Chapter Nineteen
Yang Tidak Diucapkan
POV: Ravel
Moona Selene tidak berubah sama sekali.
Aku ingin menuliskannya dulu, di awal, karena itulah seluruh isi bab ini dan karena aku menghabiskan sembilan hari mencari bukti sebaliknya dan tidak menemukan satu pun.
Malam Selasa: dia ada di atap. Perpustakaan lantai dua: dia ada di ambang jendela. Kantin: dia masih mengambil roti gandum keras dan masih menawarkannya sambil bilang itu kebetulan.
Sarkasmenya masih tepat waktu. Timing-nya masih sempurna. Dia masih memantulkan setiap pertanyaan pribadi kembali padaku dalam waktu kurang dari satu detik.
Tidak ada yang berubah.
Itu masalahnya.
Aku mencatat sembilan hal dalam sembilan hari.
Aku mencatatnya di kertas, karena aku sudah belajar dari Nessa bahwa hal yang tidak dicatat akan berubah bentuk di kepalamu sampai kau bisa memutuskan artinya apa pun yang kau mau.
Hari pertama. Malam Selasa. Atap. Dia sudah di sana saat aku naik — biasanya dia sudah di sana. Dia tidak menyinggung aula. Aku menunggu empat puluh menit dan dia tidak menyinggungnya, dan lalu dia bilang harus turun, dan turun.
Hari kedua. Kantin. Dia melihatku dari antrean, mengangkat dagu setengah senti sebagai sapaan, dan makan dengan Kelas A seperti biasa.
Hari ketiga. Tidak bertemu.
Hari keempat. Perpustakaan. Dia datang jam sebelas, duduk di ambang jendela, membaca katalog stasiun kereta wilayah barat. Dia membalik halaman tiga puluh satu kali dalam sepuluh menit.
Aku menghitungnya. Tiga puluh satu.
Tiga bulan lalu, angkanya tiga puluh delapan.
Aku mencatat itu dan tidak tahu apa artinya.
Hari kelima. Dia menemuiku di koridor timur dan berkata, “Kelas D punya papan taruhan,” dan aku bilang “aku tahu,” dan dia bilang “kategori tujuh lucu,” dan berjalan pergi.
Aku memikirkan itu selama enam jam.
Hari keenam. Tidak bertemu.
Hari ketujuh. Arena Ketiga. Aku sedang latihan dengan Freya, jam sepuluh malam, dan aku melihat sesuatu di pintu masuk sisi utara — gerakan, sepersekian detik, tidak ada suara.
Aku tidak menyebutkannya pada Freya.
Hari kedelapan. Malam Selasa kedua. Atap.
Dan di hari kedelapan aku melakukan kesalahan.
Kami sudah di atap sekitar dua puluh menit.
Roti gandum keras. Empat potong. Dia bilang kebetulan. Aku bilang oke.
“Kelas D menutup kategori tujuh,” katanya.
“Kenapa?”
“Tidak ada yang mau memasang lagi.” Dia mengayunkan satu kakinya. “Empat puluh satu nama, dan tiga puluh sembilan dari mereka menulis angka di bawah tiga puluh hari, dan hari ini hari kedua puluh sembilan sejak papan itu dibuat.”
Aku menoleh.
“Kau menghitung.”
“Aku membaca papan,” katanya. “Angkanya ada di sana. Itu bukan menghitung, itu membaca.”
“Kau tahu hari keberapa.”
“Semua orang tahu hari keberapa.”
“Moona.”
“Roti masih ada dua.”
Dan di situ aku seharusnya berhenti.
Aku sudah tahu, saat itu — aku sudah punya delapan hari catatan dan aku sudah melihat pola dan aku sudah tahu persis apa yang sedang terjadi.
Yang tidak kuketahui adalah apa yang harus dilakukan dengannya.
Jadi aku melakukan hal yang paling bodoh yang tersedia.
“Kau ada di aula,” kataku.
Moona Selene berhenti mengunyah.
“Baris ketiga, sisi kanan,” kataku. “Aku cek daftar hadir.”
Angin di atap itu naik dan turun.
“Kau cek daftar hadir,” katanya.
“Iya.”
“Untuk mencari namaku.”
“Iya.”
Dia menelan.
“Kenapa?”
Dan aku membuka mulut untuk menjawab, dan aku menyadari — di detik yang sama, dengan kejelasan yang sangat tidak nyaman — bahwa aku tidak punya jawaban yang tidak berbahaya.
Aku mengeceknya karena aku ingin tahu apakah dia melihatnya.
Aku ingin tahu apakah dia melihatnya karena aku ingin tahu bagaimana perasaannya.
Aku ingin tahu bagaimana perasaannya karena —
“Nah,” kata Moona.
Dia mengambil roti terakhir.
“Kau lihat?” katanya, sangat ringan. “Kau juga berhenti di tengah kalimat. Kita semua begitu. Ini bukan penyakit khusus aku.”
“Moona.”
“Aku serius, itu melegakan.” Dia menggigit rotinya. “Aku pikir cuma aku.”
“Itu bukan hal yang sama.”
“Kenapa bukan?”
“Karena aku berhenti karena aku belum tahu,” kataku. “Kau berhenti karena kau sudah tahu.”
Moona Selene tidak bergerak.
Angin di atap asrama utara bertiup dari arah halaman, dan lampu Arena Ketiga menyala di kejauhan, dan aku bisa mendengar diriku sendiri bernapas terlalu keras.
“Itu tuduhan,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Kau melakukan itu sekarang. Menuduh dan mengaku di kalimat yang sama.”
“Aku belajar dari orang yang berbahaya.”
“Nessa Quill.”
“Nessa Quill.”
Dia menghela napas, dan itu adalah hal paling dekat dengan mengakui sesuatu yang pernah kudengar darinya.
“Ravel,” katanya.
“Hm.”
“Kalau aku bilang berhenti,” katanya, “kau berhenti?”
Aku memikirkannya.
“Iya,” kataku.
“Berhenti.”
Aku berhenti.
Hari kesembilan aku tidak melihatnya.
Hari kesepuluh juga tidak.
Hari kesebelas aku mendapati diriku berjalan melewati Kelas A empat kali dalam satu hari tanpa alasan yang bisa kupertahankan di pengadilan mana pun, dan pada percobaan keempat Nessa berdiri di ujung koridor dengan tongkatnya dan menatapku.
“Empat kali,” katanya.
“Aku sedang—“
“Empat kali, dan tiga di antaranya kau memperlambat langkah di depan pintu ruang tiga.” Dia membuka bukunya. “Aku juga mencatat bahwa kau melakukan hal yang sama minggu lalu, dua kali.”
“Nessa.”
“Aku tidak menghakimi. Aku mencatat.”
“Ada bedanya?”
“Dalam praktiknya, tidak,” katanya, dan menutup bukunya. “Ravel, aku akan mengatakan sesuatu yang tidak diminta.”
“Aku sudah tahu.”
“Kau sudah tahu apa?”
“Bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang tidak adil.”
Nessa Quill menatapku cukup lama.
“Itu bukan yang mau kukatakan,” katanya.
“Lalu apa?”
“Aku mau bertanya berapa banyak yang kau tahu,” katanya. “Karena kalau kau tidak tahu, ini situasi yang berbeda, dan aku akan memberimu keringanan.”
“Aku tahu.”
“Sejak kapan?”
Aku memikirkannya jujur-jujur.
“Malam di atap,” kataku. “Yang pertama. Waktu aku mengeluarkan kaleng itu dan dia memasukkannya ke saku dan mengancingkannya.”
“Itu tiga bulan lalu.”
“Iya.”
“Dan Freya Solaris berdiri di depan tiga ratus dua puluh empat orang sebelas hari lalu.”
“Iya.”
Nessa menutup matanya sebentar.
“Aku tidak akan mencatat ini,” katanya.
Hari keempat belas, dia menemuiku.
Bukan di atap. Bukan di perpustakaan. Di halaman belakang gudang, jam empat sore, tempat yang sama tempat Freya menemukanku dua bulan lalu.
Dia berdiri di ujung halaman dengan tangan di saku mantel.
“Aku bilang berhenti,” katanya.
“Aku berhenti.”
“Kau berjalan melewati Kelas A empat belas kali dalam tiga hari.”
“...Nessa cerita?”
“Aku punya mata,” kata Moona Selene. “Aku peringkat dua angkatan dan aku bisa bergerak tanpa suara dan kau pikir aku tidak melihat orang berjalan bolak-balik di depan pintu ruangku empat belas kali?”
Halaman belakang gudang itu sangat sunyi.
“Maaf,” kataku.
“Jangan minta maaf.”
“Maaf.”
“Ravel.”
“Aku tidak tahu harus bagaimana,” kataku.
Dan Moona Selene mengeluarkan tangannya dari saku, dan di tangannya ada kaleng susu jelai kosong, dan aku mengenalinya karena ada penyok kecil di sisi bawah yang sudah kuhafal selama enam minggu.
“Empat bulan,” katanya.
Aku menatap kaleng itu.
“Kau menyimpannya empat bulan.”
“Aku menyimpannya empat bulan,” katanya, “dan aku tidak akan menjelaskan kenapa, karena kau tidak menjelaskan kenapa, dan karena kita berdua sedang melakukan hal yang sangat pengecut dan setidaknya kita bisa melakukannya dengan aturan yang sama.”
Dia memasukkannya kembali ke saku.
“Aku akan mengatakan tiga hal,” katanya. “Lalu aku pergi. Jangan menjawab.”
Aku tidak menjawab.
“Satu,” katanya. “Aku ada di aula. Baris ketiga sisi kanan. Aku memilih tempat itu karena dari sana aku bisa melihat baris paling belakang, dan aku memilihnya sebelum aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku sudah duduk di sana setiap upacara selama tiga bulan.”
“Moona—“
“Jangan menjawab.”
Aku menutup mulutku.
“Dua,” katanya. “Freya adalah temanku sejak umur enam. Dia satu-satunya orang yang tidak menganggapku aneh waktu semua orang menganggapku aneh, dan aku sudah membiarkannya menang empat puluh tujuh kali karena aku tidak mau jadi orang yang mengambil sesuatu darinya.”
Suaranya sama sekali tidak berubah. Datar. Terukur. Itu yang membuatnya buruk.
“Tiga,” katanya.
Dia berhenti.
Aku menunggu.
Dan Moona Selene berdiri di halaman belakang gudang, jam empat sore, dengan kaleng kosong di sakunya, dan tidak mengatakan hal ketiga.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
“Ternyata cuma dua,” katanya.
Lalu dia berbalik dan pergi.
Aku berdiri di halaman belakang gudang sampai gelap.
Aku memikirkan sesuatu yang tidak nyaman dan aku memikirkannya sampai selesai, karena aku sudah lelah berhenti di tengah kalimat.
Yang kupikirkan begini:
Freya berdiri di depan tiga ratus dua puluh empat orang karena dia tidak percaya pada dirinya sendiri untuk tidak menariknya kembali. Dia mengurung dirinya dengan saksi.
Moona berdiri di halaman belakang gudang di depan satu orang dan tetap tidak bisa.
Dan aku, selama empat bulan, sudah menyimpan kaleng kosong di rak dan mengecek daftar hadir dan berjalan melewati Kelas A empat belas kali dalam tiga hari, dan tidak sekali pun aku menghitung apa yang sedang kulakukan pada dua orang sekaligus.
Aku menghitung semuanya.
Aku menghitung ubin, langkah, halaman, penonton, retakan di langit-langit, dan seluruh persentase segel yang menipis di dasar dunia.
Aku tidak pernah menghitung yang ini.
”Kau menghitungnya sekarang,” kata Aion.
“Iya.”
”Berapa angkanya?”
Aku berdiri di halaman belakang gudang yang gelap.
“Aku tidak tahu,” kataku.
”Bagus,” kata Aion.
Aku menoleh ke arah tidak ada apa-apa. “Bagus?”
”Itu pertama kalinya kau menjawab pertanyaan angka dengan ‘aku tidak tahu’ sejak aku mendengarmu,” katanya. ”Aku sudah menunggu itu selama empat bulan.”
“Itu bukan hal bagus. Itu artinya aku tidak bisa memutuskan.”
”Iya.”
“Itu artinya aku akan menunda.”
”Iya.”
“Itu artinya aku akan menunda sampai keadaan memutuskan untukku.”
”Iya,” kata Aion.
Angin bertiup di halaman belakang.
”Dan sekarang kau tahu itu,” katanya, ”dan kau akan tetap melakukannya, dan kau akan mengingat percakapan ini nanti dan itu tidak akan menolongmu sama sekali.”
Aku menutup mataku.
“Kau tidak membantu.”
”Aku tidak pernah membantu,” kata Aion. ”Aku memberi. Itu hal yang berbeda dan delapan belas anakku menyegelku karena aku tidak pernah bisa membedakannya.”
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan reading
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku