Chapter Fifteen
Yang Menipis
POV: Ravel
Freya Solaris kembali ke akademi setelah sembilan belas hari.
Aku tahu angkanya karena Nessa menuliskannya di papan gudang tanpa diminta, di bawah jadwal, dalam huruf kecil:
HARI KE-19.
Dia menghapusnya siang itu juga, setelah aku menatapnya cukup lama.
“Aku mencatat,” katanya. “Aku tidak bilang untuk siapa.”
Aku tidak menemuinya di hari pertama.
Aku punya alasan bagus untuk itu. Aku punya empat, sebenarnya, dan aku menyusunnya dengan rapi:
Satu, dia baru kembali dan pasti punya urusan keluarga. Dua, Arena Ketiga masih tercatat atas nama dua orang tapi tidak ada konfirmasi bahwa jadwalnya masih berlaku. Tiga, sembilan belas hari cukup lama untuk mengubah banyak hal. Empat —
Empat adalah alasan sebenarnya, dan bunyinya begini: aku sudah menghapus manifestasi ilahi seratus empat kali dalam sembilan belas hari, dan aku tidak tahu bagaimana berdiri di depannya sambil menyembunyikan itu.
Jadi aku tidak berdiri di depannya.
Dia yang datang.
Dia menemukanku di halaman belakang gudang, jam empat sore, sendirian.
Aku sedang berlatih. Bukan latihan Freya — latihanku sendiri, yang terdiri dari mengaktifkan [ UNMAKING ] berulang kali pada satu-satunya manifestasi yang tidak melukai siapa pun: ward pengaman pintu gudang, yang dipasang instruktur entah kapan, yang Vharen bilang sudah tidak berfungsi bertahun-tahun.
Ward itu berfungsi. Aku menghapusnya. Ia kembali setelah sekitar dua jam.
Aku sudah melakukannya tiga puluh satu kali.
“Apa yang kau lakukan.”
Aku berputar terlalu cepat dan bahuku memprotes.
Freya berdiri di ujung halaman.
Sembilan belas hari. Aku mencari perubahan dan menemukannya semua sekaligus: dia lebih kurus, dan kulit di bawah matanya tidak ditutupi apa pun, dan pita emas di lengannya diikat lebih rendah dari biasanya seperti sesuatu yang dipakai ulang tanpa diperiksa.
“Freya.”
“Apa yang kau lakukan,” ulangnya.
Aku melihat ke pintu gudang. Ward-nya tidak ada.
“Berlatih.”
“Berlatih apa?”
Dan aku berdiri di halaman belakang gudang dan menghitung, dengan sangat cepat, semua cara aku bisa menghindari pertanyaan itu.
Lalu aku menyerah, karena aku lelah, karena sembilan belas hari, dan karena Freya Solaris punya cara berdiri yang membuat berbohong terasa lebih melelahkan daripada tidak.
“Aku bisa menghapus manifestasi ilahi,” kataku. “Sekali per napas. Aku sudah melakukannya seratus empat kali sejak kau pergi.”
Halaman itu sangat sunyi.
Freya berjalan mendekat. Enam langkah, lalu berhenti.
“Tunjukkan,” katanya.
Aku menunggu sampai ward pintu gudang kembali. Dua jam.
Kami duduk di halaman belakang selama dua jam itu.
Ini bukan hal yang kubayangkan akan terjadi. Aku sudah menyiapkan versi lain dari pertemuan ini — versi yang lebih pendek, lebih canggung, dengan salah satu dari kami pergi lebih dulu.
Yang terjadi: kami duduk di tanah dengan punggung ke dinding gudang, dan matahari turun, dan dia bercerita.
Tidak banyak. Freya tidak bercerita banyak.
“Rapat Kantor Insiden,” katanya. “Ayahku salah satu penandatangan eksternal.”
“Aku tidak tahu.”
“Tidak ada yang tahu. Itu bukan jabatan publik.” Dia menarik lututnya ke dada, yang mana adalah postur yang belum pernah kulihat darinya. “Enam keluarga besar diberi tahu angka sebenarnya sembilan belas hari lalu.”
“Sembilan belas.”
“Dua puluh tiga sekarang.” Dia mengatakannya tanpa nada. “Empat lagi selama aku di rumah.”
Aku menatap tanah.
“Apa yang mereka putuskan?”
“Mereka belum memutuskan. Itu masalahnya.” Dia mengangkat bahu satu kali. “Gereja mau menutup akademi. Enam keluarga tidak mau, karena enam keluarga punya anak di sini dan karena penutupan artinya mengakui bahwa Well of Descent tidak bisa dikendalikan, dan mengakui itu artinya seluruh sistem kontrak dipertanyakan.”
“Jadi mereka menunggu.”
“Mereka menunggu.”
“Menunggu apa?”
Freya menoleh padaku.
“Menunggu sesuatu yang cukup besar sampai keputusannya dibuat untuk mereka,” katanya.
Ward-nya kembali jam enam lewat.
Aku berdiri, dan Freya berdiri, dan aku menaruh tangan di pintu gudang.
[ UNMAKING — Executed ]
[ Target: Divine Manifestation, Tier VII ]
[ Result: Erased ]
[ Seal Integrity: 97.1% ]
Ward itu hilang.
Freya Solaris tidak bergerak selama waktu yang cukup lama.
Lalu dia mengangkat tangannya, dan [ Meridian ] terbentuk.
Aku mundur satu langkah tanpa memutuskan untuk mundur.
Tombak itu tidak menyala penuh — cuma sepertiga, cukup untuk memberi bentuk — tapi suhu di halaman belakang naik dan aku bisa merasakannya di kulit.
“Sekali lagi,” katanya.
“Freya—“
“Sekali lagi. Pada ini.”
“Aku tidak akan—“
“Kenapa tidak?”
Aku menatapnya.
“Karena aku tidak tahu apa yang terjadi pada kontraktornya,” kataku.
Dan wajahnya berubah.
“Kau sudah melakukannya pada orang.”
“Iya.”
“Siapa?”
“Ilsa Rowe. Dua puluh enam kali dalam satu hari. Nessa Quill, sekali.” Aku mendengar suaraku dan tidak menyukainya. “Manifestasi Nessa kembali setelah empat jam. Arus Ilsa lebih tipis selama tiga hari.”
“Mereka tahu risikonya?”
“Aku tidak tahu risikonya.”
“Ravel.”
“Aku tidak tahu risikonya,” kataku lagi. “Aku tidak bisa memberitahu mereka sesuatu yang tidak kutahu. Aku memberitahu mereka apa yang terjadi setelah terjadi.”
Freya membiarkan [ Meridian ] padam.
“Itu bukan hal yang sama,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kau tahu.”
“Aku tahu,” kataku, “dan aku tetap melakukannya, dan aku akan melakukannya lagi, dan aku ingin kau tahu itu sekarang alih-alih tahu nanti.”
Halaman belakang gudang itu sangat sunyi.
Dan Freya Solaris — yang menghabiskan sembilan belas hari di rumah tempat tidak ada yang diberikan tanpa alasan dan tidak ada yang diterima tanpa dibayar — melihatku dan berkata:
“Bagus.”
Aku berkedip. “Apa?”
“Bagus,” katanya. “Kau memberitahuku sekarang. Itu efisien.”
“Freya, aku baru saja bilang aku akan—“
“Aku dengar apa yang kau bilang.” Dia mengambil kendi air dari rak dan meminumnya, dan aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar dan dia jelas tahu aku melihatnya. “Aku juga akan melakukannya lagi. Semua orang di akademi ini akan melakukannya lagi. Itu yang dilatih pada kita selama tiga tahun.”
Dia menaruh kendinya.
“Pertanyaannya bukan apakah kau akan berhenti,” katanya. “Pertanyaannya siapa yang menghitung untukmu waktu kau tidak bisa.”
Kardinal Vant memanggilku empat hari kemudian.
Bukan ke ruangan tanpa nama di lantai tiga. Ke kapel.
Kapel Sol Invictus adalah bangunan terkecil di kompleks — satu ruang, langit-langit tinggi, jendela di sisi timur yang mengarah persis ke matahari terbit. Tidak ada patung. Gereja Matahari tidak memakai patung.
Vant duduk di bangku depan, tidak berdoa, dengan setumpuk kertas di pangkuannya.
“Duduk.”
Aku duduk di bangku seberang.
“Seratus tiga puluh dua,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Kau sudah menghapus manifestasi ilahi seratus tiga puluh dua kali dalam dua puluh tiga hari.” Dia membalik satu halaman. “Delapan puluh sembilan di antaranya pada ward pengaman pintu gudang Kelas F, yang dipasang oleh instruktur Duskmantle sebelas tahun lalu dan yang menurut catatan akademi sudah tidak berfungsi.”
“Bagaimana Bapak—“
“Ward itu punya penghitung,” kata Vant. “Semua ward akademi punya penghitung. Itu bagian dari sistem pemeliharaan yang dipasang seratus tahun lalu dan yang tidak ada yang periksa karena tidak ada yang pernah merusak ward yang sama delapan puluh sembilan kali.”
Dia menaruh kertasnya.
“Ravel,” katanya. “Aku akan meminta pengeluaranmu dari Sol Invictus.”
Aku sudah menduganya. Aku tetap merasakan sesuatu turun di dadaku.
“Aku ingin kau mendengarkan alasannya,” katanya, “karena kau berhak, dan karena aku sudah lelah orang mengira aku tidak punya.”
Dia mengangkat satu jari.
“Satu. Kau menyelamatkan empat nyawa di halaman tengah, dan aku sudah mengatakan itu padamu, dan aku akan mengatakannya di depan Dewan.”
Dua jari.
“Dua. Kemampuanmu tidak terdaftar, tidak terklasifikasi, dan tidak punya preseden. Tidak ada satu pun dari dua puluh delapan tahun arsip yang kau baca — iya, aku tahu berapa banyak yang kau baca — yang mencatat manusia menghapus manifestasi ilahi.”
Tiga jari.
“Tiga. Bocoran Abyss di Sol Invictus tahun ini: dua puluh tiga. Rata-rata sepuluh tahun terakhir: tiga. Kenaikan dimulai di bulan kelima.”
Dia menurunkan tangannya.
“Bulan kelima,” katanya, “adalah bulan upacara kontrak angkatanmu.”
Kapel itu sangat sunyi.
“Bapak pikir aku penyebabnya.”
“Aku pikir kau berkorelasi,” katanya. “Itu bukan hal yang sama dan aku sangat berhati-hati soal perbedaannya. Tapi aku sudah menghabiskan enam bulan menahan angka untuk melindungi empat ribu orang, dan aku tidak bisa terus menahannya kalau angkanya naik karena satu orang yang bisa kupindahkan.”
“Pindahkan ke mana?”
“Ke mana pun yang bukan di atas Well of Descent.”
Aku menatap lantai kapel.
“Bapak tidak menuduhku bersalah,” kataku.
“Tidak.”
“Bapak cuma mau aku jauh.”
“Iya.”
“Itu—“ Aku mencari kata yang tepat dan tidak menemukan yang tidak terdengar kekanak-kanakan. “Itu masuk akal.”
Kardinal Aureus Vant menghela napas.
“Iya,” katanya. “Itu selalu masuk akal. Itu yang membuat pekerjaan ini buruk.”
Rector Halvard menolaknya keesokan harinya.
Aku tidak ada di ruangan. Aku tahu dari Vharen, yang tahu dari entah siapa, dan yang menceritakannya padaku di ruang instruktur sayap barat dengan botol yang sudah setengah.
“Vant mengajukan mosi formal,” kata Vharen. “Dokumen lengkap. Delapan halaman. Semuanya benar.”
“Dan Halvard menolak.”
“Halvard menolak dalam satu kalimat.”
Aku menunggu.
Vharen minum.
“‘Anak itu tetap di sini,’” katanya. “Itu saja. Tidak ada alasan. Tidak ada argumen tandingan. Tidak ada dokumen. Kepala akademi ini berdiri di depan perwakilan Gereja Matahari dan enam penandatangan eksternal dan berkata anak itu tetap di sini, lalu duduk.”
“Itu tidak boleh.”
“Itu sangat tidak boleh.” Vharen menaruh botolnya. “Rector punya hak veto atas keanggotaan murid. Itu haknya. Tapi memakai hak veto tanpa memberi alasan di hadapan Dewan itu — Ravel, itu bunuh diri karier. Dia baru saja memberi Vant amunisi untuk enam bulan ke depan.”
“Kenapa dia melakukannya?”
Vharen menatapku.
“Kau bertanya padaku,” katanya, “atau kau bertanya karena kau sudah tahu dan mau dengar orang lain mengatakannya?”
Aku tidak menjawab.
“Nah,” kata Vharen.
Aku menemui Rector Halvard tiga hari kemudian.
Aku menunggu di luar kantornya sampai jam sembilan malam, sampai sekretarisnya pulang, sampai koridor kosong.
Dia membuka pintu sebelum aku mengetuk.
“Masuk,” katanya.
Kantornya lebih kecil dari yang kubayangkan. Rak buku sampai langit-langit. Satu meja. Satu jendela yang menghadap halaman tengah, dan dari jendela itu Well of Descent terlihat persis di tengah bingkai.
Aku curiga itu bukan kebetulan.
“Kau mau tahu kenapa,” katanya, sebelum aku duduk.
“Iya.”
“Aku tidak akan memberitahumu.”
Aku berdiri di tengah kantor itu.
“Pak—“
“Duduk dulu.”
Aku duduk.
Rector Halvard tetap berdiri. Dia berjalan ke jendela dan berdiri di sana dengan tangan di belakang punggung, dan aku bisa melihat, dari cara kainnya bergerak, bahwa tangan itu masih gemetar.
“Umurku tujuh puluh satu,” katanya. “Aku Rector Sol Invictus selama dua puluh enam tahun. Sebelum itu aku instruktur di sini selama sembilan belas tahun. Sebelum itu aku murid di sini.”
“Iya, Pak.”
“Berapa umur akademi ini?”
“Tiga ratus dua belas tahun.”
“Berapa Rector sebelum aku?”
Aku memikirkannya. Aku sudah membaca daftarnya. “Sebelas.”
“Dua belas,” katanya. “Ada satu yang dihapus dari daftar.”
Aku mengangkat kepala.
“Namanya tidak penting,” katanya. “Yang penting adalah dia dihapus, dan yang menghapusnya adalah Gereja Matahari, dan alasan yang tercatat adalah ‘penyimpangan doktrinal.’”
Dia menoleh dari jendela.
“Alasan yang sebenarnya,” katanya, “adalah bahwa dia menemukan sesuatu di arsip pendirian akademi, dan menuliskannya, dan mencoba menerbitkannya.”
“Apa yang dia temukan?”
“Aku tidak akan memberitahumu.”
“Pak—“
“Aku tidak akan memberitahumu,” katanya, “karena orang yang mengetahuinya cenderung berhenti jadi orang yang bisa dilindungi.”
Dia berjalan ke mejanya dan duduk, akhirnya, dan dia duduk seperti orang yang sudah berdiri terlalu lama.
“Aku menolak mosi Vant karena aku sudah tahu apa yang ada di dalam dirimu sejak upacara,” katanya. “Bukan detailnya. Tapi cukup.”
“Bagaimana?”
Halvard mengangkat tangan kirinya.
Pita biru tua. [ Divine Tier III ].
“[ God of Thresholds ],” katanya. “Dewa ambang pintu. Sangat berguna untuk seorang Rector; sangat tidak berguna untuk hal lain. Aku bisa merasakan kapan sesuatu berada di antara dua keadaan.”
Dia menurunkan tangannya.
“Di upacara, seratus sembilan puluh empat orang berlutut dan dijawab,” katanya. “Tiga puluh tujuh tidak.”
Aku menunggu.
“Tiga puluh tujuh,” katanya, “adalah angka resmi.”
Kantor itu sangat sunyi.
“Angka sebenarnya tiga puluh enam,” kata Rector Halvard.
Aku merasakan tanganku dingin.
“Kau berlutut selama empat puluh detik,” katanya, “dan selama empat puluh detik itu, kau adalah satu-satunya orang di halaman yang berada di ambang. Aku merasakannya dari mimbar. Aku merasakannya sangat jelas, dan aku menunggu, dan aku sudah siap mengumumkan namamu.”
Dia menatapku.
“Lalu petugas berkata ‘cukup,’” katanya, “dan kau mengangkat tanganmu, dan ambang itu tetap terbuka.”
“Tetap—“
“Ia tidak menutup,” kata Halvard. “Itu tiga bulan lalu. Ia masih tidak menutup.”
Dia mengambil pena dari mejanya dan meletakkannya lagi, gerakan tanpa tujuan.
“Kontrak yang terbentuk itu selesai,” katanya. “Menutup. Ada di satu sisi atau sisi lain. Kau tidak selesai. Kau berdiri di pintu selama tiga bulan dan sesuatu di sisi lain sedang mendorong, dan setiap kali kau memakai apa pun yang kau punya—“
“Pintunya terbuka lebih lebar.”
Rector Halvard tidak menjawab.
Dia tidak perlu.
Aku berjalan pulang lewat halaman tengah.
Pagar masih ada. Empat penjaga masih ada. Lentera di keempat sisi.
Aku berhenti di luar pagar dan tidak menyalakan penglihatanku, karena aku sudah tahu apa yang akan kulihat, dan karena ada hal-hal yang lebih mudah kalau kau tidak memeriksanya.
”Dia orang baik,” kata Aion.
“Iya.”
”Dia akan mati karena itu.”
Aku berdiri sangat diam di halaman tengah.
“Apa?”
Tidak ada jawaban.
“Apa maksudmu.”
Tidak ada jawaban.
Aku bertanya empat kali. Aku bertanya sampai salah satu penjaga menoleh ke arahku dan aku harus berjalan pergi.
Aion tidak bicara lagi selama enam hari.
- 1 Yang Tidak Dijawab
- 2 Tujuh Orang di Gudang
- 3 Cara Kalah yang Benar
- 4 Anomali
- 5 Yang Tidak Membandingkan
- 6 Kau Kelihatan Capek Hari Ini
- 7 Latihan Bersama
- 8 Peringkat Satu dan Dua
- 9 Berapa Lama Kau Berencana Berlutut
- 10 Yang Bisa Kulihat
- 11 Malam di Atap
- 12 Neraca
- 13 Retakan Pertama
- 14 UNMAKING
- 15 Yang Menipis reading
- 16 Duel Resmi
- 17 Tiga Ratus Orang
- 18 Kelas F Punya Pendapat
- 19 Yang Tidak Diucapkan
- 20 Bocoran Kedua
- 21 Kalau Kau yang Minta
- 22 Nama yang Dihapus
- 23 The First Word
- 24 Empat Puluh Jam
- 25 Yang Dibayar Rector
- 26 Aku Belum Sempat Jawab
- 27 Matahari Tidak Bisa Berhenti Terbit
- 28 Buku yang Telat Dikembalikan
- 29 Atap, Jam Dua Pagi
- 30 Delapan Belas Ribu Tahun
- 31 Kau Tidak Boleh Datang Lagi Seenaknya
- 32 Yang Tidak Akan Mati
- 33 Neraca yang Dibakar
- 34 Kelas F, Lengkap
- 35 Jangan Jawab Sekarang
- 36 THE DESCENT
- 37 ECLIPSE
- 38 THE TRINITY
- 39 THE UNNAMED
- 40 Sebutkan Namaku