← Chapters Ch. 14 / 40

Chapter Fourteen

Interogasi Papa

POV: Alena


Pesanan itu masuk ke workshop lewat jalur resmi: formulir di situs “Kayu Rana”, diisi lengkap, atas nama “Bpk. Hendrawan P.”

Aku baru tahu tiga hari kemudian, Selasa malam, saat Dimas menyebutnya sambil lalu di sela mengecek PR mewarnai Kirana.

“Minggu depan ada klien mau survei langsung ke workshop. Jarang-jarang. Biasanya orang cukup video call.” Ia membalik halaman buku Kirana. “Pesen kursi baca. Satu. Speknya detail banget—jenis kayu, sudut sandaran, sampai nanya finishing-nya food grade atau bukan. Kursi baca kok food grade. Orangnya teliti. Namanya Pak Hendrawan.”

Sendok di tanganku berhenti.

Hendrawan. Kursi. Survei langsung.

“...Pak Hendrawan siapa?”

“Nggak tahu. Dari kota sebelah katanya.” Dimas mengangkat wajah, menangkap ekspresiku, dan menyipit. “Kenapa?”

“Dimas.” Aku meletakkan sendok. “Papaku namanya Hendrawan.”

Hening. Kirana mengangkat wajah dari mewarnai, mengendus drama dengan bakat alaminya.

“Hendrawan itu nama pasaran,” kata Dimas akhirnya, tapi nadanya sudah nada orang yang mengecek kembali sambungan yang tadinya ia yakin kuat.

“Papaku pensiunan dokter bedah yang hobinya baca di kursi khusus dan cerewetnya soal spesifikasi bikin tukang AC langganan kami minta ganti orang.” Kuraih ponsel, membuka galeri, mencari foto keluarga, dan menyodorkannya. “Ini Hendrawan yang mana?”

Dimas menatap foto itu. Lalu menatap langit-langit. Lalu, dengan ketenangan orang yang baru sadar sudah menandatangani sesuatu tanpa membaca:

“Beliau naruh nama belakangnya cuma inisial.”

“P. Paramitha. DIMAS.”

“Kirain Purnomo.”

Kutelepon Mama detik itu juga. Mama mengangkat dengan latar suara berita malam dan nada yang terlalu siap.

“Ma. Papa mesen kursi.”

“Oh, udah masuk pesanannya? Bagus. Papamu seneng banget loh nemu websitenya, katanya rapi, portofolionya bagus—”

“MA. Itu namanya penyamaran. Itu—Papa mau interogasi pacarku pakai kedok transaksi komersial.”

“Sayang,” suara Mama berpindah ke mode diplomatik yang sudah kukenal seumur hidup, “Papa itu nggak mau kamu tertekan. Kalau kami dateng resmi sebagai calon besan, semua orang tegang, jawabannya hafalan semua. Kalau jadi klien? Papamu bisa lihat aslinya. Cara kerja itu nggak bisa bohong, katanya.”

“Itu kalimat dari dokumenter yang mana lagi.”

“Yang tentang pengrajin katana Jepang. Papamu nontonnya sampe dua kali.” Jeda, lalu dengan nada yang lebih lembut dan justru karena itu lebih berbahaya: “Udah, biarin. Toh kamu bilang sendiri orangnya baik, kan? Kalau memang baik, nggak akan ada masalah. Kalau ada masalah—” bunyi kertas dibalik di kejauhan, “—Mama tinggal hapus lingkaran.”

“JANGAN BAWA-BAWA LINGKARAN.”

Ketika kututup telepon, Dimas sedang menatapku dari seberang meja dengan ekspresi yang sulit dibaca—dan Kirana sedang menatap Dimas dengan ekspresi yang sangat mudah dibaca: anak itu sudah paham situasinya dan sedang menikmatinya luar biasa.

“Ayah mau diperiksa kakeknya Tante,” simpulnya, cerah.

“Disurvei,” koreksi Dimas.

“Ayah deg-degan?”

“Nggak.”

“Bohong,” kata Kirana dan aku, bersamaan.

Dimas menghela napas, mengumpulkan buku mewarnai, dan berkata pada meja: “Kursinya bakal kubikin bagus banget.”

Itu, dalam kamusnya, artinya: deg-degan. Banget.


Hari H jatuh pada Sabtu pagi. Aku menawarkan diri hadir sebagai penengah; ditolak dua pihak sekaligus. Papa menolak lewat Mama (“nanti kamu ganggu proses survei”), dan Dimas menolak langsung (“kalau kamu di sana, aku jadi mikirin kamu; aku butuh fokus”).

Jumat malamnya, aku menyaksikan pemandangan yang belum pernah ada: Dimas gugup.

Bentuknya khas dia, tentu—bukan mondar-mandir atau banyak bicara, melainkan produktivitas yang mencurigakan. Workshop disapu dua kali. Perkakas yang sudah tergantung rapi diturunkan, dilap, digantung lagi dengan urutan baru. Sampel-sampel kayu ditata ulang tiga kali dengan tiga sistem berbeda: per jenis, per warna, dan terakhir—aku memergokinya jam sembilan malam—per harga, sebelum dikembalikan lagi ke sistem pertama.

“Papaku pensiunan dokter,” kataku dari kursi pojokku. “Bukan auditor.”

“Hm.”

“Dia nggak akan ngecek urutan sampelmu.”

“Ini bukan buat beliau. Ini rutinitas.”

“Rutinitas yang baru kulihat pertama kali dalam lima bulan?”

Ia meletakkan lap, menyerah. “...Terakhir kali aku ketemu orang tua pacar itu dua belas tahun lalu. Prosedurnya pasti udah ganti.”

Kirana, yang ikut begadang demi menonton fenomena ini, mengangkat tangan dari lantai tempat ia menggambar: “Kirana ajarin ya, Yah. Kakek-kakek itu sukanya dua: dipuji sama didengerin. Kayak Kirana, tapi versi tua.”

“Dari mana teorinya?”

“Kakek-kakek di kompleks semuanya gitu. Kirana udah riset.” Ia kembali menggambar. “Sama satu lagi: jangan bohong. Kakek-kakek bisa nyium bohong. Idungnya udah tua, tapi khusus bohong masih tajem.”

Dimas menatap putrinya lama, lalu menatapku, lalu berkata dengan nada orang yang baru menerima wejangan berharga: “Anak ini kubayar berapa ya konsultasinya.”

“Nugget,” kata Kirana, tanpa mengangkat kepala. “Yang dinosaurus. Lusa.”

Jadi aku menghabiskan Sabtu pagi di rumah sendiri, mondar-mandir antara jendela dan ponsel, menyaksikan dari kejauhan sebuah sedan tua yang terawat sempurna—Papa dan mobilnya sudah menikah lebih lama dari pernikahannya dengan Mama, kata Mama—parkir di depan rumah sebelah jam sembilan tepat.

Laporan pandangan mata dari posisiku terbatas. Yang bisa kucatat:

Jam 09.00 — Papa masuk. Jabat tangan di teras. Terlalu jauh untuk membaca bibir.

Jam 09.20 — Mereka pindah ke workshop. Pintu workshop, untuk pertama kalinya sejak aku mengenal pemiliknya, ditutup.

Jam 10.05 — Kirana keluar membawa dua gelas es teh, masuk lagi. Di tengah jalan ia melihatku di jendela dan mengacungkan dua jempol dengan wajah penuh rahasia yang tidak menenangkan siapa pun.

Jam 10.40 — Suara mesin serut menyala. Mesin serut? Survei macam apa yang butuh mesin serut?

Jam 11.30 — Tawa. Dua suara. Salah satunya tawa Papa yang khas—pendek, berat, jarang keluar, dan seumur hidupku hanya kudengar untuk tiga hal: cucu temannya, sinetron yang logikanya bolong, dan orang yang berhasil membuatnya kalah argumen secara jujur.

Jam 12.15 — Mereka keluar. Berjabat tangan lagi—lebih lama dari yang pertama. Papa berjalan ke mobilnya, berhenti, berbalik, mengatakan sesuatu. Dimas mengangguk satu kali, dalam.

Sedan itu pergi. Tidak mampir ke rumahku. Tidak mampir ke rumah anaknya sendiri. Lima menit kemudian pesan Mama masuk: “Papa OTW pulang. Katanya nanti malam kalian berdua diundang makan di rumah. BERDUA. Bawa Kirana sekalian berarti bertiga. Papa yang masak. PAPA. YANG. MASAK.”

Papa memasak tiga kali dalam hidupnya, menurut arsip keluarga: saat melamar Mama, saat aku lulus dokter, dan saat kakekku sembuh dari operasi. Papa memasak bukan untuk makan. Papa memasak untuk upacara.

Aku menyeberang ke rumah sebelah dengan kecepatan yang membuat Pak Harun di kejauhan mencatat sesuatu.

Dimas sedang di workshop, membereskan—dan di tengah ruangan, di atas meja kerja, berdiri sebuah kursi baca setengah jadi yang tidak ada kemarin sore.

“Kalian bikin kursinya bareng?”

“Beliau yang minta.” Dimas mengelap tangan, dan aku menangkapnya: bahunya sudah turun, tenang, seperti orang yang sudah melewati ujian dan tahu hasilnya sebelum diumumkan. “Katanya dia nggak mau beli kursi yang nggak dia pahami cara jadinya. Jadi kuajak megang langsung. Milih papan, ngukur, nyerut. Dua jam beliau nanya teknik terus—sudut sambungan, arah serat, kenapa pakai pasak bukan sekrup.”

“Terus interogasinya kapan?”

“Nggak ada interogasi.”

“Papaku nyetir empat puluh menit nyamar jadi klien dan NGGAK ADA INTEROGASI?”

“Ada satu pertanyaan.” Dimas melipat lap itu, meletakkannya, dan menatapku. “Pas lagi nyerut. Beliau nanya, tanpa noleh: ‘Kursi yang bagus itu yang gimana, Nak Dimas?’”

Aku menunggu.

“Kujawab: yang lima puluh tahun lagi masih bisa dipakai, sama orang yang sama, dan makin lama makin pas sama badannya.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Terus beliau diem lama. Terus nyerut lagi. Terus ngomongin arah serat lagi.”

“Itu doang?”

“Sama pas pamit.” Sesuatu melintas di wajah Dimas—sesuatu yang lebih hangat dari biasanya dan sedikit tidak percaya. “Beliau bilang: ‘Kursinya nggak usah dikirim. Bulan depan saya ke sini lagi, kita selesaikan bareng. Sekalian—’” ia berhenti sebentar, seperti mengecek ulang memori itu masih ada, “‘—sekalian saya mau lihat cucu saya latihan nyerut.’”

Aku berdiri di tengah workshop yang berbau kayu dan kopi itu, mencerna kata cucu, dan merasakan mataku panas dengan kecepatan yang tidak sempat dicegat.

“Dia bilang cucu.”

“Hm.”

“Papa bilang cucu. Papaku. Yang dulu pacarku ditanyain IPK-nya sampe dua digit di belakang koma.”

“Kirana emang gampang disayang. Bukan prestasiku.”

“Dimas.” Aku mendekat, meninju pelan dadanya, membiarkan tinjuku menetap di sana jadi telapak. “Terima aja pujiannya. Sekali-sekali. Nggak semua hal harus kamu bantah pakai kerendahan hati.”

Ia memandangiku sebentar. Lalu tangannya naik, menangkup tanganku yang di dadanya itu.

“Papamu,” katanya pelan, “orang pertama dalam empat tahun yang ngobrol sama aku dua jam tanpa sekalipun nanya soal almarhumah. Nggak nanya gimana kejadiannya, nggak nanya aku kuat apa nggak, nggak masang muka kasihan.” Jakunnya naik-turun sekali. “Dia cuma ngajak aku kerja bareng, terus nanya soal kursi. Aku nggak tahu itu strateginya atau bukan. Tapi itu... itu ngobrol paling enak yang pernah kualami sama orang tua siapa pun.”

Itu strateginya, aku hampir berkata. Papa, dokter bedah tiga puluh tahun, yang keahlian pertamanya bukan memotong melainkan membaca ketakutan pasien dan memilih untuk tidak menyentuhnya. Papa mewawancarai orang dengan cara memberi mereka ruang untuk tidak diwawancarai.

Tapi kubiarkan. Ada hasil-hasil pemeriksaan yang lebih baik disimpan dokternya.


Makan malam di rumah orang tuaku malam itu berlangsung seperti festival kecil. Papa memasak gulai kambing dari resep kakek—upacara level tertinggi. Mama mengeluarkan piring yang cuma keluar saat lebaran. Kirana, yang baru pertama kali datang, menaklukkan rumah itu dalam sebelas menit: jam ke-nol ia malu-malu di belakang Dimas; jam 0.11 ia sudah duduk di pangkuan Papa mengomentari koleksi buku anatominya (“ini orang kok dikupas?”) dan Papa—Papa yang seumur hidupku menolak bukunya disentuh—membalik halaman-halamannya sambil menjelaskan nama-nama tulang dengan suara yang biasanya ia simpan untuk pasien anak.

Di dapur, saat aku membantu Mama membawa buah, Mama menyenggolku dengan sikunya.

“Papamu semalem nggak bisa tidur, loh. Gugup.” Ia menata jeruk, santai, mematikan. “Empat tahun kamu sendirian di kota orang, tiap ditanya kapan punya pasangan jawabnya sibuk. Papamu nggak pernah bilang apa-apa, tapi Mama yang tidur sebelahnya tiga puluh tahun—Mama tahu dia kepikiran.”

Aku menata apel dan tidak berkata apa-apa, karena tenggorokanku sedang tidak bisa dipakai.

“Terus tadi siang dia pulang,” lanjut Mama, “masuk rumah, gantung kunci, terus bilang gini: ‘Ma. Anakmu milihnya bener.’” Mama mengangkat piring buah, tersenyum ke arah ruang makan tempat tawa Kirana dan suara berat Papa sedang bersahutan. “Habis itu dia ke dapur, ngeluarin daging dari freezer. Nggak ngomong apa-apa lagi. Ya udah, Mama ngerti. Tiga kali seumur hidup dia masak, Mama hafal artinya.”

Di meja makan, Papa sedang menyuruh Dimas menambah gulai untuk ketiga kalinya—bahasa kasih sayang tertua di republik ini—dan Dimas patuh untuk ketiga kalinya, dan Kirana mengumumkan bahwa gulai kakek “masuk tiga besar” (posisi satu dan dua tetap dipegang ayahnya, “maaf ya, Kek, ini soal profesionalitas”), dan Papa tertawa untuk kali kedua hari itu.

Dan di sela semua itu, Mama meletakkan buku agendanya di meja, terbuka, tidak sengaja yang disengaja, dengan dua lingkaran pensil yang kini—aku melihatnya jelas—sudah ditebalkan pakai pulpen.

Mei. Dan September.

“MAMA.”

“Apa? Mama nggak ngomong apa-apa. Bukunya aja yang kebuka.”


[Bersambung ke Bab 15 — “Cemburu Perdana”]