Chapter Ten
Yang Bisa Kulihat
POV: Ravel
Aku menyusun aturan untuk diriku sendiri di minggu pertama.
Bukan karena disiplin. Karena aku sudah membaca sembilan ratus transkrip duel, dan salah satu hal yang paling konsisten muncul di sana adalah orang yang punya keunggulan dan menghabiskannya terlalu cepat.
Aturan satu: jangan pakai di depan lebih dari tiga orang.
Aturan dua: jangan menang terlalu bersih.
Aturan tiga: kalau ada yang bertanya, jawaban selalu ‘pembacaan gerak.’
Aturan empat: catat semuanya.
Aturan keempat kucuri dari Nessa, yang mana ironis, karena Nessa adalah orang yang paling berbahaya bagi tiga aturan lainnya.
Sesi duel sukarela diadakan tiga kali seminggu di Arena Kedua.
Cassian benar soal jumlahnya. Tiga puluh pendaftar minggu pertama setelah duel wajib, empat puluh empat minggu berikutnya, dan pada minggu kelima daftar tunggunya harus dipotong karena arena tidak muat.
Sebagian besar adalah Kelas D dan E. Kontraktor tier rendah yang ingin membuktikan sesuatu.
Sebagian besar dari mereka kalah, tepat seperti yang Cassian bilang.
Aku menonton delapan sesi berturut-turut sebelum aku mendaftar.
“Kenapa lama sekali?” tanya Pip.
“Aku sedang mengumpulkan data.”
“Data apa?”
Aku menunjuk arena dengan dagu. Di bawah, seorang anak Kelas E dengan [ God of Splinters — Tier VIII ] sedang berusaha bertahan melawan Kelas C.
“Lihat bahunya,” kataku.
“Bahu siapa?”
“Yang Kelas C. Sebelum dia menyerang.”
Pip menyipit. “...Nggak ada apa-apa.”
“Bahunya turun setengah senti. Setiap kali. Sudah delapan kali dan delapan-delapannya sama.”
Pip menatap arena. Delapan detik kemudian, bahu itu turun, dan Kelas C menyerang, dan Pip mengeluarkan suara.
“Bagaimana kau—“
“Aku menonton delapan sesi,” kataku.
Itu benar. Itu juga bukan alasannya.
Alasan sebenarnya adalah bahwa aku bisa melihat arus di dadanya berkumpul dua detik sebelum bahunya turun, dan bahwa bahu turun itu adalah efek, bukan sebab, dan bahwa aku menghabiskan delapan sesi untuk mencari tanda-tanda yang terlihat yang berkorelasi dengan apa yang kulihat.
Karena kalau aku cuma menghindar tanpa bisa menjelaskan, orang akan bertanya.
Kalau aku menghindar dan bisa menunjuk bahu yang turun setengah senti, orang akan bilang aku jeli.
Aku menghabiskan delapan sesi membangun alibi.
Aku mendaftar duel sukarela pertama di minggu keenam.
Lawanku Kelas D, [ God of Brine — Tier VII ], anak bernama Ottel yang gugup dan sopan dan jelas mendaftar karena semua temannya mendaftar.
Aku menang di satu menit lima puluh detik.
Terlalu bersih. Aku sadar di detik keempat puluh bahwa aku sedang melanggar aturan dua, dan aku memperlambat, dan aku membiarkan dia mengenaiku dua kali di lengan supaya angka akhirnya tidak terlalu aneh.
Dua kali itu sakit lebih dari yang kuduga. Air garam di luka terbuka.
Pantas.
Ottel menjabat tanganku setelahnya dan berkata “kau membaca semuanya,” dan aku bilang “kau menahan napas sebelum menyerang,” dan dia bilang “sungguh?”, dan aku bilang “iya”, dan dia berjalan pergi sambil memikirkan napasnya sendiri, yang mana kemungkinan besar akan membuatnya lebih buruk selama beberapa minggu.
Aku merasa buruk soal itu selama sekitar dua jam.
Duel kedua: menang. Duel ketiga: menang. Duel keempat, melawan Kelas C [ Tier VI ]: menang, dan kali ini aku mengaturnya agar durasinya empat menit dua puluh, dengan tiga kali jatuh, karena empat menit dua puluh dengan tiga kali jatuh adalah kemenangan yang orang percaya.
Nessa menulis angkanya di papan gudang.
RAVEL — 4 menang, 0 kalah.
“Hapus itu,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena orang akan lihat.”
“Orang sudah lihat.” Dia menutup spidolnya. “Enam puluh delapan orang menonton duel keempat. Tiga instruktur. Dan Cassian Solaris ada di baris atas selama seluruh durasi.”
Aku duduk di mejaku.
“Ravel,” kata Nessa.
“Hm.”
“Boleh aku bertanya sesuatu, dan kau boleh berbohong, dan aku tidak akan memaksa?”
“...Boleh.”
Dia membuka bukunya. Bukan buku catatan harian — buku lain, yang lebih tipis, yang belum pernah kulihat.
“Duel pertamamu melawan Halric Vane,” katanya. “Tiga menit empat puluh satu detik. Kau memenangkannya dengan manajemen stamina dan pembacaan pola. Aku sudah memverifikasi seluruh urutan tindakannya terhadap transkrip. Konsisten. Bisa direplikasi. Manusia biasa bisa melakukan itu kalau mereka mau menghabiskan sepuluh hari di perpustakaan dan tiga rusuk.”
“Oke.”
“Empat duel terakhir tidak begitu.”
Aku tidak menjawab.
“Bukan karena kau menang,” katanya. “Kau memang bisa menang. Tapi ada dua puluh enam titik dalam empat duel itu di mana kau bergerak sebelum ada tanda yang bisa dibaca.”
“Aku menunjuk tandanya. Bahu Kelas C—“
“Bahunya turun nol koma empat detik sebelum serangan,” kata Nessa. “Kau bergerak satu koma sembilan detik sebelum serangan.”
Gudang itu sepi. Pip sedang di luar. Tomas di kantin. Si kembar entah di mana.
“Aku menghitungnya dua puluh enam kali,” katanya. “Rata-rata keunggulanmu satu koma empat detik atas tanda visual paling awal yang bisa aku identifikasi.”
Aku menatap mejaku.
“Aku bisa berbohong,” kataku.
“Iya.”
“Kau akan tahu.”
“Iya.”
“Kalau aku tidak menjawab?”
Nessa menutup bukunya.
“Kalau kau tidak menjawab,” katanya, “aku akan menulis ‘menolak menjawab’ dan tanggalnya, dan kita lanjut hidup, dan aku tidak akan menyebutnya lagi.”
Aku memikirkannya lama.
Ini adalah momen di mana, kalau aku menceritakan ulang, aku ingin bilang bahwa aku memilih dengan bijaksana.
Yang sebenarnya terjadi: aku takut.
Bukan takut Nessa. Takut mengucapkannya keras-keras.
Karena selama tiga minggu aku sudah memakainya dan mengujinya dan membangun alibi untuknya, dan selama tiga minggu itu aku belum sekali pun mengatakan kalimat ada yang berbicara padaku dari dalam sumur kepada makhluk hidup mana pun.
Dan aku tahu, dengan kejelasan yang tidak nyaman, bahwa detik aku mengucapkannya, itu jadi nyata.
“Tulis ‘menolak menjawab,’” kataku.
Nessa mengangguk satu kali. Membuka bukunya. Menulis. Menutupnya.
“Sudah,” katanya.
Dan dia tidak menyebutnya lagi selama berbulan-bulan, dan aku tidak tahu apakah aku bersyukur atau apakah itu hal terburuk yang bisa dia lakukan untukku.
Frekuensi bocoran naik.
Aku tahu karena aku terus membaca laporan insiden, dan karena aku sekarang bisa melihat kolom di atas Well of Descent, dan karena kolom itu tidak lagi sama seperti malam pertama.
Malam pertama: lurus, stabil, setebal sumur.
Minggu keempat: masih lurus, tapi tepinya tidak rata. Seperti asap yang mulai terganggu angin.
Minggu keenam: ada serat yang lepas dari kolom utama dan tidak kembali. Mereka melayang keluar, menipis, dan hilang di suatu tempat di atas akademi.
Aku menghitung serat.
Minggu keempat: nol. Minggu kelima: dua. Minggu keenam: sembilan.
Laporan insiden resmi mencatat tiga anomali di periode yang sama. Kabut di lorong bawah, dua orang bermimpi hal yang sama, dan satu ekor kucing yang berubah warna selama empat hari.
Sembilan serat. Tiga laporan.
Aku menulis angka itu di kertas dan menatapnya sampai kertasnya tidak berarti apa-apa lagi.
Aku pergi menemui Vharen di malam ke sepuluh minggu keenam.
Dia tidak di gudang. Dia di ruang instruktur sayap barat, sendirian, dengan botol yang bukan cangkir.
“Ravel.”
“Pak.”
“Ini bukan jam kelas.”
“Iya.”
Dia menendang kursi ke arahku. Aku duduk.
“Aku mau bertanya sesuatu,” kataku, “dan aku mau bertanya secara hipotetis.”
“Hipotetis.” Dia tertawa satu kali. “Bagus. Aku suka hipotetis. Hipotetis itu artinya percakapan ini tidak pernah terjadi dan aku tidak perlu melaporkannya.”
“Iya.”
“Lanjut.”
Aku menyusun kalimatku.
“Hipotetis,” kataku. “Kalau seseorang bisa menghitung frekuensi bocoran Abyss lebih akurat daripada Kantor Insiden—“
Vharen menaruh botolnya.
“—dan hitungannya menunjukkan angka tiga kali lipat dari laporan resmi. Apa yang harus dia lakukan?”
Ruang instruktur itu sepi. Ada jam dinding. Aku menghitung detiknya sampai dua belas sebelum dia menjawab.
“Berapa?” tanyanya.
“Sembilan minggu ini.”
“Laporan resmi?”
“Tiga.”
Vharen menutup matanya.
“Hipotetis,” katanya.
“Hipotetis.”
“Orang hipotetis ini.” Matanya masih tertutup. “Dia yakin dengan metodenya?”
“Dia sudah memverifikasi tiga bulan ke belakang terhadap laporan lama. Metodenya cocok dengan laporan resmi sampai minggu keempat. Setelah itu tidak.”
“Artinya bukan metodenya yang berubah.”
“Artinya laporannya yang berubah.”
Vharen membuka matanya.
“Ravel,” katanya, dan dia sudah tidak berpura-pura ini hipotetis, dan aku sudah tidak berpura-pura juga. “Kau tahu siapa yang menandatangani laporan insiden?”
“Kantor Insiden.”
“Kantor Insiden menyusunnya. Yang menandatangani, sebelum dikirim ke luar akademi, ada dua orang.” Dia mengangkat dua jari. “Rector Halvard. Dan perwakilan Gereja Matahari.”
“Kardinal Vant.”
“Kardinal Aureus Vant.” Dia menurunkan tangannya. “Dan kalau angka resmi lebih rendah dari kenyataan, ada dua kemungkinan. Yang pertama: Kantor Insiden tidak kompeten.”
“Yang kedua?”
“Yang kedua adalah salah satu dari dua orang itu sedang menahan angkanya,” katanya. “Dan pertanyaan yang benar bukan ‘siapa.’ Pertanyaan yang benar adalah ’kenapa.’”
Dia mengambil botolnya lagi. Tidak minum. Cuma memegangnya.
“Kalau Vant yang menahan,” katanya, “artinya Gereja tidak mau ada perhatian pada Well of Descent. Bisa politik. Bisa dana. Bisa hal yang lebih buruk.”
“Kalau Halvard?”
Vharen menatap dinding.
“Kalau Halvard yang menahan,” katanya pelan, “artinya kepala akademi ini tahu sesuatu yang cukup besar sampai dia rela memalsukan dokumen resmi untuk menyembunyikannya.”
Jam dinding berdetak dua belas kali lagi.
“Aku harus lapor,” kataku.
“Ke siapa?”
Aku membuka mulut.
Aku menutupnya lagi.
“Nah,” kata Vharen. “Itu.”
Aku berjalan pulang lewat halaman, seperti biasa, dan aku berhenti di Well of Descent, seperti biasa.
Aku menyalakan penglihatanku.
Kolomnya masih di sana. Sabar. Tidak terburu-buru.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku menghitung sepuluh serat.
Aku berdiri di sana cukup lama sampai bayanganku bergeser di batu, dan lalu aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh yang tidak kuceritakan pada siapa pun selama berbulan-bulan.
Aku bicara.
“Kalau kau memang di bawah sana,” kataku, ke lubang yang tidak punya dasar, dengan suara yang cukup pelan sehingga penjaga menara tidak akan dengar, “kau bisa berhenti.”
Tidak ada apa-apa.
“Aku tidak tahu apa yang kau mau,” kataku. “Aku tidak punya apa-apa. Aku bahkan bukan orang yang berguna buat dipilih.”
Angin naik.
“Dan kalau kau berpikir aku akan berterima kasih karena kau akhirnya menjawab,” kataku, “aku menunggu empat puluh detik. Kau punya empat puluh detik dan kau diam.”
Aku menunggu.
Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh.
Empat puluh.
Tidak ada apa-apa.
Aku tertawa satu kali — pendek, jelek, ke arah lubang — dan berbalik dan berjalan pulang.
Aku sudah dua belas langkah ketika udara di belakangku berubah.
Aku tidak menoleh. Aku ingin mencatat itu dengan jujur juga: aku tidak menoleh, karena ada bagian dari diriku yang tahu bahwa kalau aku menoleh, sesuatu akan selesai yang belum siap kuselesaikan.
Tapi aku mendengarnya.
Bukan di telinga. Di tempat yang sama dengan mimpi.
Dan yang dikatakannya bukan jawaban.
”Empat puluh detik itu bukan diam.”
Aku terus berjalan.
”Itu jarak.”
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat reading
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku