← Chapters Ch. 28 / 40

Chapter Twenty Eight

Slow Dance di Workshop

POV: Dimas


Kebiasaan menghitung itu bukan hal yang kupilih. Ia datang bersama pekerjaan.

Kayu tidak memaafkan pembulatan. Kalau kau bilang “kira-kira dua sentimeter”, sambunganmu akan longgar, dan longgar sedikit hari ini akan jadi goyang lima tahun lagi. Jadi aku mengukur. Selalu. Dua kali sebelum memotong, sekali sesudah.

Kebiasaan itu menyebar ke seluruh hidupku tanpa izin: aku tahu Kirana lahir 2.847 hari lalu. Aku tahu berapa hari sejak pemakaman, meskipun sudah lama berhenti menghitungnya dengan sengaja—angkanya datang sendiri kalau aku sedang tidak menjaga pikiran.

Dan aku tahu bahwa tanggal sembilan setiap bulan adalah tanggal ketika seorang dokter gigi menarik lengan bajuku di lobi kliniknya sendiri dan mengubah arah hidupku.

Bulan ini yang kedelapan.

Delapan bulan. Dua ratus empat puluh tiga hari, karena ada dua bulan yang tiga puluh satu.

Aku tidak pernah membahas tanggal sembilan dengan Alena. Kupikir itu jenis hal yang cuma dicatat oleh orang yang otaknya rusak oleh pekerjaan. Sampai bulan ketiga, ketika di tanggal sembilan aku menemukan sticky note di gagang gergaji—“Selamat 3 bulan, Pak Tukang. Nggak usah ngasih apa-apa, aku cuma pengen kamu tahu aku ngitung juga. — A.”

Ternyata dua orang yang menghitung diam-diam itu lebih memalukan daripada satu.


Bulan kedelapan ini, aku menyiapkan sesuatu.

Bukan barang besar. Aku sudah belajar dari kotak kunci: yang membuat sebuah benda berat bukan ukurannya.

Sebuah radio.

Bukan radio betulan—maksudku, kotaknya. Modulnya kubeli jadi, murah, dari toko elektronik. Yang kukerjakan casing-nya: jati sisa proyek meja Mbak Karin, kotak kecil seukuran dua telapak tangan, dengan kisi-kisi speaker yang kupahat manual selama dua malam karena mesin tidak bisa masuk sudutnya. Tombolnya dari kayu sonokeling, dibubut, warnanya gelap kontras.

Kenapa radio: karena tiga bulan lalu, di dapur, Alena bercerita bahwa rumah masa kecilnya selalu ada radio menyala di dapur, dan ibunya menyetel stasiun lagu-lagu lama, dan ia bisa hafal seluruh lagu era 60-70an tanpa pernah berniat menghafalnya.

Ia menceritakan itu sambil mengaduk sesuatu, sambil lalu, tidak menyangka ada yang mencatat.

Aku mencatat.

Yang tidak kuperhitungkan: membuat kotak radio ternyata lebih sulit daripada membuat lemari.

Lemari itu besar; kesalahan setengah milimeter di lemari akan tersembunyi di antara sambungan. Kotak sebesar dua telapak tangan tidak punya tempat sembunyi. Semuanya kelihatan. Sudut yang kurang siku akan terlihat dari jarak dua meter oleh mata orang yang bahkan tidak mengerti kayu.

Kubuat tiga kali.

Yang pertama sudutnya meleset, kubakar di tungku belakang. Yang kedua bagus tapi kisi-kisinya terlalu rapat sehingga suaranya teredam—cacat yang cuma bisa kuketahui setelah modulnya dipasang, artinya seluruh badan kotak harus dibongkar. Kubongkar. Kayunya tidak bisa dipakai lagi.

Yang ketiga jadi pada malam ketujuh.

Kirana, yang mengetahui proyek ini sejak awal karena mustahil menyembunyikan apa pun dari anak itu, ikut memantau perkembangannya dengan disiplin auditor.

“Yang ini bagus, Yah.”

“Hm.”

“Bunda pasti suka.”

“Belum tentu.”

“Pasti,” kata Kirana, dengan kepastian penuh anak enam tahun. “Bunda kalau dikasih barang buatan Ayah, tangannya selalu dua. Kalau orang megang pakai dua tangan itu artinya sayang. Kirana perhatiin dari dulu.”

Aku berhenti mengamplas dan menatap putriku, dan sekali lagi menerima kenyataan bahwa anak ini melihat hal-hal yang butuh waktu tiga puluh dua tahun bagiku untuk melihatnya.


Tanggal sembilan jatuh pada hari Jumat.

Kirana menginap di rumah Bu Ratna—dijemput Sekar sore itu, dengan tas kecil berisi baju ganti dan Mimi, dan pesan perpisahan yang disampaikan dari jendela mobil: “AYAH JANGAN LUPA MAKAN. BUNDA JANGAN LUPA NGINGETIN AYAH MAKAN.”

Rumah jadi sepi dengan cara yang dulu biasa dan sekarang terasa aneh.

Makan malam kami berdua, jam tujuh, di meja yang kursi ketiganya kosong. Alena bercerita tentang pasien yang mencabut giginya sendiri di rumah pakai benang dan datang ke klinik dengan bangga. Aku bercerita tentang pesanan lemari yang klien-nya berubah pikiran empat kali.

Percakapan biasa. Malam biasa.

Lalu jam delapan, kubilang, “Sini sebentar,” dan menariknya ke workshop.


Workshop malam hari punya sifat yang berbeda dari workshop siang.

Siang, ruangan ini tempat kerja: terang, berdebu, penuh urusan. Malam, kalau cuma lampu gantung kuning di tengah yang menyala, ruangan ini menyusut. Sudut-sudutnya gelap. Gergaji-gergaji yang tergantung di dinding jadi siluet. Bau serutan kayu jadi lebih tajam karena tidak ada bau lain yang bersaing.

Alena masuk sambil mengeringkan tangan dengan lap piring.

“Kenapa? Ada yang harus dipeg—”

Ia berhenti.

Karena di tengah meja kerja yang sudah kubersihkan sore tadi, di atas kain lap yang kutata seperti alas, berdiri kotak radio itu.

“Dimas.”

“Delapan bulan,” kataku.

Ia meletakkan lap piring itu di kursi—kursinya, kursi pojok—dan mendekat dengan cara orang mendekati sesuatu yang mungkin akan menghilang kalau bergerak terlalu cepat.

Kedua tangannya terulur. Selalu dua tangan.

“Ini... radio?”

“Modulnya beli. Kotaknya aku.”

Ia memutar benda itu perlahan di tangannya. Jarinya menyusuri kisi-kisi pahatan itu, satu per satu, dan aku menahan diri untuk tidak menjelaskan bahwa bagian itu memakan dua malam, karena menjelaskan berarti menagih.

“Kisi-kisinya... ini dipahat manual?”

“Hm.”

“Berapa lama?”

“Nggak lama.”

Ia mengangkat wajah dan menatapku dengan mata yang sudah tahu aku berbohong dan memutuskan untuk mengizinkannya.

“Nyalain dong.”

Kuputar tombol sonokeling itu. Ada bunyi klik kecil—bunyi yang kuhabiskan waktu satu jam untuk menyetel supaya terasa mantap, bukan murahan—lalu desis statis, lalu suara.

Stasiun lagu lama. Sudah kucari frekuensinya semalam.

Lagu yang sedang diputar bukan lagu yang kupilih—aku tidak punya kendali atas itu, ini radio, bukan playlist—tapi ternyata alam semesta sedang berbaik hati: sebuah lagu lambat berbahasa Inggris, tahun enam puluhan, dengan suara perempuan yang direkam di studio yang kualitasnya lebih rendah dari ponsel mana pun sekarang, dan justru karena itu terdengar seperti datang dari jauh sekali.

Alena berhenti bergerak.

“Aku tahu lagu ini,” bisiknya. “Ya Tuhan. Aku tahu lagu ini. Ibuku—” ia menutup mulutnya. “Ini lagu yang selalu diputer di dapur. Aku bahkan nggak tahu judulnya. Aku cuma tahu bunyinya.”

“Hm.”

“Kamu—” ia menoleh padaku, “—kamu inget aku cerita?”

“Bulan April. Kamu lagi ngaduk sup. Kamu bilang rumahmu dulu radionya nggak pernah mati dari pagi sampai malem, dan ibumu nyanyi salah lirik terus tapi pede.”

Alena meletakkan radio itu kembali ke meja dengan sangat hati-hati.

Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berdiri begitu selama lima detik.

“Kamu nggak boleh gitu,” katanya dari balik tangannya. “Nggak adil. Aku belum siap. Aku bahkan belum ngasih kamu apa-apa bulan ini.”

“Kamu ngasih tiap hari.”

“Ngasih apa?”

“Alasan buat mandi sore,” kataku. “Empat tahun aku mandi sore cuma kalau mau keluar.”

Ia tertawa dari balik telapak tangannya—tawa yang basah—dan ketika akhirnya menurunkan tangannya, matanya merah.

Dan di situ aku melakukan sesuatu yang kurencanakan sejak dua minggu lalu dan yang selama dua minggu itu terus kupikir bodoh, tapi malam ini, dengan lagu itu, entah kenapa jadi satu-satunya hal yang masuk akal untuk dilakukan.

Kuulurkan tanganku.

Alena menatap tangan itu.

“...Apa ini?”

“Menurutmu?”

“Dimas Aryasatya.” Ia menegakkan badan. “Kamu—kamu ngajak dansa?”

“Kalau ditolak juga nggak papa.”

“KAMU?”

“Nggak usah diulang-ulang.”

“Kamu yang di kondangan Bima berdiri di pojok deket meja prasmanan selama dua jam?”

“Itu strategi logistik.”

“Kamu yang bilang ‘orang joget itu buang energi buat hasil yang nggak keliatan’?”

“Aku inget bilang gitu.”

“Terus sekarang—”

“Alena.” Tanganku masih terulur. “Lagunya keburu habis.”

Dan ia meletakkan tangannya di tanganku.


Aku harus jujur: aku tidak bisa berdansa.

Yang kutahu cuma satu, dan itu pun dari dua puluh tahun lalu, dari acara pernikahan sepupu, ketika seorang bibi memaksaku ikut ke lantai dansa dan mengajari satu-satunya pola yang menurutnya cukup untuk seumur hidup laki-laki: kotak. Empat langkah. Kiri, maju, kanan, mundur. Ulangi sampai lagunya habis.

Jadi itu yang kulakukan.

Satu tanganku di punggungnya, satu memegang tangannya, dan kami bergerak dalam kotak empat langkah di ruang seluas tiga kali empat meter yang lantainya berserakan serutan kayu, di bawah satu lampu gantung kuning, dengan radio buatan tangan yang bunyinya sedikit statis di frekuensi rendah karena speakernya murah.

Alena tidak bicara.

Itu yang membuat malam itu berbeda dari semua malam kami sebelumnya. Perempuan ini selalu bicara. Ia mengisi ruangan; itu keahliannya. Bahkan diamnya biasanya diam yang penuh komentar.

Malam itu ia diam betulan. Kepalanya bersandar di bahuku, tangannya di punggungku, dan satu-satunya suara adalah lagu tahun enam puluhan itu dan gesekan sepatu kami di serutan kayu.

Kotak. Kiri, maju, kanan, mundur.

Aku menghitung langkahnya karena aku tidak tahu cara berhenti menghitung. Empat, empat, empat. Lalu di suatu titik hitungannya lepas dan aku tidak tahu di detik keberapa, dan aku baru menyadarinya ketika menyadari aku sudah tidak menghitung lagi.

Itu jarang terjadi.

Terakhir kali otakku diam seperti ini—benar-benar diam, tanpa satu pun angka berjalan di belakangnya—adalah di teras, pagi hari, saat menjawab pernyataan seseorang dengan sebuah kotak berisi kunci.

“Dimas.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong sesuatu, tapi aku takut kalau aku ngomong, momennya rusak.”

“Ngomong aja.”

Ia mengangkat kepalanya sedikit, cukup untuk bicara di dekat telingaku.

“Aku nggak pernah sebahagia ini,” katanya. “Seumur hidup. Sebelum-sebelumnya aku pikir aku bahagia, dan aku nggak bohong waktu itu, aku emang bahagia. Tapi ini beda levelnya. Ini kayak—” ia mencari kata, “—kayak aku baru tahu ternyata ada lantai dua.”

Aku tidak menjawab, karena tidak ada yang perlu dijawab.

Kami terus bergerak dalam kotak itu. Lagu berganti. Yang baru lebih cepat sedikit, dan kami mengabaikannya, tetap di tempo yang sama.

“Kamu gimana?” tanyanya.

“Apanya?”

“Kamu bahagia nggak?”

Dan aku membuka mulut untuk menjawab “hm”, karena itu jawaban standar, karena itu jawaban aman, karena itu yang selalu kupakai—

—dan tidak jadi.

“Aku takut,” kataku.

Kata-kata itu keluar sebelum kuperiksa. Kaget sendiri mendengarnya.

Alena berhenti bergerak.

“Takut?”

“Bukan—” kutarik napas. “Bukan takut yang gimana-gimana. Nggak usah dipikirin.”

“Dimas.” Ia mendongak. “Pasal enam.”

Kalau takut harus bilang.

Perjanjian yang ditandatangani tiga orang di meja makan dengan spidol hitam dan ditempel di kulkas, yang kupikir dibuat untuk anak enam tahun, sedang dipakai untuk menagihku.

Aku menatap wajahnya di bawah lampu kuning itu—delapan bulan, dua ratus empat puluh tiga hari, seorang perempuan yang sedang berdiri di workshopku dengan serutan kayu menempel di ujung sepatunya—dan yang kurasakan di dada bukan hanya hangat.

Ada yang lain. Ada rasa yang selalu datang belakangan, setiap kali sesuatu terlalu baik, seperti tagihan yang menyusul barang.

“Nanti,” kataku. “Nggak malam ini. Aku janji nggak akan kusimpen. Tapi jangan malam ini.”

Alena menatapku lama.

Lalu ia mengangguk, sekali, dan meletakkan kepalanya kembali ke bahuku.

“Oke,” katanya. “Nanti. Tapi jangan lama-lama, ya.”

“Hm.”

Radio itu terus menyala. Kami terus bergerak dalam kotak. Kiri, maju, kanan, mundur.

Dan aku memeluknya sedikit lebih erat, karena entah kenapa, dari suatu tempat yang tidak bisa kuukur dengan alat apa pun, ada bagian dari diriku yang malam itu mulai menghitung mundur.


[Bersambung ke Bab 29 — “Kayu Rana Naik Kelas”]