← Chapters Ch. 5 / 40

Chapter Five

Dokter Cantik dan Bapak-Bapak

POV: Alena


Ada yang perlu diluruskan tentang pekerjaanku: menjadi dokter gigi anak itu delapan puluh persen ilmu kedokteran gigi, dua puluh persen ilmu sihir panggung.

Pasien pertamaku pagi ini, Gilang, tujuh tahun, datang dengan reputasi yang mendahuluinya: sudah diusir halus dari dua klinik, pernah menggigit seorang dokter hingga membekas seminggu, dan menurut ibunya yang kelihatan sudah berkurang umurnya lima tahun, “kalau lihat kursi dokter gigi bisa jerit satu gedung dengar.”

Gilang masuk ke ruanganku dengan kuda-kuda petinju.

Sebelas menit kemudian, Gilang duduk manis di kursi periksa dengan mulut terbuka lebar, memegang cermin kecil, dan ikut serius mengamati giginya sendiri sementara aku bekerja, karena kami sedang menjalankan “misi rahasia mencari kuman yang menyamar” dan Gilang adalah “detektif utamanya, aku cuma asisten”.

“Ada satu lagi, Dek. Geraham kiri. Penyamarannya bagus banget ini.”

“Tangkap, Dok! Jangan kasih ampun!”

Ibunya menonton dari kursi penunggu dengan ekspresi orang menyaksikan laut terbelah.

“Dok,” bisik ibunya Gilang saat pamit, memegang tanganku dengan dua tangan seperti menyalami kiai, “ini pertama kalinya dia nggak nangis. Pertama. Kali. Sejak lahir giginya, Dok.”

“Gilang detektifnya berbakat, Bu.”

“Minggu depan boleh kontrol lagi? Dia yang minta. DIA. YANG. MINTA.”

Momen-momen seperti inilah alasanku memilih spesialisasi ini, menolak tawaran papa untuk bergabung ke rumah sakitnya, dan nekat membuka praktik sendiri di kota yang jauh dari nama besar keluarga. Di sini tidak ada yang tahu aku anak siapa. Di sini reputasiku dibangun satu tangisan-yang-batal demi satu tangisan-yang-batal.

Jadi begitulah pagi-pagiku di Klinik Gigi Ceria: sihir panggung, stiker bintang, dan anak-anak yang pulang sambil melambai. Aku menyukai pekerjaanku dengan sepenuh hati.

Masalah datang dari arah yang sama sekali tidak diajarkan di pendidikan spesialis.

Masalahnya bernama: bapak-bapak.


Pola itu mulai terbaca di minggu kedua praktik. Mula-mula wajar: anak diantar ibunya. Lalu anak diantar ibu dan bapaknya. Lalu—dan di sinilah statistik mulai mencurigakan—anak diantar bapaknya saja, padahal menurut formulir, yang membuat janji adalah ibunya.

Lalu para bapak itu mulai ikut mendaftar periksa.

“Sekalian, Dok,” kata bapak pasienku hari Selasa, tersenyum lebar sambil merapikan poni. “Saya udah lama nggak scaling.”

“Bisa, Pak. Tapi saya spesialis anak, untuk dewasa nanti dengan drg. Dara di ruang sebelah ya—”

“Wah.” Senyumnya redup seperti lampu lima watt. “Nggak bisa sama... Dokter aja?”

“Drg. Dara sangat kompeten, Pak.”

“Iya, pasti, cuma kan...” Bapak itu mencari-cari alasan di langit-langit klinik. “...anak saya maunya saya diperiksa dokter yang sama. Biar kompak. Katanya.”

Anaknya, empat tahun, sedang sibuk memasukkan jari ke pot tanaman dan jelas tidak pernah mengatakan apa pun semacam itu seumur hidupnya.

Dara, yang menonton fenomena ini dari balik meja resepsionis selama dua minggu, akhirnya mengeluarkan diagnosis resminya saat kami makan siang:

“Len, klinikmu punya masalah struktural.”

“Kursi tunggunya kurang?”

“Mukamu kelebihan.” Ia menunjuk wajahku dengan sumpit. “Kemarin ada bapak-bapak scaling ke aku—limpahan dari kamu—terus sepanjang tindakan dia nanya-nanya terus. Nanya apa coba? ‘Dokter Alena orangnya gimana ya, Dok? Ramah ya? Udah berkeluarga belum ya?’ Aku lagi megang scaler di mulutnya, Len. Dia nanya status temanku sementara aku pegang benda tajam.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Kubilang kamu suka melihara tarantula.”

“DARA.”

“Dia batal nanya-nanya. Sama-sama.”

Aku menghela napas ke dalam mangkuk baksoku. Bukannya aku tidak terbiasa—hal semacam ini sudah mengikutiku sejak SMA seperti bayangan yang tidak diminta: dipandangi, disiuli dari jauh, ditanya nomor ponsel oleh orang yang baru bertanya alamat. Lama-lama aku mengembangkan semacam kulit kedua. Senyum sopan, jawaban netral, jarak profesional.

Dan itu belum menghitung kompleks perumahanku sendiri.

Minggu lalu, grup ibu-ibu senam pagi resmi menobatkanku sebagai “kembang Griya Anggrek”—gelar yang kutolak halus dan dianggap sebagai kerendahan hati, yang justru menaikkan nilaiku di mata mereka, yang membuat gelarnya makin lengket. Tukang sayur langganan kini selalu menyisihkan tomat paling bagus “khusus Dokter” sambil salah tingkah. Pak Harun, satpam kompleks, setiap aku lewat pos akan menegakkan duduknya, membetulkan topi, dan memberi hormat setengah resmi yang tidak pernah ia berikan pada penghuni lain—aku pernah memergokinya berlatih anggukan itu saat mengira tidak ada yang lihat.

Lalu ada insiden bunga.

Tiga hari lalu, sebuket mawar tanpa nama dikirim ke klinik. Kartu ucapannya hanya bertuliskan: “Untuk senyum terindah di Griya Anggrek.” Dara membacanya keras-keras di depan seluruh staf dengan intonasi sinetron, resepsionis kami menyimpannya di vas dengan penuh hormat, dan aku menghabiskan tiga hari mencurigai setiap bapak pengantar yang datang. Pelakunya tidak pernah mengaku. Bunga itu akhirnya kuhadiahkan pada pasien kecilku yang baru selesai perawatan saluran akar, yang menerimanya dengan bahagia dan tanpa maksud tersembunyi—satu-satunya transaksi bunga yang jujur minggu itu.

Melelahkan? Kadang. Yang paling melelahkan bukan perhatiannya—tapi bagaimana perhatian itu selalu datang sebelum orang tahu apa pun tentangku. Sebelum tahu aku bisa membuat anak paling galak sedunia buka mulut sukarela. Sebelum tahu aku lulusan terbaik angkatanku. Sebelum tahu apa pun kecuali sebentuk wajah yang kebetulan kubawa sejak lahir.

“Eh, ngomong-ngomong soal yang nggak nanya-nanya,” Dara menopang dagu, senyumnya berubah arah, “tetangga kayu-mu itu. Perkembangan?”

“Nggak ada perkembangan. Kami makan malam bareng aja.”

“Tiap malam.”

“Sistem barter.”

“Tiap. Malam.”

“Kirana butuh teman ngobrol.”

“Dan kamu butuh apa?” Dara mengangkat alis. “Karena setahuku kamu bela-belain pulang praktik tepat waktu terus dua minggu ini. Kamu. Yang dulu kalau kusuruh pulang malah nambah pasien.”

Aku memilih memasukkan bakso utuh ke mulut agar punya alasan legal untuk tidak menjawab.

Dara menunggu. Ia sudah sebelas tahun menjadi sahabatku; ia tahu bakso sebesar apa pun akhirnya habis.

“...Aku suka makan di sana,” kataku akhirnya, pada mangkuk. “Ramai. Kirana lucu. Masakannya enak. Itu aja. Manusia boleh suka makan enak.”

“Boleh banget.” Dara menyeruput es tehnya, santai, mematikan. “Terus yang kemarin kamu screenshot resep sop buntut jam dua belas malem terus kamu kirim ke aku dengan caption ‘menurutmu susah nggak ya’, itu juga bagian dari suka makan enak?”

“Aku mau belajar masak. Untuk diriku sendiri. Kemandirian pangan.”

“Kemandirian pangan,” ulang Dara.

“Jangan pakai nada itu.”

“Nada apa?”

“Nada ‘hm’ yang—” aku berhenti.

Terlambat.

Dara meletakkan sendoknya pelan-pelan, dengan seremoni penuh, seperti hakim mengetuk palu. “Nada ‘hm’,” katanya, “yang mana, Alena? Coba jelasin. Kayaknya kamu familier banget sama nada itu.”

Aku membayar makan siang kami berdua hari itu. Bukan karena kalah taruhan. Karena kalah telak.


Sorenya, jawaban yang kuhindari itu datang sendiri ke klinik. Berjalan kaki. Menggandeng anak kecil berkepang dua.

“TANTE DOKTEEER!”

Kirana menerobos pintu kaca seperti pulang ke rumah sendiri, melambai ke resepsionis yang sudah hafal namanya, dan memanjat naik ke kursi tunggu favoritnya. Di belakangnya, dengan langkah yang jauh lebih beradab, masuk ayahnya: kemeja flanel gulung lengan, dan—aku menyipit—masih ada serbuk kayu di lengan kirinya, artinya ia berangkat langsung dari workshop, artinya ia tipe orang yang datang ke janji temu lebih memilih tepat waktu daripada tampil rapi.

Kenapa aku menganalisis lengan orang. Fokus, drg. Alena. Fokus.

“Kontrol rutin,” kata Dimas. “Katamu gigi susunya yang kanan bawah goyang.”

“Masuk, detektif,” kataku pada Kirana, yang langsung melompat dari kursi. “Kita cek markas.”

Dan di sinilah pemandangan yang membuat sore itu tercatat dalam sejarah klinik: ruang tunggu yang berisi tiga bapak pengantar—dua di antaranya sudah dua kali “sekalian scaling” bulan ini—serempak mengamati Dimas dengan pandangan menilai pesaing, sementara yang diamati berjalan melewati mereka tanpa menyadari sedang berada di arena apa, duduk di kursi tunggu, dan mengeluarkan—

—buku.

Dia membawa buku. Ke klinik gigi. Judulnya sesuatu tentang teknik sambungan kayu Jepang. Ia membuka halaman yang ditandai serpihan amplas, dan membaca. Membaca dengan tenang, di tengah ruang tunggu yang atmosfer persaingannya bisa dipotong pakai pisau.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku merasa sedikit tersinggung oleh ketenangan seseorang.

Bukan—bukan tersinggung. Terganggu. Bukan terganggu yang buruk. Terganggu yang... Fokus, dokter.

Pemeriksaan Kirana berjalan lancar: gigi susu kanan bawah memang sudah waktunya pamit, sisanya sehat, dan detektif kecilku mendapat dua stiker bintang karena “menemukan lokasi persembunyian dengan lidahnya sendiri”. Saat kami keluar, Kirana berlari mendahului untuk memamerkan stiker.

“Ayah! Dua bintang! Terus kata Tante, gigi Kirana yang goyang boleh dicabut Ayah di rumah kalau udah goyang banget, pakai cara benang—EH NGGAK USAH PAKAI BENANG DING, Tante bilang jangan pakai pintu—”

“Jangan pakai pintu,” aku dan Dimas mengucapkannya bersamaan.

Para bapak di ruang tunggu mengamati duet itu dengan seksama. Aku bisa merasakan skor sedang diperbarui di papan imajiner mereka.

Dimas berdiri, menyelipkan buku ke saku belakang, dan menerima laporan lengkap Kirana sambil sesekali mengangguk. Lalu ia menoleh padaku, dan mengatakan kalimat yang akan menggangguku sepanjang sisa hari:

“Makasih, Dok. Malam ini menu keinginan pasien—katanya mau sop bening bayam biar giginya kuat. Jam tujuh.”

Itu saja. Makasih, Dok. Jam tujuh. Disampaikan dengan muka lurus, nada yang sama seperti membacakan daftar belanja, lalu ia menggandeng Kirana keluar sambil setengah mendengarkan teori putrinya tentang peri gigi dan sistem pembayarannya.

Pintu kaca menutup.

Ruang tunggu hening.

Salah satu bapak berdeham. “Itu... suaminya, Dok?”

“Tetangga saya, Pak.”

“Oh! Tetangga!” Wajah bapak itu terbit kembali seperti matahari pagi. “Saya kira—soalnya kelihatan dekat banget—”

“Pak Hendra,” kataku manis, “anaknya sudah selesai dari tadi lho. Ditunggu istri di rumah, mungkin?”


Malamnya, sambil menyendokkan sop bening bayam ke mangkuk Kirana, aku diam-diam masih memikirkan hal yang memalukan untuk diakui:

Seharian ini puluhan orang memandangiku. Ada yang menyapa berlebihan, ada yang mencari alasan untuk kembali, ada yang bertanya-tanya tentang statusku pada pihak ketiga yang sedang memegang benda tajam.

Dan satu-satunya yang memperlakukanku persis seperti manusia biasa—yang datang untuk gigi anaknya, membaca buku tentang kayu, bilang terima kasih, lalu pulang—adalah orang yang sekarang duduk di seberangku, mengoreksi cara Kirana memegang sendok tanpa menghentikan makannya sendiri.

“Kamu kenapa?” tanya Dimas tiba-tiba, tanpa mendongak dari piringnya.

“Hah? Nggak. Apanya?”

“Dari tadi ngaduk-ngaduk sop kayak nyari sesuatu. Bayamnya nggak sembunyi. Dia bukan kuman.”

Kirana terkikik. Aku menunduk, menemukan sopku memang teraduk tak karuan, dan buru-buru menyendok dengan tertib.

“Mikirin pasien,” jawabku.

“Hm,” kata Dimas.

Dan “hm” itu—entah bagaimana, entah sejak kapan aku bisa membaca kamusnya—terdengar persis seperti: aku tahu kamu bohong, tapi silakan, ceritanya kapan-kapan saja.

“Tante,” Kirana mengangkat wajah dari mangkuknya, kumis kuah menghiasi bibir atasnya, “tadi di klinik, om-om yang duduknya di pojok itu ngeliatin Tante terus loh. Matanya gini—” ia memperagakan mata berkedip-kedip lambat yang membuatku hampir menyemburkan sop.

“Kirana ngapain merhatiin om-om,” kata Dimas.

“Kirana detektif,” jawab putrinya, logis dan final. “Terus tadi om-nya nanya ke Kirana, ‘Dokternya baik ya, Dek? Suka dijemput siapa pulangnya?’”

Gerakan sendok Dimas berhenti. Sepersekian detik saja. Kalau aku tidak sedang—tidak sengaja—memperhatikannya, aku tidak akan menangkap itu.

“Terus Kirana jawab apa?” tanyaku.

“Kirana jawab: ‘Nggak tahu, om. Tapi makan malemnya tiap hari di rumahku.’”

Sop di mulutku memilih jalan yang salah. Aku terbatuk. Dimas menyodorkan air putih tanpa berkomentar, tanpa menoleh, tapi ujung telinganya—aku baru tahu telinga bisa melakukan itu—memerah tipis.

“Kirana,” kata Dimas akhirnya, suaranya terkontrol penuh, “besok-besok kalau ada om-om nanya-nanya, jawabnya ‘tanya sendiri’.”

“Kenapa? Kan bener makan malemnya di rumah kita.”

“Bener,” Dimas menyendok sopnya, “bukan berarti harus disiarkan.”

“Bu Yayuk bilang berita bagus harus dibagi.”

“Bu Yayuk,” kata Dimas, “bukan menteri penerangan.”

Aku menyuap sop bening itu dan mengakui dalam hati, hanya dalam hati, satu hal kecil:

Puluhan tatapan hari ini tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Satu “hm” dari seberang meja, membekas sampai aku pulang, sampai aku mematikan lampu, sampai aku menatap gorden yang ia pasangkan sebelas detik itu—

—dan masih membekas juga.

Ini gawat.

Sungguh-sungguh gawat.


[Bersambung ke Bab 6 — “Motor di Gang Sempit”]