Chapter Twenty Five

Yang Dibayar Rector

POV: Ravel


Kardinal Aureus Vant mengajukan mosinya yang kedua pada hari kelima bulan kesembilan.

Bukan pengeluaran murid.

PERMOHONAN PENUTUPAN INSTITUSIONAL DAN PENYEGELAN ULANG WELL OF DESCENT.

Empat puluh satu halaman. Nessa mendapat salinannya dalam waktu enam jam lewat cara yang tidak dia jelaskan, dan membacakannya di gudang selama dua jam, dan tidak ada yang menyela sekali pun.

Isinya benar.

Itu bagian yang paling buruk. Aku duduk di gudang dan mendengarkan empat puluh satu halaman argumen tentang kenapa akademi tempatku tinggal harus dibubarkan, dan aku tidak menemukan satu pun kesalahan.

Dua puluh enam bocoran tahun ini. Rata-rata sepuluh tahun sebelumnya: tiga.

Dua korban jiwa. Sembilan belas cedera berat.

Frekuensi naik dari sekali per empat bulan jadi sekali per sebelas hari.

Dan halaman tiga puluh empat, yang Nessa bacakan dengan suara yang berubah:

Kami mengakui bahwa penutupan akan menghentikan siklus pemeliharaan yang telah berlangsung tiga ratus dua belas tahun. Kami mengakui bahwa konsekuensinya tidak diketahui.

Kami mengajukan bahwa konsekuensi yang tidak diketahui lebih dapat diterima daripada konsekuensi yang diketahui dan sedang berlangsung.

Gudang itu diam.

“Dia tahu,” kata Nessa.

“Iya,” kataku.

“Dia tahu apa itu upacara kontrak.”

“Iya.”

Dan Nessa Quill menutup dokumen setebal empat puluh satu halaman itu dan berkata:

“Aku pikir dia orang jahat.”


Dewan Keluarga menolaknya dalam empat hari.

Pemungutan suara: empat berbanding dua.

Dua yang setuju adalah Rumah Vell dan Rumah Marrow.

Aku harus membaca nama itu dua kali sebelum aku mengerti.

Corran Vell. Iset Marrow. Dua murid Kelas D yang mati di koridor sayap timur, yang namanya aku dengar dari Moona setelahnya, yang nisan mereka ada di pemakaman akademi sisi utara.

Dua keluarga yang kehilangan anak memilih menutup akademi.

Empat keluarga yang tidak, memilih membiarkannya buka.


Yang terjadi pada malam ketujuh belas bulan kesembilan tidak punya nama resmi selama tiga minggu.

Laporan akhirnya menyebutnya Insiden Sayap Utara.

Yang sebenarnya terjadi lebih sederhana dari namanya: Well of Descent berhenti jadi satu-satunya pintu.


Aku ada di Arena Ketiga.

Latihan malam. Freya. Fase empat, set kedua belas.

Jam sembilan lewat lima puluh dua.

Dan lantai arena naik.

Bukan bergetar. Naik — sekitar tiga sentimeter, seluruh permukaannya sekaligus, dan turun lagi.

Freya sudah di pintu sebelum aku selesai berdiri.

“Berapa?” katanya.

Aku menyalakan penglihatanku.

Dan aku berhenti bernapas.

“Ravel. Berapa.”

“Tujuh,” kataku.


Tujuh titik.

Tersebar di seluruh kompleks akademi. Sayap utara, sayap timur, dua di halaman selatan, ruang bawah tanah gedung utama, kapel, dan satu di bawah asrama.

Tujuh lubang, terbuka bersamaan, dalam waktu kurang dari empat detik.

Lonceng kode merah berbunyi di detik kesembilan.

Sudah terlambat.


Aku tidak akan menuliskan seluruh malam itu.

Aku akan menuliskan bagian yang bisa kutuliskan, dan aku akan melewatkan sisanya, dan kalau ada yang membaca ini dan merasa ada yang hilang — iya. Ada yang hilang. Aku sengaja.

Yang bisa kutuliskan:

Ada dua ribu delapan ratus murid di kompleks akademi malam itu. Sekitar seribu dua ratus di asrama, delapan ratus di ruang belajar, sisanya tersebar.

Tujuh titik bocoran menghasilkan sebelas makhluk dalam empat puluh menit pertama.

Instruktur Hedda Marr memimpin evakuasi dari gedung utama dan membuat keputusan yang menyelamatkan sekitar empat ratus orang dan yang membunuh dirinya sendiri, dan aku tidak akan menjelaskan keputusan itu di sini.

Kardinal Aureus Vant bertarung di halaman selatan selama tiga jam.

Dia [ Tier III ]. Dia berumur empat puluhan. Dia sudah mengajukan empat puluh satu halaman argumen untuk menutup tempat ini empat hari sebelumnya.

Dia bertarung selama tiga jam dan tidak mundur sekali pun, dan waktu Nessa mewawancarainya tiga minggu kemudian dan bertanya kenapa, dia menjawab:

“Karena aku kalah dalam pemungutan suara, bukan dalam argumen. Kalau aku menang, tidak ada yang perlu kubela di halaman itu.”


Aku membuka segmen empat pada pukul sebelas lewat dua puluh.

[ Segment 4 — Released ]
[ Vessel Control: 54% ]
[ Seal Integrity: 63.8% ]

Segmen lima pada pukul dua belas lewat empat.

[ Segment 5 — Released ]
[ Vessel Control: 47% ]
[ Seal Integrity: 58.1% ]

Segmen enam pada pukul satu lewat sembilan.

[ Segment 6 — Released ]
[ Vessel Control: 39% ]
[ Seal Integrity: 51.7% ]

Aku ingat sekitar setengah dari malam itu.

Yang tidak kuingat, aku pelajari dari catatan Nessa, dan sebagian besar catatan itu ditandai dengan huruf kecil di margin yang berbunyi JANGAN TUNJUKKAN PADANYA.

Dia menunjukkannya padaku. Empat bulan kemudian. Aku memintanya.

Yang tercatat: aku menghapus enam makhluk. Sendirian.

Yang juga tercatat: pada pukul dua belas lewat empat puluh, dalam radius tiga puluh meter dari tempatku berdiri, empat belas kontraktor kehilangan akses ke manifestasi mereka selama enam menit.

Dua dari empat belas itu sedang menahan sesuatu.

Satu dari dua itu tidak selamat.

Namanya ada di catatan Nessa dan aku sudah menghafalnya dan aku tidak akan menuliskannya di sini karena adiknya masih di akademi ini.


Freya Full Sync pada pukul dua lewat tiga belas.

Aku ada di sana. Aku melihat seluruhnya.

Kami di halaman tengah. Dua makhluk [ Tier V ] dan satu yang lebih besar dari keduanya, dan aku sudah tidak bisa berdiri tanpa memegang sesuatu, dan rantai di tanganku sudah tidak mau ditarik kembali.

Enam segmen. Radius tiga puluh meter.

Freya berdiri di luar radius itu — dia sudah belajar, dalam tiga minggu, persis di mana batasnya — dan [ Meridian ] menyala di tangannya.

Lalu makhluk yang besar itu bergerak ke arah gerbang timur.

Di balik gerbang timur ada sekitar tiga ratus orang yang belum selesai dievakuasi.

Dan aku terlalu jauh.

Aku menghitung. Dua puluh dua meter. Aku menghitung waktu tempuhku dengan kaki yang tidak berfungsi dengan baik dan aku sampai di angka yang salah.

“FREYA,” aku berteriak. “JANGAN—“

[ Stage 3 — FULL SYNC ]
[ SOLARIS — Divine Tier II ]
[ Vessel: Freya Solaris ]
[ Consciousness: 12% ]


Matahari terbit pada pukul dua lewat tiga belas dini hari.

Itu bukan metafora. Aku sudah berjanji tidak akan menulis metafora untuk hal-hal seperti ini.

Cahaya di halaman tengah naik sampai tidak ada satu pun bayangan di seluruh kompleks Sol Invictus, dan suhu naik sebelas derajat dalam empat detik, dan tiga penjaga di menara timur mengalami luka bakar tingkat dua dari jarak delapan puluh meter.

Makhluk yang besar itu berhenti pernah ada dalam waktu kurang dari satu detik.

Begitu juga gerbang timur.

Begitu juga sekitar empat puluh meter tembok utara.

Tidak ada yang mati. Aku ingin menuliskan itu dengan jelas: tiga ratus orang di balik gerbang timur, dan tidak satu pun mati, karena Freya Solaris — dengan kesadaran dua belas persen — masih menahan arahnya.

Dua belas persen.

Dan dia masih menahan arahnya.


Dia jatuh pada pukul dua lewat tujuh belas.

Empat menit.

Aku sampai di sana dengan merangkak sebagian jalannya, dan Moona sampai lebih dulu karena Moona selalu sampai lebih dulu, dan kami berdua di sana waktu Freya Solaris membuka matanya.

Dia melihat Moona.

Dan dia berkata:

“Siapa?”


Sebelas detik.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Aku tidak bisa berhenti bahkan di sana, di halaman tengah, jam dua pagi, dengan tembok utara yang tidak ada lagi.

Sebelas detik, dan sepanjang sebelas detik itu Moona Selene tidak bergerak sama sekali.

Dia tidak bicara. Dia tidak menangis. Dia tidak melakukan satu pun hal yang orang lakukan.

Dia cuma berlutut di sana, memegang tangan orang yang dia kenal sejak umur enam tahun, dan menunggu.

Di detik kesebelas, sesuatu berubah di wajah Freya.

“...Moona.”

“Iya.”

“Kenapa kau—“

Dan lalu Freya Solaris menyadari apa yang baru saja terjadi, dan aku melihat kesadaran itu masuk ke wajahnya, dan itu adalah hal terburuk yang kulihat sepanjang malam itu dan malam itu punya banyak kandidat.

“Moona,” katanya lagi, dan suaranya pecah.

“Sudah,” kata Moona Selene. “Sudah, sudah. Aku di sini.”

“Aku tidak—“

“Sebelas detik,” kata Moona. “Itu tidak lama.”

Dia mengatakannya dengan sangat tenang.

Aku tahu, karena aku ada di sana dan karena aku memperhatikan segalanya, bahwa tangannya gemetar hebat sepanjang sebelas detik itu dan berhenti persis saat Freya menyebut namanya.


Rector Halvard mati pada pukul empat lewat empat puluh satu.

Bukan dalam pertarungan.

Yang terjadi begini, dan aku mendapatkannya dari empat saksi dan semuanya cocok:

Bocoran ketujuh — yang di bawah asrama — adalah yang terakhir tertutup. Ada seratus sembilan orang di asrama sayap barat lantai satu yang tidak bisa keluar karena tangga sudah runtuh.

Rector Halvard [ God of Thresholds — Divine Tier III ]. Dewa ambang pintu.

Dia bisa membuat pintu.

Bukan pintu besar. Bukan portal. Sesuatu yang cukup untuk satu orang lewat, sekali, dari satu ambang ke ambang lain dalam jarak pandang.

Dia melakukannya seratus sembilan kali.

Berturut-turut. Tanpa jeda. Seorang laki-laki tujuh puluh satu tahun dengan tangan yang sudah gemetar sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Saksi keempat — anak Kelas C bernama Loew, yang orang kelima puluh delapan — mengatakan bahwa Halvard sudah berdarah dari hidung sejak orang keempat puluh, dan bahwa dia menolak berhenti, dan bahwa dia menghitung.

Keras-keras.

Setiap orang.

“Lima puluh delapan,” katanya waktu Loew lewat. “Lima puluh sembilan.”

Dia sampai seratus sembilan.

Lalu dia duduk di ambang pintu asrama sayap barat, bersandar ke kusen, dan tidak berdiri lagi.


Aku sampai jam lima kurang sepuluh.

Dia masih di sana. Mereka belum memindahkannya.

Aku duduk di ambang pintu di sebelahnya dan tidak melakukan apa-apa selama sekitar dua menit.

”Dia mendengarku,” kata Aion.

“Iya.”

”Satu kali. Dua puluh sembilan hari lalu, di ruang arsip.”

“Iya.”

”Lima puluh empat tahun,” katanya, ”dan dia mendengar satu kali, dan dua puluh sembilan hari kemudian dia menghitung seratus sembilan orang lewat pintu yang dia buat sendiri sampai jantungnya berhenti.”

Aku menatap tangan orang tua itu.

Sudah tidak gemetar.

“Kau bilang dia akan mati karena itu,” kataku.

”Iya.”

“Kau tahu.”

”Aku tidak tahu,” kata Aion. ”Aku mengenali.”

Aku menoleh.

”Aku sudah delapan belas ribu tahun,” katanya. ”Aku sudah melihat cukup banyak orang mendengar sesuatu yang mereka pikir tidak ada.”

Jeda.

”Mereka semua melakukan hal yang sama setelahnya,” katanya. ”Setiap kali. Mereka berhenti menghemat.”


Aku menemukan surat itu tiga hari kemudian.

Di kantornya, di laci meja, di bawah buku pribadi yang berisi empat ribu delapan ratus dua puluh satu nama dan yang tidak sempat dia bakar.

Amplop dengan namaku di atasnya.

Isinya satu lembar.

Ravel,

Kalau kau membaca ini, aku sudah tidak bisa menghalangi apa pun lagi, dan mosi ketiga akan lewat, dan akademi ini akan ditutup.

Aku tidak minta maaf soal itu. Aku sudah memutuskan bahwa itu hal yang benar dan aku tidak berubah pikiran.

Yang mau kukatakan lain.

Aku menghitung empat ribu delapan ratus dua puluh satu nama selama dua puluh enam tahun, dan aku menghitungnya karena aku pikir menghitung adalah bentuk tanggung jawab. Aku salah. Menghitung adalah bentuk penundaan. Selama aku masih menghitung, aku belum harus memutuskan apa-apa.

Kau melakukan hal yang sama. Aku melihatnya sejak hari pertama.

Jangan menunggu sampai umur tujuh puluh satu.

— H.

Aku membacanya empat kali.

Lalu aku melipatnya, dan memasukkannya ke saku mantel, dan tidak menunjukkannya pada siapa pun.

Aku masih menyimpannya waktu aku mati sembilan hari kemudian.