Chapter Two
Rantang Perdamaian
POV: Dimas
Ada aturan tidak tertulis yang kupegang selama empat tahun terakhir: jangan berutang budi pada siapa pun, karena utang budi harus dibayar dengan ngobrol, dan ngobrol adalah olahraga yang sudah lama kupensiunkan.
Aturan itu lahir bukan tanpa sebab. Empat tahun lalu, saat semuanya baru terjadi, orang-orang datang bergantian membawa makanan, bantuan, dan pertanyaan “gimana kabarnya” yang harus kujawab dengan wajah yang layak dilihat anak umur dua tahun. Aku belajar cepat: setiap bantuan adalah pintu, dan setiap pintu yang terbuka menuntut tuan rumahnya berdiri menyambut. Waktu itu aku tidak sanggup berdiri terlalu lama. Jadi kututup pintunya, satu per satu, dengan sopan—dan hidup kami jadi ringkas: aku, Kirana, workshop, sekolah, dapur. Ringkas itu aman. Aman itu cukup.
Aturan itu bertahan sampai jam tiga pagi kemarin, saat aku menggedor—ralat, saat seorang dokter menggedor pintuku untuk marah-marah dan berakhir menyelamatkan malamku.
Maka pagi ini aku berdiri di dapur, jam setengah enam, menatap panci sup ayam dengan perasaan yang rumit.
“Ayah masak buat Tante Dokter?”
Kirana muncul di ambang dapur dengan rambut bangun tidur yang membentuk arsitektur mustahil. Suhu badannya sudah normal sejak semalam—dan bersama suhu itu, kembali pula volume suaranya.
“Bukan buat Tante Dokter. Buat bayar utang.”
“Utang itu apa?”
“Sesuatu yang harus dikembalikan biar bisa tidur nyenyak.”
Kirana memanjat kursi makan, bertopang dagu, mengamatiku menyaring kaldu dengan tatapan mandor proyek. “Kalau gitu Kirana juga punya utang. Tante Dokter kan nyembuhin Kirana.”
“Utangmu ikut Ayah bayar.”
“Nggak mau. Kirana mau bayar sendiri.” Ia melompat turun dan menghilang ke kamarnya dengan kecepatan yang membuatku yakin demam kemarin cuma rumor.
Ia kembali lima menit kemudian membawa selembar kertas gambar. Krayon. Tiga sosok manusia dengan proporsi kepala yang melanggar hukum anatomi: satu tinggi berambut jabrik, satu kecil memegang benda oval—“itu Mimi,” jelasnya—dan satu lagi berambut panjang dengan... aku memicingkan mata... bulu mata yang digambar satu-satu, dua belas helai per mata.
“Ini Tante Dokter,” kata Kirana. “Cantik, kan? Kirana gambar bulu matanya banyak soalnya asli-nya banyak.”
Aku menatap gambar itu sedikit terlalu lama.
Bukan karena bulu matanya. Karena ini pertama kalinya dalam empat tahun Kirana menggambar tiga orang.
“Bagus,” kataku akhirnya, dan kembali menyaring kaldu yang tidak perlu disaring dua kali.
Rantang kugantung di pagar sore itu, lengkap dengan catatan dan gambar Kirana terselip di tutupnya. Malamnya rantang itu lenyap. Paginya ia kembali—dicuci bersih, dan di dalamnya ada sekotak cokelat merek mahal beserta catatan balasan dengan tulisan tangan dokter yang, sesuai stereotip profesinya, indah tapi terburu-buru:
“Sup diterima sebagai pelunasan. Gambar diterima sebagai suap, dan suapnya berhasil—sekarang saya sayang pasien saya. Cokelat ini bukan balasan, ya. Ini pembuka utang baru biar ada alasan. — A.”
Aku membaca catatan itu dua kali. Lalu, karena dapur adalah tempatku berpikir, aku berpikir sambil membuat sarapan: orang ini membalas rantang dengan cokelat beli. Bukan masakan.
Menarik.
Kecurigaanku menemukan buktinya tiga hari kemudian.
Sabtu sore, Kirana bermain sepeda di gang sementara aku memperbaiki engsel jendela workshop. Dari arah rumah sebelah terdengar bunyi yang selama tiga hari ini mulai kuhafal polanya: pintu belakang dibuka, langkah ke arah tempat sampah, langkah kembali, pintu ditutup.
Yang berbeda sore ini: langkahnya diiringi aroma.
Aroma gosong.
Bukan gosong biasa—gosong yang berlapis, seperti sesuatu yang sudah gagal, dicoba diselamatkan, lalu gagal lebih parah. Aku mendongak dari engsel. Kirana sudah berhenti mengayuh, hidungnya mengendus udara seperti anak anjing.
“Ayah. Ada yang kebakaran.”
“Bukan kebakaran.” Kuletakkan obeng. “Itu... eksperimen.”
Di balik pagar, Alena muncul dari pintu belakang rumahnya menenteng kantong plastik berisi sesuatu berbentuk kotak yang menghitam. Ia memakai kaus lengan panjang, rambut dicepol tinggi, dan raut wajah orang yang baru saja kalah perang melawan benda mati.
Ia melihat kami. Kami melihat dia. Kantong plastik itu ia sembunyikan ke balik punggung dengan gerakan yang sudah terlambat empat detik.
“Halo,” katanya cerah, dengan kecerahan yang mencurigakan.
“Tante Dokter!” Kirana melempar sepedanya begitu saja—stang membentur pagar, aku mencatat dalam hati untuk membahas cara parkir yang beradab—dan berlari mendekat. “Tante masak apa? Kok baunya kayak sate ban?”
“Kirana,” tegurku.
“Bukan masak,” jawab Alena tanpa berkedip. “Tante lagi... membuang sesuatu.”
“Sesuatu itu apa?”
“Roti.”
“Roti kok item?”
“Karena rotinya nakal.”
Kirana mengangguk khidmat, menerima jawaban itu sebagai hukum alam. Aku tidak seberuntung itu—aku sudah terlanjur melihat, di balik pintu belakang yang terbuka, sebuah pemanggang roti yang masih mengepulkan asap tipis, dan di sebelahnya, berdiri di rak dengan kebanggaan yang menyedihkan: rak piring berisi piring-piring yang masih ada stiker mereknya.
Semua. Masih ada stiker mereknya.
Aku pernah mendengar istilah dapur perawan. Aku belum pernah melihatnya selengkap ini: kompor tanpa noda tumisan, wajan tergantung seperti pajangan museum, dan satu-satunya alat yang jelas terpakai adalah teko listrik dan pemanggang roti yang barusan wafat.
“Rumah kamu,” kataku pelan, “dapurnya masih segel.”
Alena menoleh dengan ekspresi orang yang tertangkap basah menimbun barang bukti. “Nggak masih segel. Teko saya udah keluar segel.”
“Piringmu masih ada stikernya.”
“Itu—” ia melirik ke belakang, lalu kembali, dagunya naik, “—itu biar gampang kalau mau dijual lagi.”
“Kamu makan pakai apa tiga hari ini?”
“Ada teknologi bernama ojek online, Pak Dimas. Mungkin di dunia perkayuan belum sampai beritanya.”
Kirana mendongak ke arahku, lalu ke Alena, lalu ke arahku lagi, kepalanya bergerak seperti penonton badminton. Kemudian, dengan naluri yang entah diturunkan dari siapa, ia memilih momen paling tepat untuk berkhianat:
“Ayah masakannya enak banget loh, Tante. Ayah bisa masak sup, sama nasi goreng, sama ayam yang kulitnya bunyi kres, sama—”
“Kirana.”
“—sama bikin kue ulang tahun! Tante mau lihat dapur Ayah? Gede! Ada gantungan panci-nya!”
“Kirana.”
“Tante MAU,” jawab Alena kepada Kirana, sengaja melewati kepalaku, dengan senyum penuh kemenangan diplomatik.
Dan begitulah caranya, lima menit kemudian, seorang dokter gigi berdiri di dapurku, memutar badan pelan-pelan mengamati gantungan panci seperti turis di galeri, sementara putriku memandu tur dengan informasi yang tidak diminta.
“Ini panci yang jatuh waktu Kirana sakit. Bunyinya kenceng banget. Ayah ngomong kata yang nggak boleh ditiru.”
“Tante denger, kok,” kata Alena. “Dari sebelah.”
“Itu doa,” kataku dari ambang dapur. “Sudah dibahas.”
“Doanya dua bahasa.”
“Biar cepat sampai.”
Alena tertawa—tawa yang kemarin lolos jam lima pagi dan buru-buru dibekap itu, kali ini dibiarkan lepas—dan dapurku, yang empat tahun terakhir hanya mengenal suara minyak panas dan kartun dari ruang tengah, mendadak terdengar berbeda akustiknya.
Aku berbalik ke kulkas karena tidak tahu harus meletakkan mataku di mana.
“Makan malam di sini,” kataku pada isi kulkas. “Ada buntut sisa kaldu kemarin. Daripada rotimu nakal lagi.”
Hening sebentar. Aku bisa merasakan dua pasang mata di punggungku—satu berbinar, satu menimbang.
“Saya nggak enak,” kata yang menimbang. “Masa numpang makan.”
“Bukan numpang. Bayar.”
“Bayar pakai apa?”
Aku menutup kulkas, menoleh, dan mengangkat dagu ke arah Kirana yang sudah duduk manis di kursi makan dengan kecepatan cahaya.
“Temani dia makan. Dia kalau makan sama Ayah doang, lauknya dikritik terus. Katanya Ayah nggak seru diajak ngobrol.”
“Ayah kalau ditanya jawabnya ‘hm’ doang,” lapor Kirana kepada Alena, sebagai saksi ahli.
“Hm,” kataku.
“TUH KAN.”
Alena menggigit bibir menahan tawa, lalu menarik kursi di sebelah Kirana dengan gestur menyerah yang sama sekali tidak terlihat terpaksa. “Ya udah. Demi pasien.”
Makan malam itu berjalan seperti ini: Kirana bicara sembilan puluh persen waktu, Alena meladeni semua topik mulai dari kenapa gigi bisa goyang sampai apakah kelinci punya gigi susu, dan aku—aku makan sambil sesekali menjawab “hm” yang kini selalu disambut dua pasang mata menghakimi dan satu seruan “TUH KAN” berjamaah.
Ada satu momen yang kucatat diam-diam: Kirana, di tengah teorinya tentang gigi kelinci, menumpahkan kuah ke meja. Biasanya ia akan meliriku dulu—mengukur kadar masalah—baru bergerak. Malam ini ia langsung menyambar tisu, karena Alena lebih dulu bilang “wah, banjir, evakuasi warga” sambil menyelamatkan “warga” berupa potongan wortel dengan sendok, dan bencana itu selesai sebagai permainan sebelum sempat jadi insiden.
Empat tahun aku mengurus semuanya sendiri dan cukup. Aku tidak sedang mengeluh; cukup adalah pencapaian. Tapi menyaksikan meja ini punya orang dewasa kedua yang refleksnya searah—yang menangkap apa yang jatuh dari sisi yang tidak kujangkau—ternyata rasanya seperti meletakkan beban yang aku bahkan tidak sadar sedang kupanggul.
Sialnya, aku tidak keberatan.
Sialnya lagi, sup buntutnya tandas, dan orang yang tiga hari hidup dari ojek online itu makan dengan cara yang membuat siapa pun yang memasak merasa dilantik jadi juara dunia: mata terpejam di suapan pertama, lalu berhenti, lalu menatap mangkuknya seperti baru dikhianati oleh semua makanan yang pernah ia makan sebelum ini.
“Oke,” katanya akhirnya, meletakkan sendok. “Ini nggak adil.”
“Apanya?”
“Anda ini tukang kayu, muka galak, iritnya ngomong kayak bayar per kata—terus masaknya begini? Bakat itu harusnya dibagi rata sama yang lain, Pak. Saya sekolah dua belas tahun plus profesi, masak air aja kalah sama teko.”
“Pertama,” aku mengumpulkan mangkuk kosong, “bukan tukang kayu. Furniture maker.”
“Sama aja.”
“Beda. Tukang kayu bayarannya harian. Saya bayarannya bikin orang antre tiga bulan.”
“Sombongnya bayar per kata juga ternyata.”
“Kedua,” kulanjutkan tanpa menanggapi, karena menanggapi berarti kalah, “masak itu bukan bakat. Ilmu pertahanan hidup. Bisa dipelajari.”
“Nggak semua orang bisa.”
“Semua orang bisa. Yang nggak bisa itu—” aku melirik ke arah rumahnya lewat jendela, ke dapur bersegel di seberang pagar sana, “—orang yang piringnya disiapin buat dijual lagi.”
Alena melempar tisu bekas ke arahku. Meleset jauh. Kirana memungutnya dan dengan sopan mengembalikannya kepada pelempar, yang membuat pelemparnya tersipu dan pelemparannya kehilangan seluruh martabat.
Malam itu, saat mereka pulang—ralat, saat Alena pulang, karena Kirana ikut mengantar sampai pagar seperti tuan rumah kecil—aku menyerahkan rantang berisi sisa sup untuk sarapannya besok.
Serah terima rantang di atas pagar rendah. Sederhana. Rutinitas antar-tetangga di mana pun di negeri ini.
Kecuali tangan kami sampai di gagang rantang pada detik yang sama.
Jari-jarinya menumpuk di atas jariku—dingin, kontras dengan gagang yang hangat—dan selama satu detik penuh tidak ada yang menarik tangan, tidak ada yang bicara, dan pagar rendah itu mendadak terasa seperti perbatasan dua negara yang gencatan senjatanya sedang diuji.
Alena menarik tangannya lebih dulu, memakai tangan satunya untuk menyelipkan rambut ke belakang telinga padahal tidak ada rambut yang jatuh.
“Makasih makan malamnya,” katanya, pada rantang.
“Hm,” kataku, pada pagar.
“TUH KAN,” kata Kirana, pada dunia.
Ia sudah masuk ke rumahnya, lampu dapur perawannya sudah mati, dan aku masih di halaman, menutup pintu workshop, ketika Kirana menarik ujung kausku.
“Ayah.”
“Hm.”
“Gambar Kirana yang tiga orang itu, dipajang di kulkas ya. Kayak gambar-gambar Kirana yang lain.”
Aku menunduk menatapnya. Ia menatapku balik dengan mata bulat yang polos—terlalu polos. Empat tahun jadi ayahnya membuatku hafal: kepolosan level ini biasanya membawa muatan.
“Gambarnya kan udah dikasih ke Tante Dokter.”
“Kirana bikin lagi. Yang baru.” Ia mengeluarkan kertas terlipat dari saku celananya, sudah disiapkan, tentu saja sudah disiapkan. Tiga sosok yang sama. Kali ini di depan sebuah rumah. Satu rumah.
“Pajang ya?”
Aku menatap gambar itu di bawah lampu teras. Rumah dalam gambar itu punya jendela bulat, cerobong asap yang tidak dimiliki rumah mana pun di kompleks ini, dan pagar yang digambar dengan gerbang terbuka lebar.
“...Hm,” kataku.
Kirana menerjemahkan “hm” itu sesuai kamus pribadinya, memekik senang, dan berlari masuk untuk mengambil magnet kulkas.
Aku melipat gambar itu pelan-pelan, menyusul masuk, dan memutuskan untuk tidak memikirkan kenapa jantungku belum kembali ke tempo normal sejak serah terima rantang tadi.
Besok saja mikirnya.
Atau lusa.
[Bersambung ke Bab 3 — “Gorden dan Gravitasi”]