitung. Angkanya keluar seperti biasa.

Aku tidak pernah, sekali pun dalam lima hari itu, mempertimbangkan menang.

“Kau membiarkan aku memukulmu di wajah,” kata Freya, “sebelas kali, di depan ayahku, supaya angkanya benar.”

“Freya—“

“Kau menyuruhku berhenti mengalah,” katanya, dan suaranya pecah di tengah, dan aku belum pernah mendengarnya seperti itu. “Kau berdiri di Arena Ketiga lima hari lalu dan aku bilang aku tidak akan menahan diri lagi dan kau bilang tidak pada parameter Dewan di depan semua orang dan lalu kau melakukan hal yang sama persis, sendirian, tanpa memberitahuku.”

Aku membuka mulut.

Aku tidak punya apa-apa.

Freya berdiri.

Dia berdiri, dan mengulurkan tangannya, dan aku mengambilnya, dan dia menarikku sampai duduk dengan tenaga yang jauh lebih besar dari yang perlu.

Lalu dia menunduk, sangat dekat, dan berkata dengan suara yang cuma bisa kudengar:

“Aku tidak marah karena kau kalah.”

“Aku tahu.”

“Kau tidak tahu.”

Aku menatapnya.

“Aku marah,” kata Freya Solaris, “karena kau menghitung dirimu sendiri sebagai hal yang bisa dihabiskan, dan kau melakukannya begitu cepat sampai aku curiga kau tidak pernah menghitungnya dengan cara lain.”


Dewan memutuskan tiga hari kemudian.

Klasifikasi: Kontra-manifestasi, tingkat tidak ditentukan. Murid dinyatakan tidak menimbulkan risiko keamanan tingkat institusional. Evaluasi lanjutan setiap tiga bulan.

Mosi Vant mati.

Akademi tidak ditutup.

Angkanya keluar persis seperti yang kuhitung.

Aku berbaring di ruang tabib selama enam hari dengan empat rusuk patah dan tulang pipi retak, dan Pip datang setiap hari, dan Nessa datang setiap hari dengan bukunya, dan Vharen datang sekali dan tidak mengatakan apa pun selama dua puluh menit lalu pergi.

Freya tidak datang.

Moona datang di hari kelima, jam dua pagi, lewat jendela.

Dia tidak mengatakan apa-apa tentang duel. Dia duduk di kursi di samping ranjang, dan mengeluarkan dua kaleng susu jelai, dan menaruh satu di meja di sebelahku karena aku tidak bisa mengangkat tangan kanan.

Lalu dia berkata satu kalimat, satu-satunya kalimat sepanjang empat puluh menit dia di sana:

“Dia menangis di lorong keluar.”

Dan aku menatap langit-langit ruang tabib untuk waktu yang sangat lama.