Chapter Twenty Three
The First Word
POV: Ravel
Pengunduran diri Rector Halvard ditolak.
Aku tidak menduga itu. Aku sudah menghabiskan tiga hari menyusun apa yang akan terjadi setelah Vant menggantikannya, dan aku sudah sampai pada urutan yang cukup rapi, dan lalu Nessa membacakan pengumuman di gudang dan seluruh urutan itu hancur.
“‘Dewan Keluarga menolak pengunduran diri Rector Halvard dan menetapkan masa jabatan diperpanjang sampai akhir tahun ajaran,’” bacanya.
“Mereka bisa melakukan itu?”
“Rector diangkat bersama oleh Gereja dan Dewan Keluarga,” katanya. “Pengunduran diri butuh persetujuan keduanya. Gereja menyetujui dalam empat jam. Dewan Keluarga menolak.”
“Kenapa?”
Nessa menurunkan kertasnya.
“Karena kalau Halvard mundur, Vant jadi Rector,” katanya. “Dan kalau Vant jadi Rector, akademi ditutup. Dan kalau akademi ditutup, enam keluarga besar kehilangan satu-satunya institusi yang mengesahkan tier anak-anak mereka.”
“Jadi mereka menahan orang tujuh puluh satu tahun di kursinya.”
“Mereka menahan orang tujuh puluh satu tahun di kursinya,” kata Nessa, “melawan kehendaknya, untuk melindungi kepentingan mereka sendiri, dan mereka melakukannya lewat prosedur yang sepenuhnya sah.”
Pip mengangkat tangan.
“Itu boleh?”
“Itu sangat boleh,” kata Nessa. “Itu masalahnya dengan prosedur.”
Aku menemui Halvard sore itu.
Dia ada di kantornya, di depan jendela yang menghadap halaman tengah, dengan Well of Descent persis di tengah bingkai.
“Aku sudah tahu mereka akan menolak,” katanya, sebelum aku bertanya.
“Bapak tetap mengajukannya.”
“Aku mengajukannya supaya ada catatan,” katanya. “Supaya seratus tahun lagi, kalau ada yang membuka arsip, ada satu lembar kertas dengan tanggal di atasnya yang menunjukkan bahwa Rector ketiga belas mencoba berhenti.”
Dia menoleh.
“Iven Corrat tidak punya lembar itu,” katanya. “Mereka menghapusnya sebelum dia sempat menulis.”
Aku berdiri di tengah kantornya.
“Bapak akan tetap memimpin upacara tahun depan.”
“Iya.”
“Bapak bilang tidak sanggup.”
“Aku bilang aku tidak sanggup,” kata Rector Halvard. “Aku tidak bilang aku tidak akan.”
Dia berjalan ke mejanya.
“Ada bedanya,” katanya, “dan aku sudah hidup di antara dua hal itu selama dua puluh enam tahun, dan aku tidak menyarankannya pada siapa pun.”
[ Stage 2 ] selesai membuka pada malam ke sebelas.
Aku sedang di Arena Ketiga. Latihan malam. Fase empat, set kesembilan, dan Freya baru saja melemparku ke lantai untuk yang kesekian kalinya.
[ Stage 2 — Unlocking... 100% ]
[ God Weapon: THE FIRST WORD ]
[ Manifest? ]
Aku berdiri di lantai arena dan menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat siapa pun.
“Ravel,” kata Freya.
“Sebentar.”
“Kau tidak bangun.”
“Aku tahu.”
Aku bangun.
“Freya,” kataku. “Mundur.”
Dia melihat wajahku dan mundur enam langkah tanpa bertanya, yang mana adalah salah satu hal terbaik tentangnya.
Aku mengangkat tangan kananku.
Dan aku menyadari, di detik terakhir, bahwa aku tidak tahu bagaimana caranya.
Kontraktor memanggil God Weapon dengan sesuatu yang tidak pernah bisa mereka jelaskan — Freya menyebutnya “seperti mengingat sesuatu yang kau tahu,” Moona menyebutnya “seperti berhenti menahan.” Tidak ada instruksi. Tidak ada teknik.
Aku tidak punya keduanya.
Yang kupunya cuma satu hal.
Jadi aku mengucapkannya.
Dua suku kata, sangat pelan, ke arena kosong.
Rantai itu tidak muncul di tanganku.
Ia muncul dari tanganku.
Aku ingin menjelaskan ini dengan hati-hati karena aku memikirkannya berbulan-bulan. Rantai itu tidak dibentuk dari udara seperti [ Meridian ]. Ia keluar dari telapak tanganku, mata demi mata, seperti sesuatu yang sudah ada di dalam sana selama delapan bulan dan baru sekarang diizinkan keluar.
Panjangnya sekitar empat meter. Logam yang bukan logam — warnanya seperti sesuatu yang sudah lama tidak kena cahaya. Sembilan segmen, dipisahkan oleh mata rantai yang lebih besar dari yang lain, dan delapan dari sembilan segmen itu terkunci.
[ THE FIRST WORD ]
[ God Weapon — Divine Tier 0 ]
[ Segments Available: 3 / 9 ]
[ Warning: Each segment released reduces vessel control ]
Suhu di Arena Ketiga tidak naik. Tidak ada cahaya. Tidak ada apa pun yang dramatis.
Yang terjadi adalah bahwa setiap manifestasi ilahi dalam radius sepuluh meter padam.
Lentera arena — enam buah, semuanya ward-based — mati sekaligus.
Dan [ Meridian ], yang masih ada di tangan Freya, hilang.
“Ravel.”
Suaranya sangat tenang. Terlalu tenang.
“Aku tidak melakukan itu,” kataku.
“Aku tahu kau tidak melakukan itu.”
“Aku tidak menyentuhnya.”
“Aku tahu.”
Dia berdiri di kegelapan Arena Ketiga dengan tangan kosong.
“Ravel,” katanya lagi. “Aku tidak bisa memanggilnya kembali.”
Aku merasakan sesuatu dingin di perutku.
“Coba lagi.”
“Aku sudah coba empat kali.”
Aku melihat rantai di tanganku.
Dan aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kupikirkan: aku menariknya kembali.
Rantai itu masuk ke telapak tanganku, mata demi mata, dan Arena Ketiga tetap gelap selama sekitar tiga detik.
Lalu enam lentera menyala kembali.
Dan [ Meridian ] terbentuk di tangan Freya Solaris seperti biasa, dan dia menatapnya, dan dia menatapku.
“Berapa jauh,” katanya.
“Sepuluh meter. Kira-kira.”
“Kira-kira.”
“Aku baru memakainya sekali, Freya.”
Dia menaruh tombaknya di rak dan duduk di lantai arena, yang mana adalah hal yang tidak pernah dia lakukan.
“Kau tahu apa artinya itu,” katanya.
“Iya.”
“Katakan.”
“Kalau aku memakainya di medan,” kataku, “tidak ada satu pun kontraktor dalam radius sepuluh meter yang bisa memakai apa pun.”
“Termasuk aku.”
“Termasuk kau.”
“Termasuk Moona.”
“...Iya.”
Freya menutup matanya.
“Bagus,” katanya.
“Bagus?”
“Bagus,” katanya, dan membuka matanya. “Karena kalau kemampuanmu tidak punya kelemahan, aku akan mulai curiga apa yang sedang mengambil bayarannya.”
Aku memakainya untuk pertama kalinya sembilan hari kemudian.
Bocoran kedua puluh enam. Halaman selatan, pukul dua siang, di tengah sesi lapangan Kelas B.
Dua makhluk sekaligus.
Itu yang baru. Sampai saat itu, setiap bocoran menghasilkan satu. Yang ini menghasilkan dua, dan keduanya [ Tier V ], dan keduanya bergerak ke arah yang berbeda dalam waktu empat detik.
Hedda Marr membagi respons jadi dua regu.
Aku ikut regu kedua karena Freya ikut regu pertama dan karena Hedda Marr sudah cukup lama menjadi instruktur untuk tahu bahwa memisahkan dua orang yang bekerja sama adalah keputusan yang buruk yang kadang harus diambil.
Regu kedua berisi sembilan orang. Delapan kontraktor Tier IV sampai VI.
Dan aku.
Kami kalah dalam empat puluh detik.
Bukan karena tidak kompeten. Karena makhluk [ Tier V ] yang memakan mana adalah masalah yang tidak punya solusi kalau senjatamu terbuat dari mana.
Dua orang jatuh di detik ke dua puluh dua. Tiga lagi di detik ke tiga puluh satu.
Aku menghapus empat kali.
[ Seal Integrity: 74.9% ]
Empat tidak cukup. [ UNMAKING ] menghapus satu manifestasi per napas, dan makhluk itu mengeluarkan tiga sekaligus, dan aritmatikanya tidak berpihak padaku.
Di detik ke empat puluh, aku berdiri sendirian di antara makhluk itu dan empat orang yang tidak bisa berjalan.
Dan aku memanggil rantainya.
Halaman selatan berhenti.
Setiap manifestasi ilahi dalam radius sepuluh meter padam sekaligus. Ward. Perisai. Sisa-sisa dinding tanah. Semuanya.
Dan makhluk itu —
Makhluk itu adalah mana yang dicerna. Seluruh tubuhnya. Ia tidak punya daging; ia punya empat ratus kilogram manifestasi ilahi yang dimakan dari sembilan kontraktor.
Ia berdiri di dalam radius sepuluh meter.
[ Segment 1 — Released ]
Rantai itu memanjang.
Aku tidak melemparnya. Aku tidak mengayunkannya. Aku tidak melakukan apa pun yang mirip dengan bertarung.
Aku cuma membiarkannya menyentuh.
Dan makhluk setinggi tiga orang itu berhenti pernah ada, tanpa suara, dari kaki ke atas, dalam waktu sekitar satu setengah detik.
[ Segment 2 — Released ]
Aku tidak memutuskan untuk melepas yang kedua.
Itu bagian yang harus kutulis dengan jujur.
Segmen kedua terbuka sendiri sekitar dua detik setelah yang pertama, dan yang kurasakan bukan kekuatan.
Yang kurasakan adalah luas.
Seperti berdiri di ruangan yang kau kira sebesar kamar dan menyadari bahwa dindingnya cuma kain.
Radius sepuluh meter jadi tiga puluh.
Dan aku bisa merasakan — bukan melihat, merasakan — setiap manifestasi ilahi dalam tiga puluh meter itu. Kontraktor regu pertama di halaman seberang. Ward gedung. Lentera. Sesuatu di ruang bawah tanah yang seharusnya tidak ada di sana.
Dan sesuatu di dalam dadaku berkata: aku bisa menghapus semuanya.
Bukan Aion. Aion diam.
Itu aku.
[ Segment 3 — Released ]
Aku tidak ingat empat puluh detik berikutnya.
Aku tahu apa yang terjadi karena delapan belas orang melihatnya dan karena Nessa mewawancarai sebelas dari mereka dalam tiga hari.
Yang terjadi:
Makhluk kedua — yang sedang dilawan regu pertama di halaman seberang, empat puluh meter jauhnya — berhenti bergerak.
Ia berbalik. Ia berjalan melintasi halaman selatan, melewati sembilan kontraktor yang sedang melawannya, tanpa menyerang satu pun.
Ia berjalan ke arahku.
Dan aku berdiri diam dan membiarkannya sampai jarak tiga meter, dan lalu rantai itu menyentuhnya, dan ia berhenti pernah ada.
Delapan belas saksi mencatat hal yang sama: aku tidak bergerak sekali pun selama empat puluh detik itu.
Dan sembilan dari delapan belas mencatat hal yang tidak ada di laporan resmi.
Bahwa aku sedang tersenyum.
Aku sadar kembali di halaman selatan dengan rantai yang sudah tidak ada.
[ Segments Available: 3 / 9 ]
[ Segments Released: 3 ]
[ Vessel Control: 61% ]
[ Seal Integrity: 68.2% ]
Enam koma tujuh persen dalam empat puluh detik.
Aku menatap angka itu.
Lalu tanganku mulai gemetar.
Bukan seperti biasa. Bukan gemetar yang bisa dihentikan dengan menghitung sesuatu.
Kedua tangan, dari pergelangan ke ujung jari, dan tidak berhenti.
Aku mencoba menghitung ubin halaman selatan.
Aku tidak bisa mengingat angka setelah tujuh.
Aku mencoba lagi. Aku sampai empat.
Dan aku duduk di halaman selatan di antara sembilan kontraktor yang tidak bisa berjalan, dengan dua tangan yang tidak berhenti gemetar, mencoba menghitung ubin dan gagal, sampai Freya Solaris berlari melintasi empat puluh meter dan berlutut di depanku dan memegang kedua tanganku dengan kedua tangannya.
“Berapa,” katanya.
“Aku tidak bisa menghitung,” kataku.
“Ravel—“
“Aku tidak bisa menghitung,” kataku lagi. “Aku mencoba tiga kali. Aku tidak bisa lewat tujuh.”
Dan Freya Solaris, yang menghabiskan tujuh belas tahun di rumah tempat segala sesuatu adalah neraca, menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat dan berkata:
“Bagus.”
“Apa?”
“Kalau kau tidak bisa menghitung,” katanya, “aku yang menghitung.”
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
“Delapan,” katanya. “Sembilan. Sepuluh.”
Dan dia menghitung sampai enam puluh, keras-keras, di halaman selatan, di depan delapan belas saksi, sampai tanganku berhenti.
Tanganku tidak benar-benar berhenti.
Itu yang tidak kukatakan padanya, dan tidak pada siapa pun, selama tiga minggu.
Gemetarnya berkurang cukup untuk memegang sendok pada hari keempat, cukup untuk menulis pada hari kesembilan, dan cukup untuk tidak terlihat pada hari kesembilan belas.
Cukup untuk berhenti — tidak pernah.
Aku mengetahui itu di hari ketiga, saat aku berdiri sendirian di kamar dan mengangkat tanganku ke cahaya dan melihat ujung jariku bergerak sekitar setengah milimeter dalam ritme yang tidak berhubungan dengan apa pun.
”Kau tidak akan memberitahunya,” kata Aion.
“Tidak.”
”Kau berjanji akan memberitahunya angkanya.”
“Ini bukan angka.”
”Setengah milimeter,” kata Aion. ”Itu angka.”
Aku menurunkan tanganku.
”Ravel.”
“Apa.”
”Segmen kedua terbuka sendiri,” katanya.
“Aku tahu.”
”Aku tidak membukanya.”
Aku berdiri di kamar dengan tangan yang bergerak setengah milimeter.
“Aku tahu itu juga,” kataku.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word reading
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku