Chapter Eighteen
Kelas F Punya Pendapat
POV: Ravel
Aku masuk gudang jam tujuh pagi dan semua orang sudah di sana.
Semua orang. Termasuk Tomas, yang biasanya datang jam tujuh lewat dua puluh. Termasuk si kembar, yang biasanya datang bersamaan dengan Vharen dan karenanya juga terlambat.
Enam orang, duduk, menghadap pintu.
“Tidak,” kataku.
“Kami belum bilang apa-apa,” kata Nessa.
“Kalian menghadap pintu.”
“Kami selalu menghadap pintu.”
“Kalian menghadap meja depan. Meja depan ada di sisi lain.”
Nessa membuka bukunya. “Aku mencatat bahwa subjek langsung mendeteksi anomali penataan ruang dalam waktu kurang dari dua detik, yang menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi, yang menunjukkan bahwa subjek sudah mengantisipasi—“
“Nessa.”
“—sesi ini,” katanya, dan menutup bukunya. “Duduk.”
“Pertanyaan pertama,” kata Pip.
“Ada daftar pertanyaan?”
“Ada empat belas.”
“Empat belas.”
“Awalnya dua puluh dua.” Dia menunjukkan kertasnya, yang penuh coretan. “Nessa menghapus delapan karena katanya tidak sopan.”
“Yang mana yang tidak sopan?”
“Nomor sembilan,” kata Nessa, tanpa mengangkat kepala.
“Nomor sembilan bagus,” kata Pip.
“Nomor sembilan adalah ‘apakah kalian sudah berpegangan tangan.’”
“Itu informasi.”
“Itu tidak sopan.”
“Itu informasi yang tidak sopan,” kata Pip. “Dua-duanya bisa benar.”
Ilsa Rowe tertawa dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Aku duduk di mejaku dan menutup mata.
Berikut adalah empat belas pertanyaan, sebagaimana dibacakan Pip Harrowmere, beserta jawaban yang kuberikan.
Satu. Apakah kau tahu dia akan melakukan itu?
“Tidak.”
Dua. Sama sekali tidak?
“Aku duduk di baris paling belakang dan aku pikir aku sedang menonton pengumuman peringkat.”
Tiga. Apa yang kau rasakan waktu dia menyebut namamu?
“Aku menghitung ubin.”
“Itu bukan perasaan,” kata Pip.
“Itu perasaanku.”
Nessa menulis sesuatu.
Empat. Berapa ubin?
“Seratus empat belas.”
“Oke, itu memang perasaan,” kata Pip. “Aku menerimanya.”
Lima. Apakah kau sudah bicara dengannya?
“Iya. Empat hari kemudian.”
Enam. Di mana?
“Tangga belakang kantin.”
Nessa mengangkat kepala. “Tangga belakang kantin barat atau timur?”
“Barat.”
Dia menulis. Aku tidak menanyakan kenapa itu penting.
Tujuh. Apa yang kau katakan?
Ini yang tidak kujawab.
Bukan karena rahasia. Karena kalau aku mengucapkannya di gudang jam setengah delapan pagi di depan enam orang, kalimat itu akan berhenti jadi kalimat dan mulai jadi cerita, dan aku belum siap ia jadi cerita.
“Lewat,” kataku.
Pip membuka mulut untuk protes.
“Lewat,” kata Nessa.
Pip menutup mulutnya. Dia melewatinya.
Aku memikirkan itu selama sisa hari.
Delapan. Kau tahu seluruh akademi membicarakannya?
“Iya.”
Sembilan (dihapus).
Sepuluh. Kau tahu ada yang membuat taruhan?
Aku mengangkat kepala. “Apa?”
“Kelas D,” kata Ilse Rowe. “Ada papan. Di ruang cuci lantai dua.”
“Papan apa?”
“Taruhan,” kata Ilsa.
“Taruhan apa.”
Si kembar saling melirik.
“Bermacam-macam,” kata Ilse.
“Sebutkan satu.”
“Enggak.”
“Ilse.”
“Ada tujuh kategori,” kata Ilsa, sangat cepat, seperti orang melepas perban. “Kategori satu, berapa hari sampai kalian bicara lagi. Kategori dua, siapa yang bicara duluan. Kategori tiga—“
“Cukup.”
“—melibatkan Moona Selene,” selesai Ilsa.
Gudang itu jadi sepi.
Aku menoleh perlahan.
“Apa,” kataku.
Sebelas. Kau tahu Moona Selene ada di jendela balkon waktu duelmu?
“Iya.”
“Kau tahu dia juga ada di aula waktu Freya bicara?”
“Itu pertanyaan dua belas,” kata Nessa.
“Aku menggabungkannya,” kata Pip.
“Jangan digabungkan. Urutannya penting.”
“Kenapa urutannya penting?”
“Karena jawaban pertanyaan sebelas mengubah bobot pertanyaan dua belas.”
Pip menatapnya. “Nessa, kau kelihatan seperti sedang menikmati ini terlalu banyak.”
“Aku menikmati ini dengan takaran yang tepat.”
Dua belas. Kau tahu Moona Selene ada di aula?
Aku tahu.
Aku tidak melihatnya waktu itu — aku sedang menatap lantai dan menghitung ubin. Tapi aku melihat daftar hadir keesokan harinya karena aku selalu melihat daftar hadir, dan namanya ada di sana, baris ketiga, sisi kanan.
Baris ketiga sisi kanan aula besar menghadap langsung ke baris paling belakang.
Dia menonton wajahku selama seluruh pidato itu.
“Iya,” kataku.
Nessa berhenti menulis.
“Kau tahu,” katanya. “Dan kau tidak menyebutkannya sekali pun selama sepuluh menit terakhir.”
“Kau tidak bertanya.”
“Aku bertanya empat kali dengan cara berbeda.”
Aku tidak menjawab.
Nessa Quill menutup bukunya, dan menaruh penanya di sebelahnya, dan menatapku dengan cara yang membuat gudang itu terasa lebih kecil.
“Ravel,” katanya.
“Hm.”
“Aku akan mengajukan pertanyaan tiga belas, dan itu bukan dari daftar Pip, dan kau boleh menolak menjawab seperti biasa.”
“Oke.”
“Kau menghitung semua orang,” katanya. “Setiap orang di setiap ruangan, sejak hari pertama. Dua ratus tiga puluh satu di halaman upacara. Dua ratus tiga di arena. Tiga ratus dua puluh empat di aula.”
“Iya.”
“Berapa orang yang tahu bahwa kau menyimpan kaleng kosong di rak atas ranjangmu selama enam minggu?”
Gudang itu sangat, sangat sunyi.
“Bagaimana kau—“
“Aku memakai lacimu selama dua bulan,” kata Nessa. “Aku memindahkan barangmu ke rak. Aku melihat kaleng itu di sana selama enam minggu dan lalu suatu hari ia hilang, dan hari itu adalah hari Rabu, dan hari sebelumnya adalah Selasa.”
Aku menatap mejaku.
“Aku tidak akan menuliskannya,” kata Nessa. “Aku cuma mau kau tahu bahwa aku sudah menghitung juga.”
Pertanyaan empat belas tidak pernah dibacakan.
Vharen masuk jam delapan lewat, tiga puluh menit terlambat, dengan cangkirnya, dan berhenti di ambang pintu saat melihat enam orang menghadap ke arah yang salah.
“Ah,” katanya. “Sedang membahas itu.”
“Iya, Pak,” kata Pip.
“Sudah sampai mana?”
“Tiga belas.”
“Dari?”
“Empat belas. Tapi nomor sembilan dihapus.”
Vharen minum. “Yang mana nomor sembilan?”
“Apakah mereka sudah berpegangan tangan.”
“Itu tidak sopan.”
“KENAPA SEMUA ORANG BILANG BEGITU.”
Vharen menaruh cangkirnya di meja depan dan duduk di kursinya, dan untuk sekitar dua menit dia membiarkan Pip menjelaskan seluruh sistem taruhan Kelas D dengan detail yang tidak diminta siapa pun.
Lalu dia berkata:
“Harrowmere.”
“Iya, Pak.”
“Berapa taruhan yang kau pasang?”
Hening.
“...Tiga,” kata Pip.
“Nominalnya?”
“Empat perak.”
“Kau punya empat perak?”
“Aku punya satu perak dan sisanya kredit.”
“Kau punya kredit di papan taruhan Kelas D.”
“Reputasiku bagus.”
Vharen menatapnya lama sekali. Lalu dia mengangkat cangkirnya, minum, dan berkata:
“Aku pasang enam di kategori tujuh.”
Gudang itu meledak.
Kelas berlangsung dua jam dan tidak ada yang belajar apa pun.
Aku tidak keberatan. Aku sudah menyadari, sekitar bulan kedua, bahwa Kelas F bukan tempat belajar — kurikulumnya sama dengan Kelas A sampai E, ujiannya sama, dan tidak ada yang punya harapan realistis untuk lulus dengan cara normal.
Yang sebenarnya terjadi di gudang itu adalah enam orang yang tidak muat di kotak lain duduk bersama selama dua jam setiap pagi.
Itu bukan tidak berguna.
Aku tidak menyadari betapa tidak-tidak-bergunanya itu sampai jauh, jauh nanti.
Vharen menahanku setelah semua orang pergi.
Aku sudah menduga. Dia selalu menahanku setelah semua orang pergi, dan aku sudah berhenti berpura-pura kaget.
“Duduk.”
Aku duduk.
Dia tidak minum kali ini. Dia menaruh cangkirnya di meja dan mendorongnya menjauh, dan itu membuatku waspada lebih dari apa pun.
“Aku akan bicara serius selama sekitar tiga menit,” katanya. “Aku benci ini. Jangan diperpanjang.”
“Iya, Pak.”
“Kau tahu apa yang paling sulit,” katanya, “tentang jadi orang yang dipilih seseorang yang lebih kuat darimu?”
Aku membuka mulut.
“Itu pertanyaan retoris,” katanya. “Jangan dijawab. Kau akan menjawabnya salah dan aku akan harus mendengarkannya.”
Aku menutup mulutku.
“Yang paling sulit,” kata Vharen, “adalah kau akan menghabiskan sisa hubungan itu mencoba menyeimbangkan neraca.”
Aku menoleh cepat.
“Iya,” katanya. “Aku dengar kata itu di gudang ini tiga minggu lalu. Kalian pikir aku tidak mendengarkan karena aku minum. Aku minum dan mendengarkan. Itu keahlian.”
Dia bersandar.
“Aku menikah sebelas tahun,” katanya.
Aku tidak tahu itu.
“Namanya Aoife. [ God of Millstones — Tier VI ].” Dia mengangkat bahu. “Dewa penggilingan. Sangat berguna. Sangat tidak mengesankan. Dia bisa menghancurkan apa pun jadi bubuk asal dia punya waktu dan permukaan datar.”
“Pak—“
“Aku [ Tier V ],” katanya. “Satu tingkat di bawah. Satu. Dan selama sebelas tahun aku tidak berhenti memikirkannya.”
Ruangan itu sepi.
“Bukan karena dia membuatku merasa kecil. Dia tidak pernah, sekali pun, dalam sebelas tahun.” Vharen menatap cangkirnya. “Itu justru masalahnya. Kalau dia meremehkanku, aku bisa marah, dan marah itu mudah. Yang dia lakukan lebih buruk: dia tidak peduli sama sekali. Angka itu tidak ada di kepalanya.”
“Dan ada di kepala Bapak.”
“Setiap hari,” kata Vharen. “Sebelas tahun. Setiap hari.”
Dia mengambil cangkirnya, melihat isinya, dan menaruhnya lagi tanpa minum — gerakan yang sudah kulihat sekitar dua puluh kali dan yang baru sekarang kupahami.
“Jadi aku menyeimbangkannya,” katanya. “Aku mengambil misi yang lebih berbahaya. Aku menerima penugasan yang tidak seharusnya kuterima. Aku jadi instruktur regu di umur dua puluh sembilan, yang mana terlalu muda, dan aku menerimanya karena posisi itu satu tingkat di atas apa yang pantas untuk [ Tier V ].”
Aku sudah tahu ke mana ini pergi dan aku ingin dia berhenti.
“Bocoran kelima,” kata Vharen. “Delapan orang.”
“Pak.”
“Aoife salah satunya.”
Gudang itu sangat, sangat sunyi.
Vharen Duskmantle tidak menangis, dan tidak menunduk, dan tidak melakukan satu pun hal yang orang lakukan saat mengatakan sesuatu seperti itu. Dia cuma duduk di kursinya dengan cangkir yang tidak dia minum dan menatap dinding.
“Aku tidak akan bilang itu salahku,” katanya. “Aku sudah menghabiskan sebelas tahun bertengkar dengan diri sendiri soal itu dan aku belum menang dan aku tidak akan menang.”
Dia menoleh padaku.
“Yang mau kubilang lebih kecil dari itu,” katanya. “Yang mau kubilang begini.”
Dia mengangkat satu jari.
“Anak itu berdiri di depan tiga ratus dua puluh empat orang,” katanya, “dan berkata dia akan berdiri di sisi lain neracamu.”
“Iya.”
“Dan hal pertama yang kau lakukan,” kata Vharen, “adalah menawarkan untuk memberitahunya angkanya.”
Aku tidak menjawab.
“Ravel,” katanya. “Dia tidak minta angkanya.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu.”
“Aku tahu,” kataku. “Itu yang bisa kuberikan.”
Dan Vharen Duskmantle menatapku dengan ekspresi yang aku tidak bisa baca sama sekali, dan lalu dia tertawa — satu kali, kering, ke arah dinding.
“Iya,” katanya. “Itu yang kubilang juga.”
Dia berdiri.
“Sebelas tahun,” katanya, “dan aku tidak pernah sekali pun berhenti menghitung, dan lalu suatu hari tidak ada lagi yang bisa kuhitung.”
Dia mengambil cangkirnya.
“Aku tidak menyuruhmu berhenti,” katanya. “Aku tahu kau tidak bisa. Aku juga tidak bisa.”
Dia berjalan ke pintu.
“Aku cuma mau kau tahu,” katanya, tanpa menoleh, “bahwa neraca itu tidak pernah seimbang, dan bahwa itu bukan karena kau kurang berusaha.”
Pintu tertutup.
Aku duduk di gudang sendirian selama sekitar dua puluh menit.
Lalu aku melakukan hal yang tidak kurencanakan: aku naik ke lantai dua asrama, ke ruang cuci, dan aku mencari papan taruhan Kelas D.
Ia ada di sana. Papan tulis kecil, sudah setengah terhapus, digantung di balik pintu.
Tujuh kategori. Aku membaca semuanya.
Kategori satu sampai enam tentang Freya.
Kategori tujuh:
BERAPA LAMA SAMPAI SELENE BICARA?
Ada empat puluh satu nama di bawahnya.
Sebagian besar menulis angka antara tiga dan tiga puluh hari.
Satu nama menulis ”tidak akan”, dan nama itu Vharen Duskmantle, dan taruhannya enam perak.
Aku berdiri di ruang cuci lantai dua asrama untuk waktu yang sangat lama.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat reading
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku