Chapter Twenty Six
Aku Belum Sempat Jawab
POV: Ravel
Mosi ketiga lewat pada hari kedua puluh empat bulan kesembilan.
Pemungutan suara: lima berbanding satu.
Sol Invictus ditutup efektif dalam empat puluh hari. Evakuasi bertahap. Empat ribu seratus orang, dijadwalkan per angkatan, dimulai dari yang termuda.
Kelas F dijadwalkan pada hari kedelapan.
“Kita akan dipindah ke mana?” tanya Pip.
“Tidak ada,” kata Nessa.
“Apa?”
“Tidak ada akademi lain yang menerima Kelas F,” katanya. “Kita akan dipulangkan.”
Pip berpikir.
“Aku tidak punya rumah,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kau punya rumah?”
“Iya,” kata Nessa. “Aku tidak akan ke sana.”
Gudang itu sepi.
Tomas mengangkat kepalanya dari mejanya.
“Aku punya rumah,” katanya. “Cukup besar.”
Enam kata. Rekor baru.
Aku tidak pergi ke sesi evakuasi.
Aku menghabiskan sembilan hari terakhir itu melakukan tiga hal, dan aku akan mencatat ketiganya karena aku tidak akan sempat mencatat apa pun setelahnya.
Satu. Aku membaca buku pribadi Rector Halvard.
Empat ribu delapan ratus dua puluh satu nama. Dua puluh enam tahun. Ditulis dengan tangan yang semakin buruk setiap tahun.
Aku membaca semuanya. Butuh enam hari.
Aku tidak tahu kenapa. Aku masih tidak tahu.
Dua. Aku latihan di Arena Ketiga setiap malam dengan Freya, jam sepuluh, seperti biasa, meskipun akademi akan tutup dalam sembilan hari dan tidak ada satu pun alasan praktis untuk melanjutkan program dua belas minggu yang tidak akan selesai.
Kami tidak membicarakannya.
Tiga. Aku naik ke atap setiap malam Selasa.
Ada satu malam Selasa tersisa. Aku menaikinya.
Malam Selasa terakhir, Moona bicara tentang stasiun Coldmere.
“Tiga peron,” katanya. “Keberangkatan pertama jam lima lewat lima puluh.”
“Kau sudah cerita soal Coldmere.”
“Aku tahu.”
“Dua kali.”
“Aku tahu,” katanya. “Aku kehabisan stasiun.”
Angin di atap asrama utara dingin dengan cara yang tidak menyenangkan.
“Moona.”
“Jangan.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Kau akan bilang sesuatu tentang delapan hari lagi,” katanya. “Dan aku sudah menyusun jawabannya dan jawabannya tidak bagus, jadi jangan.”
Aku tidak jadi bilang.
Kami duduk di atap dengan roti gandum keras empat potong, dan dia bilang itu kebetulan, dan aku bilang oke.
Di menit terakhir, sebelum dia turun, dia berkata:
“Ravel.”
“Hm.”
“Ada satu hal yang belum kutanyakan,” katanya. “Sejak ruang arsip. Aku tidak menanyakannya karena aku sudah janji tidak akan meminta apa pun.”
Aku menunggu.
Dia berdiri di ambang pintu tangga servis.
“Aku masih tidak akan menanyakannya,” katanya.
Dan dia turun.
Yang ketiga puluh terjadi pada hari kedelapan.
Pukul enam lewat lima puluh pagi.
Setengah akademi sudah dievakuasi. Kelas F dijadwalkan naik kereta jam sembilan.
Yang naik dari Well of Descent pada pukul enam lewat lima puluh pagi itu tidak menghancurkan pagar.
Ia melangkah keluar.
Aku ada di halaman tengah.
Aku ada di sana karena aku sudah di sana setiap pagi selama tiga minggu, berdiri di luar pagar, menyalakan penglihatanku dan menghitung, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Aku melihatnya keluar.
Setinggi empat orang. Tidak punya kaki — ia bergerak dengan cara yang tidak bisa kujelaskan dan yang tidak melibatkan menyentuh tanah secara konsisten.
Dan lewat penglihatanku, ia tidak punya tepi.
Itu detail yang membuatku tahu.
Sebelas makhluk sebelumnya punya tepi. Kau bisa melihat di mana mereka berakhir dan di mana dunia mulai. Yang ini tidak. Yang ini terus berlanjut ke bawah, ke dalam sumur, ke sesuatu yang jauh lebih besar yang belum keluar.
[ Divine Manifestation Detected ]
[ Tier: II — SOVEREIGN ]
Aku berdiri di halaman tengah dan aku tidak bisa bergerak selama sekitar tiga detik.
Lalu aku berlari ke lonceng.
Ada delapan belas ratus orang di kompleks pagi itu.
Freya sampai di halaman tengah dalam dua menit. Moona dalam dua menit sepuluh detik.
Tidak ada instruktur.
Hedda Marr mati tujuh hari lalu. Vharen Duskmantle sedang mengantar rombongan pertama Kelas F ke stasiun. Kardinal Vant ada di gedung utama dan tidak akan sampai dalam waktu kurang dari lima menit.
Tiga orang.
[ Tier II ]. [ Tier II ]. Dan aku.
“Berapa yang belum keluar?” tanya Freya.
Aku menyalakan penglihatanku.
“Empat ratus,” kataku. “Kira-kira. Gerbang barat.”
“Berapa lama sampai mereka keluar?”
“Sebelas menit.”
Freya Solaris menatap makhluk setinggi empat orang yang tidak punya tepi.
“Oke,” katanya.
Cuma itu.
Freya Full Sync pada menit ketiga.
Dia tidak bertanya padaku. Dia tidak memberi peringatan.
Dia melihat makhluk itu bergerak ke arah gerbang barat, dan dia melangkah ke jalurnya, dan cahaya naik di halaman tengah untuk kedua kalinya dalam delapan hari.
[ Stage 3 — FULL SYNC ]
[ Consciousness: 9% ]
Sembilan persen.
Turun dari dua belas.
Dia bertahan dua menit empat puluh detik.
Aku melihat seluruhnya dan aku tidak akan menuliskan sebagian besarnya. Yang bisa kutuliskan: [ SOLARIS ] — Matahari, [ Divine Tier II ], salah satu dari dua pilar langit — menyerang makhluk itu dua puluh enam kali dengan seluruh kekuatan yang ada, dan makhluk itu memakan semuanya.
Setiap serangan. Dua puluh enam kali.
Ia jadi lebih besar.
Freya jatuh pada menit kelima lewat empat puluh detik, sekitar delapan meter dari tempatnya berdiri, dan tidak bergerak.
Moona Full Sync pada menit keenam.
“Moona—“
“Aku tahu.”
“Ia memakan mana. Kau lihat sendiri—“
“Aku tidak menembak mana,” kata Moona Selene. “Aku menembak jarak.”
[ Stage 3 — FULL SYNC ]
[ SELENE — Divine Tier II ]
[ Vessel: Moona Selene ]
[ Consciousness: 4% ]
Empat persen.
Dan ini yang tidak akan pernah kulupakan: dia mengambil empat persen dengan sengaja.
Kesadaran Full Sync bukan angka acak. Itu ditentukan oleh seberapa banyak ruang yang kau berikan. Freya memberi sembilan puluh satu persen dan menahan sembilan.
Moona memberi sembilan puluh enam.
Dia melakukannya karena dia sudah menghitung, sama seperti aku, dan angkanya keluar.
Halaman tengah kehilangan tiga puluh meter ruang dalam waktu empat detik.
Bukan hancur. Hilang. Jarak antara dua titik dihapus, dan segala sesuatu di antaranya ikut terhapus, dan makhluk setinggi empat orang itu tiba-tiba berdiri dalam jarak sepuluh sentimeter dari dinding utara yang tadinya tiga puluh meter jauhnya.
Ia terhimpit.
Selama sembilan detik, ia terhimpit, dan Moona Selene menghapus jarak dua puluh satu kali berturut-turut, memperkecil ruang di sekitarnya, mengunci sesuatu yang tidak bisa dilukai ke dalam kotak yang semakin kecil.
Itu berhasil.
Selama sembilan detik, itu berhasil.
Lalu makhluk itu memutuskan bahwa ruang bukan sesuatu yang berlaku padanya, dan melangkah keluar dari kotak sepuluh sentimeter itu seolah kotak itu tidak ada.
Moona jatuh pada menit ketujuh lewat dua puluh detik.
Empat ratus orang di gerbang barat.
Sebelas menit.
Sudah lewat tujuh menit dua puluh detik.
Tiga menit empat puluh detik tersisa.
Aku berdiri di halaman tengah dengan dua orang di tanah dan sesuatu setinggi empat orang di antara kami dan gerbang barat, dan aku menghitung.
Aku menghitung dengan sangat cepat dan sangat bersih dan aku sampai di angkanya dalam waktu kurang dari dua detik, karena aku sudah menghitungnya berbulan-bulan sebelumnya dan aku cuma perlu memeriksanya sekali lagi.
Empat ratus orang.
Lima puluh satu koma tujuh persen segel.
Sembilan segmen.
Angkanya keluar seperti biasa.
”Jangan,” kata Aion.
Aku berjalan ke tengah halaman.
”Ravel. Jangan.”
“Berapa yang tersisa,” kataku.
”Aku tidak akan memberitahumu.”
“Kau bilang aku akan menganggapnya anggaran.”
”Iya.”
“Aku sudah tidak menganggapnya anggaran,” kataku. “Aku sudah selesai berbelanja.”
Halaman tengah sangat terang. Matahari sudah naik. Jam tujuh kurang.
”Ravel.”
“Berapa.”
Jeda.
”Enam segmen adalah batasnya,” kata Aion. ”Tujuh akan merobek segelnya. Delapan akan merobekmu. Sembilan—“
“Sembilan?”
”Sembilan tidak ada di perhitunganku,” katanya, ”karena sembilan tidak pernah terpikirkan olehku sebagai sesuatu yang mungkin dipilih seseorang.”
Aku mengangkat tangan kananku.
”Kau tidak akan selamat,” kata Aion.
“Aku tahu.”
”Kau tidak tahu. Kau menghitung, dan menghitung bukan tahu, dan aku sudah delapan belas ribu tahun dan aku tahu bedanya.”
“Aion.”
”Apa.”
“Terima kasih sudah repot-repot,” kataku.
Dan aku menyadari, saat mengucapkannya, bahwa itu adalah kalimat yang kususun tiga malam sebelum upacara kontrak, di ranjang asrama, sambil menatap langit-langit — untuk diucapkan dalam hati kalau ternyata ada yang menjawab.
Aku sudah menyimpannya sebelas bulan.
Aku akhirnya menemukan tempatnya.
[ Segment 7 — Released ]
[ Segment 8 — Released ]
[ Segment 9 — Released ]
[ THE FIRST WORD — Full Release ]
[ Vessel Control: 0% ]
[ Stage 3 — FULL SYNC ]
[ AION — Divine Tier 0 ]
[ Vessel: Ravel ]
[ Consciousness: 100% ]
Seratus persen.
Aku tidak mengerti kenapa sampai jauh, jauh nanti.
Yang kutahu di halaman tengah pagi itu adalah bahwa aku tetap ada. Bahwa aku masih menghitung. Bahwa aku bisa melihat tanganku sendiri dan tanganku sendiri masih tanganku.
Dan bahwa rantai di tangan itu sekarang tidak punya ujung.
Aku tidak mengayunkannya.
Aku berjalan.
Makhluk setinggi empat orang itu bergerak ke arahku, dan aku terus berjalan, dan pada jarak enam meter ia berhenti bergerak.
Aku ingat wajahnya — ia tidak punya wajah, tapi aku ingat sesuatu yang berfungsi seperti wajah — dan aku ingat bahwa ia mundur.
Tiga langkah.
Sesuatu tanpa tepi, [ Tier II ], mundur tiga langkah dari seorang anak tujuh belas tahun dengan rantai.
Lalu rantai itu menyentuhnya.
Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Tidak ada satu pun hal yang pantas untuk sesuatu sebesar itu.
Ia berhenti pernah ada.
Dan bersamanya, sesuatu jauh di bawah — yang tidak pernah keluar, yang terus berlanjut ke dalam sumur, yang sudah kulihat lewat penglihatanku sebagai bagian yang tidak punya tepi —
berhenti juga.
Halaman tengah diam.
Aku berdiri di tengahnya.
Rantai itu masuk kembali ke telapak tanganku, mata demi mata, sangat pelan.
Aku menghitungnya.
Aku sampai di seratus empat puluh dua, dan lalu aku kehilangan hitungannya, dan aku ingat merasa kesal soal itu.
[ Seal Integrity: 0% ]
[ Vessel: ... ]
Aku melihat mereka berdua.
Freya di sebelah kiri, delapan meter, mulai bergerak. Moona di sebelah kanan, dua belas meter, sudah setengah duduk.
Keduanya melihatku.
Keduanya membuka mulut.
Dan aku ingin sekali menuliskan bahwa aku merasakan sesuatu yang besar di detik itu, atau bahwa aku melihat seluruh hidupku, atau bahwa aku takut.
Aku tidak.
Yang kurasakan adalah bahwa aku sudah tidak bisa merasakan kakiku, dan bahwa itu tidak menyakitkan, dan bahwa matahari pagi itu sangat terang di halaman tengah.
Empat ratus orang keluar dari gerbang barat.
Aku menghitung mereka. Aku sampai empat ratus tiga.
Tiga lebih banyak dari perkiraanku.
Aku ingat merasa senang soal itu.
Moona berdiri lebih dulu. Dia selalu lebih dulu.
Dia berlari dua belas meter dan tidak sampai.
Freya berlari delapan meter dan tidak sampai.
Keduanya berteriak sesuatu dan aku tidak bisa mendengar keduanya, dan aku ingin sekali bisa, karena dari wajah mereka aku bisa tahu bahwa keduanya mengatakan hal yang berbeda dan bahwa aku ingin tahu keduanya.
Aku sudah berdiri sejak entah kapan.
Aku tidak jatuh. Aku ingin mencatat itu — aku tidak jatuh, dan itu bukan karena kuat, tapi karena tubuh yang berhenti kadang lupa untuk jatuh.
Yang terakhir kulihat adalah dua orang berlari ke arahku dari dua arah yang berbeda, dan matahari di belakang salah satunya, dan bayangan yang jatuh ke arah yang salah dari yang lain.
Dan aku membuka mulut, karena ada satu hal yang belum kukatakan pada keduanya, dan karena aku sudah menyusunnya selama berbulan-bulan dan tidak pernah menemukan waktunya.
Yang keluar cuma ini:
“Maaf. Aku belum sempat jawab.”
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab reading
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku