Chapter Eleven
Malam di Atap
POV: Ravel
Aku menyimpan kaleng itu selama enam minggu.
Ini adalah hal yang paling tidak masuk akal yang kulakukan sepanjang tahun itu, dan aku tidak punya penjelasan yang layak untuknya.
Kaleng susu jelai. Kosong. Kadaluarsa enam minggu lalu, meskipun isinya sudah tidak ada jadi kadaluarsanya tidak relevan. Aku memungutnya dari meja baca lantai dua perpustakaan pada jam tiga pagi dan memasukkannya ke saku mantel dan tidak membuangnya.
Ia berpindah dari saku mantel ke laci mejaku di gudang. Lalu dari laci ke rak di atas ranjangku, karena Nessa mulai memakai laciku untuk menyimpan buku cadangan dan aku tidak mau dia bertanya.
Enam minggu.
Aku memikirkannya kadang-kadang, biasanya tepat sebelum tidur, dengan jenis rasa malu yang tidak cukup besar untuk membuatku bangun dan membuangnya.
Aku naik ke atap asrama utara di malam kedua minggu ketujuh.
Bukan untuk mencarinya. Aku ingin menegaskan itu, karena kalau aku menceritakannya dengan urutan yang salah, ini akan terdengar seperti sesuatu yang direncanakan.
Aku naik karena aku tidak bisa tidur, dan karena perpustakaan terasa terlalu tertutup, dan karena aku sudah menghitung retakan langit-langit sampai tujuh belas — naik empat dari malam ketiga — dan menghitungnya lagi tidak akan membuatnya turun.
Ada tangga servis di ujung koridor lantai empat. Gemboknya rusak sejak entah kapan.
Aku mendorong pintu dan keluar ke angin.
Dan dia sudah di sana.
Moona Selene duduk di tepi atap dengan kedua kaki menggantung di luar.
Empat lantai. Tidak ada pagar. Tidak ada apa pun antara dia dan halaman kecuali keputusannya untuk tetap duduk.
Aku berhenti di ambang pintu.
“Kalau kau mau berteriak,” katanya, tanpa menoleh, “berteriak sekarang. Aku benci kalau orang menahannya lalu mengeluarkannya di tengah kalimat.”
“Aku tidak mau berteriak.”
“Semua orang mau berteriak.”
“Aku sedang menghitung.”
Itu membuatnya menoleh.
“Menghitung apa?”
“Jarak dari tepi ke titik berat badanmu,” kataku. “Sekitar dua puluh sentimeter ke dalam. Kau tidak akan jatuh kecuali ada yang mendorong.”
Moona menatapku beberapa detik.
Lalu dia bergeser ke kiri.
Itu semua. Dia bergeser sekitar setengah meter ke kiri dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dan aku berjalan ke sana dan duduk — tidak di tepi; sekitar satu meter di belakang tepi, karena aku bukan orang yang berpura-pura.
Dia melihat itu. Dia tidak berkomentar.
Atap asrama utara menghadap ke halaman tengah.
Dari sini, Well of Descent kelihatan seperti titik. Arena Ketiga ada di sebelah kiri, dan lampunya menyala, dan aku tidak perlu penglihatan apa pun untuk tahu siapa yang di dalamnya jam sebelas malam.
Moona mengikuti arah pandanganku.
“Empat ratus delapan puluh,” katanya.
“Apa?”
“Target hariannya sekarang. Empat ratus delapan puluh.” Dia mengayunkan satu kakinya. “Naik dari empat ratus tiga belas. Kau tahu kapan naiknya?”
“...Nggak.”
“Bohong.”
Aku tidak menjawab.
“Naik tiga minggu lalu,” katanya. “Persis setelah dia mengirim empat puluh gulung perban ke gudang.”
Angin di atap itu dingin dengan cara yang tidak menyenangkan.
“Kau tahu soal perban.”
“Semua orang tahu soal perban,” katanya. “Empat pelayan berseragam Rumah Solaris berjalan melintasi halaman utama jam tiga sore membawa peti. Itu bukan rahasia. Itu prosesi.”
“Aku tidak minta.”
“Aku tahu kau tidak minta.” Dia menoleh. “Itu justru masalahnya, kan?”
Aku menatap halaman.
“Iya,” kataku.
Dia mengeluarkan sesuatu dari mantelnya dan menaruhnya di antara kami.
Bukan kaleng. Bungkusan kertas, kecil, diikat benang.
“Apa ini?”
“Buka.”
Aku membukanya.
Roti gandum keras. Jenis yang dijual di kantin dengan harga terendah dan yang biasanya kubeli karena harganya terendah. Empat potong.
“Kau membawa roti.”
“Aku selalu membawa roti,” katanya. “Ini bukan untukmu. Ini kebetulan.”
“Empat potong.”
“Aku lapar.”
“Kau tidak makan satu pun.”
Moona menoleh perlahan.
“Kau tahu,” katanya, “sangat melelahkan bicara denganmu.”
“Kenapa?”
“Karena kau menghitung semuanya dan lalu mengatakannya.” Dia mengambil satu potong roti dan menggigitnya dengan ekspresi menantang. “Orang normal menghitung dalam diam dan membiarkan orang lain punya harga diri.”
“Maaf.”
“Berhenti minta maaf.”
“Maaf.”
Dia melemparkan remah ke arahku.
Kami makan roti keras itu di atap selama sekitar sepuluh menit tanpa bicara.
Aku sudah menyadari, saat itu, bahwa diam bersama Moona Selene punya kualitas yang berbeda dari diam bersama siapa pun. Sebagian besar orang mengisi diam karena mereka takut. Moona tidak mengisi diam karena dia sedang memakainya untuk sesuatu.
Aku belum tahu untuk apa.
“Boleh tanya sesuatu?” kataku.
“Kau akan tanya apa pun jawabanku.”
“Iya.”
“Nah.”
“Kenapa peringkat dua?”
Moona berhenti mengunyah.
“Itu bukan pertanyaan,” katanya. “Itu tuduhan yang disamarkan.”
“Iya.”
“Setidaknya kau mengaku.” Dia menelan. “Aku peringkat dua karena aku kalah lebih banyak dari yang dia kalah.”
“Empat puluh tujuh, empat puluh tujuh.”
“Itu pra-akademi. Peringkat akademi dihitung dari sini.” Dia mengibaskan tangan. “Dan di sini aku kalah lima dari delapan penilaian. Angkanya benar. Peringkatnya benar. Aku tidak sedang dizalimi, kalau itu yang kau cari.”
“Aku tidak sedang mencari itu.”
“Lalu apa.”
Aku memikirkan cara menanyakannya.
“Kau bilang di tangga kantin,” kataku, “‘kalau aku menang, aku peringkat satu. Dan kalau aku peringkat satu—‘ lalu kau berhenti.”
Moona tidak bergerak.
“Aku sudah memikirkannya enam minggu,” kataku.
“Enam minggu.”
“Iya.”
“Kau punya hal lain yang bisa dipikirkan.”
“Aku punya banyak hal lain yang bisa dipikirkan,” kataku. “Aku tetap memikirkan yang itu.”
Angin naik dari halaman. Di kejauhan, lampu Arena Ketiga masih menyala.
“Kau mau tahu kelanjutannya,” kata Moona.
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku hampir menjawab dengan sesuatu yang cerdas, sesuatu yang menghindar, sesuatu yang aman.
“Karena tidak ada yang bertanya padamu,” kataku.
Moona Selene menoleh.
Ini bagian yang sulit kuceritakan, karena tidak ada yang terjadi.
Dia tidak menangis. Dia tidak marah. Dia tidak mengatakan sesuatu yang penting.
Dia cuma menoleh, dan menatapku, dan wajahnya — untuk sekitar dua detik — kehilangan seluruh lapisan yang biasanya ada di sana. Sarkasme, kedataran, timing. Semuanya lepas sekaligus, seperti mantel yang jatuh dari sandaran kursi.
Dan yang ada di bawahnya adalah seseorang yang sangat, sangat lelah.
“Kalau aku peringkat satu,” katanya.
Suaranya berbeda.
“Kalau aku peringkat satu, dia peringkat dua,” katanya. “Dan Freya Solaris peringkat dua artinya Rumah Solaris gagal untuk pertama kalinya dalam tiga generasi. Artinya ayahnya, yang menyuruhnya empat ratus dua puluh waktu dia sebelas tahun, punya angka baru untuk diketuk di meja makan.”
Dia menarik napas.
“Dan artinya,” katanya, “aku yang melakukannya padanya.”
Atap itu sangat sepi.
“Sembilan puluh empat kali,” kataku.
“Sembilan puluh empat kali.”
“Kau selalu bisa.”
“Aku selalu bisa,” katanya. “Itu bukan kebaikan. Aku ingin kau paham itu, karena kalau kau salah paham soal ini aku akan sangat kesal.”
“Aku dengar.”
“Ini bukan aku mengalah karena aku baik.” Dia menoleh kembali ke halaman. “Ini aku tidak mau jadi orang yang melakukannya. Ada bedanya. Yang pertama itu murah hati. Yang kedua itu—“
Dia berhenti.
Dan aku melihatnya — momen persisnya, tepat di sana, bahu yang naik setengah senti dan dagu yang bergeser dan seluruh mesin sarkasme yang menyala kembali seperti lampu yang dinyalakan ulang.
“—yang kedua itu manajemen reputasi,” katanya. “Aku sangat peduli citra. Sudah, itu saja. Bukan hal dalam.”
“Moona.”
“Roti masih ada dua.”
“Moona.”
“Kalau kau tidak mau, aku ambil. Aku serius soal lapar tadi. Itu bagian yang benar.”
Dia mengambil satu potong dan menggigitnya, dan mengunyah dengan sangat teliti, dan menatap lurus ke depan.
Aku tidak memaksa.
Aku ingin. Aku bisa merasakan kalimatnya di kepalaku — kau melakukannya lagi, kau selalu melakukannya, kau selalu berhenti tepat sebelum akhir — dan aku bisa merasakan bahwa mengucapkannya akan terasa seperti kemenangan.
Aku tidak mengatakannya.
Aku duduk di atap dan makan roti keras dan membiarkan dia menang.
Lonceng menara berbunyi. Satu kali.
“Aku harus turun,” katanya.
“Oke.”
Dia berdiri dari tepi atap dengan gerakan yang sama sekali tidak hati-hati, yang membuat sesuatu di dadaku melompat, dan yang jelas dia sadari karena dia berhenti dan menoleh.
“Kau menghitung lagi.”
“Aku tidak—“
“Kau menghitung berapa jauh aku dari tepi.” Dia mengangkat alis. “Dua langkah.”
“Satu setengah.”
“Satu setengah,” ulangnya, dan sudut mulutnya naik seperlima, dan dia mundur setengah langkah lagi tanpa mengatakan apa-apa.
Dia berjalan ke pintu tangga servis.
Aku berdiri.
“Moona.”
Dia berhenti dengan tangan di gagang pintu.
Dan aku melakukan hal yang paling tidak masuk akal, yang sudah kupikirkan selama sekitar sepuluh menit terakhir, dan yang tetap terasa bodoh bahkan sambil melakukannya.
Aku mengeluarkan kaleng itu dari saku mantelku.
Kaleng susu jelai. Kosong. Enam minggu.
“Kau meninggalkan ini,” kataku.
Moona Selene berbalik dan menatap kaleng di tanganku.
Ekspresinya tidak berubah sama sekali.
Itu yang membuatku panik. Kalau dia tertawa, aku bisa tertawa. Kalau dia bilang aku aneh, aku bisa setuju.
Dia berdiri di ambang pintu tangga servis selama enam detik penuh — aku menghitungnya, karena tentu saja — dan tidak bergerak dan tidak bicara.
Lalu dia berjalan kembali.
Dia mengambil kaleng itu dari tanganku.
Dia menatapnya. Memutarnya sekali. Menemukan sesuatu di sisi bawahnya, mungkin cap distributor, mungkin bukan apa-apa.
“Enam minggu,” katanya.
“Iya.”
“Kau menyimpannya enam minggu.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku memberikan jawaban yang jujur, karena aku sudah terlalu lelah untuk menyusun yang lain.
“Aku tidak tahu,” kataku.
Moona Selene menatap kaleng kosong itu di tangannya.
Lalu dia memasukkannya ke saku mantelnya sendiri, dan mengancingkan sakunya, yang mana adalah gerakan yang sepenuhnya tidak perlu untuk kaleng kosong.
“Oke,” katanya.
“Oke?”
“Oke.” Dia berbalik ke pintu. “Aku tidak akan bertanya lagi kalau kau tidak akan menjawab lagi.”
Dia membuka pintu.
Dan lalu, dari dalam tangga, tanpa menoleh, dengan suara yang sangat datar:
“Ravel.”
“Iya.”
“Aku juga tidak tahu kenapa aku naik ke atap setiap malam Selasa,” katanya.
Pintu tertutup.
Aku duduk di atap sendirian sampai jam dua.
Malam Selasa.
Aku menghitung mundur. Malam ini Selasa. Malam pertama aku naik ke atap adalah malam ini.
Yang artinya dia sudah naik ke sini setiap Selasa selama entah berapa minggu, dan tidak sekali pun aku ada di sana, dan dia tidak punya alasan untuk memberitahuku hari apa dia naik kecuali —
Aku berhenti berpikir sebelum menyelesaikan kalimat itu, karena menyelesaikannya akan berarti sesuatu, dan aku belum siap dengan sesuatu.
Aku menyalakan penglihatanku.
Halaman di bawah gelap. Arena Ketiga masih emas dan masih berdenyut, empat ratus delapan puluh kali, tanpa suara.
Kolom di atas Well of Descent naik lurus ke langit.
Dan aku menghitung serat.
Dua belas.
Naik dua dari kemarin.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap reading
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku