Chapter Four

Anomali

POV: Ravel


Bahuku tidak patah. Retak.

Tabib akademi mengatakannya dengan nada yang jelas dimaksudkan untuk menenangkan, dan gagal, karena kalimat lengkapnya adalah: “Cuma retak. Tiga rusuk juga, tapi retak semua. Kau beruntung.”

“Beruntung.”

“Kalau berat itu turun sedikit lebih cepat, rusukmu masuk ke paru-paru.” Dia mengikat perbanku terlalu kencang, sengaja. “Aku sudah menangani duel di akademi ini dua puluh tahun. Kau tahu berapa kali aku melihat seseorang bertahan tiga menit di bawah [ Tier VI ] tanpa kontrak?”

“Nol?”

“Nol.” Dia menarik simpul terakhir dan aku mengeluarkan suara yang memalukan. “Jangan diulangi. Tubuh manusia tidak dirancang untuk membuktikan sesuatu.”


Berita menyebar lebih cepat dari yang kubayangkan, dan berubah bentuk lebih cepat lagi.

Versi pertama yang kudengar, di kantin hari itu juga, cukup akurat: anak Kelas F tanpa kontrak mengalahkan Halric Vane dengan bertahan sampai kontraktornya kehabisan tenaga.

Versi kedua, sore harinya: anak Kelas F menemukan cara membatalkan kemampuan [ Tier VI ].

Versi ketiga, keesokan paginya, yang kudengar dari dua orang di antrean roti yang tidak tahu aku berdiri di belakang mereka: anak Kelas F sebenarnya punya kontrak rahasia yang disembunyikan akademi.

“Tidak mungkin nggak ada apa-apa,” kata yang satu. “Nggak ada orang bertahan segitu lama.”

“Bapakku bilang jalur teknis itu cuma tameng. Buat masukin anak orang penting tanpa upacara.”

“Nah.”

Aku membeli rotiku dan pergi.

Nessa mendokumentasikan ketujuh versi yang berbeda dalam empat hari, lengkap dengan sumber dan waktu pertama kali terdengar. Dia menunjukkannya padaku dengan bangga.

“Menarik,” katanya. “Perhatikan bahwa tidak satu pun versi menyebutkan angka tiga menit empat puluh satu detik. Manusia buruk sekali mengingat durasi. Mereka mengingat perasaan durasi.”

“Itu penting?”

“Semua hal penting kalau kau catat cukup banyak.”

Pip, di seberang meja, sedang menusuk-nusuk kentang rebusnya dengan pakunya.

“Jangan pakai berkah buat makan,” kata Nessa.

“Ini satu-satunya kegunaannya.”


Vharen tidak menyinggung duel itu sama sekali di kelas.

Dia membacakan jadwal — masih dalam urutan yang salah — dan memberi kami tugas membaca yang jelas dipilih secara acak dari rak, dan minum dari cangkirnya, dan tidak sekali pun menoleh ke arahku.

Baru di menit terakhir, saat semua orang membereskan barang, dia berkata, tanpa mengangkat kepala dari kertasnya:

“Tiga menit empat puluh satu.”

Aku berhenti.

“Kau tahu apa arti angka itu?” tanyanya.

“Aku menang?”

“Kau menang,” katanya, “adalah hal paling tidak penting yang terjadi hari itu.” Dia mengangkat kepala. “Yang penting adalah dua ratus tiga orang menonton kontrak dikalahkan oleh orang yang tidak punya kontrak. Dan mulai sekarang, setiap orang di akademi ini yang identitasnya berdiri di atas kontraknya akan merasa sedikit lebih goyah setiap kali melihat wajahmu.”

Dia mengibaskan tangan ke arah pintu.

“Selamat,” katanya. “Kau baru saja jadi masalah.”


Cassian Solaris menemuiku empat hari setelah duel, di koridor timur, dengan enam orang di belakangnya.

Aku sudah tahu siapa dia sebelum dia bicara. Rambut pirang yang sama dengan Freya, tapi lebih gelap, lebih ke arah madu. Wajah yang mirip dari kejauhan dan sama sekali tidak mirip dari dekat. Pita merah di lengan kiri — [ Divine Tier IV ].

Peringkat empat angkatan. Nessa sudah memberitahuku semuanya, tanpa diminta, tiga hari lalu.

“Ravel,” katanya.

“Iya.”

“Cassian Solaris.”

“Aku tahu.”

Dia berhenti tiga langkah dariku. Enam orang di belakangnya berhenti lima langkah di belakangnya, dan aku memperhatikan jaraknya — mereka bukan pengawal. Mereka penonton. Dia tidak berencana memukulku.

Itu membuatnya lebih menarik, bukan kurang.

“Aku menonton duelmu,” katanya.

“Banyak yang menonton.”

“Aku menontonnya empat kali.”

Itu membuatku menoleh. “Transkripnya?”

“Transkripnya.” Dia melipat tangan. “Aku baca ulang empat kali karena aku ingin menemukan bagian di mana kau curang. Aku tidak menemukannya.”

“Karena aku tidak curang.”

“Aku tahu.” Dan yang aneh, dia mengatakannya tanpa jejak kepahitan. “Itu masalahnya.”

Kami saling menatap di koridor itu.

“Kau tahu apa yang kau lakukan?” tanyanya. Suaranya berubah — bukan lebih keras, tapi lebih rapat, seperti orang yang sudah menyusun kalimat ini berhari-hari dan sekarang harus mengeluarkannya dengan urutan yang benar. “Bukan padaku. Pada semua orang.”

“Aku menang satu duel.”

“Kau menang satu duel,” ulangnya, “dan sekarang ada tiga puluh anak Kelas D yang mendaftar duel tambahan sukarela minggu ini. Tiga puluh. Tahun lalu, jumlahnya dua.”

Aku tidak tahu itu.

“Mereka akan kalah,” kata Cassian. “Semuanya. Karena mereka tidak menghabiskan sepuluh hari di perpustakaan dan mereka tidak tahu apa-apa soal ekor tarikan dan mereka pikir yang kau lakukan adalah berani.

Dia melangkah maju satu langkah.

“Yang kau lakukan bukan berani. Yang kau lakukan adalah perhitungan yang sangat dingin oleh seseorang yang sudah memutuskan bahwa tubuhnya sendiri adalah bahan yang bisa dihabiskan.” Dia menunjuk perban di bawah seragamku, yang seharusnya tidak terlihat, dan yang jelas terlihat. “Tiga rusuk. Satu bahu. Untuk satu duel wajib yang tidak masuk peringkat kelulusan.”

“Aku tidak menyuruh siapa pun menirunya.”

“Kau tidak perlu menyuruh.”

Dan di situ dia benar, dan aku tidak punya jawaban, dan dia melihat aku tidak punya jawaban.

“Aku bukan sedang mengancammu,” katanya. Lebih pelan sekarang. “Aku tahu kelihatannya begitu. Aku bawa enam orang karena kalau aku datang sendiri kau akan mengira ini pribadi.”

“Ini bukan pribadi?”

Cassian diam agak lama.

“Sedikit pribadi,” akunya. “Tapi bukan cara yang kau kira.”

Dia menoleh ke jendela koridor, ke halaman di bawah, ke Well of Descent yang dari sudut ini kelihatan seperti lingkaran batu biasa.

“Aku berlutut di sumur itu di urutan seratus empat,” katanya. “Dua puluh delapan detik. Kau tahu berapa lama rasanya dua puluh delapan detik?”

Aku tahu persis berapa lama rasanya empat puluh.

“Lalu [ God of Flame ] menjawab,” katanya. “Tier IV. Cukup bagus. Cukup untuk peringkat empat, cukup untuk membuat ayahku berhenti mengetuk meja saat makan malam.” Dia mengangkat bahu. “Cukup untuk semuanya, kecuali cukup.”

Aku mulai mengerti ke mana ini pergi, dan aku tidak menyukainya, karena aku lebih suka orang yang membenciku punya alasan yang lebih sederhana.

“Sepupuku Tier II,” kata Cassian. “Aku Tier IV. Dan selama tujuh belas tahun aku bisa hidup dengan itu, karena aku bilang pada diriku sendiri: itu bukan salahku. Kontrak tidak dipilih. Dewa yang memilih. Aku sudah melakukan semua yang bisa dilakukan manusia.”

Dia menoleh kembali padaku.

“Lalu kau berdiri tiga menit empat puluh satu detik dengan nol.”

Koridor itu sepi. Enam orang di belakangnya tidak bergerak.

“Kalau kau bisa melakukan itu dengan nol,” katanya, sangat pelan, “maka jarak antara aku dan Freya bukan soal dewa. Itu soal aku.”

Aku membuka mulut. Aku tidak tahu untuk mengatakan apa.

“Jangan,” kata Cassian. “Jangan bilang aku salah. Kau tidak cukup tahu untuk bilang aku salah, dan kalau kau menghiburku sekarang aku akan benar-benar memukulmu.”

Dia berbalik.

“Satu hal terakhir.” Dia berhenti tanpa menoleh. “Anak-anak Kelas D yang mendaftar duel sukarela itu. Kalau ada yang cedera parah minggu ini, itu bukan salahmu secara hukum. Aku tahu itu. Kau tidak melanggar apa pun.”

Jeda.

“Tapi kau akan tetap menghitungnya,” katanya. “Kan? Kau tipe yang menghitung.”

Lalu dia pergi, dan enam orang mengikutinya, dan aku berdiri di koridor timur selama waktu yang tidak kuhitung.


Aku pergi ke arena latihan malam itu karena aku tidak bisa tidur.

Bukan untuk latihan — bahuku masih diikat dan tabib sudah mengancam akan melapor kalau aku ketahuan mengangkat sesuatu lebih berat dari buku. Aku cuma ingin duduk di tempat yang kosong.

Arena Ketiga adalah yang terkecil dan paling jarang dipakai, dan pada jam sebelas malam seharusnya tidak ada siapa-siapa.

Ada seseorang.

Aku melihatnya dari pintu masuk dan berhenti, dan hal pertama yang kupikirkan bukan siapa dia, tapi bahwa aku tidak mendengar apa-apa dari lorong. Latihan tombak menghasilkan suara. Aku berjalan sepanjang koridor sepuluh meter dan tidak mendengar apa-apa.

Freya Solaris berlatih dalam diam.

Bukan diam karena pelan. Diam karena setiap gerakan berakhir tepat sebelum menghasilkan bunyi — ujung tombaknya berhenti sepersekian sentimeter dari lantai, dari dinding, dari udara yang seharusnya berdesir. Kontrol seperti itu bukan hasil latihan setahun. Itu hasil latihan sejak umur empat.

Aku menghitung repetisinya tanpa sengaja. Dia sudah di angka yang tidak masuk akal saat aku masuk, dan dia terus bertambah, dan tidak sekali pun bentuk gerakannya berubah dari yang pertama kulihat.

Aku seharusnya pergi.

Aku duduk di bangku pinggir dan menonton.

Delapan menit. Dia tidak berhenti, tidak minum, tidak menoleh. Aku mulai curiga dia tidak tahu aku ada di sana, dan mulai memikirkan cara keluar tanpa membuat suara, ketika —

“Kau menghitung.”

Tombaknya berhenti di tengah gerakan. Dia tidak menoleh.

“...Iya.”

“Berapa?”

“Sejak aku masuk? Empat ratus dua belas.”

Sekarang dia menoleh.

Wajahnya lebih muda dari yang kelihatan di halaman upacara. Itu yang paling mengejutkanku. Dari kejauhan, dengan postur itu dan pita emas itu, dia kelihatan seperti sesuatu yang dicetak. Dari jarak sepuluh meter, di arena kosong, jam sebelas malam, dia kelihatan seperti anak tujuh belas tahun yang tidak tidur.

“Kau salah,” katanya.

“Aku tidak salah.”

“Empat ratus tiga belas. Kau tidak menghitung yang saat pintu terbuka karena kau sedang mendorongnya.”

Kami saling menatap.

“...Oh,” kataku.

Freya menurunkan tombaknya. Cahaya di sepanjang bilahnya padam, dan arena itu langsung jadi lebih gelap dari sebelumnya, dan aku baru sadar bahwa selama delapan menit itu satu-satunya sumber cahaya di ruangan adalah dia.

“Aku menonton duelmu,” katanya.

“Sepupumu juga.”

Sesuatu di wajahnya bergerak. “Cassian menemuimu?”

“Empat hari lalu.”

“Apa yang dia bilang?”

“Bahwa aku masalah.”

Freya berjalan mendekat. Enam langkah, lalu berhenti — jarak yang persis sama dengan jarak wasit di arena, dan aku curiga itu bukan kebetulan.

“Dia benar,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku juga menganggapmu masalah.”

“Aku tahu itu juga.”

“Tidak,” katanya. “Kau tidak tahu.”

Dia menaruh ujung tombaknya di lantai — pelan, tanpa bunyi, kebiasaan — dan bersandar padanya sedikit, dan itu adalah hal paling tidak sempurna yang pernah kulihat dilakukannya.

“Sepuluh hari kau di perpustakaan,” katanya.

“Iya.”

“Membaca sembilan ratus transkrip.”

“Nessa cerita?”

“Aku baca daftar peminjaman.” Dia mengangkat dagunya sedikit. “Aku juga bisa menghitung.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa untuk itu.

“Aku tidak pernah membaca transkrip,” katanya.

“Sama sekali?”

“Buat apa?” Dan dia bertanya dengan tulus — bukan sombong, bukan meremehkan, tapi benar-benar bingung, seperti seseorang yang baru diberi tahu bahwa ada pintu di dinding kamarnya sendiri yang tidak pernah dia buka. “Aku... belum pernah butuh.”

Dia diam lama.

“Halric Vane menyerangmu enam kali,” katanya akhirnya. “Kau bangun enam kali. Yang keenam butuh dua puluh satu detik.”

“Kau menghitungnya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Freya membuka mulut. Menutupnya. Dan aku melihat, dengan jelas, momen di mana dia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan itu — bahu yang menegang, dagu yang naik setengah senti, seluruh postur yang kembali ke bentuk cetakannya.

“Karena aku ingin tahu di titik mana kau akan berhenti,” katanya.

Itu bukan jawabannya. Aku tahu itu bukan jawabannya. Tapi aku tidak dalam posisi menuntut.

“Dan?” tanyaku.

“Dan tidak ada titiknya,” katanya. “Itu yang mengganggu.”

Dia mengangkat tombaknya lagi. Cahayanya menyala. Arena itu terang lagi, dan percakapan itu selesai, dan aku bangkit dari bangku karena aku bisa membaca akhir sesuatu sama seperti aku bisa membaca kelopak mata orang.

Aku sudah di pintu ketika dia bicara lagi.

“Ravel.”

Aku berhenti.

“Empat ratus tiga belas repetisi itu,” katanya, “adalah target harianku. Aku melakukannya setiap malam sejak umur sebelas.”

Aku menunggu.

“Malam ini yang keempat ratus lima puluh,” katanya. “Aku tidak berhenti di empat ratus tiga belas.”

“Kenapa?”

“Karena kau berdiri enam kali.”

Aku menoleh.

Freya Solaris sudah kembali ke posisi awalnya, tombak terangkat, wajah menghadap ke depan, tidak melihat ke arahku sama sekali.

“Aku tidak akan kalah dari seseorang yang tidak punya apa-apa,” katanya. “Itu bukan pujian. Kau boleh mengambilnya sebagai penghinaan kalau mau.”

Dia bergerak. Tanpa suara. Repetisi keempat ratus lima puluh satu.

Aku keluar dan menutup pintu pelan-pelan, dan di koridor yang gelap aku menyadari sesuatu yang tidak nyaman:

Dari empat ratus lima puluh satu gerakan itu, tidak satu pun yang salah.

Tapi dia belum berhenti, dan sudah jam sebelas lewat, dan tidak ada satu orang pun di akademi ini yang menyuruhnya berhenti.

Aku memikirkan itu sepanjang jalan pulang.

Aku memikirkannya lagi tiga hari kemudian, di koridor, saat berpapasan dengannya di antara kelas.

Dan aku mengatakan empat kata yang, kalau aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya, mungkin akan tetap kukatakan.

Tapi itu bab lain.