Chapter Twenty Eight
Buku yang Telat Dikembalikan
POV: Moona Selene
Aku tidak menangis.
Aku ingin menuliskan itu di awal supaya tidak ada yang menunggunya.
Kamarnya di asrama utara, lantai tiga, nomor 3-17.
Aku mendapat kuncinya dari Kantor Administrasi pada hari kelima. Petugasnya bertanya apa hubunganku. Aku bilang aku peringkat dua angkatan.
Dia memberikannya.
Aku sudah tahu Freya melakukan hal yang sama tiga hari sebelumnya. Petugas itu menyebutkannya. Katanya, “Peringkat satu sudah mengurus tagihan medisnya.”
Aku bilang oke.
Kamar itu berisi lebih sedikit dari yang kuduga.
Aku sudah menyiapkan diri untuk banyak. Aku sudah menyiapkan diri untuk sesuatu yang akan memakan berhari-hari.
Isinya:
Satu ranjang. Satu meja. Satu kursi. Satu lemari dengan dua seragam dan satu mantel. Satu rak di atas ranjang.
Aku menghitung semuanya dalam empat menit.
Di rak itu ada tujuh benda.
Satu. Dua puluh dua jilid transkrip duel, cetakan pribadi. Aku tahu siapa yang mengirimnya.
Delapan jilid sudah dibaca. Sisanya belum. Aku tahu karena punggung buku yang belum dibaca masih kaku.
Dua. Buku pribadi Rector Halvard. Empat ribu delapan ratus dua puluh satu nama.
Aku membukanya sekali, membaca satu halaman, dan menutupnya.
Aku mengembalikannya ke Kantor Rector pada hari yang sama dan tidak menjelaskan dari mana aku mendapatkannya.
Tiga. Katalog stasiun kereta wilayah barat, cetakan sembilan tahun lalu.
Aku mengambilnya.
Aku tidak akan menjelaskan itu.
Empat. Sebuah amplop dengan tulisan — H. di bagian dalam surat.
Aku membacanya.
Jangan menunggu sampai umur tujuh puluh satu.
Aku menaruhnya kembali.
Lima. Sebuah amplop lain, tulisan tangan yang sangat rapi dan sangat ditekan.
Ini bukan karena aku peduli.
Aku menaruhnya kembali juga.
Enam. Kertas-kertas.
Sekitar empat puluh lembar, disusun rapi, semuanya berisi angka.
Aku membacanya semua.
Frekuensi bocoran per minggu. Jumlah serat di atas Well of Descent, dihitung setiap malam selama tiga bulan. Persentase yang tidak dia jelaskan pada siapa pun sampai bab kedua puluh satu hidupnya.
Dan di lembar ketiga puluh sembilan, di margin, dalam tulisan yang jauh lebih kecil dari yang lain:
Halaman 38 → 31. Kenapa turun?
Aku tahu apa itu.
Katalog stasiun kereta. Berapa kali aku membalik halaman dalam sepuluh menit.
Tiga puluh delapan di malam pertama. Tiga puluh satu, empat bulan kemudian.
Dia mencatatnya.
Dia mencatatnya di antara frekuensi bocoran Abyss dan persentase segel yang menipis di dasar dunia, dan dia menulis kenapa turun, dan tidak ada jawaban di bawahnya.
Aku menyimpan lembar ketiga puluh sembilan.
Aku mengembalikan tiga puluh delapan lembar lainnya ke Kantor Insiden karena isinya data resmi.
Tujuh. Sebuah kaleng susu jelai kosong, dengan penyok di sisi bawah.
Bukan yang kuberikan.
Yang kedua.
Aku memberinya kaleng kedua di ruang tabib, malam kelima setelah duel resmi, waktu dia tidak bisa mengangkat tangan kanan.
Dia menyimpan yang kedua juga.
Aku duduk di lantai kamar 3-17 selama sekitar satu jam.
Aku tidak menangis.
Ada denda perpustakaan.
Aku menemukannya pada hari keenam, saat memeriksa daftar peminjaman untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Kompilasi Laporan Insiden Akademi, Jilid 24–26. Dipinjam hari ketujuh belas bulan kesembilan. Jatuh tempo hari kedua puluh satu. Status: TERLAMBAT (11 hari). Denda: 3 perak 4 tembaga.
Dia meminjamnya pada malam Insiden Sayap Utara.
Jam sembilan lewat empat puluh, menurut catatan peminjaman.
Dua belas menit sebelum lantai Arena Ketiga naik tiga sentimeter.
Aku membawa ketiga jilid itu ke perpustakaan pada hari keenam.
Penjaganya Ostrom. Dia tidur di kursi dekat pintu utara setelah ketukan ketiga; itu bukan rahasia, dan aku sudah tahu sejak malam kedua tahun ajaran ini.
Tapi ini siang, jadi dia bangun.
“Terlambat sebelas hari,” katanya.
“Iya.”
“Tiga perak empat tembaga.”
Aku membayarnya.
Dia menulis kuitansi. Dia bertanya nama peminjam untuk pencatatan.
Aku menyebutkan namanya.
Ostrom berhenti menulis.
“Anak itu,” katanya.
“Iya.”
Dia menatap kuitansi di depannya selama sekitar tiga detik.
“Dia di sini setiap malam,” katanya. “Sepuluh bulan. Aku tidak pernah mengusirnya.”
Aku tidak menjawab.
“Aku selalu bangun sebentar sekitar jam dua,” katanya. “Aku tidak pernah bilang padanya.”
Dia menyelesaikan kuitansi itu dan menyerahkannya padaku.
“Dendanya tidak perlu dibayar,” katanya. “Peminjam meninggal, dendanya dihapus. Itu ada di peraturan.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu dan kau tetap membayar.”
“Iya.”
Ostrom menatapku.
Lalu dia mengambil kuitansi itu kembali, membaliknya, dan menulis sesuatu di belakangnya, dan menyerahkannya lagi.
Di belakangnya tertulis:
Dibayar lunas. Tidak perlu.
Aku menyimpannya.
Aku menangani administrasi kematiannya.
Aku ingin mencatat daftarnya, karena aku menghabiskan sembilan hari melakukannya, dan karena tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa aku melakukannya.
Pengembalian kunci kamar — hari keenam. Pengembalian dua seragam akademi — hari keenam. Pembatalan jatah makan — hari ketujuh. Petugas kantin bertanya apakah aku yakin, karena jatah sudah dibayar sampai akhir tahun ajaran dan tidak bisa dikembalikan. Aku bilang batalkan saja. Penghapusan nama dari daftar hadir Kelas F — hari ketujuh. Instruktur Duskmantle harus menandatanganinya. Dia menandatanganinya tanpa membaca dan lalu duduk di kursinya cukup lama. Penghapusan nama dari daftar peringkat semester — hari kedelapan. Peringkat 87. Kantor Akademik memindahkan semua orang di bawahnya naik satu.
Delapan puluh tujuh orang naik satu peringkat.
Tidak ada yang menyadari kenapa.
Pengembalian buku perpustakaan — hari keenam. Pembayaran denda — hari keenam. Formulir penutupan berkas murid — hari kesembilan.
Formulir itu punya delapan belas kolom.
Aku mengisi tujuh belas.
Kolom kedelapan belas berbunyi: Diserahkan kepada (nama, hubungan).
Aku menatap kolom itu selama sekitar dua puluh menit di meja Kantor Administrasi.
Lalu aku menyerahkan formulirnya dengan kolom kedelapan belas kosong.
Petugasnya bilang itu tidak apa-apa. Katanya banyak yang kosong.
Aku tidak menangis.
Pemakaman diadakan pada hari kedua belas.
Dua puluh tiga orang.
Aku berdiri di sisi kiri.
Freya berdiri di sisi kanan dan tidak menangis, dan aku memperhatikan bahwa dia menghitung sesuatu selama sekitar empat menit, dan aku memperhatikan bahwa dia berhenti dan mulai lagi tiga kali.
Aku tidak menghitung apa pun.
Aku sedang melakukan hal lain, dan aku akan mencatatnya di sini karena tidak ada tempat lain untuk mencatatnya.
Aku sedang mengingat stasiun kereta.
Tiga puluh satu stasiun, wilayah barat, urut dari utara ke selatan. Verrow Barat, dua peron, keberangkatan pertama jam lima lewat empat puluh. Coldmere, tiga peron, jam lima lewat lima puluh. Halbrook, empat peron, jam lima lewat dua puluh.
Aku menyelesaikan seluruh daftarnya dua kali selama pemakaman.
Aku sudah menyiapkan dua belas jam bahan bicara sembilan hari sebelum dia jatuh, dan aku memakainya empat puluh jam, dan aku mengarang setengahnya, dan setelah itu aku pikir aku sudah selesai dengan stasiun kereta.
Ternyata tidak.
Pip Harrowmere berdiri terlalu dekat dengan lubangnya.
Tidak ada yang menariknya mundur. Aku juga tidak.
Setelah semua orang pergi, dia masih di sana.
Aku tinggal karena aku peringkat dua angkatan dan karena tidak ada alasan lain yang perlu kujelaskan pada siapa pun.
“Kau Moona Selene,” katanya.
“Iya.”
“Aku Pip.”
“Aku tahu.”
Dia mengangguk. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah paku. Delapan sentimeter. Berkilau.
“Aku mau menaruh ini,” katanya. “Tapi aku nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku taruh, dia balik lagi kalau dipanggil.” Dia menatap paku itu. “Aku nggak bisa memberikan sesuatu yang balik terus.”
Dia berdiri di sana memegang pakunya.
“Ini satu-satunya yang aku punya,” katanya.
Dan aku berdiri di pemakaman sisi utara Sol Invictus pada hari kedua belas dan tidak tahu harus mengatakan apa pada anak enam belas tahun yang memegang satu-satunya hal yang dia punya dan tidak bisa memberikannya.
Jadi aku berkata:
“Panggil terus.”
Dia menoleh.
“Apa?”
“Kalau dia balik terus,” kataku, “panggil terus.”
Pip Harrowmere menatapku selama sekitar lima detik.
Lalu dia menaruh paku itu di tanah di depan nisan, dan berbalik, dan berjalan pergi.
Aku menunggu.
Empat menit kemudian, paku itu hilang.
Aku pergi ke atap pada malam hari kedua belas, karena itu malam Selasa.
Aku duduk di tepi. Empat lantai. Tidak ada pagar.
Aku mengeluarkan roti gandum keras, empat potong, karena aku membelinya setiap Selasa selama enam bulan dan aku tidak memikirkannya waktu membelinya hari itu.
Aku memakan satu.
Tiga tersisa.
Aku duduk di sana selama tiga jam dan tidak memakan sisanya dan tidak membuangnya.
Aku ingin mencatat satu hal, dan lalu aku selesai.
Di ruang arsip lantai dua perpustakaan, dua bulan lalu, aku berdiri di lorong dan mengatakan sesuatu yang sudah kususun dalam enam puluh versi.
Aku bilang aku tidak akan meminta apa pun.
Aku bilang aku tidak akan bertanya siapa yang dia pilih.
Aku bilang itu dengan sangat tenang dan aku bangga pada diriku sendiri selama sekitar tiga minggu karena aku mengucapkannya tanpa suaraku pecah.
Dan aku mengatakannya karena aku pikir aku sedang bermurah hati.
Aku salah.
Aku mengatakannya karena selama aku tidak bertanya, tidak ada jawaban, dan selama tidak ada jawaban, tidak ada yang bisa hilang.
Empat puluh tujuh kali aku menahan diri melawan Freya Solaris dan aku menyebutnya kebaikan selama enam tahun.
Aku melakukan hal yang sama padanya selama sebelas bulan.
Dan di halaman tengah, pada hari kedelapan bulan kesembilan, pukul tujuh kurang sepuluh pagi, seseorang berdiri di antara empat ratus orang dan sesuatu setinggi empat orang, dan sebelum dia berhenti, dia berkata:
”Maaf. Aku belum sempat jawab.”
Dia bilang belum sempat.
Bukan tidak tahu.
Belum sempat.
Yang artinya ada jawaban.
Yang artinya ada jawaban selama entah berapa lama, dan tidak ada yang bertanya, karena satu-satunya orang yang boleh bertanya sudah memutuskan sebelas bulan lalu bahwa bertanya adalah hal yang terlalu berbahaya untuk dilakukan.
Aku tidak menangis.
Aku duduk di tepi atap asrama utara pada malam Selasa hari kedua belas, dengan tiga potong roti gandum keras di sebelahku dan sebuah katalog stasiun kereta yang bukan milikku di pangkuanku, dan aku membuka halaman pertama.
Di bawah judul cetakan, dalam tulisan tangan anak kecil:
MOONA. HALBROOK. PERON 4.
Supaya kalau aku hilang, ada yang tahu ke mana harus mengembalikan aku.
Aku menutup buku itu.
Dan lalu — dan ini satu-satunya hal yang tidak akan kucatat dengan akurat, karena aku tidak sanggup —
aku menyadari bahwa aku sedang memegang satu-satunya benda di dunia yang menjelaskan ke mana seseorang harus dikembalikan,
dan bahwa dia tidak punya satu pun,
dan bahwa nisannya berisi lima huruf dan dua tanggal dan tidak ada apa-apa lagi.
Aku tidak menangis.
Aku duduk di tepi atap sampai jam empat pagi, yang mana adalah jam saat tukang roti di peron dua Stasiun Verrow Barat buka menurut katalog cetakan sembilan tahun lalu yang sudah tidak akurat,
dan aku menunggu,
dan tidak ada yang buka.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan reading
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku