Chapter Twenty Seven
Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
POV: Freya Solaris
Aku ingin mencatat dulu bahwa perintah penutupan Sol Invictus ditangguhkan pada hari ketiga.
Bukan dibatalkan. Ditangguhkan, menunggu peninjauan, dengan alasan yang tertulis dalam dokumen resmi sebagai: ”perubahan signifikan pada kondisi Well of Descent.”
Yang dimaksud “perubahan signifikan” adalah bahwa sejak pukul tujuh kurang sepuluh pagi pada hari kedelapan evakuasi, tidak ada satu pun anomali tercatat.
Nol.
Nessa Quill menghitungnya setiap dua belas jam selama tiga minggu dan mendapat nol setiap kali, dan pada minggu keempat Dewan Keluarga memanggilnya untuk memberikan kesaksian, dan seorang murid Kelas F [ Tier VIII ] berdiri di depan enam kepala keluarga besar dan menyebutkan angka nol delapan puluh empat kali berturut-turut, satu untuk setiap pengukuran.
Aku hadir di sesi itu. Aku duduk di baris kedua.
Aku mencatat bahwa dia tidak sekali pun menyebut nama siapa pun.
Empat ribu seratus orang tetap di Sol Invictus.
Kelas F tetap ada, meskipun sekarang berisi lima orang, karena satu nama dihapus dari daftar dan tidak diganti.
Aku tetap peringkat satu.
Aku ingin menjelaskan urutannya dengan benar, karena orang belakangan mengatakan hal-hal yang tidak akurat, dan karena ketidakakuratan itu menggangguku dengan cara yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun.
Urutannya begini.
Hari pertama. Aku menghadiri seluruh sesi kelas. Aku tidak melewatkan satu pun. Aku menyelesaikan tugas analisis medan yang dijadwalkan dan menyerahkannya tepat waktu.
Hari kedua. Sama.
Hari ketiga. Sama, ditambah sesi lapangan gabungan yang dijadwalkan ulang setelah penangguhan penutupan. Aku memimpin regu tiga. Regu tiga menyelesaikan simulasi penahanan dalam dua menit lima puluh detik, yang merupakan waktu terbaik angkatan.
Hari keempat. Sama.
Hari kelima. Sama.
Hari keenam. Sama.
Tidak ada satu pun orang di Sol Invictus yang menyadari bahwa selama enam hari itu aku tidak tidur.
Aku ingin sangat jelas bahwa ini bukan keluhan. Aku tidak berharap ada yang menyadari. Aku sudah menghitung probabilitasnya dan probabilitasnya rendah, karena aku tetap hadir, tetap tepat waktu, tetap menyelesaikan segalanya dengan standar yang sama, dan tidak ada satu pun indikator terukur yang berubah.
Kalau tidak ada indikator terukur yang berubah, tidak ada yang bisa disalahkan karena tidak mengukur.
Aku menghitung sesuatu di hari kedua.
Aku tidak memutuskan untuk menghitungnya. Aku sedang berjalan melintasi Koridor Tengah pada pukul sepuluh lewat sepuluh, di tengah arus empat ratus orang, dan aku menyadari bahwa aku sedang menghitung langkah.
Dua puluh delapan meter. Seratus tiga langkah.
Aku berhenti di tengah koridor.
Aku berdiri di sana selama waktu yang tidak kuhitung, dan beberapa orang menabrak bahuku dan meminta maaf dengan panik, dan aku tidak menjawab satu pun.
Aku tidak pernah menghitung langkah sebelumnya.
Aku menghitung repetisi, dan aku menghitung waktu, dan aku menghitung utang. Aku tidak menghitung langkah, karena langkah tidak berguna, karena langkah tidak menghasilkan apa pun yang bisa ditukar.
Aku memulai lagi dari awal koridor untuk memastikan angkanya benar.
Seratus tiga.
Aku akan mencatat hal-hal yang kulakukan selama enam hari itu di luar jam kelas, karena kalau aku tidak mencatatnya sekarang aku akan menyusun ulang urutannya nanti dan aku sudah cukup lelah menyusun ulang hal-hal.
Satu. Aku menghubungi Kantor Administrasi dan menanyakan prosedur pemakaman untuk murid tanpa keluarga terdaftar.
Prosedurnya: akademi menanggung biaya, pemakaman diadakan di sisi utara, tidak ada upacara kecuali diminta oleh pihak yang berkepentingan.
Aku bertanya siapa yang dihitung sebagai pihak yang berkepentingan.
Petugas itu bertanya apakah aku keluarga.
Aku bilang tidak.
Dia bertanya apakah aku wali.
Aku bilang tidak.
Dia bertanya apa hubunganku.
Dan aku berdiri di depan meja Kantor Administrasi Sol Invictus selama sekitar sembilan detik, dan aku tidak menemukan satu pun kata yang tersedia dalam bahasa apa pun yang aku tahu, dan akhirnya aku bilang:
“Aku peringkat satu angkatan.”
Petugas itu menuliskannya.
Aku diberi formulir.
Dua. Aku membayar utangnya.
Aku ingin menjelaskan ini karena aku tahu bagaimana kedengarannya.
Murid jalur beasiswa di Sol Invictus menerima potongan penuh untuk biaya pendidikan dan asrama, tapi tidak untuk hal-hal yang disebut “biaya operasional murid” — perlengkapan latihan, seragam pengganti, denda, dan biaya medis di atas jatah tahunan.
Biaya medis di atas jatah tahunan.
Dia dirawat empat kali dalam sebelas bulan. Tiga rusuk. Empat rusuk dan tulang pipi. Muntah darah tanpa sumber. Dan tiga puluh sembilan jam terakhir yang tidak punya diagnosis sama sekali.
Totalnya empat ratus dua belas perak.
Aku membayarnya pada hari ketiga.
Petugas kasir bertanya apakah aku ingin nama pembayarnya dicatat.
Aku bilang tidak.
Dia bertanya apakah aku ingin kuitansinya.
Aku bilang iya.
Aku masih menyimpannya.
Tiga. Aku mencari keluarganya.
Ini yang memakan waktu paling banyak dan yang paling tidak berhasil.
Berkas pendaftarannya menyebutkan rumah singgah di distrik pelabuhan. Aku mengirim tiga surat. Balasan pertama datang pada hari kelima dan isinya adalah bahwa rumah singgah tersebut ditutup enam tahun lalu.
Aku mengirim surat ke Kantor Registrasi Distrik Pelabuhan.
Balasannya datang pada hari kesembilan.
Tidak ada catatan kelahiran atas nama Ravel di distrik itu untuk tahun manapun dalam rentang yang kuminta.
Tidak ada nama keluarga.
Tidak ada apa-apa.
Aku duduk di kamarku dengan surat itu di tangan dan aku menyadari sesuatu yang seharusnya sudah kusadari sejak awal, yaitu bahwa dia benar-benar tidak punya siapa pun, dan bahwa itu bukan hiperbola, dan bahwa selama sebelas bulan aku memperlakukan fakta itu sebagai detail latar belakang alih-alih sebagai hal yang sedang terjadi pada seseorang setiap hari.
Aku menyimpan surat itu juga.
Aku ingin mencatat bahwa aku mencoba membayar.
Aku menghabiskan sembilan hari mencoba membayar, dan aku menemukan empat ratus dua belas perak, dan satu formulir, dan dua surat balasan, dan tidak ada apa pun lagi.
Tidak ada nominal.
Aku sudah hidup tujuh belas tahun di rumah tempat setiap hal punya nominal. Ayahku mengetuk meja saat makan malam ketika angkaku turun. Aku dilatih sejak umur empat. Aku menyelesaikan empat ratus tiga belas repetisi setiap malam sejak umur sebelas dan empat ratus delapan puluh sejak bulan kelima tahun ini, dan aku tahu persis mengapa angkanya naik, dan aku sudah memberitahunya dan dia bertanya kenapa dan aku bilang itu koreksi.
Aku tahu cara membayar. Itu satu-satunya hal yang aku benar-benar tahu cara melakukannya.
Dan tidak ada tempat untuk menaruhnya.
Pada hari keenam, Moona Selene mendatangiku.
Ini bukan hal yang aneh. Kami sudah saling mendatangi selama sebelas tahun.
Yang aneh adalah bahwa dia berdiri di ambang pintu kamarku selama sekitar delapan detik sebelum bicara, dan bahwa hal pertama yang dia katakan bukan hal yang kuduga.
“Freya.”
“Hm.”
“Kau sudah tidur?”
“Sudah.”
“Berapa?”
“Cukup.”
Dan Moona Selene menatapku dari ambang pintu, dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya yang tidak bisa kubaca, dan lalu dia berkata:
“Itu bukan angka.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Apa?”
“Tidak,” katanya. “Bukan apa-apa.”
Dan dia pergi.
Aku duduk di kamarku selama sekitar dua puluh menit mencoba mengingat kenapa kalimat itu terasa salah, dan lalu aku ingat, dan aku tidak bisa berhenti mengingatnya selama tiga hari.
Pada hari kesembilan, ayahku mengirim surat.
Isinya empat paragraf. Yang pertama menanyakan peringkatku. Yang kedua menanyakan kondisi akademi. Yang ketiga membahas posisi Rumah Solaris dalam peninjauan Dewan.
Yang keempat berbunyi:
Aku diberi tahu bahwa kau membayar tagihan medis seorang murid beasiswa sebesar empat ratus dua belas perak. Aku tidak keberatan dengan nominalnya. Aku keberatan dengan pencatatannya.
Pastikan tidak ada nama Solaris di dokumen manapun yang berkaitan dengan kejadian di halaman tengah.
Aku membacanya empat kali.
Lalu aku menulis balasan, dan aku menulisnya selama tiga jam, dan balasan itu berisi sembilan paragraf, dan aku membakarnya.
Balasan yang kukirim berbunyi:
Peringkat satu. Kondisi akademi stabil. Tidak ada nama Solaris di dokumen manapun.
Aku ingin mencatat bahwa itu bukan kepatuhan.
Itu perhitungan. Kalau aku menulis sembilan paragraf, dia akan membalas dengan sembilan paragraf, dan aku akan harus membaca sembilan paragraf, dan aku tidak punya kapasitas untuk itu selama minggu itu.
Aku memilih yang lebih murah.
Aku terus memberitahu diriku itu selama sekitar sebelas hari.
Pemakaman diadakan pada hari kedua belas.
Sisi utara. Tidak ada upacara, karena aku tidak memintanya, karena formulirnya menanyakan apakah pihak berkepentingan ingin mengadakan upacara dan aku menandai tidak.
Aku menandai tidak karena upacara membutuhkan pembacaan nama oleh pihak keluarga, dan tidak ada pihak keluarga, dan aku sudah menghitung siapa yang akan berdiri di sana dan angkanya membuatku tidak sanggup.
Yang hadir: dua puluh tiga orang.
Lima Kelas F. Vharen Duskmantle. Kardinal Aureus Vant. Nessa Quill membawa buku. Pip Harrowmere tidak membawa apa pun dan berdiri terlalu dekat dengan lubangnya dan tidak ada yang menariknya mundur.
Cassian Solaris hadir. Aku tidak menduga itu. Dia berdiri di barisan belakang dan tidak bicara pada siapa pun dan pergi sebelum selesai.
Moona Selene hadir dan berdiri di sisi kiri dan tidak menangis.
Aku juga tidak menangis.
Aku ingin mencatat itu karena orang belakangan mengatakan bahwa aku menangis, dan aku tidak, dan ketidakakuratan itu menggangguku.
Nisannya batu abu-abu standar akademi.
RAVEL
Di bawahnya, tanggal masuk dan tanggal keluar.
Tidak ada nama keluarga, karena tidak ada.
Tidak ada tanggal lahir, karena tidak ada catatannya di distrik manapun.
Aku berdiri di depan batu itu setelah semua orang pergi, dan aku membaca lima huruf itu, dan aku menyadari bahwa batu itu berisi lebih sedikit informasi daripada formulir pendaftaran apa pun yang pernah kutandatangani seumur hidupku.
Aku menghitung hurufnya.
Lima.
Aku menghitungnya lagi.
Lima.
Aku merusak Arena Ketiga pada malam hari kedua belas.
Aku tidak akan menuliskan detailnya.
Yang bisa kutuliskan: aku masuk pada pukul sepuluh, seperti setiap malam selama empat bulan, dan papan tulis masih di sana.
Fase empat masih tertulis di atasnya. Tanggalnya masih tanggal yang kutulis sebelas minggu lalu. Program dua belas minggu, dan kami sampai minggu kesembilan.
Aku berdiri di depan papan itu selama sekitar empat menit.
Lalu aku memanggil [ Meridian ].
Kerusakan yang tercatat dalam laporan pemeliharaan: enam lentera ward, dinding utara sepanjang sebelas meter, rak perkakas, empat puluh dua tombak latihan, papan tulis instruktur, dan sekitar setengah lantai arena yang berubah jadi kaca.
Waktu yang tercatat: satu jam empat puluh menit.
Aku tidak berhenti karena kelelahan. Aku Full Sync dua kali dalam sebelas hari dan tubuhku sudah tidak layak dan aku tidak peduli.
Aku berhenti karena aku menghitung.
Aku menghitung kerusakannya — nominalnya, dalam perak, karena itu satu-satunya hal yang aku benar-benar tahu cara melakukannya — dan aku sampai di angka sekitar tiga ribu delapan ratus perak, dan aku menyadari bahwa aku sedang menghitung.
Bahkan di sana.
Bahkan sambil menghancurkan sesuatu.
Aku menghitung.
Dan aku berdiri di tengah Arena Ketiga yang setengah jadi kaca, jam sebelas lewat empat puluh, dengan [ Meridian ] masih menyala di tangan kananku, dan aku berkata keras-keras ke ruangan kosong:
“Delapan.”
Tidak ada yang menjawab.
“Sembilan,” kataku. “Sepuluh.”
Aku menghitung sampai enam puluh.
Aku menghitungnya keras-keras, sendirian, di arena yang sudah tidak ada bentuknya, seperti yang kulakukan di halaman selatan tiga bulan lalu ketika seseorang duduk di antara sembilan kontraktor yang tidak bisa berjalan dan mencoba menghitung ubin dan gagal di angka empat.
Aku sampai enam puluh.
Tanganku tidak berhenti.
Aku menghitung sampai enam puluh lagi.
Tanganku tidak berhenti.
Aku menghitung sampai enam puluh untuk yang ketiga kalinya dan tanganku tidak berhenti dan aku menyadari, di suatu titik antara empat puluh dan lima puluh, bahwa menghitung tidak pernah yang menghentikannya.
Yang menghentikannya adalah ada orang lain yang memegang tanganmu sambil melakukannya.
Aku pulang jam satu pagi.
Aku melewati sayap utara. Aku tidak berencana melewati sayap utara; jalur itu lebih jauh empat menit dari jalur asramaku.
Aku melewatinya karena atap asrama utara terlihat dari sana.
Ada seseorang di tepi atap, empat lantai, tanpa pagar, dengan kedua kaki menggantung di luar.
Malam Selasa.
Aku berdiri di halaman sayap utara jam satu pagi dan melihat ke atas selama sekitar dua menit, dan aku tidak naik.
Aku ingin mencatat kenapa aku tidak naik, karena aku sudah memikirkannya berbulan-bulan dan aku masih belum yakin jawabannya benar.
Aku tidak naik karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada seseorang yang kehilangan hal yang sama denganku.
Dan karena ada bagian dari diriku — bagian yang tidak akan pernah kuakui pada siapa pun kecuali di halaman ini — yang berdiri di halaman itu jam satu pagi dan berpikir:
Dia yang duduk di kursi ruang tabib selama empat puluh jam. Aku cuma dua.
Dan lalu, setelah pikiran itu:
Berapa yang harus kubayar supaya itu tidak benar?
Aku berjalan pulang.
Aku tidak tidur malam itu juga.
Tujuh hari.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit reading
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku