Chapter Two

Tujuh Orang di Gudang

POV: Ravel


Papan pengumuman ditempel jam enam pagi. Aku sampai jam lima empat puluh.

Bukan karena bersemangat. Karena aku tidak tidur.

Ada sekitar tiga puluh orang lain yang sudah menunggu, dan aku mengenali beberapa dari mereka sebagai bagian dari tiga puluh tujuh lengan kosong. Kami tidak saling menyapa. Ada semacam kesepakatan diam-diam di antara orang yang gagal bersama: kalau kita tidak saling mengakui, mungkin kegagalannya jadi kurang nyata.

Petugas menempel enam lembar kertas. Kelas A sampai E, satu lembar per kelas, dan satu lembar terakhir yang jauh lebih pendek dari yang lain.

Aku membaca dari bawah, karena itu lebih efisien.

KELAS F — Ruang Penyimpanan Utara

Tujuh nama.

Aku membacanya dua kali untuk memastikan aku tidak salah lihat jumlahnya.

Tujuh. Dari tiga puluh tujuh orang berlengan kosong, tiga puluh dikirim ke Kelas D dan E — kelas biasa, untuk kontraktor tier rendah dan pekerja pendukung. Tujuh sisanya dikirim ke tempat yang bahkan tidak diberi nama ruang kelas.

Namaku nomor lima dari atas.

Ravel. Tanpa nama keluarga.

Seseorang di sebelahku menyikut temannya dan berbisik, “Gudang. Beneran ada, dong.”

“Kirain mitos.”

“Bapakku bilang itu buat orang yang datanya kacau.”

Aku pergi sebelum mendengar sisanya.


Ruang Penyimpanan Utara memang gudang.

Bukan gudang yang disulap jadi ruang kelas dan disebut gudang karena bercanda. Ini gudang. Ada rak besi di dinding belakang yang masih berisi tiang bendera upacara tahun lalu. Ada bau kayu lembap dan minyak lampu. Langit-langitnya tinggi dengan satu jendela kecil di atas yang bentuknya lebih cocok untuk ventilasi daripada pencahayaan, dan cahaya yang masuk lewat sana jatuh miring ke lantai seperti pisau.

Ada tujuh meja. Tidak seragam. Empat kayu terang, dua kayu gelap, satu jelas hasil comotan dari kantin karena masih ada bekas lem stiker di sudutnya.

Aku datang jam tujuh kurang sepuluh. Sudah ada dua orang.

Yang pertama duduk di meja paling depan dengan postur yang mengingatkanku pada burung kecil yang sedang menunggu diberi makan — anak laki-laki, lebih pendek dariku sekitar dua kepala, rambut cokelat berantakan, dan wajah yang jelas belum genap enam belas tahun. Ada pita abu-abu di lengan kirinya.

Abu-abu. Tier IX.

Dia melihatku masuk, dan sebelum aku sempat memutuskan mau duduk di mana, dia sudah berdiri.

“Kau Ravel?”

“...Iya.”

“Ravel tanpa nama keluarga?”

“Itu bukan nama keluargaku.”

Dia mengedipkan mata. “Bukan?”

“Bagian ‘tanpa nama keluarga’ itu bukan nama keluargaku. Itu keterangan.”

Dia terdiam dua detik penuh, lalu tertawa sangat keras untuk ruangan sekecil ini. “Aku tahu, kok. Aku cuma mau lihat kau jawab apa.” Dia mengulurkan tangan. “Pip Harrowmere. Kelas F, tentu saja, karena kita semua di sini. Aku sudah datang jam enam.”

“Kelasnya jam tujuh.”

“Iya. Aku tahu.” Dia mengangguk-angguk seperti itu penjelasan yang cukup, lalu menepuk meja di sebelahnya. “Duduk sini. Aku sudah cek semua mejanya, yang ini paling nggak goyang.”

Aku duduk di sana.

Orang kedua di ruangan itu belum bergerak sama sekali sejak aku masuk. Perempuan, lebih tua dari kami — mungkin delapan belas, mungkin sembilan belas — duduk di meja paling belakang dengan tiga buku catatan terbuka sekaligus dan pena yang bergerak tanpa berhenti. Pita di lengannya juga abu-abu, satu tingkat lebih tua warnanya. Tier VIII.

“Itu Nessa,” kata Pip, tanpa menurunkan suara sedikit pun. “Dia mencatat semuanya.”

“Semuanya?”

“Semuanya,” kata Nessa, tanpa mengangkat kepala. “Kau masuk jam enam lima puluh satu. Kau berhenti di ambang pintu selama dua koma lima detik sebelum melangkah masuk. Kau memilih meja setelah diberi tahu meja mana yang tidak goyang, yang artinya kau menerima informasi dari orang asing tanpa verifikasi, yang mana menarik, karena wajahmu bilang kau tipe yang memverifikasi.”

Aku menatapnya.

“Nessa Quill,” katanya, masih tanpa mengangkat kepala. “[ God of Ledgers — Tier VIII ]. Aku tidak bisa melakukan apa pun kecuali mengetahui dengan pasti berapa banyak sesuatu itu ada. Angka, benda, waktu, utang. Sangat berguna kalau kau akuntan. Sangat tidak berguna kalau kau di akademi militer.”

“Dia jago banget, sebenarnya,” kata Pip.

“Aku tidak jago. Aku akurat. Itu dua hal berbeda dan kau terus mencampurnya.”

Pip menoleh padaku sambil berbisik keras, “Dia jago banget.”

“Aku dengar.”


Yang lain datang berurutan dalam sepuluh menit berikutnya.

Ada Tomas, laki-laki bertubuh besar dengan tangan seperti sekop, [ God of Nets — Tier VII ], yang berbicara total empat kata sepanjang hari itu dan tiga di antaranya adalah namanya sendiri. Ada si kembar Rowe — Ilsa dan Ilse, yang berbagi satu kontrak [ God of Echoes — Tier VII ] di antara mereka berdua, sesuatu yang menurut Nessa terjadi kira-kira sekali setiap dua abad dan sepenuhnya tidak berguna karena artinya masing-masing hanya dapat setengah.

Dan ada satu meja kosong di sudut, dengan nama tertempel di sisinya, yang pemiliknya tidak pernah datang.

“Namanya Corwin,” kata Nessa saat aku melihat ke arah meja itu. “Terdaftar. Tidak hadir. Kemungkinan besar keluarganya menariknya semalam setelah melihat papan pengumuman.”

“Bisa begitu?”

“Bisa, kalau kau punya uang.” Penanya berhenti sebentar. “Kita tidak punya uang. Itu variabel yang menyatukan kita semua di ruangan ini, sebenarnya. Lebih dari tier.”

Aku melihat sekeliling. Enam orang di gudang berisi tiang bendera.

Dan aku, dengan lengan kosong.

“Kau satu-satunya yang tanpa kontrak,” kata Nessa, dan kali ini dia mengangkat kepala. Matanya cokelat gelap dan sangat tenang. “Aku sudah cek daftarnya tiga kali. Enam dari tujuh punya kontrak Tier VII ke bawah. Satu tidak punya apa-apa.”

“Iya.”

“Boleh kutanya bagaimana kau bisa masuk Sol Invictus?”

“Ujian teknis.”

Pena Nessa berhenti sama sekali. “Jalur teknis murni?”

“Iya.”

“Tanpa komponen afinitas?”

“Afinitasku nol. Jadi ya, tanpa komponen afinitas.”

Nessa menutup salah satu buku catatannya. Gerakan itu terasa seperti sesuatu yang penting, meskipun aku belum tahu kenapa.

“Nilai lulus jalur teknis murni itu sembilan puluh empat,” katanya. “Rata-rata tiga orang per dekade. Berapa nilaimu?”

Aku mempertimbangkan berbohong. Aku tidak tahu kenapa aku mempertimbangkannya. Mungkin karena mengatakannya keras-keras di gudang ini terasa seperti lelucon yang menertawakan diriku sendiri.

“Seratus,” kataku.

Pip menoleh begitu cepat sampai lehernya berbunyi.


Instruktur kami datang jam tujuh lewat dua puluh menit.

Dia mendorong pintu dengan bahu karena kedua tangannya penuh — satu memegang tumpukan kertas yang jelas tidak disusun, satu memegang cangkir logam yang isinya bukan kopi karena aku bisa mencium isinya dari empat meja jauhnya.

Laki-laki, empat puluhan, tinggi tapi bungkuk seperti orang yang sudah lama berhenti berusaha kelihatan tinggi. Rambut hitam beruban tidak rata. Mantel akademi yang dipakainya kancingnya salah satu lubang, dan dia jelas tahu, dan dia jelas tidak berniat memperbaikinya.

Lengan kirinya kosong.

Aku langsung memperhatikan itu. Pita instruktur seharusnya berwarna sesuai tier tertinggi yang pernah mereka capai. Semua instruktur punya. Ini akademi kontraktor.

Lengannya kosong, tapi bukan kosong seperti lenganku. Ada bekas jahitan di kainnya. Bentuk persegi panjang yang lebih pucat dari sisa mantel, tempat sesuatu pernah dijahit cukup lama sampai warna di sekitarnya luntur duluan.

“Duduk,” katanya, meskipun kami semua sudah duduk. Dia menjatuhkan tumpukan kertas ke meja depan dan setengahnya langsung meluncur ke lantai. Dia tidak memungutnya. “Vharen Duskmantle. Aku instruktur kalian. Sebelum ada yang bertanya: iya, ini gudang. Tidak, tidak akan pindah. Iya, aku juga tidak mau di sini.”

Pip mengangkat tangan.

“Belum.”

Pip menurunkan tangannya.

Vharen minum dari cangkirnya, lama, dan menatap kami satu per satu seperti orang menghitung barang inventaris yang sudah dia tahu jumlahnya.

“Kelas F bukan hukuman,” katanya akhirnya. “Ini kategori administratif. Kalian di sini karena kalian tidak muat di kotak lain. Itu saja. Tidak ada yang membenci kalian.” Jeda. “Tidak cukup untuk membenci, maksudku. Untuk membenci sesuatu, kau harus memikirkannya dulu.”

“Itu lebih buruk,” kata Nessa.

“Iya,” kata Vharen. “Iya, memang.”

Dia menaruh cangkirnya.

“Kurikulum kalian sama dengan Kelas A sampai E. Ujian kalian sama. Standar kelulusan kalian sama. Tidak ada keringanan, tidak ada jalur khusus, tidak ada nilai tambahan karena kasihan.” Dia mengangkat bahu. “Akademi ini tidak cukup peduli untuk mengubah soalnya buat tujuh orang.”

Pip mengangkat tangan lagi.

“Sekarang boleh.”

“Pak, itu artinya kita harus mengalahkan orang Tier V pakai satu paku?”

Vharen menatapnya. “Satu paku?”

“[ God of Nails — Tier IX ],” kata Pip, sangat bangga, tanpa jejak ironi sama sekali. “Aku bisa memanggil satu paku. Kapan saja. Di mana saja. Panjangnya delapan sentimeter.”

Ruangan itu diam.

“Selalu paku yang sama?” tanya Nessa.

“Selalu paku yang sama,” kata Pip.

“Kalau hilang?”

“Balik lagi kalau dipanggil.”

“Kalau dibengkokkan?”

Pip berpikir. “Balik lagi bengkok.”

Nessa membuka buku catatannya dan mulai menulis.

“Jangan dicatat,” kata Pip.

“Sudah.”

Vharen minum lagi. Aku sadar dia melakukannya bukan untuk menutupi tawa, tapi untuk menutupi sesuatu yang lain, dan aku belum bisa menebak apa.

“Jawabannya iya,” katanya pada Pip. “Kau harus mengalahkan orang Tier V pakai satu paku. Atau kau tidak lulus.” Dia menaruh cangkirnya lagi. “Dan sebelum ada yang bilang itu tidak adil — memang tidak. Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya dan aku tidak akan memberi kalian pidato soal kerja keras. Kalian sudah dengar satu kemarin dan lihat betapa besar gunanya.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, ada yang tertawa di gudang ini. Si kembar. Pelan, tapi nyata.


Kelas berlangsung tiga jam, dan sebagian besar isinya adalah Vharen membacakan jadwal dari kertas yang urutannya kacau.

Aku mencatat semuanya. Bukan karena tekun. Karena kalau tanganku tidak melakukan sesuatu, ia mulai gemetar, dan aku sudah bilang soal itu.

Menjelang akhir, saat yang lain mulai membereskan barang, Vharen memanggil namaku.

“Ravel. Sebentar.”

Yang lain keluar. Pip melirik ke belakang dua kali sebelum pintu tertutup.

Vharen tidak bicara sampai suara langkah kaki di koridor menghilang. Lalu dia bersandar ke meja depan, melipat tangan, dan menatapku dengan cara yang berbeda dari tiga jam sebelumnya — lebih fokus, lebih sadar, lebih seperti orang yang tidak sedang minum.

“Nilai seratus,” katanya.

“Nessa cerita?”

“Nessa tidak perlu cerita. Aku baca berkas kalian semalam.” Dia mengetuk meja dua kali dengan buku jari. “Ujian teknis murni itu tiga bagian. Pembacaan medan, manajemen stamina, dan analisis pola serangan. Yang ketiga itu yang tidak pernah dapat nilai penuh, karena butuh membaca lawan yang belum bergerak.”

“Aku tahu.”

“Kau dapat penuh.”

“Iya.”

“Bagaimana?”

Aku memikirkan cara menjelaskannya, dan seperti biasa tidak menemukan cara yang tidak terdengar aneh.

“Orang punya kebiasaan sebelum menyerang,” kataku. “Semua orang. Bukan gerakan besar — hal kecil. Napas yang ditahan setengah. Berat badan yang pindah ke jempol kaki. Kelopak mata yang turun sepersekian detik lebih lama.” Aku mengangkat bahu. “Aku cuma memperhatikan. Itu bukan bakat. Itu cuma... aku tidak punya kerjaan lain.”

Vharen diam cukup lama.

“Kau tahu kenapa orang berkontrak jarang bisa melakukan itu?” tanyanya akhirnya.

“Kenapa?”

“Karena mereka tidak perlu.” Dia mengangkat cangkirnya, melihat isinya, lalu menaruhnya kembali tanpa minum. “Kalau kau bisa membakar orang dari jarak dua puluh meter, buat apa memperhatikan kelopak matanya? Kekuatan itu membuat malas. Bukan malas yang buruk — malas yang wajar. Efisien, malah.”

Dia melihat ke jendela kecil di atas, ke pisau cahaya yang sekarang sudah bergeser ke tengah lantai.

“Sepuluh hari lagi ada duel wajib,” katanya. “Semua angkatan. Undian acak, lintas kelas.”

Aku sudah tahu. Itu ada di jadwal yang dia bacakan tadi, di urutan yang salah, di antara jadwal makan dan jadwal cuci.

“Kelas F ikut?”

“Kelas F ikut semuanya.” Dia menoleh padaku. “Dan kau akan dapat lawan yang jelek. Bukan karena undiannya diatur. Karena tujuh puluh persen angkatan ini Tier V ke atas, jadi secara statistik lawan jelek itu hasil yang paling mungkin.”

“Aku tahu.”

“Kau akan kalah.”

“Aku tahu.”

Vharen menatapku lama sekali.

“Nah, itu,” katanya pelan. “Itu yang bikin aku penasaran.”

“Apa?”

“Kau bilang ‘aku tahu’ dua kali, dan tidak sekali pun kau bilangnya seperti orang yang menyerah.” Dia mengambil cangkirnya lagi, dan kali ini dia benar-benar minum. “Anak-anak lain di kelas ini, kalau kubilang mereka akan kalah, mereka akan diam atau membantah. Kau tidak melakukan keduanya. Kau cuma... menerima datanya dan lanjut.”

Dia menaruh cangkirnya dan mengibaskan tangan ke arah pintu.

“Pergi sana. Aku mau minum tanpa ditonton.”

Aku berdiri dan berjalan ke pintu.

“Ravel.”

Aku berhenti.

“Aku dulu Tier V,” kata Vharen, ke arah jendela, bukan ke arahku. “[ God of Lanterns ]. Bukan yang hebat. Tapi ada.”

Aku menunggu.

“Dia mati sebelas tahun lalu,” katanya. “Dewa juga bisa mati, ternyata. Tidak ada yang memberitahuku itu waktu aku berlutut di sumur umur tujuh belas.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku tidak berkata apa-apa, yang mungkin memang jawaban yang benar.

“Yang mau kubilang begini.” Vharen akhirnya menoleh. “Kau berdiri di halaman kemarin dan tidak ada yang menjawab, dan kau pikir itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seseorang di akademi ini.”

Dia mengetuk bekas jahitan persegi panjang di lengan mantelnya. Satu kali.

“Bukan,” katanya. “Percayalah.”