← Chapters Ch. 36 / 40

Chapter Thirty Six

Konspirasi Kecil-Kecilan

POV: Kirana


Semua orang di rumah ini kira aku nggak bisa jaga rahasia.

Itu salah. Itu salah banget.

Aku bisa jaga rahasia. Buktinya waktu Ayah bikin radio buat Bunda, aku diem satu bulan penuh. Satu bulan! Padahal setiap hari Bunda datang ngepang rambutku dan aku hampir bilang lima belas kali.

Cuma memang ada satu masalah: kalau aku tahu rahasia, badanku nggak bisa diem.

Aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku jadi lihat-lihat ke arah orangnya. Aku jadi ngomong “nggak ada apa-apa kok” padahal nggak ada yang nanya.

Bunda bilang itu namanya “bahasa tubuh”. Kata Bunda, mulutku bisa diem tapi badanku nyanyi.

Jadi mulai sekarang aku latihan.

Karena rahasia yang ini yang paling besar seumur hidupku.


Ini kejadiannya.

Malam Selasa, aku bangun mau pipis. Jam berapa aku nggak tahu, tapi gelap banget dan Mimi ketiduran duluan.

Terus pas balik dari kamar mandi, aku lihat lampu workshop nyala.

Nah, itu biasa. Ayah kalau lagi banyak kerjaan suka lembur. Tapi bulan ini Ayah janji sama Bunda nggak lembur lagi lewat jam sepuluh, dan Ayah kalau janji itu nggak pernah bohong.

Jadi aku intip.

Aku buka pintu belakang pelan-pelan. Aku jalan pakai kaki jinjit. Aku sudah ahli, karena aku sering latihan waktu mau ngambil biskuit malam-malam.

Terus aku intip dari jendela workshop.

Dan Ayah lagi—

Ayah lagi duduk doang.

Nggak ngapa-ngapain. Duduk di kursi kerjanya, di depan meja, mandangin kertas.

Kertas gede. Kayak kertas gambar tapi ada garis-garisnya banyak banget. Ayah pernah bilang itu namanya “gambar teknik”, dan itu bahasa Ayah waktu masih kerja bikin gedung.

Terus Ayah ngambil pensil. Terus dia gambar satu garis. Terus dia mandangin lagi. Terus dia hapus. Terus dia gambar lagi.

Satu jam.

Aku tahu satu jam soalnya kakiku sampai semutan dan aku harus ganti posisi tiga kali.

Terus Ayah berdiri, terus dia buka laci, terus dia ngeluarin sesuatu yang kecil.

Aku nggak bisa lihat. Terlalu jauh.

Tapi aku lihat mukanya.

Muka Ayah waktu mandangin benda kecil itu, itu muka yang cuma aku lihat dua kali seumur hidup: waktu Ayah lihat foto Mama pas Pojok Mama jadi, dan waktu Bunda kasih Ayah kotak yang jelek itu.

Terus aku ngerti.

Aku langsung ngerti, sumpah, walaupun umurku baru enam—eh, tujuh sekarang, ulang tahunku bulan lalu, kuenya bikinan Ayah bentuk kelinci.

Aku ngerti Ayah lagi bikin apa.

Dan aku hampir teriak.

Untung nggak.

Aku balik ke kamar jinjit-jinjit, aku naik kasur, aku peluk Mimi, terus aku bilang ke Mimi pelan-pelan sekali:

“Mi. Bangun. INI DARURAT.”


Besoknya aku mulai investigasi.

Ini istilah dari film yang pernah ditonton Om Raka waktu nginep. Artinya nyari tahu diam-diam.

Hari 1. Aku pura-pura mau ke workshop minta dibikinin kursi buat Mimi. Ayah bilang boleh. Terus aku muter-muter di dalam sambil pura-pura milih kayu, padahal aku lagi lihat mejanya.

Kertas gede itu nggak ada. Disimpan.

Tapi aku lihat di tempat sampah ada kertas yang diremes-remes. Banyak. Tujuh, aku itung.

Berarti Ayah gagal tujuh kali.

Hari 2. Aku tanya Ayah pura-pura biasa aja pas sarapan.

“Yah, kertas yang gede-gede yang ada garisnya itu namanya apa?”

Ayah berhenti ngunyah. Cuma sedetik. Tapi aku lihat.

“Gambar teknik. Kenapa?”

“Nggak. Nanya doang.” Terus aku makan lagi. Terus aku tanya lagi santai: “Ayah masih bisa bikin?”

“Bisa.”

“Buat apa emang?”

“Buat ngerancang.”

“Ngerancang apa?”

Terus Ayah lihat aku. Lama.

Dan aku, yang katanya badannya suka nyanyi, hari itu badanku diem total. Aku makan nasi goreng dengan wajah paling biasa sedunia. Aku bahkan pura-pura lebih tertarik sama telurnya.

Aku hebat banget hari itu. Aku bangga sama diriku sendiri.

“Ngerancang bangunan,” kata Ayah akhirnya.

“Oh.” Aku nyuap. “Ya udah.”

Dan Ayah balik makan, dan aku menang.

Hari 3. Om Raka datang.

Ini aneh. Om Raka biasanya datangnya setahun tiga kali. Ini sudah yang kedua dalam sebulan.

Mereka di workshop berdua, pintunya ditutup, dan aku nggak bisa masuk karena Bunda ngajak aku ke pasar (yang kayaknya disengaja, tapi Bunda kayaknya nggak tahu apa-apa juga, jadi mungkin beneran kebetulan).

Pas pulang, Om Raka sudah mau pergi. Terus dia lihat aku, terus dia jongkok, terus dia bilang:

“Kirana. Kamu bisa jaga rahasia nggak?”

Dan aku bilang, dengan muka paling serius yang aku punya:

“Om. Aku sudah tahu.”

Om Raka mukanya kaget banget sampai kacamatanya turun.

“...Tahu apa?”

“Yang di kertas gede.”

“YA AMPUN.” Om Raka berdiri terus jongkok lagi. “Dari mana kamu—”

“Aku ngintip hari Selasa.”

Om Raka menutup mukanya pakai tangan. Terus dia ketawa. Terus dia bilang:

“Ayahmu ini merasa dia orang paling rahasia sedunia, padahal seluruh rumahnya udah tahu.”

“Bunda belum tahu,” kataku.

“Kamu yakin?”

“Yakin. Bunda kalau tahu sesuatu, dia nanya-nanya terus. Bunda belum nanya apa-apa.” Aku menghitung dengan jari. “Terus Bunda masih beliin Ayah kaos kaki baru minggu lalu. Orang yang tahu bakal dilamar nggak beliin kaos kaki.”

Om Raka mandangin aku lama.

“Kamu ini umur berapa sih.”

“Tujuh.”

“Astaga.”


Terus aku dikasih tugas.

Ini bagian yang paling seru.

Hari Minggu, Ayah manggil aku ke workshop. Pintunya ditutup. Ayah jongkok di depanku dan ngomong pakai suara pelan.

“Kirana. Ayah mau ngomong serius.”

“Iya.”

“Kamu bisa jaga rahasia satu bulan lagi?”

Dan aku—

Oke, ini bagian yang aku bangga banget sampai sekarang.

Aku bisa aja bilang “AKU SUDAH TAHU KOK”. Bisa banget. Kata-katanya sudah di mulutku.

Tapi terus aku mikir: kalau aku bilang aku sudah tahu, Ayah bakal kaget, terus Ayah bakal mikir dia gagal jaga rahasia, terus Ayah bakal khawatir Bunda juga sudah tahu, terus mungkin Ayah bakal ganti rencana.

Dan yang paling penting: Ayah kelihatan grogi banget.

Aku belum pernah lihat Ayah grogi. Ayah itu orang yang nggak pernah grogi. Waktu ada wartawan datang, Ayah biasa aja. Waktu ketemu Kakek pertama kali, Ayah cuma agak diem.

Sekarang tangannya megangin lutut sendiri, dan dia ngomongnya pelan-pelan kayak orang lagi jalan di lantai licin.

Jadi aku bilang:

“Rahasia apa, Yah?”

Bohong. Aku bohong. Maaf ya, Ayah.

Tapi ini bohong yang baik. Bunda bilang ada bohong yang jahat sama bohong yang jagain. Ini yang jagain. Aku sudah tanya Mimi juga dan Mimi setuju.

Terus Ayah cerita.

Dan aku dengerin sambil pura-pura kaget di tempat yang benar. Aku bahkan bilang “HAH?!” satu kali dan itu aktingku yang terbaik seumur hidup.

Terus Ayah kasih tahu tugasku:

Satu: Jangan bilang ke siapa-siapa. Terutama Bunda. Terutama Bu Yayuk.

Dua: Kalau Bunda nanya kenapa Ayah lembur, jawab “nggak tahu”.

Tiga: Hari-H nanti, aku yang pegang kotaknya.

Aku berhenti napas.

“Kirana yang pegang?”

“Kamu yang pegang.” Ayah ngangguk. “Kamu bagian paling penting.”

Dan aku—

Aku nangis.

Aku nggak bisa nahan. Aku sudah latihan seminggu nggak nunjukin apa-apa dan langsung jebol gara-gara satu kalimat.

“Kirana kenapa—”

“Nggak papa,” kataku sambil ngelap muka pakai lengan. “Ini nangis yang bagus. Bunda bilang ada nangis yang sedih sama nangis yang kepenuhan. Ini yang kepenuhan.”

Terus Ayah meluk aku, lama banget, dan Ayah nggak ngomong apa-apa, dan itu nggak papa karena Ayah memang gitu.


Sebulan itu susah banget.

Ini beneran susah. Lebih susah dari waktu radio.

Soalnya kali ini Bunda hampir tahu tiga kali.

Kali pertama: Bunda nanya kenapa lampu workshop nyala jam sebelas malam.

“Ayah lagi ngerjain pesenan,” kataku.

“Pesenan apa?”

“Nggak tahu. Kirana kan nggak boleh masuk.” (Ini bohong lagi. Maaf, Bunda.)

Kali kedua: Bunda nemu serbuk kayu di jok mobilnya. Dari sepatuku, soalnya aku masuk workshop terus lupa dibersihin.

“Kirana main di workshop ya?”

“Iya.”

“Ayah lagi bikin apa?”

Dan aku bilang: “Rahasia.”

Terus Bunda ketawa dan bilang “Ya udah, nggak usah dikasih tahu.”

DAN BUNDA NGGAK NANYA LAGI.

Ini yang bikin aku hampir nangis lagi. Bunda tuh gitu. Kalau aku bilang rahasia, dia langsung berhenti nanya. Padahal dia orangnya kepo banget. Tapi kalau aku bilang rahasia, dia hormatin.

Aku jadi ngerasa jahat.

Malamnya aku ngomong ke Mimi: “Mi, ini bohong yang jagain kan?”

Mimi diem.

Diem itu artinya iya. Aku sudah kenal Mimi dari bayi.

Kali ketiga—dan ini yang paling gawat: Bu Yayuk.

Aku beli kecap (lagi), terus Bu Yayuk nanya sambil nimbang gula:

“Nduk, ayahmu kok sekarang sering ke toko emas ya? Kemarin Bu Siti lihat.”

Warung itu langsung sepi. Semua ibu-ibu noleh.

Dan aku—

Aku bilang: “Ayah lagi benerin jam tangan Kakek.”

TERUS SEMUA IBU-IBU BILANG “OOOOH” TERUS BALIK NGOBROL LAGI.

Aku bayar kecapnya dengan tangan gemetar, terus aku jalan pulang, terus pas sampai gang aku lompat-lompat sendirian karena SENENG BANGET.

Aku menyelamatkan misi.

Aku, Kirana, tujuh tahun.


Terus aku latihan tiap malam.

Ini beneran. Aku latihan di depan cermin kamar mandi.

Aku latihan muka “biasa aja”. Susah banget. Kalau aku mikirin rahasianya, mulutku naik sendiri di sebelah kanan. Jadi aku latihan mikirin rahasianya sambil mulutku diem.

Aku latihan sepuluh menit tiap malam sebelum gosok gigi.

Terus satu malam Bunda masuk kamar mandi mau ngambil handuk dan lihat aku lagi mandangin cermin sambil megang-megang pipi.

“Kirana ngapain?”

“Latihan.”

“Latihan apa?”

Dan aku bilang—dan ini improvisasi terbaik dalam karierku:

“Latihan senyum. Buat foto kelas.”

Bunda ketawa terus bilang, “Ya ampun, kamu udah cantik, nggak usah latihan.”

Terus dia cium kepalaku terus keluar.

Dan aku berdiri di kamar mandi terus ngerasa dadaku sakit dikit.

Soalnya Bunda baik banget dan aku bohongin terus.

Malam itu aku nggak bisa tidur. Aku peluk Mimi terus aku bisik-bisik:

“Mi. Kalau kita bohong buat bikin orang seneng nanti, itu bohong yang jahat nggak?”

Mimi diem.

Tapi diemnya kali ini agak lama. Jadi aku mikir lagi.

Terus aku ambil keputusan: nanti kalau sudah hari-H, aku bakal minta maaf ke Bunda. Aku bakal bilang: “Bunda, Kirana bohong tiga kali. Ini daftarnya.” Terus aku bakal kasih daftarnya beneran, soalnya aku sudah nyatet di buku gambar halaman paling belakang.

Terus Mimi kayaknya setuju, soalnya habis itu aku bisa tidur.


Yang mau aku bilang di akhir cerita ini:

Semua orang di rumah ini kira aku anak kecil yang nggak ngerti apa-apa.

Padahal aku ngerti banyak.

Aku ngerti Ayah dulu sedih lama banget, terus sekarang enggak. Aku ngerti Bunda tiap pagi datang jam setengah tujuh padahal kliniknya jam sembilan, artinya dia datang bukan karena harus. Aku ngerti Mama nggak ada di sini tapi ada di dinding dan di buku resep dan di aku.

Dan aku ngerti kenapa Ayah bikin kertas gambar itu tujuh kali sampai gagal.

Soalnya kalau kamu mau bikin rumah buat orang yang kamu sayang, kamu nggak boleh asal.

Ayah pernah bilang gitu waktu ngajarin aku nyerut kayu:

“Kirana. Kalau bikin barang buat orang lain, boleh cepet. Kalau bikin buat orang yang kamu sayang, harus bener.”

Waktu itu aku nggak ngerti.

Sekarang aku ngerti.

Dan aku bakal jaga rahasianya sampai hari-H, walaupun badanku nyanyi, walaupun aku senyum-senyum sendiri di sekolah sampai Rara nanya aku kenapa.

Aku bilang ke Rara: “Nanti bulan depan aku ceritain. Sekarang belum boleh.”

Terus Rara bilang: “Ih pelit.”

Nggak papa dibilang pelit.

Aku kan bagian paling penting.


[Bersambung ke Bab 37 — “Blueprint”]