Chapter Five

Yang Tidak Membandingkan

POV: Ravel


Perpustakaan Sol Invictus tutup jam sembilan.

Itu tertulis di papan, dan diumumkan lewat lonceng, dan ditegaskan oleh penjaga bernama Ostrom yang berkeliling tiga kali dengan lentera sambil mengetuk meja dengan tongkat.

Yang tidak tertulis di papan adalah bahwa Ostrom berhenti berkeliling setelah ketukan ketiga, duduk di kursi dekat pintu utara, dan tidur sampai jam empat.

Aku menemukan itu di malam kelima.

Sejak itu aku punya perpustakaan sampai jam empat pagi, asalkan aku tidak menyalakan lampu dan asalkan aku keluar lewat jendela ruang katalog yang engselnya sudah lama menyerah.


Malam itu aku sedang di lantai dua, di deretan arsip yang tidak pernah dipinjam siapa pun.

Bukan transkrip duel lagi. Aku sudah selesai dengan itu — sudah kuperas semua yang bisa diperas, dan yang tersisa cuma pengulangan. Yang kubaca sekarang lebih membosankan dan lebih berguna: laporan insiden akademi.

Setiap kali sesuatu naik dari Well of Descent, ada laporannya. Formatnya kaku, penulisnya jelas tidak dibayar cukup, dan sembilan puluh persen isinya adalah kejadian kecil — kabut yang salah warna, suara di lantai bawah, seorang murid yang bermimpi hal yang sama tiga malam berturut-turut.

Aku membacanya karena satu kalimat di laporan tahun lalu:

Frekuensi anomali Well: 3 per tahun (rata-rata dekade terakhir), 11 tahun ini.

Sebelas. Naik hampir empat kali lipat, dan penulis laporan itu menuliskannya di baris kedua puluh tiga, di antara catatan soal anggaran perbaikan atap.

Aku sedang mencari laporan tahun ini ketika lampu di ujung lorong berubah.

Bukan menyala. Berubah — cahaya bulan yang masuk lewat jendela tinggi bergeser sedikit, seperti ada yang lewat di depannya, kecuali tidak ada yang lewat.

Aku mengangkat kepala.

“Ostrom tidur jam sembilan lewat dua puluh,” kata seseorang, dari arah yang tidak kuduga sama sekali. “Kau baru sadar di malam kelima. Aku sadar di malam kedua.”

Moona Selene duduk di ambang jendela.

Aku tidak tahu berapa lama dia di sana. Jendela itu ada di sisi kiriku, dalam jarak pandang, dan aku sudah tiga jam di lorong ini.

“Kau—“ Aku berhenti. Memulai ulang. “Sejak kapan?”

“Sejak kau membuka arsip kotak empat.” Dia mengayunkan satu kakinya. “Empat puluh menit.”

“Aku tidak—“

“Nggak ada yang dengar.” Bukan sombong. Datar, seperti menyebutkan warna sesuatu. “Kalau kau mau, aku bisa berisik. Tapi kelihatannya kau sedang serius, jadi aku tunggu.”

Aku menutup arsipnya.

Pita di lengan kirinya juga emas. Satu-satunya yang lain di akademi ini. Dari dekat aku bisa melihat jahitannya rapi tapi kainnya sedikit kusut, seperti sesuatu yang sering dilepas-pasang.

“Kau Moona Selene,” kataku.

“Kau Ravel tanpa nama keluarga.”

“Itu bukan—“

“Aku tahu itu keterangan.” Sudut mulutnya naik seperlima. “Aku dengar Pip Harrowmere menceritakan lelucon itu di kantin. Tiga kali. Ke orang berbeda. Dia menyebutnya ‘lelucon Ravel’ seolah kau yang menciptakannya.”

Aku menutup mata sebentar. “Dia begitu.”

“Dia bangga banget.”

“Iya.”

Moona turun dari ambang jendela. Tanpa suara, tentu saja. Dia berjalan ke rak seberang dan menarik satu arsip secara acak, membukanya, melihat halaman pertama, lalu menutupnya lagi.

“Laporan insiden,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena tidak ada yang membacanya.”

Dia berhenti bergerak.

“Itu jawaban yang aneh,” katanya.

“Kau bertanya kenapa. Itu kenapanya.” Aku mengangkat bahu, lalu menyesalinya karena bahuku masih sakit. “Kalau semua orang sudah membaca sesuatu, tidak ada yang tersisa di dalamnya buat aku. Aku tidak punya kelebihan apa pun kecuali mau membaca hal yang membosankan.”

Moona menaruh arsip itu kembali. Persis di tempatnya. Dia bahkan meluruskan punggung buku di sebelahnya.

“Berapa banyak yang sudah kau baca?”

“Dua belas tahun.”

“Dari?”

“Dua puluh delapan tahun yang tersedia.”

Dia menoleh. “Dalam berapa malam?”

“Lima.”

Diam.

“Kau tidak tidur,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Aku tidur.”

“Berapa lama.”

“Cukup.”

“Itu bukan angka.”

“Iya,” kataku. “Aku tahu.”

Dan Moona Selene, yang menurut seluruh akademi adalah peringkat dua yang pendiam dan tidak menarik, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali, dan aku menyadari bahwa aku baru saja gagal dalam sesuatu yang bahkan tidak kutahu sedang diuji.


Dia tidak pergi.

Itu yang paling aneh. Dia mengambil kursi dari meja baca terdekat — mengangkatnya, bukan menyeretnya, supaya tidak berbunyi — dan menaruhnya tiga meter dariku, dan duduk, dan mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya.

Dua kaleng. Logam, kecil, dengan cap distributor kantin di sisinya.

Dia melempar satu padaku. Aku menangkapnya dengan tangan kiri karena tangan kanan masih setengah tidak berguna, dan dia memperhatikan itu, dan tidak berkomentar.

“Susu jelai,” katanya. “Kantin buang yang kadaluarsanya besok. Aku ambil sebelum dibuang.”

“Ini legal?”

“Ini sudah dibuang. Legalitasnya menarik.” Dia membuka kalengnya. “Kalau kau mau moral, jangan minum.”

Aku membuka kalengku.

Rasanya seperti dinding yang dicairkan. Aku meminum setengahnya.

“Kenapa kau di sini?” tanyaku.

“Perpustakaan buka.”

“Perpustakaan tutup jam sembilan.”

“Nah.”

Aku menunggu. Dia meminum susunya dan tidak menambahkan apa-apa, dan setelah cukup lama aku sadar itu memang seluruh jawabannya, dan bahwa dia sengaja.

“Kau tidak akan bilang.”

“Aku sudah bilang. Perpustakaan buka.” Dia memiringkan kepala. “Kau yang mengartikannya sebagai jawaban yang tidak lengkap. Itu masalahmu, bukan masalahku.”

“Itu curang.”

“Itu efisien.”

Aku menyerah dan meminum sisanya.


Kami duduk dalam diam sekitar sepuluh menit.

Bukan diam yang canggung, anehnya. Dia mengeluarkan buku kecil dari saku lain dan membacanya di bawah cahaya bulan, dan aku kembali ke arsip kotak lima, dan satu-satunya suara di lantai dua perpustakaan Sol Invictus adalah kertas.

Lalu dia bicara, tanpa mengangkat kepala dari bukunya.

“Kau menonton duel-ku?”

“Yang mana?”

“Aku cuma punya satu.” Halaman dibalik. “Duel wajib. Sama seperti kau.”

“Aku di ruang tabib waktu itu.”

“Ah.” Halaman dibalik lagi. “Kau tidak rugi.”

“Kenapa?”

“Lawanku Tier III. Aku menang di dua puluh detik.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Nggak ada yang menarik. Nggak ada yang berdiri enam kali. Nggak ada yang mencatat durasinya karena durasinya normal.”

Ada sesuatu di kalimat terakhir itu.

Aku menutup arsipku.

“Semua orang cuma membicarakan duelmu,” katanya. Masih ke bukunya. “Tiga menit empat puluh satu detik. Lima hari, dan aku masih dengar orang menyebutnya di antrean kantin.”

“Itu bukan hal bagus.”

“Aku tahu. Aku tidak sedang iri.” Halaman dibalik, terlalu cepat untuk benar-benar dibaca. “Aku cuma... memperhatikan pola. Yang orang bicarakan itu selalu hal yang tidak terduga. Kalau sesuatu terjadi persis seperti yang seharusnya, tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Dia menutup bukunya.

“Dua Sovereign di satu angkatan,” katanya. “Kau tahu bagian mana yang mereka bicarakan berbulan-bulan nanti?”

“Freya.”

“Freya.” Dia mengangguk. “Karena Matahari itu tidak terduga — Rumah Solaris sudah tiga generasi, tapi tetap tidak ada yang menjamin. Kalau dia gagal, itu berita besar. Kalau dia berhasil, itu juga berita besar.”

Dia memutar kaleng kosongnya di tangan.

“Bulan itu bukan berita,” katanya. “Bulan itu pelengkap. Ada matahari, ya ada bulan. Sudah, selesai. Nggak ada yang perlu dibahas.”

Dan di situ aku seharusnya mengatakan sesuatu tentang Freya.

Aku bisa merasakan bentuk kalimatnya di kepalaku, sudah tersusun, sudah siap: itu tidak benar, kau juga Tier II, kekuatan kalian setara, kau peringkat dua dari dua ratus tiga puluh satu.

Semuanya benar. Semuanya membandingkan.

Dan aku sudah menghabiskan lima hari mendengar orang membicarakan tiga menit empat puluh satu detik seolah itu satu-satunya hal tentangku, dan tidak satu pun dari mereka bertanya apa yang kubaca selama sepuluh hari sebelumnya.

Jadi aku bertanya hal lain.

“Buku apa itu?”

Moona berhenti memutar kalengnya.

“...Apa?”

“Bukumu.” Aku menunjuk dengan dagu. “Kau membalik halaman tiga puluh delapan kali dalam sepuluh menit. Itu terlalu cepat untuk membaca, dan terlalu lambat untuk mencari sesuatu. Jadi kau tidak sedang melakukan keduanya.”

Dia menatapku.

Cahaya bulan masuk dari kiri, dan wajahnya setengah di dalamnya dan setengah tidak, dan aku tidak bisa membaca sisi yang gelap.

“Kau menghitung halamanku,” katanya.

“Aku menghitung semuanya. Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Cepat. Terlalu cepat. Lalu, lebih pelan: “Jangan minta maaf untuk itu.”

Dia mengangkat bukunya. Sampulnya polos, sudah lepas di satu sudut.

“Katalog stasiun kereta wilayah barat,” katanya. “Cetakan sembilan tahun lalu. Sudah nggak akurat.”

Aku menunggu.

“Aku hafal semua jadwalnya,” katanya. “Termasuk yang sudah dihapus. Kalau aku nggak bisa tidur, aku baca ini sampai halaman terakhir, lalu mulai lagi.” Dia menaruhnya di pangkuannya. “Nggak ada alasannya. Ini bukan hobi. Ini cuma... hal yang tangan aku lakukan.”

“Supaya nggak gemetar,” kataku.

Dan Moona Selene menoleh sangat cepat.

“Apa?”

“Kalau tanganku nggak melakukan sesuatu, ia mulai gemetar,” kataku. “Jadi aku menghitung. Orang, langkah, halaman, apa saja. Itu bukan bakat, itu cuma—“

Aku berhenti, karena aku baru sadar aku sedang mengatakan sesuatu yang belum pernah kukatakan pada siapa pun, termasuk pada diriku sendiri dengan kata-kata selengkap ini.

Ruangan itu sangat sepi.

“Oh,” kata Moona.

Cuma itu. Satu suku kata.

Lalu dia diam.


Diamnya berlangsung lama.

Aku kembali ke arsip karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, dan aku membaca tiga halaman tanpa memahami satu pun kata di dalamnya, dan setiap kali aku melirik ke kanan dia masih duduk di sana dengan katalog kereta di pangkuan dan kaleng kosong di tangan dan tidak membuka keduanya.

Lonceng menara berbunyi. Jam satu.

“Aku harus pergi,” katanya.

“Oke.”

Dia berdiri. Mengangkat kursinya kembali ke meja baca — mengangkat, bukan menyeret. Meluruskannya. Bahkan meluruskan kaleng kosongnya di atas meja, sejajar dengan sisi meja, sesuatu yang sama sekali tidak perlu.

Dia sudah di ujung lorong ketika dia berhenti.

“Ravel.”

“Iya.”

Dia tidak menoleh.

“Kau tadi tidak menyebut Freya,” katanya.

Aku tidak tahu apa jawaban yang benar untuk itu, jadi aku tidak menjawab.

“Semua orang menyebut Freya,” katanya. “Bukan karena jahat. Mereka pikir itu menghibur. ‘Kau juga Tier II.’ ‘Kalian setara.’ ‘Jangan bandingkan dirimu.’” Dia memiringkan kepala sedikit. “Kau tahu masalahnya kalimat ‘jangan bandingkan dirimu’?”

“Apa?”

“Kalimat itu sendiri sudah membandingkan.”

Cahaya bulan bergeser di lorong. Bayangannya jatuh ke arah yang salah — bukan menjauhi jendela, tapi mendekatinya, dan aku baru sadar bahwa itu terjadi sejak dia masuk, dan bahwa aku sudah berhenti memperhatikannya karena otakku memutuskan itu normal.

Tidak ada yang normal tentang Tier II.

“Aku akan ke sini lagi,” katanya.

“Kapan?”

“Nggak tahu.” Sudut mulutnya naik seperlima, dan aku bisa mendengarnya di suaranya meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya. “Kalau perpustakaan buka.”

Dia pergi.

Aku duduk di lorong arsip lantai dua sampai jam tiga, dan aku tidak membaca satu halaman pun lagi, dan ketika akhirnya aku keluar lewat jendela ruang katalog aku menyadari dua hal.

Yang pertama: dia meninggalkan kalengnya di meja baca, sejajar dengan sisi meja, dan aku memungutnya dan tidak tahu kenapa.

Yang kedua, dan ini yang mengganggu:

Selama empat puluh menit dia duduk di ambang jendela mengawasiku, aku tidak sekali pun merasa diawasi.

Bukan karena dia pandai bersembunyi.

Karena ada bagian dari diriku, bagian yang sudah lama tidak kuperiksa, yang sudah lama sekali berhenti berharap ada yang memperhatikan — dan bagian itu tidak lagi tahu bagaimana rasanya.