Chapter Twenty Four
Empat Puluh Jam
POV: Ravel
Aku jatuh di hari kedua puluh dua.
Bukan di medan. Bukan di latihan.
Di antrean kantin, memegang nampan, jam dua belas lewat sepuluh, di antara sekitar delapan puluh orang.
Aku ingat merasa nampan itu berat. Aku ingat memikirkan bahwa itu aneh karena isinya cuma sup dan roti. Aku ingat menghitung — kebiasaan, refleks — dan tidak bisa lewat sebelas.
Lalu lantainya naik.
Aku bangun di ruang tabib dengan langit-langit yang sudah kuhafal.
Bukan sendirian.
Moona Selene duduk di kursi di samping ranjang dengan katalog stasiun kereta wilayah barat di pangkuannya, terbuka di halaman yang aku curiga bukan halaman yang sedang dia baca.
“Jam berapa,” kataku.
Suaraku keluar salah.
“Tiga,” katanya.
“Sore?”
“Pagi.”
Aku menghitung mundur. Aku sampai di angka yang tidak masuk akal dan menghitung lagi.
“Lima belas jam?”
“Sembilan belas,” kata Moona. “Kau jatuh jam dua belas lewat sepuluh hari Selasa. Sekarang jam tiga pagi hari Kamis.”
Aku menatap langit-langit.
“Tiga puluh sembilan jam.”
“Tiga puluh sembilan jam.”
Aku mencoba mengangkat tangan kananku.
Ia bergerak sekitar sepuluh sentimeter dan berhenti.
“Jangan,” katanya.
“Aku cuma—“
“Aku tahu apa yang kau cuma.” Dia menutup katalognya. “Tabib bilang jangan angkat apa pun selama dua hari. Aku sudah memindahkan kendi airnya ke sisi kiri.”
Aku berbaring di ruang tabib dan tidak bisa bicara dengan baik dan tidak bisa mengangkat tangan kanan, dan Moona Selene duduk di kursi itu dan berkata:
“Stasiun Verrow Barat.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Stasiun Verrow Barat,” ulangnya. “Dibangun tahun sembilan puluh satu. Dua peron. Jadwal keberangkatan pertama jam lima lewat empat puluh, terakhir jam sembilan lewat lima belas.”
“Moona—“
“Ada tukang roti di peron dua,” katanya, “yang menurut katalog cetakan sembilan tahun lalu buka jam empat pagi. Aku tidak tahu apakah masih. Katalognya sudah tidak akurat.”
Aku menatapnya.
“Apa yang kau lakukan,” kataku.
“Bicara.”
“Kenapa?”
Moona Selene membuka katalognya kembali.
“Karena kalau aku berhenti,” katanya, “aku akan mengatakan hal yang sebenarnya.”
Berikut adalah hal-hal yang dibicarakan Moona Selene selama empat puluh jam berikutnya, sejauh yang bisa kuingat.
Stasiun kereta. Semuanya. Tiga puluh satu stasiun di wilayah barat, urut dari utara ke selatan, lengkap dengan jumlah peron dan jadwal yang sudah tidak berlaku sembilan tahun.
Harga roti. Delapan jenis, di empat toko berbeda, di dua distrik. Dia tahu mana yang naik harganya bulan lalu dan berapa persen.
Sistem penomoran kamar asrama Sol Invictus, yang menurutnya tidak logis, dan yang dia jelaskan ketidaklogisannya selama sekitar dua puluh menit dengan tingkat kemarahan yang sepenuhnya tidak proporsional.
Kucing. Ada empat kucing di kompleks akademi. Dia sudah menamai semuanya. Nama-namanya buruk dan dia tahu nama-namanya buruk dan dia membela nama-nama itu selama dua belas menit.
Cara Freya makan sup, yang menurutnya “seperti orang yang sedang diawasi.”
Cara Pip berjalan, yang menurutnya “seperti orang yang sedang menuju sesuatu yang tidak menunggunya.”
Cara aku memegang pedang latihan saat bahuku sakit, yang dia jelaskan dalam detail yang membuatku menyadari bahwa dia sudah menonton latihan Arena Ketiga jauh lebih sering dari sembilan malam yang dia akui.
Jadwal pembuangan sampah kantin.
Alasan kenapa jendela ruang katalog perpustakaan tidak pernah diperbaiki, yang melibatkan anggaran, dan yang dia tahu karena dia membaca laporan triwulan, dan yang membuatku menyadari bahwa Nessa Quill bukan satu-satunya orang di akademi ini yang membaca hal membosankan.
Di jam kedua belas, aku bertanya.
“Kenapa katalog kereta?”
Dia berhenti di tengah kalimat tentang stasiun Halbrook.
“Kau sudah bertanya itu empat bulan lalu.”
“Kau bilang tidak ada alasannya.”
“Iya.”
“Itu bohong.”
Moona Selene menutup katalognya dan menaruhnya di pangkuannya.
“Iya,” katanya.
Ruang tabib itu sepi. Jam tiga sore. Cahaya dari jendela masuk miring.
“Ibuku bekerja di kereta,” katanya.
Aku tidak bergerak.
“Bukan masinis. Petugas peron.” Dia meluruskan sampul katalognya dengan ibu jari. “Delapan tahun. Stasiun Verrow Barat, peron dua, lalu dipindah ke Halbrook waktu aku enam tahun.”
“Moona—“
“Dia mengambil shift pagi karena bayarannya lebih tinggi,” katanya. “Jam empat sampai jam dua. Jadi setiap pagi selama delapan tahun aku bangun di rumah kosong dan aku tahu persis di mana dia berdiri, karena aku hafal jadwalnya.”
Dia mengangkat katalognya sedikit.
“Cetakan sembilan tahun lalu,” katanya. “Itu cetakan terakhir sebelum jalurnya ditutup.”
“Apa yang terjadi?”
“Jalurnya ditutup,” katanya. “Itu saja. Bukan kecelakaan, bukan tragedi. Anggaran wilayah dipotong, jalur barat tidak menguntungkan, tiga puluh satu stasiun ditutup dalam satu tahun.”
Dia mengangkat bahu satu kali.
“Dia dapat kerja lain. Dia baik-baik saja. Dia masih baik-baik saja sekarang, dia menulis surat setiap bulan, dan suratnya membosankan dan aku menyimpannya semua.”
“Lalu kenapa—“
“Karena aku masih hafal jadwalnya,” kata Moona Selene.
Dia menatap katalog di pangkuannya.
“Delapan tahun aku bangun di rumah kosong dan tahu persis di mana dia berdiri, dan itu adalah satu-satunya cara aku pernah tahu di mana seseorang berada,” katanya. “Dan lalu jalurnya ditutup, dan sekarang aku tahu jadwal tiga puluh satu stasiun yang sudah tidak ada.”
Dia membuka katalognya kembali.
“Stasiun Halbrook,” katanya. “Empat peron. Keberangkatan pertama jam lima lewat dua puluh.”
Di jam kedua puluh, aku bisa mengangkat tangan kananku sampai dua puluh sentimeter.
Di jam kedua puluh delapan, Freya datang.
Aku tidak melihatnya masuk. Aku sedang tidur.
Yang kutahu dari Moona, belakangan, adalah bahwa Freya Solaris berdiri di ambang pintu ruang tabib selama sekitar sepuluh detik, melihat siapa yang duduk di kursi, dan berkata:
“Sudah berapa lama?”
“Dua puluh delapan jam.”
“Kau tidur?”
“Nggak.”
Dan Freya Solaris berjalan masuk, menarik kursi kedua dari sudut ruangan, dan duduk di sebelahnya.
Mereka tidak bicara selama dua jam.
Lalu Freya berkata, “Kau harus makan,” dan pergi, dan kembali dua puluh menit kemudian dengan dua mangkuk, dan mereka makan di ruang tabib jam sebelas malam sambil aku tidur di antara mereka.
Aku bangun setelah keduanya pergi.
Ada dua mangkuk kosong di meja samping.
Disusun sejajar, dengan sisi meja, dengan cara yang sangat spesifik yang cuma dilakukan satu orang.
Jam ketiga puluh sembilan.
Aku bisa duduk. Tangan kananku sampai enam puluh sentimeter. Suaraku sudah kembali sekitar delapan puluh persen.
Moona masih di kursi itu.
“Kau harus tidur,” kataku.
“Aku sudah tidur.”
“Berapa?”
“Cukup.”
“Itu bukan angka.”
“Aku tahu,” katanya. “Aku belajar dari orang yang menyebalkan.”
Aku hampir tertawa dan dadaku memprotes.
Dia menutup katalognya.
“Aku sudah habis,” katanya.
“Habis?”
“Bahan bicara.” Dia menaruh katalog itu di meja. “Tiga puluh satu stasiun, empat kucing, delapan jenis roti, sistem penomoran kamar, jadwal sampah, anggaran jendela perpustakaan. Aku sudah selesai.”
Ruang tabib itu sangat sunyi.
“Berapa lama kau menyiapkannya,” kataku.
Moona Selene menoleh.
“Apa?”
“Kau bilang kau bicara supaya tidak mengatakan hal yang sebenarnya,” kataku. “Tapi kau tidak mengarang tiga puluh satu stasiun secara spontan. Kau tahu urutannya. Kau tahu berapa peronnya. Kau punya urutan cadangan waktu aku tertidur dan bangun lagi di tengah.”
Dia tidak menjawab.
“Berapa lama,” kataku.
“Sejak halaman selatan,” katanya akhirnya. “Sembilan hari.”
“Kau menyiapkan empat puluh jam bahan bicara sembilan hari sebelum aku jatuh.”
“Aku menyiapkan dua belas jam,” katanya. “Aku salah hitung. Aku harus mengarang setengahnya.”
Aku menatapnya.
“Kau tahu aku akan jatuh.”
“Semua orang tahu kau akan jatuh,” kata Moona Selene. “Kau berdiri di halaman selatan dengan dua tangan gemetar mencoba menghitung ubin dan gagal di angka empat, di depan delapan belas saksi, dan lalu kau kembali latihan tiga hari kemudian.”
Dia mengambil katalognya lagi dan meluruskannya di pangkuan.
“Freya menghitung sampai enam puluh untukmu,” katanya. “Aku ada di jendela balkon. Aku melihatnya.”
“Moona—“
“Aku tidak bisa melakukan itu,” katanya.
Suaranya sangat datar.
“Aku sudah memikirkannya sembilan hari,” katanya. “Apa yang akan kulakukan kalau aku yang di sana. Dan aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak akan berlari melintasi empat puluh meter dan berlutut di depanmu dan menghitung keras-keras di depan delapan belas orang, karena aku bukan orang seperti itu, dan aku tidak akan pernah jadi orang seperti itu.”
Dia menatap katalognya.
“Jadi aku menyiapkan dua belas jam bahan bicara,” katanya, “supaya kalau kau jatuh, aku punya sesuatu.”
Aku mengangkat tangan kiriku — yang berfungsi — dan mengambil katalog itu dari pangkuannya.
Dia membiarkanku.
Aku membukanya. Sampulnya lepas di satu sudut. Halamannya sudah lembut di pinggir dari terlalu sering dibalik.
Di halaman pertama, di bawah judul cetakan, ada tulisan tangan anak kecil.
MOONA. HALBROOK. PERON 4.
“Kau menulis ini waktu umur berapa?”
“Tujuh.”
“Kenapa?”
“Supaya kalau aku hilang,” katanya, “ada yang tahu ke mana harus mengembalikan aku.”
Aku menutup katalog itu.
Aku menaruhnya di pangkuanku, dan aku tidak mengembalikannya, dan Moona Selene tidak memintanya kembali.
“Empat puluh jam,” kataku.
“Empat puluh jam.”
“Aku akan mengingat semuanya.”
“Kau tidak akan.”
“Aku akan,” kataku. “Aku menghitung semuanya. Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.”
Dan Moona Selene menoleh padaku dengan wajah yang, untuk kedua kalinya sejak aku mengenalnya, kehilangan seluruh lapisan yang biasanya ada di sana.
“Ravel,” katanya.
“Hm.”
“Kalau kau mati,” katanya, “aku akan sangat marah.”
Aku menatapnya.
“Itu saja,” katanya. “Itu satu-satunya hal sebenarnya yang mau kukatakan selama empat puluh jam, dan itu bahkan tidak bagus, dan aku sudah menghabiskan tiga puluh satu stasiun kereta untuk menghindarinya.”
Ruang tabib itu sangat sunyi.
Dan aku, karena aku tidak bisa mengangkat tangan kananku dan karena suaraku baru delapan puluh persen dan karena tidak ada satu pun angka yang berguna di kepalaku,
mengangkat tangan kiriku dan menaruhnya di tangannya di sandaran kursi.
Dia tidak menariknya.
Kami duduk seperti itu sampai jam empat pagi, yang mana adalah jam saat tukang roti di peron dua Stasiun Verrow Barat buka, menurut katalog cetakan sembilan tahun lalu yang sudah tidak akurat.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam reading
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku