Chapter Three
Cara Kalah yang Benar
POV: Ravel
Aku menghabiskan sepuluh hari berikutnya di perpustakaan.
Bukan membaca teori sihir. Itu tidak ada gunanya untuk orang sepertiku — sama seperti membaca buku resep untuk orang yang tidak punya dapur. Yang kubaca adalah catatan duel.
Sol Invictus menyimpan transkrip setiap duel wajib sejak seratus dua puluh tahun lalu. Bukan rekaman; transkrip tertulis, dibuat oleh pencatat resmi, dengan format yang sama setiap kali. Nama, kontrak, tier, durasi, hasil. Dan yang paling penting: urutan tindakan.
Ada empat ribu dua ratus tiga belas transkrip.
Aku tidak membaca semuanya. Aku membaca sembilan ratus yang melibatkan kontraktor [ Tier V ] ke atas melawan kontraktor tier rendah atau non-kontrak, karena itu satu-satunya kategori yang relevan denganku.
Dari sembilan ratus itu, pihak lemah menang dua puluh enam kali.
Aku membaca dua puluh enam itu delapan kali masing-masing.
Yang kutemukan sederhana, dan aku curiga semua orang sudah tahu tapi tidak ada yang menganggapnya penting karena mereka tidak butuh.
Manifestasi ilahi punya jeda.
Bukan “cooldown” dalam arti yang dituliskan di buku panduan — angka rapi, sekian detik, terukur. Aslinya lebih kotor dari itu. Setiap kali seorang kontraktor menarik kuasa dari dewanya, ada momen di mana koneksinya terbuka penuh, dan momen itu punya ekor. Selama ekor itu belum selesai, tarikan berikutnya lebih lambat. Tidak banyak. Sepersekian detik. Kadang seperlima.
Tidak ada yang peduli soal seperlima detik kalau kau bisa melelehkan baja.
Tapi kalau kau tidak bisa melakukan apa-apa, seperlima detik adalah seluruh dunia.
Yang kedua: kontraktor tidak punya manajemen stamina.
Sembilan ratus transkrip, dan pola yang sama muncul di hampir semuanya. Tiga puluh detik pertama brutal. Enam puluh detik berikutnya masih kuat. Setelah dua menit, kualitas serangan turun drastis. Setelah empat menit, sebagian besar duel Tier V berakhir bukan karena knockout tapi karena salah satu pihak berhenti bisa berdiri tegak.
Mereka tidak dilatih untuk duel panjang. Kenapa harus? Duel mereka tidak pernah panjang.
Aku menandai halaman itu dengan jariku dan duduk di perpustakaan yang gelap sampai penjaga mengusirku.
Duel wajib diadakan di Arena Kedua, yang lebih kecil dari Arena Utama dan dipakai untuk hal-hal yang tidak layak ditonton banyak orang.
Tetap saja ada dua ratus penonton. Duel wajib angkatan pertama selalu ramai, kata Nessa, karena inilah satu-satunya kesempatan melihat siapa yang benar-benar bisa apa sebelum semua orang belajar menyembunyikannya.
“Undianmu sudah keluar,” katanya, sambil menyodorkan kertas padaku di lorong tunggu. “Aku sudah cek arsipnya. Kau mau dengar atau mau kaget?”
“Dengar.”
“Bagus, karena aku tidak bisa menahan diri.” Dia membuka bukunya. “Halric Vane. Delapan belas tahun. Kelas B. [ God of Sinking Stones — Divine Tier VI ].”
Pip, yang berdiri di sebelahku memegang paku delapan sentimeternya seperti jimat, mengeluarkan suara yang mirip cegukan.
“Tier VI,” ulangnya.
“Tier VI,” kata Nessa.
“Itu— itu enam tingkat—“
“Enam tingkat di atas tidak punya apa-apa, iya. Secara teknis tidak terhingga tingkat, karena pembaginya nol.” Nessa menutup bukunya. “Kemampuannya: dia bisa membuat apa pun yang menyentuh tanah jadi lebih berat. Bertahap. Semakin lama kau berdiri di area pengaruhnya, semakin berat kau. Ada catatan dia pernah membuat lawan tidak bisa mengangkat tangannya sendiri dalam empat puluh detik.”
Aku mengambil kertas undian dari tangannya dan membacanya sendiri. Bukan karena tidak percaya. Karena aku ingin melihat namanya tertulis.
Halric Vane — Ravel.
“Rekor duelnya?” tanyaku.
“Sebelas menang, nol kalah. Durasi rata-rata: lima puluh dua detik.”
“Durasi terpanjangnya?”
Nessa melirikku. Membuka bukunya lagi. “Seratus tiga belas detik. Melawan kontraktor Tier V dari Kelas A.”
“Terima kasih.”
“Kau bertanya hal yang aneh.”
“Iya,” kataku. “Aku tahu.”
Halric Vane ternyata orang yang sopan.
Itu yang paling tidak kuduga. Aku sudah menyiapkan diri untuk diremehkan — sudah menyusun beberapa versi di kepala, dari yang meledek sampai yang pura-pura kasihan.
Dia cuma mengangguk padaku di tengah arena, dan berkata, “Vane.”
“Ravel.”
“Aku sudah dengar. Kelas F, ya?”
“Iya.”
Dia mengangguk lagi. Postur bagus, bahu lebar, tangan yang tenang. Tidak ada satu pun tanda bahwa dia menganggap ini akan sulit, tapi juga tidak ada tanda dia menganggap ini lucu.
“Aku akan berusaha cepat,” katanya. Dan dia bersungguh-sungguh; itu ditawarkan sebagai kebaikan, dan memang kebaikan. “Kalau kau menyerah, angkat tangan. Tidak ada yang mencatat kau menyerah di detik ke berapa.”
“Terima kasih.”
Wasit mengangkat tangannya.
Aku menghitung penonton. Dua ratus tiga. Aku tidak bisa menahan diri.
Dan di balkon sisi barat, di antara pita-pita berwarna cerah Kelas A, ada satu titik pirang yang tidak bergerak sama sekali.
Aku tidak memikirkannya waktu itu.
[ DUEL — BEGIN ]
Aku bergerak sebelum wasit menurunkan tangannya sepenuhnya.
Bukan ke arah Vane. Ke samping.
Tanah di bawah kakiku sudah terasa berbeda — tidak berat, belum, tapi ada semacam tarikan yang belum ada sedetik sebelumnya. Area pengaruhnya sudah aktif. Dia mengaktifkannya sebelum aba-aba, yang legal, dan yang dilakukan semua orang, dan yang sudah kuduga karena delapan dari sebelas transkripnya menyebutkan hal itu.
Aku berlari melingkar. Tidak menyerang. Tidak mendekat.
“Kau tidak bisa lari dari tanah,” kata Vane, tenang, tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Betul. Aku tidak bisa.
Tapi aku tidak lari dari tanah. Aku lari dari pusatnya.
Kemampuannya bertingkat — itu ada di transkrip, tertulis tiga kali dengan kata yang sama: bertahap. Sesuatu yang bertahap punya titik terkuat, dan titik terkuat kemampuan area selalu ada di tempat penggunanya berdiri. Kalau aku terus bergerak di tepi luar, akumulasinya lebih lambat.
Bukan berhenti. Lebih lambat.
Aku tidak butuh berhenti. Aku butuh lambat.
Detik ke sepuluh. Kakiku terasa seperti memakai sepatu yang basah.
Vane menggeser posisinya. Pusat area ikut pindah. Aku menyesuaikan, melebar, tetap di tepi.
Detik ke dua puluh. Sepatu basah jadi sepatu berlumpur.
“Ini tidak akan berhasil,” katanya. Masih sopan. Sedikit bingung.
Detik ke tiga puluh lima, dia kehilangan kesabaran, dan itulah yang kutunggu.
Vane menghentakkan telapak tangannya ke tanah.
Seluruh arena turun — bukan runtuh, tapi seperti lantai yang tiba-tiba mengaku bahwa ia selama ini menahan sesuatu. Beratnya melompat naik tiga tingkat sekaligus. Lututku hampir menyentuh tanah. Napasku keluar dari dada seperti diperas.
Dan di sana. Tepat di sana.
Napas.
Dia menahan napasnya setengah sebelum menghentak, dan setelah menghentak dia membuangnya — satu embusan pendek lewat hidung, bahunya turun sepersekian, kelopak matanya tertutup lebih lama dari kedipan biasa.
Ekornya.
Aku bergerak.
Bukan menyerang. Aku bergerak mendekat.
Semua orang di arena itu, kalau ditanya, akan bilang itu langkah paling bodoh yang bisa diambil: berjalan ke arah pusat area yang membuatmu berat. Dan mereka benar. Dua langkahku berikutnya terasa seperti mendaki.
Tapi kemampuannya bertahap, dan yang bertahap butuh waktu, dan aku baru saja membeli sepersekian detik yang membuatnya butuh memulai ulang.
Aku sampai di jarak tiga meter sebelum dia sempat menarik lagi.
Dia mundur satu langkah. Itu refleks. Itu manusiawi.
Dan mundur satu langkah artinya pusat areanya juga mundur satu langkah, dan artinya tempatku berdiri sekarang setengah langkah lebih ringan dari sedetik lalu.
Aku tersenyum. Aku tidak bisa menahannya. Itu kesalahan kecil yang bodoh dan aku menyesalinya karena Vane melihatnya dan wajahnya berubah.
Detik ke lima puluh dua, dia menghantamku.
Bukan dengan tangan. Dengan berat. Seluruh massa udara di sekitarku jatuh sekaligus, dan aku jatuh bersamanya, dan bahu kananku menghantam batu arena dengan suara yang bisa didengar sampai balkon.
Rusuk. Dua, mungkin tiga.
Aku bangun.
Bukan cepat. Sangat pelan, sebenarnya, dengan satu tangan menekan tanah dan satu tangan menekan sisi tubuhku. Butuh sembilan detik. Aku menghitungnya.
Vane menungguku. Karena dia sopan.
Itu kesalahan ketiganya.
“Angkat tangan,” katanya. “Kau sudah membuktikan apa pun yang mau kau buktikan.”
“Belum,” kataku.
Detik ke tujuh puluh, dia menghantamku lagi. Aku jatuh lagi. Bangun lagi. Sebelas detik kali ini.
Detik ke sembilan puluh, lagi. Empat belas detik.
Penonton mulai bersuara. Bukan sorakan. Sesuatu yang lebih tidak nyaman dari itu — gumaman yang tumbuh, jenis suara yang dibuat orang saat mereka menonton sesuatu yang mereka tidak yakin boleh ditonton.
Detik ke seratus tiga belas — rekor terpanjangnya — aku masih berdiri, dan aku melihatnya menyadari itu.
Wajahnya berubah lagi. Dan kali ini bukan berubah jadi marah.
Berubah jadi lelah.
Ini bagian yang tidak dimengerti orang tentang duel.
Kuasa ilahi tidak keluar dari udara. Ia keluar lewat manusia. Setiap tarikan lewat dada, lewat kepala, lewat sesuatu di dalam yang tidak punya nama di buku anatomi mana pun. Sembilan ratus transkrip mengatakan hal yang sama: setelah dua menit, kualitas turun. Setelah empat menit, orang berhenti bisa berdiri tegak.
Halric Vane sudah sebelas kali menang, dan durasi rata-ratanya lima puluh dua detik, dan yang terpanjang seratus tiga belas.
Dia belum pernah berdiri di menit ketiga seumur hidupnya.
Aku sudah.
Aku berdiri di menit ketiga setiap malam di distrik pelabuhan, mengangkat peti sampai jam empat pagi, untuk uang yang cukup buat makan dua kali. Aku berdiri di menit ketiga saat ujian teknis, bagian manajemen stamina, tiga jam berturut-turut. Aku tidak kuat. Aku tidak cepat. Aku tidak punya apa-apa.
Tapi aku tahu bagaimana rasanya di menit ketiga, dan aku tahu bahwa rasanya bukan akhir. Rasanya cuma rasa.
Menit kedua puluh dua puluh — dua menit dua puluh — dan aku menyadari sesuatu.
Areanya menipis.
Tidak hilang. Tapi tanah di bawahku, yang sepuluh detik lalu seperti lumpur, sekarang cuma seperti pasir basah.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat Halric Vane, dan Halric Vane sedang bernapas lewat mulut.
Aku tidak menyerangnya.
Ini bagian yang selalu ditanyakan orang setelahnya, dan jawabannya membosankan: aku tidak menyerangnya karena aku tidak bisa. Aku tidak punya kekuatan untuk menjatuhkan orang setinggi itu. Kalau aku mencoba memukulnya, dia akan menahannya, dan aku akan kehabisan satu-satunya hal yang kupunya.
Jadi aku melakukan hal yang lain.
Aku berjalan ke tengah arena — ke titik pusat areanya, tempat paling berat yang ada — dan aku berdiri di sana.
Vane menatapku.
“Apa yang kau lakukan,” katanya. Suaranya sudah bukan suara yang sopan lagi. Suaranya suara orang yang berat badannya bertumpu di satu kaki.
Aku tidak menjawab. Menjawab butuh napas dan napasku sedang dipakai.
Kalau dia ingin menjatuhkanku sekarang, dia harus menarik lagi. Penuh. Dan setiap tarikan penuh punya ekor, dan setiap ekor memakan sesuatu darinya, dan aku sudah berdiri di sini selama dua menit empat puluh detik dan aku tidak berencana ke mana-mana.
Dia menarik.
Aku jatuh berlutut. Tidak tumbang. Berlutut.
Aku bangun.
Dia menarik lagi. Aku jatuh. Aku bangun.
Lagi. Jatuh. Bangun.
Penonton sudah diam sepenuhnya sekarang. Dua ratus tiga orang, dan tidak ada satu pun yang bersuara, dan yang terdengar di arena itu cuma dua orang bernapas dan satu orang berdiri berulang-ulang.
Menit ketiga lewat dua puluh delapan detik, Halric Vane menarik untuk yang keenam kalinya —
— dan tidak ada yang terjadi.
Dia menatap tangannya. Lalu menatap tanah. Lalu menatapku.
Dia mencoba lagi. Aku melihat lehernya menegang, melihat dadanya naik, melihat semua tanda yang sudah kubaca sembilan ratus kali di kertas dan sekarang kulihat langsung dari jarak tiga meter di wajah seseorang yang belum pernah sampai ke sini.
Tidak ada yang terjadi.
Halric Vane, [ God of Sinking Stones — Divine Tier VI ], sebelas menang nol kalah, jatuh berlutut di arena karena kakinya sendiri.
Aku berjalan tiga langkah dan menyentuh bahunya dengan telapak tangan terbuka.
Itu saja. Sentuhan. Tidak ada tenaga di dalamnya sama sekali; kalau dia berdiri tegak, sentuhan itu bahkan tidak akan menggerakkannya sesenti.
Dia jatuh ke samping.
[ DUEL — END ] [ Winner: Ravel — No Contract ] [ Duration: 3:41 ]
Arena itu tidak bersorak.
Aku sudah menyiapkan diri untuk sorakan, atau untuk cemoohan, atau untuk apa pun. Yang terjadi lebih aneh dari keduanya: dua ratus tiga orang duduk dalam keheningan yang tidak nyaman, dan yang pertama kali bersuara adalah wasit, yang harus mengulang pengumuman hasil dua kali karena yang pertama terdengar seperti pertanyaan.
Aku membantu Vane berdiri. Dia menerima tanganku, yang menurutku sangat terhormat untuk seseorang yang baru saja kehilangan rekor sempurnanya di depan seluruh angkatan.
“Berapa lama kau merencanakan itu?” tanyanya, pelan.
“Sepuluh hari.”
“Untukku?”
“Untuk siapa pun.” Aku melepas tangannya. “Kau kebetulan.”
Dia tertawa satu kali, pendek, dan suaranya sakit karena dadanya. “Itu lebih buruk.”
“Iya,” kataku. “Maaf.”
Aku baru menyadari bahuku patah saat aku sampai di lorong keluar dan mencoba membuka pintu.
Pip ada di sana. Nessa juga. Pip berteriak sesuatu yang tidak bisa kutangkap karena suaranya terlalu tinggi, dan Nessa berkata “tiga menit empat puluh satu detik” dengan nada seseorang yang sedang membaca hasil autopsi.
Dan di ujung lorong, di tempat balkon barat bertemu tangga turun, ada seseorang berdiri.
Pirang pucat. Rambut diikat rapat, tidak satu helai pun keluar dari tempatnya. Pita emas di lengan kiri — satu-satunya di seluruh akademi.
Dia tidak turun. Dia tidak bicara. Dia bahkan tidak jelas sedang melihat ke arahku dan bukan ke arah pintu di belakangku.
Tapi dia berdiri di sana, dan aku bisa melihat dari jarak dua puluh meter bahwa dia tidak berkedip.
Aku menunduk sedikit — bukan membungkuk, cuma sesuatu yang refleks dan canggung — lalu aku berbalik dan berjalan pergi bersama Pip yang masih berteriak.
Baru tiga hari kemudian aku tahu berapa lama dia berdiri di sana.
Nessa yang memberitahuku. Dia mencatat semuanya.
Dua puluh dua menit.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar reading
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku