Chapter Four
Panci Terakhir
POV: Dimas
Aku sedang mengamplas sandaran kursi pesanan ketika mendengar bunyi yang tidak seharusnya ada di kompleks perumahan pada Kamis sore yang damai: alarm asap.
Bukan alarmku. Rumahku tidak mungkin—kompor mati, Kirana di sekolah sampai jam lima karena ada latihan menari.
Alarm itu datang dari sebelah.
Yang perlu diketahui tentang aku dan situasi darurat: badanku bergerak duluan, otakku menyusul belakangan sambil marah-marah. Amplas kulempar, pagar kulompati—gerendel berkarat itu bahkan tidak sempat kusentuh—dan pintu belakang rumah Alena yang setengah terbuka kudorong lebar.
Asap. Tipis, putih keabu-abuan, memenuhi dapur perawan yang minggu lalu masih steril seperti ruang operasi. Di tengah kabut tipis itu berdiri sang pemilik rumah: masih memakai seragam kliniknya, rambut dicepol, satu tangan memegang serbet yang dikibas-kibaskan ke arah alarm asap di langit-langit, satu tangan lagi memegang—
“JANGAN DIPEGANG—”
Terlambat. Alena menyentuh gagang panci di atas kompor yang untungnya sudah mati, memekik, melepaskan, dan panci itu jatuh berdentang ke lantai sambil memuntahkan isinya: tidak ada. Isinya tidak ada. Yang tersisa di dasar panci hanyalah kerak hitam melingkar seperti fosil dari peradaban yang gagal.
Aku menyambar tangannya—refleks, sepenuhnya refleks, catat itu—menariknya ke wastafel, dan mengalirkan air dingin ke jari-jarinya sebelum ia sempat protes.
“Nggak papa, nggak kena—”
“Diem dulu.”
“Dimas, serius, cuma kaget—”
“Sepuluh menit,” kataku pada jarinya yang kupegangi di bawah aliran keran. “Luka bakar itu jahat. Kelihatan nggak papa, dua jam lagi melepuh. Kamu dokter, masa aku yang ngajarin.”
“Dokter gigi,” katanya, dengan nada tersinggung yang lemah, karena sulit terdengar berwibawa saat tanganmu sedang dicuci orang seperti tangan balita habis main pasir.
Alarm asap akhirnya menyerah dan berhenti menjerit. Dalam keheningan yang tersisa, kami berdua sama-sama memandangi barang bukti di lantai: panci stainless yang bagian dalamnya kini permanen berwarna arang.
“Jadi,” kataku. “Masak apa kita hari ini?”
Hening.
“...Air.”
Aku menoleh. Pelan. “Air.”
“Aku mau bikin mi instan!” Suaranya naik satu oktaf, defensif penuh. “Aku taruh airnya, terus nyalain kompor, terus—terus pasienku telepon, konsul, lama, terus aku lupa, terus tau-tau bunyi—”
“Kamu masak air.” Aku harus mengatakannya sekali lagi untuk memastikan alam semesta mendengar. “Sampai pancinya gosong.”
“Airnya habis duluan! Menguap! Itu proses alami! Fisika!”
“Fisika,” ulangku.
“Jangan pakai nada itu.”
“Nada apa.”
“Nada ‘hm’ yang panjang. Aku udah hafal kamusmu.”
Aku memandangi wajahnya—yang merah entah karena asap, malu, atau gabungan keduanya—lalu memandangi panci di lantai, lalu entah kenapa yang keluar dari mulutku bukan ceramah keselamatan, melainkan:
“Sayang pancinya. Padahal belum pernah dipakai.”
“Ini pemakaian pertama.”
“Pemakaian pertama dan terakhir. Umur pancimu lebih pendek dari umur ikan cupang.”
“BISA DIBERSIHIN, kali.”
“Nggak bisa. Ini udah bukan kotor. Ini kremasi.”
Ia merebut tangannya dari peganganku—yang baru kusadari masih kupegang jauh melewati batas durasi medis yang wajar—dan mengangkat panci itu dari lantai, menatapnya dari berbagai sudut seperti berharap menemukan sisi yang selamat.
Tidak ada sisi yang selamat.
Dan tepat pada momen kekalahan total itu, dari arah pintu depan yang entah sejak kapan terbuka, terdengar suara yang membuat kami berdua membeku:
“Astaga, Nak Alena?! Nggak apa-apa?! Ibu dari ujung gang dengar alarm—loh.”
Bu Yayuk. Ketua arisan, pemilik warung sembako, dan—menurut arsip pengamatanku empat tahun tinggal di sini—stasiun pemancar berita tercepat se-Griya Anggrek dengan jangkauan siaran tiga RT.
Ia berdiri di ambang dapur, dan aku menyaksikan matanya bekerja seperti kamera pengawas: klik—asap tipis; klik—panci gosong; klik—dokter cantik penghuni baru; klik—duda rumah sebelah, di dapur rumah dokter cantik, sore-sore, berdua.
Klik—tangan Alena yang masih basah, dan wastafel yang kerananya masih mengalir.
Aku bisa mendengar berita sedang disusun di kepalanya secara real-time.
“Bu Yayuk,” kataku, dengan suara paling netral yang kumiliki. “Kompornya kelupaan. Sudah aman.”
“Ooooh, kelupaan.” Bu Yayuk mengangguk dengan kecepatan yang menandakan informasi sudah dikunci dan siap didistribusikan. “Untung ada Nak Dimas ya. Cepet banget nyampenya. Padahal pagernya kan dikunci—”
“Nggak dikunci,” jawab kami berdua. Bersamaan. Serempak. Kompak dengan cara yang paling merugikan diri sendiri.
Hening.
Senyum Bu Yayuk melebar dua senti.
“Ya sudah,” katanya, mundur pelan-pelan seperti orang yang sudah mendapat semua yang ia butuhkan dan lebih, “Ibu cuma mastiin aman. Lanjutkan. Eh—maksudnya, hati-hati. Kompornya.”
Ia lenyap secepat kedatangannya. Dari kejauhan, samar, aku mendengar bel sepedanya berbunyi dengan ritme yang tergesa. Menuju warung. Menuju pemancar pusat.
Alena menatapku. “Besok satu kompleks tahu.”
“Besok?” Aku melirik jam dinding. “Kamu terlalu percaya sama jeda waktu. Jam tujuh malem nanti, ibu-ibu senam pagi udah punya versi lengkapnya. Sama bumbunya.”
“Bumbunya apa?”
“Nggak tahu. Bukan aku koki di dapur itu.” Aku memungut serbet dari lantai, melipatnya, menaruhnya di meja. “Tapi biasanya melibatkan kata ‘cocok’.”
Alena mengerang dan menutup wajah dengan tangan yang belum sepenuhnya kering, yang berarti ia menampar mukanya sendiri dengan air, yang membuat sisa harga dirinya sore itu resmi tandas.
Sebelum pulang, aku sempat memunguti panci almarhum itu dari lantai—Alena sudah menyerah dan menyuruhnya “dimakamkan saja”—dan tanpa banyak bicara membawanya ke rumahku.
Bukan untuk dimakamkan.
Ada satu hal yang tidak kukatakan padanya: kerak gosong stainless bisa diangkat. Butuh soda kue, cuka, air mendidih, kesabaran, dan tiga ronde penggosokan yang membuat lenganku pegal—tapi bisa. Aku mengerjakannya sore itu di dapurku sambil menunggu jam jemput Kirana, menggosok dasar panci orang lain dengan keseriusan yang tidak bisa kujelaskan pada diriku sendiri.
Empat tahun aku menjadi orang yang ditolong: dimasakkan tetangga di bulan-bulan pertama, dibantu Bu Ratna menjaga bayi, ditelepon Raka tiap minggu untuk memastikan aku masih makan. Aku membalas semuanya dengan satu cara: cepat-cepat berdiri di kaki sendiri supaya daftar utang budinya berhenti memanjang. Sejak itu aku selalu di sisi meja yang menolong. Lebih mudah. Tidak berutang apa-apa pada siapa-siapa.
Tapi menggosok panci ini bukan menolong. Menolong itu lompat pagar saat ada alarm. Ini—menyisihkan waktu untuk menyelamatkan barang sepele milik seseorang, diam-diam, hanya supaya besok bisa melihat mukanya saat panci itu kembali mengilap—ini spesies lain.
Aku membilas pancinya, mengeringkannya, dan memutuskan spesies itu belum perlu diberi nama.
Aku pulang—ralat, aku berangkat menjemput Kirana, dan sepanjang perjalanan dari sekolah, putriku bercerita tanpa jeda tentang latihan menari yang menurutnya “gerakannya kayak pohon kena angin tapi disuruh senyum”. Baru di depan pagar rumah ia berhenti, mengendus udara dengan hidung kecilnya yang berbakat itu.
“Kok bau sate ban lagi?”
“Tante sebelah masak.”
“Masak apa?”
“Air.”
Kirana memproses ini dengan keseriusan penuh. “Air kan nggak dimasak, Yah. Air itu direbus.”
“Nah. Itu dia masalahnya. Tantemu belum sampai bab itu.”
Dan karena aku sudah terlanjur membayangkannya sejak dari dapur penuh asap tadi—bayangan yang kutunda-tunda karena terasa seperti melangkah lebih jauh dari yang diizinkan akal sehat—aku mengetuk pagar rendah itu selagi nyali masih hangat.
Alena membuka pintu belakang. Sudah ganti baju rumah, memegang ponsel dengan aplikasi ojek online terbuka. Tertangkap basah untuk kedua kalinya dalam satu hari.
“Batalin,” kataku, menunjuk ponselnya dengan dagu.
“Hah?”
“Ojeknya. Batalin.” Aku memasukkan tangan ke saku, karena entah harus diapakan. “Mulai malam ini makan di rumahku aja. Sekalian. Masak buat dua orang sama tiga orang bedanya cuma segenggam beras.”
Alena mengerjap. “Dimas, aku nggak bisa tiap malem numpang—”
“Bukan numpang. Sistem barter.” Aku sudah menyiapkan argumen ini sambil mengamplas tadi, dan kuucapkan secepat mungkin sebelum terdengar seperti apa adanya: “Kirana butuh diperiksa giginya rutin, dia umur enam, giginya lagi tanggal-tanggalnya. Kamu butuh makan yang bukan hasil minta tolong aplikasi. Aku butuh—” jeda yang salah, jangan jeda di situ, “—Kirana ada temen ngobrol pas makan. Semua kebagian. Adil.”
“Kamu butuh Kirana ada temen ngobrol.”
“Hm.”
“Bukan kamu yang butuh temen ngobrol.”
“Aku nggak ngobrol. Aku ‘hm’.”
Ia tertawa—lepas, kepala mendongak sedikit, dan aku mencatat dengan kesal bahwa aku mulai sengaja memancing tawa itu, seperti orang iseng melempar umpan cuma untuk melihat ikannya muncul—lalu ia bersandar di kusen pintu, memiringkan kepala.
“Tiap malam?”
“Kecuali kamu bosen.”
“Sama masakanmu?” Ia mendengus. “Aku tiga hari mimpiin sup buntut itu. Nggak akan bosen. Yang aku takutin—” nadanya turun, lebih jujur, “—kamu yang repot.”
“Aku masak tiap hari, Alena. Sejak Kirana umur dua tahun. Nambah satu piring bukan repot.” Aku mengangkat bahu. “Repot itu kalau tiap sore harus lompat pagar gara-gara alarm.”
“SEKALI. Baru sekali.”
“Panci-mu tinggal berapa?”
“...Dua.”
“Dua nyawa. Kayak game.” Aku berbalik, karena kalau berlama-lama di pagar ini bisa-bisa aku mulai mengatakan hal-hal yang belum diperiksa dulu oleh bagian sensor. “Jam tujuh. Kirana yang milih menu, jadi jangan protes kalau ada nugget bentuk dinosaurus.”
“Aku SUKA nugget bentuk dinosaurus.”
“Ya. Kalian berdua akan cocok.”
Kalimat itu keluar begitu saja, ringan, dan baru terasa beratnya setelah lewat. Kalian berdua akan cocok. Kudengar sendiri gemanya sepanjang jalan kembali ke rumah, sementara di belakangku Alena tidak membalas apa-apa, dan justru tidak-membalas itu yang paling berisik.
Prediksiku soal kecepatan siaran Bu Yayuk ternyata terlalu optimis.
Jam setengah tujuh, saat aku dan Kirana berjalan ke minimarket ujung kompleks membeli kecap—stok habis, dan sop tanpa sambal kecap menurut Kirana adalah “sop yang belum selesai sekolah”—kami melewati pos satpam. Pak Harun, yang empat tahun ini interaksinya denganku terbatas pada anggukan dan obrolan soal genteng, menurunkan korannya dengan gaya yang jelas sudah dilatih.
“Pak Dimas.”
“Pak Harun.”
“Sehat?”
“Sehat, Pak.”
“Rumahnya... aman?”
“Aman, Pak.”
Pak Harun mengangguk pelan. Melipat korannya. Lalu, dengan intonasi orang yang membacakan berita resmi negara: “Kompleks juga aman, Pak Dimas. Cuma tadi sore katanya ada... asap.” Jeda. “Untung ada yang sigap ya, Pak. Lompat pagar segala. Padahal biasanya lewat pintu.”
“Kondisi darurat, Pak.”
“Oh, tentu, tentu. Darurat.” Pak Harun mengangguk lagi, lebih dalam, seperti kata darurat baru saja mendapat definisi tambahan di kamusnya. “Bagus itu, Pak. Tetangga memang harus saling... menjaga.”
Aku menggandeng Kirana melanjutkan jalan. Di belakang kami, samar, kudengar Pak Harun membuka buku jurnal keamanannya dan menulis sesuatu. Lama. Terlalu lama untuk laporan berjudul “aman”.
“Ayah,” bisik Kirana, “kenapa Pak Harun ngomongnya kayak main tebak-tebakan?”
“Karena orang dewasa,” jawabku, “kalau pengin tahu urusan orang, malu nanya langsung.”
“Kirana kalau pengin tahu, nanya langsung.”
“Karena kamu masih waras. Pertahankan.”
Malamnya, meja makanku yang selama empat tahun disetel untuk dua orang, resmi disetel untuk tiga.
Kirana duduk di kursinya, Alena di kursi yang minggu lalu masih kursi tamu, dan nugget dinosaurus bertempur melawan brokoli dalam narasi yang disutradarai anak enam tahun dengan world-building yang mengkhawatirkan detailnya.
“Terus dinosaurusnya makan pohonnya,” Kirana menggigit brokoli dari tangan Alena yang memerankan pohon dengan totalitas aktris teater, “AUM. Terus pohonnya sedih.”
“Pohonnya nggak sedih,” kata Alena. “Pohonnya bangga. Dia jadi bagian dari dinosaurus yang kuat.”
Kirana berhenti mengunyah. Menatap Alena dengan mata yang membulat pelan-pelan, seperti baru disodori rahasia alam semesta. “...Pohonnya jadi bagian dari dinosaurus?”
“Semua yang kita makan jadi bagian dari kita. Makanya kalau makannya bagus, kita jadi kuat.”
“Ayah.” Kirana menoleh padaku dengan urgensi tingkat nasional. “AYAH. Brokoli yang Kirana makan jadi bagian dari Kirana. Kirana setengah brokoli.”
“Hm,” kataku.
Dan sambil mengunyah, sambil menonton putriku mendeklarasikan diri sebagai manusia setengah brokoli kepada seorang dokter gigi yang menanggapinya dengan keseriusan penuh seorang profesor, aku menyadari sesuatu yang merepotkan:
Meja ini tidak pernah terasa kekurangan selama empat tahun. Aku yang mengaturnya begitu—dua kursi, dua piring, cukup, jangan dihitung ulang.
Sekarang ada tiga piring. Dan besok, saat kembali jadi dua, meja ini akan terasa ada yang hilang.
Itulah masalah dengan kebiasaan baik. Ia datang menyamar jadi sistem barter, jam tujuh malam, segenggam beras—
—dan pulang membawa sesuatu yang tidak ikut kau hitung di awal.
Saat Alena pamit malam itu, aku menyerahkan sesuatu di pagar. Bungkusan kain.
Ia membukanya di bawah lampu teras. Panci itu—pancinya—mengilap seperti baru keluar dari toko, dasar bagian dalamnya bersih tanpa sisa satu noda pun dari kremasi tadi sore.
Alena menatap panci itu lama. Lalu menatapku. Lalu panci lagi. “...Kamu bilang ini udah nggak bisa diselamatin.”
“Aku bilang itu kremasi. Ternyata korbannya masih napas.”
“Kamu gosok ini? Sendiri? Ini—” ia memiringkan panci ke arah cahaya, memeriksa seperti memeriksa hasil rontgen, “—ini bersih banget. Kamu ngapain repot-repot?”
Aku mengangkat bahu. “Sayang barangnya.”
Itu bukan jawaban yang jujur, dan sepertinya kami berdua tahu. Tapi Alena tidak mengejar. Ia hanya memeluk panci itu ke dadanya—memeluk panci, sungguh-sungguh memeluk panci—dan tersenyum dengan cara yang membuat tiga ronde penggosokan tadi sore terasa seperti kurs yang terlalu murah.
“Nyawa keduanya balik,” katanya. “Makasih, Dimas.”
“Jangan dipakai masak air.”
“SATU KALI. Itu SATU KALI.”
Ia masuk ke rumahnya sambil menggerutu, masih memeluk panci, dan aku berdiri di pagar sedikit lebih lama dari yang diperlukan, memikirkan spesies tanpa nama itu, yang malam ini bertambah satu anggota lagi.
[Bersambung ke Bab 5 — “Dokter Cantik dan Bapak-Bapak”]
- 1 Gedoran Jam Tiga Pagi
- 2 Rantang Perdamaian
- 3 Gorden dan Gravitasi
- 4 Panci Terakhir reading
- 5 Dokter Cantik dan Bapak-Bapak
- 6 Motor di Gang Sempit
- 7 Kepang Tiga
- 8 Demam
- 9 Engsel Pintu dan Keberanian
- 10 Kunci
- 11 Rahasia Umum
- 12 Sayang, Ambilin Obeng
- 13 Kencan Pertama (Bertiga)
- 14 Interogasi Papa
- 15 Cemburu Perdana
- 16 Giliran Alena Cemburu
- 17 Nginep (Sopan)
- 18 Sticky Note
- 19 Resep yang Belum Selesai
- 20 Gendong
- 21 Hari Ibu di Sekolah
- 22 Kata Bu Yayuk
- 23 Tante Mau Hapus Mama?
- 24 Cerita Tentang Laras
- 25 Pojok Mama
- 26 Bunda
- 27 Kunjungan Bu Ratna
- 28 Slow Dance di Workshop
- 29 Kayu Rana Naik Kelas
- 30 Sebulan Bolak-Balik
- 31 Terakhir Kali Aku Sebahagia Ini
- 32 Aku Takut Bahagia
- 33 Gantian Aku yang Memperjuangkan
- 34 Laki-Laki Boleh Nangis
- 35 Kamu Jawabannya
- 36 Konspirasi Kecil-Kecilan
- 37 Blueprint
- 38 Lamaran di Bawah Lampu Kuning
- 39 Pagar Dibongkar
- 40 Epilog: Jam Tiga Pagi (Lagi)