Chapter Twenty Nine
Kayu Rana Naik Kelas
POV: Alena
Semuanya dimulai dari sebuah lemari dan seorang perempuan bernama Karin yang, harus kuakui dengan besar hati, adalah orang paling bermanfaat yang pernah masuk ke halaman rumah sebelah.
Meja rias dan lemari itu selesai bulan lalu. Mbak Karin memotretnya dari dua belas sudut, mengunggahnya ke akun desain interiornya, dan menandai “Kayu Rana” dengan keterangan panjang yang isinya, kalau dirangkum: pengrajin ini gila, sambungannya tanpa paku, dan saya siap berkelahi demi dia.
Unggahan itu dibagikan ulang oleh akun arsitektur besar. Lalu oleh majalah desain. Lalu, dua minggu kemudian, seseorang dari sebuah media daring mengirim surel ke alamat kontak Kayu Rana—alamat yang, sepengetahuanku, Dimas cek seminggu sekali dengan enggan.
Ia menceritakannya di makan malam dengan nada orang melaporkan cuaca.
“Ada yang mau wawancara.”
“Wawancara?” Kirana mengangkat wajah dari nuggetnya. “Kayak di TV?”
“Bukan TV. Media online. Buat artikel.”
“Terus Ayah jawab apa?” tanyaku.
“Belum kujawab.”
“Kenapa belum?”
Ia mengangkat bahu. “Kerjaan lagi antre. Kalau ada artikel, orang nanya-nanya, waktunya kepakai buat bales pesan.”
Kupandangi laki-laki itu—yang memahat kisi-kisi radio selama dua malam demi cerita yang kusebut sambil lalu, yang di kotak perkakasnya ada alat yang bahkan tidak dijual di kota ini karena harus pesan dari luar—dan meletakkan sendokku.
“Dimas.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak, waktu ada arsitek dari kota sebelah dateng ke workshop bulan lalu buat lihat sambunganmu, dia sampai motret pakai dua kamera?”
“Dia lagi belajar.”
“Dia dosen.”
“Hm.”
“Balas surelnya,” kataku. “Nggak usah dipikir-pikir. Balas.”
Ia tidak menjawab. Tapi tiga hari kemudian dua orang datang membawa kamera, dan Kirana menghabiskan sore itu dengan status resmi sebagai “asisten senior yang diwawancara juga”.
Artikel itu tayang sepuluh hari kemudian.
Judulnya—dan aku membacanya di mobil, di parkiran klinik, sebelum masuk kerja, dan harus duduk diam sebentar sesudahnya:
“Arsitek yang Berhenti Merancang Gedung untuk Membesarkan Anaknya, dan Sekarang Membuat Perabot yang Antre Enam Bulan”
Aku belum pernah membaca Dimas diceritakan oleh orang lain.
Itu pengalaman yang aneh. Ada bagian-bagian yang sudah kuketahui, tentu—firma yang ditinggalkan, sayembara yang pernah dimenangkan sebelum umur tiga puluh, bengkel bau dempul ayahnya di kota kecil. Tapi disusun oleh orang asing, dengan urutan yang bukan urutan hatiku, semuanya terlihat berbeda: seperti melihat rumahmu sendiri dari seberang jalan.
Yang membuatku menangis di parkiran adalah satu paragraf di tengah.
Penulisnya bertanya kenapa brand-nya bernama Kayu Rana. Dan jawaban Dimas—yang kubaca dan langsung kudengar dengan suaranya, nada datar itu, jeda-jeda itu—dikutip apa adanya:
“Rana dari nama anak saya. Waktu saya keluar dari firma, orang bilang saya membuang karier. Saya tidak merasa membuang apa-apa. Saya cuma pindah dari merancang bangunan yang saya tidak akan pernah tinggali, ke membuat barang yang dipakai orang tiap hari di rumahnya sendiri. Menurut saya itu naik pangkat.”
Kubaca lagi. Tiga kali.
Lalu kufoto layar ponselku—foto layar, seperti orang bodoh—dan kukirim ke Dara dengan keterangan: “aku pacaran sama orang ini.”
Dara membalas: “kamu udah kirim ini ke aku 4 menit lalu.”
Aku bahkan tidak ingat mengirimnya yang pertama.
Yang terjadi setelah artikel itu tayang, kompleks Griya Anggrek menyebutnya “minggu heboh”.
Pesanan masuk sampai formulir situsnya harus dimatikan sementara. Bu Yayuk memasang cetakan artikel itu di warungnya—dicetak di kertas HVS, ditempel pakai selotip, di sebelah daftar harga—dan menjelaskan pada setiap pembeli bahwa “itu tetangga saya, Bu, yang rumah pojok, yang dulu gendong dokternya nyeberang halaman”.
Pak Harun mencetaknya juga. Untuk arsip pos.
Di kliniku, Dara mencetaknya dan menempelkannya di pintu ruanganku dengan keterangan spidol: “PACAR REKAN KERJA KAMI. SILAKAN IRI.”
“Turunin, Dar.”
“Nggak.”
“Ini klinik gigi anak.”
“Ini juga pendidikan. Anak-anak perlu tahu ada laki-laki begini di dunia.” Ia menepuk kertas itu. “Len, serius. Aku baca bagian ‘menurut saya itu naik pangkat’ tiga kali. Tiga kali. Terus aku telepon mamaku.”
“Ngapain telepon mamamu?”
“Nggak tahu. Refleks.” Dara melipat tangan. “Kamu tahu nggak yang paling bikin aku kesel? Dia nggak sadar. Itu yang bikin kesel. Coba dia sadar dikit aja, sombong dikit aja, aku bisa benci. Ini dia beneran mikir dia cuma tukang kayu yang kebetulan diwawancara.”
Dan itu benar. Sepanjang minggu heboh itu, satu-satunya reaksi Dimas terhadap ketenarannya adalah mengeluh bahwa balas-membalas pesan memakan waktu kerjanya, persis seperti yang ia prediksi dari awal, disampaikan dengan nada yang jelas menagih pengakuan bahwa ia benar.
“Aku udah bilang,” katanya, di hari kelima, sambil menutup laptop dengan gerakan menyerah.
“Iya, kamu bener.”
“Bilang lagi.”
“Kamu bener, Mas Dimas.”
Ia mengangguk puas, dan kembali ke workshop-nya, dan malam itu aku memergokinya membaca kolom komentar artikel itu diam-diam di ponselnya selama dua puluh menit dengan wajah datar total.
Aku tidak menegurnya. Ada kemenangan-kemenangan kecil yang lebih baik dinikmati sendirian.
Dan Sabtu itu, sebuah surel masuk yang berbeda dari surel-surel lainnya.
Dimas menunjukkannya padaku malam Minggu, di workshop, setelah Kirana tidur. Ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata apa-apa dan berdiri di sebelah meja kerja sambil melipat tangan.
Aku membacanya dua kali.
Sebuah butik furnitur di ibu kota. Nama yang bahkan aku kenal, dan aku bukan orang desain. Mereka menawarkan kolaborasi: lini terbatas, dua puluh unit, dirancang dan dikerjakan Dimas, dipamerkan di galeri mereka, dengan kemungkinan berlanjut ke lini reguler.
Angka yang disebutkan di paragraf terakhir membuatku membaca ulang untuk memastikan aku tidak salah menghitung nol.
“Dimas. Ini—”
“Hm.”
“Ini bukan ‘hm’. Ini—” kuletakkan ponselnya di meja. “Ini yang orang tunggu seumur hidup.”
“Aku baca syaratnya di bawah.”
Kugulirkan lagi. Dan di sanalah masalahnya, di paragraf kelima, ditulis dengan sangat sopan:
Mengingat skala proyek dan kebutuhan koordinasi dengan tim produksi kami, kami mengharapkan kehadiran langsung di studio Jakarta secara berkala. Estimasi: 3-4 hari per minggu selama kurang lebih satu bulan pertama.
Aku membaca kalimat itu, lalu mengangkat wajah.
Dan aku melihat wajahnya—dan aku tahu, dengan kepastian penuh, bahwa laki-laki ini sudah mengambil keputusan sebelum menunjukkan surel itu padaku, dan keputusan itu adalah tidak.
“Kamu udah nolak?”
“Belum.”
“Tapi mau.”
Ia tidak menjawab.
“Dimas.”
“Kirana sekolah,” katanya. “Jemputan pagi jam tujuh, pulang jam satu, kadang les gambar sampai empat. Tiga hari seminggu di Jakarta itu artinya dia ditinggal tiga malam.”
“Terus?”
“Terus dia nggak punya siapa-siapa di rumah.”
Dan di situ—entah dari mana datangnya, mungkin dari delapan bulan yang menumpuk, mungkin dari kalimat “Bunda” yang keluar dari mulut anak setengah tidur—sesuatu di dadaku menegang.
“Dia punya aku.”
Dimas menoleh.
“Dia punya aku, Dimas.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kuniatkan. “Rumahku sembilan meter. Aku tahu jadwal jemputannya, aku tahu dia alergi udang, aku tahu obat demamnya di kotak yang mana, aku tahu dia nggak bisa tidur kalau lampu bintangnya mati. Aku yang ngepang rambutnya tiap pagi selama enam bulan.” Kutarik napas yang bergetar. “Dan dia manggil aku Bunda.”
Wajah Dimas berubah.
“Alena—”
“Aku nggak marah.” Kuangkat tangan. “Beneran nggak marah. Aku cuma—” kutekan pangkal hidungku, “—aku baru sadar sesuatu, dan aku butuh kamu dengerin.”
Ia diam.
“Kamu nggak nolak kesempatan ini karena kamu nggak mau,” kataku. “Kamu nolak karena empat tahun terakhir kamu satu-satunya orang yang megang semuanya. Semua. Sendirian. Dan itu jadi kebiasaan yang begitu dalam sampai kamu bahkan nggak kepikiran buat naruh sebagian di tangan orang lain. Bukan nggak percaya. Kamu cuma nggak punya kebiasaannya.”
Dimas menatap meja kerjanya.
“Aku ayahnya.”
“Iya. Dan kamu bakal tetep jadi ayahnya walaupun kamu tidur di Jakarta tiga malam.” Kudekati dia. “Empat tahun kamu jagain semua orang, Dimas. Kirana, Bu Ratna, klien, semua orang di kompleks yang gentengnya bocor. Sekarang gantian. Sekarang aku yang jaga rumah.”
Ia tidak menjawab lama sekali.
Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya: “Kamu kerja.”
“Aku bisa atur jadwal. Praktik pagi kugeser, Dara bisa ambil sore. Tiga hari seminggu selama sebulan—Dimas, itu dua belas hari. Aku bukan disuruh ngadopsi.”
“Kamu nggak wajib—”
“Aku tahu aku nggak wajib.” Kupegang kedua sisi wajahnya, memaksanya menatapku. “Aku mau. Ada bedanya, dan bedanya penting.”
Dan di situ pertahanannya patah—aku melihatnya, sesuatu di rahangnya melepas—dan ia menutup matanya dan menyandarkan dahinya ke dahiku.
“Alena.”
“Hm.”
“Aku nggak tahu cara terima bantuan.”
“Aku tahu,” kataku. “Makanya latihan. Ini latihan pertamamu.”
Yang belum kuceritakan: keputusan akhirnya bukan diambil malam itu, dan bukan diambil olehku.
Diambil hari Senin, di meja makan, oleh pemegang hak veto tertinggi di rumah itu.
Dimas menjelaskannya dengan bahasa anak enam tahun: ada orang di kota besar yang mau Ayah bikinin barang, bagus banget, tapi Ayah harus ke sana tiga hari tiap minggu selama sebulan.
Kirana mendengarkan sampai selesai. Lalu bertanya:
“Tiga hari itu berapa lama?”
“Berangkat Selasa pagi, pulang Kamis malem.”
“Berarti Kirana nggak ketemu Ayah pas Selasa Rabu Kamis?”
“Iya.”
Wajah kecil itu menekuk. Aku menahan napas, dan kulihat Dimas sudah bersiap membatalkan seluruhnya di detik berikutnya—
“Kirana sama siapa?”
“Sama Bunda,” kataku. “Kalau Kirana mau. Bunda pindah tidur sementara ke kamar Kirana. Kalau Kirana nggak mau, kita cari cara lain.”
Kirana menoleh padaku.
Menatapku dengan tatapan panjang seorang pejabat yang sedang menilai proposal.
“Bunda bisa masak sekarang?”
“Bisa. Enam menu.”
“Rawon termasuk?”
“Rawon termasuk. Yang nggak asin.”
“Bunda bisa kepang yang ada pitanya?”
“Bisa.”
“Bunda takut kecoa.”
“...Iya,” akuku. “Itu belum berubah.”
Kirana mengangguk, seperti sudah memperkirakan jawabannya, lalu menoleh ke ayahnya dengan sikap final:
“Kalau ada kecoa nanti Kirana yang usir. Ayah boleh berangkat.”
Dimas menutup matanya sebentar.
“Kirana yakin?”
“Yakin.” Ia kembali ke nuggetnya. “Tapi Ayah harus video call tiap malem. Sama Ayah harus bawain oleh-oleh yang nggak ada di sini. Yang beneran nggak ada, jangan yang di Indomaret juga ada.”
“Deal.”
“Sama satu lagi.” Kirana mengangkat jarinya, dan wajahnya berubah—dan kalimat berikutnya keluar dengan nada yang membuat dadaku sesak. “Ayah pulangnya beneran ya.”
Sendok Dimas berhenti.
“Kirana—”
“Kirana cuma ngingetin.” Ia mengangkat bahu, gerakan itu, gerakan yang diwarisinya entah dari siapa. “Nggak papa kok. Kirana cuma pengen dibilangin.”
Dan Dimas berdiri, memutari meja, dan mengangkat anak itu dari kursinya—enam tahun, sudah kebesaran untuk digendong tapi tetap digendong—dan berkata di rambutnya, dengan suara yang sama sekali tidak datar:
“Ayah pulang. Tiap Kamis. Ayah janji.”
Malamnya, di pagar, sebelum aku menyeberang pulang, Dimas berkata:
“Makasih.”
“Buat apa?”
“Buat maksa aku.”
“Aku nggak maksa. Aku cuma—” kucari kata yang tepat, “—aku cuma mindahin sebagian bebanmu ke pundakku tanpa nanya dulu. Itu namanya bukan maksa. Itu namanya keluarga.”
Ia menatapku di bawah lampu teras itu, lama, dan aku tahu ia sedang menyusun sesuatu yang berat karena rahangnya bergerak dua kali sebelum ia bicara.
“Alena.”
“Hm?”
“Yang mau kubilang di workshop malam itu—”
Ponselku berbunyi. Klinik. Pasien darurat, anak jatuh dari sepeda, gigi depan patah.
“—nanti aja,” katanya cepat. “Angkat dulu.”
“Kamu yakin?”
“Yakin. Nanti.”
Kuangkat teleponku, kucium pipinya, dan menyeberang pulang sambil bicara dengan ibu panik di seberang sana.
Aku baru menyadari, berminggu-minggu kemudian, bahwa itu kesempatan kedua yang kubiarkan lewat.
[Bersambung ke Bab 30 — “Sebulan Bolak-Balik”]