← Tetangga Sebelah Jam 3 Pagi

Chapter Thirty Nine

Pagar Dibongkar

POV: Alena


Renovasi itu dimulai bulan Maret dan seharusnya selesai empat bulan.

Selesainya tujuh.

Dimas sudah memperkirakannya sejak awal—“empat bulan kalau lancar, tujuh kalau realistis”—dan ternyata realistis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa pun yang melibatkan tukang, cuaca, dan seorang perancang yang tidak bisa membiarkan satu sudut pun meleset.

Yang tidak diperkirakan siapa pun: kompleks ikut campur.


Hari pertama, tujuh orang datang tanpa diminta.

Pak RT membawa kopi. Tukang genteng keponakan Bu Yayuk—yang ternyata namanya Toni dan ternyata memang tukang bangunan beneran, bukan cuma tukang genteng—datang membawa dua temannya dan langsung menawarkan harga borongan yang Dimas tolak karena kemahalan, lalu mereka berdebat empat puluh menit dan berakhir dengan harga yang menurut Toni “rugi, tapi ya sudah, tetangga”.

Bu Yayuk membuka layanan katering tidak resmi: nasi bungkus untuk tukang, setiap hari, dibayar Dimas dengan harga yang selalu dikurangi Bu Yayuk sepihak.

Pak Harun memindahkan pos jaganya ke depan blok C selama tujuh bulan “demi keamanan material bangunan”.

Dan Kirana menunjuk dirinya sendiri sebagai pengawas proyek, lengkap dengan buku catatan dan helm plastik mainan, dan setiap sore melakukan inspeksi sambil bertanya pada Toni hal-hal seperti “ini kok belum lurus” dengan nada yang membuat Toni memanggilnya “Bu Bos” sampai hari terakhir.


Tujuh bulan itu, kami bertiga tinggal di rumahku.

Ini keputusan praktis: rumah C-12 direnovasi lebih berat, jadi kami mengungsi ke C-11 yang kerjanya belakangan. Tapi praktis atau tidak, artinya untuk pertama kalinya kami tinggal serumah—tiga orang, satu atap, tujuh bulan sebelum menikah, di rumah yang dulu dapurnya perawan.

Bu Yayuk sempat berkomentar. Sekali. Di warung.

Yang membungkamnya bukan aku, bukan Dimas.

“Bu Yayuk,” kata Bu Ratna, yang kebetulan sedang menginap dan kebetulan sedang membeli gula, “rumahnya lagi dibongkar. Mau tidur di mana? Di genteng?”

Kasus ditutup. Tidak pernah dibuka lagi.


Yang kupelajari dari tujuh bulan itu, dan yang tidak diajarkan buku mana pun tentang pernikahan:

Tinggal serumah dengan orang yang kau cintai itu tidak romantis. Itu administratif.

Aku belajar bahwa Dimas tidak bisa tidur kalau ada pintu yang tidak terkunci—bukan paranoid, cuma tidak bisa. Ia belajar bahwa aku meninggalkan gelas di mana-mana, secara harfiah di mana-mana, dan bahwa itu tidak akan berubah dan ia harus memilih antara mengomel seumur hidup atau menyerah. (Ia menyerah di bulan kedua, dan menaruh nampan kecil di tiga titik strategis rumah, yang menurutku adalah bentuk cinta paling tinggi yang pernah kuterima dari siapa pun.)

Aku belajar bahwa ia bangun jam lima setiap hari tanpa alarm, dan bahwa dua puluh menit pertamanya selalu sunyi total, dan bahwa itu bukan sedang marah—itu cuma dia sedang menyala pelan-pelan.

Ia belajar bahwa aku bicara dalam tidur, dan sebagian besar isinya adalah instruksi medis.

Dan kami berdua belajar bahwa anak tujuh tahun yang tinggal serumah dengan dua orang dewasa yang saling mencintai akan mengembangkan kemampuan interupsi yang setara sistem keamanan bandara.


Pembongkaran pagar itu dijadwalkan hari Minggu, bulan keenam.

Secara teknis, pagar itu seharusnya sudah dibongkar di bulan pertama—itu urutan yang benar, kata Toni, karena akses material lewat halaman.

Dimas menundanya lima bulan.

“Kenapa ditunda?” tanyaku, saat akhirnya kusadari jadwalnya aneh.

“Karena kalau dibongkar bulan pertama, dibongkarnya sama tukang, pagi-pagi, sambil semua orang sibuk.” Ia mengangkat bahu. “Aku mau itu jadi acara.”


Maka jadilah acara.

Minggu pagi, jam delapan, halaman blok C-11 dan C-12 penuh orang: seluruh kompleks, Raka dan istrinya, Sekar, Papa dan Mama yang datang dari kota sebelah dengan mobil sedan tua itu, Dara dan seluruh staf klinik, dan Bu Ratna di kursi—kursi kayu berukir dari rumahnya sendiri, dibawa Sekar dengan mobil, karena “Ibu nggak mau duduk di kursi plastik buat acara sepenting ini”.

Toni menyerahkan palu godam kepada Dimas.

Dimas menyerahkannya kepadaku.

“Aku?”

“Kamu yang dulu gedor pintuku,” katanya. “Wajar kamu juga yang bongkar pagarnya.”

“Dimas, ini berat banget—”

“Bareng,” katanya, dan meletakkan tangannya di gagang, di atas tanganku.

Tangan di atas tangan. Seperti mengiris bawang. Seperti mengepang rambut. Seperti setahun terakhir.

“KIRANA JUGA!”

Anak itu menyeruak masuk di antara kami dan memegang gagang palu di bagian bawah dengan dua tangan.

Jadi kami bertiga.

Dan kompleks Griya Anggrek menghitung mundur dari lima, dan Bu Yayuk merekam dari tiga sudut berbeda secara bergantian, dan pada hitungan satu kami mengayunkan palu itu—terlalu pelan, canggung, sama sekali tidak sinkron—ke tembok pembatas setinggi pinggang yang sudah dilubangi dulu oleh Toni supaya bisa runtuh oleh tenaga tiga orang amatir.

Bata itu jatuh.

Dan halaman jadi satu.

Sorakan meledak. Kirana berteriak paling kencang. Pak Harun meniup peluitnya, entah kenapa. Bu Yayuk menangis dan langsung menyalahkan debu.

Dan aku berdiri di halaman yang baru menyatu itu memandangi puing kecil di kakiku, dan menyadari bahwa aku sudah sebelas bulan menyeberangi garis itu setiap hari, dan bahwa garis itu tidak pernah benar-benar ada sejak lama sekali.

Yang baru saja kami bongkar cuma batanya.


Gerendel berkarat itu dilepas oleh Dimas sendiri, sore harinya, dengan obeng, pelan-pelan, dan disimpan.

Sekarang gerendel itu ada di rak Pojok Mama, di kotak kaca, di sebelah kartu Hari Ibu yang tidak bisa dikirimkan.

Kirana yang meletakkannya di sana.

“Kenapa ditaruh situ?” tanya Dimas.

“Soalnya ini benda penting,” kata Kirana. “Kalau nggak ada pagar ini, Bunda nggak bisa masuk.”

Ia menutup kaca kotak itu.

“Sama Mama yang nyuruh pagarnya rendah, kan?” tambahnya. “Kata Ayah gitu di kertas gambar.”

Dan Dimas berdiri di ruang tengahnya sendiri dan tidak bisa menjawab selama beberapa detik yang cukup panjang untuk semua orang perhatikan dan cukup sopan untuk tidak ada yang komentari.


Kami menikah di halaman itu, bulan kesembilan, tiga bulan setelah pagarnya dibongkar dan dua minggu setelah renovasi resmi selesai.

Sederhana. Ini bukan kerendahan hati—ini keputusan yang kami ambil setelah perdebatan panjang dengan Mama, yang sudah melingkari bulan Mei di agendanya selama satu setengah tahun dan memiliki visi yang melibatkan gedung, dan yang akhirnya menyerah ketika Papa berkata dari balik korannya:

“Ma. Anaknya mau nikah di halaman rumah yang dibangun calon suaminya sendiri. Mama mau ngalahin itu pakai gedung?”

Mama menangis dan mengalah, dan sebagai kompensasi diberi kewenangan penuh atas dekorasi, yang ia gunakan untuk mengubah halaman itu menjadi sesuatu yang membuatku hampir tidak mengenalinya: lampu-lampu gantung dari dahan ke dahan, kain putih, dan bunga di setiap permukaan datar yang tersedia.

Yang tidak boleh disentuh dekorasi: satu meja panjang di tengah halaman.

Enam kursi. Jati. Buatan tangan. Dikerjakan Dimas selama tiga bulan di sela pekerjaan lain, dan yang di bawah salah satu kursinya—kursi paling ujung—ada ukiran kecil yang cuma diketahui empat orang: A · D · K, dan sebuah tanggal.


Aku memakai kebaya sederhana warna gading.

Bukan kebaya Bu Ratna—ukurannya memang tidak cocok, dan lagipula benda itu terlalu berharga untuk dipakai orang yang bukan pemiliknya. Kebaya itu tetap di kotaknya, di lemari Bu Ratna, sesuai keinginannya.

Yang kupakai: bros perak.

Dipasangkan oleh Sekar di kamar rias—yang dulunya rumahku, yang sekarang jadi sayap kanan Rumah Kita—dengan tangan yang gemetar hebat, persis seperti yang ia ceritakan lewat telepon setahun lalu.

“Gemetar, Mbak. Sama kayak dulu.”

“Nggak apa-apa. Pelan-pelan.”

Ia memasangnya. Memundurkan badan. Mengamati.

Lalu ia menutup mulutnya dengan tangan dan berkata, dengan suara yang hancur total:

“Nah. Udah.”

Dan aku memeluk adik almarhumah istri calon suamiku di kamar rias, dan kami berdua merusak riasan yang baru selesai dikerjakan selama satu jam, dan perias itu menghela napas panjang dan mulai lagi dari awal tanpa berkata apa-apa karena—kata dia kemudian—“ini bukan yang pertama kali saya lihat, Bu, tapi ini yang paling parah”.


Yang kuingat dari upacara itu, potongan-potongan:

Kirana berjalan paling depan, membawa cincin di kotak jati bertatah A·D·K, dengan wajah yang begitu serius sampai beberapa tamu tertawa dan beberapa lagi menangis. Ia tidak menoleh kanan-kiri sekali pun. Ia sedang bertugas.

Papa menggandengku menyeberangi halaman, dan tepat sebelum menyerahkan tanganku, ia berbisik: “Kursinya udah selesai, ngomong-ngomong. Yang kita bikin bareng. Papa pakai tiap malam.”

Ijab kabul yang selesai dalam satu tarikan napas, dan suara Dimas yang tidak bergetar sedikit pun—laki-laki itu, yang gemetar dua percobaan saat memasangkan cincin, mengucapkan kalimat itu dengan suara paling tenang di seluruh halaman.

Dan Bu Ratna, di barisan paling depan, di kursi kayu berukirnya, duduk di antara Papa dan Mama—di barisan keluarga inti, karena aku yang meminta, dan karena ketika Dimas mendengar permintaan itu ia harus keluar ruangan selama tiga menit.

Ia menangis sepanjang upacara. Tidak berhenti sekali pun.

Dan ketika semuanya selesai, ketika kami menyalami satu per satu, dan tiba giliran Bu Ratna—ia tidak mengatakan apa pun tentang Laras. Tidak sepatah kata pun. Ia cuma memegang wajahku dengan dua telapak tangan tuanya, seperti selalu, dan berkata:

“Cantiknya.”

Dan itu, entah bagaimana, adalah kalimat paling lengkap yang pernah kudengar.


Ada satu momen lagi yang harus kucatat, karena kalau tidak kucatat aku takut lupa detailnya, dan detailnya penting.

Menjelang sore, saat tamu sudah mulai berkurang dan musik sudah dimatikan, aku mencari Kirana dan tidak menemukannya di halaman.

Kutemukan dia di dalam rumah. Di ruang tengah. Berdiri sendirian di depan Pojok Mama, masih dengan gaun pestanya, memegang satu tangkai bunga yang jelas dicabut dari dekorasi meja.

Aku berhenti di ambang pintu.

Ia tidak mendengarku.

“Ma,” katanya, pada dinding. “Udah selesai acaranya.”

Kupegang kusen pintu.

“Bunda cantik banget tadi. Ada bros dari Uti.” Ia meletakkan bunga itu di rak, di depan kotak kaca. “Terus Ayah nangis dikit tapi pura-pura kelilipan. Kirana lihat.”

Ia diam sebentar.

“Kirana juga sayang Mama,” katanya. “Tetep. Nggak berkurang.”

Lalu ia membetulkan letak bunga itu supaya lurus—gerakan yang persis gerakan ayahnya—dan berbalik.

Dan melihatku di ambang pintu.

Kami saling menatap tiga detik.

“Bunda ngintip,” katanya, tanpa nada menuduh.

“Iya. Maaf.”

Kirana berjalan ke arahku, dan mengulurkan tangannya, dan aku menerimanya.

“Nggak papa,” katanya. “Sekarang kan Bunda keluarga.”

Dan kami keluar ke halaman bergandengan, dan aku memperbaiki riasanku untuk ketiga kalinya hari itu di kamar mandi, dan perias itu—yang sudah menyerah sejak siang—cuma menyerahkan tisu tanpa berkata apa-apa.


Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah tenda dibongkar dan piring-piring dikembalikan ke Bu Yayuk dan Kirana tidur dengan gaun pestanya masih terpasang karena menolak dilepas—

—kami duduk di meja panjang itu. Berdua. Di halaman yang menyatu, di bawah lampu-lampu gantung yang belum sempat diturunkan.

Enam kursi. Dua terisi.

“Empat sisanya buat siapa?” tanyaku.

Dimas memutar cangkirnya.

“Kirana satu. Bu Ratna satu kalau nginep.”

“Terus dua lagi?”

Ia tidak menjawab.

Kutunggu.

“Alena.”

“Hm.”

“Aku nggak mau maksa apa-apa. Kalau kamu nggak mau, atau belum, atau nggak pernah—nggak apa-apa. Aku serius.”

Kupegang tangannya di atas meja.

“Aku juga nggak mau maksa,” kataku. “Tapi kalau nanti ada, kursinya udah ada.”

Dan Dimas menggenggam tanganku, dan mengangguk sekali, dan kami duduk di meja itu sampai lampu-lampunya mati sendiri karena timer yang dipasang Mama.


[Bersambung ke Bab 40 — “Epilog: Jam Tiga Pagi (Lagi)”]