← Chapters Ch. 25 / 40

Chapter Twenty Five

Pojok Mama

POV: Alena


Toko bingkai itu buka jam delapan, dan aku sudah berdiri di depannya jam delapan kurang sepuluh.

Pemiliknya, bapak-bapak berkacamata tebal yang jelas belum selesai minum kopinya, membukakan pintu sambil bertanya, “Wah, buru-buru banget, Bu? Ada acara?”

“Ada,” kataku. “Semacam itu.”

Aku menghabiskan satu setengah jam di toko itu. Bukan karena bingung memilih—karena aku memilih terlalu banyak: bingkai kayu berbagai ukuran (jenisnya kucocokkan dengan foto yang kupelajari diam-diam dari dinding ruang tengah rumah sebelah selama tujuh bulan), satu papan gabus besar, kertas-kertas, pita, dan satu kotak kaca kecil dengan alas beludru—yang terakhir ini kubeli dengan perasaan gemetar, karena aku belum tahu apakah aku punya hak untuk membelinya.

Bapak pemilik toko membantuku mengangkut semua ke bagasi.

“Buat rumah sendiri, Bu?”

Aku memandangi bagasi yang penuh itu.

“Buat rumah sebelah,” kataku.


Aku belum sampai halaman ketika pintu rumah Dimas terbuka dan sesuatu kecil keluar berlari.

Kirana berhenti di tengah halaman. Aku berhenti di samping mobil, tangan masih memegang gagang bagasi.

Kami saling menatap sembilan meter jauhnya.

Wajahnya bengkak. Piyamanya belum diganti. Dan matanya—matanya bukan mata empat hari terakhir. Mata itu mata yang mau bilang sesuatu tapi belum menemukan cara berdirinya.

Aku tidak bergerak. Aku belajar dari kemarin: jangan kejar.

Kirana menyeberangi halaman sendiri, membuka gerendel pagar yang tidak pernah dikunci itu, dan berhenti satu meter di depanku.

“Tante.”

“Ya, sayang.”

“Kirana minta maaf.” Suaranya bergetar tapi ia menyelesaikannya sampai habis, dagunya terangkat, seperti seseorang yang sudah melatihnya di kepala sepanjang jalan sembilan meter. “Kirana teriak. Kirana bilang Tante mau hapus Mama. Itu jahat. Tante nggak pernah bilang gitu. Kirana yang mikir sendiri.”

“Kirana—”

“Sama Kirana bohong soal rawon.” Ia terus, tidak mau dipotong, jelas ada daftarnya. “Kirana bilang mau masakan Ayah aja. Padahal Kirana mau rawonnya. Kirana sampai laper malemnya.”

Dan di titik itu pertahananku jebol dan aku berjongkok dan air mataku jatuh ke aspal carport, dan Kirana—melihat itu—langsung panik seperti orang dewasa kecil.

“JANGAN NANGIS. Kirana kan udah minta maaf—”

“Ini bukan nangis sedih,” kataku sambil tertawa dan mengusap muka dengan lengan. “Ini nangis lega. Beda. Nanti kalau Kirana udah besar ngerti.”

“Semua yang bagus-bagus itu ‘nanti kalau udah besar’,” gerutunya. “Nggak adil.”

Aku tertawa lagi. Lalu kubuka tanganku—tidak menarik, cuma membuka—dan ia masuk ke dalamnya dengan kecepatan yang membuat kami berdua hampir jatuh ke aspal.

Ia memelukku erat sekali, dan aku memeluknya balik, dan selama beberapa detik itu aku menyadari betapa banyak yang hampir hilang tanpa pernah kuhitung nilainya.

Lalu, dari dalam pelukanku, suara teredam:

“Tante. Bagasinya kok penuh?”


Sebelum bagasi itu dibongkar, ada satu percakapan yang tidak melibatkan Kirana.

Aku menemukan Dimas di dapur, mencuci dua cangkir yang sudah dingin dengan cara orang yang tangannya butuh pekerjaan. Ia tidak menoleh saat aku masuk.

“Kamu ke toko bingkai jam berapa?”

“Delapan kurang sepuluh.”

“Tokonya buka jam delapan.”

“Aku nunggu.”

Keran mengalir sebentar tanpa ada yang bicara.

“Alena.” Ia menutup keran. Masih tidak menoleh. “Tahu nggak apa yang aku pikirin semalem, jam tiga pagi?”

“Apa?”

“Aku mikir: aku kerja pakai kayu tiap hari. Bikin bingkai empat belas itu buatku dua hari. Rak, papan, apa aja—gampang.” Bahunya naik-turun sekali. “Empat tahun. Nggak sekali pun kepikiran bikin satu.”

“Dimas—”

“Bukan karena nggak sempat. Karena aku nggak mau.” Ia berbalik akhirnya, dan matanya merah. “Kalau kubikin, aku harus mandangin fotonya tiap hari. Aku nggak sanggup. Jadi kubiarin satu doang di dinding—yang bisa kulewatin cepat-cepat kalau lagi nggak kuat.” Ia menggeleng. “Anakku tumbuh empat tahun sama satu foto. Dan yang kepikiran bikin empat belas itu orang yang nggak pernah ketemu istriku.”

Kuletakkan tanganku di dadanya.

“Kamu bertahan empat tahun, sendirian, sambil ngurus bayi.” Kutatap matanya. “Orang yang lagi bertahan nggak bisa disuruh sekalian nyembuhin diri sendiri. Itu dua pekerjaan beda.”

Ia menutup matanya sebentar.

“Hari ini kamu ngerjain yang kedua,” kataku. “Telat empat tahun. Nggak apa-apa. Yang penting dikerjain.”


Kami menggelar semuanya di ruang tengah.

Dimas berdiri di ambang dapur dengan dua cangkir yang sudah dingin di tangannya, tidak berkata apa-apa, cuma menonton anaknya mengeluarkan bingkai satu per satu dari kardus dengan mata yang makin lama makin lebar.

“Ini banyak banget.”

“Empat belas,” kataku. “Ukurannya beda-beda. Yang gede dua, sedang lima, kecil tujuh.”

“Buat apa?”

Nah. Ini bagian yang kulatih di mobil sepanjang perjalanan pulang, dan tetap saja tanganku dingin.

Aku duduk di lantai supaya sejajar dengannya.

“Kirana,” kataku, “Tante mau nawarin sesuatu. Kalau Kirana nggak mau, nggak papa banget, Tante bawa pulang lagi semuanya, nggak ada yang marah. Janji?”

Ia mengangguk, waspada.

“Kemarin Kirana bilang, Kirana takut foto Mama diturunin.”

Bahunya menegang.

“Nah. Tante punya ide yang kebalikannya.” Kubuka papan gabus besar itu dan kuletakkan di lantai di antara kami. “Gimana kalau kita bikin Pojok Mama?”

Ia mengerjap. “Pojok apa?”

“Pojok Mama. Di ruang tengah, di dinding yang paling kelihatan itu—” kutunjuk dinding di seberang sofa, dinding yang paling terang kena cahaya pagi, dinding yang setiap orang yang masuk rumah ini akan lihat pertama, “—kita bikin satu tempat khusus. Isinya foto-foto Mama yang bagus, bukan cuma satu. Banyak. Terus barang-barang Mama yang boleh dipajang. Terus tulisan-tulisan, gambar-gambar, apa aja yang Kirana mau.”

Kirana menatap dinding itu. Lalu papan gabus. Lalu empat belas bingkai. Lalu aku.

“Jadi Mama nggak diturunin?”

“Bukan cuma nggak diturunin,” kataku. “Mama dipasang lebih banyak. Lebih besar. Di tempat yang paling kelihatan di rumah ini, biar siapa pun yang masuk ke sini langsung tahu siapa yang tinggal di rumah ini dan siapa yang bikin rumah ini ada.”

Hening.

Dan lalu bibirnya mulai bergetar, dan aku buru-buru menambahkan bagian yang paling penting—bagian yang sudah kususun di toko bingkai, yang membuatku gemetar saat membeli kotak kaca beludru itu:

“Tapi ada syaratnya, Kirana.”

“...Syarat apa?”

“Yang milih fotonya Kirana. Yang milih tempatnya Kirana. Yang mutusin barang mana yang boleh dipajang, Kirana.” Kutatap matanya. “Tante nggak akan naruh apa pun tanpa izin Kirana. Karena ini bukan pojok punya Tante. Ini pojok punya Kirana sama Mama.”

“Terus Tante ngapain?”

“Tante bantu masang. Tante nggak bisa apa-apa selain itu, jujur, palu aja Tante hampir mukul jari sendiri.” Kuangkat bahu. “Dan Tante mau minta izin satu hal.”

“Apa?”

Kuambil kotak kaca kecil beralas beludru itu dan meletakkannya di lantai di antara kami.

“Boleh nggak Tante ikut ngerawat Pojok Mama?” Suaraku hampir tidak keluar. “Bukan ngatur. Ngerawat. Ngelap kacanya kalau berdebu, ganti bunga kalau layu, benerin kalau miring. Boleh nggak?”

Kirana menatap kotak kaca itu.

“Kenapa Tante mau?”

Dan pertanyaan itu—pertanyaan polos yang tidak bermaksud menusuk—menusuk sampai ke tempat yang paling dalam.

“Karena Mama-mu yang bikin rumah ini,” kataku pelan. “Karena Mama-mu yang bikin Ayah jadi orang yang Tante sayang sekarang. Karena Mama-mu yang bikin kamu.” Kuseka mataku. “Tante nggak pernah ketemu dia. Tante nggak akan pernah bisa. Tapi Tante ngerasa berutang banyak banget sama orang yang nggak pernah bisa Tante temui, dan satu-satunya cara Tante bayar—” napasku putus, “—satu-satunya cara Tante bayar cuma ini. Ngerawat pojoknya. Kalau Kirana ngizinin.”

Kirana tidak menjawab lama sekali.

Lalu ia mengambil kotak kaca itu, memeriksanya dari segala sisi, dan berkata:

“Ini buat apa?”

“Itu buat sesuatu yang nggak boleh kena debu. Barang yang paling penting. Tante nggak tahu Kirana punya apa. Kalau nggak ada, ya nggak dipakai.”

Kirana berdiri.

Ia berlari ke kamarnya. Kami mendengar bunyi kotak biskuit ditarik dari bawah kasur.

Ia kembali membawa selembar kertas terlipat.

Kartu Hari Ibu. Gambar perempuan berambut panjang berbaju biru, tulisan spidol yang berjuang: “HARI IBU. BUAT MAMA. DARI KIRANA.”

“Ini,” katanya, meletakkannya di dalam kotak kaca dengan dua tangan, “belum pernah dikasih. Soalnya nggak bisa dikasih.”

Dari arah dapur, kudengar cangkir diletakkan di meja terlalu keras.

“Sekarang bisa,” kataku.


Kami mengerjakannya seharian.

Dimas tidak ikut memilih—ia sengaja, aku tahu, dan aku menghormatinya. Tugasnya cuma yang dimintai: mengebor, memotong papan, mengambil album, dan menjawab pertanyaan.

Dan pertanyaan itu banyak sekali.

“Yah, ini Mama lagi apa?”

“Lagi nyoba naik sepeda motor. Gagal. Nabrak pager tetangga.”

“IH. Terus?”

“Terus dia bilang pagernya yang salah parkir.”

Kirana tertawa sampai terjungkal ke belakang.

Empat belas bingkai itu terisi satu per satu, dan setiap foto ada ceritanya, dan setiap cerita membuat perempuan di foto-foto itu makin lama makin bukan gambar. Aku duduk di lantai memegangi bingkai sementara Kirana memutuskan urutan, dan aku mendengarkan seorang ayah menceritakan istrinya kepada anaknya untuk pertama kalinya, dan aku menangis dua kali dengan diam-diam dan tertangkap dua-duanya.

Menjelang sore, Pojok Mama jadi.

Prosesnya tidak lancar, untuk keadilan sejarah. Ada satu bingkai yang jatuh dan kacanya retak—yang gede, yang paling bagus—dan selama sepuluh detik seluruh ruangan hening dengan cara yang menakutkan sampai Kirana berkata, “nggak papa, kata Ayah kayu bagus itu yang ada bekasnya,” dan Dimas harus keluar ke workshop sebentar dengan alasan mencari kaca pengganti yang jelas-jelas tidak ada.

Ada juga perdebatan tiga puluh menit soal foto mana yang paling tengah. Kirana ingin foto Laras menggendong bayi. Aku mengusulkan foto Laras tertawa di pantai—foto terbaik di seluruh album, wajahnya paling hidup di sana.

Kirana menang, tentu saja. Perempuan-perempuan di keluarga ini punya rekor yang konsisten.

“Yang ini aja tengah,” katanya final. “Soalnya di foto ini ada Kirana-nya.”

Dinding seberang sofa, yang paling kena cahaya pagi. Empat belas bingkai disusun oleh anak enam tahun dengan sistem yang sepenuhnya tidak simetris dan sepenuhnya benar. Di bawahnya, rak kecil yang dibuat Dimas dalam empat puluh menit dari kayu sisa: tempat kotak kaca berisi kartu Hari Ibu, gelang manik-manik, botol parfum yang tinggal seperempat, dan buku catatan bersampul kain.

Dan di pojok kanan bawah papan, ditempel dengan lem stik dan sedikit miring: buku resep sampul cokelat itu—dibuka pada halaman rawon, halaman yang percobaan ketiganya sudah tidak kosong lagi.

“Itu bukunya nggak dipakai masak?” tanya Kirana.

“Dipakai. Nanti kalau mau masak diambil, terus habis itu dibalikin ke situ.” Aku merapikan letaknya. “Biar kelihatan bahwa bukunya masih kepakai. Buku resep yang nggak kepakai itu sedih.”

Kirana mengangguk khidmat.

Lalu ia mundur beberapa langkah, memiringkan kepala, mengamati hasil kerja kami seharian dengan tatapan mandor.

“Ada yang kurang.”

“Apa?”

Ia berlari ke kamarnya lagi. Kembali membawa selembar kertas gambar—yang baru, masih ada bau spidol—dan menempelkannya di ruang kosong di sudut papan.

Kutunduk untuk melihat.

Gambar itu: sebuah rumah. Jendela bulat, cerobong asap, pagar dengan gerbang terbuka lebar.

Di depannya, empat orang.

Satu tinggi berambut jabrik. Satu kecil kepang dua. Satu berambut panjang dengan bulu mata digambar satu-satu, dua belas helai per mata.

Dan satu lagi, digambar sedikit di atas, dengan garis lengkung di sekelilingnya seperti sinar matahari: perempuan berambut panjang berbaju biru.

Di bawahnya tulisan spidol besar-besar:

“RUMAH KAMI. ORANGNYA EMPAT.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Di sebelahku, Dimas berdiri diam sekali, dan ketika akhirnya aku berani menoleh, laki-laki itu sedang memandangi gambar putrinya dengan wajah orang yang seluruh isinya sedang ditata ulang.

“Empat,” katanya, serak.

“Iya,” kata Kirana, sudah kembali sibuk membetulkan bingkai yang miring, santai sekali, seolah baru saja menyampaikan informasi cuaca. “Kan kamarnya nambah. Nggak dibongkar.”


[Bersambung ke Bab 26 — “Bunda”]