← Chapters Ch. 17 / 40

Chapter Seventeen

Nginep (Sopan)

POV: Alena


Badai itu datang hari Kamis, diumumkan grup WhatsApp kompleks sejak siang dengan tingkat kepanikan yang berjenjang: mulai dari pesan resmi Pak RT (“dihimbau warga mengamankan barang2 di halaman”), naik ke Bu Yayuk (“WARUNG TUTUP JAM 5 YA IBU2, STOK LILIN MASIH ADA SIAPA CEPAT”), dan memuncak pada Pak Harun yang mengirim foto langit hitam dari depan pos dengan keterangan satu kata: “Siaga.”

Jam tujuh malam, langit menepati janjinya. Hujan turun seperti dituang dari bak raksasa, angin membuat pohon mangga depan rumah menari dengan gaya yang mengkhawatirkan, dan guntur bersahut-sahutan seperti sedang rapat besar.

Kami bertiga makan malam dalam suasana itu—sup hangat, jendela bergetar, dan Kirana yang setiap kali guntur menggelegar akan berhenti mengunyah, menunggu, lalu melanjutkan dengan komentar penilaian (“yang tadi gede”, “yang ini kecil doang”, “YANG INI JUARA”)—ketika tepat di tengah juara ketiga, seluruh lampu mati.

Gelap total. Bunyi kulkas berhenti. Hujan mendadak terdengar dua kali lebih keras.

“Wah,” kata suara Kirana dalam gelap, tenang sekali, “mati lampu. Ayah, senter.”

“Di laci dapur.” Bunyi kursi Dimas bergeser, langkahnya yang hafal rumahnya sendiri, laci dibuka, dan seberkas cahaya menyala—lalu lilin-lilin dikeluarkan dengan efisiensi rumah tangga yang jelas sudah sering menghadapi ini.

Ponselku bergetar. Notifikasi grup kompleks: “INFO: gardu area kita kena. Estimasi PLN besok pagi baru nyala. Selamat beristirahat dalam kegelapan, warga sekalian. — Pak RT” disusul stiker Bu Yayuk yang entah bagaimana selalu relevan.

“Besok pagi,” aku membacakan. “Berarti aku pulang gelap-gelapan nih. Untung rumahku deket—”

“Nginep sini.”

Dua kata itu datang dari arah dapur, datar, sambil lalu, bersamaan dengan bunyi lilin ditancapkan ke tatakan—dan baru setelah mengucapkannya pemilik suara itu muncul di ambang dapur dengan cahaya lilin di tangan, menyadari apa yang barusan keluar, dan menambahkan dengan kecepatan yang tidak biasa:

“Maksudnya. Rumahmu gelap total. Sendirian. Kamu takut kecoa, dan kecoa itu—” ia berdeham, “—aktif pas mati lampu. Fakta biologi.”

“Fakta biologi,” ulangku.

“Kirana, kecoa aktifnya kapan?”

“Pas gelap,” jawab saksi ahli dari meja makan, tanpa keraguan, sambil main bayangan jari di dinding.

“Tuh.”

Aku menatap dua orang itu—satu memegang lilin dengan muka datar yang telinganya mulai berkhianat, satu lagi membuat bayangan kelinci sambil menunggu keputusanku dengan mata berbinar penuh agenda—dan menatap keluar jendela di mana rumahku berdiri sembilan meter jauhnya, hitam, kosong, dan jujur saja: menyeramkan.

“Kirana bobo sama Tante!” Penawaran masuk sebelum palu diketok. “Kasur Kirana muat dua. Mimi geser dikit.”

“Nah,” kata Dimas. “Udah diatur panitia.”

Maka diaturlah malam itu oleh panitia: aku menyeberang sebentar diantar payung dan senter untuk mengambil perlengkapan (“lima menit,” kata pengawal, dan berdiri di ambang pintu rumahku memegangi senter dengan sikap petugas yang menolak masuk lebih jauh dari teritori sopan), lalu kembali dengan tas kecil berisi piyama, sikat gigi, dan skincare secukupnya yang menurut standar apa pun tidak cukup.

Jam sembilan, rumah itu tidur dengan formasi resmi: Kirana dan aku di kamar bergambar bintang—yang stikernya, kutemukan malam itu, menyala redup dalam gelap, “biar kalau kebangun nggak sedih,” jelas Kirana—dan Dimas di kamarnya di ujung lorong, setelah upacara selamat tidur yang canggungnya membuat kami berdua salah tingkah di lorong sendiri: mau cium kening tapi ada anak menonton, mau salaman kok aneh, berakhir dengan ia menepuk puncak kepalaku dua kali seperti menepuk pundak rekan kerja, lalu masuk kamar dengan kecepatan orang yang menyadari kesalahannya di tengah eksekusi.

Kirana tertidur dalam tujuh menit, di tengah kalimatnya sendiri tentang bintang mana yang paling terang.

Aku tidak.

Aku berbaring di kasur anak berseprai rubah, di sebelah anak yang tidurnya berputar 90 derajat setiap setengah jam seperti jarum jam rusak, memandangi bintang-bintang stiker itu, dan mendengarkan rumah ini: hujan di genteng, angin, guntur yang mulai menjauh, dan di bawah semua itu, kesadaran yang menolak dimatikan seperti lampu—bahwa sembilan meter dari biasanya, di ujung lorong yang sama, di bawah atap yang sama, ada orang yang kupacari, dan ini pertama kalinya kami tidur serumah, dan tidak ada satu pun bagian dari tubuhku yang mau tidur.

Jam dua belas: masih bangun. Kirana menendangku sekali, minta maaf dalam tidurnya (“sori, Mi”), berputar lagi.

Jam satu: masih bangun. Hujan menipis jadi gerimis.

Jam dua kurang seperempat: aku menyerah, menyelinap keluar dari kasur dengan teknik yang kupelajari dari menghadapi pasien tertidur di kursi periksa, dan berjingkat ke dapur untuk minum.

Dapur itu tidak kosong.

Di meja makan, ditemani satu lilin yang tinggal setengah, Dimas duduk dengan segelas air di depannya—kaus tidur, rambut lebih berantakan dari biasa, dan wajah orang yang jelas belum tidur semenit pun. Ia mendongak. Kami saling menatap dalam cahaya lilin, dua orang tertangkap basah oleh tuduhan yang sama.

“Nggak bisa tidur,” kataku, bukan bertanya.

“Ngecek lilin,” jawabnya. “Bahaya. Api.”

“Lilinnya di sini. Kamarmu di sana.”

“...Ngeceknya teliti.”

Aku menarik kursi di seberangnya, dan menyerah pada tawa kecil yang sedari tadi minta keluar. “Aku juga. Dari jam sembilan. Kirana udah muter tiga ronde, aku masih ngitungin bintang stiker.”

“Empat puluh tujuh,” kata Dimas.

“Hah?”

“Bintangnya. Empat puluh tujuh. Masangnya aku.” Ia bangkit, ke arah kompor. “Gas masih ada. Cokelat?”

Dan begitulah kami sampai di sana: jam dua pagi, dapur bercahaya satu lilin dan satu kompor menyala biru, hujan tinggal gerimis halus, dan dua cangkir cokelat panas dengan busa kecil—yang pertama sejak malam gedoran itu, kami berdua sadar tanpa mengatakannya—mengepul di antara kami.

“Ini kayak déjà vu,” kataku akhirnya, mengucapkan yang tidak dikatakan.

“Bedanya kamu nggak marah-marah.”

“Aku nggak marah-marah waktu itu. Aku menyampaikan keberatan—”

“—secara beradab, versi jam tiga pagi.” Ia menyesap cokelatnya. “Masih hafal.”

“Kamu hafal semua.”

“Hm.”

Dan mungkin karena jam dua pagi adalah jam di mana pagar-pagar dalam diri orang gerendelnya paling longgar, atau karena cahaya lilin membuat semua cerita terasa aman diceritakan, malam itu kami membuka laci-laci yang belum pernah dibuka.

Ia bercerita duluan—hal yang langka, dan aku diam sediam-diamnya supaya tidak memutus alirannya. Tentang masa kecil di kota kecil, anak tunggal tukang mebel pasar yang bengkelnya bau dempul, yang dulu ia malu akui ke teman-teman sekolahnya (“aku bilang bapakku ‘wiraswasta’—sombongnya anak SMP”)—sampai bapaknya meninggal saat ia kuliah arsitektur tahun kedua, dan hal pertama yang ia tangisi bukan kehilangannya, tapi bahwa ia belum sempat bilang bengkel bau dempul itu adalah tempat favoritnya di dunia. “Makanya waktu banting setir, milihnya kayu. Bukan kebetulan. Bayar utang.”

Aku bercerita tentang tumbuh sebagai anak “dokter Hendrawan”—nama yang membukakan semua pintu sekaligus berdiri di depan setiap pintu itu, sampai aku hafal tatapan orang yang menghitung namaku sebelum menghitung diriku. Tentang memilih spesialisasi gigi anak dan ditertawakan seniornya (“sayang otaknya”), dan bagaimana pasien kecil pertamaku—anak yang trauma diikat di klinik lain—memelukku setelah tindakan selesai, dan aku menangis di toilet klinik bukan karena sedih. “Anak-anak nggak peduli aku anak siapa. Anak-anak cuma peduli aku galak apa nggak. Paling adil sedunia.”

Cokelat kedua diseduh jam tiga. Cerita bergeser ke wilayah yang lebih ringan dan lebih berbahaya sekaligus: pacar pertama (punyaku anak band SMA yang putus lewat SMS berima; punya dia “nggak ada, langsung Laras, telat mekar”), ketakutan paling bodoh (dia: badut ulang tahun, ada sejarahnya, menolak dibahas; aku: sudah publik, satu kompleks tahu), dan hal yang paling ingin dilakukan tapi belum (“belajar nyetir mobil kopling lagi,” katanya. “Nemenin,” kataku, terlalu cepat).

Jam empat, gerimis berhenti. Lilin tinggal seperempat. Ceritanya sudah habis diganti hening yang nyaman—hening penuh yang dulu pernah menakutkan dan sekarang jadi tempat paling hangat di rumah ini—dan kepalaku mulai berat, condong, sampai bersandar di bahu yang entah kapan sudah pindah ke kursi sebelahku.

“Alena.”

“Hm.” Kamusnya. Milik bersama sekarang.

“Tidur.”

“Bentar.” Mataku sudah tertutup. “Lagi ngecek lilin.”

Kurasakan bahunya bergetar pelan—tawa tanpa suara—lalu dunia bergerak: ia menuntunku berdiri, setengah menggendong setengah membimbing melewati lorong, sampai ambang kamar berbintang empat puluh tujuh itu, di mana Kirana terdengar masih bernapas panjang-panjang dalam rondenya entah keberapa.

Di ambang pintu itu ia berhenti. Dan dalam sisa cahaya lilin dari dapur, kurasakan tangannya merapikan rambutku dari wajah—pelan, seperti memegang sesuatu yang bisa retak, seperti pagi kepang itu—lalu bibirnya mendarat di keningku dan tinggal di sana lama, lebih lama dari kecupan mana pun yang pernah ia berikan, cukup lama untuk terasa seperti kalimat lengkap dengan subjek predikat objek.

“Selamat tidur,” katanya di keningku.

“Selamat pagi,” koreksiku, mata masih terpejam.

“Jangan menang terus.”

Aku tersenyum, masuk, dan tidur dalam sembilan detik—rekor pribadi.

Sarapan paginya berlangsung di bawah pengawasan ketat. Kirana, segar bugar setelah sembilan jam tidur berputar-putar, duduk di kursinya memandangi kami berdua bergantian: ayahnya yang menuang kopi dengan gerakan pelan orang yang badannya belum sepakat untuk bangun, dan aku yang menguap untuk keempat kalinya ke dalam gelas susu.

“Ayah sama Tante kenapa matanya begitu?”

“Begitu gimana,” kata Dimas.

“Kayak Om Raka waktu nginep terus begadang nonton bola. Besoknya matanya persis gitu.” Ia menyipit, membandingkan kami dengan arsipnya. “Semalem ada bola?”

“Nggak ada bola.”

“Terus ngapain?”

“Ngecek lilin,” jawab kami berdua. Bersamaan. Serempak. Kompak dengan cara yang paling merugikan diri sendiri—penyakit lama yang tidak pernah sembuh.

Kirana berhenti mengunyah. Matanya bergerak dari aku ke Dimas ke lilin bekas di meja dapur yang tinggal seperempat, lalu kembali. Ia tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk pelan, sekali, dengan gaya penyidik yang memutuskan bahwa berkasnya sudah cukup dan penuntutan bisa dilakukan kapan saja, lalu melanjutkan sarapannya sambil sesekali melirik kami dengan senyum kecil yang disimpannya untuk dirinya sendiri dan Mimi.

Listrik menyala jam tujuh. Rumahku terang lagi, aman, berfungsi.

Aku pulang jam delapan dengan tas kecilku—dan di sinilah badai semalam menagih pajak terakhirnya.

Delapan pagi hari Jumat adalah jam sibuk gang kami: ibu-ibu senam baru bubar, tukang sayur sedang parkir, dan Pak Harun dalam patroli perpanjangan shift-nya. Maka perjalanan sembilan meter dari pintu rumah Dimas ke pintu rumahku—dengan tas menginap di bahu, rambut dicepol seadanya, dan wajah kurang tidur yang tidak bisa dinegosiasikan—disaksikan oleh tidak kurang dari sebelas pasang mata yang semuanya berhenti dari aktivitasnya masing-masing secara serempak, seperti adegan yang disutradarai.

“Pagi, Bu Dokter,” kata Pak Harun, yang entah bagaimana sudah berada di dekat pagar kami. “Semalam... aman?”

“Mati lampu, Pak. Saya numpang di sebelah. Tidurnya sama Kirana.” Kalimat terakhir itu kutambahkan dengan volume yang menjangkau seluruh pemirsa.

“Oh, tentu, tentu. Sama Ade Kirana.” Pak Harun mengangguk dalam-dalam, membuka jurnalnya, dan menulis sesuatu yang panjang untuk informasi yang sependek itu. Dari arah gerombolan ibu senam, samar terdengar diskusi panel yang kata “sopan”-nya diucapkan berkali-kali dengan intonasi yang berbeda-beda.

Grup kompleks pagi itu, menurut bocoran Dara-yang-punya-informan, memunculkan istilah baru yang bertahan sampai berbulan-bulan kemudian: “nginep sopan”—lengkap dengan definisi resminya versi Bu Yayuk: “nginep yang pintu kamarnya beda, tapi mata dua-duanya sembab, berarti ngobrolnya yang nggak sopan-sopan amat lamanya”.

Aku berdiri sebentar di tengah rumah sendiri yang mendadak terasa... luas. Bukan luas yang lega. Luas yang kebanyakan.

Empat puluh tujuh bintang, satu lilin, dua cokelat, cerita sampai subuh.

Rumahku kalah telak, dan aku mulai berpikir pertandingannya memang sudah tidak imbang dari awal.


[Bersambung ke Bab 18 — “Sticky Note”]