← Chapters Ch. 9 / 40

Chapter Nine

Engsel Pintu dan Keberanian

POV: Alena


Jaket itu kukembalikan tiga hari kemudian, dicuci, dilipat rapi, diserahkan di pagar dengan upacara singkat.

Yang tidak kukembalikan: kebiasaan tubuhku mencari bau kayu dan matahari setiap kali kedinginan. Beberapa barang, sekali dipinjam, meninggalkan cicilan.

Dan sejak subuh itu—subuh alarm terkutuk itu—ada yang bergeser di antara kami. Bukan menjauh. Sebaliknya: semua jadi lebih dekat dengan cara yang menyiksa. Makan malam masih jam tujuh, kepang masih jam setengah tujuh, tapi sekarang setiap jeda percakapan terasa seperti jurang yang kami berdua tahu ada jembatan di atasnya, dan tidak ada yang mau menyeberang duluan, dan tidak ada yang mau pergi juga.

Dimas semakin banyak “kebetulan”. Kebetulan lewat depan klinik bawa kelebihan risol. Kebetulan bikin rak bumbu “dari kayu sisa” yang sisa-nya kok ya diampelas sampai level furniture pameran. Kebetulan tahu persis kapan aku lembur dan kebetulan lampu terasnya belum dimatikan sampai aku masuk rumah.

Aku pun tidak lebih baik. Aku hafal jadwal antar-jemput Kirana dan menyesuaikan jam berangkatku supaya “kebetulan” papasan di pagar. Aku membeli kopi literan dengan alasan stok padahal aku tidak minum kopi. Dara sudah berhenti meledek dan mulai betulan gemas: “Kalian ini dua orang dewasa mapan. Ini bukan tarik tambang, woy. TEMBAK. SALAH SATU. TEMBAK.”

“Nggak segampang itu. Dia duda, dia punya Kirana, dia hati-hati—kalau aku maju duluan terus dia belum siap, yang rusak bukan cuma kami berdua. Ada anak kecil yang tiap pagi nungguin aku di undakan teras.”

“Terus rencanamu?”

“Nunggu dia siap.”

“Kalau nunggunya lima tahun?”

“...Ya kutunggu,” jawabku, dan baru sadar setelah mengucapkannya bahwa itu bukan jawaban orang yang sedang menimbang-nimbang. Itu jawaban orang yang sudah selesai menimbang dari kapan-kapan.

Dara menatapku lama sekali. “Ya ampun,” katanya pelan. “Kamu udah separah itu.”

Ternyata takdir tidak menyuruhku menunggu lima tahun.

Takdir cuma butuh satu engsel pintu dan satu hujan.


Kamis pagi itu dimulai seperti biasa—dan “biasa” versi kami akhir-akhir ini sudah cukup untuk membuat orang luar salah paham tujuh kali sebelum sarapan.

Jam setengah tujuh, undakan teras, kepang harian. Kirana melaporkan bahwa gigi gasingnya “tinggal nunggu tanggal main”. Dua cangkir di undakan: kopi dan teh, diletakkan tanpa dibahas, seperti tiga bulan terakhir.

Yang beda cuma satu: sejak subuh sisa demam itu, Dimas punya kebiasaan baru. Setiap pagi, sebelum aku pamit, ia akan bilang—datar, sambil lalu, seperti membaca pengumuman—“makan siangnya jangan cuma roti,” atau “kalau pusing lagi, telepon, jangan sok kuat,” atau, pagi ini:

“Payung di tasmu. Sore katanya hujan.”

“Kamu ngecek ramalan cuaca buat jadwalku?”

“Buat jemuran,” katanya, pada cangkir kopinya.

“Jemuranmu di dalem, Dimas. Aku bisa lihat dari jendela.”

“Jemuran cadangan.”

Kirana, di undakan bawah, menyeruput susu cokelatnya sambil memandangi kami bergantian seperti penonton yang sudah membeli tiket final dan mulai tidak sabar kenapa pertandingannya babak penyisihan terus.

Aku berangkat kerja dengan payung yang dimasukkan seseorang ke tasku entah kapan—bukan payungku, payung hitam besar dengan gagang kayu yang jelas buatan tangan siapa—dan sepanjang perjalanan memikirkan fakta bahwa jatuh cinta pada orang yang bahasa sayangnya adalah logistik itu pelan-pelan membuatmu terharu pada hal-hal absurd. Aku pernah dikirimi bunga tanpa nama. Tidak terasa apa-apa. Ini payung. Payung. Dan aku senyum-senyum di lampu merah sampai diklakson.


Engsel pintu ruang periksaku memang sudah lama minta pensiun—berderit setiap dibuka, dan deritnya persis frekuensi yang membuat pasien kecilku mengasosiasikan ruanganku dengan film horor. Aku menyebutnya sambil lalu di makan malam Selasa, selewat saja, di antara cerita Kirana soal lomba mewarnai.

Kamis sore, jam lima, saat pasien terakhir pulang, resepsionisku mengetuk ruangan: “Dok, ada yang nyari. Bawa... perkakas?”

Ia berdiri di lobi klinik dengan kotak perkakas kayunya, kemeja flanel, dan wajah datar yang sudah kuterjemahkan lancar: jangan dibesar-besarkan, aku cuma lewat.

“Kamu ‘kebetulan lewat’ bawa kotak perkakas.”

“Kebetulan yang terencana.” Ia mengangkat kotaknya. “Mana pintunya yang nakut-nakutin anak orang?”

Ia mengerjakan engsel itu dua puluh menit—melepas, membersihkan karat, mengganti satu engsel dengan yang baru (“stok workshop, jangan dihitung”), memberi pelumas, mengetes: pintu ruang periksaku kini membuka-menutup tanpa suara, mulus seperti pintu hotel.

Aku menontonnya bekerja dari kursi periksaku sendiri, dan lagi-lagi terjebak di pengamatan yang sama seperti hari bracket itu: tidak ada gerakan yang sia-sia. Ia bahkan melapisi lantai dengan koran dulu sebelum mulai, menampung serpihan karat, dan mengelap gagang pintu dengan lap sendiri sesudahnya—etos kerja orang yang menganggap bekas kerjanya adalah tanda tangan. Sementara itu di klinik sebelah, drg. Dara menangani pasiennya dengan pintu ruangan yang sengaja dibuka lebar-lebar, posisi kursi diputar entah bagaimana sampai menghadap lorong, dan setiap kali aku melirik, ia sedang melirik, dan mulutnya membentuk kata-kata tanpa suara yang tidak sulit diterjemahkan: itu-dia-nya. ITU. DIA-NYA.

Staf-ku menonton dari resepsionis sambil berbisik-bisik dengan intensitas yang akan kutindak besok.

Dan ketika ia selesai, tepat ketika ia menutup kotak perkakasnya, hujan turun.

Bukan gerimis sopan. Hujan tropis sore hari yang tumpah sekaligus, deras, memutihkan jalanan, jenis hujan yang membuat orang-orang di teras ruko saling melempar senyum pasrah.

“Tunggu reda dulu,” kataku. “Kopi? Teh? Stafku pulang duluan gih—” kulambaikan tangan ke resepsionis yang pura-pura sibuk, “—nanti pintu depan aku yang kunci.”

“Nggak usah. Kirana les gambar, jemputannya jam enam. Keburu.” Ia melirik hujan, menghitung, lalu mengangkat kerah jaketnya—jaket yang itu, yang pernah jadi selimutku, yang baunya kuhafal di luar kepala. “Motor sebelas menit. Basahnya lima menit pertama doang, sisanya udah nggak kerasa.”

“Itu bukan cara kerja basah.”

“Itu cara kerja basah versi bapak-bapak.” Ia mengangkat kotak perkakas. “Engselmu aman. Kalau ada yang bunyi lagi, lapor.”

“Berapa?”

“Apanya?”

“Jasamu. Engsel, pelumas, rak bumbu, gorden, bracket, panci—” aku mulai menghitung dengan jari, “—aku nyicil aja kali ya, kayak KPR—”

“Alena.” Ia sudah di ambang pintu, hujan di belakangnya seperti tirai putih, dan lampu lobi klinikku menyorotnya dari dalam. “Kita udah bahas. Sistem barter.”

“Barter-nya nggak imbang. Kamu ngasih terus.”

“Imbang.” Ia mengatakannya datar, final, sambil membetulkan pegangan kotak perkakasnya. “Kamu nggak tahu aja kursku.”

Dan ia berbalik hendak menerobos hujan.

Sekarang, seumur hidup, aku akan selalu mengingat tiga detik berikutnya dalam gerak lambat. Aku melihat punggungnya mulai menjauh. Aku mendengar hujan. Aku merasakan—dengan kejernihan yang aneh, seperti kejernihan subuh sisa demam itu—bahwa kami akan begini terus: barter yang tidak diberi nama, kebetulan yang direncanakan, jurang dengan jembatan yang tidak diseberangi siapa-siapa, lima senti yang selalu dibatalkan alarm, sampai salah satu dari kami pindah rumah atau mati penasaran.

Dan aku, Alena Paramitha—yang jam tiga pagi berani menggedor pintu orang asing untuk perang—masa iya kalah sama lima senti.

Tanganku bergerak duluan. Persis seperti tubuhnya selalu bergerak duluan untukku.

Kutangkap lengannya.

Ia berhenti. Menoleh. Alisnya baru setengah jalan membentuk pertanyaan—

—dan kubungkam pertanyaan itu di bibirnya.

Cuma sedetik. Dua, mungkin. Kecupan yang lebih banyak nekatnya daripada teknisnya, mendarat setengah miring karena aku harus berjinjit dan dia kaget dan hukum fisika tidak berpihak pada orang nekat. Bibirnya dingin kena tampias hujan. Tanganku masih mencengkeram lengan jaketnya. Kotak perkakasnya berbunyi kletak pelan—isinya bergeser—karena pemiliknya lupa cara memegang barang.

Aku mendarat kembali ke tumitku.

Dan panik menyusul seperti hujan: sekaligus, deras, tanpa aba-aba.

“Maaf—” tanganku terlepas dari lengannya, naik menutup mulutku sendiri, turun lagi, “—eh. Nggak. Nggak, aku nggak minta maaf.” Tarik napas. Suaraku keluar terlalu kencang untuk lobi klinik yang kosong: “Aku sengaja.”

Dimas berdiri di sana. Diam. Matanya—matanya yang biasa datar itu—terbuka sedikit lebih lebar dari yang pernah kulihat, dan ia menatapku seperti menatap perhitungan yang hasilnya tidak masuk di kalkulator.

Keberanianku tinggal sisa-sisa, jadi kupakai sekalian sebelum habis:

“Aku suka kamu.” Suaraku bergetar di ujung, biarin. “Udah lama. Dari kapan—aku nggak tahu persisnya, mungkin dari gorden, mungkin dari panci, mungkin dari kamu megangin tanganku semaleman biar ‘nggak jatuh dari sofa empat puluh senti’—pokoknya udah lama. Dan aku capek pura-pura ini sistem barter.” Napas. “Kamu aja yang lambat.”

Hujan mengisi jeda itu. Deras sekali. Dunia cuma berisi air, lampu lobi, dan laki-laki yang belum mengatakan apa-apa.

“Alena,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. Terkontrol. Terlalu terkontrol—dan aku sekarang tahu persis apa artinya kontrol sebanyak itu.

“Kalau kamu mau nolak,” potongku cepat, “tolaknya besok aja. Malem ini aku mau tidur dulu dengan perasaan menang.”

Sesuatu melintas di wajahnya—kilat yang cepat sekali, campuran antara mau tertawa dan mau melakukan hal lain yang tidak jadi dilakukan. Ia menatapku lama. Menatap seperti sedang mengukur, menimbang, memastikan sesuatu untuk terakhir kalinya. Lalu ia mengangkat tangannya—aku menahan napas—dan yang ia lakukan adalah menyentuh puncak kepalaku. Sekali. Berat, hangat, sebentar.

“Besok,” katanya.

“...Besok apa?”

“Jawabannya besok.” Ia memakai kembali wajah datarnya, tapi gagal total di bagian telinga, yang merah sampai ke lehernya. “Ada yang harus kusiapin dulu.”

“Nyiapin—kamu mau jawab pernyataan suka pakai persiapan? Emangnya rapat RT?”

“Hm.” Ia mengangkat kotak perkakasnya, mundur selangkah ke tirai hujan itu, dan tepat sebelum berbalik, wajah datar itu retak oleh senyum—bukan bocor, bukan seperempat: senyum betulan, penuh, yang selama tiga bulan cuma pernah kulihat serpihannya—

“Tidurnya yang nyenyak, Dokter. Perasaan menangnya dinikmatin dulu.”

Lalu ia menerobos hujan, basah lima detik pertama, dan hilang di tikungan bersama bunyi motor yang dinyalakan.

Aku berdiri di lobi klinikku sendiri entah berapa lama, memegangi wajah sendiri yang panasnya menyaingi demam kemarin, sampai resepsionisku—yang TERNYATA BELUM PULANG—muncul dari balik meja dengan wajah penuh air mata bahagia dan berbisik:

“Dok. Saya nggak sengaja. Tapi saya nggak nyesel.”


Malam itu aku tidak tidur.

Laporan ke markas besar kukirim jam sembilan, setelah tiga jam menyusun kalimat:

Aku: Dar. Aku: Aku nembak duluan. Aku: Di klinik. Tadi sore. Habis dia benerin engsel.

Balasannya datang dalam empat detik, yang berarti ponselnya memang tidak pernah jauh:

Dara: HAH Dara: HAAAAAH Dara: TERUS DIA JAWAB APA Aku: “Besok.” Dara: besok??? Dara: BESOK ITU JAWABAN APA Aku: Katanya ada yang harus disiapin dulu. Dara: disiapin?? nembak kok pake persiapan?? emangnya rapat RT?? Aku: ITU JUGA YANG KUBILANG Dara: oke dengerin aku. laki-laki yang jawabannya “besok” itu cuma dua jenis. satu: pengecut yang nyari jalan kabur. Aku: Terus yang kedua? Dara: yang kedua: laki-laki yang nggak mau jawab pertanyaan sebesar itu di lobi klinik sambil kehujanan. yang mau jawabnya bener. yang jawabannya udah lama disiapin cuma nunggu kamu duluan. Dara: dari ceritamu tiga bulan ini sih, dia jenis kedua. Dara: tapi kalau ternyata jenis pertama, kabarin. kubantu kubur.

Kucoba semua: susu hangat, podcast membosankan, menghitung mundur dari seratus. Gagal total. Jam dua belas aku menyerah dan duduk di dapur perawan-ku, menyalakan teko—kupelototi sampai matang, aku sudah belajar—dan menyeduh teh sambil menatap jendela yang menghadap rumah sebelah.

Workshop-nya terang.

Jam dua belas malam, lampu kuning workshop itu menyala, dan sayup-sayup, di sela suara jangkrik, terdengar bunyi yang selama tiga bulan ini jadi pengantar tidurku: gergaji halus. Ketukan. Amplas. Ritmis. Tenang.

Dia sedang membuat sesuatu.

Jam dua belas malam, setelah ditembak perempuan di lobi klinik, laki-laki itu pulang, menidurkan anaknya, lalu masuk workshop dan membuat sesuatu.

“Ada yang harus kusiapin dulu,” ulangku pada cangkir teh, meniru nada datarnya, dan gagal menahan senyum yang sejak sore belum bisa dihentikan siapa pun.

Aku tidak tahu apa yang sedang dibuat tangan itu di seberang pagar sana.

Aku cuma tahu satu hal, dan kuucapkan pelan-pelan pada dapurku yang akhirnya hangat:

“Kayaknya besok aku nggak akan kalah.”


[Bersambung ke Bab 10 — “Kunci”]