Chapter Eleven
Rahasia Umum
POV: Alena
Kesepakatan itu lahir di pagar, Sabtu malam, dua belas jam setelah kami resmi jadi—meminjam istilah hukum yang berlaku—satu tim.
“Kita pelan-pelan dulu soal ngasih tau orang,” kataku. “Bukan disembunyiin. Cuma... diatur ritmenya. Kompleks ini kalau dapet berita sebesar ini bisa bikin syukuran tanpa izin kita.”
“Setuju.” Dimas bersandar di pagar, memainkan gerendel berkarat itu dengan jempolnya. “Yang penting Kirana tahu duluan, keluarga inti nyusul, sisanya alam yang ngatur.”
“Kirana udah tahu duluan sebelum kita.”
“Kirana,” ia mengoreksi, “tahu duluan sebelum aku lahir, kayaknya. Anak itu jangan-jangan milih rumah ini pas masih di kandungan.”
Jadi kami sepakat: santai, rapi, terkendali. Dua orang dewasa profesional dengan kemampuan manajemen informasi yang teruji. Berapa susahnya.
Kesepakatan itu bertahan empat puluh delapan jam. Itu pun karena hari Minggunya hujan seharian dan tidak ada saksi.
Kebocoran pertama: Senin, 06.40. Pelaku: kami sendiri.
Ritual pagi berjalan seperti biasa—kepang, dua cangkir, laporan gigi gasing. Bedanya, ketika aku pamit berangkat, Dimas mengantarku sampai pagar. Itu juga biasa. Yang tidak biasa: di pagar, tanpa berpikir, tanpa rapat, tanpa prosedur, dengan kewajaran orang yang sudah melakukannya seumur hidup—ia mencium keningku.
Sedetik. Ringan. Lalu, “hati-hati nyetirnya,” dan ia balik badan mau masuk.
Kami berdua membeku di langkah yang sama.
“Dimas.”
“Hm.”
“Kita di pagar.”
“Hm.”
“Pagar itu di luar rumah.”
“...Hm.”
Kami menoleh berbarengan, pelan, seperti dua tersangka mengecek TKP. Gang sepi. Rute senam pagi belum lewat. Jendela-jendela tetangga tertutup. Aman. Kayaknya aman.
Delapan meter di atas kami, di genteng rumah Pak RT, seorang tukang yang sedang membetulkan bubungan duduk mematung dengan sekop adukan di tangan, menyaksikan segalanya dengan mata bulat.
Dimas menatap tukang itu. Tukang itu menatap Dimas.
“Pak,” kata Dimas akhirnya, dengan wibawa yang entah diambil dari mana, “lanjut kerjanya.”
“Siap,” kata tukang itu, dan tidak lanjut kerja sama sekali.
Belakangan kami tahu, tukang itu adalah keponakan Bu Yayuk yang memang dikirim membetulkan genteng Pak RT—dan makan siangnya hari itu di warung, tentu saja di warung, dengan cerita yang menurut saksi mata “diperagakan lengkap pakai gerakan”. Versi yang beredar sore harinya sudah mengalami pemuliaan artistik: kecupan kening berubah jadi “dipeluk lamaaa di pagar, romantis, kayak sinetron azab tapi yang bagian akhirnya pas semua udah tobat”.
“Setidaknya,” kata Dimas malamnya, ketika kubacakan versi itu dari laporan intelijen Dara-yang-entah-bagaimana-sudah-punya-koneksi-di-kompleksku, “ratingnya bagus.”
Kebocoran kedua: Senin, 13.15. Pelaku: aku.
Dara sudah tahu sejak Sabtu—dia markas besar, dia pengecualian resmi. Masalahnya bukan Dara. Masalahnya, Senin siang itu ada bapak pengantar pasien yang kembali beraksi: anaknya sudah selesai, tapi ia bertahan di lobi, dan saat aku lewat ia mendekat sambil tersenyum lebar.
“Dok, hari Sabtu depan ada acara nggak? Saya ada dua tiket seminar kesehatan, siapa tau Dokter—”
“Wah, maaf, Pak. Sabtu saya ada acara sama pacar saya.”
Kalimat itu keluar mulus, gurih, tanpa hambatan, seperti sudah dilatih—dan memang sudah, di depan cermin, sejak Sabtu, karena aku menyukai bunyinya. Pacar saya. Baru setelah mengucapkannya aku sadar telah mengucapkannya: di lobi, jam ramai, dengan tiga staf dalam radius dengar dan Dara yang langsung berhenti menulis rekam medis.
Bapak itu pamit dengan anggun. Stafku tidak seanggun itu. Sebelum jam dua, grup chat internal klinik—yang katanya untuk “koordinasi jadwal”—sudah berganti nama jadi “KLINIK GIGI CERIA (CERIA BENERAN)”.
Kebocoran ketiga: Selasa, 17.30. Pelaku: struktural.
Aku pulang praktik dan mendapati Pak Harun berdiri di depan pos dengan sikap sempurna, menahan pintu gerbang kompleks terbuka untukku—hal yang tidak pernah ia lakukan karena gerbangnya otomatis.
“Selamat sore, Bu Dokter.”
Bu. Kemarin masih “Dokter Alena”. Hari ini “Bu”.
“Sore, Pak Harun... Ada apa ya?”
“Nggak ada apa-apa, Bu. Aman terkendali.” Ia mengangguk khidmat. “Titip salam buat... keluarga.”
Aku menyetir sisa lima puluh meter ke rumah sambil mencengkeram setir dan menyusun teori. Teorinya terkonfirmasi malam itu juga, ketika Dimas—yang kuinterogasi di dapur sambil ia menggoreng tempe—mengaku dengan muka datar bahwa sore tadi ia lewat pos dan Pak Harun memberinya hormat. Hormat betulan. Tangan ke pelipis.
“Terus kamu ngapain?”
“Bales hormat,” kata Dimas, membalik tempe. “Masa didiemin. Nggak sopan.”
“Jadi kamu mengkonfirmasi.”
“Aku menghormati orang tua.”
“Dimas, dia satpam, bukan veteran—”
“Ayah, Tante,” Kirana muncul di dapur membawa buku gambar, “Kirana mau nanya. Kalau ditanya temen sekolah, Tante Alena itu apanya Kirana—jawabnya apa? Soalnya tadi Bu Guru nanya.”
Sutil di tangan Dimas berhenti. “...Bu Guru nanya?”
“Iya. Katanya, ‘Kirana, yang suka jemput kamu yang cantik itu tante atau mama?’ Terus Kirana jawab: ‘LAGI PROSES, BU.’”
Aku menyemburkan air minum ke wastafel. Dimas menaruh sutil, memijat pangkal hidungnya, dan bertanya dengan suara orang yang sudah kalah tapi ingin tahu skor akhirnya: “Kirana denger istilah itu dari mana?”
“Bu Yayuk. Kata Bu Yayuk ke Bu Siti kemarin: ‘Yang rumah pojok itu lagi proses, tinggal nunggu resminya.’” Kirana membuka buku gambarnya, santai, seperti membacakan berita cuaca. “Emang proses itu apa sih?”
Kebocoran keempat, terakhir, dan paling telak: Rabu, 09.00.
Aku sedang di klinik ketika ponselku bergetar. Pesan dari Dimas—dan Dimas bukan orang pesan panjang; pesan terpanjangnya selama ini tiga kata—kali ini berupa satu foto tanpa keterangan.
Foto selembar undangan tercetak, ditempel di papan pengumuman pos satpam:
“ARISAN RT 07 — EDISI SPESIAL. Sabtu, 19.30, kediaman Ibu Yayuk. Agenda: silaturahmi & MENYAMBUT WARGA (semua warga WAJIB hadir, khususnya warga blok C nomor 11 dan 12, ditunggu KEDATANGANNYA BERSAMA-SAMA).”
Blok C nomor 11: rumahku. Nomor 12: rumahnya.
Kutelepon Dimas saat jam makan siang. “Mereka bikin arisan buat validasi kita.”
“Hm.”
“Kita belum ngumumin apa-apa. Secara teknis belum ada yang bisa divalidasi.”
“Alena.” Suara di seberang itu tenang, terlalu tenang, tenangnya orang yang sudah menerima takdir. “Tadi pagi aku ke warung beli telur. Bu Yayuk nolak dibayar. Katanya, ‘Buat modal masa depan.’ Terus ibu-ibu di warung tepuk tangan.”
“...Tepuk tangan.”
“Ada yang nangis satu.”
Aku bersandar di kursi ruanganku, menatap langit-langit, dan menyerah dengan cara yang paling waras yang tersisa: tertawa sampai Dara melongok dari ruang sebelah.
“Ya udah,” kataku ke telepon. “Sabtu kita dateng. Bareng. Resmi.”
Jeda di seberang. Lalu: “Berarti udah nggak rahasia.”
“Dimas, sayang—” kata itu meluncur begitu saja, mudah sekali, dan kudengar napasnya berhenti sedetak di seberang sana, bagus, rasakan, ini pembalasan resmi, “—ini nggak pernah jadi rahasia. Kita cuma dua orang terakhir yang dikasih tahu.”
Kebocoran kelima: di luar yurisdiksi kompleks. Pelaku: darah dagingku sendiri.
Kamis malam, aku menelepon rumah untuk memberi tahu orang tuaku secara resmi—niatnya dengan pengantar yang tertata, kronologis, dewasa. Mama mengangkat di dering kedua.
“Ma. Aku mau ngomong sesuatu. Penting.”
“Yang tetangga itu, kan.”
Aku menatap ponselku. “...Aku belum bilang apa-apa.”
“Alena, sayang.” Suara Mama sabar sekali, sabar yang menyinggung. “Tiga bulan terakhir, tiap Mama telepon, ceritamu isinya: ‘tetanggaku masak ini’, ‘tetanggaku benerin itu’, ‘anak tetanggaku lucu banget tadi’. Minggu lalu kamu nyebut kata ‘tetangga’ sembilan belas kali dalam satu telepon. Mama ngitung. Papa yang nyuruh ngitung.”
Dari latar belakang terdengar suara Papa, jauh dari gagang tapi jelas diarahkan ke sana: “SEMBILAN BELAS. MAMA CATET DI KERTAS.”
“Jadi pas kamu bilang ‘penting’,” lanjut Mama, “Mama tinggal nunggu konfirmasi. Gimana, udah resmi? Sejak kapan? Orangnya sopan? Anaknya umur berapa—eh itu Mama udah tahu deng, enam, yang suka gambar-gambar itu kan—”
“MAMA TAHU DARI MANA—”
“Kamu yang cerita, sayang. Kamu cerita semuanya. Kamu aja yang nggak sadar.” Suara Mama menjauh sebentar—“Pah, udah resmi katanya!”—lalu kembali, dan nadanya berubah jadi nada yang membuatku duduk tegak: nada Mama yang sedang membuka buku agenda. “Nah. Sekarang dengar. Papa mau ketemu orangnya. Jangan panik, bukan sidang—”
Suara Papa, masih dari kejauhan, dengan volume yang jelas ingin didengar: “SIDANG.”
“—bukan sidang, cuma kenalan santai. Papa udah mikir caranya biar natural. Katanya dia mau pesen kursi.”
“Pesen... kursi.”
“Ke workshop-nya. Biar bisa lihat cara kerjanya, katanya. ‘Karakter laki-laki kelihatan dari cara dia kerja, bukan dari cara dia jawab pertanyaan.’” Mama menghela napas panjang khas tiga puluh tahun pernikahan. “Papamu nonton dokumenter satu, gayanya udah kayak filsuf.”
Aku memijat pelipis. “Ma. Tolong bilang Papa jangan aneh-aneh.”
“Nggak bisa janji, sayang. Oh, sama satu lagi—” bunyi kertas dibalik, sungguh-sungguh bunyi kertas dibalik, “—kalau misalnya nanti jadi serius, bulan yang bagus itu Mei atau September. Mama udah lingkarin.”
“MAMA.”
“Cuma dilingkarin! Pensil kok! Bisa dihapus!” Jeda. “Tapi jangan dihapus ya.”
Sabtu malam, kami datang ke arisan itu bergandengan tangan—resmi, terang-terangan, disambut tepuk tangan satu ruangan dan satu seruan “AKHIRNYA” berjamaah yang dikomandoi entah siapa. Bu Yayuk memotong tumpeng kecil yang “kebetulan sudah disiapkan dari kemarin, feeling Ibu kuat”. Ibu-ibu bergiliran menyalamiku dengan genggaman dua tangan dan pesan-pesan yang berkisar dari “cocok banget, dari dulu Ibu bilang” sampai “Nak Dimas itu orang baik, empat tahun Ibu perhatiin nggak pernah macem-macem”—dan yang terakhir itu, entah kenapa, membuat mataku panas sedikit, karena dikatakan oleh ibu-ibu yang benar-benar memperhatikan selama empat tahun, yang membawakan makanan di bulan-bulan pertamanya, yang gosipnya ternyata selama ini adalah bentuk kasar dari menjaga.
Pak Harun berpidato singkat tanpa diminta tentang pentingnya “keamanan lingkungan dan kehangatan antarwarga”, sambil sesekali membaca sesuatu dari buku jurnalnya, yang ternyata—TERNYATA—berisi kronologi lengkap kami sejak bulan pertama, dengan tanggal, dengan jam, dibacakan seperti notulen rapat:
“...tanggal empat belas, pukul lima sore, tercatat kejadian asap di blok C-11, ditangani warga C-12 dengan cara melompati pagar, waktu respons lima detik—” ia mengangkat wajah dari jurnal, penuh makna, “—bapak-bapak sekalian, pos satpam saja butuh lima belas.”
Ruangan riuh. Kirana, yang duduk di antara kami dengan piring kue, berdiri di kursinya dan mengumumkan pada hadirin bahwa “SEBENERNYA KIRANA YANG DULUAN TAHU”, disambut sorakan, dan menghabiskan sisa malam menerima pengakuan sebagai penemu resmi—termasuk sesi tanya jawab tidak resmi dengan ibu-ibu (“Kirana seneng?” / “SENENG BANGET. Sekarang kalau Kirana sakit, dokternya tinggal manggil dari jendela”) yang jawabannya besok pasti sudah jadi kutipan resmi kompleks.
Dan aku—aku, drg. Alena Paramitha, yang tiga bulan lalu pindah ke kompleks ini demi ketenangan dan privasi—duduk di ruang tamu Bu Yayuk yang penuh sesak, dengan piring tumpeng di pangkuan, dikelilingi empat puluh orang yang tahu terlalu banyak tentang hidupku, dan tidak menemukan satu pun bagian dari diriku yang keberatan.
Privasi ternyata bukan kebutuhan. Privasi itu pelindung, dan orang cuma butuh pelindung dari hal-hal yang menyakiti.
Di tengah keriuhan itu, Dimas mencondongkan badan ke arahku, dan berbisik dengan suara datar yang cuma untukku:
“Manajemen informasi kita bagus juga.”
“Terkendali banget.”
“Empat puluh delapan jam.”
“Rekor kompleks,” kataku, dan di bawah meja, di antara lipatan taplak, tangannya menemukan tanganku—atau tanganku yang menemukan tangannya, sudah tidak penting lagi hitung-hitungannya—dan menautkannya, jari mengisi sela jari, sambungan paling sederhana yang tidak butuh gergaji apa pun.
Makin ditarik, makin mengunci.
[Bersambung ke Bab 12 — “Sayang, Ambilin Obeng”]