Chapter Twenty Two

Nama yang Dihapus

POV: Ravel


Rector Halvard memanggilku pada hari kedua puluh sembilan bulan kedelapan.

Bukan lewat sekretaris. Bukan lewat pengumuman.

Dia datang sendiri ke gudang, jam tujuh pagi, dan berdiri di ambang pintu Ruang Penyimpanan Utara sambil enam murid Kelas F menatapnya seperti orang menatap gedung yang berjalan.

“Pak Rector,” kata Vharen, berdiri terlalu cepat dan menumpahkan cangkirnya.

“Duskmantle.” Halvard mengangguk padanya. “Ruanganmu bocor.”

“Iya, Pak.”

“Sudah berapa lama?”

“Sebelas tahun.”

Rector Halvard menatap langit-langit gudang cukup lama.

“Aku akan menandatangani anggarannya minggu ini,” katanya. “Ravel. Ikut aku.”


Kami tidak ke kantornya.

Kami berjalan ke sayap barat, ke lantai bawah tanah, lewat pintu yang tidak punya papan nama dan yang gemboknya butuh dua kunci berbeda.

“Arsip Pendirian,” kata Halvard, sambil membuka kunci kedua. “Tiga ratus dua belas tahun. Akses terbatas pada Rector dan penandatangan Gereja.”

“Aku bukan keduanya.”

“Tidak,” katanya. “Kau bukan.”

Pintu terbuka.


Ruangan itu lebih kecil dari perpustakaan lantai dua dan berisi lebih banyak.

Rak dari lantai ke langit-langit, semuanya penuh, semuanya berdebu dengan cara yang menunjukkan bahwa debu itu tidak diganggu selama bertahun-tahun. Bau kertas tua dan sesuatu yang lebih tajam — bahan pengawet, mungkin.

Halvard menyalakan lentera dan menaruhnya di meja tengah.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

Dia tidak duduk. Dia berjalan ke rak ketiga dari kanan, mengambil satu jilid dari baris paling atas tanpa perlu mencari, dan membawanya ke meja.

Sampulnya kulit. Tanpa judul.

“Rector kedua belas,” katanya. “Namanya Iven Corrat. Menjabat empat tahun. Dihapus dari daftar seratus empat tahun lalu.”

Dia membuka jilid itu.

“Yang dia temukan ada di halaman empat puluh satu,” katanya. “Aku tidak akan membacakannya untukmu. Aku akan membiarkanmu membacanya sendiri, karena aku sudah membaca halaman itu enam kali dalam dua puluh enam tahun dan aku tidak sanggup mendengar suaraku sendiri mengucapkannya.”

Dia mendorong jilid itu ke arahku.

Lalu dia duduk — akhirnya — di kursi seberang, dan menaruh kedua tangannya di meja, dan aku melihat keduanya gemetar sekarang dan dia sudah berhenti menyembunyikannya.

Aku membuka halaman empat puluh satu.


Tulisannya rapat, tinta cokelat pudar, dengan koreksi di margin.

Aku membacanya tiga kali.

Yang bisa kuringkas:

Sol Invictus tidak dibangun sebagai akademi.

Sol Invictus dibangun sebagai rumah jaga.

Well of Descent bukan tempat dewa pertama kali turun. Itu versi yang diajarkan, dan versi itu berumur tiga ratus dua belas tahun, dan versi itu dibuat pada tahun akademi didirikan.

Well of Descent adalah titik segel.

Dan alasan akademi kontraktor terbesar di benua dibangun tepat di atasnya adalah karena segel itu butuh dirawat, dan cara merawatnya adalah dengan memastikan bahwa setiap tahun, ratusan manusia muda berlutut di bibirnya, menaruh kedua telapak tangan di batu, dan berdiri lagi tanpa mendengar apa pun.

Upacara kontrak bukan upacara.

Upacara kontrak adalah pemeliharaan.


Aku menutup jilid itu.

Aku tidak ingat memutuskan untuk menutupnya.

“Iven Corrat menemukan ini di tahun ketiganya,” kata Rector Halvard. “Dia menuliskannya. Dia mengajukannya ke Dewan Gereja.”

“Dan mereka menghapusnya.”

“Mereka menghapusnya,” katanya, “dan mengganti seluruh dokumen pendirian, dan membakar sembilan salinan, dan melewatkan satu.”

Dia menunjuk jilid di tanganku.

“Kenapa dia mengajukannya?” tanyaku.

“Karena dia pikir orang berhak tahu.”

“Dan Bapak tidak mengajukannya.”

Rector Halvard menatapku.

“Tidak,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku sudah membaca apa yang terjadi pada Iven Corrat,” katanya, “dan karena aku tujuh puluh satu tahun dan pengecut, dan karena kalau aku dihapus juga maka Rector ketiga belas akan jadi orang yang dipilih Gereja, dan aku sudah menghabiskan dua puluh enam tahun menghalangi hal-hal yang tidak bisa kuceritakan pada siapa pun.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Aku tidak sedang membela diriku,” katanya. “Aku sedang memberitahumu urutan kejadiannya supaya kau bisa menghakimiku dengan informasi yang benar.”


“Empat puluh detik,” kataku.

“Iya.”

“Setiap orang yang berlutut menambah satu lapis.”

“Iya.”

“Dan Bapak tahu itu,” kataku, “dan Bapak berdiri di mimbar setiap tahun dan memimpin upacaranya.”

“Dua puluh enam kali,” kata Rector Halvard.

Dia tidak membela diri. Aku tetap menunggu, dan dia tetap tidak membela diri, dan akhirnya aku menyadari bahwa dia memang tidak berencana.

“Berapa banyak yang tidak dijawab?” tanyaku. “Dua puluh enam tahun. Berapa totalnya.”

Dia menutup matanya.

“Empat ribu delapan ratus dua puluh satu,” katanya.

Aku merasakan sesuatu naik di dadaku.

“Bapak menghitungnya.”

“Setiap tahun,” katanya. “Setiap nama. Aku menuliskannya di buku pribadi yang akan kubakar sebelum aku mati, karena kalau buku itu ditemukan, akademi ini ditutup dalam dua minggu dan segelnya berhenti dirawat.”

“Dan kalau segelnya berhenti dirawat—“

Rector Halvard membuka matanya.

“Nah,” katanya. “Itu pertanyaan yang benar.”


”Katakan namaku.”

Aku mengangkat kepalaku.

Ruangan arsip itu tidak berubah. Halvard masih duduk di seberangku. Lentera masih menyala.

”Bukan padanya,” kata Aion. ”Padaku.”

“Kau punya nama?”

Rector Halvard menoleh cepat. “Apa?”

”Semua yang ada punya nama,” kata Aion. ”Itu satu-satunya hukum yang kubuat sebelum aku membuat yang lain. Sesuatu yang tidak dinamai tidak ada.”

“Lalu kenapa aku tidak tahu namamu.”

”Karena mereka menghapusnya.”

Aku berdiri dari kursi.

“Ravel,” kata Halvard.

”Delapan belas anakku tidak cuma menyegelku,” kata Aion, dan suaranya sangat pelan sekarang. ”Menyegel saja tidak cukup. Sesuatu yang bernama bisa dipanggil, dan sesuatu yang dipanggil bisa dijangkau, bahkan lewat segel.”

“Jadi mereka—“

”Mereka mengambil namaku dari setiap bahasa yang ada,” katanya. ”Dari setiap bahasa yang akan ada. Dari mulut setiap manusia yang belum lahir. Itu bukan penghapusan catatan. Itu penghapusan kemungkinan diucapkan.

Aku berdiri di ruang arsip dengan tangan di meja.

“Lalu kenapa kau menyuruhku mengatakannya?”

Jeda.

”Karena ada satu tempat yang mereka lewatkan,” kata Aion.


Rector Halvard sudah berdiri juga. Dia berbicara — aku bisa melihat mulutnya bergerak — dan aku tidak bisa mendengarnya sama sekali.

”Delapan belas anakku menghapus namaku dari dunia,” kata Aion. ”Mereka sangat teliti. Mereka membutuhkan sembilan ratus tahun.”

“Dan yang dilewatkan?”

”Mereka tidak bisa menghapusnya dari dalam segel,” katanya. ”Karena segel itu bahannya manusia yang tidak mendengar, dan untuk menghapus sesuatu dari dalam segel mereka harus masuk ke dalamnya, dan kalau mereka masuk ke dalamnya mereka akan mendengarku.”

Aku menutup mataku.

”Namaku ada di satu tempat di seluruh keberadaan,” kata Aion. ”Di tempat yang sama denganku. Di dasar. Di dalam sesuatu yang bahannya adalah empat ribu delapan ratus dua puluh satu orang yang berdiri dan berjalan pergi.”

“Dan aku.”

”Dan kau,” katanya. ”Lapisan yang tidak mengeras.”

Aku membuka mataku.

“Kau menyimpan namamu di dalamku.”

”Aku tidak menyimpannya,” kata Aion. ”Ia jatuh ke sana. Delapan belas ribu tahun aku menyebutnya ke dalam kegelapan, setiap hari, supaya aku tidak lupa — dan setiap kali seseorang berlutut di sumur, sebagian kecil dari suaraku menempel di lapisan yang mereka tinggalkan.”

Jeda.

”Empat ribu delapan ratus dua puluh satu lapisan,” katanya, ”dan tidak satu pun dari mereka bertahan cukup lama untuk membawa satu suku kata utuh.”

“Sampai—“

”Sampai seseorang berlutut empat puluh detik.”


Aku duduk kembali di kursi ruang arsip lantai bawah tanah sayap barat.

Rector Halvard sedang berlutut di sebelahku dengan tangan di bahuku dan wajah yang sepenuhnya panik, dan aku baru menyadari bahwa aku sudah tidak berdiri sejak entah kapan.

“—dengar suaraku? Ravel.”

“Iya, Pak.”

“Kau berhenti bicara selama empat menit.”

“Empat?”

“Empat,” katanya. “Kau berdiri, kau bicara pada sesuatu yang tidak ada, dan lalu kau berhenti dan tidak bergerak selama empat menit.”

Aku menatapnya.

“Pak Rector,” kataku.

“Iya.”

“Bapak bilang orang yang mengetahuinya cenderung berhenti jadi orang yang bisa dilindungi.”

Wajah orang tua itu berubah.

“Iya,” katanya.

“Aku akan mengatakan sesuatu,” kataku, “dan setelah aku mengatakannya, Bapak tidak bisa melindungiku lagi.”

Halvard duduk di kursinya.

Sangat pelan. Seperti orang yang sudah tahu, dan yang tetap harus duduk.

“Katakan,” katanya.


Dan aku mengatakannya.

Aku tidak menuliskannya di sini.

Bukan karena aku lupa — aku tidak akan pernah lupa; itu satu-satunya hal dalam seluruh hidupku yang aku tahu tidak akan pernah hilang dari kepalaku.

Aku tidak menuliskannya karena ada dua suku kata, dan karena begitu aku mengucapkannya di ruang arsip itu, empat hal terjadi dalam waktu kurang dari dua detik.

Satu. Lentera di meja padam. Bukan mati — padam, seperti ditutup telapak tangan.

Dua. Setiap jilid di ruangan itu terbuka sekaligus. Tiga rak. Sekitar empat ratus jilid. Semuanya membuka diri ke halaman acak dengan suara yang terdengar seperti burung.

Tiga. Rector Halvard, [ God of Thresholds — Divine Tier III ], dewa ambang pintu, orang yang bisa merasakan kapan sesuatu berada di antara dua keadaan —

menangis.

Bukan sedikit. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar dan menangis seperti orang yang sudah menahan sesuatu selama dua puluh enam tahun dan baru saja diberi izin.

“Kau mendengarnya,” kataku.

“Iya,” katanya, dari balik tangannya.

“Bapak juga berlutut di sumur itu.”

“Umur tujuh belas,” kata Rector Halvard. “[ God of Thresholds ] menjawab di detik keempat. Aku bahkan tidak sempat menunggu.”

Dia menurunkan tangannya.

“Dan aku sudah menghabiskan lima puluh empat tahun,” katanya, “bertanya-tanya apa yang tidak kudengar.”

Empat.

Sesuatu muncul di depan mataku.

[ AION ]
[ Divine Tier 0 — The First ]
[ Name: RECOVERED ]
[ Contract: PARTIAL — Stage 1 ]
[ Stage 2 — Unlocking... ]


Kami tinggal di ruang arsip sampai jam empat pagi.

Halvard tidak bertanya lebih banyak. Aku curiga dia sudah menyusun sebagian besarnya sendiri selama dua puluh enam tahun dan cuma butuh satu potongan terakhir.

Yang dia lakukan adalah menulis.

Dia menulis selama tiga jam, di kertas akademi resmi, dengan tangan yang gemetar sampai dia harus menahan pergelangannya dengan tangan kiri.

“Apa itu,” tanyaku.

“Surat.”

“Untuk siapa?”

“Kardinal Aureus Vant.”

Aku menegakkan badan.

“Pak—“

“Aku tidak menulis namamu,” katanya. “Aku tidak menulis nama yang baru saja kau ucapkan. Aku tidak menulis satu pun hal yang akan membuat mereka datang ke sini.”

Dia terus menulis.

“Aku menulis pengunduran diriku,” katanya.

Aku berdiri.

“Duduk,” katanya.

Aku tidak duduk.

“Aku sudah tujuh puluh satu tahun,” kata Rector Halvard. “Aku sudah menahan mosi Vant sekali dan aku tidak akan bisa menahannya dua kali. Dan aku sudah menandatangani dua puluh enam upacara pemeliharaan dengan tanganku sendiri dan aku tidak akan menandatangani yang kedua puluh tujuh.”

“Kalau Bapak mundur, Vant yang menggantikan.”

“Iya.”

“Vant akan menutup akademi.”

“Iya.”

“Kalau akademi ditutup, segelnya berhenti dirawat.”

Rector Halvard mengangkat kepalanya dari suratnya.

“Iya,” katanya.

Ruang arsip itu sangat sunyi.

“Bapak sengaja.”

“Aku tujuh puluh satu tahun,” kata Rector Halvard lagi, “dan aku baru saja mendengar sesuatu yang tidak kudengar waktu aku berumur tujuh belas, dan aku menghabiskan lima puluh empat tahun berpikir bahwa sesuatu itu tidak ada.”

Dia menandatangani suratnya.

“Empat ribu delapan ratus dua puluh satu orang,” katanya. “Dan itu cuma dua puluh enam tahunku. Ada dua ratus delapan puluh enam tahun sebelum aku.”

Dia melipat suratnya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau segel itu pecah,” katanya. “Aku tidak berpura-pura tahu. Mungkin sesuatu yang mengerikan. Mungkin sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari yang bisa kubayangkan.”

Dia menaruh surat itu di meja.

“Tapi aku tahu apa yang terjadi kalau ia tidak pecah,” katanya, “karena aku sudah menontonnya dua puluh enam kali, dan aku sudah menghitung namanya, dan aku tidak sanggup menghitung yang kedua puluh tujuh.”


Aku berjalan pulang saat fajar.

Halaman tengah masih dipagari. Empat penjaga. Lentera di keempat sisi.

Aku berhenti di luar pagar dan menyalakan penglihatanku, dan Well of Descent kosong seperti tiga bulan terakhir, dan di dalam dadaku sesuatu berdenyut satu kali.

[ Stage 2 — Unlocking... 3% ]

”Terima kasih,” kata Aion.

Aku berhenti berjalan.

Delapan bulan. Ratusan percakapan. Dan itu adalah pertama kalinya dia mengucapkan dua kata itu.

“Untuk apa.”

”Aku sudah lupa bunyinya,” katanya.

Aku berdiri di halaman tengah saat matahari naik.

”Delapan belas ribu tahun aku menyebutnya ke dalam kegelapan supaya aku tidak lupa,” kata Aion, ”dan sekitar sembilan ribu tahun lalu aku menyadari bahwa aku sudah tidak yakin apakah yang kusebut itu benar.”

Angin naik dari sumur.

”Sekarang aku yakin,” katanya.