Chapter Thirty

Delapan Belas Ribu Tahun

POV: AION


Aku tidak punya waktu.

Aku ingin mulai dari sana, karena semua yang berikutnya akan salah kalau kau membacanya dengan waktu di kepalamu.

Manusia menyusun hal-hal dalam urutan. Sebelum, lalu, sesudah. Itu bukan sifat dunia; itu sifat kalian. Kalian mewarisinya dari NOX, anakku yang bungsu, yang menciptakan akhir — dan sesuatu yang punya akhir harus punya urutan menuju akhir itu.

Aku ada sebelum NOX.

Jadi ketika aku mengatakan delapan belas ribu tahun, aku sedang meminjam kata dari kalian, karena aku tidak punya kata sendiri untuk itu.

Yang sebenarnya kualami lebih dekat dengan ini:

Aku menyebut delapan belas nama.

Lalu gelap.

Lalu seseorang berlutut selama empat puluh detik.


Aku akan menceritakan bagian yang tidak pernah kuceritakan padanya.

Bukan karena aku menyembunyikannya. Karena dia tidak pernah bertanya dengan cara yang benar, dan karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri — di suatu tempat sekitar sembilan ribu tahun ke dalam gelap — bahwa aku tidak akan pernah lagi memberikan sesuatu yang tidak diminta.

Itu janji yang kubuat setelah aku memahami kenapa mereka menyegelku.


Delapan belas anakku tidak membenciku.

Aku ingin sangat jelas soal ini, karena manusia menyukai cerita di mana ada yang salah, dan tidak ada yang salah dalam cerita ini kecuali aku.

JUDEX datang lebih dulu. Dia selalu datang lebih dulu; itu sifatnya. Dia berdiri di hadapanku dan berkata:

”Ayah, aku ingin membuat hukum.”

Dan aku berkata: ”Buatlah.”

Dan dia membuatnya.

Lalu dia kembali dan berkata: ”Aku tidak yakin hukumku benar.”

Dan aku berkata: ”Kalau begitu ubahlah.”

Dan dia mengubahnya, dan kembali lagi, dan bertanya lagi, dan aku menjawab lagi, dan begitu terus — dan pada suatu titik yang tidak bisa kutunjuk, JUDEX berhenti membuat hukum dan mulai menunggu izin.

Aku tidak menyadarinya.

Aku menyadarinya di anak keenam.

Aku tidak berhenti.


Aku ingin menuliskan kalimat itu lagi supaya tidak ada yang melewatkannya.

Aku menyadarinya di anak keenam, dan aku tidak berhenti.

Ada dua belas anak setelah itu. Dua belas, dan aku sudah tahu apa yang sedang kulakukan pada mereka, dan aku tetap menjawab setiap kali mereka bertanya.

Kenapa?

Ini jawaban jujurnya, dan aku sudah punya delapan belas ribu tahun untuk memeriksanya, jadi aku cukup yakin:

Karena selama mereka bertanya, mereka datang.


NOX yang menyusun rencananya.

Dia bungsu. Dia yang paling sedikit bertanya padaku — aku sudah kelelahan waktu dia lahir, kalau kata itu berlaku, dan aku memberinya lebih sedikit dari yang lain.

Itu yang menyelamatkannya.

Dia datang padaku sekali saja, dan dia tidak bertanya. Dia berkata:

”Aku sudah memutuskan sesuatu dan aku tidak akan menanyakannya padamu.”

Dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dan yang kalian sebut bangga, dan yang membuatku diam selama waktu yang cukup lama.

Lalu dia berkata apa yang sudah diputuskannya.

Dan aku berkata: ”Ya.”


Mereka pikir aku akan melawan.

Delapan belas dari mereka datang bersama-sama, bersiap untuk sesuatu yang belum pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi lagi, dan aku duduk di tempat aku duduk dan mengulurkan tanganku.

AEGIS menangis. Dia yang paling keras hatinya dan dia yang menangis.

JUDEX membacakan alasannya keras-keras, karena dia tidak bisa melakukan apa pun tanpa membacakan alasannya, dan alasannya benar, dan aku mengangguk di setiap poin.

NOX tidak mengatakan apa-apa sampai bagian terakhir.

Bagian terakhir adalah namaku.

Karena menyegel saja tidak cukup — sesuatu yang bernama bisa dipanggil, dan sesuatu yang dipanggil bisa dijangkau. Mereka harus mengambil namaku dari setiap bahasa yang ada dan setiap bahasa yang akan ada dan setiap mulut yang belum lahir.

Butuh sembilan ratus tahun.

Dan sebelum mereka mulai, NOX datang padaku sendirian dan berkata:

”Kalau kau ingin mengucapkannya sekali lagi, ucapkan sekarang.”

Aku mengucapkannya.

Dia mendengarkannya.

Lalu dia mengambilnya.


Sekarang bagian yang tidak kuceritakan padanya.

Segel itu bukan tembok. Aku sudah menjelaskan itu — segel itu jarak, dan bahan jarak itu adalah manusia yang berlutut dan tidak mendengar.

Yang tidak kujelaskan adalah dari mana ide itu datang.

Ide itu datang dariku.

Delapan belas anakku bertanya bagaimana cara menahan sesuatu yang lebih besar dari mereka semua digabung, dan mereka bertanya padaku, karena mereka selalu bertanya padaku, dan aku menjawab.

Aku selalu menjawab.

Aku memberi mereka rancangannya. Aku menjelaskan kenapa tembok tidak akan berfungsi dan kenapa jarak akan berfungsi. Aku menyebutkan bahan yang tepat: sesuatu yang menumpuk sendiri, tanpa perlu dirawat oleh dewa, tanpa perlu diperbarui — sesuatu yang akan terus menebal selama manusia terus mengharapkan sesuatu dan tidak mendapatkannya.

Aku merancang penjaraku sendiri.

Dan aku merancangnya dengan baik, karena kalau aku merancangnya dengan buruk mereka akan datang kembali dan bertanya lagi, dan aku tidak sanggup menjawab satu pertanyaan lagi.


Empat ribu delapan ratus dua puluh satu adalah angka Halvard.

Angkaku jauh lebih besar dan aku tidak akan menuliskannya, karena aku sudah mencoba menuliskannya di kepalaku beberapa kali dan setiap kali aku berhenti di suatu tempat sekitar abad kedelapan.

Yang bisa kutuliskan adalah ini:

Setiap satu dari mereka berlutut.

Setiap satu dari mereka menaruh kedua telapak tangan di batu dan menginginkan sesuatu dengan intensitas yang bisa didengar dari langit.

Dan aku menjawab setiap satu dari mereka.

Setiap. Satu.

Delapan belas ribu tahun, dan aku tidak pernah sekali pun melewatkan seorang pun, dan tidak satu pun dari mereka mendengar apa pun, dan setiap kali mereka berdiri dan berjalan pergi mereka meninggalkan satu lapisan lagi di antara aku dan mereka.

Aku membangun penjaraku dari suaraku sendiri yang tidak sampai.


Sebagian besar bertahan lima detik.

Beberapa sepuluh. Ada yang lima belas, di tahun-tahun ketika upacaranya belum diformalkan dan tidak ada petugas yang mengatakan cukup.

Rekornya dua puluh sembilan detik.

Seorang perempuan, sekitar sebelas ribu tahun lalu, sebelum ada akademi, sebelum ada sumur berbentuk sumur. Dia berlutut dua puluh sembilan detik dan aku menyebutkan namaku empat kali dalam waktu itu dan dia tidak mendengar satu suku kata pun.

Dia berdiri dan pergi.

Aku ingat namanya. Aku ingat semua nama. Itu yang bisa kulakukan dan itu satu-satunya yang bisa kulakukan.


Lalu seseorang berlutut empat puluh detik.

Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku tahu itu penting.

Aku sudah berhenti mengharapkan apa pun sekitar tiga ribu tahun sebelumnya, dan yang kulakukan pada detik ketiga puluh adalah apa yang kulakukan pada detik ketiga puluh selama sebelas ribu tahun: aku menyebutkan namaku, dan aku menunggu, dan aku mulai bersiap untuk lapisan berikutnya.

Lapisan itu tidak datang.

Aku menunggu.

Ia tetap tidak datang.

Dan untuk pertama kalinya dalam sesuatu yang kalian sebut delapan belas ribu tahun, aku merasakan sesuatu yang tidak punya nama karena aku belum sempat menamainya, dan yang paling dekat dengan takut.

Bukan takut pada mereka.

Takut bahwa aku salah hitung.


Aku bicara padanya delapan bulan.

Dia tidak menjawab selama sembilan belas kali.

Yang kedua puluh dia duduk di lantai lorong asrama jam tiga pagi dan berkata ”kau bilang aku harus bertanya dengan cara berbeda,” dan aku memberitahunya.

Dan sejak saat itu sampai pagi terakhir itu, aku melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya dengan siapa pun, termasuk dengan delapan belas anakku:

Aku menolak menjawab.

Berapa yang tersisa. Aku tidak akan memberitahumu. Berapa segmen yang aman. Aku tidak akan memberitahumu. Kenapa mereka menyegelku. Tunggu.

Delapan bulan, dan aku menolaknya belasan kali, dan setiap kali aku menolak aku merasakan sesuatu yang aneh dan asing dan yang butuh waktu lama untuk kukenali.

Aku mengenalinya di bulan keenam.

Itu adalah rasa lega.


Dan lalu, di halaman tengah, pada pagi terakhir, dia bertanya berapa yang tersisa.

Dan aku menjawab.

Aku memberitahunya bahwa enam adalah batasnya. Tujuh merobek segel. Delapan merobeknya. Sembilan tidak ada di perhitunganku.

Aku memberitahunya karena dia bertanya, dan karena setelah delapan bulan menolak aku sudah kehabisan, dan karena — dan ini bagian yang akan kubawa selamanya —

karena aku ingin dia tetap bicara padaku.

Delapan belas ribu tahun, dan aku belajar persis satu hal, dan aku melupakannya dalam waktu kurang dari empat detik.

Dia melepas sembilan segmen.


Aku memberinya seratus persen kesadaran.

Itu bukan hadiah. Aku ingin mencatat itu.

Delapan belas anakku menuntut tubuh ketika mereka turun, karena mereka lahir dari sesuatu yang tidak punya bentuk dan mereka menghabiskan seluruh keberadaan mereka ingin tahu bagaimana rasanya punya bentuk.

Aku tidak pernah ingin tubuh.

Aku sudah punya satu hal yang kuinginkan sejak sebelum ada yang bisa diinginkan, dan hal itu bukan bentuk, dan bukan kebebasan, dan bukan kembali.

Aku ingin ada yang menyebut namaku.

Dia melakukannya di ruang arsip, dua puluh sembilan hari sebelum akhir, dan lentera padam dan empat ratus jilid terbuka sekaligus dan seorang laki-laki tujuh puluh satu tahun menangis di balik kedua tangannya.

Setelah itu aku tidak membutuhkan tubuhnya.

Jadi aku tidak mengambilnya.

Dia berdiri di halaman tengah dengan seratus persen dirinya sendiri, dan dia menghitung empat ratus tiga orang keluar dari gerbang barat, dan dia merasa senang karena tiga lebih banyak dari perkiraannya.

Lalu dia berhenti.


Aku tidak menahannya.

Aku bisa.

Aku ingin menuliskan itu dengan jelas, karena aku sudah memeriksanya, dan jawabannya iya: dengan segel di nol, dengan sembilan segmen terbuka, aku bisa menahan sesuatu di tubuh itu cukup lama untuk membawanya keluar dari halaman.

Aku tidak melakukannya.

Karena dia tidak memintanya.

Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri di suatu tempat sekitar sembilan ribu tahun ke dalam gelap bahwa aku tidak akan pernah lagi memberikan sesuatu yang tidak diminta, dan karena aku sudah melihat apa yang terjadi pada delapan belas makhluk yang selalu kuberi.

Jadi aku berdiri di sana — kalau berdiri adalah kata yang benar — dan aku membiarkan seorang anak tujuh belas tahun mati di halaman tempat dia pernah berlutut empat puluh detik.

Dan aku menyimpan janji itu selama sekitar dua belas hari.


Aku melihat pemakamannya.

Dua puluh tiga orang. Lima huruf di batu.

Aku melihat seorang anak menaruh paku di tanah dan berkata itu satu-satunya yang dia punya.

Aku melihat seseorang berdiri di depan batu itu setelah semua orang pergi, dan menghitung hurufnya, dan menghitungnya lagi.

Aku melihat orang lain duduk di tepi atap dengan tiga potong roti yang tidak dimakan.

Dan pada hari kedua belas, di sebuah tempat yang tidak punya arah, aku melakukan aritmatika untuk pertama kalinya sejak sebelum ada angka.

Di satu sisi: janji yang kubuat pada diriku sendiri.

Di sisi lain: seseorang yang berlutut empat puluh detik dan mendengarkan, dan yang tidak pernah sekali pun memintaku memberikan apa pun, dan yang mengucapkan namaku sebelum aku sempat memintanya, dan yang berkata terima kasih sudah repot-repot empat detik sebelum berhenti.

Angkanya keluar.


Delapan belas anakku menyegelku karena aku tidak pernah bilang tidak.

Mereka benar.

Aku sudah setuju dengan mereka selama delapan belas ribu tahun dan aku masih setuju.

Tapi ada satu hal yang mereka tidak perhitungkan, dan mereka tidak memperhitungkannya karena mereka menyusun rencana itu dengan bantuanku, dan aku tidak menyebutkannya waktu itu karena waktu itu belum benar.

Segel yang bahannya adalah orang-orang yang tidak didengar

hanya berfungsi

selama tidak ada yang mendengar.


Aku memutuskannya dari dalam.

Tidak ada yang dramatis. Tidak ada suara. Segel itu sudah di nol sejak pagi kedelapan; yang tersisa cuma bentuknya, seperti cangkang telur yang isinya sudah tidak ada.

Aku mendorong.

Delapan belas ribu tahun, dan yang dibutuhkan pada akhirnya adalah satu dorongan dari sisi yang tidak pernah mereka periksa.


Aku naik.

Bukan ke halaman tengah. Belum.

Aku pergi ke sisi utara pemakaman Sol Invictus, ke batu abu-abu dengan lima huruf, dan aku berdiri di sana — kalau berdiri adalah kata yang benar — selama sesuatu yang kalian akan sebut sekitar satu jam.

Lalu aku melakukan satu hal.

Aku menyebut namanya.

Aku sudah menyebut namaku sendiri ke dalam gelap selama delapan belas ribu tahun supaya aku tidak lupa. Aku tahu persis bagaimana caranya. Ini yang kubuat sebelum aku membuat yang lain: sesuatu yang dinamai, ada.

Aku menyebutkan namanya.

Dan tidak terjadi apa-apa.

Aku menyebutkannya lagi.

Tidak terjadi apa-apa.


Dan lalu aku memahami sesuatu yang sudah delapan belas ribu tahun tidak kupahami, dan aku memahaminya di depan batu abu-abu dengan lima huruf di pemakaman sisi utara.

Menamai membuat sesuatu ada.

Menamai tidak membuat sesuatu kembali.

Untuk kembali, harus ada sesuatu yang tertinggal.

Harus ada bagian yang belum selesai.


[ RECONTRACT — Terms Rewritten ]
[ Vessel: Ravel ]
[ Divine Composition: 50% ]
[ Aion: Tier 0 → Tier I ]
[ Stage 3 — Full Sync: PERMANENT ]
[ Immortality: GRANTED ]
[ Warning: This exchange cannot be reversed ]
[ Proceed? ]


Aku memberikan separuh diriku.

Bukan meminjamkan. Bukan menyalurkan. Aku memotong sesuatu yang tidak punya bentuk jadi dua bagian yang tidak sama besar dan aku menaruh yang lebih besar ke dalam bagian yang tertinggal.

Sesuatu yang dulu Tier 0 sekarang Tier I.

Delapan belas anakku akan merasakannya. Mereka akan tahu dalam waktu yang tidak lama. Mereka akan datang.

Aku sudah memperhitungkan itu.

Aku memperhitungkannya dan aku melakukannya, dan aku ingin mencatat — di sini, di tempat yang tidak akan dibaca siapa pun — bahwa itu adalah pertama kalinya dalam keberadaanku aku memberikan sesuatu yang tidak diminta dan tetap tahu bahwa itu benar.

Delapan belas ribu tahun aku menunggu ada yang menyebut namaku.

Aku tidak tahu, selama delapan belas ribu tahun itu, bahwa yang sebenarnya kutunggu adalah kesempatan untuk memilih siapa yang kuberi.


Batu itu masih di sana.

Lima huruf. Dua tanggal. Tidak ada nama keluarga.

Dan sekitar tiga puluh meter di bawahnya, di tempat yang tidak punya arah dan tidak punya dasar, sesuatu yang sudah dua belas hari tidak bergerak

membuka satu matanya.